cover
Contact Name
FRISCO TALISTI
Contact Email
friscotalisti@gmail.com
Phone
+6285819452254
Journal Mail Official
jnkphb@gmail.com
Editorial Address
STIKes Patria Husada Blitar JALAN SUDANCO SUPRIADI NO 168 KOTA BLITAR - EAST JAVA - INDONESIA
Location
Kota blitar,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery)
ISSN : 2355052X     EISSN : 25483811     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery) published by STIKes Patria Husada Blitar. Published three times in a year, its in April, August and December. Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery) only receive original manuscripts related to science development and have not been published in domestic and foreign journals. The content of the manuscripts can be in the form of research results to support the progress of science, education and nursing practice and professional midwifery.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 3 (2019)" : 20 Documents clear
Terapi Musik Untuk Mengembalikan Fungsi Pernafasan pada Bayi Putri Kristyaningsih; Ika Rahmawati
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p263-267

Abstract

Terapi musik adalah penggunaan musik sebagai peralatan terapi untuk memperbaiki, memelihara, mengembangkan mental fisik dan kesehatan emosi. Salah satu terapi musik yang bisa digunakan adalah terapi murotal. Terapi murotal merupakan salah satu jenis terapi music yang digunakan untuk penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan ayat- ayat suci Al-Quran. Pada bayi sering mengalami gangguan fungsi pernafasan, diantaranya peningkatan frekuensi pernafasan atau sesak.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh pemberian terapi murotal terhadap fungsi pernafasan bayi. Perbaikan fungsi pernafasan bayi akan dilihat dari frekuensi pernafasan bayi dalam satu menit.  Penelitian ini sangat bermanfaat bagi dunia kesehatan, dengan penelitian ini akan membantu dalam memberikan intervensi bagi bayi yang mengalami gangguan fungsi pernafasan. Tehnik sampling yang digunakan adalah Purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 16 responden. Alat ukur yang digunakan adalah lembar observasi. Penelitian ini akan menggunakan rancangan Pre Experimental pre post test design. Hasil analisis menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi 0,01 yang artinya Terapi Murotal dapat digunakan untuk mengembalikan fungsi pernafasan Bayi. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Terapi murotal dapat digunakan untuk mengembalikan fungsi pernafasan pada Bayi. Music therapy is the use of music as health tools to repairing, caring, developing mental health, physical health, and emotional health (Djohan, 2003). A type of music therapy that we can use is murotal therapy. Murotal therapy is one of music therapy which can be used to heal a disease by using the holy Al-Quran sentences. Babies are often experience a disturbance in respiratory system, such as the increasing of respiration frequencies or shortness of breath. The purpose of this research is to analyze the effect of murotal therapy on baby’s respiratory function. The respiratory function improvement will be seen from the baby’s respiration frequencies in a minute.  This research has a great benefit for health, by this study we can give an intervention for babies that have a respiratory function disturbance. This study was done in Neonate Ward Of Aura Syifa Hospital Keidir, on June to July 2019. The study used purposive sampling technique to determine the sample, and it get 16 respondents. The instrument in this study is observation sheets. The study use pre experiment with pre post test design. Data was analyzed with Wilcoxon test, it shows 0.01 in result, means we can use murotal therapy to recover the baby’s respiratory function. According to the explanation, we can conclude that murotal therapy can be used to restore (recover) the baby’s respiratory function.
Peran Petugas Kesehatan Dalam Upaya Pencegahan Kanker Serviks Melalui Peningkatan Cakupan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di Kelurahan Campurejo Kecamatan Kota Kediri Is Fadhillah; Wiwen Indita
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p300-309

