cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA OZON DENGAN TEMPERATUR (STUDI KASUS DATA WATUKOSEK 1993-2005) Komala, Ninong
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 5, No 1 (2009): JUNI 2009
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.716 KB)

Abstract

The analysis of correlation between ozone and temperature based on the Watukosek data of 1993-2005. The aim of this study was to use the data from insitu observation result (Watukosek profiles of ozone and temperature) and to know the altitude level which show highest correlation between ozone and temperature. The analysis was conducted by making the monthly profile of ozone and temperature within the 1993-2005 periods and searches the altitudes, which show highest correlation between ozone and temperature. The result showed that from Watukosek data  observation result in the period of 1993-2005 the altitude which showed highest correlation between ozone and temperature were 0.05m-3.0 km with coefficient correlation of 0.738-0.961 and altitude of 15-20 km with coefficient correlation of 0.941 -0.982.  Abstract in Bahasa Indonesia: Telah dilakukan analisis keterkaitan ozon dengan temperatur dari data Watukosek 1993-2005 dengan tujuan untuk melakukan pemanfaatan hasil penelitian (data profil ozon dan temperatur vertikal Watukosek), mencari level ketinggian yang mempunyai keterkaitan sangat besar antara ozon dengan temperatur. Penelitian dilakukan dengan membuat profil bulanan untuk ozon dan temperatur kemudian dicari level ketinggian yang mempunyai nilai korelasi profil ozon dan temperatur paling besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara ozon dan temperatur Watukosek dari data 1993-2005 korelasi yang besar sekali (koefisien korelasi lebih besar dari 0.9) diperoleh dari data pada ketinggian 15-20 km sedangkan untuk ketinggian 0.05 sampai dengan 3.0 km korelasinya antara 0.738-0.961
PENGURAIAN SAMPAH ORGANIK DI MUARA KALI KRESEK UNTUK PARAMETER TOTAL NITROGEN, PHOSPHAT, MINYAK DAN LEMAK Hendrawan, Diana; Widyatmoko, H.; Efria, Anggi
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 2 (2007): DESEMBER 2007
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.008 KB)

Abstract

Analysis of Applying the Environment Management System ISO 14001 2004 The objective of this research was to identify physical and chemical characteristics in Kresek estuary. Total Nitrogen, Phosphate and Oil Fat concentration were the pollutants distributed in every segment based on depth and distance as well as estimate the amount of decomposition from pollutant concentration. Sampling was conducted on early April 2008 through 3 observation segments. The result of measurement in the depth of 1 m from water surface is the temperature around 26–30 °C; ph water 6,84–7,14; speed 0,3–1,8; TDS 231–11040 mg/l; TSS 2,03–11,25 mg/l; muddy 3,5–45 mg/l; DO 5,7–6,7 mg/l; total nitrogen 6,69–8,97 mg/l; phosphate 0,154–0,395 mg/l. The result of measurement in the depth of 1,5 m from water surface is the temperature around 26–30°C; ph water 6,9–7,19; speed 0,1–0,13; TDS 236–11542 mg/l; TSS 8,5–13,25 mg/l; muddy 3,9–59 mg/l; DO 5,7–6,9 mg/l; total nitrogen 7,62–9,71 g/l; phosphate 0,235–0,499 mg/l. Further, the result of analysis was compared by standard quality based on the Decree of The Governor of DKI Jakarta No. 582/1995 Group C. The result of analysis in the depth of 1 m and 1,5 m exceeding quality standard of The Governor’s Decree No. 582/1995 Group C was TDS and total nitrogen. The result of nitrogen organic decomposition calculation influenced by oxygen content in water with using mass scale seen from total nitrogen concentration namely organic coming inside river in the depth of 1 m was in amount of 0,223 kg/s and organic coming inside the river in the depth was in amount of 0,738 kg/s.   Abstract in Bahasa Indonesia: Analysis of Applying the Environment Management System ISO 14001 2004 Muara Kresek merupakan muara kali Sunter yang mempunyai kedalaman 6 – 10 m. Muara Kresek berada diwilayah kelurahan Lagoa, Jakarta Utara. Tujuan penelitian adalah mengetahui konsentrasi Total Nitrogen, Phosphat, dan Minyak Lemak di Muara kresek, mengetahui distribusi pencemar pada tiap-tiap segmen berdasarkan kedalaman dan jarak dan menghitung besar penguraian konsentrasi pencemar. Pengambilan sampel dilakukan pada awal bulan April 2008, dari 3 segmen pengamatan. Hasil pengukuran pada kedalaman 1 m dari permukaan air yaitu suhu berkisar antara 26-30 oC; pH air 6,84-7,14; keceapatan 0,3-1,8; TDS 231-11040 mg/l; TSS 2,03-11,25 mg/l; Kekeruhan 3,5-45 mg/l; DO 5,7-6,7 mg/l;total nitrogen 6,69-8,97 mg/l; phosphat 0,154-0,395 mg/l. Hasil pengukuran pada kedalaman 1,5 m dari permukaan yaitu suhu berkisar antara 26-30 oC; pH air 6,9-7,19; keceapatan 0,1-0,3; TDS 236-11542 mg/l; TSS 8,5-13,25 mg/l; Kekeruhan 3,9-59 mg/l; DO 5,7-6,9 mg/l; total nitrogen 7,62-9,71g/l; phosphat 0,235-0,499 mg/l. Hasil analisis kemudian dibandingkan oleh baku mutu SK Gubernur DKI Jakarta No. 582/1995 Golongan C. Hasil analisis pada kedalaman 1m dan 1,5 m yang melebihi baku mutu SK Gubernur DKI Jakarta No.582/1995 Golongan C adalah TDS dan total nitrogen. Hasil perhitungan penguraian organik nitrogen yang dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam air dengan menggunakan perhitungan neraca massa yang dilihat dari konsentrasi total nitrogen yaitu organik yang masuk ke dalam sungai pada kedalaman 1 m sebesar 0,223 kg/det.dan organik yang masuk ke sungai pada kedalaman 1,5 m sebesar 0,738 kg/det.
KONSUMSI AIR DI JAKARTA Winarni, Winarni
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 1 (2007): JUNI 2007
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.91 KB)

