cover
Contact Name
Rahma Oktavia
Contact Email
mscjournal35@gmail.com
Phone
+6287847363862
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, 3 Kota Bandar Lampung 5247
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Medical Surgical Concerns
ISSN : 27978400     EISSN : 27978419     DOI : https://doi.org/10.56922/msc.v3i1
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang keperawatan medikal bedah pada klien dewasa yang mengalami dan atau cenderung mengalami perubahan fisiologi dengan atau tanpa gangguan struktur tanpa trauma atau penyakit-penyakit yang sering/umum terjadi. Pembahasan berfokus pada konsep dan prinsip keperawatan dengan gangguan fungsi tubuh meliputi gangguan system pernapasan, hematologi, imunologi, muskuloskeletal, penglihatan, THT, kardiovaskular, endokrin, pencernaan, perkemihan dan klien dengan penyakit akut dan kronis. Desain penelitian kuantitatif quasi eksperimen dan sistematik review. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juni dan Desember
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025" : 5 Documents clear
Hubungan mekanisme koping dengan burnout pada perawat I Putu Eka Yoga Pratama; Dewa Putu Arwidiana; Ni Made Nopita Wati
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i2.1380

Abstract

Background: High workload for a long period of time, the risk of contracting diseases from patients, uncomfortable workplaces, lack of time to complete tasks, and ineffective coping mechanisms during work can trigger nurses to experience burnout. Purpose: To determine the relationship of coping mechanisms with burnout in nurses who treat patients. Method: A descriptive correlational study using a cross-sectional approach. The total sampling technique involved a population of 48 people. A questionnaire was used as the instrument. Data were analyzed using the Spearman Rank Test. Results: The study showed that most coping mechanisms were categorized as adaptive coping mechanisms (56.3%), and most nurses had low levels of burnout (58.3%). The analysis showed a p-value of 0.003, indicating a relationship between coping mechanisms and burnout in nurses caring for patients. The correlation strength was 0.424 (moderate strength) with a negative correlation. The results of this study indicate a relationship between coping mechanisms and burnout in nurses, indicating that the quality of coping mechanisms will influence the level of burnout in nurses. Conclusion: It is recommended that nursing departments organize activities that can enhance coping mechanisms, such as family gatherings or capacity building to foster a sense of community.   Keywords: Burnout; Coping Mechanisms; Nurses.   Pendahuluan: Beban kerja yang tinggi dalam jangka waktu yang lama, risiko tertular penyakit dari pasien, tempat kerja yang tidak nyaman, kuranngnya waktu untuk menyelesaikan tugas, dan mekanisme koping yang tidak efektif selama masa bekerja dapat memicu perawat mengalami burnout. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan mekanisme koping dengan burnout pada perawat yang menangani pasien. Metode: Deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik total sampling dengan jumlah populasi sebanyak 48 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji Rank Spearman. Hasil: Mekanisme koping sebagian besar memiliki kategori mekanisme koping adaptif (56.3%), dan sebagian besar perawat memiliki tingkat burnout yang rendah (58.3%). Hasil Analisa menunjukan nilai p=0.003 yang berarti ada hubungan antara mekanisme koping dengan burnout pada perawat yang menangani pasien. Nilai kekuatan korelasi 0.424 (kekuatan sedang) dengan arah korelasi bernilai negatif. Hasil penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara mekanisme koping dengan burnout pada perawat menandakan jika baik buruknya mekanisme koping akan mempengaruhi tinggi rendahnya burnout pada perawat. Simpulan: Bidang perawatan agar mengadakan kegiatan yang bisa meningkatkan mekanisme koping seperti family gatring atau capacity building untuk meningkatkan rasa kebersamaan.   Kata Kunci: Burnout; Mekanisme Koping; Perawat.
Analisis asuhan keperawatan pada pasien dengan kegawatdaruratan sistem kardiovaskuler berbasis teori adaptasi calista roy Lilik Sriwiyati; Utami, Ayuni Rizka; Oktiva, Yayuk Dwi; Wariani, Wiwik
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i2.2042