Abstract

Pada saat ini tenaga kesehatan mempunyai tugas besar dalam peranannya terhadap penanggulangan kanker cerviks. Salah satu masalah utama kesehatan reproduksi perempuan di Indonesia adalah kanker serviks. Angka kejadian di seluruh dunia mencapai 490.000 kasus kanker cerviks dan mengakibatkan 240.000 kematian tiap tahunnya, dan 80% dari angka itu yaitu sekitar 392.000 terjadi di wilayah Asia (Soebachman, 2011) Menurut data dari Indonesia (Kemenkes RI) pada tahun 2013, kejadian kanker serviks di Indonesia sebesar 0,8%. Provinsi yang memiliki estimasi  jumlah  penderita  kanker  serviks terbesar adalah Provinsi Jawa Timur dengan  estimasi  21.313  kasus (Kemenkes RI, 2015). Program  IVA akan mengurangi risiko terkena kanker serviks, dimana ibu-ibu dapat melakukan   pemeriksaan IVA sebagai upaya pencegahan sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pemahaman tenaga kesehatan di wilayah Kota Kediri terhadap masalah kanker serviks, serta mengidentifikasi upaya-upaya apa saja yang dilakukan tenaga kesehatan dalam melakukan pencegahan terhadap kanker serviks melalui  peningkatan cakupan pemeriksaan IVA di Kelurahan Campurejo Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif interaktif (Milles dan Haberman). Dari hasil penelitian dapat dirangkumkan beberapa faktor yang menyebabkan keberadaan kanker serviks melalui pemahaman petugas kesehatan diantaranya yaitu: kebersihan organ intim, gonta-ganti pasangan, faktor genetik,hubungan seks di luar nikah,pernikahan dini. Peran dan strategi tenaga kesehatan dalan pencegahan kanker serviks  yaitu melaui Promosi penyuluhan, membentuk tim, sosialisasi, lintas sektor, model kampung IVA, pemeriksaan gratis.
Hubungan Kadar Ureum, Hemoglobin dan Lama Hemodialisa dengan Kualitas Hidup Penderita PGK Ardhiles Wahyu Kurniawan; Juliati Koesrini
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p292-299

Abstract

Penderita penyakit ginjal kronik mengalami penumpukan produk sisa dalam darah khususnya ureum yang menjadi toksin bagi tubuh. Anemia pada pasien PGK menyebabkan badan lemah dan penurunan perfusi jaringan. Terapi hemodialisa bisa menjadi stresor bagi pasien, karena terapi ini memerlukan waktu yang lama, keadaan ini berpotensi menurunkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan kadar ureum, hemoglobin dan lama hemodialisa dengan kualitas hidup penderita PGK di Ruang Hemodialisa RS dr Soepraoen. Desain penelitian ini menggunakan kolerasional dengan pendekatan cross sectional. Responden adalah penderita PGK dengan terapi hemodialisis di ruang hemodialisa RS dr Soepraoen Malang. Sampel sejumlah 92 responden yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi. Variabel yang diteliti adalah ureum, hemoglobin, lama hemodialisa dan kualitas hidup. Analisa data menggunakan uji korelasi somers’d gamma. Berdasarkan hasil uji korelasi somers’d gamma menunjukkan ada hubungan antara ureum dengan kualitas hidup responden dibuktikan dengan nilai p= 0,025 , r = 0,4. Ada hubungan antara kadar hemoglobin dengan kualitas hidup responden dibuktikan nilai p= 0,012 , r = 0,4. Tidak ada hubungan antara lama hemodialisa dengan kualitas hidup responden dibuktikan nilai p= 0,609, r = 0,6. Hasil penelitian ini meningkatkan kemampuan berpikir kritis perawat yaitu perubahan ureum dan hemoglobin berdampak pada kualitas hidup pasien PGK. Patients with chronic kidney disease experience a buildup of waste products in the blood, especially urea which is toxic to the body. Anemia in CKD patients causes weak body and decreased tissue perfusion. Hemodialysis therapy can be a stressor for patients, because this therapy requires a long time, this situation has the potential to reduce the quality of life of patients. The purpose of this study was to determine the relationship of urea levels, hemoglobin and duration of hemodialysis with the quality of life of patients with CKD in the Hemodialysis Room of dr. Soepraoen Hospital. The design of this study uses a cross-sectional study. Respondents were CKD sufferers with hemodialysis therapy in the hemodialysis room at dr. Soepraoen Hospital, Malang. Sample were 92 respondents who met the exclusion and inclusion criteria. The variables were urea, hemoglobin, length of hemodialysis and quality of life. Data analysis uses the gamma correlation test. Based on the gamma correlation test results showed that there was a relationship between the ureum and the quality of life of the respondents as evidenced by the value of p = 0.025, r = 0.4. There was a relationship between hemoglobin levels with the quality of life of the respondents as evidenced by the value of p = 0.012, r = 0.4. There was no relationship between the length of hemodialysis with the quality of life of respondents as evidenced by the value of p = 0.609, r = 0.6. The results of this study improve the critical thinking skills of nurses, namely changes in urea and hemoglobin affect the quality of life of CKD patients. 
Efektivitas Terapi Tertawa tehadap Insomnia dan Tekanan Darah pada Lansia Desi Natalia Trijayanti Idris; Kili Astarani
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p339-347

