Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENYULUHAN DAN PENGENALAN SKRINING STROKE DENGAN METODE BE-FAST BAGI WARGA BULU: Counseling and introduction of screening stroke with the be-fast method for the citizens of Bulu Andika*, I Putu Juni; Sriwiyati, Lilik; Safaruddin; Christina, Tri Yahya
JAMAS : Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Forind Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62085/jms.v2i2.131

Abstract

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa 15 juta penderita disetiap tahun, dengan sepertiga dari jumlah penderita meninggal dunia dan sepertiga lainnya mengalami ketidaknormalan atau kecacatan, sehingga menjadi beban tersendiri bagi keluarga, masyarakan dan komunitas. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang efektif dalam mengetahui tanda dan gejala dari stroke, salah satunya dengan metode “BE-FAST” (Balance, Eyes, Face, Arm, Speech, Time). Kegiatan ini bertujuan untuk memberi peningkatan pengetahuan bagi masyarakat Desa Bulu, Polokarto, Sukoharjo tentang deteksi dini penyakit stroke dengan metode “BE-FAST”. Pelatihan ini menerapkan pendidikan kesehatan kepada 23 peserta (n= 23), laki-laki 8 (34,78%) dan perempuan 15 (43,78%). Penilaian hasil pengetahuan tentang stroke dilakukan dengan cara penilaian sebelum dan sesudah dengan menggunakan metode BE-FAST dengan hasil sebelum: pengetahuan buruk 13 (78%), pengetahuan sedang 7 (14%) dan baik 2 (6%) sedangkan hasil sesudah: pengetahuan buruk 0 (0%), pengetahuan sedang 10 (26%) dan baik 13 (674%). Kesimpulan dari program deteksi stroke dengan metode BE-FAST terjadi perubahan yang signifikan dengan pengetahuan sebelum dan sesudah penerapan metode BE-FAST. Penguatan melalui pelatihan serupa dengan berbagai metode yang lebih kreatif dan inovatif perlu dilakukan untuk mencegah kematian dini pada penderita stroke.
Pesantren Sehat: Membangun Generasi Muda yang Peduli Kesehatan melalui Pembentukan Kader Kesehatan Remaja Sebaya Christina, Tri Yahya; Sri Yulianti, Tunjung; Sriwiyati, Lilik; Safaruddin; Juni Andika, I Putu; Catur Sukmono, Antonius; Wianti, Sri; Sandramustika, Agustina
LOSARI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : LOSARI DIGITAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53860/losari.v6i2.397