Abstract

Background: Cardiovascular emergencies are a leading cause of mortality and morbidity in Indonesia and worldwide. Approximately 80% of sudden deaths are caused by coronary heart disease. Nurses play an important role in the management of patients experiencing cardiovascular emergencies. Consistent and comprehensive implementation of the emergency nursing process is key to providing quality nursing care. Purpose: to analyze nursing care for patients with cardiovascular emergencies. Method: A case study design. Data were collected through direct observation, interviews with patients and families, and review of medical records. Variables collected included medical diagnoses, assessment data, physical examination and supporting examination results, problem analysis, interventions, implementation, and nursing evaluation. Results: STEMI patients experience chest pain, shortness of breath, cold sweats, ST elevation on electrocardiography, and elevated troponin levels. The nursing problem identified is ineffective myocardial perfusion. The actions taken included administering nasal cannula oxygen therapy at 3 lpm, recording a 12-lead ECG, administering ASA 300 mg, CPG 300 mg, parenteral fluids, ISDN 5 mg (sublingual), Candesartan 8 mg, inserting a urinary catheter, and observing vital signs. Evaluation after treatment in the ER showed that the problem of ineffective myocardial perfusion was partially resolved, so the patient was admitted to the ICCU for further treatment. Conclusion: Patients with cardiovascular emergencies experience ineffective myocardial tissue perfusion. Patients are given several treatments to address their emergency conditions, including ASA, CPG, ISDN, and Candesartan therapy. Keywords: Cardiovascular System; Emergency Care; Nursing Care.   Pendahuluan: Kegawatdaruratan sistem kardiovaskular merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas utama di Indonesia dan di dunia. Sekitar 80% kematian mendadak disebabkan oleh penyakit jantung coroner. Perawat memiliki peran yang penting dalam penanganan pasien yang mengalami kegawatdaruratan sistem kardiovaskular. Penerapan proses keperawatan gawat darurat secara konsisten dan komprehensif menjadi kunci keberhasilan dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. Tujuan: Untuk menganalisis asuhan keperawatan pada pasien kegawatdaruratan sistem kardiovaskuler. Metode: Desain studi kasus. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi langsung, wawancara dengan pasien dan keluarga, serta review rekam medis. Variabel yang dikumpulkan meliputi diagnosa medis, data hasil pengkajian, hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, analisis masalah, intervensi, implementasi, serta evaluasi keperawatan. Hasil: Pasien STEMI mengalami manifestasi nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, Gambaran ST elevasi pada elektrokardiografi, serta adanya peningkatan troponin. Masalah keperawatan yang ditemukan adalah perfusi jaringan miokard tidak efektif. Tindakan yang dilakukan berupa pemberian terapi oksigen nasal canul 3 lpm, perekaman EKG 12 lead, pemberian terapi ASA 300 mg, CPG 300 mg, cairan parenteral, ISDN tab 5 mg (sub lingual), Candesartan 8 mg, pemasangan kateter urin dan observasi TTV. Evaluasi setelah dilakukan perawatan di UGD didapatkan hasil masalah perfusi jaringan miokard tidak efektif teratasi sebagian, maka untuk perawatan lebih lanjut pasien dirawat di ICCU Simpulan. Pasien dengan kegawatdaruratan sistem kardiovaskuler mengalami masalah perfusi jaringan miokard tidak efektif. Pasien diberikan beberapa tindakan untuk menangani kondisi kegawatdaruratannya berupa pemberian terapi ASA, CPG, ISDN, dan Candesartan. Kata Kunci: Asuhan Keperawatan; Kegawatdaruratan; Sistem Kardiovaskuler.
The allergic potential and xenobiotic metabolism of anethole in toothpaste: A scoping review Lina Nur Laili; Muhammad Bintang Fattan
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i2.2134

Abstract

Background: Ingredients that have a role as fragrance and flavoring in toothpaste have the potential to cause allergies and irritation to the body, especially to the mucous tissue in the mouth. Diseases of the oral mucosa are very common: recurrent aphthous stomatitis (recurrent oral ulceration) affects 20% of the population. Therefore, allergenic substances such as anethole toothpaste on the patient's oral symptoms (stomatitis, glossitis, gingivitis, buccal mucositis, burning, pain, and possibly burning mouth syndrome and recurrent aphthous ulcers) are unclear and should be further investigated. Purpose: To investigate and provide further explanation of our body's xenobiotic metabolic reactions to anethole. Method: We collected and analyzed several research journal articles related to the effects of anethole compounds. Results: The majority of articles indicated the role of the tiny anethole as an allergen. The dose of anethole which is generally contained in toothpaste normally is really low so that within an average of 72 hours it is likely to have been completely eliminated from the body's system. Conclusion: Claims of anethole compound C10H12O as a cause of irritation or inflammation are inaccurate and considered too explicit as the main factor causing allergies. Keywords: Allergen; Anethole; Metabolism; Toothpaste;  Xenobiotic.
Hubungan antara konsumsi minuman berkafein dengan pola tidur pada mahasiswa keperawatan Herliana, Sovitri; Murtando, Jelita Ghina
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i2.2135

