Melintas An International Journal of Philosophy and Religion
The aim of this Journal is to promote a righteous approach to exploration, analysis, and research on philosophy, humanities, culture and anthropology, phenomenology, ethics, religious studies, philosophy of religion, and theology. The scope of this journal allows for philosophy, humanities, philosophy of culture and anthropology, phenomenological philosophy, epistemology, ethics, business ethics, philosophy of religion, religious studies, theology, dogmatic theology, systematic theology, theology of sacrament, moral theology, biblical theology, and pastoral theology.
Articles
16 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 23 No. 3 (2007)"
:
16 Documents
clear
PAUL RICOEUR AND THE TRANSLATION-INTERPRETATION OF CULTURES
Garcia, Leovino Ma.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (156.615 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.963.325-345
Dengan mengelola gagasan Ricoeur tentang ‘Hermeneutics of Self ‘ artikel ini membahas kesadaran tentang pluralitas budaya dan bahasa yang makin nyata. Dalam situasi itu komunikasi makna menuntut ‘penerjemahan’ serentak kewajiban ‘berdukacita’. Dalam kerangka itu identitas bukan lagi soal ‘batas’ melainkan soal interaksi. Identitas mesti dilihat sebagai sesuatu yang tak pernah final, ber-evolusi dalam saling penerjemahan antar bahasa dan budaya. Penerjemahan adalah pertaruhan yang diwarnai ‘dukacita’ sebab penerjemahan identitas kita oleh pihak lain (eksternal) maupun oleh diri sendiri (internal) selalu hanya sampai pada ‘ekuivalensi tanpa adekuasi’, dan kesenjangan itu tak kan pernah teratasi.
TEOLOGI ABSENSIA : SEBUAH TAWARAN
Bawono, Haryo Tejo
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (155.966 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.971.437-458
Referring back to the age-old tradition of Negative Theology and combining it with deconstructive 'Heuristic Way' of French Postmodern Philosophico-Theology , this article seeks to reiterate the centrality of 'Absence' vis-à- vis 'Metaphysics of Presence'. Theology of absence is offered as a middleway between affirmative and negative theology by incorporating some basic ideasof Derrida, Jean-Luc Marion, Michel Henry, Levinas and Marc C. Tylor. In the final analysis, it is 'Life' itself that is to be the focus of theology.
OF BORDERS, DEATH, AND FOOTPRINTS
Mohamad, Goenawan
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (224.878 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.966.347-367
Artikel ini memperbincangkan ambiguitas dan instabilitas makna 'batas' dan 'identitas'. Batas, yang awalnya adalah metafora dari paradigma ruang dalam rangka menetapkan dan mengatur perbedaan, akhirnya cenderung menjadicerita pembekuan dan pemisahan. Melalui telaah atas beberapa novel dan pemikiran filsafat mutakhir, dibahaslah batas dan identitas sebagai permanensi mental yang justru menimbulkan alienasi, juga sebagai kerinduan yang tak pernah terpenuhi dan sebagai pergumulan hegemoni. Lantas pada penghujung artikel ini identitas dilihat bukan sebagai garis pembatas akhir, melainkan sebagai garis depan yang senantiasa terbuka pada kemungkinan baru.
CAHAYA
Brotosiswojo, Benny Suprapto
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1085.261 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.972.459-472
CULTURAL PLURALISM AND CULTURAL DIALOGUE
Aguas, Jove Jim S.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.01 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.967.369-383
Dasar keyakinan atas pluralisme kebudayaan adalah kebebasan individual dan kolektif untuk memilih hal yang berbeda. Namun ketidaksamaan berlebihan dan kontrol terlalu besar dari pihak yang lebih berkuasa tidakmemungkinkan interaksi yang sehat. Dalam kondisi macam itu konsep 'peradaban' hanyalah pembenaran-diri kolonialisme, imperialisme dan akulturasi koersif. Dan peradaban akan menjadi beban. Artikel ini menekankan interaksi kultural global yang saling memperkaya dan saling menghaluskan. Kebudayaan adalah sebuah dialog yang lantas menuntut standard kehalusan atau standard peradaban yang juga berragam. Bila peradaban dilihat sebagai berbagai pola ungkap yang berbeda, maka iabukanlah beban melainkan peluang.
