cover
Contact Name
Tyson Jeidi Jeri Supit
Contact Email
tysonsupit@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkardia@gmail.com
Editorial Address
8RPM+CPF, Kakaskasen, Tomohon Utara, Tomohon City, North Sulawesi
Location
Kota tomohon,
Sulawesi utara
INDONESIA
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 29862019     DOI : https://doi.org/10.69932/kardia
Adapun yang menjadi Fokus dan Ruang Lingkup dalam Jurnal KARDIA adalah: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama & Perjanjian Baru) 2. Teologi Historika 3. Teologi Sistematika 4. Teologi Sosial dan Publik 5. Teologi Digital dan Internet of Things 6. Teologi Kontekstual 7. Misiologi Biblikal & Praktikal 8. Etika Kristen 9. Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga & Sekolah
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus" : 5 Documents clear
Efesus 1:13 dalam Terang Teologi Kovenan: Roh Kudus sebagai Materai Janji Allah Purwonugroho, Daniel Pesah
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i2.55

Abstract

Abstract: This paper aims to expose Ephesians 1:13 regarding the Holy Spirit as the seal of God's promise through the light of covenant theology. The sealing of the Holy Spirit is a metaphor that has deep theological and spiritual meaning. The sealing of the Holy Spirit signifies God's ownership of His people. It enables God's people to receive the divine inheritance. The sealing also guarantees a covenant between God and His people, where the sealing of the Holy Spirit is a guarantee of the divine inheritance that God promises. Through a descriptive qualitative approach, the author tries to unravel Ephesians 1:13 in the light of covenant theology regarding the sealing of the Holy Spirit in God's promise. The author states that the sealing of the Holy Spirit in Ephesians 1:13 can be understood through the perspective of covenant theology. This understanding has a significant impact on the lives of believers. This paper provides a theological contribution that states Ephesians 1:13 in a covenantal perspective and highlights the role of the Holy Spirit in the dynamics of God's covenant. Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengekspos Efesus 1:13 mengenai Roh Kudus sebagai meterai janji Allah melalui terang teologi kovenan. Pemeteraian Roh Kudus merupakan metafora yang memiliki makna teologis dan spiritual yang mendalam. Pemeteraian Roh Kudus menandakan kepemilikan Allah dengan umatNya. Hal tersebut membawa umat Allah dapat menerima warisan ilahi. Pemeteraian tersebut juga menjamin sebuah kovenan antara Allah dengan umatNya dimana meteriao Roh Kudus merupakan jaminan atas warisan ilahi yang Allah janjikan. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis mencoba mengurai Efesus 1:13 melalui terang teologi kovenan mengenai pemeteraian Roh Kudus dalam janji Allah. Penulis menyatakan bahwa pemeteraian Roh Kudus dalam Efesus 1:13 dapat dipahami melalui perspektif teologi kovenan. Pemahaman tersebut berdampak signifikan bagi kehidupan orang percaya. Tulisan ini memberikan sebuah sumbangsih teologis yang menyatakan Efesus 1:13 dalam pespektif kovenantal dan menyoroti peran Roh Kudus dalam dinamika Kovenan Allah.
Integrasi unsur Estetis dan Ibadah Kreatif Karismatik: Kajian Teologi atas Peran dan Keterlibatan Generasi Muda di Gereja Lokal Rudi Hermanto; Yuono, Yusup Rogo
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i2.56

Abstract

Abstract: Worship in local churches in the contemporary era increasingly demands creative forms that not only emphasize traditional liturgical aspects but also pay attention to aesthetic dimensions that can deepen the spiritual experience of the congregation. The involvement of the younger generation in this context is not limited to technical participation but also relates to how they find spiritual identity and a space for actualizing their faith amid the development of digital culture. A phenomenon that has emerged is the increasing need for churches to present aesthetic and creative worship as a strategy to maintain and expand the involvement of the younger generation. This study aims to analyze the role of integrating aesthetic elements and creative worship from a theological perspective in relation to the participation of the younger generation in local churches. The method used is a qualitative study, which concludes that the concept of aesthetics in Christian theology is not merely physical beauty, but a means of revealing faith that leads the congregation to a deep encounter with God. Thus, creative worship is a theological calling that strengthens faith and fosters the involvement of the younger generation in church life. Abstrak: Ibadah dalam gereja lokal pada era kontemporer semakin menuntut bentuk-bentuk kreatif yang tidak hanya menekankan aspek liturgis tradisional, tetapi juga memperhatikan dimensi estetis yang dapat memperdalam pengalaman spiritual jemaat. Keterlibatan generasi muda dalam konteks ini tidak hanya sebatas partisipasi teknis, melainkan juga berkaitan dengan bagaimana mereka menemukan identitas rohani dan ruang aktualisasi iman di tengah perkembangan budaya digital. Fenomena yang muncul adalah meningkatnya kebutuhan gereja untuk menghadirkan ibadah yang estetis dan kreatif sebagai strategi untuk mempertahankan serta memperluas keterlibatan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran integrasi unsur estetika dan ibadah kreatif dari perspektif teologi dalam kaitannya dengan partisipasi generasi muda di gereja lokal. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif maka dapat disimpulkan bahwa bahwa konsep estetika dalam teologi Kristen bukan sekadar keindahan lahiriah, melainkan sarana pewahyuan iman yang mengarahkan jemaat pada perjumpaan mendalam dengan Allah. Dengan demikian, ibadah kreatif merupakan panggilan teologis yang meneguhkan iman sekaligus menumbuhkan keterlibatan generasi muda dalam kehidupan bergereja.
Memelihara Nilai Diri Remaja: Kajian Hermeneutika Kontekstual Matius 7:6 dan Implikasinya terhadap Fenomena Toxic Relationship Jaun adu, Arjuanto adu; Dandi; Iplara, Kalep; Tarigan, Priskila Erlikasna
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i2.57

