cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2009): JUNI 2009" : 5 Documents clear
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA OZON DENGAN TEMPERATUR (STUDI KASUS DATA WATUKOSEK 1993-2005) Komala, Ninong
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 5, No 1 (2009): JUNI 2009
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.716 KB)

Abstract

The analysis of correlation between ozone and temperature based on the Watukosek data of 1993-2005. The aim of this study was to use the data from insitu observation result (Watukosek profiles of ozone and temperature) and to know the altitude level which show highest correlation between ozone and temperature. The analysis was conducted by making the monthly profile of ozone and temperature within the 1993-2005 periods and searches the altitudes, which show highest correlation between ozone and temperature. The result showed that from Watukosek data  observation result in the period of 1993-2005 the altitude which showed highest correlation between ozone and temperature were 0.05m-3.0 km with coefficient correlation of 0.738-0.961 and altitude of 15-20 km with coefficient correlation of 0.941 -0.982.  Abstract in Bahasa Indonesia: Telah dilakukan analisis keterkaitan ozon dengan temperatur dari data Watukosek 1993-2005 dengan tujuan untuk melakukan pemanfaatan hasil penelitian (data profil ozon dan temperatur vertikal Watukosek), mencari level ketinggian yang mempunyai keterkaitan sangat besar antara ozon dengan temperatur. Penelitian dilakukan dengan membuat profil bulanan untuk ozon dan temperatur kemudian dicari level ketinggian yang mempunyai nilai korelasi profil ozon dan temperatur paling besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara ozon dan temperatur Watukosek dari data 1993-2005 korelasi yang besar sekali (koefisien korelasi lebih besar dari 0.9) diperoleh dari data pada ketinggian 15-20 km sedangkan untuk ketinggian 0.05 sampai dengan 3.0 km korelasinya antara 0.738-0.961
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI BATIK PADA SKALA LABORATORIUM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEKTROKOAGULASI Yulianto, Andik; Hakim, Luqman; Purwaningsih, Indah; Pravitasari, Vidya Ayu
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 5, No 1 (2009): JUNI 2009
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.458 KB)

Abstract

Batik industrial wastewater treatment with electro coagulation method. Electro coagulation is a coagulation process using direct electrics current through electro-chemical process. This research was aimed to identify the efficiency of Chemical Oxygen Demand (COD) separation, color, oil-grease and Total Suspended Solid (TSS) in traditional batik clothing industry wastewater with electro coagulation process. Research using 3 plates of Stainless Steel as anode and 3 plates of Aluminum as a cathode. Both electrodes have area of 6x10 cm2. Variation made in distance between electrode (1,5 and 3 cm) and electricity strength (12 and 30 volt). Reactor volume is 12 l and set on batch condition. Sample was taken from at time 5, 10, 15, 30, 45 and 60 minutes after the start. Laboratory analysis referred to SNI Method. Laboratory result showed COD separation with highest percentage reached 30% at 60 minutes with current strength 25 Volt, with the 3 cm electrode distance. Color maximum separation was 64% at 30 minutes, 12 Volt, with electrode distance 1,5 cm. TSS and oil-grease separation efficiency 77% and 88% at 60 minutes, with electric strength 25 volt and electrode distance 1,5 cm. In general this research showed that in batch condition, electro coagulation methods was more effective than conventional coagulation process in batik industrial wastewater treatment.   Abstract in Bahasa Indonesia:  Elektrokoagulasi adalah metode koagulasi dengan menggunakan arus listrik searah melalui peristiwa elektrokimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan penggunaan metode elektrokoagulasi sebagai alternatif dalam pengolahan limbah cair industri batik yang banyak terdapat di Yogyakarta. Percobaan ini menggunakan limbah batik asli dengan parameter yang diamati adalah perubahan konsentrasi bahan organik (COD), warna, Total Suspended Solid (TSS) dan Minyak Lemak. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium secara batch dengan menggunakan 3 lempengan stainless steel berukuran 6x10 cm2 sebagai anoda dan 3 lempeng alumunium berukuran sama sebagai katoda. Variasi dilakukan pada tegangan listrik dan jarak lempeng elektroda. Pengadukan menggunakan pengaduk eksternal berupa paddle. Variasi tegangan listrik yang digunakan adalah 25 dan 30 volt dengan kuat arus 1 Ampere. Jarak elektroda yang digunakan adalah 1,5 dan 3 cm. Volume reaktor efektif 12 l. Sampel diambil pada 5, 10, 15, 30 45, dan 60 menit sejak elektroda mulai dialiri arus listrik. Analisa sampel dilakukan setelah sampel terlebih dahulu diendapkan selama 30 menit. Analisa laboratorium mengacu pada pada SNI 06-6989.2-2004 untuk parameter COD, SNI M-03-1989-F untuk parameter warna, SK SNI M-03-1989-F untuk parameter TSS, dan SNI 06-6989.10-2004 untuk analisa minyak lemak. Hasil analisa menunjukkan adanya persentase penyisihan konsentrasi COD tertinggi mencapai 30 % terjadi pada menit ke 60, tegangan 25 Volt, dengan jarak elektroda 3 cm. Parameter warna dengan prosentase penurunan maksimum sebesar 64% pada menit ke 30, 12 Volt, jarak elektroda 1,5 cm. Penurunan konsentrasi TSS dan minyak lemak dengan presentase tertinggi sebesar 77% untuk TSS dan 88% untuk minyak lemak yang terjadi pada menit ke 60, pada tegangan sebesar 25 volt dengan jarak elektroda 1,5 cm. Secara umum percobaan ini menunjukkan pada skala laboratorium pada kondisi batch, metode elektrokoagulasi cukup efektif untuk mengolah limbah batik dibandingkan dengan proses koagulasi secara konvensional.
KUALITAS AIR TANAH DI KECAMATAN TEBET JAKARTA SELATAN DITINJAU DARI POLA SEBARAN Escherichia coli Kosasih, Budi Rahayu; Samsuhadi, Samsuhadi; Astuty, Novita Indri
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 5, No 1 (2009): JUNI 2009
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3355.673 KB)

