cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal KOMUNIKA
ISSN : 19781261     EISSN : 25489496     DOI : -
Core Subject : Religion, Science,
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi is a scientific journal in collaboration with APJIKI (Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia) with a focus on the study of communication theory, mass communication, Islamic communication, da'wah management, da'wah messages, da'wah media, da'wah methods, da'wah organizations, Islamic broadcasting, Islamic journalism, public relations, da'wah and politics, development of Islamic society, Islamic counseling.
Arjuna Subject : -
Articles 301 Documents
PIAGAM MADINAH, KONSENSUS MASYARAKAT PLURALIS: MADINAH DAN MAKKAH (SUATU TINJAUAN TEORI KONFLIK) Sholikhah, Amirotun
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.376 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i1.832

Abstract

Medina Charter is a constitution based on the consensus between the people of Mecca and Medina, functioning as a reference for their nation life for the benefit of their plurality. This constitution was also an effort to create social integration in Arab society following the emigration of the Prophet. Different backgrounds in ethnic and religion, as well as socio-economic jealousy, are part of the trigger of horizontal conflict. Medina Charter was formed as a means to anticipate the emergence of differences of interest that triggers social conflicts, either latent or overt. Piagam Madinah, merupakan sebuah konstitusi yang terbentuk atas konsensus bersama masyarakat Makkah dan Madinah. Sebagai rujukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk kepentingan umat yang majemuk tersebut. Konstitusi ini juga menjadi upaya menciptakan integrasi sosial di kalangan masyarakat Arab pasca hijrah Nabi. Perbedaan latar belakang kesukuan dan agama, serta adanya kecemburuan sosial ekonomi, adalah bagian dari pemicu munculnya konflik horisontal. Piagam Madinah terbentuk, sebagai salah satu upaya mengantisipasi munculnya perbedaan kepentingan yang memicu konflik sosial dalam bentuk terpendam maupun terbuka.
PORNOGRAFI DALAM SERIAL ANIME ANAK (ANALISIS SEMIOTIKA DALAM SERIAL CRAYON SHIN CHAN) Sangidun, -
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.739 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i1.833

Abstract

Crayon Shin Chan, a Japanese two-dimension animation series broadcast in one of private Indonesian TVs, is categorized into child’s program since it is broadcast at child’s prime time, Sunday 08.30 a.m. In spite of its broadcast time, this series consist of symbols directed not for children, such as some acts that are not appropriate to be done by children, especially in Indonesia. Moreover, adult symbols of sex are also found in the program. For this reason it will be interesting to analyze it using semiotic analysis. Semiotics is the study of symbol and its meaning which its principle concept is that both signifier and signified consist of symbols and are related to denotation and connotation. Crayon Shin Chan merupakan serial animasi dua dimensi yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Ini merupakan produk animasi 2 dimensi yang diimpor dari Jepang. Di Indonesia, serial ini masuk dalam kategori acara anak. Hal ini dapat dilihat dari jam penayangannya yang merupakan waktu prime time bagi anak, yakni pada hari minggu pukul 08.30. Akan tetapi, pada serial ini banyak simbol-simbol yang mengarah pada tayangan yang bukan untuk anak-anak, yakni adeganadegan yang tidak pantas dilakukan oleh anak khususnya di Indonesia. Serta adanya pula simbol-simbol yang mengarah pada tayangan berbau dewasa. Tentu akan menarik jika tayangan ini diteliti menggunakan analisis semiotika. Semiotika sendiri merupakan kajian ilmu mengenai tanda dan makna. Yang pada prinsipnya, konsep penting seperti penanda (signifier) dan petanda (signified) sama-sama terdiri dari tanda dan terkait dengan denotasi dan konotasi.
PSIKOLOGI KEBAHAGIAAN MANUSIA Fuad, Muskinul
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.324 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i1.834