Abstract

Jakarta Water Consumption. The prediction of water demand is a starting point in the development of water supply system. The intention of this research was providing a clear picture of pipe water consumption in Jakarta, through inventory of PAM Jaya customers, for the accuracy of water demand prediction. The customer profiles include number of connections, water sold, and revenue. There was 11.7% increasing of number of customers in the year of 2002 till 2006 which only gives increment water sold of 2.7%. Data showed a decreasing in average consumption, from 23.08 m³/connection/day in 2002 to 21.02 m³/connection/day in 2006, whereas non domestic consumption (institution, commercial, and industry) is 33% of total water sold. However, the increasing of revenue in 2002 – 2006 was 141% due to the water tariff adjustment. The biggest proportion of customers is the tariff group K3A, i.e. 45% from total customers, with biggest proportion of water consumption (28%) but only contributes 20% of revenue. The biggest revenue is provided by tariff group K4B (37%), with only 5% of customers and 21% proportion of consumption. Abstract in Bahasa Indonesia:Prediksi kebutuhan air merupakan titik awal dalam pengembangan sistem penyediaan air minum. Penelitian ini memberikan gambaran yang jelas mengenai konsumsi air perpipaan di Jakarta melalui inventarisasi pelanggan PAM Jaya agar dapat dilakukan prediksi kebutuhan air secara akurat. Profil pelanggan yang dimaksud meliputi jumlah sambungan, volume air terjual, serta pendapatan. Pada tahun 2002 hingga 2006 terjadi peningkatan jumlah sambungan rumah sebesar 11,7% yang hanya memberikan peningkatan volume air terjual sebesar 2,7%. Data menunjukkan adanya penurunan rata-rata konsumsi, dari 23,08 m³/sambungan/hari pada tahun 2002 menjadi 21,02 m³/sambungan/hari pada tahun 2006, dimana konsumsi non domestik (institusi, komersial, dan industri) berkisar 33% dari total volume air terjual. Terjadi peningkatan pendapatan antara tahun 2002 – 2006 sebesar 141% yang disebabkan adanya kenaikan tarif. Proporsi pelanggan terbesar adalah kelompok tarif K3A, yaitu 45% dari total pelanggan, memiliki proporsi konsumsi air yang terbesar (28%), namun hanya memberikan kontribusi pendapatan sebesar 20%. Sedangkan pendapatan terbesar diberikan oleh kelompok tarif K4B (37%) dengan hanya memiliki proporsi pelanggan 5% dari total pelanggan dan konsumsi sebesar 21%.
PERCOBAAN PENYERAPAN LIMBAH INDUSTRI MENGGUNAKAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA TANJUNG TABALONG, KALIMANTAN SELATAN A. Gani, M. Ulum
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 3 (2008): JUNI 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.354 KB)

