cover
Contact Name
Irawan Wibisono
Contact Email
irawan.wibisono@uwhs.ac.id
Phone
+62895395190079
Journal Mail Official
jurnal.jipmk@uwhs.ac.id
Editorial Address
UNIVERSITAS WIDYA HUSADA SEMARANG Jln Subali Raya No 12, Kraprak, Semarang Barat Telepon (024) 7612988, Fax (024) 7612944 Email : jurnal.jipmk@uwhs.ac.id
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan
ISSN : 26568640     EISSN : 26847272     DOI : https://doi.org/10.33660/jipmk.v6i2
Core Subject : Health,
merupakan wadah atau sarana yang menerbitkan tulisan ilmiah hasil-hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang ilmu dan teknologi kesehatan yang belum pernah diterbitkan atau sedang dalam proses penerbitan di jurnal-jurnal ilmiah lain. Redaksi berhak merubah tulisan tanpa mengubah maksud atau subtansi dari naskah yang dikirimkan. Naskah yang belum layak diterbitkan dalam JIPMK (Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan) Universitas Widya Husada Semarang, tidak dikembalikan kepada pengirimnya, kecuali atas permintaan penulis yang bersangkutan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020)" : 6 Documents clear
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN KREATIVITAS DENGAN BERMAIN UNTUK MENCEGAH KECEMASAN PADA ANAK DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL PADA ANAK USIA SEKOLAH Niken Sukesi; Heny Prasetyorini; Wahyuningsih Wahyuningsih
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v2i1.23

Abstract

Anak merupakan aset yang tak ternilai harganya. Setiap orang tua menginginkan anaknya sebagai generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan berkarakter baik. Oleh karena itu diperlukan keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri pada anak, sehingga perkembangan otak dapat optimal. Perkembangan anak secara optimal harus diusahakan oleh orang tua, pengasuh dan guru. Banyak sekali penelitian atau pengabdian yang melakukan deteksi dini dan stimulasi pada anak usia dini yaitu pada usia pra sekolah. Seharusnya stimulasipun diberikan kepada semua usia anak, supaya perkembangan menjadi optimal.  Usia Sekolah menjadi dasar penting dalam membentuk karakter pada anak. Karena usia sekolah anak lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya. Pengaruh lingkungan akan membawa dampak lebih banyak dalam mempengaruhi perkembangan anak.Luaran yang ditargetkan ini berupa jasa yaitu meningkatknya kemampuan kognitif dan kreativitas anak SD kelas VI sesuai dengan bidang yang digemari sekaligus adanya motivasi yang postif dari dalam diri anak untuk mewujudkan impian dan cita-cita dimasa yang akan datang.
PKM PELATIHAN BANTUAN HIDUP DASAR KEPADA KADER KESEHATAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KELANGSUNGAN HIDUP KORBAN HENTI JANTUNG DI LUAR RUMAH SAKIT Maulidta Karunianingtyas Wirawati; Dyah Restuning Prihati; Endang Supriyanti
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v2i1.26

