cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 4 (2008): DESEMBER 2008" : 5 Documents clear
PENYISIHAN ORGANIK MELALUI DUA TAHAP PENGOLAHAN DENGAN MODIFIKASI ABR DAN CONSTRUCTED WETLAND PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA Munazah, Ashila Rieska; Soewondo, Prayatni
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 4 (2008): DESEMBER 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.541 KB)

Abstract

An alternative of biological process using two stage treatment modification of ABR and constructed wetland. Home industry poultry slaughtering houses and tofu industry are contributor of high organic content in sewage. Therefore needed an alternative of biological process using two stage treatment modification of Anaerobic Baffle Reactor (ABR) and constructed wetland which are cheap, appropriate and simple operation. Wetland organic loading rate is depend on ABR effluent as a primary treatment. This ABR is a modification of a conventional septic tank, by addition of 3 baffles and coconut shell filter media. ABR operated with Hydraulic Retention Time(HRT) 3 and 5 days, and COD influent concentration 4000, 5000 and 6000 mg/L. Optimum COD removal efficiency 86,52% resulted by ABR 2 with HRT 5 days. Constructed wetland is a planned treatment which is designed and built by using natural process which involve wetland vegetation, soil, and microorganisms to treat wastewater. Modified wetland with horizontal subsurface flow including vertical baffle in reactor. Wetland operated with HRT 5 and 7 days, using Scirpuss grossus dan Sagittaria lancifolia. Optimum COD removal efficiency 96,53% resulted by Sagittaria lancifolia with HRT 7 days. Abstract in Bahasa Indonesia: Industri rumah pemotongan hewan (RPH) ayam dan industri tahu saat ini merupakan salah satu jenis industri rumah tangga yang memiliki limbah cair dengan kandungan organik tinggi. Oleh karena itu dikembangkan suatu alternatif pengolahan biologi dengan menggunakan dua tangki pengolahan yaitu modifikasi anaerobic baffle reactor (ABR) dan constructed wetland yang murah, tepat guna, dan mudah dioperasikan. Beban pengolahan wetland bergantung pada hasil effluen ABR sebagai pengolahan pendahuluan. ABR ini merupakan modifikasi dari tangki septik konvensional, dengan adanya penambahan 3 sekat dan media filter tempurung kelapa. ABR dioperasikan dengan variasi waktu detensi hidrolik 3 dan 5 hari serta variasi konsentrasi COD influen sebesar 4000, 5000 dan 6000 mg/L. Efisiensi penyisihan COD optimum 86,52% terdapat pada ABR 2 dengan waktu tinggal 5 hari. Wetland merupakan sistem pengolahan terencana atau terkontrol dengan menggunakan proses alami yang melibatkan tanaman wetland, tanah dan mikroorganisme untuk mengolah air limbah. Wetland dengan aliran horizontal subsurface flow ini telah mengalami modifikasi dengan penggunaan sekat vertikal pada reaktor. Wetland dioperasikan dengan variasi waktu detensi 5 dan 7 hari, tanaman yang digunakan Scirpuss grossus dan Sagittaria lancifolia. Efisiensi penyisihan COD optimum 96,33% terdapat pada Sagittaria lancifolia dengan waktu tinggal 7 hari.
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT UDANG MENJADI EDIBLE COATING UNTUK MENGURANGI PENCEMARAN LINGKUNGAN Swastawati, Fronthea; Wijayanti, Ima; Susanto, Eko
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 4 (2008): DESEMBER 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1068.337 KB)

