cover
Contact Name
I Komang Arba Wirawa
Contact Email
admin@journal-prosfisi.or.id
Phone
-
Journal Mail Official
admin@journal-prosfisi.or.id
Editorial Address
Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia (PROSFISI)
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Framing: Journal of Art, Film, Television, Animation, Games and Technology
ISSN : -     EISSN : 30478588     DOI : -
Core Subject : Art,
Framing Jurnal Film, Televisi, dan Seni Budaya Media Baru hadir sebagai media diskusi kreatif untuk berbagi pengetahuan dan pemahamanan tentang seni, televisi, film dan budaya media baru baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Sesuai dengan arti kata Framing yang merupakan membingkai penanda energi kosmik, maka diharapkan jurnal Framing mampu memvibrasikan nafas pengetahuan Televisi, film dan Seni Budaya, Media Baru kepada penikmat kalangan akademisi, praktisi dan profesional. Jurnal Framing mewadahi artikel hasil penelitian, penciptaan, dan pengkajian Televisi, film dan Seni Budaya Media Baru dengan tanpa membatasi penulis dari beragam pendekatan disiplin/interdisiplin ilmu, seperti film, televisi, , kritik seni, antropologi seni, sejarah, estetika, sosiologi, pendidikan seni, seni media budaya baru dan pendekatan lain yang kontekstual.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2024)" : 5 Documents clear
Aplikasi Prinsip Gestalt Untuk Membangun Protagonis Sebagai Figure Pada Film Pathok (2023) Moh Syahrul Syafik; Sari, Annisa Rachmatika
Journal of Art, Film, Television, Animation, Games and Technology Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Art director sebagai kepala pada divisi tata artistik, perlu membuat konsep visual sebagai pedoman divisi tata artistik dalam mengelola elemen visual yang mendukung narasi film. Pengelolaan yang dimaksud berupa kerja perancangan dan pengkonstruksian elemen-elemen visual, seperti: set, lokasi, dekorasi, properti, riasan wajah, dan kostum. Sebagai art director, penulis perlu membuat konsep visual yang mengakomodir tipe naratif film Pathok (2023), berbentuk character driven. Penulis menggunakan teori Gestalt untuk mengelola elemen visual dalam shot-shot tertentu, untuk menunjukkan protagonis sebagai figure yang perlu dimaknai ekspresinya dan dibedakan dengan karakter lainnya. Pada teori gestalt, bentuk dibedakan menjadi 2 bagian yaitu figure (ruang positif) dan ground (ruang negatif). Teori Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian suatu komponen-komponen yang memiliki hubungan, pola, dan juga kemiripan yang bersatu menjadi satu kesatuan. Gestalt diterapkan penulis pada scene pada scene 6 untuk menunjukkan ekspresi kesedihan protagonis melalui penerapan prinsip kesamaan bentuk sekaligus kedekatan posisi. Di scene 8, Ali sebagai protagonist menjadi figure yang kontras dengan seluruh properti dan tokoh Sutikno sebagai antagonis di film Pathok (2023). Temuan penelitian ini berupa, aspek kedalaman frame film yang menunjukkan bahwa posisi objek tidak hanya dapat dikelompokkan dan diperhitungkan berdasarkan kedekatan posisi secara dua dimensi melainkan juga tiga dimensi, perlu diperhatikan art director pada proses pengelolaan elemen visual.
Produksi Iklan Komersial “Smax Cheese Ring Ghost Pepper” Febryan Zyandhikawarman; Yusanto, Freddy
Journal of Art, Film, Television, Animation, Games and Technology Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam meningkatkan penjualan terdapat berbagai macam cara, salah satunya adalah iklan komersial. Iklan merupakan sebuah salah satu strategi pemasaran dalam menjual sebuah produk, karena tanpa strategi pemasaran yang tepat, masyarakat tidak akan mengetahui produk apa yang dijual. Tidak sedikit produk yang meningkatkan penjualan dari produknya, tidak menggunakan cara tersebut. Smax Cheese Ring Ghost Pepper salah satunya, produk ini merupakan hasil kolaborasi Mamee Double-Decker dengan Shinsegae Daebak, dengan memadukan makanan ringan berperisa keju dengan cabai terpedas di dunia. Produk ini melakukan strategi endorse dalam meningkatkan penjualan dari produk tersebut. Namun hal ini menjadi bumerang kepada produsen, karena konsumen tidak mengetahui produk ini merupakan salah satu bagian penting dalam ekosistem ghost pepper dalam kolaborasinya dengan Shinsegae Daebak dan telah tersedia di ritel dengan harga Rp5.000. Karya tugas akhir ini berbentuk iklan komersial, membawa pesan Smax Cheese Ring Ghost Pepper merupakan produk yang mudah untuk ditemukan dengan harga Rp5.000 dengan durasi iklan 1 menit. Karya akhir ini memiliki tujuan memperlihatkan bagaimana proses pembuatan iklan komersial Smax Cheese Ring Ghost Pepper secara praktisi dengan harapan penonton menjadi lebih tahu dengan produk Smax Cheese Ring Ghost Pepper.