Abstract

abstrakRW 10 dan RW 11 kecamatan Ngaliyan Semarang mempunyai jarak 7 km dengan AKPER Widya Husada Semarang yang mempunyai kader kesehatan 45 kader aktif baik di RW 10 dan RW 11. Setiap bulan melakukan penimbangan balita, lansia, pemberian imunisasi yang bekerjasama dengan puskesmas. Berdasakan hasil wawancara, kader kesehatan belum pernah mendapatkan pelatihan bantuan hidup dasar dari puskesmas. Bantuan hidup dasar adalah atau Basic Life Support merupakan usaha yang pertama kali dilakukan untuk mempertahankan kehidupan saat penderita mengalami keadaan yang mengancam nyawa. Bantuan hidup dasar  merupakan salah satu upaya yang harus segera dilakukan oleh seorang apabila menemukan korban yang membutuhkannya seperti pasien dengan henti jantung (cardiac arrest). Tujuan yang akan dicapai dalam pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) kepada kader kesehatan ini adalah terciptanya tenaga awam yang mampu mengenali kondisi henti jantung yang terjadi di masyarakat sekitar dan melakukan upaya CPR sedini mungkin serta upaya rujukan yang cepat dan tepat. Metode pelaksanaan PKM dengan ceramah, Roleplay, observasi dan evaluasi.  Setelah dilakukan Pengabdian masyarakat ini kemampuan kader dalam melakukan bantuan hidup dasar meningkat sehingga di harapkan dapat meningkatkan harapan hidup pada warga yang mengalami henti napas dan henti jantung di luar RS.Kata Kunci : Kader Kesehatan, Bantuan Hidup Dasar abstractRW 10 and RW 11 Ngaliyan Semarang sub-district have a distance of 7 km from AKPER Widya Husada Semarang, which has 45 active health cadres in both RW 10 and RW 11. Each month weighing toddlers, the elderly, immunization in collaboration with puskesmas. Based on the results of the interview, the health cadre had never received basic life support training from the puskesmas. Basic life support is or Basic Life Support is the first attempt made to maintain life when sufferers experience life-threatening conditions. Basic life support is one of the efforts that must be done immediately by someone if they find victims who need it such as patients with cardiac arrest (cardiac arrest). The objective to be achieved in basic life support training (BHD) for health cadres is the creation of lay staff who are able to recognize the condition of cardiac arrest that occurs in the surrounding community and make CPR efforts as early as possible as well as quick and appropriate referral efforts. The method of implementing PKM with lectures, roleplay, observation and evaluation. After this community service, cadres' ability to carry out basic life support increased so that it was hoped that it could increase life expectancy in residents who had stopped breathing and cardiac arrest outside the hospital. Keywords: Health Cadre, Basic Life Aid 
PEMBENTUKAN KELOMPOK PENDUKUNG ASI (KP-ASI) DI RW I KELURAHAN TAMBAKHARJO KECAMATAN SEMARANG BARAT KOTA SEMARANG Indah Sulistyowati; Oktaviani Cahyaningsih; Novita Alfiani
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v2i1.19

Abstract

ABSTRAK ASI (Air Susu Ibu), tak terbantahkan lagi merupakan makanan bayi yang terbaik. ASI tidak dapat digantikan oleh makanan ataupun minuman manapun, karena ASI mengandung zat gizi yang paling tepat, lengkap dan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat. Walaupun demikian masih terdapat kendala dalam pemantauan pemberian ASI Ekslusif karena belum ada sistem yang dapat diandalkan. Selama ini pemantauan tingkat pencapaian ASI Ekslusif dilakukan melalui laporan puskesmas yang diperoleh dari hasil wawancara pada waktu kunjungan bayi di Puskesmas. Pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Kota Semarang telah mencapai target Renstra Kota Semarang (65%). Namun demikian pencapaian dalam program ASI Ekslusif ini harus mendapatkan perhatian khusus dan memerlukan pemikiran dalam mencari upaya-upaya terobosan serta tindakan nyata yang harus dilakukan oleh provider di bidang kesehatan dan semua komponen masyarakat dalam rangka penyampaian informasi maupun sosialisasi guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.Oleh karena itu salah satu usaha yang dapat ditempuh yaitu dengan membentuk kelompok pendukung ASI (KP-ASI). Dimana KP-ASI memiliki peran yang penting untuk membantu ibu berhasil dalam proses menyusui, diantaranya memberikan nasihat praktis kepada ibu-ibu hamil dan menyusui tentang perawatan payudara, cara menyusui yang baik dan benar, manfaat ASI dan menyusui secara eksklusif dan nasehat tentang cara mengatasi permasalahan yang ditemui pada waktu menyusui. Selain itu KP-ASI juga berperan dalam memberikan dukungan psikologis kepada ibu menyusui sehingga menimbulkan rasa percaya diri pada ibu. Kata Kunci : ASI, ASI Eksklusif, KP-ASI ABSTRACT ASI (Mother's Milk), undeniably is the best baby food. Breast milk can not be replaced by any food or drink, because breast milk contains the most appropriate, complete and always adjusts to the baby's needs at all times. Nevertheless there are still obstacles in monitoring exclusive breastfeeding because there is no reliable system. So far, monitoring of the level of achievement of exclusive breastfeeding has been carried out through puskesmas reports obtained from interviews during infant visits at the puskesmas. Exclusive breastfeeding for infants 0-6 months in the city of Semarang has achieved the target of the Renstra of the City of Semarang (65%). However, the achievements in the Exclusive ASI program must receive special attention and require thinking in seeking breakthrough efforts and concrete actions that must be taken by providers in the health sector and all components of the community in the context of information delivery and outreach to increase public knowledge and awareness.Therefore, one of the efforts that can be taken is to form a support group for ASI (KP-ASI). Where the KP-ASI has an important role to help mothers succeed in the process of breastfeeding, including providing practical advice to pregnant and breastfeeding mothers about breast care, how to breastfeed properly, the benefits of breastfeeding and exclusive breastfeeding and advice on how to overcome problems encountered during breastfeeding. In addition, the AS-ASI also plays a role in providing psychological support to nursing mothers, thereby creating self-confidence in mothers. Keywords : ASI, Exclusive ASI, KP-ASI
PKM PENINGKATAN PERILAKU GURU DAN ORANG TUA DALAM MENCEGAH INJURI PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH DI TAMAN KANAK – KANAK Menik Kustriyani; Dwi Nur Aini; Arifianto Arifianto
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v2i1.27