Abstract

Menua bukanlah suatu penyakit melainkan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi stressor dari dalam maupun dari luar tubuh. Masalah-masalah yang terjadi pada lansia diantaranya mudah jatuh, mudah lelah, gangguan kardiovaskuler, nyeri atau ketidaknyamanan, gangguan eliminasi, gangguan ketajaman pengelihatan, gangguan pendengaran, gangguan tidur, mudah gatal. Insomnia merupakan gangguan tidur yang sering ditemukan pada lansia yang dapat menurunkan kualitas hidup lansia. Lansia yang mengalami insomnia cenderung terjadi peningkatan tekanan darah. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia dan peningkatan tekanan darah pada lansia yang dapat dilakukan oleh lansia secara mandiri ataupun berkelompok yaitu dengan non farmakologi salah satunya adalah terapi tertawa. Tujuan menganalisis pengaruh terapi tertawa  terhadap insomnia dan tekanan darah pada lansia di Panti Wredha Santo Yoseph Kediri. Desain penelitian ini mengunakan Quasi Eksperimental dengan menggunakan metode one group pre-test post-test design. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 14 lansia yang diambil secara kuota sampling dari 28 lansia yang ada. Penelitian dilaksanakan pada bulan juni-juli 2019. Pengumpulan data dengan mengukur insomnia dan tekanan darah sebelum dilakukan terapi tertawa. Analisis data mengunakan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi tertawa dengan insomnia berdasarkan uji wilcoxon (p=0.002), tidak ada pengaruh terapi tertawa dengan tekanan darah pada lansia berdasarkan uji wilcoxon (p=0.190). Terapi tertawa dapat digunakan sebagai penatalaksaan secara non faramkologi tindakan mandiri perawat dalam mengurangi insomnia yang terjadi pada lansia. Tekanan darah pada lansia tidak terdapat perubahan dengan terapi tertawa hal ini dapat dikarenakan perubahan fisiologi lansia salah satunya adalah fungsi kardiovaskuler. Aging is a natural process and is not a disease that can result in reduced endurance in dealing with stressors from within and from outside the body. Many problems that can occur in the elderly include fatigue, impaired balance that makes the elderly easy to fall, disorders of the cardiovascular system, pain or discomfort, disturbances in elimination of frequent urination or unable to hold urine, impaired vision, hearing, resting disorders and sleep, and itch easily. Insomnia is a sleep disorder or problem that is often found in the elderly which can reduce the quality of life of the elderly. Elderly people who experience insomnia tend to increase blood pressure. Management that can be done to overcome insomnia and increased blood pressure in the elderly is done independently or in a group that is by means of nonpharmacology for example is laughter therapy. The purpose of this study was to analyze the effect of laughter therapy on insomnia and blood pressure in the elderly at the St. Yoseph Kediri Nursing Home. The design uses Quasi Experimental with one group pre-test post-test design method. The samples of this study were 14 elderly taken by sampling quota from 28 existing elderly. The study was conducted in June until July 2019. Collection data by measuring insomnia and blood pressure (BP) before laughing therapy. Analysis data using Wilcoxon test. The results showed there was an effect of laughing therapy with insomnia based on the Wilcoxon test (p = 0.002) and there was no effect of laughing therapy with blood pressure in the elderly based on the Wilcoxon test (p = 0.190). Laughter therapy can be used as a non-faramchologic treatment of nurses' independent actions in reducing insomnia that occurs in the elderly. Blood pressure in the elderly there is no change with laughter therapy this can be due to changes in the physiology of the elderly one of which is cardiovascular function.
Faktor yang Berhubungan dengan Pengetahuan Orang Tua tentang Stunting pada Balita Anita Rahmawati; Thatit Nurmawati; Liliani Permata Sari
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p389-395