Abstract

Abstract. Mentoring adolescent students who are in a period of physical and psychological preservation is very important. This community service aims to form adolescent health cadres to build a young generation who care about health through peer cadres Kholifatullah Singo ludiro Islamic Boarding School. Considering that they are far from their families and live with fellow students of the same age. The method used is cadre formation and training. Cadres are formed from active students and the students' willingness to become peer adolescent health caders. Cadres are equipped with knowledge and skills through training related to adolescent health, basic care skills, and Focus Group Discussions (FGD) as provisions for cadres to be critical of students' health problems and increase cadres' self-confidence in providing education and motivation. The results obtained were the formation of 10 peer adolescent health cadres, consisting of 3 male cadres and 7 female cadres. These results are in accordance with the needs of the Islamic boarding school where most of the health problems, both physical and psychological, found were from female students. The results of the activity also showed an increase in knowledge and skills of cadres related to adolescent health. As students who do not yet have a background in health knowledge, cadres show a good understanding of adolescent health after receiving training. With the formation of cadres who have knowledge and skills related to adolescent health, cadres can become quality promotive, preventive, curative and rehabilitative for the health of adolescents of the same age as students. Keywords: Health Cadres; Healthy Islamic Boarding School; Youth Cadres; Youth Abstrak. Pendampingan remaja santri yang sedang dalam masa peralihan baik fisik maupun psikologis sangat penting. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membentuk kader kesehatan remaja sebaya santri untuk membangun generasi muda yang peduli kesehatan melalui kader sebaya Pesantren Kholifatullah Singo ludiro. Mengingat mereka jauh dengan keluarga dan tinggal bersama sesama santri sebaya. Metode yang digunakan adalah pembentukan kader dan pelatihan. Kader dibentuk dari santri yang aktif serta kesuka relaan dari santri untuk menjadi kader kesehatan remaja sebaya. Kader dibekali pengetahuan dan keterampilan/ skill melalui pelatihan terkait kesehatan remaja, keterampilan perawatan dasar, serta Focus Group Discussion (FGD) sebagai bekal kader untuk kritis terhadap masalah kesehatan santri serta meningkatkan kepercayaan diri kader dalam memberikan edukasi dan motivasi. Hasil yang didapat adalah terbentuknya 10 kader kesehatan remaja sebaya, dimana terdiri dari 3 kader laki- laki dan 7 kader perempuan. Hasil ini sesuai dengan kebutuhan Pesantren dimana sebagian besar permasalahan kesehatan baik fisik maupun psikologis yang ditemukan adalah dari santri perempuan. Hasil kegiatan juga menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan maupun keterampilan/skill kader terkait kesehatan remaja. Sebagai santri yang belum memiliki latar belakang pengetahuan kesehatan, kader menunjukkan pemahaman yang baik terkait kesehatan remaja setelah mendapat pelatihan. Dengan terbentuknya kader yang memiliki pengetahuan dan keterampilan/skill terkait kesehatan remaja, kader dapat menjadi promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang berkualitas untuk kesehatan remaja sebaya santri. Kata kunci: Kader Kesehatan; Kader Remaja; Pesantren Sehat; Remaja
