cover
Contact Name
Sisko
Contact Email
siskochiko@gmail.com
Phone
+6287854261279
Journal Mail Official
sttborneo1@gmail.com
Editorial Address
Jl.Prof. M.Yamin No. 3 Kota Baru, Pontianak Selatan
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 27751740     EISSN : 27751759     DOI : -
Core Subject : Religion,
ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani adalah jurnal yang menerbitkan artikel ilmiah yang berkualitas tentang Teologi dan Pendidikan Kristiani yang diterbikan oleh. Semua naskah melalui proses peer-review dan pemeriksaan plagiarisme. Hanya Naskah yang original yang akan diterima untuk diterbitkan. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun oleh Sekolah Tinggi Teologi Borneo yaitu Bulan Mei dan Desember. Adapun ruang lingkup dari Jurnal ICHTUS: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Kristiani di Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2022): Mei" : 6 Documents clear
Bentuk dan Strategi Pembinaan Warga Jemaat Dewasa Sitanggang, Magdha Riadha; Kristina, Dina
ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63830/tzbpj139

Abstract

Abstract: The church has its duty and calling in carrying out the development of congregationmembers; in this case, it is more focused on adult members. The goal is for all adult congregationmembers to take part in building the body of Christ. Through coaching, it is hoped that the maturecongregation will know and grow in the knowledge of Christ. In coaching, there are often obstacles,but that is not an excuse for the church or church advisors not to carry out coaching. Therefore, thepurpose of this writing is to provide an understanding that a mentor is a person who truly believes(has been born again) so that, as a mentor, he has the burden to carry out his calling in fulfilling theGreat Commission. Using a descriptive qualitative method, it can be concluded that, for this reason,church coaches are expected to know the forms and strategies for carrying out coaching. The goal isto make coaching more creative and effective to achieve the coaching goals. In addition, if the coachcan use the coaching strategy properly and is carried out responsibly, many adult congregationmembers will certainly be interested in participating in each coaching program.Keywords: form and strategy, development, adult congregationAbstrak: Gereja memiliki tugas dan panggilannya dalam melaksanakan pembinaan warga jemaat,dalam hal ini lebih difokuskan pada warga jemaat usia dewasa. Tujuannya adalah agar semua wargajemaat dewasa mengambil bagian dalam pembangunan tubuh Kristus. Melalui pembinaandiharapkan jemaat dewasa lebih mengenal dan bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Dalampembinaan sering ditemui kendala-kendala, tetapi itu bukanlah menjadi alasan untuk gereja ataupembina gereja tidak melaksanakan pembinaan. Oelh karena itu tujuan dari penulisan ini dapatmemberikan pemahan bahwa seorang pembina adalah orang yang sungguh-sungguh beriman(sudah lahir baru), sehingga sebagai pembina ia memiliki beban untuk melakukan panggilannyadalam menggenapkan Amanat Agung. Mengunakan metode kualitatif deskritif dapat disimpulkanbahwa, untuk itu pembina gereja diharapkan mengetahui bentuk dan strategi dalam melaksanakanpembinaan. Tujuannya, agar pembinaan lebih kreatif dan efektif, sehingga tujuan dari pembinaandapat tercapai. Selain itu jika pembina dapat menggunakan strategi pembinaan dengan baik dandilakukan secara bertanggung jawab maka dipastikan banyak warga jemaat dewasa yang tertarikuntuk mengikuti setiap program pembinaan.Kata kunci: bentuk dan strategi, pembinaan, jemaat dewasa
Media dalam Perjanjian Lama dan Relevansinya bagi Pembelajaran PAK PAUD pada Masa Kini Ambarita, Ida Sortauly
ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63830/ebhbm110

