Melintas An International Journal of Philosophy and Religion
The aim of this Journal is to promote a righteous approach to exploration, analysis, and research on philosophy, humanities, culture and anthropology, phenomenology, ethics, religious studies, philosophy of religion, and theology. The scope of this journal allows for philosophy, humanities, philosophy of culture and anthropology, phenomenological philosophy, epistemology, ethics, business ethics, philosophy of religion, religious studies, theology, dogmatic theology, systematic theology, theology of sacrament, moral theology, biblical theology, and pastoral theology.
Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 22 No. 2 (2006)"
:
12 Documents
clear
Chronicles - August 2006
Sugiharto, Bambang;
Tedjoworo, Hadrianus
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 22 No. 2 (2006)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.436 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v22i2.1005.693-707
'Chronicles' is a journal column of "MELINTAS" which contains information about the various events, congresses, conferences, symposia, necrologies, publications, and periodicals in the fields of philosophy and theology.
THE INDIVIDUAL AND COLLECTIVE TRANSFORMATION: AUROBINDIAN PARADIGM OF CULTURE OF CHANGE
Delacruz, El Mithra M.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 22 No. 2 (2006)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (165.681 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v22i2.1001.601-623
Artikel ini bertolak dari suatu keyakinan bahwa kendati kebudayaan sebagai suatu keseluruhan yang kompleks berkecenderungan mengontrol, ia juga memberikan peluang dan jalan bagi pembentukan karakter dan bagi proses spiritualisasi penciptaan dalam evolusi. Pertumbuhan dan perkembangan suatu bangsa bergantung pada orientasi dasar dan kebiasaan yang telah tertanam lama dalam kebudayaan. Namun di sisi lain, terutama mengacu pada pemikiran Sri Aurobindo, itu juga bergantung pada pencarian dan pencerahan spiritual dalam dunia batin individu . Maka artikel ini mengajukanpentingnya keseimbangan antara dunia luar dan dunia dalam, dunia interaksi sosial dan dunia individu. Yang menjadi fokus dalam artikel ini lantas : apakah kebudayaan memang memungkinkan transformasi individual dan sekaligus transformasi masyarakat?
ŽIŽEK'S REDEFINITON OF MODERN SUBJECT
Kristiatmo, Thomas
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 22 No. 2 (2006)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (106.156 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v22i2.1002.625-634
Subjektivitas modern yang dibangun atas dasar cogito ergo sum dari Descartes belakangan sedemikian dicela dan dicaci. Subjektivitas macam itu konon terlalu tertutup dan bertendensi untuk mengeksklusi yang lain. Bermacam kubu berupaya menentang subjektivitas modern. Strukturalisme dan post-strukturalisme dengan sengit hendak melenyapkan subjek dan menggantinya dengan tenunan struktural. Di antara gelombang aliansi yanghendak melenyapkan subjek tersebut, Žižek justru hendak membuat pembacaan baru dan unik atas subjektivitas modern. Melalui kacamata psikoanalisis ia membedah filsafat dan melihat dimensi-dimensi tertentu dari subjek yang selama ini tersembunyi.
IN HIS IMAGE AND LIKENESS: PONDERINGS OVER CREATION AND THE DIVINEESSENCE
Osai, O. Jason
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 22 No. 2 (2006)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (145.117 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v22i2.1003.635-653
Artikel ini mengambil inspirasi dari teologi berbagai agama, beragam kosmogoni dan bermacam mitos. Berdasarkan itu ia mengajukan suatu tesis bahwa manusia pada dasarnya mempunyai potensi yang sama dengan Penciptanya, yang tidaklah sama dengan Tuhan yang immortal, omniscient, omnipotent dan omnipresent . Kemampuan manusia sejajardengan Penciptanya dalam hal “Kapasitas Mental Kolektif ”nya (CMC), namun berbeda dan lebih rendah dalam hal “Abilitas Mental Kolektif ”nya (CMA). Perbedaan itu analog dengan perbedaan antara seorang professor dan seorang anak sekolah yang inteligensinya secara potensial sama tinggi dengannya. Perbedaan terletak pada pendidikan dan pengalaman yang dimiliki sang professor. Lebih lanjut artikel ini mengajukan gagasan bahwa terdapat dua dunia yang parallel dunia etereal dan dunia korporeal. Yang etereal adalah realitas super-consciousness Roh Ilahi, yang juga mengontrol segala kehidupan di dunia korporeal. Tahapan evolusi dan penciptaan di dunia korporeal berjalan dibawah bimbingan dunia etereal. Artikel ini lantas menyimpulkan bahwa manusia diciptakan oleh entitas yang juga mortal, namun dibawah bimbingan Tuhan yang immortal, menuju proses penciptaan yang makin menyerupai Dia.