PESANTREN SEHAT “DETEKSI DINI ANEMIA PADA REMAJA DI PESESANTREN KHOLIFATULLAH SINGOLODIRO LABAN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO JAWA TENGAH”: PESANTREN SEHAT “DETEKSI DINI ANEMIA PADA REMAJA DI PESESANTREN KHOLIFATULLAH SINGOLODIRO LABAN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO JAWA TENGAH” Safaruddin, Safaruddin; Christina, Tri Yahya; Juni Andika, I Putu; Jumatul , Ana; Sukmono, Antonius Catur; Sapta, Monika Wulan; Purnamawati, Fitriani
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2025): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v4i2.409

Abstract

Program Pesantren Sehat lahir untuk meningkatkan kesehatan santri melalui perbaikan sanitasi, akses layanan kesehatan, dan edukasi gizi. Anemia menjadi masalah utama remaja, khususnya santri putri, yang berdampak pada tumbuh kembang dan prestasi belajar. Deteksi dini anemia penting dilakukan di pesantren guna mendukung pencapaian SDGs dan mencegah dampak jangka panjang. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat bertema Pesantren Sehat: Deteksi Dini Anemia pada Remaja dilaksanakan di Pesantren Kholifatullah, Mojolaban, Sukoharjo. Tujuan kegiatan ini mengidentifikasi secara dini kasus anemia, sehingga dapat dilakukan intervensi cepat dan tepat guna mencegah dampak negatif yang ditimbulkan. Metode pemeriksaan anemia pada remaja melalui skrining kadar hemoglobin. Responden terdiri dari remaja awal (9,4%), pertengahan (30,2%), dan akhir (60,4%). Dari 106 remaja putri, 63,2% memiliki hemoglobin normal, dan 36,8% tidak normal. Dapat disimpulkan Pesantren Sehat dengan fokus deteksi dini anemia adalah langkah penting untuk meningkatkan kesehatan remaja putri. Tingginya kasus anemia menunjukkan perlunya intervensi gizi dan edukasi berkelanjutan. Program ini berpotensi direplikasi di pesantren lain sebagai upaya mendukung SDGs. Kata kunci: anemia; hemoglobin; pesantren sehat; remaja The pesantren sehat (healthy islamic boarding school) program was established to improve the health of students (santri) through improved sanitation, access to health services, and nutrition education. Anemia has become a major health issue among adolescents, particularly female students, as it impacts their physical growth and academic performance. Early detection of anemia in pesantren is essential to support the achievement of the sustainable development goals (SDGs) and to prevent long-term impacts. Therefore, a community service program with the theme pesantren sehat: early detection of anemia in adolescents was carried out at pesantren kholifatullah, mojolaban, sukoharjo. The aim of this program was to identify anemia cases early so that quick and appropriate interventions can be taken to prevent the negative impacts caused. Anemia screening among adolescents through hemoglobin level testing. The result showed that respondents consisted of early adolescents (9.4%), middle adolescents (30.2%), and late adolescents (60.4%). Of the 106 female adolescents, 63.2% had normal hemoglobin levels, and 36.8% had abnormal levels. It can be conclude that Pesantren sehat, with a focus on early detection of anemia, is an important step to improve the health of adolescent girls. The high prevalence of anemia indicates the need for ongoing nutritional interventions and health education. This program has the potential to be replicated in other pesantren as part of efforts to support the SDGs. Keywords: Anemia; hemoglobin; healthy pesantren; adolescents
A qualitative description of nurses' problems to monitor and supervise vital signs in COVID-19 patients in isolation room Christina, Tri Yahya; Ismail, Suhartini; Erawati, Meira
Jurnal Ners Vol. 17 No. 2 (2022): OCTOBER 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jn.v17i2.33638