Abstract

Distribution pattern of Escherichia coli to indicate the ground water quality in Tebet District South Jakarta. Most citizen in Tebet District use ground water as one alternative to daily pure water need. A report of BPLHD DKI (2008) indicated that 80% of ground water sample from 75 wells in 75 sub districts in Jakarta were Escherichia coli (E. coli) bacteries polluted from water septic tank. One of reasons that ground water was polluted is due to the highly rapid growth citizen and the ever-limited area. Physic parameter is temperature while the chemical parameters are pH and Dissolved Oxygen, and biologic parameter is E. coli bacteries. Checking of E.coli contain in ground water in Tebet sub district used Most Probable Number (MPN) method from SNI 01-2332-1991. Report of this research showed that ground water in Tebet Sub district have range total of bactery E. coli from 3 MPN/100 ml to 160 MPN/100ml. As a result of correlation test we get relation between total amount of E.coli bacteries against well depth and distance of septic tank. The more shallow depth of well and closer distance of septic tank and pure water source, the more E.coli bacteries consists in ground water. Distributing pattern of E. coli bacteries can be explained with mathematic model with helper of program surfer. Distributing pattern of E. coli in Kebon Baru, Bukit Duri and Manggarai and West Tebet and go to left bottom of spread of E.coli become increase.   Abstract in Bahasa Indonesia:  Sebagian besar penduduk di Kecamatan Tebet memanfaatkan air tanah sebagai salah satu alternatif dalam pemenuhan kebutuhan air bersihnya. Berdasarkan laporan dari BPLHD DKI (2008) bahwa 80 persen sampel air tanah dari 75 sumur di 75 kelurahan di Jakarta tercemar bakteri Escherichia coli (E. coli) yang berasal dari rembesan tangki septik. Salah satu faktor penyebab pencemaran air tanah adalah tingginya kepadatan penduduk dan keterbatasan lahan sehingga fasilitas sanitasi tidak terencana dan terbangun dengan baik, seperti : jarak tangki septik dan saluran drainase yang terlalu dekat dengan sumur air bersih. Daerah Padat penduduk dan tingginya penggunaan air tanah di Kecamatan Tebet menjadi sasaran utama dalam penelitian ini. Parameter fisik yang diukur, yaitu suhu, parameter kimia, yaitu pH dan DO dan parameter biologi, yaitu bakteri E. coli. Pemeriksaan kandungan Bakteri E. coli pada air tanah di Kecamatan Tebet menggunakan metode Most Probable Number (MPN) yang mengacu pada SNI 01-2332-1991. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bakteri E. coli pada air tanah di Kecamatan Tebet berkisar antara 3 MPN/100 ml sampai 160 MPN/100 ml. Dari hasil uji korelasi diketahui bahwa jumlah bakteri E. coli pada air tanah dipengaruhi oleh kedalaman sumur dan jarak tangki septik terhadap sumur air tanah. Semakin rendah kedalaman sumur air tanah dan semakin dekat jarak tangki septik terhadap sumur air tanah maka semakin buruk kualitas air tanahnya dan jumlah bakteri E. coli yang terkandung di dalam air tanah pun semakin banyak. Pola persebaran bakteri E. coli dapat dijelaskan dengan menggunakan model matematis dengan bantuan program surfer. Pola persebaran bakteri E. coli di Kelurahan Kebon Baru, Bukit Duri dan Manggarai semakin ke arah kanan atas semakin tinggi, sedangkan untuk di Kelurahan Menteng Dalam dan Tebet Barat semakin ke arah kiri bawah sebaran bakteri E. coli semakin tinggi.
POTENSI PEMBENTUKAN BIOGAS PADA PROSES BIODEGRADASI CAMPURAN SAMPAH ORGANIK SEGAR DAN KOTORAN SAPI DALAM BATCH REAKTOR ANAEROB Ratnaningsih, Ratnaningsih; Widyatmoko, H.; Yananto, Trieko
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 5, No 1 (2009): JUNI 2009
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.998 KB)