Abstract

Utilize shrimp waste to be edible coating to reduce environmental pollution. Devisal obtained from Fisheries sector come from shrimp export were 125.596 ton at 2007 [3]. Shrimp produce 65%-85% waste. Researches to utilize shrimp waste to be chitosan as “edible coating” were done. Chitosan Processing were drying, destroying, demineralization, neutralization, deproteination, neutralization, deasetilization, neutralization and drying. Shrimp shell produce15% chitosan with water content 5,56%, ash content 0,86% and deasetilalization degree 90%. Chitosan were applied on salted boiled fish with concentration 0% and 1,2%. The result show organoleptic value of Salted boiled fish without and with chitosan (0% and 0,25%) were 7,93 and 7,98 and TPC value were 2,4 x 103 and 4,5 x 103. This research show chitosan from shrimp shell could be “edible coating” to pursue microbial growth and to increase self life fisheries product.   Abstract in Bahasa Indonesia:  Devisa yang diperoleh dari sektor perikanan 34% berasal dari ekspor udang sebesar 125.596 ton pada tahun 2007 [3]. Produksi udang menghasilkan limbah + 65%-85% dari berat udang. Penelitian untuk memanfaatkan limbah kulit udang menjadi chitosan sebagai “Edible Coating” telah dilakukan melalui proses : pengeringan, penghancuran, demineralisasai, netralisasi, deproteinas, netralisasi, deasetilasi, netralisasi dan pengeringan. Rendemen chitosan yang dihasilkan 15 % dengan kadar air 5,56%; kadar abu 0,86%; derajat deasetilasi 90%. Chitosan diaplikasikan pada ikan pindang digunakan konsentrasi : 0% dan 0,25 %. Dari hasil “ Edible Coating” pada ikan pindang menunjukkan nilai rata-rata organoleptik dengan dan tanpa chitosan adalah : 7,93 dan 7,98 dan nilai TPC masing-masing 2,4 x 103 dan 4,5 x 103 menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada taraf uji 1%. Dari hasil Penelitian menunjukkan chitosan dari kulit udang bisa menjadi “edible coating” untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan menambah daya awet produk perikanan.
SINTESIS DAN UJI KEMAMPUAN MEMBRAN SELULOSA ASETAT DARI NATA DE COCO SEBAGAI MEMBRAN ULTRAFILTRASI UNTUK MENYISIHKAN ZAT WARNA PADA AIR LIMBAH ARTIFISIAL Lindu, Muhammad; Puspitasari, Tita; Ismi, Erna
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 4 (2008): DESEMBER 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.495 KB)

Abstract

A laboratory scale experiment to study the synthesizing and applicability of ultrafiltration membrane technology from nata de coco to eliminate the color of artificially water waste. The membrane used was cellulose acetate based membrane from nata de coco, composed by soaking of NaOH and acetic acid by concentration of 2% (CA-1) and 4% (CA-2). The Acetate celluloses resulting from acetylation have content of acetyl as much as 45.20 % (CA-1) and 44.80% (CA-2). FTIR’s analysis shows typical group absorption of carbonyl C=O in the number of wave 1755.2 cm-1 (CA-1) and 1752.25 cm-1 (CA-2) and group of Acetyl C-O in number wave of 1232 cm-1 – 1240 cm-1. The performance of Both type of membranes tested by pressure of 2 bar, 4 bar and 6 bar. The result shows, The fluks CA-1 with pure water’s 16,2420 L/m2.jam−32,2452 L/m2.hour and the fluks CA-2 with was 8,1210 L/m2.jam−24,1242 L/m2.hour. The cibacron red was used with artificially water waste concentration 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm. The Test Result with artificially waste water, the fluks of the membrane CA-1 was 4,54 L/m2.jam−22,21 L/m2.jam and the permeability of 2,7553 L/m2.jam.bar−3,5657 L/m2.jam.bar with rejects 39,88%−63,89%. The fluks of the membrane CA-2 was 2,39 L/m2.jam −21,50 L/m2.jam and the permeability of 2,3118 L/m2.jam.bar−3,3269 L/m2.jam.bar with rejects 54,32%−90,68%   Abstract in Bahasa Indonesia:  Telah dilakukan percobaan skala laboratorium untuk mensintesis dan mengkaji kemampuan teknologi membran ultafiltrasi dari nata de coco dalam menyisihkan zat warna air limbah artifisial. Telah diperoleh membran selulosa asetat dari nata de coco dengan variasi konsentrasi perendam NaOH 2 % (CA-1), 4 % (CA-2). Selulosa asetat hasil asetilasi memiliki kadar asetil sebesar 45,20 % (CA-1) dan 44,80% (CA-2). Analisis FTIR menunjukkan serapan khas gugus C=O Karbonil pada bilangan gelombang 1755,2 cm-1 (CA-1) dan 1752,25 cm-1 (CA-2) serta gugus C-O Asetil pada bilangan gelombang 1232 cm-1 sampai 1240 cm-1. Kinerja kedua jenis membran diuji pada tekanan 2 bar, 4 bar dan 6 bar baik dengan air murni maupun air limbah artifisial. Dari hasil penelitian, nilai fluks air murni yang dihasilkan oleh membran CA-1 yaitu 16,2420 L/m2.jam−32,2452 L/m2.jam dengan nilai koefisien permeabilitas adalah 5,915 L/m2.jam.bar dan nilai fluks membran CA-2 8,1210 L/m2.jam −24,1242 L/m2.jam nilai koefisien permeabilitas adalah 3,945 L/m2.jam.bar. Air limbah artifisial mengandung zat warna cibacron red dengan konsentrasi 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm. Kinerja membran CA-1 dengan nilai fluks yaitu 4,54 L/m2.jam−22,21 L/m2.jam dan nilai permeabilitas 2,7553 L/m2.jam.bar − 3,5657 L/m2.jam.bar serta nilai rejeksi 39,88%−63,89%. Membran CA-2 dengan nilai fluks 2,39 L/m2.jam −21,50 L/m2.jam dan nilai permeabilitas 2,3118 L/m2.jam.bar−3,3269 L/m2.jam.bar serta nilai rejeksi yaitu 54,32%−90,68 %
PRODUKSI ETANOL DARI LIMBAH PADAT TAPIOKA DENGAN Aspergillus niger dan Saccharomyces cerevisiae Nugroho, Astri; Effendi, Edison; Wongso, Lydia
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 4 (2008): DESEMBER 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.166 KB)