Abstract

Introduction: Changes and deterioration of the condition of Corona Virus Disease-19 (COVID-19) patients are unknown and can even lead to the death of the patient in the isolation room. This study focuses on identifying the problem of nurses monitoring and supervising the vital signs of COVID-19 patients in the isolation room. Methods: A descriptive qualitative study was conducted in January 2022 at a private hospital in Sukoharjo, Central Java. Ten participants who met the inclusion criteria were involved through purposive sampling. The semi-structured interview guidelines were developed by the researcher, and they used them to obtain the data. Interviews were recorded using a recorder device. The data from the interviews were recorded verbatim and analyzed using inductive content analysis following Elo and Kyngas's method. The member checking and thick description were done to maintain the validity of the data. Results: Three main themes were found from the emerging data, including 1) the comparison of nurses and patients is not ideal with patients' conditions that cannot be predicted, 2) personal protective equipment (PPE) and monitoring tools have not reached the appropriateness target, and 3) the demand for high-technology vital sign monitoring devices was not feasible. Conclusions: The problems being faced by the nurses in monitoring and supervising the vital signs of COVID-19 patients in the isolation room need innovative tools. Therefore, it is important for policymakers and related parties to create high-technology solutions for the isolation rooms to improve nursing service effectively and ensure the safety for patients and the nurses.
PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT: UPAYA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT KARDIOVASKULER MELALUI DETEKSI DINI KADAR KOLESTEROL Christina, Tri Yahya; Andika, I Putu Juni; Safaruddin, Safaruddin; Yulianti, Tunjung Sri; Sriwiyati, Lilik; Oktiva, Yayuk Dwi; Fatimah, Khoirunnisa
GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): Mei 2025, GLOBAL ABDIMAS
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/globalabdimas.v5i1.664