TEOLOGI MAGISTERIUM DAN KONSERVATISME GEREJA: SEBUAH STUDI ATAS AJARAN KONTRASEPSI
Sudarto, Tulus
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 22 No. 2 (2006)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (105.309 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v22i2.1004.655-668
There has been a significant change in the Church as a communio since the secondVatican Council ( 1962-1965). The Council seemed to instigate a mode of doing theology with liberal overtone. New ways of looking at things had been shown quite impressively by the Church ever since. Indeed “Ecclesia semper reformanda”. This, however, is not the whole story, for in the case like contraception, and worse still, on magisterium in general, it turns out that the Church hardly changes. The dilemma has brought about many problems,practically as well as theologically. This article talks about the dilemma.
THE TASK OF REMEMBRANCE: HISTORY AS THE BURDEN OF INHERITANCE AND AN OPPORTUNITY FOR JUSTICE
de Joya, Preciosa
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 22 No. 2 (2006)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (87.932 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v22i2.1000.591-600
Artikel ini adalah refleksi atas pemikiranWalter Benjamin, terutama bagaimana ia melepaskan sejarah dari tendensinya sebagai mekanisme opresi. Kuncinya adalah mengembalikan peran orisinal sejarah sebagai suatu bentuk kenangan yang tidak menekankan pencarian pengetahuan, melainkan upaya pembentukan hubungan. Hubungan ini, seperti ditekankan Derrida, dilandasi beban warisan, dimana mereka yang masih hidup senantiasa berduka atas mereka yang mati dan terpanggil untuk terus meluruskan masa lampau yang tidak adil. Tugas mengenang ini bukan hanya berarti mendengarkan suara sejarah lokal, melainkan lebih radikal, yaitu senantiasa melihat sejarah sebagai masa lampau yang “belum selesai”. Maka untuk melepaskan sejarah dari barbaritas peradaban, pola naratif harus diganti dengan sekedar fragmen-fragmen. Fragmen, sebagai alat representasi, memungkinkan masa lampau terus menerus dialami kembali sebagai kebenaran. Dalam mengenangsejarah sedemikian itulah studi sejarah dialami sebagai beban tanggungjawab etis dan menjadi peluang ke arah keadilan.
THE TASK OF REMEMBRANCE: HISTORY AS THE BURDEN OF INHERITANCE AND AN OPPORTUNITY FOR JUSTICE
de Joya, Preciosa
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 22 No. 2 (2006)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v22i2.1000.591-600
Artikel ini adalah refleksi atas pemikiranWalter Benjamin, terutama bagaimana ia melepaskan sejarah dari tendensinya sebagai mekanisme opresi. Kuncinya adalah mengembalikan peran orisinal sejarah sebagai suatu bentuk kenangan yang tidak menekankan pencarian pengetahuan, melainkan upaya pembentukan hubungan. Hubungan ini, seperti ditekankan Derrida, dilandasi beban warisan, dimana mereka yang masih hidup senantiasa berduka atas mereka yang mati dan terpanggil untuk terus meluruskan masa lampau yang tidak adil. Tugas mengenang ini bukan hanya berarti mendengarkan suara sejarah lokal, melainkan lebih radikal, yaitu senantiasa melihat sejarah sebagai masa lampau yang “belum selesai”. Maka untuk melepaskan sejarah dari barbaritas peradaban, pola naratif harus diganti dengan sekedar fragmen-fragmen. Fragmen, sebagai alat representasi, memungkinkan masa lampau terus menerus dialami kembali sebagai kebenaran. Dalam mengenangsejarah sedemikian itulah studi sejarah dialami sebagai beban tanggungjawab etis dan menjadi peluang ke arah keadilan.