Abstract

Stunting masih menjadi masalah gizi anak yang utama yang dapat menimbulkan dampak besar, namun masyarakat khususnya orangtua banyak yang belum memahami stunting dengan benar. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dan yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap pengetahuan orang tua tentang stunting pada balita. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional dengan populasi yaitu orangtua yang memiliki anak balita usia 0-3 tahun di Posyandu Dusun Plosoarang, Sanankulon, Kabupaten Blitar. Sampel diambil dengan purposive sampling sebanyak 20 orang dengan kriteria inklusi orang tua yang mengantar ke posyandu dan minimal berpendidikan SMP. Pengukuran data menggunakan kuesioner meliputi data pengetahuan, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan informasi yang pernah diperoleh. Analisis bivariat menggunakan koefisien kontingensi. Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda dengan nilai signifikan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan pengetahuan tentang stunting yaitu usia (p=0,017), pendidikan (p=0,043), informasi (p=0,002). Analisis uji regresi logistik menunjukkan informasi menjadi faktor yang paling dominan terhadap pengetahuan (p=0,025). Faktor yang tidak berhubungan yaitu pekerjaan (p=0,078) dan pengalaman (p=0,822). Petugas posyandu agar memberikan informasi tentang stunting saat kegiatan posyandu misalnya melalui penyuluhan atau konseling. Orang tua diharapkan agar meningkatkan pengetahuan tentang stunting dengan mencari informasi melalui berbagai media yang ada. Stunting is still a major child nutrition problem that can have a big impact. But many people especially parents do not understand about stunting correctly. The aim of this study was to analyze the factors that are related and which have the most dominant influence on parental knowledge about stunting in toddler. This study uses cross sectional design with a population that is parents who have children aged 0-3 years old at Posyandu of Plosoarang village, Sanankulon, Blitar. Sampel were taken bu purposive sampling of 20 people with the inclusion criteria of parent who took to posyandu and at least junior high school education. Data measurement using a questionnaire includes data on knowledge, age, education, employment, and information ever obtained. Bivariate analysis uses contingency coefficients. Multivariate analysis using multiple logistic regression test. The Result showed factors related to knowledge about stunting are age (p=0,017), education (p=0,043), information (p=0,002). Logistic regression analysis showed that information was the most dominant factor in knowledge (p=0,0025). Unrelated factors were work (p=0,078) and experience (p=0,822). Posyandu officers are expectedto provide information about stunting during posyandu activities and parents are expected to increase knowledge about stunting by finding information through various media.
Hubungan Tingkat Kecacatan dan Lama Menderita Kusta dengan Depresi Penderita dan Mantan Penderita Kusta Nawang Wulandari; Muhammad Su'udi
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p357-363

Abstract

Sifat penyakit yang kronis dan kecacatan yang ditimbulkan dari penyakit kusta dapat mengganggu penampilan dan fungsi tubuh penderitanya, ditambah persepsi yang negatif dari masyarakat menimbulkan dampak negatif dalam kesehatan jiwa. Penderita akan merasa rendah diri, tekanan batin dan merasa tidak berguna baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat, kondisi ini yang dapat mencetuskan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecacatan dan lama menderita dengan depresi penderita dan mantan penderita kusta di Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 26 responden diambil dengan teknik purposive sampling. Metode pengambilan data menggunakan kuesioner Zung Self-Rating Depression Scale (ZSDS) dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis tingkat kecacatan dan lama menderita dengan depresi sama-sama didapatkan nilai p<0,05 yang berarti ada hubungan antara tingkat kecacatan dan lama menderita dengan depresi penderita dan mantan penderita kusta. Depresi dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pendidikan, jenis kelamin, status perkawinan, dukungan, pendapatan, dan karakteristik penyakit sendiri. Peningkatan ketahanan terhadap depresi melalui self efficacy sangat diperlukan untuk meningkatkatkan kepercayaan diri penderita dan mantan penderita dalam mengatasi masalahnya. The chronic nature of disease and disability resulting from leprosy can disrupt the appearance and function of the sufferer's body, and the negative perception of the community has a negative impact on mental health. Patients will feel inferior, inner pressure and feel useless in both the family and community environment, this condition can trigger depression. This study aims to determine the relationship between the level of disability and length of suffering with depression sufferers and former leprosy sufferers in Ponggok District Blitar. This type of research is observational analytic with cross sectional approach. The sample used by 26 respondents was taken by purposive sampling technique. The data collection method uses the Zung Self-Rating Depression Scale (ZSDS) questionnaire and analyzed using the Spearman correlation test. The results of the analysis of the level of disability and duration of suffering with depression both obtained p values <0.05 which means there is a relationship between the level of disability and duration of suffering with depression sufferers and former leprosy sufferers. Depression is influenced by many factors including education, gender, marital status, support, income, and the characteristics of the disease itself. Increased resistance to depression through self-efficacy is needed to increase the confidence of sufferers and former sufferers in overcoming their problems.
Effect of Topical Aromatherapy Turmeric Oil to Pruritus Scale on Chronic Kidney Disease Patients Rysida Ma’rifaul Khoirot; Kusnanto Kusnanto; Suprajitno Suprajitno
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p396-400