Abstract

Ethanol Production from Solid Waste of Tapioca Using Aspergillus niger and Saccharomyces cerevisiae. Solid waste of tapioca flour production could be converted into ethanol through fermentation. The aim of this experiment is to investigate the capacity of microorganism and the C/N ratio resulted by the fermentation of the solid waste from the tapioca production. A 10% and 20% fungus mix culture of Aspergillus niger and Saccharomyces cerevisiae were added to 50 gr, 100 gr, 150 gr, 200 gr, and 250 gr of tapioca solid waste. The 50 gr sample with 10 % microorganism could results 2.485 % ethanol, biomass amount of 6,14E+17 colony/gr with pH 4,36; C/N ratio 3,4. The adding of 20% microorganism results biomass of 6,26E+17 colony/gr, pH 3,54, C/N ratio of 2,08 and 2,123% ethanol. The waste was fermented for 5 days and before the destilation. The kinetic of 10% microorganism for 50 gr tapioca solid waste is μ = 0,000996-0.006423 l/hr, μm = 0,00826/hr, Ks = 7,55E-11 mg/l. Y = 0,0287, q = 0,034–0,22 l/hr, Yt = 0,0287/hr, Yobs = 0,00099-0,0064/hr, Kd = 0,022-0,0277/hr and the kinetic of 20% mikroorganism for 50 gr is μ = 0,00079-0,007 l/hr, μm = 0,007/hr, Ks = 1,7E-10 mg/l, Y = 0,0287, q = 0,0275–0,245 l/hr, Yt = 0,0287/hr, Yobs = 0,00217-0,0279/hr, Kd = 0,00079-0,007/hr.   Abstract in Bahasa Indonesia:  Limbah padat tapioka berupa ampas hasil ekstraksi dari pengolahan tepung tapioka dapat dikembangkan manfaatnya dengan cara mengolah limbah tersebut secara fermentasi menjadi glukosa, dan diteruskan menjadi etanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase etanol yang terbentuk dari hasil dekomposisi mikroorganisme terhadap limbah padat tapioka dan mengetahui nilai rasio C/N pada proses fermentasi. Fermentasi dilakukan dengan menambahkan 10% dan 20% fungi Aspergillus niger dan Saccharomyces cerevisiae secara mix culture pada limbah padat tapioka seberat 50 gr, 100 gr, 150 gr, 200 gr, dan 250 gr. Persentase etanol terbanyak yang terbentuk sebanyak 2,485% diperoleh dengan penambahan 10% mikroorganisme mix culture terhadap 50 gr limbah padat. Pada perlakuan itu diperoleh biomassa sebanyak 6,14E+17 koloni/gram, pada pH 4,36; dengan nilai rasio C/N 3,4; sedangkan pada penambahan konsentrasi mikroorganisme mix culture 20%, diperoleh jumlah biomassa 6,26E+17 koloni/gram, pH 3,54; nilai rasio C/N 2,08; dan etanol yang terbentuk sebanyak 2,123%. Fermentasi dilakukan 5 hari, dan hasilnya didestilasi. Nilai kinetika pada konsentrasi 10% mikroorganisme mix culture terhadap 50 gr limbah padat tapioka yaitu laju pertumbuhan (μ) adalah 0,000996-0.006423 l/jam, laju pertumbuhan maksimum (μm) adalah 0,00826/jam, konstanta kejenuhan (Ks) adalah 7,55E-11 mg/l, hasil pertumbuhan (Y) adalah 0,0287, laju utilisasi substrat spesifik (q) adalah 0,034–0,22 l/jam, hasil pertumbuhan yang nyata (Yt) adalah 0,0287/jam, koefisien kematian (Kd) adalah 0,022-0,0277/jam sedangkan nilai kinetikadengan penambahan 20% mix culture mikroorganisme pada limbah padat tapioka 50 gr, μ = 0,00079-0,007 l/jam, μm = 0,007/jam, Ks = 1,7E-10 mg/l, Y = 0,0287, q = 0,0275–0,245 l/jam, Yt 0,0287/jam, Kd = 0,00079-0,007/jam.
PENGARUH VARIASI WAKTU RETENSI HIDROLIS REAKTOR ANOKSIK TERHADAP BIODEGRADASI ZAT WARNA AZO REAKTIF MENGGUNAKAN BIOREAKTOR MEMBRAN AEROB-ANOKSIK Komala, Puti Sri; Ananthi, Naraina; Effendi, Agus Jatnika; Wenten, IG.; Wisjnuprapto, Wisjnuprapto
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 4 (2008): DESEMBER 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.042 KB)