THE INDIVIDUAL AND COLLECTIVE TRANSFORMATION: AUROBINDIAN PARADIGM OF CULTURE OF CHANGE
Delacruz, El Mithra M.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 22 No. 2 (2006)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v22i2.1001.601-623
Artikel ini bertolak dari suatu keyakinan bahwa kendati kebudayaan sebagai suatu keseluruhan yang kompleks berkecenderungan mengontrol, ia juga memberikan peluang dan jalan bagi pembentukan karakter dan bagi proses spiritualisasi penciptaan dalam evolusi. Pertumbuhan dan perkembangan suatu bangsa bergantung pada orientasi dasar dan kebiasaan yang telah tertanam lama dalam kebudayaan. Namun di sisi lain, terutama mengacu pada pemikiran Sri Aurobindo, itu juga bergantung pada pencarian dan pencerahan spiritual dalam dunia batin individu . Maka artikel ini mengajukanpentingnya keseimbangan antara dunia luar dan dunia dalam, dunia interaksi sosial dan dunia individu. Yang menjadi fokus dalam artikel ini lantas : apakah kebudayaan memang memungkinkan transformasi individual dan sekaligus transformasi masyarakat?
ŽIŽEK'S REDEFINITON OF MODERN SUBJECT
Kristiatmo, Thomas
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 22 No. 2 (2006)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v22i2.1002.625-634
Subjektivitas modern yang dibangun atas dasar cogito ergo sum dari Descartes belakangan sedemikian dicela dan dicaci. Subjektivitas macam itu konon terlalu tertutup dan bertendensi untuk mengeksklusi yang lain. Bermacam kubu berupaya menentang subjektivitas modern. Strukturalisme dan post-strukturalisme dengan sengit hendak melenyapkan subjek dan menggantinya dengan tenunan struktural. Di antara gelombang aliansi yanghendak melenyapkan subjek tersebut, Žižek justru hendak membuat pembacaan baru dan unik atas subjektivitas modern. Melalui kacamata psikoanalisis ia membedah filsafat dan melihat dimensi-dimensi tertentu dari subjek yang selama ini tersembunyi.
IN HIS IMAGE AND LIKENESS: PONDERINGS OVER CREATION AND THE DIVINEESSENCE
Osai, O. Jason
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 22 No. 2 (2006)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v22i2.1003.635-653
Artikel ini mengambil inspirasi dari teologi berbagai agama, beragam kosmogoni dan bermacam mitos. Berdasarkan itu ia mengajukan suatu tesis bahwa manusia pada dasarnya mempunyai potensi yang sama dengan Penciptanya, yang tidaklah sama dengan Tuhan yang immortal, omniscient, omnipotent dan omnipresent . Kemampuan manusia sejajardengan Penciptanya dalam hal “Kapasitas Mental Kolektif ”nya (CMC), namun berbeda dan lebih rendah dalam hal “Abilitas Mental Kolektif ”nya (CMA). Perbedaan itu analog dengan perbedaan antara seorang professor dan seorang anak sekolah yang inteligensinya secara potensial sama tinggi dengannya. Perbedaan terletak pada pendidikan dan pengalaman yang dimiliki sang professor. Lebih lanjut artikel ini mengajukan gagasan bahwa terdapat dua dunia yang parallel dunia etereal dan dunia korporeal. Yang etereal adalah realitas super-consciousness Roh Ilahi, yang juga mengontrol segala kehidupan di dunia korporeal. Tahapan evolusi dan penciptaan di dunia korporeal berjalan dibawah bimbingan dunia etereal. Artikel ini lantas menyimpulkan bahwa manusia diciptakan oleh entitas yang juga mortal, namun dibawah bimbingan Tuhan yang immortal, menuju proses penciptaan yang makin menyerupai Dia.