Abstract

Introduction : A large number of patients with chronic kidney disease suffer from uremic pruritus, which adversely affects the quality of life and comfort of patients with a potential psychological, functional and social impact, which results in increased morbidity. The purpose of this study was to determine the effect of the administration of turmeric essential oil aromatherapy which was applied topically pruritus, comfort and quality of life of CKD patients.Methods : This study used a quasi-experimental design with 2 groups (intervention and control), conducted in CKD patients receiving hemodialysis therapy. A total sample of 72 respondents with the division of each group of 36 people. The intervention was carried out independently by the patient for 2 weeks. Measurement using 5-D pruritus scale questionnaire.Results : This study showed a decrease in pruritus scale in 51 respondents (70.8%) after 2 weeks of therapy. Independent t statistical test obtained a significance value of 0.046 (p <0.05).Conclusion: Topical aromatherapy of turmeric oil affects pruritus scale on patients with chronic kidney disease who experience uremic pruritus.
Coping Mechanism in Women with Breast Cancer Titis Eka Apriliyanti; Kusnanto Kusnanto; Joko Suwito; Abdul Fauzi
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p408-411

Abstract

Background: Impaired coping mechanisms often occur in women with breast cancer. The purpose of this study is to determine the description of coping mechanisms in women with breast cancer who undergo chemorepy, radiation or both.Methods: The population in this study were women with breast cancer who underwent chemotherapy, radiation or both. Sampling was done by random sampling where the number of samples is 70. Taking data using the COPE Brief instrument.Result: Four indicators in the destructive category were acceptance (54.3%), denial (61.4%), emotional support (52.9%) and positive reframing (67.1%) while three indicators were mostly in the constructive category, namely self blame (60%), active (64.3) %), and Behavioral disengagement (72.9%).Conclusion: Four destructive indicators indicate poor avoidance and positive thinking in breast cancer patients, while 3 constructive indicators describe good problem solving. Assessment based on this indicator can be taken into consideration in the selection of appropriate interventions to improve coping mechanisms in breast cancer patients.
Aromaterapi Lavender dalam Upaya menurunkan Nausea dan Vomiting Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Anisa Ain; Desak Gede Agung; Esty Yunitasari
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p401-407