Abstract

Background: Caffeine in low doses can have positive and negative effects on a person's body. The main pharmacological effect of caffeine is an adenosine receptor antagonist that can affect the function of the central nervous system and can disrupt sleep quality and will affect sleep patterns, sleep should be important to maintain physical, mental and emotional health. Purpose: To determine the relationship between caffeine consumption and sleep patterns. Method: An analytical method with a cross-sectional approach. The population is all students of the Faculty of Nursing class of 2025. With a total sampling technique, a total of 142 students. Data collection methods use primary data and interviews. Results: The 34 students who do not consume caffeine, there are 12 (35.3%) students who have poor sleep patterns, while 22 (64.7%) students have good sleep patterns. Conclusion: There is a significant relationship between caffeine consumption and sleep patterns.   Keywords: Caffeine; Caffeine Consumption; Sleep Patterns.   Pendahuluan: Kafein dalam dosis rendah dapat memiliki efek positif dan negatif pada tubuh seseorang. Efek farmakologis utama kafein adalah antagonis reseptor adenosin yang dapat memengaruhi fungsi sistem saraf pusat dan dapat mengganggu kualitas tidur serta memengaruhi pola tidur, padahal tidur sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosional. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kafein dan pola tidur. Metode: Analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh mahasiswa Fakultas Keperawatan angkatan 2025. Dengan teknik pengambilan sampel total, sebanyak 142 mahasiswa. Metode pengumpulan data menggunakan data primer dan wawancara. Hasil: Dari 34 mahasiswa yang tidak mengonsumsi kafein, terdapat 12 (35.3%) mahasiswa yang memiliki pola tidur buruk, sedangkan 22 (64.7%) mahasiswa memiliki pola tidur baik. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kafein dan pola tidur. Kata Kunci: Kafein; Konsumsi Kafein; Pola Tidur.
Analisa bagan teori human caring model jean watson Ula, Shiva Zakiyatul; Irna Nursanti, Irna Nursanti
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i2.2216

Abstract

Background: The shift in the healthcare paradigm requires nursing practice to focus not only on curative aspects but also on the emotional, social, and spiritual dimensions of patients. Jean Watson’s Human Caring Theory places caring at the core of nursing through a transpersonal relationship between nurses and patients to achieve holistic healing. Purpose: To analyze the application of Jean Watson’s Human Caring Theory in nursing care for post-mastectomy breast cancer patients and to evaluate its contribution to fulfilling patients’ biophysical, psychosocial, and spiritual needs. Method: This study employed a case study design with a holistic nursing approach based on Jean Watson’s Human Caring Theory. Nursing care was provided by integrating the ten Carative Factors into the processes of assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. Results: The application of the Human Caring Theory demonstrated improvements in patients’ psychological and spiritual well-being, as evidenced by reduced anxiety, increased self-acceptance, and the emergence of meaning in life and hope. Additionally, a stronger therapeutic relationship between nurses and patients was established, accompanied by improvements in physical condition and adherence to care. Conclusion: Jean Watson’s Human Caring Theory is effective as a philosophical and ethical foundation for nursing practice, particularly in post-mastectomy patients. This approach supports holistic healing by integrating physical, psychological, social, and spiritual aspects, thereby restoring the essence of nursing as a profession grounded in humanistic values.   Keywords: Human Caring; Nursing; Theory Chart.   Pendahuluan: Pergeseran paradigma pelayanan kesehatan menuntut praktik keperawatan yang tidak hanya berfokus pada aspek kuratif, tetapi juga memperhatikan dimensi emosional, sosial, dan spiritual pasien. Teori Human Caring Jean Watson menempatkan caring sebagai inti keperawatan melalui hubungan transpersonal antara perawat dan pasien guna mencapai penyembuhan holistik. Tujuan: Untuk menganalisis penerapan Teori Human Caring Jean Watson dalam asuhan keperawatan pada pasien kanker payudara pasca mastektomi serta mengevaluasi kontribusinya terhadap pemenuhan kebutuhan biofisikal, psikososial, dan spiritual pasien. Metode: Studi kasus dengan pendekatan keperawatan holistik berdasarkan Teori Human Caring Jean Watson. Asuhan keperawatan diberikan dengan mengintegrasikan sepuluh Carative Factors dalam proses pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan. Hasil: Penerapan Teori Human Caring menunjukkan peningkatan kesejahteraan psikologis dan spiritual pasien, tercermin dari menurunnya kecemasan, meningkatnya penerimaan diri, serta munculnya makna hidup dan harapan. Selain itu, terjalin hubungan terapeutik yang lebih kuat antara perawat dan pasien, disertai perbaikan kondisi fisik dan kepatuhan pasien terhadap perawatan. Simpulan: Teori Human Caring Jean Watson efektif sebagai landasan filosofis dan etis dalam praktik keperawatan, khususnya pada pasien pasca mastektomi. Pendekatan ini mampu mendukung penyembuhan holistik dengan mengintegrasikan aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, serta mengembalikan esensi keperawatan sebagai profesi yang berfokus pada nilai kemanusiaan.   Kata Kunci: Bagan Teori; Human Caring; Keperawatan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5