Abstract

For centuries, happiness has been the main issue to be discussed by scholars. In regards to the importance of this theme, this article discusses the meaning of happiness, its components, and how to measure it using philosophical and psychological approaches. To make it more functional and beneficial, it is provided with methods of self-development in achieving the meaning and happiness of life. By studying these aspects, and strengthened with personal experience, psychologist sand counselors are expected to be more effective in performing guidance and counseling activities that their clients under their guidance are able to reach a meaningful and happy life. Persoalan kebahagiaan telah menjadi tema utama pembahasan para tokoh selama berabad-abad. Mengingat pentingnya tema ini, tulisan ini akan mencoba menjelaskan makna kebahagiaan, komponen kebahagiaan, dan cara mengukurnya, dengan pendekatan filosofis dan psikologis. Agar lebih fungsional dan bermanfaat, tulisan ini akan dilengkapi dengan uraian tentang metode pengembangan diri dalam meraih makna hidup dan kebahagiaan hidup. Dengan mempelajari aspek-aspek ini, yang kemudian dipadu dengan pengalaman masing-masing di lapangan, para psikolog dan konselor diharapkan akan semakin efektif dalam melakukan kegiatan bimbingan dan konseling, sehingga para klien yang dibimbingnya dapat meraih hidup yang bermakna dan berbahagia.
REINTERPRETASI ISLAM INTEGRATIF (OBJEKTIFIKASI DELIBERATIF ISLAM DI RUANG PUBLIK) Munfarida, Elya
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.094 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i1.835

Abstract

Reinterpretation of the integration between faith and its practice, as mentioned in Qur’an and hadis, is very significant to apply in plural society differentiated in many identities and various primordial affiliations. Its significance lies not only on reformulating teoritically the concept of integrative Islam, but also in practical how it is realized in context of plural society. The fact that the texts of al-Qur’an and hadis always put together faith and good deed in one semantic area, shows a strong connection between faith and good deed that each concept serves as a means of definition of others. This means that the integration between faith and social practice is a must both in theological and sociological perspectives. In addition, plural ethics can serve as ethical basis in perceiving plural social reality and actively, well, and wisely participating in public sphere. Meanwhile, in respect with the mechanism in public sphere, Kuntowijoyo’s concept of objectivity of religion and that of Jurgen Habermas’s public deliberation can be taken as theoretical frame in reinterpreting religious values and teachings as well as their realization in public sphere. Through these two concepts, religious values and teachings can be implemented in public space and partake an active participation in constructing nation identity without causing social disintegration resulted from domination and subordination of certain religious symbols or values. Since social consensus resulted from deliberation is a communal ratio, it is no longer an individual or personal one, but it is a collective ratio that represents collective interest. By this mechanism, religious values and teachings can be performed in contestation of public discoursewithout being trapped in exclusivism policy and domination-subordination logics. Reinterpretasi integrasi antara iman dan praksis sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an dan hadis, sangat signifikan dilakukan dalam konteks pluralitas masyarakat yang terdiferensiasi dalam berbagai identitas dan beragam afiliasi primordial. Signifikansi ini tidak hanya terletak pada perlunya reformulasi konsepsi Islam integratif saja, tapi juga bagaimana integrasi tersebut direalisasikan dalam konteks masyarakat yang plural. Merujuk pada teks al-Qur’an dan hadis yang selalu menempatkan iman dan amal salih dalam satu medan semantik, ini menunjukkan bahwa relasi antara iman dan amal salih sangat kuat, sehingga masing-masing konsep menjadi alat definisi bagi eksistensi konsep lainnya. Hal ini bermakna bahwa integrasi iman dan praksis sosial merupakan sebuah keniscayaan tidak hanya secara teologis tapi juga secara sosiologis. Selain itu, afirmasi Islam terhadap pluralitas etik dapat menjadi landasan etis dalam memandang realitas sosial yang plural dan berpartisipasi aktif di ruang publik secara baik dan bijak. Sementara terkait dengan mekanisme partisipasi di ruang publik, konsep objektifikasi agama-nya Kuntowijoyo dan deliberasi publik-nya Jurgen Habermas dapat dijadikan sebagaikerangka teoritis dalam melakukan reinterpretasi nilai dan ajaran agama dan realisasinya di ruang publik. Dengan model objektifikasi deliberatif ini, nilai-nilai dan ajaran agama dapat diimplementasikan dalam kehidupan publik dan berperan aktif dalam konstruksi identitas bangsa, tanpa harus menciptakan disintegrasi sosial karena adanya dominasi atau subordinasi simbol atau nilai agama tententu. Oleh karena konsensus sosial yang dihasilkan dalam deliberasi tersebut bersifat rasio bersama, maka ia tidak lagi menjadi rasio individual personal tapi rasio kolektif yang sekaligus mewakili dan menjadi kepentingan bersama. Dengan mekanisme ini, nilai dan ajaran Islam (agama) dapat dipentaskan dalam kontestasi diskursus publik secara ramah, tanpa harus terjebak dalam politik ekslusivisme dan logika dominasi-subordinasi.
RELASI PSIKOLOGI DAN AGAMA -, Munawir
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.306 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i1.836