Chronicles - December 2007
Tedjoworo, Hadrianus
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (177.266 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.974.495-514
'Chronicles' is a journal column of "MELINTAS" which contains information about the various events, congresses, conferences, symposia, necrologies, publications, and periodicals in the fields of philosophy and theology.
THEGOODSELF : TOWARDS THE ETHICS OF AUTHENTICITY AND SOLIDARITY IN THE PERSPECTIVE OF CHARLES TAYLOR
Subianto Bunyamin, Antonius
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (155.908 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.969.385-409
Ada jurang antara aktivitas moral dengan identitas personal yang menjadi sumber inotentisitas. Salah satu akarnya adalah etika prosedural yang berpusat pada “apa yang harus dilakukan.” Charles Taylor mengatasinyamelalui etika substantif yang berdasar pada konsep fundamental tentang “yang baik” (the good). Iamenjelaskan dimensi ontologis dari moralitas dan identitas serta menawarkan etika otentisitas, di mana identitas yang benardan aktivitas yang baik berkaitan secara ontologis. Inilah konsep etis tentang “the good self ”.
THE IDEA OF HUMAN DESTINY IN AFRICA : THE IGBO EXPERIENCE
Ogbujah, C. N.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (146.922 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.970.411-435
Penelitian filsosofis terhadap kepercayaan suku Igbo kerap tergoda menjadi sistematisasi menurut standard penalaran logis atau hanya menerangi keunikankeunikannya yang berbeda dari sistem kepercayaan lain. Kedua-duanya luput menangkap kompleksitas dan kedalaman kandungan pengalaman konkrit suku Ibo. Artikel ini mencoba merumuskan kompleksitas itu dalam membahas khususnya kepercayaan Ibo tentang takdir dan kelahiran kembali. Dibahas disini ihwal tubuh material yang melampaui kematian, kaitannya dengan konsep Igbo tentang kemanusiaan yang integral dan identitas personalnya.
PAUL RICOEUR AND THE TRANSLATION-INTERPRETATION OF CULTURES
Garcia, Leovino Ma.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.963.325-345
Dengan mengelola gagasan Ricoeur tentang ‘Hermeneutics of Self ‘ artikel ini membahas kesadaran tentang pluralitas budaya dan bahasa yang makin nyata. Dalam situasi itu komunikasi makna menuntut ‘penerjemahan’ serentak kewajiban ‘berdukacita’. Dalam kerangka itu identitas bukan lagi soal ‘batas’ melainkan soal interaksi. Identitas mesti dilihat sebagai sesuatu yang tak pernah final, ber-evolusi dalam saling penerjemahan antar bahasa dan budaya. Penerjemahan adalah pertaruhan yang diwarnai ‘dukacita’ sebab penerjemahan identitas kita oleh pihak lain (eksternal) maupun oleh diri sendiri (internal) selalu hanya sampai pada ‘ekuivalensi tanpa adekuasi’, dan kesenjangan itu tak kan pernah teratasi.
OF BORDERS, DEATH, AND FOOTPRINTS
Mohamad, Goenawan
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 23 No. 3 (2007)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v23i3.966.347-367
Artikel ini memperbincangkan ambiguitas dan instabilitas makna 'batas' dan 'identitas'. Batas, yang awalnya adalah metafora dari paradigma ruang dalam rangka menetapkan dan mengatur perbedaan, akhirnya cenderung menjadicerita pembekuan dan pemisahan. Melalui telaah atas beberapa novel dan pemikiran filsafat mutakhir, dibahaslah batas dan identitas sebagai permanensi mental yang justru menimbulkan alienasi, juga sebagai kerinduan yang tak pernah terpenuhi dan sebagai pergumulan hegemoni. Lantas pada penghujung artikel ini identitas dilihat bukan sebagai garis pembatas akhir, melainkan sebagai garis depan yang senantiasa terbuka pada kemungkinan baru.