cover
Contact Name
-
Contact Email
lkp2m@uin-malang.ac.id
Phone
+6285173116244
Journal Mail Official
lkp2m@uin-malang.ac.id
Editorial Address
Gedung Jenderal Besar H.Muhammad Soeharto (Sport Center) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Jl. Gajayana No.50, Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65144
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
LoroNG
ISSN : 26848171     EISSN : 18299245     DOI : https://doi.org/10.18860/lorong.v
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah mahasiswa yang diterbitkan sebagai wadah pengkajian sosial dan budaya. Jurnal ini bertujuan menjadi tempat pengembangan kemampuan kritis dan analitis mahasiswa serta menjadi sarana untuk menggairahkan kembali tradisi menulis di kalangan akademisi. Lorong memuat tulisan ilmiah populer, gagasan orisinal yang kritis dan segar, serta ulasan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala pada bulan Juni dan Desember setiap tahun oleh UKM LKP2M (Lembaga Kajian Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2020)" : 5 Documents clear
Dekadensi Konsep Realitas: Menelisik Fenomena Pasang Surut Air Laut dan Konstruksi Sosial Atas Realitas Menurut Peter L. Berger Pada Mahasiswa Jurusan Fisika UIN Malang Ali, Falah Haidar
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v9i1.945

Abstract

Reality has been tried to decrypt by humanity. Comprehending and standardizing the concept of reality have been our lifetime learning process as intellectual beings. The concepts of natural reality such as day-night, eclipses, and sea tides are successfully decrypted into the physical language in ways we can comprehend and pass on. Nevertheless, such verified and tested conception of natural reality, which is seawater tides, proved to be having a decadence in the concept itself. This research aims to investigate how physics students of UIN Malang conceive the phenomenon of seawater tides. The results of this investigation are used to be compared with the objective reality and finally be seen through Peter L. Berger’s theory, Social Construction of Reality. This research is field research with a case study approach. The researcher gathered the necessary data by conducting interviews. As a result, this research indicated the presence of decadency on the concept of seawater tides in UIN Malang physics students as Berger’s theory indicated that this decadency was caused by the informants’ prior source of information came as they studied in the elementary and junior high school. Realitas telah lama berusaha didekripsikan oleh umat manusia. Proses pemahaman dan pembakuan konsep realitas telah lama kita lalui sebagai makhluk intelektual. Konsep realitas natural seperti siang-malam, gerhana, dan pasang surut air laut berhasil kita dekripsi menjadi bahasa fisis yang dapat kita pahami dan wariskan. Kendati demikian, konsepsi realitas natural yang sudah teruji dan terverifikasi yaitu pasang surut air laut mengalami dekadensi konsep. Penelitian ini mencoba menginvestigasi bagaimana mahasiswa jurusan Fisika UIN Malang memahami realitas fenomena pasang surut air laut yang kemudian hasil investigasi tersebut dibandingkan dengan realitas objektifnya dan diteropong melalui kaca mata teori konstruksi sosial atas realitas milik Peter L. Berger. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan studi kasus (case study). Peneliti mengumpulkan data-data yang dibutuhkan melalui teknik wawancara. Hasilnya, terdapat dekadensi konsep fenomena pasang surut air laut pada mahasiswa jurusan Fisika UIN Malang. Adapun jika ditelaah dengan menggunakan teori Berger, ditemukan bahwa dekadensi ini disebabkan oleh sumber informasi para informan yang berasal ketika mereka menempuh pendidikan di bangku pendidikan dasar dan menengah
Peningkatan Berpikir Kritis Mahasiswa Melalui Pembelajaran Online: Telaah Teori Pedagogi Kritis Paulo Freire Nazilah, Eka Rohmatun; Kurniawan, Riski
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v9i1.946

