cover
Contact Name
Desti Verani
Contact Email
mail@iphorr.com
Phone
+62895356428751
Journal Mail Official
jurnalpti207@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, 3 Kota Bandar Lampung 5247
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues
ISSN : 28074319     EISSN : 28074122     DOI : https://doi.org/10.56922/pti.v4i2
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan meliputi ilmu keparmasian. Penelitain sesuai tren pengobatan sesuai sumber alam di negara tropis. Pengembangan obat dan pendistribusian kepada pelanggan, dan sesuai aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) - Republik Indonesia
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025" : 5 Documents clear
Analisis kandungan zat pewarna rhodamin b pada perona pipi Febriani, Anggun; Rahmallah, Huriyah Tsabitah
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i2.2952

Abstract

Background: One of the essential needs of women is cosmetics. One of the most frequently used cosmetic products is blush. Blush comes in a variety of colors, with common colors ranging from pink to dark red. Therefore, it is suspected that there is still widespread misuse of dangerous red dyes such as Rhodamine B, especially in blushes not registered with the Food and Drug Monitoring Agency (BPOM). Purpose: To determine the presence of Rhodamine B in blush samples not registered with BPOM. Method: This observational study used the Rhodamine B Rapid Test Kit and UV-Vis Spectrophotometry. The samples used in this study were four different brand names of blushes sold in Pringsewu Regency, not registered with BPOM. Results: Of the four blush samples (B1, B2, B3, and B4), one unregistered blush sample (B2) tested positive for Rhodamine B at a concentration of 0.023%. Conclusion: Rhodamin B is still found in unregistered BPOM blushes circulating in the Pringsewu Regency area.   Keywords: Blush; Rapid Test Kit; Rhodamine B; UV-Vis Spectrophotometry.   Pendahuluan: Salah satu kebutuhan penting bagi seorang wanita adalah kosmetik. Sediaan kosmetik yang sering digunakan oleh wanita yaitu salah satunya perona pipi. Kosmetik perona pipi umumnya memiliki warna yang beraneka ragam, salah satu warna yang umum dipasaran yaitu warna merah muda sampai merah tua, sehingga diduga masih banyak penyalahgunan zat pewarna merah berbahaya seperti Rhodamin B terutama pada perona pipi yang tidak terdaftar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tujuan: untuk mengetahui apakah terdapat kandungan zat pewarna Rhodamin B pada sampel perona pipi yang tidak terdaftar BPOM. Metode: Penelitian ini dilakukan secara observasional dengan menggunakan metode pengujian dengan Rapid Test Kit Rhodamin B dan Spektrofotometri UV-Vis. Sampel dalam penelitian ini adalah perona pipi yang beredar di daerah Kabupaten Pringsewu yang berjumlah empat sampel perona pipi yang tidak terdaftar BPOM dengan merek berbeda. Hasil: Menunjukkan dari empat sampel perona pipi dengan kode (B1, B2, B3, B4) didapatkan satu sampel perona pipi tidak terdaftar BPOM dengan kode (B2) positif mengandung Rhodamin B dengan kadar sebesar 0.023%. Simpulan: terdapat Rhodamin B yang masih ditemukan pada perona pipi tidak terdaftar BPOM yang beredar di daerah Kabupaten Pringsewu.   Kata kunci:  Perona Pipi; Rapid Test Kit; Rhodamin B; Spektrofotometri UV-Vis.
Efektivitas konsumsi "iron-rich cookies" berbasis tepung biji kecipir dan modifikasi fermentasi serealia sebagai upaya penurunan prevalensi anemia defisiensi besi Nurvitasari, Rifzi Devi; Cahyaningrum, Descha Giatri; Dinata, Gallyndra Fatkhu
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i2.2962