Abstract

Abstract: Adolescents are increasingly experiencing toxic relationships, both in direct interactions and within digital spaces. These unhealthy relationships significantly affect their self-esteem, mental health, and the growth of Christian faith among youth. This article begins with the question: how can Matthew 7:6 be interpreted to guide teenagers who are involved in toxic relationships? The study employs a contextual hermeneutical approach that incorporates linguistic, historical, and theological analysis to address this question. The results indicate that the terms “what is holy” and “pearls” can be understood as representing something valuable within a person—such as their dignity and faith, which are precious before God—while “dogs” and “pigs” refer to elements that are harmful and unworthy. In the context of relationships, these may symbolize individuals who demean or destroy one’s values and self-worth, being considered “unclean” and “unworthy to receive” what is precious. Therefore, Matthew 7:6 can also be interpreted as a basis for practical advice to adolescents in navigating destructive relationships, particularly in maintaining their faith identity and personal dignity. According to this study, spiritual formation and holistic mentoring are crucial for helping teenagers establish healthy boundaries, communicate assertively, and cultivate relationships that nurture their spiritual growth. Abstrak: Remaja semakin banyak mengalami fenomena toxic relationship, baik dalam interaksi langsung maupun di ruang digital. Relasi yang tidak sehat ini memengaruhi harga diri, kesehatan mental, dan pertumbuhan iman remaja Kristen secara signifikan. Artikel ini dimulai dengan pertanyaan: bagaimana Matius 7:6 dapat diinterpretasikan untuk memberi nasihat kepada remaja saat mereka terlibat dalam toxic relationship? ndekatan yang digunakan adalah hermeneutika kontekstual yang melibatkan analisis linguistik, historis, dan teologis untuk menjawabnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa istilah “yang kudus” dan “mutiara” merujuk pada martabat diri dan iman yang berharga di hadapan Allah, sedangkan “anjing” dan “babi” merujuk pada pihak yang merendahkan atau menghancurkan nilai-nilai dan martabat diri tersebut, yang dipandang sebagai pihak yang ‘najis’ dan ‘tidak layak menerima’ sesuatu yang berharga. Dengan demikian, Matius 7:6 dapat juga ditafsirkan untuk menjadi dasar nasihat praktis bagi remaja saat menjalani relasi pacaran khususnya dalam hal mempertahankan identitas iman dan martabat diri mereka. Menurut penelitian ini, pembinaan rohani dan pendampingan integral sangat penting bagi remaja agar mereka dapat menetapkan batasan yang sehat, berkomunikasi secara asertif, dan menemukan hubungan yang mendukung pertumbuhan iman.
Lebih dari Sekedar Kumpul: Pembinaan Kristiani dalam Persekutuan Mengukir Identitas Pemuda Tampenawas, Alfons Renaldo; Selanno, Semuel
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i2.58