Abstract

The research device to produced biogas from mixture the cow feces and fresh organic garbage, on laboratory with batch reactors. Biogas fixation on mixture of liquefied the cow feces and fresh organic garbage divided into five groups (1:0; 3:1; 1:1; 1:3; 0:1) by 4 liter substrates in 24 days, and analyzed by regression method. Measurement of another parameters is: C/N ratio, pH substrate, BOD/COD, Total Solid, and biogas composed. This result showed that the best volume of biogas have produced by unit ratio 1:1 (TS 9%; C/N ratio 9,7) as much as 1,03 liter biogas per liter substrate (12 l/kg TS), and 11,57% methane. Overall biogas have started produce in two days, by temperature 25,5°C – 28,5°C and pH beginning 5,32 – 6,25. Meanwhile the process have been reduction Total Solid as 17 – 61%, and reduction of BOD/COD each one as 25 – 40% and 23 – 52%. Poorly of biogas and methane production have been effected by lowest C/N ratio in each substrate (C/N ratio 9,2 – 10,3), so that the methanogenic process haven’t optimum. The problem effected on pH substrate when lowest in the end of process (5,89 – 6,42), this is showed that acetogenic process still turning. Source of lowest C/N ratio in cow feces (9,2) caused by waste of tempe and tahu that cows consumption, the consumption have been 22,7 kg/cow/day or 89% of total consumption per day. The research showed that biogas production had not on optimal condition, effected by lowest C/N ratio.   Abstract in Bahasa Indonesia:  Penelitian ini bertujuan untuk mengolah sampah organik segar yang dicampur dengan kotoran sapi menjadi biogas, pada skala laboratorium menggunakan reaktor batch. Penentuan jumlah biogas terbaik terhadap pengenceran kotoran sapi perah dan sampah organik segar dilakukan dengan komposisi bahan campuran (1:0; 3:1; 1:1; 1:3; 0:1) dengan volume 4 liter dan waktu pemeraman 24 hari, selanjutnya dianalisis dengan metode regresi. Parameter pendukung yang diuji meliputi: C/N rasio, pH isian, BOD/COD, Total Solid, serta komposisi gas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah biogas terbaik dihasilkan oleh bahan campuran 1:1 dengan kadar TS 9% (rasio C/N 9,7), yaitu sebesar 1,03 liter biogas per liter bahan (12 l/kg TS), dengan kandungan metana sebesar 11,57%. Secara keseluruhan biogas terbentuk pada umur isian dua hari, dengan rentang suhu 25,5°C – 28,5°C dan pH awal sebesar 5,32 – 6,25. Disamping itu juga terjadi penurunan kadar Total Solid lumpur substrat sebesar 17 – 61%, dan penurunan BOD/COD masing-masing sebesar 25 – 40% dan 23 – 52%. Rendahnya produksi biogas dan kandungan metana disebabkan tidak sempurnanya proses methanogenesis akibat terlalu rendahnya rasio C/N pada masing-masing substrat (C/N rasio 9,2 – 10,3), sehingga proses dekomposisi anaerob dalam tiap-tiap reaktor tidak mencapai tahapan methanogenic sempurna. Hal ini berdampak terhadap derajat keasaman substrat yang rendah pada akhir produksi (5,89 – 6,42), yang menandakan masih berlangsungnya tahap acetogenic (tahap produksi asam). Sumber pakan ternak berupa ampas tempe dan ampas tahu merupakan salah satu penyebab rendahnya rasio C/N kotoran sapi perah (9,2). Konsumsi ampas tahu dan tempe mencapai 22,7 kg/ekor/hari atau 89% dari total konsumsi per hari. Penelitian ini memperlihatkan bahwa pembentukan biogas yang dihasilkan belum optimal, akibat C/N rasio yang rendah.
PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK DENGAN PROSES ELEKTROKOAGULASI MENGGUNAKAN ELEKTRODA ALUMINIUM Studi Kasus: Limbah Cair Gedung Syarif Thajeb (M), Universitas Trisakti Iswanto, Bambang; Silalahi, Mawar DS; Ayuningtyas, Utari
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 5, No 1 (2009): JUNI 2009
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1558.425 KB)