Abstract

Background: Iron deficiency anemia among adolescent girls is a reproductive health challenge that requires functional food interventions based on local wisdom. Purpose: To evaluate the effectiveness of a functional food intervention through the provision of "Iron-Rich Cookies" based on winged bean seeds (Psophocarpus tetragonolobus) on the hemoglobin (Hb) levels of female college students. Method: This study employed a quasi-experimental method with a pre-post test control group design involving 30 respondents randomly divided into intervention and control groups. The intervention product was processed using modified cereal fermentation to enhance mineral bioavailability. Results: The product contained 18.2 mg/100g of Iron (Fe), 16.5% protein, and 485.0 kcal of total energy. Modification through the fermentation process was proven effective in reducing phytic acid levels by 65%, reaching 145.2 mg, which optimized mineral bioavailability. Clinically, the intervention group showed a significant increase in Hb levels of 2.1 g/dL (p<0.001), compared to the control group which only increased by 0.2 g/dL. The product demonstrated high acceptability (score of 4.2) and a compliance rate of 96.7% with no reported gastrointestinal side effects. Conclusion: "Iron-Rich Cookies" are effective in significantly increasing hemoglobin levels. Utilizing the agricultural potential of winged bean seeds through the synergy of midwifery and food technology is highly recommended as an independent and sustainable preventive solution for anemia in adolescent girls.   Keyword: Anemia; Functional Food; Hemoglobin; Iron; Winged Bean.   Pendahuluan: Anemia defisiensi besi pada remaja putri merupakan tantangan kesehatan reproduksi yang memerlukan intervensi pangan fungsional berbasis kearifan lokal. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas intervensi pangan fungsional melalui pemberian "Iron-Rich Cookies" berbasis biji kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) terhadap kadar hemoglobin (Hb) mahasiswi. Metode: Quasi-eksperimen dengan rancangan pre-post test control group design pada 30 responden yang dibagi secara acak ke dalam kelompok intervensi dan kontrol. Produk intervensi diolah dengan modifikasi fermentasi serealia untuk meningkatkan bioavailabilitas mineral. Hasil: Produk mengandung Fe sebesar 18,2 mg/100 g, protein 16,5%, dan energi total 485,0 kkal. Modifikasi melalui proses fermentasi terbukti efektif mereduksi kadar asam fitat sebesar 65% hingga mencapai 145,2 mg, yang mengoptimalkan bioavailabilitas mineral. Secara klinis, kelompok intervensi menunjukkan peningkatan kadar Hb yang signifikan sebesar 2,1 g/dL (p<0,001), dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya mengalami kenaikan 0,2 g/dL. Produk ini memiliki akseptabilitas tinggi (skor 4,2) dan tingkat kepatuhan 96,7% tanpa adanya laporan efek samping gastrointestinal. Simpulan: "Iron-Rich Cookies" efektif meningkatkan kadar hemoglobin secara signifikan. Pemanfaatan potensi agraris biji kecipir melalui sinergi kebidanan dan teknologi pangan ini layak direkomendasikan sebagai solusi preventif anemia yang mandiri dan berkelanjutan bagi remaja putri.   Kata Kunci; Anemia; Biji Kecipir; Hemoglobin; Pangan Fungsional; Zat Besi.
Hubungan pelayanan informasi obat dengan tingkat kepatuhan pasien diabetes melitus tipe-2 Tyas, Iga Putris Ayuning; Rahmallah, Huriyah Tsabitah
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i2.2969

Abstract

Background: Drug information services have the benefit of improving patient compliance in rational medication use. Providing drug information services is crucial for improving patients' quality of life and providing quality healthcare. Quality of life and quality of healthcare can be reduced as a result of non-adherence to treatment programs. Purpose: To determine the relationship between drug information services and compliance in patients with type 2 diabetes mellitus. Method: This analytical study used a quantitative approach. The population in this study were outpatients with type 2 diabetes mellitus at Az-Zahra Kalirejo General Hospital. The sampling technique used was purposive sampling, with a sample size of 81 patients. Data collection used a questionnaire. Analysis used parametric tests (Pearson correlation) to determine the relationship between variables. Results: 40 patients (49.4%) received adequate drug information services, 34 patients (42.0%) received moderate compliance, and a Pearson correlation value of 0.024 (p <0.05) was obtained. Conclusion: There is a relationship between drug information services and the level of compliance of type 2 diabetes mellitus patients.   Keywords: Compliance; Correlation; Diabetes Mellitus Type-2; Drug Information Services.   Pendahuluan: Pelayanan informasi obat memiliki salah satu manfaat yaitu meningkatkan kepatuhan pasien dalam penggunaan obat yang rasional oleh pasien.  Pemberian pelayanan informasi obat sangat penting untuk meningkatkan standar kualitas hidup pada pasien dan memberikan layanan kesehatan berkualitas kepada pasien. Kualitas hidup dan layanan kesehatan berkualitas dapat mengalami penurun sebagai akibat dari ketidakpatuhan terhadap program pengobatan Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pelayanan informasi obat dengan kepatuhan pasien diabetes melitus tipe-2. Metode: Penelitian analitik dengan metode pendekatan kuantitatif. Populasi pada penelitian ini pasien diabetes melitus tipe-2 di rawat jalan Rumah Sakit Umum Az-Zahra Kalirejo. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 81 pasien. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis menggunakan uji parametrik (pearson corelation) untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil: Menunjukan bahwa pelayanan informasi obat yang diberikan dengan kategori cukup sebanyak 40 pasien (49.4%), tingkat kepatuhan tergolong sedang sebanyak 34 pasien (42.0%) dan didapatkan nilai korelasi pearson signifikansi sebesar 0.024 (p <0.05). Simpulan: Terdapat hubungan pelayanan informasi obat dengan tingkat kepatuhan pasien diabetes melitus tipe-2.   Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe-2; Hubungan; Kepatuhan; Pelayanan Informasi Obat.
Pengetahuan perawatan hipertensi dan perilaku cerdik pada pasien hipertensi Kohir, Dedek Saiful; Izumi, Calvina Chyntia; Sulastri, Sulastri; Saraswati, Ni Putu Ayu Melianita
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i2.3097