Abstract

Research of Industrial Wastewater Absorption using Coal Activated Carbon from Tanjung Tabalong South Kalimantan. The research of absorbing capability of carbon active from Tanjung Tabalong coal was carried out to organic and unorganic elements in industrial waste to identify the absorption capability of carbon active coal for refining of industrial waste. The research comprised of carbonization and activation process as well as the experimentation of the active-carbon absorption capability. The carbonization process was carried out at low temperature of 600oC which produced semi-coke, while activation process was carried out to semi coke at temperature of 700oC with activation time of 120 minutes which produced active carbon. The experimentation of absorption capability was performed to COD (Chemical Oxygen Demand). Parameters studied are 2.5 and 9.0 grms active carbon for 250 ml and 300 ml to COD waste with agitation time of 30; 60 and 90 minutes respectively. The result of experimentation both absorption of COD were analyzed with AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) shown that the utilization of 2.5 grm active carbon can absorp COD waste ranging of 6.9-67.5 grm. While for the utilization of 9 grms can absorp COD waste ranging of 88.9-100 %. The higher of active carbon and the longer time of agitation used in this experiment, the higher the absorption of COD and TSS.   Abstract in Bahasa Indonesia:  Penelitian kemampuan penyerapan karbon aktif dari batubara Tanjung Tabalong, Kalimantan Selatan telah dilakukan terhadap unsur-unsur organik dan un organic dalam limbah industeri untuk identifikasi kemampuan penyerapan carbon aktif untuk memurnikan limbah industri. Peneltian terdiri dari proses karbonisasi dan aktivasi serta percobaan kemampuan penyerapam karbon aktif. Proses karbonisasi dilakukan pada suhu 600oC yang menghasilkan semikokas, sedangkan proses aktivasi dilakukan terhadap semikokas pada suhu 700oC dengan waktu aktivasi 120 menit yang menghasilkan karbon aktif. Percobaan kemampuan penyerapan karbon aktif dilakukan terhadap limbah COD (chemical oxygen demand). Parameter yang digunakan adalah 2,5 dan 9 grm karbon aktif masing-masing untuk 250 ml dan 300 ml limbah COD dengan masing-masing waktu pengadukan 30,60 dan 90 menit. Hasil percobaan yang dianalisa dengan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) menunjukkan bahwa penggunaan 2,5 grm karbon aktif dapat menyerap limbah COD masing-masing sebesar 6.9-67,5 % sedangkan untuk pemakaian 9 grm masing-masing dapat menyerap COD sebesar 88,9-100 % Makin tinggi karbon aktif dan makin lama waktu pengadukan yang digunakan dalam percobaan ini, maka semakin tinggi pula kemampuan penyerapan limbah COD.
PENYISIHAN ORGANIK MELALUI DUA TAHAP PENGOLAHAN DENGAN MODIFIKASI ABR DAN CONSTRUCTED WETLAND PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA Munazah, Ashila Rieska; Soewondo, Prayatni
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 4 (2008): DESEMBER 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.541 KB)