Abstract

Human beings and their religious behavior are interesting to study. Religion is sacred that it energizes its followers to obey any determined rule. For the outsiders, human religious behavior is frequently not understandablebecause of its contradictions. For that reason, a psychological approach is offered to understand such a phenomenon. This article, using a descriptive approach, is trying to analyze the relation between psychology and religion. In this case, there are some relational patterns between psychology and religion including critical-evaluative, constructive, and dialectical relation. Manusia dan perilaku keagamaannya adalah sebuah kajian yang menarik. Agama sebagai sesuatu yang sakral senantiasa menjadi energi bagi pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu yang menjadi aturanaturannya. Bagi pihak luar (outsider), perilaku keagamaan manusia (pemeluknya) seringkali tidak terpahami, karena segi-segi kontradiksinya. Di sini kemudian muncul tawaran pendekatan psikologi dalam memahami perilaku keagamaan pemeluknya. Artikel ini, dengan pendekatan deskriptif mencoba mengurai hubungan antara psikologi dan agama. Dalam hal ini, ada beberapa pola hubungan yang berkembang antara psikologi dan agama yaitu pola hubungan kritis-evaluatif, konstruktif, dan dialektis.
RELEVANSI STRATEGI DAKWAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA DENGAN STRATEGI DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW Khoerunnisa, Eunis
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.01 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i2.847