Abstract

Background: Hypertension is a condition where systolic blood pressure exceeds 140 mmHg and/or diastolic blood pressure exceeds 90 mmHg, or if a person is undergoing treatment with antihypertensive medication to control their blood pressure. In 2024, at the Hajimena Community Health Center, hypertension was the second most common disease after influenza, with 4,845 cases of hypertension in the productive age group (15-59 years). Purpose: To determine the characteristics and their relationship with knowledge of hypertension treatment and intelligent behavior in hypertensive patients in Simbaringin Hamlet, within the Hajimena Community Health Center's working area, South Lampung Regency. Method: This was a descriptive study with a cross-sectional design. The study population, consisting of 56 hypertensive patients in Simbaringin Hamlet, was selected using a purposive sampling technique. Data collection was conducted on May 26-29, 2025. The research instruments used were the Hypertension Knowledge Level Scale (HK-LS) questionnaire and the CERDIK behavior questionnaire. Results: The analysis showed a significant relationship between age and knowledge and CERDIK behavior (p < 0.05), education and CERDIK behavior. Education and knowledge, gender, and occupation were not significantly related to knowledge and CERDIK behavior (p > 0.05). Conclusion: This study shows that the majority of hypertension patients in Simbaringin Hamlet, Hajimena Community Health Center, have a good level of knowledge about hypertension and demonstrate good CERDIK behavior. These results indicate that the health education provided has sufficiently reached a large portion of the community, and that hypertension patients are taking concrete action to prevent complications.   Keywords: CERDIK Behavior; Hypertension; Knowledge.   Pendahuluan : Hipertensi merupakan suatu kondisi ketika tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg dan/atau tekanan diastolic melebihi 90 mmHg, atau apabila seseorang sedang menjalani pengobatan dengan obat antihipertensi untuk mengontrol tekanan darahnya. Pada tahun 2024 di Puskesmas Hajimena penyakit hipertensi menjadi penyakit nomor 2 setelah influenza dengan kasus hipertensi sebanyak 4.845 jiwa dengan usia produktif (15-59 tahun) Tujuan:  Mengetahui karakteristik dan hubungannya dengan pengetahuan perawatan hipertensi dan perilaku cerdik pada pasien hipertensi di Dusun Simbaringin, wilayah kerja Puskesmas Hajimena, Kabupaten Lampung Selatan.. Metode: Penelitian deskriptif  dengan desain penelitian pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian penderita hipertensi di Dusun Simbaringin  sebanyak 56 responden yang dipilih dengan menggunakan  teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada 26-29 Mei 2025. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Hypertension Knowledge Level Scale (HK-LS) dan kuesioner perilaku Cerdik Hasil:  Hasil analisis menunjukkan  ada hubungan yang bermakna antara umur dengan penegetahuan dan perilaku cerdik (p < 0,05), Pendidikan dengan perilaku cerdik, semantara Pendidikan dengan pengetahuan, Jenis kelamin dan pekerjaan tidak berhubungan secara signifikan  dengan  dengan penegetahuan dan perilaku cerdik (p > 0,05. Simpulan: Penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar pasien hipertensi di Dusun Simbaringin, Puskesmas Hajimena memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai hipertensi dan memiliki  perilaku CERDIK yang baik. Hasil ini menggambarkan bahwa edukasi kesehatan yang diberikan telah cukup menjangkau sebagian besar masyarakat dan terdapat tindakan nyata dari pasien hipertensi untuk mencegah terjadinya komplikasi.   Kata Kunci: Hipertensi; Pengetahuan; Perilaku CERDI.
Studi kasus asuhan keperawatan pada pasien pneumonia dengan diagnosa sekunder hypertensive hearth disease Sriwiyati, Lilik; Christina, Tri Yahya; Safaruddin, Safaruddin; Andika, I Putu Juni
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i2.3226