Abstract

Kolesterol diperlukan oleh tubuh manusia untuk menghasilkan sel-sel sehat. Namun, kadar kolesterol yang terlalu banyak dalam darah dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler dan penyakit berbahaya lainnya. Penumpukan lemak ini dapat menghalangi aliran darah di arteri, sehingga jantung dan otak serta organ vital lainnya tidak mendapatkan pasokan darah yang kaya oksigen. Oleh sebab itu perlu adanya deteksi dini kadar kolesterol sebagai upaya prefentif. Namun, banyak orang yang enggan menjalani skrining hiperkolesterolemia, dengan alasan yang bervariasi, seperti biaya, sulitnya akses ke lokasi pemeriksaan, keterbatasan fasilitas, dan kendala waktu. Oleh karena itu, penting untuk melaksanakan program pengabdian masyarakat guna memfasilitasi hal ini. Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada hari sabtu 22 Februari 2025 di Soko Bogor, Cawas, Klaten, Jawa Tengah dengan pemeriksaan kolesterol gratis. Tujuh puluh lima peserta mengikuti kegiatan ini. Pemeriksaan dilakukan dengan metode Point Of Care Testing (POCT) menggunakan alat Easy Touch GCU. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar (33,33%) peserta adalah lansia akhir berusia 56 – 65 th, 72% peserta adalah Perempuan, dan 33,33% peserta memiliki BB antara 50-60 Kg. Pemeriksaan kolesterol mendapatkan hasil: 48% peserta normal dan 52% peserta mengalami hiperkolesterol, dimana 17,94% peserta yang mengalami hiperkolesterol adalah laki- laki dan 79,48 peserta adalah perempuan. Hasil ini menyimpulkan bahwa sebagian besar warga yang mengikuti kegiatan pengabmas mengalami hiperkolesterol, yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskuler dan PTM lainnya. Oleh sebab itu perlu adanya interfensi lebih lanjut sebagai pencegahan penyakit kardiovaskuler
Pengaruh terapi mindfulness terhadap tingkat stres pada pasien hipertensi: A systematic review Safaruddin, Safaruddin; Christina, Tri Yahya; Sriwiyanti, Lilik; Handayani, Wiwik; Sakinah, Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1971

Abstract

 Background: Mindfulness therapy is a therapeutic approach that uses mindful practice to help individuals manage their thoughts, emotions, and bodily sensations in a healthy manner. Techniques such as compressions and mindful breathing have been shown to be effective in reducing stress levels, improving cognitive function, and supporting the management of chronic diseases such as hypertension. Purpose: To analyze the effect of mindfulness therapy on stress levels in patients with hypertension. Method: A systematic review and meta-analysis were designed to explore the relationship between mindfulness therapy, stress levels, and hypertension. Articles were selected based on PICO eligibility criteria and retrieved from three major databases: PubMed, Google Scholar, and ScienceDirect. Keywords used included "Mindfulness Therapy" AND "Stress Levels" AND "Hypertension" AND "Randomized Control Trial" AND "Healthcare." Inclusion criteria included full-text articles with a quasi-experimental study design published between 2010 and 2024. Article analysis was performed using PRISMA charts and Review Manager (RevMan) software version 5.3. Result: A meta-analysis of 10 articles from various countries, including India, Iran, the United Kingdom, the United States, and New Zealand, showed that mindfulness therapy has a positive effect on reducing stress levels in hypertensive patients. This therapy demonstrated an effect size of 0.23 times (Mean Difference = 0.23; 95% CI = -0.54-0.07; p <0.13). Furthermore, the relatively balanced distribution of effect estimates indicates no bias, as demonstrated by the balance between the left and right plots. Conclusion: Mindfulness therapy is increasingly recognized as an effective complementary therapy in the management of chronic diseases such as hypertension. Suggestion: Health workers are advised to integrate mindfulness therapy as a complementary approach in managing hypertension.   Keywords: Hypertension; Healthcare; Mindfulness Therapy; Stress Levels.   Pendahuluan: Terapi mindfulness merupakan suatu pendekatan terapeutik yang menggunakan latihan kesadaran penuh untuk membantu individu mengelola pikiran, emosi, dan sensasi tubuh secara sehat. Teknik seperti meditasi dan pernapasan sadar terbukti efektif dalam menurunkan tingkat stres, meningkatkan fungsi kognitif, serta mendukung pengelolaan penyakit kronis seperti hipertensi. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh terapi mindfulness terhadap tingkat stres pada pasien hipertensi. Metode: Systematic review dan meta-analysis yang dirancang untuk mengevaluasi hubungan antara terapi mindfulness, tingkat stres, dan hipertensi. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria kelayakan PICO dan diperoleh dari tiga basis data utama, yaitu PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect. Kata kunci yang digunakan meliputi “Mindfulness Therapy” AND “Stress Levels” AND “Hypertension” AND “Randomized Control Trial” AND “Health Services.” Kriteria inklusi mencakup artikel full-text dengan desain penelitian quasi-experimental yang dipublikasikan pada periode 2010–2024. Analisis artikel dilakukan menggunakan diagram PRISMA dan perangkat lunak Review Manager (RevMan) versi 5.3. Hasil: Meta-analisis terhadap 10 artikel dari berbagai negara, antara lain Indonesia, India, Iran, Inggris, Amerika Serikat, dan Selandia Baru, menunjukkan bahwa terapi mindfulness memberikan pengaruh positif dalam menurunkan tingkat stres pada pasien hipertensi. Terapi ini menunjukkan ukuran efek sebesar 0.23 kali (Mean Difference=0.23; 95% CI=−0.54-0.07; p<0.13). Selain itu, sebaran estimasi efek yang relatif seimbang menunjukkan tidak adanya bias, yang ditunjukkan oleh keseimbangan antara plot kiri dan kanan pada analisis. Simpulan: Terapi mindfulness semakin diakui sebagai terapi pendamping yang efektif dalam penatalaksanaan penyakit kronis seperti hipertensi. Saran: Tenaga kesehatan disarankan untuk mengintegrasikan terapi mindfulness sebagai pendekatan komplementer dalam penatalaksanaan hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Layanan Kesehatan; Terapi Mindfulness; Tingkat Stres.
Evaluasi pelaksanaan pemantauan early warning score di tatanan perawatan medikal bedah Christina, Tri Yahya; Putri, Rosalia Dian Arsyta; Safaruddin, Safaruddin; Sriwiyati, Lilik; Andika, I Putu Juni; Yulianti, Tunjung Sri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1990