Abstract

Students’ critical thinking patterns disposed of experience in significant degradation, especially in the digitalbased learning period (online). Critical thinking can be formed the independent students and being aware of reading social reality in the middle of society. Here is the importance of training the capacity of thought. This study will identify a dialogical and critical communication approach between lecture and student in university. This research was qualitative research or library research. The researcher collected data by reducing, reviewing, and concluding based on the data obtained from noting and short analysis to solve students’ critical thinking. In addition, students’ learning patterns on online learning can solve the problem that the world is facing today. However, students’ awareness of the importance of critical thinking is still very least and has not yet achieved the target. Pola berfikir kritis mahasiswa cenderung mengalami degradasi yang signifikan, utamanya pada masa pembelajaran berbasis digital (online). Berpikir kritis dapat membentuk mahasiswa yang mandiri dan sadar dalam membaca realita sosial yang terjadidi tengah masyarakat .pendidikan berbasis digital dinilai penting melatih daya pikir. Penelitian ini akan mengkaji pola penyadaran berfikir kritis mahasiswa dengan menghadirkan pembelajaran yang tidak satu arah antara dosen dan mahasiswa,dengan kata lain pembelajaran harus komunikatif dan dialogis. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research\). Peneliti mengumpulkan data dengan mereduksi, mengkaji dan memberikan kesimpulan atas buku dan jurnal yang telah didapatkan dari mencatat dan menguraikan dengan singkat guna mendapatkan jawaban terhadap permasalahan berfikir kritis mahasiswa. Hasilnya, pola pembelajaran mahasiswa berbasis online dinilai dapat menjadi solusi atas permasalahan yang dihadai dunia saat ini. Namun, kesadaran mahasisawa terhadap pentingnya berfikir kritis masih sangat minim dan belum mencapai target.
Resiliensi Single Mother sebagai Kepala Keluarga: Studi Kasus Kelurahan Karangboyo, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora Rodiyah, Rodiyah
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v9i1.947

Abstract

A single mother is a single mother whose husband leaves due to death or divorce. The single mother has a dual role that can bring complex problems in life. So it requires the ability to survive and adapt in the face of difficult situations and misfortunes that befall them, commonly referred to as resilience. This study aims to understand the resilience of single mothers in carrying out their role as the head of the family. This research uses qualitative research methods with a case study approach. The participants were three single mothers who became the head of the family. The data collection method used is the semi-structured interview. The unit of analysis is based on seven aspects of ability in resilience, according to Reivich & Shatte. This study uses an interactive model data analysis technique, according to Miles and Huberman. The results of this study indicate that overall the participants have sufficient resilience abilities. So, that all participants can be said to be quite resilient or quite able to adapt and survive their condition as a single mother, and in carrying out their role as head of the family because participants feel optimistic and can control their desires (impulse control) and have reached out in themselves. Single mother adalah ibu tunggal yang ditinggal oleh suaminya karena kematian atau perceraian. Single mother memiliki peran ganda yang dapat membawa masalah yang kompleks dalam kehidupan. Sehingga membutuhkan kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi situasi sulit maupun kemalangan yang menimpanya atau biasa disebut sebagai resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana resiliensi single motherdalam menjalankan perannya sebagai kepala keluarga. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan studi kasus. Partisipan adalah tiga single mother yang menjadi kepala keluarga. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur. Unit analisis berdasarkan tujuh aspek kemampuan dalam resiliensi menurut Reivich & Shatte. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data model interaktif menurut Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan partisipan memiliki kemampuan resiliensi yang cukup. Sehingga seluruh partisipan dapat dikatakan cukup resilien atau cukup mampu beradaptasi dan bertahan dari kondisinya yang sebagai single mother serta dalam menjalankan perannya sebagai kepala keluarga, dikarenakan partisipan merasa optimis dan dapat mengendalikan keinginan (impluse control) serta memiliki pencapaian (reaching out) dalam dirinya,
Sirkumsisi Perempuan dalam Islam (Studi Komparatif Fatwa MUI dan Dar Al-Ifta’ Mesir) Fashihuddin, Muhammad
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v9i1.948

Abstract

The proposition of female circumcision has become a protracted public polemic in many parts of the world. The polemic arose due to the doctrine of tradition, or it recognizes in the Shari’a until it appoints to the fatwa institution for the legal stipulation. However, there are two contradictory fatwas, namely in Indonesia (MUI) and Egypt (Dār al-Iftā”), which are appropriate to reveal the reasons behind the two different sides in those fatwas. This study aims to explore the background of the enactment of the fatwa and uncover the legal arguments built on it. The type of study used is normative qualitative research with a comparative approach. The results found include: First, the MUI fatwa was determined based on the submission of a fatwa by Indonesian government agencies on the issue of rejecting the practice of circumcision by some people. Nevertheless, the fatwa of Dār al-Iftā” was determined based on the ambiguity of the fatwa by the muftis of Egypt. Second, the MUI fatwa states that female circumcision is part of the Shari’a based on the verse of the Qur’an and hadith. For the time being, Dār al-Iftā” forbids the practice of circumcision by denying the validity of the hadith about of it through fuqaha vows and fatwas. Masalah sirkumsisi perempuan telah menjadi polemik publik yang berkepanjangan di belahan dunia. Polemik tersebut muncul sebab doktrinasi tradisi atau memang diakui dalam syariat hingga diangkat pada lembaga fatwa untuk ditetapkan hukumnya. Namun, muncul fatwa di Indonesia (MUI) dan Mesir (Dār al-Iftā‟) yang saling bertolak belakang, sehingga layak untuk diungkap alasan dibalik perbedaan fatwa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggali latar belakang atas ditetapkannya fatwa dan mengungkap argumen-argumen hukum yang dibangun di dalamnya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif normatif dengan pendekatan komparatif. Hasil yang ditemukan meliputi: Pertama, fatwa MUI ditetapkan atas dasar pengajuan fatwa oleh instansi pemerintah Indonesia atas isu penolakan praktik sirkumsisi oleh sebagian masyarakat. Sementara fatwa Dār al-Iftā’ ditetapkan atas dasar ambiguitas fatwa oleh para mufti Mesir. Kedua, fatwa MUI menyatakan sirkumsisi perempuan termasuk bagian dari syariat yang berlandas pada dalil al-Qur’an dan hadis. Sementara Dār al-Iftā’ menyatakan haram praktik tersebut dengan menyangkal keabsahan hadis-hadis sirkumsisi melalui kaul fukaha dan fatwa.
Telaah Kritis Konsep Kafa’ah Antara Etnis Arab dan NonArab: Sebuah Kajian Perbandingan Mazhab Yahya, Muhamad
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v9i1.949