Abstract

Kanker payudara merupakan jenis kanker yang umum terjadi wanita. umumnya pasien yang menjalani kemoterapi mengalami gejala akibat proses penyakit atau efek samping pengobatan seperti nausea dan vomiting. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh aromaterapi lavender terhadap nausea dan vomiting pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Metode: penelitian ini adalah penelitian true experimental dengan desain randomized pre-post test with control group. Sampel penelitian melibatkan pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi one day care di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok aromaterapi (n = 20) dan kelompok kontrol (n = 20).  Aromaterapi lavender dilakukan mandiri oleh pasien dirumah setiap dua kali sehari selama tiga minggu berturut-turut (21 hari). Instrumen mengukur nausea dan vomiting menggunakan Rhodes Index Nausea, Vomiting and Retching. Data dianalisis menggunakan uji pair t test dan independent t test. Hasil: Skor nyeri pre kelompok aromaterapi 17.60 ± 3,05 dan post 8,40 ± 4,74 (p value <0,001). Independent t test menunjukkan nilai p value 0,001 (< 0,05). Kesimpulan: studi ini menunjukkan aromaterapi lavender inhalasi yang diterapkan secara berkesinambungan selama tiga minggu berturut-turut mampu menurunkan nausea dan vomiting pasien kanker payudara yang menjalani kemoterap Background: Breast cancer is the most common type of cancer suffered by women. Cancer patients generally experience side effects of chemotherapy such as nausea and vomiting. Aim : The purpose of this study was to determine the effect of aromatherapy on nausea and vomiting of breast cancer patients undergoing chemotherapy. Method: this study is a true experimental study with a randomized pre-post-test design with a control group. The study sample was breast cancer patients with one day care chemotherapy at RSUD dr. Soetomo Surabaya. The sample was divided into 2 groups, the aromatherapy group (n = 20) and the control group (n = 20) collected consecutively in August to September 2019. Inhalation lavender aromatherapy is performed independently by patients at home every 2 times a day for 3 consecutive weeks (21 days). The instrument measures nausea and vomiting using the Rhodes Index Nausea, Vomiting and restcing. data analysis using paired t test. Results: The aromatherapy group had a mean difference of pre-post test -9.20, higher than the control group 0.30. Paired t test showed that there were significant differences in mean pre and post test in the aromatherapy group with p value <0.001 compared to the control group p 0.741 (> 0.05). Conclusion: lavender aromatherapy inhaled continuously for three consecutive weeks can reduce the nausea and vomiting of breast cancer patients undergoing chemotherapy
Modal Sosial dan Persepsi Ancaman Sebagai Determinan Perilaku Pencegahan Infeksi Dengue: Studi Multilevel Kanthi Devi Ayuningtyas; Nurhayati Agtikasari; Ana Damayanti
Journal of Ners and Midwifery Vol 6 No 3 (2019)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v6i3.ART.p382-388

Abstract

Infeksi dengue merupakan salah satu permasalahan utama dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Berbagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini telah dilakukan dalam kurun waktu yang lama, tetapi jumlah kasus dan angka kematiannya cenderung mengalami peningkatan. Selain faktor individu, faktor sosial pun dinilai memiliki peranan penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi dengue. Penelitian cross sectional yang dilakukan di 8 kecamatan di Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2018 ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor individu berupa persepsi ancaman pengaruh kontekstual modal sosial terhadap perilaku pencegahan infeksi dengue. Sejumlah 200 subjek penelitian dipilih dengan teknik multistage random sampling. Keseluruhan data variabel bebas (persepsi ancaman dan modal sosial) serta data variabel terikat (perilaku pencegahan infeksi dengue) dikumpulkan dengan kuesioner, dan dianalisis menggunakan analisis multilevel. Temuan dalam penelitian ini adalah perilaku pencegahan infeksi dengue secara signifikan dipengaruhi oleh persepsi ancaman (b= 1.56; CI (95%) = 0.77 - 2.34; p= <0.001) dan modal sosial pada tingkat kecamatan memiliki pengaruh kontekstual terhadap perilaku pencegahan infeksi dengue (ICC 10.91%). Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi ancaman sebagai salah satu faktor individu dan modal sosial sebagai faktor sosial berpengaruh terhadap perilaku pencegahan infeksi dengue. Dengue is one of major problems in Indonesian public health. Various efforts to prevent and control this disease have been carried out in a long time, but the number of cases and the case fatality rate tends to increase. In addition to individual factors, social factors are also considered to have an important role in efforts to prevent and control dengue. This cross sectional study conducted in 8 sub-districts in Sukoharjo Regency, Central Java in 2018 aims to analyze the effect of perceived threat as individual factor and the contextual effect of social capital on the dengue preventive behavior. A total of 200 subjects were selected by multistage random sampling. Data for both independent (Perceived threat and social capital) and dependent variable (dengue preventive behavior) were collected by questionnaire, and analyzed with multilevel analysis. This study found that dengue preventive behavior was significantly affected by perceived threat (b = 1.56; CI (95%) = 0.77 - 2.34; p = <0.001) and the sub-district level social capital had a contextual effect on dengue preventive behavior (ICC 10.91%). Based on these findings, we concluded that perceived threat as an individual factor and social capital as a social factor affected dengue preventive behavior.

Page 2 of 2 | Total Record : 20