Abstract

Background: Deterioration in the condition of hospitalized patients is common and can have a more serious prognosis. Therefore, accurate and continuous monitoring of vital signs is crucial. The Early Warning Score (EWS) was developed as an effort to detect deterioration in patient condition early. Comprehensive and continuous EWS parameters, supported by clear implementation standards, are expected to save patients from deteriorating conditions. However, in medical-surgical care practices in Indonesia, the implementation of EWS monitoring still faces various obstacles that have the potential to delay early detection of patient deterioration, thus impacting patient safety. Therefore, an evaluation is needed. Purpose: To evaluate the implementation of Early Warning Score (EWS) monitoring in medical-surgical care settings. Method: This is a mixed-methods study with an exploratory sequential design. The sample consisted of 130 medical records and eight nurses who met the inclusion criteria. The medical record data obtained were analyzed using univariate analysis, while interview results were analyzed using content analysis. Results: The completeness of the EWS form remained at 44%, the accuracy of monitoring frequency was 12%, and the accuracy of the total score calculation was 3.8%. Several parameters contributing to the low level of form completeness include: blood sugar, which yielded a relatively low score (65%), followed by monitoring date (75%), level of consciousness (84%), monitoring frequency (86%), escalation scale (88%), initials (88%), blood pressure (89%), total score (89%), and suboptimal temperature (90%). These results align with the interview results, which yielded four themes: monitoring compliance, documentation compliance, appropriateness of temperature parameters, and non-specific EWS forms. Conclusion: Implementation of EWS monitoring in medical-surgical care settings still faces challenges that impact the effectiveness of the early warning system for patient deterioration. The study findings indicate a potential need for updating and/or developing the EWS system to meet hospital needs.   Keywords: Documentation; Early Warning System; Medical Surgical Nursing; Monitoring.   Pendahuluan: Penurunan kondisi pasien di rawat inap sering terjadi, bahkan memiliki proknosis yang lebih serius. Oleh sebab itu, pemantauan tanda-tanda vital yang akurat dan berkesinambungan sangat diperlukan. Early Warning Score (EWS) dikembangkan sebagai upaya untuk mendeteksi perburukan kondisi pasien sejak dini. Parameter EWS yang lengkap dan berkesinambungan yang didukung dengan standar implementasi yang jelas, diharapkan mampu menyelamatkan pasian dari kondisi yang lebih buruk. Namun, dalam praktik perawatan medikel bedah di Indonesia, pelaksanaan pemantauan EWS masih menghadapi berbagai kendala yang berpotensi menunda deteksi dini perburukan kondisi pasien yang berdampak pada keselamatan pasien. Oleh karena itu, evaluasi diperlukan. Tujuan: Untuk mengevaluasi pelaksanaan pemantauan Early Warning Score (EWS) dalam tatanan perawatan medikal bedah. Metode: Penelitian mixed-method dengan explanatory sequential design. 130 rekam medis dan 8 perawat yang sesuai kriteria inklusi diambil sebagai sampel. Data rekam medis yang diperoleh diolah secara univariat, sedangkan hasil wawancara diolah berdasar metode content analysis. Hasil: Kelengkapan pengisian formulir EWS masih mencapai 44%, ketepatan frekuensi monitoring 12%, dan ketepatan perhitungan total skor 3.8%. Beberapa parameter yang menyebabkan rendahnya tingkat kelengkapan pengisian formulir antara lain: parameter gula yang memberikan angka cukup rendah (65%), diikuti oleh tanggal pengjakian (75%), tingkat kesadaran (84%), frekuensi monitor (86%), skala eskalasi (88%), inisial (88%), tekanan darah (89%), total skor (89%), serta parameter suhu yang belum optimal (90%). Hasil ini sejalan dengan hasil wawancara yang menghasilkan 4 tema, yaitu kepatuhan pemantauan, kepatuhan dokumentasi, kesesuaian parameter suhu, dan formulir EWS yang tidak spesifik. Simpulan: Implementasi pemantauan EWS di tatanan praktik perawatan medikal bedah masih menghadapi tantangan yang memengaruhi efektivitas sistem peringatan dini perburukan pasien. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi kebutuhan pembaharuan dan atau pengembangan sistem EWS sesaui kebutuhan rumah sakit.   Kata Kunci: Dokumentasi; Early Warning Score; Medikal Bedah; Pemantauan; Perawatan.
Analysis of documentation quality for early warning score monitoring Inpatient: retrospective observational study Christina, Tri Yahya; Arsyta Putri, Rosalia Dian; Safaruddin, Safaruddin; Sriwiyati, Lilik; Andika, I Putu Juni; Yulianti, Tunjung Sri; Khairunisa, Fatimatuzzahra
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i4.1970

Abstract

Background: One of the vital signs monitoring systems currently being developed in medical-surgical wards is the Early Warning Score (EWS). However, its implementation still needs to be evaluated, given the frequent occurrence of code blues and even deaths in the ward due to delays in recognizing deteriorating patient conditions. Purpose: To determine and analyze the quality of documentation regarding the implementation of EWS monitoring in patient setting. Method: A retrospective survey of patient medical records, supported by an assessment tool. Medical records were collected based on inclusion criteria, namely medical records from both medical and surgical wards. Results: The completeness of the EWS form was still quite low at 44%, with monitoring frequency accuracy at 12%, and total score calculation accuracy at 3.8%. Several important parameters that were incomplete and needed improvement included blood sugar (65%), which was the component with the lowest achievement; level of consciousness (84%), blood pressure (89%), temperature (90%), total score (89%), and escalation scale (88%), which was still suboptimal. Conclusion: The significant gap between the implementation of EWS monitoring and the accuracy of its documentation indicates that nurses' consistent documentation of EWS monitoring needs to be improved. This condition increases the risk of clinical deterioration, delayed intervention, serious complications, and even death. Inaccurate documentation also hinders interprofessional communication and increases the potential for clinical errors. Keywords: Documentation; Early Warning Score; Medical-Surgical Room; Patient Deterioration; Vital Signs.