Abstract

Islam places its adherents as equal entities in the eyes of Allah SWT, the concentration of Islam is to make a servant fearful of Allah. However, the facts in fiqh are different from this principle, where one of the indicators of Kafa’ah is lineage which is interpreted that Arab ethnic humans are not ideal (sekufu). ) married a non-Arabic human (‘ajamy). Therefore, there needs to be a more detailed and more comprehensive study, considering that Islamic principles view humans not based on lineage. So with this, what are the views of the fiqh scholars, especially the four schools of thought regarding the standardization of Kafa’ah in nasab indicators (Arabic and Non-Arabic) and how does Kafa’ah influence marriage according to the four schools of thought. Through the Muqaranatul mazhab approach, the authors found that (1) Hanafiyah, syafiiyah, and hamaliyah agreed to include Arabic nasab into the kufunya indicator of marriage for sociological reasons, namely to avoid disgrace and shame that would bring down the dignity of the family of the prospective bride and groom, while Malikiyah on the other hand, because piety is teaching instilled by the egalitarian Prophet Muhammad SAW so that it can degrade lineage as a caste in marriage. (2) the opinion of the Hanafiyah school, the most superior opinion of the Shafi’i, and the Hanabilah kafaah nasab (Arabic and non-Arabic) have a major influence on marriage as a condition of luzum (sustainability of a marriage) while according to Malikiyah’s opinion, one qaul from Syafiiyah, and history from Imam Ahmad bin Hambal stated that it did not have a big effect on marriage, meaning it was not a condition for luzum (marriage continuity). Islam mendudukkan pemeluknya sebagai entitas yang sama di mata Allah SWT, Konsentrasi Islam adalah menjadikan seorang hamba bertakwa kepada Allah Kendati demikian fakta dalam fikih berbeda dengan prinsip tersebut, dimana salah satu indikator Kafa’ah adalah nasab yang ditafsirkan bahwa manusia etnis Arab tidak ideal (sekufu) menikah dengan manusia non-Arab (‘ajamy). Oleh karena itu, perlu ada kajian yang lebih detail dan lebih komprehensif, mengingat prinsip Islam memandang manusia tidak berdasarkan garis keturunan. Maka dengan ini bagaimana pandangan para ulama fikih khususnya empat mazhab terkait standarisasi Kafa’ah dalam indikator nasab (Arab dan Non-Arab) dan bagaimana pengaruh Kafa’ah dalam pernikahan menurut empat mazhab. Melalui pendekatan Muqaranatul mazhab, penulis menemukan bahwa (1) Hanafiyah, syafiiyah dan hambaliyah setuju memasukan nasab Arab kedalam indikator kufunya suatu pernikahan dengan alasan yang bersifat sosiologis yaitu untuk menghindari adanya aib dan rasa malu yang akan menjatuhkan martabat pihak keluarga calon pasangan mempelai, sedangkan Malikiyah sebaliknya dengan alasan bahwa ketakwaan merupakan ajaran yang ditanamkan oleh Nabi Muhammad SAWyang egaliter/setara sehingga dapat mendegradasi nasab sebagai kasta dalam pernikahan. (2) pendapat mazhab Hanafiyah, pendapat yang paling unggul dari syafiiyah, dan Hanabilah kafaah nasab (Arab dan non-Arab) berpengaruh besar dalam pernikahan sebagai syarat luzum (keberlangsungan suatu pernikahan) sedangkan menurut pendapat Malikiyah, satu qaul dari syafiiyah, dan satu riwayat dari imam ahmad bin hambal menyatakan tidak berpengaruh besar dalam pernikahan artinya bukan sebagai syarat luzum (keberlangsungan pernikahan).

Page 1 of 1 | Total Record : 5