cover
Contact Name
Hani Subagio
Contact Email
hanisubagio@upnyk.ac.id
Phone
+6287891177900
Journal Mail Official
adminjpbn@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jl. SWK, Ringroad, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pancasila dan Bela Negara
ISSN : -     EISSN : 27755886     DOI : https://doi.org/10.31315/jpbn.v1i1
Jurnal Pancasila dan Bela Negara merupakan jurnal berkala yang diterbitkan oleh Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara UPN Veteran Yogyakarta.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2023): Februari" : 6 Documents clear
Pendidikan Pancasila bagi Mahasiswa di Era Globalisasi Andini Shafa Saraswati
Jurnal Pancasila dan Bela Negara Vol 3, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpbn.v3i1.5788

Abstract

Pancasila merupakan dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Sebagai dasar negara, Pancasila dijadikan sebagai dasar untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila sebagai pedoman dan acuan dalam kehidupan. Sebagai ideologi berbangsa dan bernegara Indonesia, Pancasila menjadi cita-cita dan tujuan hidup Indonesia. Pancasila adalah kristalisasi dari nilai adat, nilai budaya, dan agama dalam pandangan hidup di Indonesia. Nilai dalam Pancasila memiliki seperangkat nilai, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan. Kondisi Indonesia saat ini dapat diidentifikasi dengan melihat perilaku dan kepribadian masyarakat Indonesia yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Globalisasi tidak dapat dihindari, globalisasi membuat semua negara tampak tanpa batas. Untuk itu kita membutuhkan Pancasila sebagai penyaring globalisasi. Dasar Pancasila menjadi tuntunan agar bangsa Indonesia tetap menjadi bangsa yang demokrasi dan satu serta tidak terpengaruh dengan budaya luar yang negatif dan tidak sesuai dengan jati diri Indonesia. Perlunya pembudayaan nilai-nilai Pancasila bukan hanya pemahaman, tetapi harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan oleh setiap individu. Kewajiban akan hal tersebut harus diajarkan kepada para insan penerus bangsa, khususnya mahasiswa. Mahasiswa adalah generasi intelektual yang akan membawa dan memimpin Indonesia beberapa tahun kedepan. Sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk saling memahami dan mengimplementasikan Pancasila. Oleh sebab itu, perlu kesadaran untuk menumbuhkan dan melaksanakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila. 
Penelitian Keefektifan Implementasi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Victoria Denise Agme
Jurnal Pancasila dan Bela Negara Vol 3, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpbn.v3i1.5792

Abstract

Pancasila merupakan dasar negara yang bersifat fundamental yang bertujuan untuk membangun rasa bela negara dalam hati setiap masyarakat Indonesia. Pancasila mengandung nilai-nilai dan pedoman hidup kewarganegaraan yang telah disesuaikan dengan realita yang ada di Indonesia. Kendati demikian, masih banyak masalah implementasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, terutama nilai bela negara dan kewarganegaraan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan Pancasila sebagai dasar negara dalam implementasinya di kehidupan masyarakat sehari-hari. Keefektifan Pancasila sebagai dasar negara ini dikaji menggunakan metode kuantitatif menggunakan survei secara daring melalui media sosial Facebook yang disebar secara proporsional di 34 provinsi di Indonesia. Metode ini dipilih dengan maksud untuk mempermudah perluasan persebaran survei di tengah pandemi COVID-19 yang sedang melanda. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 49% dari 1.013 responden merasa bahwa Pancasila belum dapat berjalan dengan baik dan benar. Hal ini diakibatkan oleh 5 alasan utama, yaitu masih tingginya kasus korupsi, masalah kesejahteraan masyarakat, ketidakadilan dalam sistem hukum yang berlaku, diskriminasi dan intoleransi, serta belum adanya persatuan.
Filosofi Pancasila dalam Pidato Bung Karno: Lahirnya Pancasila Jasmine Ayuningtyas Tsabbita Amani
Jurnal Pancasila dan Bela Negara Vol 3, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpbn.v3i1.5861

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil kajian dari pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, yaitu lahirnya Pancasila yang bertujuan untuk mengulas sejarah dan filosofi dibalik lahirnya Pancasila. Ulasan mengenai sejarah dan filosofi Pancasila dinilai perlu diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia untuk dapat memahami, menelaah, serta mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan, berupa serangkaian kegiatan mencari, membaca, mencatat, dan menelaah bahan pustaka yang memuat teori-teori yang relevan dengan permasalahan dalam mengungkap peristiwa di masa lampau terkait lahirnya Pancasila. Dari kajian tersebut, diperoleh hasil bahwa bukan hanya Bung Karno saja yang berperan dalam lahirnya Pancasila. Kala itu, sidang BPUPKI pertama yang dilaksanakan pada tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945 membahas pembentukan dasar negara. Pada tanggal 29 dan 31 Mei 1945 telah telebih dahulu berpidato, Muhammad Yamin dan  Prof. Soepomo mengenai usulan mereka untuk dasar negara Indonesia. Barulah kemudian pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengemukakan pendapatnya yang menjadi bakal terbentuknya dasar negara yang dikenal dengan sebutan “Pancasila”. Pada pidatonya tersebut, Bung Karno menyampaikan pandangan mengenai dasar negara yang berbeda dari apa yang sebelumnya telah disampaikan oleh anggota-anggota BPUPKI yang lain. Beliau menyebut dasar negara dengan ideologi negara yang sama dengan Philosofische grondslag yang berarti fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk mendirikan Indonesia merdeka. Kesimpulannya, sejak awal Pancasila bukan hanya diciptakan untuk sekedar menjadi kumpulan kalimat yang bermakna, tetapi menjadi dasar terbentuknya Indonesia merdeka yang tidak akan dan tidak boleh luntur dari diri bangsa Indonesia.
Sikap Generai Muda dalam Menghadapi Intoleransi Aradea Ibnu Tsabit
Jurnal Pancasila dan Bela Negara Vol 3, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpbn.v3i1.5947