Abstract

Abstract: The proper learning of Christian religious education for a child starts from the golden age,namely the age of 0 – 6 years, when the whole potential experiences a period of great and fast growthand development sensitivity. From an early age, children are introduced to Bible teaching andknowledge of the Lord Jesus every day and continuously so that the Word of God takes root andbears fruit in the children. Therefore, Christian Religious Education is expected to carry out its dutiesseriously in accordance with the objectives of education and learning, namely to form and create ageneration that has noble character, is responsible and has the character of Christ. In learningChristian religious education at PAUD today, a useful media is needed as a tool to convey messagesfrom educators to students, especially early childhood education. With the media, it is hoped that theobjectives of learning Christian religious education will be achieved. This study aims to explore themedia in the Old Testament and find their relevance for learning Christian religious education earlychildhood education today. The writing of this article uses descriptive qualitative research methodswith literature investigations through books, journals and articles about the media in the OldTestament and their relevance for learning Christian religious education. Early childhood educationtoday. The conclusion is the relevance of the Old Testament media with learning Christian religiouseducation early childhood education today.Keywords: Old Testament media, Christian religious education, early childhood education mediaAbstrak: Pembelajaran pendidikan Agama Kristen yang tepat bagi seorang anak dimulai dari masaemas yaitu usia 0-6 tahun yaitu masa di mana keseluruhan potensi mengalami masa kepekaantumbuh kembang yang hebat dan cepat. Sejak usia dini anak – anak diperkenalkan pada pengajaranAlkitab maupun pengenalan akan Tuhan Yesus setiap hari dan terus menerus sehingga FirmanTuhan berakar dan berbuah di dalam diri anak-anak. Oleh karenanya Pendidikan Agama Kristendiharapkan agar melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan tujuan pendidikandan pembelajaran yakni membentuk dan menciptakan generasi yang berakhlak mulia, bertanggungjawab dan memiliki karakter Kristus. Dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen padaPaud masa kini diperlukan suatu media yang berguna sebagai alat menyampaikan pesan dari pendidikke peserta didik khususnya pendidikan anak usia dini. Dengan adanya media diharapkantujuan dari pembelajaran pendidikan agama Kristen akan tercapai. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk menggali media dalam Perjanjian Lama dan menemukan relevansinya bagi pembelajaranpendidikan agama Kristen Pendidikan anak usia dini masa kini. Penulisan artikel ini menggunakanmetode penelitian kualitatif deskriptif dengan penyelidikan literature melalui buku, jurnal danartikel mengenai media dalam Perjanjian lama dan relevansinya bagi pembelajaran pendidikanagama Kristen Pendidikan anak usia dini masa kini. Adapun hasil kesimpulan adalah adanyarelevansi media Perjanjian Lama dengan pembelajaran pendidikan agama Kristen Pendidikan anakusia dini masa kini.Kata kunci: media Perjanjian Lama, Pendidikan agama Kristen, Paud masa kini
Dampak Implementasi Doa Syafaat Rasul Paulus Menurut Efesus 3:14-21 bagi Pertumbuhan Spiritual Jemaat Tuhan Masa Kini Baskoro, Paulus Kuntoro; Lestari, Teresia Puji
ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63830/pcjyjc85

Abstract

Abstract: Believers who have received salvation in Christ mean they have entered the family of God’sKingdom. As members of God’s Kingdom family, believers must pray for one another. The purposeof this prayer is for the progress or spiritual growth of God’s church, which in this case is God’schurch. Because often, many believers consider it not too important to live in prayer and pray for oneanother. The Apostle Paul in the letter of Ephesians, has set an example of how he intercedes for thecongregation. The content of the apostle Paul’s prayer was that the believers in Ephesus would gainstrength in spiritual warfare, which would impact the extraordinary spiritual growth of the Ephesiancongregation. Therefore, the apostle Paul’s intercessory prayer needs to be implemented in the livesof today’s believers, both in prayer for themselves and His Church, which will bring spiritual growthfor themselves and God’s congregation today. The method used in this research is a descriptivequalitative method that examines the meaning of the impact of intercessory prayer on the spiritualgrowth of God’s congregation. So that God’s congregation can remain strong in facing all lifechallenges and mature spiritually.Keywords: intercessory, prayer, paul, spiritual growth, Ephesus, congregationAbstrak: Orang percaya yang telah beroleh keselamatan dalam Kristus berarti telah masuk dalamkeluarga Kerajaan Allah. Sebagai anggota dari keluarga Kerajaan Allah, orang percaya memilikikewajiban untuk saling mendoakan. Tujuan dari doa ini adalah demi kemajuan ataupunpertumbuhan spiritual jemaat Tuhan yang dalam hal ini adalah gereja Tuhan. Sebab seringkalibanyak orang percaya menganggap tidak terlalu penting hidup dalam doa dan saling mendoakan.Rasul Paulus dalam surat Efesus telah memberi teladan bagaimana ia berdoa syafaat untuk jemaatitu. Isi dari doa rasul Paulus itu ialah supaya orang percaya di Efesus beroleh kekuatan dalampeperangan rohani, yang membawa dampak bagi pertumbuhan spiritual yang luar biasa dari jemaatEfesus. Oleh karena itu, doa syafaat rasul Paulus ini perlu diimplementasikan dalam kehidupanorang percaya masa kini, baik itu dalam doa untuk diri sendiri maupun untuk gereja-Nya, yang akanmembawa pertumbuhan spiritual bagi diri sendiri maupun jemaat Tuhan masa kini. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan mengkaji makna dampakdoa safaat bagi pertumbuhan rohani jemaat Tuhan. Sehingga jemaat Tuhan bisa tetap kuatmenghadapi segala tantangan kehidupan serta menjadi dewasa dalam kerohanian.Kata kunci: doa syafaat, paulus, pertumbuhan spiritual, Efesus, jemaat
Professional Guru PAK dalam Perspektif Etis Teologis Kekristenan Herkulanus Rangga; Reni Triposa; Simatauw, Marfy
ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63830/ebyeva12