Wayang Kulit Show, Layar Tancap (Traveling Cinema Show), and History of Pre-Cinema Imanjaya, Ekky
Journal of Art, Film, Television, Animation, Games and Technology Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article will investigate that Javanese and Balinese Wayang Kulit Performance should be considered a legitimate  "grandfather" of modern cinema—especially in the archaeology of projection and screen. The author will apply Castle's Phantasmagoria and Manovich's Archaeology of the screen as the analysis tools. The paper will also examine direct connections between Wayang Kulit Show and contemporary cinema, particularly Layar tancap (traveling cinema), which emerged in the late 1890s in Southeast Asia Furthermore, finally, the paper will investigate to what extent the tradition of the Wayang show and its apparatus has influenced some of  Indonesia's as well as Malaysia’s terms of modern cinema to  Indonesia's  Layar tancap (traveling cinema). This research is in the same spirit as Thomas Elsaesser's proposal about the new way to reconstruct film history, moreover, consider expanding the pre-history cinema to Indonesia's shadow puppetry and putting Layar tancap as part of the global non-theatrical exhibition culture.
Film Dokumenter Dalam Mendukung Promosi Desa Wisata Dengan Pemanfaatan Telepon Genggam Sebagai Media Pembuatanya. Suryanto, Hari
Journal of Art, Film, Television, Animation, Games and Technology Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi serta media pada era saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah satu dari tehnologi yang saat ini sering digunakan dalam media komunikasi adalah telepon pintar. Setiap warga sekarang dapat menjadi agen informasi melalui tehnologi telepon pintar yang didalamnya sudah tersedia berbagai macam fitur seperti kamera video, alat perekam, editing serta jaringan internet untuk berkomunuikasi dengan ruang yang lebih luas. Dengan tehnologi serta ilmu pengetahuan seperti ini akan membantu untuk  diterapkan pada desa wisata yang membutuhkan promosi tentang potensi desa untuk meningkatkan kunjungan wisatawan serta menjaga keberlangsungan desa wisata. Saat ini promosi yang dilakukan masih sangata sederhana berupa iklan-iklan dalam bentuk foto, siaran radio serta dari mulut ke mulut, meskipun sudah ada usaha tetapi  kurang maksimal. Pelatihan jurnalistik berbasis warga akan menjadi satu solusi dalam menyebarkan informasi keunggulan  desa wisata menjadi lebih maksimal melakukan promosi. Kekuatan dari audio visual dalam bentuk film dokumenter ini memiliki kekuatan untuk merepresentasikan informasi melalui suara serta gambar dalam bentuk film dokumenter akan dengan mudah dimengerti pemirsa. Pemanfaatan media sosial sebagai media placement menjadi solusi yang tepat untuk melakukan promosi desa wisaya melalui tayangan film dokumenter.
Produksi Infografik Dinamis Zona Afotik Berjudul Ekosistem Gelap Gulita Syah, Nurhbalisyah; Apriaji, Muhammad Yusuf; Fauzie, Mochamad
Journal of Art, Film, Television, Animation, Games and Technology Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aims to produce dynamic infographic of the aphotic zone entitled Pitch Dark Ecosystem. The aphotic zone is a region without sunlight that covers the entire ecosystem in the deep sea. The aphotic zone holds so many mysteries that it attracts the attention of scientists to explore it further. Unfortunately, public interest in knowledge of the deep sea is limited, even still not much compared to knowledge about outer space. One of the reasons is the lack of media that raises the theme of the deep sea, especially those designed for teenagers. This research offers a design solution by designing dynamic infographics. The type of research is qualitative research, especially the qualitative descriptive type. The data collected is knowledge of aphotic zones, which consists of sea depth zoning, environmental conditions, and survival strategies of deep-sea creatures. The data source consists of literature and resource persons (marine experts). The data collection techniques include literature studies and interviews. The data collected is then selected and formulated into a dynamic infographic. The research has produced dynamic infographics that are the characteristics of late adolescence, with characteristics, including The infographics using a flat design illustration drawing style with bright analog color composition, the use of an informal Poppins typeface, and a dynamic layout style. This dynamic infographic targets behavioral changes in late adolescents and more curiosity to seek knowledge of the deep-sea aphotic zone

Page 1 of 1 | Total Record : 5