Abstract

An alternative of biological process using two stage treatment modification of ABR and constructed wetland. Home industry poultry slaughtering houses and tofu industry are contributor of high organic content in sewage. Therefore needed an alternative of biological process using two stage treatment modification of Anaerobic Baffle Reactor (ABR) and constructed wetland which are cheap, appropriate and simple operation. Wetland organic loading rate is depend on ABR effluent as a primary treatment. This ABR is a modification of a conventional septic tank, by addition of 3 baffles and coconut shell filter media. ABR operated with Hydraulic Retention Time(HRT) 3 and 5 days, and COD influent concentration 4000, 5000 and 6000 mg/L. Optimum COD removal efficiency 86,52% resulted by ABR 2 with HRT 5 days. Constructed wetland is a planned treatment which is designed and built by using natural process which involve wetland vegetation, soil, and microorganisms to treat wastewater. Modified wetland with horizontal subsurface flow including vertical baffle in reactor. Wetland operated with HRT 5 and 7 days, using Scirpuss grossus dan Sagittaria lancifolia. Optimum COD removal efficiency 96,53% resulted by Sagittaria lancifolia with HRT 7 days. Abstract in Bahasa Indonesia: Industri rumah pemotongan hewan (RPH) ayam dan industri tahu saat ini merupakan salah satu jenis industri rumah tangga yang memiliki limbah cair dengan kandungan organik tinggi. Oleh karena itu dikembangkan suatu alternatif pengolahan biologi dengan menggunakan dua tangki pengolahan yaitu modifikasi anaerobic baffle reactor (ABR) dan constructed wetland yang murah, tepat guna, dan mudah dioperasikan. Beban pengolahan wetland bergantung pada hasil effluen ABR sebagai pengolahan pendahuluan. ABR ini merupakan modifikasi dari tangki septik konvensional, dengan adanya penambahan 3 sekat dan media filter tempurung kelapa. ABR dioperasikan dengan variasi waktu detensi hidrolik 3 dan 5 hari serta variasi konsentrasi COD influen sebesar 4000, 5000 dan 6000 mg/L. Efisiensi penyisihan COD optimum 86,52% terdapat pada ABR 2 dengan waktu tinggal 5 hari. Wetland merupakan sistem pengolahan terencana atau terkontrol dengan menggunakan proses alami yang melibatkan tanaman wetland, tanah dan mikroorganisme untuk mengolah air limbah. Wetland dengan aliran horizontal subsurface flow ini telah mengalami modifikasi dengan penggunaan sekat vertikal pada reaktor. Wetland dioperasikan dengan variasi waktu detensi 5 dan 7 hari, tanaman yang digunakan Scirpuss grossus dan Sagittaria lancifolia. Efisiensi penyisihan COD optimum 96,33% terdapat pada Sagittaria lancifolia dengan waktu tinggal 7 hari.
SIMULASI MODEL TRANSPOR SEDIMEN TERSUSPENSI UNTUK MENDUKUNG PERENCANAAN PELABUHAN TELUK BAYUR, SUMATERA BARAT Sugianto, Denny Nugroho
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 5, No 2 (2009): DESEMBER 2009
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1242.259 KB)

Abstract

Simulation model of suspended sediment to support development planning for Teluk Bayur port. The survey was conducted at Teluk Bayur sea waters during September 2008, where this area is development planning for Teluk bayur port. Objective of research is known suspension sediment transport at dredging area and dumping site for development planning of Teluk Bayur port at Teluk Bayur, Province of West Sumetera. Grab sampler was used to carry sediment bottom and Nansen bottle was used collect water sample for total suspended sediment (TSS). Analysis of hydrodynamic pattern used modeling system by software SMS 8.1 (Surface Water Modeling System) with SED2D module. The result had shown that TSS is above sea water standard for marine organism, between 6,0 – 10,0 mg/L. Therefore bottom sediment was dominated by sand, and then silt and gravel. The result of modeling shown that sediment transport depends of monsoon current pattern, where sediment transport to east-northeast on west monsoon and to northwest-north on east monsoon. Dredging and dumping site activity due to decreasing water quality at construction time.
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI BATIK PADA SKALA LABORATORIUM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEKTROKOAGULASI Yulianto, Andik; Hakim, Luqman; Purwaningsih, Indah; Pravitasari, Vidya Ayu
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 5, No 1 (2009): JUNI 2009
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.458 KB)