Abstract

Abstract: The expertise and professional skills of the teacher, sir, are a teacher's abilities in theteaching and learning process. teacher professional skills also require expertise that is truly possessedby a professional teacher. In learning Christianity, a teacher's professional competence is also verymuch needed, especially in today's increasingly developing era. A Christian Religious educator mustalso have a good personality so that he can be an example for his students as exemplifying JesusChrist. Not only having a good personality but also having a spirituality that is really owned by ateacher of Christianity. As educators, the Christian religion taught must be Bible-centered, whichforms the basis of the material in learning so that what will be delivered is by Bible-centered Christianteachings. The author uses qualitative and descriptive research methods by conducting literaturestudies on this research. So, the professional competence of teachers in the PAK learning process isthe Professional Competence of Teachers in the Learning Process of Christian Religious Education. Sothe journal is about a teacher's professionalism who must have the ability, skills, and expertise inPAK learning which must be Bible-centered.Keywords: teacher's professional expertise and skills; learning process with Christian theology;Christian educationAbstrak: Keahlian dan kecakapan profesional guru pak merupakan kemampuan seorang guru dalamproses belajar mengajar. kecakapan profesional guru juga membutuhkan keahlian yang benar-benaryang dimiliki oleh seorang guru profesional. Proses pembelajaran Agama Kristen kompetensiprofesional seorang guru juga sangat dibutuhkan apalagi pada zaman yang semakin berkembangsaat ini. Seorang pendidik Agama Kristen juga haruslah memiliki kepribadian yang baik sehinggadapat menjadi teladan bagi para peserta didiknya sebagaimana meneladani Yesus Kristus. Bukanhanya memiliki kepribadian baik saja tetapi spiritualitasnya juga haruslah benar-benar dimiliki olehseorang pengajar Agama Kristen. Sebagai pendidik Agama Kristen yang diajarkan haruslah berpusatpada Alkitab yang menjadi dasar materi dalam pembelajaran sehingga apa yang akan disampaikansesuai dengan ajaran Kristen yang berpusat pada Alkitab. Penulis menggunakan metode penelitiankualitatif dan metode deskriptif dengan melakukan studi Pustaka terhadap penelitian ini. Jadi,kecakapan profesional guru dalam proses pembelajaran PAK Kompetensi Profesional Guru dalamProses Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Jadi Jurnal tentang seorang profesionalisme guruyang harus memiliki kemampuan, keterampilan, dan keahlian dalam pembelajaran PAK yang harusberpusat pada Alkitab.Kata kunci: keahlian dan kecakapan profesional guru; proses pembelajaran dengan teologiskekristenan; pendidikan agama Kristen
Makna Istilah Sebutan Untuk Tuhan “YHWH“ Sesembahan Umat Beriman di Kitab Perjanjian Lama Andreas Danang Rusmiyanto
ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63830/m2q39559