Abstract

Influence of hydraulic retention time variation of anoxic reactor on reactive azo dye biodegradation using aerob-anoxic membrane bioreactor. Azo dyes, represent the largest class of synthetic dyes used in commercial applications. The release of these compounds into the environment is undesirable, not only because of their colour, but also because many azo dyes and their breakdown products are toxic and/or mutagenic to life. This research used consecutive aerob-anoxic membrane bioreactor for azo dye biodegradation. The bioreactor consists of contact and stabilization reactors operated in aerobic condition and anoxic compartment coupled to external ultrafiltration membrane. Feed consists of Remazol Black-5 in concentration of 150 mg/L and co-substrate of tempe industry wastewater. Experiments were carried out with hydraulic retention time (HRT) in 2, 4 and (½, 1 and 1½) hours in contact, stabilization and anoxic compartments respectively. From co-substrate optimization experiments, 8%v/v tempe industry wastewater resulted maximum TOC removal and optimal biomass growth. The stable color reduction in bioreactor occurred in anoxic compartment with HRT 1½ hrs. Color reduction through membrane resulted relative constant color concentrations. The significant TOC removal took place both in anoxic, contact and stabilization reactors. The experiments resulted color- and TOC removal efficiencies in range of 74-81% and 85-93% respectively.   Abstract in Bahasa Indonesia:  Zat warna azo merupakan grup zat warna sintetis organik yang paling banyak digunakan dalam aplikasi komersial. Masuknya komponen ini ke dalam lingkungan tidak diinginkan, tidak hanya karena warna yang ditimbulkan tetapi juga karena beberapa zat warna azo dan produk penguraiannya bersifat toksik dan mutagenik bagi kehidupan. Dalam penelitian ini digunakan bioreaktor membran konsekutif aerob anoksik untuk biodegradasi zat warna azo. Bioreaktor terdiri dari reaktor kontak dan stabilisasi yang beroperasi pada kondisi aerob dan reaktor anoksik yang dihubungkan dengan membran ultrafiltrasi secara eksternal. Umpan terdiri dari zat warna azo Remazol Black-5 pada konsentrasi 150 mg/L dan ko-substrat limbah industri tempe sebagai sumber organik. Percobaan dilakukan dengan HRT tangki kontak dan stabilisasi pada 2 dan 4 jam, dan (½,1 dan 1½) jam untuk anoksik. Dari percobaan optimasi ko-substrat diperoleh perbandingan volume limbah industri tempe terhadap umpan 8% memberikan penyisihan TOC maksimum dan pertumbuhan biomassa yang optimum. Penyisihan warna yang stabil terjadi pada percobaan dengan HRT tangki anoksik 1½ jam. Penyisihan warna melalui membran menghasilkan konsentrasi warna yang relatif konstan. Penyisihan TOC terjadi baik di tangki anoksik, kontak maupun stabilisasi. Percobaan ini menghasilkan efisiensi penyisihan warna yang berkisar antara 77-81% dan efisiensi TOC 89-93%.

Page 1 of 1 | Total Record : 5