Abstract

Batik industrial wastewater treatment with electro coagulation method. Electro coagulation is a coagulation process using direct electrics current through electro-chemical process. This research was aimed to identify the efficiency of Chemical Oxygen Demand (COD) separation, color, oil-grease and Total Suspended Solid (TSS) in traditional batik clothing industry wastewater with electro coagulation process. Research using 3 plates of Stainless Steel as anode and 3 plates of Aluminum as a cathode. Both electrodes have area of 6x10 cm2. Variation made in distance between electrode (1,5 and 3 cm) and electricity strength (12 and 30 volt). Reactor volume is 12 l and set on batch condition. Sample was taken from at time 5, 10, 15, 30, 45 and 60 minutes after the start. Laboratory analysis referred to SNI Method. Laboratory result showed COD separation with highest percentage reached 30% at 60 minutes with current strength 25 Volt, with the 3 cm electrode distance. Color maximum separation was 64% at 30 minutes, 12 Volt, with electrode distance 1,5 cm. TSS and oil-grease separation efficiency 77% and 88% at 60 minutes, with electric strength 25 volt and electrode distance 1,5 cm. In general this research showed that in batch condition, electro coagulation methods was more effective than conventional coagulation process in batik industrial wastewater treatment.   Abstract in Bahasa Indonesia:  Elektrokoagulasi adalah metode koagulasi dengan menggunakan arus listrik searah melalui peristiwa elektrokimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan penggunaan metode elektrokoagulasi sebagai alternatif dalam pengolahan limbah cair industri batik yang banyak terdapat di Yogyakarta. Percobaan ini menggunakan limbah batik asli dengan parameter yang diamati adalah perubahan konsentrasi bahan organik (COD), warna, Total Suspended Solid (TSS) dan Minyak Lemak. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium secara batch dengan menggunakan 3 lempengan stainless steel berukuran 6x10 cm2 sebagai anoda dan 3 lempeng alumunium berukuran sama sebagai katoda. Variasi dilakukan pada tegangan listrik dan jarak lempeng elektroda. Pengadukan menggunakan pengaduk eksternal berupa paddle. Variasi tegangan listrik yang digunakan adalah 25 dan 30 volt dengan kuat arus 1 Ampere. Jarak elektroda yang digunakan adalah 1,5 dan 3 cm. Volume reaktor efektif 12 l. Sampel diambil pada 5, 10, 15, 30 45, dan 60 menit sejak elektroda mulai dialiri arus listrik. Analisa sampel dilakukan setelah sampel terlebih dahulu diendapkan selama 30 menit. Analisa laboratorium mengacu pada pada SNI 06-6989.2-2004 untuk parameter COD, SNI M-03-1989-F untuk parameter warna, SK SNI M-03-1989-F untuk parameter TSS, dan SNI 06-6989.10-2004 untuk analisa minyak lemak. Hasil analisa menunjukkan adanya persentase penyisihan konsentrasi COD tertinggi mencapai 30 % terjadi pada menit ke 60, tegangan 25 Volt, dengan jarak elektroda 3 cm. Parameter warna dengan prosentase penurunan maksimum sebesar 64% pada menit ke 30, 12 Volt, jarak elektroda 1,5 cm. Penurunan konsentrasi TSS dan minyak lemak dengan presentase tertinggi sebesar 77% untuk TSS dan 88% untuk minyak lemak yang terjadi pada menit ke 60, pada tegangan sebesar 25 volt dengan jarak elektroda 1,5 cm. Secara umum percobaan ini menunjukkan pada skala laboratorium pada kondisi batch, metode elektrokoagulasi cukup efektif untuk mengolah limbah batik dibandingkan dengan proses koagulasi secara konvensional.
PENYISIHAN Mn2+ DALAM AIR SUMUR DENGAN MEMANFAATKAN SABUT KELAPA Silalahi, Mawar D.; Siallagan, Christiana; Monica, Elizabeth
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 2 (2007): DESEMBER 2007
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.553 KB)