Abstract

Abstract: The name of Allah is an issue that often intersects with dogma. In the religion understoodor known as YHWH, Addonay is translated as god. For that name is very sacred to all who are called.But God wanted his creation to know him so he introduced his name to his people in various ways,mentioning the essence of the name. The purpose of this scientific work is to describe one of thenames of God, especially the book of Exodus 6:2 and the use of the expression in several books of theOld Testament. The research methodology of this scientific article uses qualitative methods byanalyzing the meanings of terms and words. Given the majesty of Allah's name, any use of Allah'sname that insults Him and His attributes is an attack on Allah's name. The third commandment of theTen Commandments forbids taking God's name in vain as it shows a lack of respect for God Himself.According to God in His statement, anyone who abuses God's name is "guilty" (Exodus 20:7). In theOld Testament, God's name was dishonored when someone failed to fulfill a promise or oath made inHis name (Leviticus 19:12). A person who uses Allah's name to confirm his oath, but does not fulfillhis promise, is showing disrespect to Allah and is not afraid of His retribution. Basically the same asdenying the existence of God. The name of God represents His glory, His majesty and His divinity.We must honor and worship his name just as we honor and worship God himself. Otherwise, we willuse his name in vain.Keywords: God's Name, YHWH, Sacred, Old Testament, ten commandmentsAbstrak: Nama Allah menjadi isu yang sering bersinggungan dengan dogma. Di dalam Kekristenanyang dipahami atau dikenal sebagai YHWH, diterjemahkan Addonay seperti dewa. Untuk nama itusangat sakral bagi semua yang dipanggilnya. Tetapi Tuhan ingin ciptaannya mengenalnya sehinggadia memperkenalkan namanya kepada umatnya dengan berbagai cara, menyebutkan esensi darinama itu. Tujuan dari karya ilmiah ini adalah untuk mendeskripsikan salah satunya nama Tuhan,khususnya kitab Keluaran 6:2 dan penggunaan ekspresi dalam beberapa buku Perjanjian Lama.Metodologi penelitian artikel ilmiah ini menggunakan metode kualitatif dengan menganalisis maknaistilah dan kata. Mengingat keagungan nama Allah, setiap penggunaan nama Allah yang menghinaDia dan sifat-sifat-Nya adalah penyalahgunaan nama Allah. Perintah ketiga dari Sepuluh Hukummelarang penyebutan nama Tuhan dengan sembarangan karena menunjukkan kurangnya rasahormat kepada Tuhan itu sendiri. Menurut Tuhan dalam pernyataannya, siapapun yangmenyalahgunakan nama Tuhan adalah "bersalah" (Keluaran 20:7). Dalam Kitab Perjanjian Lama,nama Tuhan dicemarkan ketika seseorang gagal memenuhi janji atau sumpah yang dibuat atasnama-Nya (Imamat 19:12). Seseorang yang menggunakan nama Allah untuk menegaskansumpahnya, tetapi tidak memenuhi janjinya, menunjukkan sikap tidak hormat kepada Allah dantidak takut akan pembalasan-Nya. Pada dasarnya sama saja dengan mengingkari keberadaan Tuhan.Nama Tuhan mewakili kemuliaan-Nya, keagungan-Nya dan keilahian-Nya. Kita harus menghormatidan menyembah nama-Nya sama seperti kita menghormati dan menyembah Allah sendiri. Jika tidak,kita akan menggunakan namanya dengan sia-sia.Kata kunci: Nama Allah, YHWH, Sakral, Perjanjian Lama, sepuluh hukum
Diakonia Sosial Transformatif Karismatik Yusup Rogo Yuono
ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63830/3srfhd62

Abstract

Abstract: Poverty is a complex and long-standing humanitarian problem. The church has theresponsibility to realize the Kingdom of God on earth, is present to provide attention and answers tothis problem. This research examines related to efforts to develop social services to overcome povertyproblems based on charismatic transformative social services. The method used in this research isdescriptive qualitative which describes the existing phenomena, to then be analyzed using descriptiveanalysis. The charismatic group believes that transformative social services with charismaticcharacteristics are effective for efforts to reduce poverty. It is hoped that the results of thedevelopment of charismatic transformative social services can be used by charismatic churches intheir efforts to overcome poverty.Keywords: social service, diakonia, charismaticAbstrak: Kemiskinan adalah masalah kemanusiaan yang kompleks dan sudah lama ada. Gerejamempunyai tanggung jawab mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi, hadir memberikanperhatian dan jawaban terhadap masalah ini. Penelitian ini mengulas terkait dengan usahapengembangan pelayanan sosial untuk menanggulangi masalah kemiskinan berdasarkan pelayanansosial transformatif karismatik. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatifyang menggambarkan fenomena yang ada, untuk kemudian dianalisis menggunakan analisisdesktiptif. Kelompok karismatik percaya pelayanan sosial transformatif yang bercirikan karismatikefektif bagi upaya penanggulangan kemiskinan. Hasil dari pengembangan pelayanan sosialtransformatif karismatik ini diharapkan dapat dipakai oleh gereja-gereja karismatik dalam kiprahnyamenanggulangi kemiskinan.Kata kunci: pelayanan sosial, diakonia, karismatik

Page 1 of 1 | Total Record : 6