Abstract

Abstract: This research aims to analyze the urgency of restructuring Church Youth Fellowships in response to the identity crisis faced by Christian adolescents (aged 15–30), which is exacerbated by the digital era. The method employed is a Descriptive Qualitative Literature Review, synthesizing existing theoretical concepts and findings. The results indicate that the ineffectiveness of fellowships stems from functional failure, often reducing them to mere social activities. The derived solution and main finding are the necessity of transforming into an integrated discipleship community centered on two pillars: 1) Implementing Holistic Nurturing utilizing digital technology as a discipleship tool while building an authentic self-concept rooted in Christ; and 2) Establishing a consistent Multilevel Collaboration among the church, family, and community. The practical implication of this study is to offer an ecological framework for the church to develop youth spiritual resilience. This transforms the fellowship from a vulnerable vessel into a solid foundation for character, ensuring the consistency of Christian values across all digital and physical domains of life. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis urgensi restrukturisasi Persekutuan Pemuda Gereja dalam menghadapi krisis identitas remaja Kristen (15–30 tahun) yang diperburuk oleh era digital. Metode yang digunakan adalah Studi Literatur Kualitatif Deskriptif melalui sintesis temuan dan konsep teoretis. Hasil kajian menunjukkan bahwa inefektivitas persekutuan disebabkan kegagalan fungsi, di mana ia hanya menjadi aktivitas sosial semata ("sekadar kumpul"). Solusi dan hasil yang disimpulkan adalah perlunya transformasi menuju komunitas pemuridan terintegrasi yang berfokus pada dua pilar: Pertama, Implementasi Pembinaan Holistik menggunakan teknologi digital sebagai alat discipleship sekaligus membangun konsep diri otentik yang berakar pada Kristus; dan kedua, Pembentukan Kolaborasi Multilevel yang konsisten antara gereja, keluarga, dan komunitas. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah menawarkan kerangka kerja ekologis bagi gereja untuk mengembangkan ketahanan spiritual pemuda. Hal ini mengubah persekutuan dari wadah yang rentan menjadi fondasi karakter yang kokoh, menjamin konsistensi nilai Kristen di setiap ranah kehidupan digital dan fisik.
Formulasi Teologi Keluarga sebagai Model Preventif Dekadensi Moral Remaja di Era Digital melalui Pendekatan Interdisipliner Novianti, Rizka; Arifianto, Yonatan Alex; Pantow, Frangky
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i2.59

Abstract

Abstract: The development of digital technology has brought about major changes in human life, especially for adolescents who are searching for their identity. Easy access to information and unlimited interaction provide positive opportunities, but also trigger moral decadence such as bullying, pornography, promiscuity, drugs, and even crime. This condition signals a crisis of character and a weakening of moral values, which should be the foundation for adolescent development. This study aims to formulate family theology as a preventive model in dealing with moral decadence among adolescents in the digital age. The method used is descriptive qualitative with a literature study. Based on the theological foundation of the family as a divine institution, it is necessary to analyze the increasingly worrying phenomenon of moral decadence among adolescents in the digital age. To address this, an interdisciplinary approach to character education is needed so that youth development is not only spiritual but also in tune with the dynamics of modern life. All of this leads to the application of a practical model of family theology as a preventive strategy, in which the family functions as a center for moral and spiritual formation that is alive and able to guide adolescents in facing the challenges of the digital age. The results of the study show that, from a theological perspective, the family is a divine institution that functions as a center for faith, moral, and spiritual education. The formulation of family theology is realized through healthy parent-child communication, exemplary living, wise management of digital media, and shared spiritual practices. The integration of theology, psychology, sociology, and technology produces a comprehensive and relevant moral guidance strategy. Abstrak: Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya remaja yang sedang mencari jati diri. Akses informasi yang mudah dan interaksi tanpa batas memberi peluang positif, namun juga memicu dekadensi moral seperti perundungan, pornografi, perilaku seksual bebas, narkoba, hingga kriminalitas. Kondisi ini menandakan krisis karakter dan melemahnya nilai moral yang semestinya menjadi fondasi perkembangan remaja. Penelitian ini bertujuan merumuskan teologi keluarga sebagai model preventif dalam menghadapi dekadensi moral remaja di era digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan studi pustaka. Berdasarkan landasan teologis keluarga sebagai institusi ilahi, perlu dilakukan analisis terhadap fenomena dekadensi moral remaja di era digital yang kian mengkhawatirkan. Untuk menghadapi hal ini, dibutuhkan integrasi pendekatan interdisipliner dalam pendidikan karakter, agar pembinaan remaja tidak hanya bersifat rohani, tetapi juga selaras dengan dinamika kehidupan modern. Semua ini mengarah pada penerapan model praktis teologi keluarga sebagai strategi pencegahan, di mana keluarga berfungsi sebagai pusat pembentukan moral dan spiritual yang hidup serta mampu menuntun remaja menghadapi tantangan di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga, dalam perspektif teologi, merupakan institusi ilahi yang berfungsi sebagai pusat pendidikan iman, moral, dan spiritual. Formulasi teologi keluarga diwujudkan melalui komunikasi sehat orang tua–anak, keteladanan hidup, pengelolaan media digital yang bijak, dan pembiasaan spiritual bersama. Integrasi disiplin teologi, psikologi, sosiologi, dan teknologi menghasilkan strategi pembinaan moral yang menyeluruh dan relevan. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5