Abstract

Domestic waste water treatment according to electrocoagulation process with allumunium electrode. The treatment condition is not working well, because of the smell bad, polluter, and the effluent have nondegradable material (COD and VSS) with high concentration, that is COD and VSS in the amount of 6727,27 mg/L and 2915 mg/L. This Research exactly do it processes domestic wastewater according to elektrocoagulation process on laboratorium scale. NaCl concentrated variation, is using 0 gr/L, 0,5 gr/L, 1 gr/L and detention time (td) variation, is using 45 second, 55 second, 60 second, with rapid mixing variation are 150 rpm, 180 rpm, 200 rpm. Rapid mixing in flocculation unit is 20 rpm and detention time of sedimentation is 2,26 – 3,02 hours. Research result get optimum operational condition with NaCl concentrated 0,5 gr/L, rapid mixing 180 rpm, and detention time 55 second, with % removal COD is 95,43%, BOD 95,05%, TSS 98,98%, Detergen content 90,08%, Oil and Grease 84,10%, TKN 65,30%, VSS 99,21%, Phosphate 62,88% and Turbidity 96,30%. If with NaCl concentrated 0 gr/L, rapid mixing 180 rpm, and detention time 55 second (as aqualizer), with % removal COD is 95,54%, BOD 95,93%, TSS 98,94%, Detergent 86,92%, Oil and Grease 31,80%, TKN 59,70%, VSS 99,38%, Phosphate 25,34% and Turbidity 98,70%.  Abstract in Bahasa Indonesia:  Kondisi IPAL Gedung Syarif Thajeb (M) saat ini kurang berjalan maksimal karena sering menimbulkan bau dan effluent memiliki kandungan materi nondegradable (COD dan VSS) yang masih menunjukkan konsentrasi yang tinggi, yaitu COD dan VSS sebesar 6727,27 mg/L dan 2915 mg/L. Sehingga dalam penelitian ini dilakukan pengolahan limbah dengan proses elektrokoagulasi secara kontinue dengan menggunakan reaktor elektrokoagulasi dalam skala laboratorium. Pada proses ini digunakan konsentrasi NaCl untuk memperbesar penguraian Al terlarut, variasi konsentrasi NaCl yang digunakan adalah 0 gr/L, 0,5 gr/L, 1 gr/L dan variasi waktu tinggal 45 detik, 55 detik, 60 detik serta variasi kecepatan pengadukan 150 rpm, 180 rpm, 200 rpm. Kecepatan pengadukan di unit flokulasi adalah 20 rpm dengan waktu pengendapan selama 2 jam. Pada hasil penelitian diperoleh kondisi operasional optimum dengan konsentrasi NaCl 0,5 gr/L, kecepatan pengadukan 180 rpm dan waktu tinggal 55 detik, dengan % penyisihan COD sebesar 95,43%, BOD 95,05%, TSS 98,98%, Detergen 90,08%, Minyak Lemak 84,10 %, TKN 65,30%, VSS 99,21%, Total Phosphat 62,88% dan Kekeruhan 96,30%. Sedangkan jika digunakan dengan konsentrasi NaCl 0 gr/L, kecepatan pengadukan 180 rpm dan waktu tinggal 55 detik (sebagai pembanding), maka % penyisihan COD sebesar 95,54%, BOD 95,93%, TSS 98,94%, Detergen 86,92%, Minyak Lemak 31,80%, TKN 59,70%, VSS 99,38%, Total Phosphat 25,34% dan Kekeruhan 98,70%.

Page 1 of 1 | Total Record : 5