Abstract

Background: Pneumonia is the leading cause of death among children under five years of age. In addition to infants, the elderly and individuals with weakened immune systems are also highly susceptible to pneumonia. The incidence of pneumonia in Indonesia is on the rise. The prevalence of pneumonia in Java Province remains quite high, warranting serious attention. Nursing care for patients with pneumonia is essential, given that this disease is quite serious and significantly impairs the patient’s ability to meet the body’s oxygen needs. Purpose: To analyze nursing care for patients with pneumonia and a secondary diagnosis of hypertensive heart disease, covering the assessment, establishment of nursing diagnoses, interventions, implementation, and evaluation. Method: This study is a descriptive-analytical study using a case study approach. The purpose of the study is to describe the implementation of nursing care for a patient with pneumonia and a secondary diagnosis of hypertensive heart disease. The subject of the case study was one patient with pneumonia. Data analysis was performed using descriptive analysis.. Results: A patient with pneumonia and a secondary diagnosis of hypertensive heart disease presented with signs and symptoms of shortness of breath, chest heaviness, palpitations, and weakness; blood pressure readings indicated stage 1 hypertension. ECG revealed sinus rhythm with first-degree AV block, alternating episodes of TAVB with junctional escape rhythm and multiple PJCs; blood gas analysis indicated compensated metabolic acidosis; the P/F ratio indicated mild respiratory failure; chest X-ray showed pneumonia; and the chest X-ray revealed cardiomegaly accompanied by aortosclerosis. Based on these findings, the nursing diagnoses were established as impaired gas exchange and decreased cardiac output. The established SLKI (Specific Nursing Interventions) were acid-base balance and increased cardiac output. The established SIKI (General Nursing Interventions) were respiratory monitoring and cardiac care. Conclusion: Following treatment of a patient with pneumonia and a secondary diagnosis of hypertensive heart disease, who presented with gas exchange abnormalities and reduced cardiac output, the patient was able to achieve acid-base balance and an increased cardiac output.   Keywords: Hypertensive Heart Disease; Nursing Care; Pneumonia.   Pendahuluan: Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada anak di bawah usia lima tahun. Selain pada balita, lansia dan individu dengan sistem imun yang rendah juga sangat rentan menderita pneumonia. Kejadian pneumonia di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan. Prevalensi pneumonia di Provinsi Jawa masih cukup tinggi sehingga memerlukan perhatian serius. Asuhan keperawatan pada pasien dengan pneumonia sangat diperlukan mengingat penyakit ini cukup serius dan sangat mengganggu kemampuan pasien dalam memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Tujuan: Untuk menganalisis asuhan keperawatan pada pasien pneumonia dengan diagnosa sekunder hypertensive hearth disease mulai dari pengkajian, penegakan diagnose keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Metode: Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan studi kasus. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien pneumonia dengan diagnose sekunder hypertensive hearth disease. Subyek studi kasus adalah satu pasien dengan pneumonia. Analisa data menggunakan analisis deskriptif. Hasil: Pasien dengan pneumonia dengan diagnose sekunder hypertensive hearth disease didapatkan tanda dan gejala sesak nafas, dada terasa berat, jantung berdebar-debar, tubuh terasa lemah, tekanan darah menunjukkan hipertensi derajat 1, EKG didapatkan Irama sinus dengan AV block derajat 1, alternating episode TAVB dengan irama lolos junctional dengan multiple PJC, analisa gas darah menunjukkan asidosis metabolic terkompensasi, P/F rasio menunjukkan gagal napas ringan, rontgen thorax menunjukkan pneumonia, thorax menunjukkan cardiomegaly disertai aortosclerosis. Berdasarkan data tersebut ditegakkan masalah keperawatan gangguan pertukaran gas dan penurunan cardiac output. SLKI yang ditegakkan adalah keseimbangan asam basa dan curah jantung meningkat. SIKI yang ditegakkan adalah pemantauan respirasi dan perawatan jantung. Simpulan: Setelah dilakukan perawatan pada pasien pneumonia dengan diagnosa sekunder hypertensive hearth disease dengan masalah pertukaran gas dan penurunan cardiac output, pasien mampu mencapai keseimbangan asam basa dan mencapai cardiac output yang meningkat.   Kata Kunci: Asuhan Keperawatan; Hypertensive Hearth Disease; Pneumonia.

Page 1 of 1 | Total Record : 5