Abstract

Abstrak  Bahaya dan risiko cedera pada anak ada di mana saja, yaitu di rumah, perjalanan dan saat beraktivitas. Tempat paling sering terjadinya cedera yaitu di lingkungan rumah dan di lingkungan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa, tempat anak banyak menghabiskan waktunya merupakan tempat paling sering terjadinya cedera. Aktivitas yang sering menyebabkan cedera pada anak adalah bermain, berjalan-jalan. Bagian tubuh yang paling sering terkena cedera adalah tangan, kaki dan kepala. Sekolah tidak hanya harus mempunyai kurikulum, bangunan, staf pengajar dan prestasi yang baik. Tetapi juga harus berinvestasi dalam menciptakan lingkungan yang selamat dan bebas cidera untuk siswa. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat adalah meningkatkan pengetahuan dengan memberikan sosialisasi dan simulasi pada guru dan orang tua murid. Kegiatan dilaksanakan dua kali yaitu pertemuan pertama dengan memberikan penyuluhan tentang bahaya dan pencegahan  injuri pada anak usia pra sekolah, pertemuan kedua dengan membentuk peer group teman sebaya agar bisa saling memperhatikan dan mengingatkan sesama teman sebaya usia pra sekolah. Hasil dari pengabdian menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan dan respon yang positif peserta dan terbentukknya peer group teman sebaya. Kata Kunci : Pencegahan Cidera Anak, Orang Tua Dan Guru Abstract The danger and risk of injury to children are everywhere, at home, traveling and during activities. The most frequent place of injury is at home and at school. This shows that, where children spend a lot of time is the most frequent place of injury. Activities that often cause injury to children are play, walk. The most commonly affected body parts are the hands, feet and head.  Schools not only have to have a curriculum, buildings, teaching staff and good achievements. But it must also invest in creating a safe and injury-free environment for students. The purpose of community service activities is to increase knowledge by providing socialization and simulation to teachers and parents of students. The activity was held twice, namely the first meeting by providing counseling about the dangers and prevention of injury to pre-school age children. the second meeting by forming peer group peers so that they can pay attention to each other and remind peers of pre-school age. The results of the dedication showed that there was an increase in knowledge and positive responses from participants and the formation of peer groups. Keywords : Prevention Of Injury To Children, Parents And Teacher
PKM PENDAMPINGAN PEMBENTUKAN BINA KELAURGA BALITA (BKB) DI RW 09 KELURAHAN GONDORIYO KECAMATAN NGALIYAN KOTA SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH Rinayati Rinayati; Ambar Dwi Erawati; Sri Wahyuning
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v2i1.20