Abstract

Analysis of Applying the Environment Management System ISO 14001 2004 Separation Mn2+ from water with coco fiber. Coco fiber is an organic waste which is produced from the coconut exfoliation at the market that can be used as absorbent to decrease the level of Mn2+ in sand water. It is known that sand water in Jakarta contains a highly level of Mn2+. Several methods already used to decrease the heavy metal are precipitative and also ion exchange method by synthetic resin. Both methods however are considered costy. There was therefore a need to find out a simple treatment with low cost material. Coco fiber which can be used to reduce heavy metal, especially Mn2+ in sand water was an alternative processing solution. This research was aimed at comparing the ability of coco fiber by treatment and non treatment in the way to separate heavy metal Mn2+ in water sand. The coco fiber by treatment uses hydrothermal method or heating (reflux) with of NaOH. From the result of mechanic shaking (shaker) found that the Mn2+ separation in the sand water by using absorbent of coco fiber non treatment was the most reducible than the treatment which was 99.56 % to 30 % level . From the column method, it was found out that the reducible maximum capacity of Mn2+ in sand water from coco fiber non treatment such as 0.327 mg/g and from coco fiber treatment was 0.202 mg/g. The absorption test in this column, known the optimal of maximum capacity, was coco fiber non treatment.   Abstract in Bahasa Indonesia: Analysis of Applying the Environment Management System ISO 14001 2004 Sabut kelapa merupakan limbah dari buah kelapa yang berasal dari pasar yang dapat dipakai sebagai adsorben dalam menurunkan Mn2+ dari air sumur. Seperti kita ketahui bahwa air sumur di Jakarta mengandung Mn2+ yang cukup tinggi. Berbagai macam metode untuk menurunkan kadar logam berat yang telah digunakan ialah metode pengendapan dan juga metode penukaran ion dengan resin sintetik. Kedua metode ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Oleh sebab itu dicari cara perlakuan yang sederhana dan juga menggunakan bahan yang murah, maka dimanfaatkan sabut kelapa yang dapat menurunkan kadar logam berat terutama Mn2+ dalam air sumur sebagai pengolahan alternatif. Dalam penelitian ini dibandingkan kemampuan sabut kelapa yang diberi perlakuan dan sabut kelapa tanpa perlakuan dalam menyisihkan logam berat Mn2+ dari air sumur. Perlakuan sabut kelapa yang dimaksud yaitu dengan metode hidrotermal atau dengan cara pemanasan (refluks) dengan larutan NaOH. Dari hasil penelitian dengan metode pengguncangan mekanik (shaker) didapatkan bahwa penyisihan Mn2+ dari air sumur untuk sabut kelapa tanpa perlakuan jauh lebih besar daripada sabut kelapa perlakuan yaitu 99.56% terhadap 30%. Dan pada metode kolom didapatkan bahwa kapasitas maksimum menyerap Mn2+ dari air sumur untuk sabut kelapa tanpa perlakuan sebesar 0.327 mg/g dan sabut kelapa perlakuan sebesar 0.202 mg/g. Jadi dari uji adsorpsi pada kolom ini dapat diketahui bahwa kapasitas maksimum yang optimal adalah sabut kelapa tanpa perlakuan.
HUBUNGAN TINGKAT KEBISINGAN PESAWAT UDARA TERHADAP KESEHATAN PEKERJA DI SEKITAR LANDAS PACU 1 DAN 2 BANDAR UDARA INTERNASIONAL SOEKARNO–HATTA, BANTEN Sintorini, Margareta Maria; Hutapea, Paido H.; Vicaksono, Agrivickona Ario
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 1 (2007): JUNI 2007
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.688 KB)