Abstract

Hizbut Tahrir Indonesia is a unique and phenomenal propaganda institution. For one decade (1998-2008) it has exercised a very intensive preaching, conception of Islam, enforcement of Syari’ah and the Khilafah ruling system. The purpose of this study is to determine the Hizbut Tahrir Indonesia thinking about: (1) the arguments used by Hizbut Tahrir Indonesia in preaching; (2) the purpose of the preaching of Hizbut Tahrir Indonesia; (3) the method used in the propaganda activities of Hizbut Tahrir Indonesia; (4) the program of propaganda in the view of Hizbut Tahrir Indonesia; and (5) the relevance of Hizbut Tahrir Indonesia propagation strategy with the strategy of propaganda of the Prophet Muhammad. The results showed that (1) Hizbut Tahrir Indonesia propagation argument is Surah (Chapter) Ali-Imran verse 104; (2) the purpose of Hizbut Tahrir Indonesia propaganda is to hold Islamic life and to carry the Islamic propagation to the entire world and to revive Islam in the right way; (3) the method adopted by Hizbut Tahrir Indonesia in carrying out the mission is the laws of Personality which is taken from Prophet Sayings; (4) HizbutTahrir Indonesia propagation program is basically the same as Hizbut Tahrir anywhere, for espousing ideas, ideals and the same activity which reflects on propagation strategy of the Prophet; and (5) selection of Hizbut Tahrir Indonesia toward the Prophet Traditions about the propagation method applied by the Prophet Muhammad SAW tend to choose a more nuanced firm. In fact, the propagation method applied by the Prophet varies depending on the existing situation and conditions. Hizbut Tahrir Indonesia adalah sebuah lembaga dakwah yang unik dan fenomenal. Selama kurang lebih satu dasawarsa (1998-2008) sangat intensif melakukan dakwahnya, konsepsinya tentang penegakan Syari’at Islam dan sistem pemerintahan Khilafah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemikiran Hizbut Tahrir Indonesia tentang: (1) landasan yang digunakan  oleh Hizbut Tahrir Indonesia dalam berdakwah; (2) tujuan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia; (3) metode yang digunakan dalam kegiatan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia; (4) program dakwah menurut pandangan Hizbut Tahrir Indonesia; dan (5) relevansi strategi dakwah Hizbut Tahrir Indonesia dengan strategi dakwah Nabi Muhammad SAW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) landasan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia adalah QS. Ali-Imran ayat 104; (2) tujuan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia adalah melangsungkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dan untuk membangkitkan kembali umat Islam dengan cara yang benar; (3) metode yang ditempuh oleh Hizbut Tahrir Indonesia dalam melaksanakan dakwah adalah hukum-hukum syara’ yang diambil dari thariqah Rasulullah SAW; (4) program dakwah Hizbut Tahrir Indonesia pada dasarnya sama dengan Hizbut Tahrir di manapun, karena mengemban pemikiran, cita-cita dan aktivitas yang sama, yaitu bercermin pada metode dakwah Rasulullah SAW; dan (5) Pemilihan Hizbut Tahrir Indonesia terhadap Hadits-hadits tentang metode dakwah yang diterapkan oleh Nabi Muhamad SAW cenderung memilih Hadits-hadits yang bernuansa lebih tegas. Padahal, metode dakwah yang diterapkan oleh Nabi sangat bervariasi bergantung kepada situasi dan kondisi yang ada.
PESAN DAKWAH DALAM LAGU “BILA TIBA” Sujatmiko, Bagus; el Ishaq, Ropingi
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.75 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i2.848