Abstract

Fokus PKM ini adalah pendampingan & pembentukan  Bina Keluarga Balita (BKB), meningkatkan kemampuan kader dalam  program KIA di kelurahan Gondoriyo Kecamatan Ngaliyan  Kota Semarang.. Upaya yang dilakukan antara lain: sosialisasi BKB,  pelatihan BKB, kegiatan BKB dan  meningkatkan kemampuan kader memberikan penyuluhan Tumbuh kembang balita. Tujuan dari kegiatan PKM ini adalah membentuk BKB dan  pendampingan kader BKB  untuk meningkatkan kesehatan balita. Adanya  sinergi antara kader dan pelayan kesehatan dalam upaya peningkatan kesehatan balita di masyarakat. Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ini adalah pendampingan. Kegiatan pelatihan meliputi 1) sosialisasi  BKB di masyarakat 2) Pembentukan BKB 2) Pelatihan kader tentang kegiatan pelaksanaan BKB, 3) pelatihan kader dalam penyuluhan stimuuulasi tumbuh kembang. Kegiatan program PKM ini adalah a) Pra Survei b) Persiapan Alat & Bahan Pelatihan, c) Persiapan Tempat Pelatihan, d) Pelatihan kader, e) pendampingan kader dalam melaksanakan BKB , f) Evaluasi kemampuan & pemahaman kader. Pendampingan memenuhi indikator yaitu kegiatan BKB telah berjalan minimal 6 kali. Hasil kegiatan akan dipublikasikan pada jurnal nasional ber ISSN. Kata kunci : Kader, Bina Keluarga Balita (BKB)
PKM PENDAMPINGAN REVITALISASI POSBINDU PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM) DAN DETEKSI DINI PENYAKIT TIDAK MENULAR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LOBDOSARI Tamrin Tamrin; Tri Sakti Widyaningsih; Windiyastuti Windiyastuti
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v2i1.21

Abstract

ABSTRAKKader Posbindu PTM adalah orang yang berperan aktif dalam peningkatan derajat kesehatan di wilayah kerja puskesmas Lebdosari. Upaya pengembangan peran serta kader dalam meningkatkan kemampuan pelaksananaan program peningkatan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Lebdosari. Kader posbindu PTM perlu diberikan pelatihan guna meningkatkan pengetahuan tentang penyakit tidak menular.Tujuan pengabdian kepada Masyarakat ini adalah Pelatihan Keteramilan kader posbindu PTM untuk meningkatkan kesadatan kesehatan di masyarakat serta Pendampingan untuk deteksi dini Penyakit tidak menular (PTM) di masyarakat.Kegiatan program PKM ini adalah a) Pra Survei Lapangan, b) Persiapan Alat dan Bahan Pelatihan, c) Persiapan Tempat Pelatihan d) Pelatihan kader e) pendampingan kader dalam deteksi PTM f) Evaluasi kemampuan dan pemahaman kader g) Pembuatan Laporan dan Publikasi.Hasil PKM : Terlatih 24 kader kesehatan perwakilan dari 4 kelurahan, terjadi peningkatan pengetahuan kader Posbindu PTM setelah dilakukan Pelatihan sebesar 62,5%. Dalam pendampingan deteksi dini penyakit tidak menular pada 4 kelurahan didapatkan data gangguan kesehatan/ Penyakit tidak menular terbanyak di masing-masing kelurahan tertinggi adalah Hipertensi dan DM. Kata Kunci : Revitalisasi Posbindu, Pelatihan Kader, Deteksi Dini ABSTRACTPosbindu PTM cadres are people who play an active role in improving health status in the work area of the Lebdosari Community Health Center. Efforts to develop the participation of cadres in improving the ability to implement health improvement programs in the work area of Lebdosari Health Center. Posbindu PTM cadres need training given to increase knowledge about non-communicable diseases.The aim of community service is the Posbindu PTM cadre Pregnancy Training to increase health awareness in the community and Assistance for early detection of non-communicable diseases (PTM) in the community.PKM program activities are a) Pre Field Survey, b) Preparation of Training Tools and Materials, c) Preparation of Training Sites d) Cadre training e) cadre assistance in PTM detection f) Evaluation of cadre capabilities and understanding g) Making Reports and Publications.PKM Results: Trained 24 health cadres representatives from 4 villages, there was an increase in knowledge of Posbindu PTM cadres after a 62.5% training. In assisting early detection of non-communicable diseases in 4 kelurahan, the highest data on health problems / non-communicable diseases in each Sub District was Hypertension and DM. Keywords : Posbindu Revitalization, Cadre Training, Early Detection

Page 1 of 1 | Total Record : 6