Abstract

The Relations between Airplane's Noise Level and Employees Health in Runways 1 and 2 Soekarno-Hatta International Airport, Banten. Soekarno-Hatta International Airport in Tangerang, Indonesia has flew over 70.000 passengers every day nowadays, it has 2 runways with specification number 07R/25L, length 3600 m (1st runway), 3660 m (2nd runway), width 60 m and can be used for Boeing 747 landing. Noise level measurement at Soekarno-Hatta International Airport conducted at 4 measurement points around 1st and 2nd runway using Sound Level Meter at 300 m from runway. 120 questionnaires were given to the employees around runway to observe their health problem. The result of noise level measurement was due from 72,15 dB(A) to 87,93 dB(A).As for Time Weighted Average (TWA) calculation was only conducted at point 1 to point 4, but point 1 and point 2 was not included at the calculation due to normal result at point 1 and 2 compared to the permitted threshold 85 dB(A) which ruled by Kep - 51/MEN/1999. As for point 3 and 4 the result shown that Time Weighted Average are 88,40 dB(A) and 88,52 dB(A) for 5,48 hours and 5,33 hours. The result shown that 41,67 % of employees at PKP-PK unit had hearing problem, as for office employees is 3,33 %. The result shown that Self Protection Device was the only significant relation due to employees’ hearing problem with 1,5 times larger hearing problem chance to the employees with more than 10 years work duration compared to the less than 10 years work duration employee. As for the official workers the risk was 4,1 times for the employees with more than 50 years old age compared to less than 50 years old age. Self Protection Device usage should be more effective with regular inspection by the occupational safety authorities and punishment to the indiscipline employee, and to place more barriers at the location which has direct impact to the employees, and also placing some acoustic noise absorber at PKP-PK building. Abstract in Bahasa Indonesia:Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta adalah bandar udara terbesar di Indonesia yang saat ini menerbangkan 70.000 orang tiap harinya, spesifikasi panjang landasan pacu (runway) 1 dengan nomor 07R/25L sebesar 3600 m dan runway 2 dengan nomor 07L/25R sebesar 3660 m dan lebar 60 m. Pengukuran bising dilakukan di 4 titik di sekitar wilayah runway 1 dan 2 menggunakan alat Sound Level Meter (SLM) pada jarak 300 m dari runway. Untuk mengetahui keluhan yang dialami oleh pekerja di area runway dilakukan penyebaran kuesioner terhadap pekerja sebanyak 120 buah, 20 eksemplar pada tiap unit PKP-PK, serta 60 pada area perkantoran. Hasil pengukuran antara 72,15 dB(A) sampai 87,93 dB(A). Perhitungan tingkat pemaparan kebisingan (TWA) dilakukan pada titik 1 hingga 4, adapun titik 1 dan 2 tidak dilanjutkan karena masih dibawah ambang batas yaitu 85 dB(A) oleh Kep- 51/MEN/1999. Perhitungan TWA di titik 3 dan 4 menunjukkan waktu pemaparan yang diizinkan sebesar 5,48 jam dan 5,33 jam, pemaparan sebesar 88,40 dB(A) dan 88,52 dB(A). Dari penyebaran kuesioner didapat hasil sebanyak 41,67 % pekerja di unit PKP-PK mengalami gangguan pendengaran, dan di area perkantoran sebanyak 3,33 %. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa kepatuhan terhadap penggunaan alat pelindung diri (APD) memiliki hubungan yang bermakna terhadap gangguan pendengaran pekerja di unit PKP-PK dengan masa kerja >10 tahun memiliki resiko 1,5 kali mengalami gangguan pendengaran dibanding masa kerja < 10 tahun. Pekerja di perkantoran dengan umur > 50 tahun memiliki resiko 4,1 kali lebih besar mengalami gangguan pendengaran dibanding pekerja dengan umur < 50 tahun. Efektifitas penggunaan APD sebaiknya ditingkatkan dengan pemeriksaan berkala oleh pihak K3 PT. Angkasa Pura II serta pemberian sanksi bagi yang melanggar, begitu pula dengan pemberian barrier pada daerah yang berhubungan langsung dengan lokasi kerja serta pemberian peredam akustik pada bangunan PKP-PK.
PERBAIKAN KUALITAS AIR LIMBAH INDUSTRI FARMASI MENGGUNAKAN KOAGULAN BIJI KELOR (Moringa oleifera Lam) DAN PAC (Poly Alumunium Chloride) Hartati, Etih; Sutisna, Mumu; Nursandi S., Windi
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 3 (2008): JUNI 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.812 KB)

Abstract

Improvement of Pharmacy Industrial Wastewater Quality using Coagulant Kelor Seed and PAC. One of the chemical treatments of waste water is coagulation-flocculation process. In general, coagulation-flocculation process uses synthetic and natural coagulant material. This research was to compare the use of coagulant kelor seed and of PAC in wastewater treatment from pharmacy industry by coagulation-flocculation process. The result of comparison to the standard quality of wastewater, it was known that characteristic of pH; COD; BOD; TSS; total nitrogen; and phenol within wastewater still exceed the standard quality of wastewater. But the treatment was able to reduce: colors 99,67 %, turbidity 98,85 %, COD 78,25 %, BOD 81,96 %, TSS 96 %, total nitrogen 59,68 %, and phenol 88,71%.  Abstract in Bahasa Indonesia:  Salah satu cara pengolahan limbah secara kimia adalah melalui proses koagulasi-flokulasi. Proses koagulasi-flokulasi dapat menggunakan bahan koagulan sintetis dan alami. Pada penelitian ini dilakukan pengolahan air limbah yang berasal dari industri farmasi melalui proses koagulasi-flokulasi dengan menggunakan koagulan biji kelor dan PAC. Proses pengolahan dilakukan secara bertahap, pengolahan pertama menggunakan biji kelor kemudian dilanjutkan dengan menggunakan PAC. Berdasarkan hasil perbandingan terhadap baku mutu limbah cair untuk kegiatan industri, karakteristik akhir air limbah yang telah diolah melalui dua tahap pengolahan tersebut masih melebihi standar baku mutu yang ditetapkan. Namun, pengolahan sudah dapat mengurangi warna 99,67 %, kekeruhan 98,85 %, COD 78,25 %, BOD 81,96 %, TSS 96 %, nitrogen total 59,68 %, dan fenol 88,71 % terhadap karakteristik awal air limbah.

Page 1 of 3 | Total Record : 30