Abstract

Music is one of the media to deliver a message. Music can contain norms of life, one of which is message of da’wah. Music containing da’wah messages is commonly called Religious Music. In Indonesia, such music started in a the 70s by the legendary band Sam Bimbo with the song Sajadah Panjang, and Nasyida Ria Nasyid group with the song Perdamaian. Many of their songs contain da’wah messages that could attract many listeners. At present, there is also a top Indonesian pop band, named Ungu, that always succeeded in making religious songs. Religious songs from Ungu contain many Da’wah messages with touching lyrics, combined with appropriate music. One of Ungu’s latest songs is “Bila Tiba”. This song has a blend of ballad tones and poetic lyrics, as efforts to deliver da’wah messages contained therein. The song that became the soundtrack of the movie “Sang Kyai” is much in demand as a soft tone and the lyrics are evocative. For that reason, this study intends to analyze da’wah message contained in a fusion of tones and lyrics of the song. To analyze the song Bila Tiba, the researcher used Charles Sanders Peirce’s Theory of Semiotics. His classification of signs can be used to peel the tones and lyrics to understand da’wah messages of the song in a complex and profound way. Classifications of signs used in this research were Qualisign, dicent Sinsign, Rhematical Indexical Legisign, dicent Symbol, and Argument. Result of this research is that this song reminds the listener to remember the events of death. Meanwhile, the emphasis of da’wah message contains in the main rhyme of this song, which explains that when death comes, man cannot run away from it. The message of this song is delivered with the poetic lyrics and soft tones and this makes this song a means of contemplation for the listeners. Furthermore, this song also invites the listeners to correct their deed during life, to prepare for the coming death, and to pray for a good death (khusnul khotimah). Musik merupakan salah satu media penyampai pesan. Dalam musik dapat disematkan norma-norma yang terkandung dalam kehidupan salah satunya Pesan Dakwah. Musik yang mengandung Pesan Dakwah biasa disebut Musik Religi. Musik Religi di Indonesia dimulai pada tahun 70-an oleh band legendaris Bimbo dengan lagu Sajadah Panjang, dan grup Nasyid Nasida Ria dengan lagu Perdamaian. Banyak dari lagu-lagu mereka berisikan pesan dakwah yang banyak diminati pendengar. Dan saat ini, terdapat juga band papan atas Indonesia yang selalu berhasil dalam membuat lagu religi dari aliran pop, yaitu Band Ungu. Lagu-lagu religi dari Band Ungu banyak berisikan pesan dakwah dengan lirik yang menyentuh, diiringi dengan musik yang sesuai. Dan salah lagu religinya yang terbaru yang berjudul “Bila Tiba”. Lagu ini memiliki perpaduan antara nada Ballad dan lirik yang puitis, sebagai upaya maksimal untuk menyampaikan pesan dakwah yang terkandung di dalamnya. Lagu yang menjadi soundtrack film “Sang Kyai” ini banyak diminati karena nadanya lembut dan liriknya yang menggugah. Untuk itu penelitian ini bermaksud untuk menganalisis Pesan Dakwah yang terkandung dalam perpaduan nada dan lirik lagu tersebut. Untuk menganalisis lagu “Bila Tiba”, peneliti menggunakan Teori Semiotika Charles Sanders Peirce. Klasifikasi tanda dari Charles Sanders Peirce dapat digunakan untuk mengupas simbol nada dan lirik lagu, untuk kemudian dapat diketahui pesan dakwah lagu secara kompleks dan mendalam. Klasifikasi tanda yang digunakan antara lain Qualisign, Dicent Sinsign, Rhematical Indexical Legisign, Dicent Symbol, dan Argument. Dari hasil analisis terungkap bahwa pesan dakwah dalam lagu ini menyampaikan kepada pendengarnya untuk mengingat peristiwa kematian. Sementara penekanan dari isi pesan lagu terdapat pada bait utama, yang menerangkan ketika ajal datang, manusia tidak bisa lari darinya. Pesan lagu disampaikan dengan lirik yang puitis dan nada yang lembut, menjadikan lagu ini sebagai sarana perenungan bagi pendengarnya. Lagu ini juga mengajak pendengarnya untuk memperbaiki amal perbuatannya selama hidup, untuk mempersiapkan diri ketika kematian datang menghampirinya. dan senantiasa berdo’a agar mati dalam keadaan khusnul khatimah.
AGAMA DAN ALIENASI MANUSIA (REFLEKSI ATAS KRITIK KARL MARX TERHADAPAGAMA) Misbah, Mohamad
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.768 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i2.849

Abstract

Karl Marx’s objection to religion, as other scholars’, should not be faced defensively and apologetically. A wise attitude is needed because a criticism can be used as a self-criticism towards our formal model of religiosity. By understanding Karl Marx’s social context, his criticism toward religion can be interpreted as his dissonance on a model of religion at his time, which is dominantly used as a means of power. The existence of religion didn’t improve the quality of humanity, but it was manipulated give an ethical legitimation to explore and exploit poor and marginal society. Religion alienated human beings from themselves and their social reality, which resulted in systemic social sins. Karl Marx’s criticism can be considered as a step to reconstruct a humanistic theology, which is able to freed and emancipate human being from any shackle. Gugatan Karl Marx terhadap agama, seperti halnya kritik tokoh-tokoh pemikir lain, tidak perlu dihadapi secara defensif apologetik. Sikap yang bijaksana perlu dikedepankan, karena kritik bisa dijadikan otokritik atas kekurangan model keberagamaan kita yang bersifat formal. Dengan memahami konteks sosial Karl Marx, kritiknya terhadap agama dapat dipahami sebagai kegelisahannya atas model keberagamaan yang dominan saat itu yang justru menjadi alat kekuasaan. Eksistensi agama bukannya meningkatkan kualitas kemanusiaan, tapi justru dimanipulasi untuk memberikan legitimasi etis untuk mengeksploitasi dan menindas masyarakat miskin dan marginal. Agama mengalienasikan manusia dari diri dan realitas sosial, sehingga dosa sosial dapat terjadi secara sistemik. Kritik Marx di atas bisa dijadikan pijakan untuk merekonstruksi teologi yang humanis yang mampu membebaskan dan mengemansipasi manusia dari segala belenggu.
MEMBANGUN KELUARGA SAKINAH PERSPEKTIF PEKERJAAN SOSIAL Asyhabudin, -
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.784 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i2.850