Abstract

Bangsa Indonesia memiliki keberagaman yang harus diimbangi dengan sikap toleransi. Saat ini, nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara semakin luntur semenjak pada awal era reformasi. Munculnya intoleransi sebagai salah satu pertanda lunturnya nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara menjadi tantangan yang harus dihadapi. Untuk bela negara, sebagai generasi muda seharusnya tetap mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara agar tetap seperti apa yang dicita-citakan oleh founding fathers Indonesia (Muhammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno). Mengingat Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beberapa suku bangsa, agama, ras, dan antar golongan yang paling cocok untuk menyatukan sebagai warga untuk bela negara adalah Pancasila. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui bagaimana sikap generasi muda dalam menghadapi intoleransi yang terjadi pada masa sekarang ini. Sikap intoleransi terjadi karena kurangnya pemahaman bahwa Indonesia adalah bangsa yang beragam, sehingga timbul rasa bangga terhadap kelompok atau golongan sendiri dan menentang adanya perbedaan. Kesimpulan dari tulisan ini adalah dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai sikap intoleransi yang bertentangan dengan nilai Pancasila. Dalam tulisan ini dijelaskan cara dasar untuk para generasi muda dalam menghindari sikap intoleran yang dapat merusak identitas bangsa Indonesia yaitu dengan cara menerapkan kebaikan dan menegakkan kebenaran untuk bangsa Indonesia tanpa kita sadari sudah menjadi pahlawan bangsa ini.Kata kunci : Keberagaman; Intoleransi; Founding fathers; Bela Negara; Pancasila.
Srawung, Semaur, Akur Sebagai Wujud Implementasi Nilai Sila Keempat Pancasila Bagi Warga dan Mahasiswa Indekos di Jalan Jombang Kota Malang Surya Desismansyah Eka Putra
Jurnal Pancasila dan Bela Negara Vol 3, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpbn.v3i1.9715

Abstract

Lingkungan perumahan di sekitar Universitas Negeri Malang (UM) sangatlah padat. Banyak perumahan warga yang dulunya hanya ditempati bersama keluarga kini telah banyak diubah menjadi multi kamar sebagai tempat tinggal sementara atau kos bagi para pendatang. Rata-rata para pendatang ini berstatus mahasiswa. Dengan makin padatnya penduduk yang tinggal di Jalan Jombang, problem sosialnya pun ikut meningkat. Problem tersebut timbul akibat kurangnya jalin persaudaraan antara warga setempat dengan warga pendatang yang menghuni kos. Hal ini disebabkan tidak adanya sarana yang mempertemukan kedua belah pihak dalam satu forum bersama untuk menyamakan persepsi tentang aturan moral maupun norma yang berlaku di lingkungan tersebut. Untuk itu perlu diadakan ruang dialog untuk mengenalkan adat istiadat yang dihayati oleh warga yang menempati lingkungan di wilayah Jalan Jombang tersebut dengan nama Srawung, Semaur, Akur. Srawung Semaur Akur merupakan metode yang dipakai sebagai basis sosial menciptakan ruang publik (public sphare). Hasilnya 1) medium pertemuan Srawung, Semaur, Akur cukup efektif menciptakan rasa empati dan saling menghormati antara warga setempat dengan para penghuni kos/kontrakan yang mayoritas pendatang. 2) pendatang maupun warga setempat kini dapat merasakan rasa aman, nyaman dan tenteram secara lebih baik tanpa ada kecurigaan berlebih terhadap pendatang. 3) nilai-nilai Pancasila dapat ditemukan dalam implementasi Srawung-Semaur Akur, khususnya sila keempat Pancasila.
Nasionalisme dalam Ketahanan Nasional Inggisa Cendra Prakesti
Jurnal Pancasila dan Bela Negara Vol 3, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpbn.v3i1.5893

Abstract

Bela Negara adalah tekad, sikap, dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 rela berkorban demi menjamin kelangsungan hidup dan Negara. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: Pertama, bagaimana konsep bela negara di Indonesia? Kedua, bagaimanakah kelebihan dan kerugian penerapan bela negara di Indonesia saat ini? Metode dalam penelitian ini adalah normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan perundang-undangan, pendekatan konsep dan pendekatan kasus. Setelah dilakukan pengkajian diketahui bahwa konsep bela negara yang lebih menitikberatkan pada pemahaman nilai-nilai luhur pancasila terkait dengan karakter atau perilaku dan penulis melihat kajian ini dalam dua sudut pandang yang berbeda dituangkan dalam bentuk kebijkan penerapan bela negara dengan bersandar pada peraturan perundang-undangan melalui kebijakan tentang bela negara.Kata-kata Kunci: Bela negara, karakter bangsa, wajib militer

Page 1 of 1 | Total Record : 6