Abstract

The family is a mirror to society. We can see what has occured and will occur in society by looking at families who live in the community. Advancement of a society is often caused by the advancement of families in the community. Vice versa, the backwardness of a society is a sign of the backwardness of families in the community. Family is the perfect university for the actors of various roles in public life. An ideal family is a sakinah family where mawaddah and rahmah are properly maintained and always preserved so that serenity and peace in the family is getting stronger. To keep the family being sakinah, in the perspective of social work, it needs three factors, namely congruent communication, the balance of relationships within the family system and the constant mutual efforts in giving goodnessto each other in the family. Three experts in the disciplines of social work contribute ideas and concepts on this regards. The article attempts to describe the thinking of the experts to elaborate their thoughts briefly. Keluarga merupakan cermin masyarakat. kita bisa melihat apa yang sudah terjadi dan akan muncul di masyarakat dengan melihat keluargakeluarga yang hidup dalam komunitas. Kemajuan masyarakat seringkali disebabkan oleh kemajuan keluarga. Sebaliknya, kemunduran masyarakat merupakan tanda kemunduran keluarga. Keluarga adalah tempat yang sempurna bagi aktor sosial untuk berkiprah di ruang publik. Keluarga yang ideal adalah keluarga sakinah, di mana mawaddah dan rahmah selalu dijaga dengan baik sehingga kedamaian dalam keluarga semakin kuat. Untuk menjaga keluarga agar tetap sakinah, dalam perspektif kerja sosial, dibutuhkan tiga faktor, yakni: komunikasi yang harmonis, keseimbangan hubungan dalam sistem keluarga dan saling berupaya untuk memberikan kebaikan bagi masing-masing anggota keluarga. Tiga tokoh dalam kerja sosial memberikan ide-ide dan konsep tentang persoalan ini yang didiskusikan dalam artikel ini secara mendalam.
MENGURAI KEBINGUNGAN (REFLEKSI TERHADAP KESEMRAWUTAN KONSEP DAKWAH ISLAM DI INDONESIA) Rochman, Kholil Lur
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.89 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i2.851

Abstract

There are two main problems destroying and paralyzing the existence of da’wah in the present time. The first is the weakness of epistemological study that makes dak’wah is meant as just a routine, temporal, and instant activity, which is strengthened with the doctrine that performing da’wah activity is God’s order. The second is the dominant interpretation that da’wah is an oral communication that flowered with jokes and satires. For that reason, there are some steps to be appropriately done to give a new direction in reconstructing da’wah (Islamic preaching) in Indonesia. The steps are: 1) to change exclusive discourse of religiosity to an inclusive one; 2) the admission of plurality in religion; 3) actualizing empowerment da’wah; and 4) inter-religion dialogues, as an orientation of future da’wah. Ada dua masalah dasar yang menggerogoti dan melumpuhkan eksistensi dakwah dewasa ini yaitu lemahnya kajian epistemologi sehingga dakwah hanya dimaknai sebagai rutinitas, temporal dan instan yang dikuatkan dengan argumen bahwa berdakwah adalah perintah Tuhan dan dominasi pemahaman bahwa dakwah adalah oral comunication yang mementingkan banyolanbanyolan garing dan satir. Untuk itu, ada beberapa langkah yang harus digarap secara tepat untuk memberikan arah baru dalam melakukan proses rekonstruksi dakwah Islam di Indonesia. Langkah tersebut adalah pertama, mengubah wacana eksklusif tentang cara keberagamaan menuju wacana inklusif, kedua, pengakuan adanya pluralitas dalam beragama, ketiga, membumikan dakwah pemberdayaan, dan yang keempat, adalah upaya dialog antar agama, sebagai orientasi dakwah masa depan.