cover
Contact Name
Karti Rahayu Kusumaningsih
Contact Email
kartirahayukusumaningsih@gmail.com
Phone
+628164229573
Journal Mail Official
wanatropika@instiperjogja.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan INSTIPER Gd. Jati Jalan Nangka II, Maguwoharjo, Depok, Sleman Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Wana Tropika
ISSN : 20887019     EISSN : 28290054     DOI : https://doi.org/10.55180
Core Subject : Agriculture,
Forest Planning Forest Policy Forest Ecology Forest Resources Utilization Forest Ergonomics Forest Inventory Forest Product Silviculture Management of Regional Ecosystems
Articles 118 Documents
KARAKTERISTIK AGROEKOLOGI DAN POTENSI TANAMAN GARUT PADA BERBAGAI VARIASI KETINGGIAN DI KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT Rohandi, Asep; Budiadi; Hardiwinoto, Suryo; Harmayani, Eni
Jurnal Wana Tropika Vol 6 No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arrowroot (Maranta arundinacea L.) is a multipurpose plant that can grow under the stands so that the species has the potential to develop in the pattern of agroforestry. Initial information of arrowroot plant population as a source of germplasm for plant material/superior varieties and their agroecological characteristics in the field is indispensable. The study aims to determine the distribution, agroecological characteristics and potency of arrowroot in Garut regency. The methods include: (1) the study of literature and direct communication with stakeholders and the public, (2) field survey to collect data on distribution, cultivation status, abundance and productivity of arrowroot plant using a single plot, and (3) data collection of arrowroot agroecological characteristics include: vegetation analysis and geoklimat factors. The research results indicate that the arrowroot populations distribute in groups with a fairly broad ecological range i.e. altitude 6-1351 masl, temperature 20-36o C, relative humidity RH 40-72%, light intensity 12-56% dan pH 4.16-7,40 (acid to neutral) and in the low to high soil fertility condition. Falcataria moluccana as the major private forest species dominates in all zones of altitude, especially on the stage of the tree. Arrowroot abundance by elevation zones is 63,750 plants/ha (lowlands), 43,864 plants/ha (plains) and 73.333 plants/ha (plateau). The potential production for all elevations ranged from 15.40 to 163.2 g/plants. Cikajang and Cilawu populations have good potential to produce the high yield of tuber for arrowroot cultivation in Garut District. Keywords : Maranta arundinacea, Agroecological characteristics, Elevation, Potency, Garut District
PENDEKATAN SPASIAL EKOLOGIS UNTUK PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BERKELANJUTAN BERBASIS PENGENDALIAN EROSI (STUDI KASUS DI SUB DAS NGRANCAH, KABUPATEN KULON PROGO) Susatyo, Marcus Octavianus; Marsono, Djoko; Kusumandari, Ambar; Supriyanto, Nunuk
Jurnal Wana Tropika Vol 6 No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sustainable development basically lies in the achievement of harmonisation between economic, ecological and social purposes. One form of sustainable development fromthe perspective of ecological dimension is the existence of spatial harmonism. Spatial harmonism means that in every development area have to allocate conservation area that has been identified in the form of forest area or area which serves as a forest (rural forest). Both in forest law and spatial law consider the existence of forets area at least 30 % of the watershed area.The research was conducted at Ngrancah Sub Watershed. Ngrancah Sub watershed is one part of Serang Watershed. According to Forestry minister decree Nr. 328 year 2009, Serang watershed is one of 108 critical watersheds and need to be given priority handling. The aims of this research are : (1) to investigate soil erosion, soil erosion rates, and soil erosion index ;(2) to analyze spatial ecology harmonism based on erosion control to optimize conservation area. Ngrancah Sub Watershed is the catcment area of Sermo Dam. The area of Ngrancah Sub Watershed is almost 2150 hectares. The area is mostly critical showed by the high rate of erosion. The high rate of erosion indicates that Ngrancah Sub Watershed needs to be manage and handled properly to reduce land degradation. Erosion is predicted using RUSLE Method (RUSLE Equation EA = Ri .K.L.S.C.P) and water balance (aridity index) based on its meteorogical function is calculated using Tornthwaite-Mather method. Isohyet methode is used to calculated rainfall while erodibility factor is calculated using Willem Formula (1995). According to Minimum Legible Area (Vink, 1975), research area could be classified into 80 spatial/ecological units. Slope observation and soil conservation practices is done in each spatial/ecological unit as well as soil samples also taken in each spayial/ecological unit. Linear program with QSB+ Software is conducted to analyse the data.The result of the research showed that the erosion rates varies from the lowest rate of 3,83 ton/ha/year to the highest rate of 494,91 ton/ha/year. About 39,98 % of research area is classified as moderate erosion rate area and about 38,39% of the area as high into very high erosion rate area. Based on Erosion Indeks, about 16,22% of the area is classified as the moderate Erosion Indeks and 73,30% of the area as high into very high Erosion Indeks. Spatial Ecology approach for sustainable watershed management by QSB+ program on the effort of erosion controll showed that to achieve spatial ecology harmonism is needed 87,48 % conservation area (area that identified as forest function) from the total area of Ngrancah Sub Watershed. Rural forest development (or agroforestry) involving local community is recommended to meet spatial ecology harmonism considering existing condition of Ngrancah Sub Watershed that only 2 % of forest area in Ngrancah Sub Watershed. Key Words : Spatial Ecology, Spatial Harmonism, erosion, RUSLE , QSB+
KARAKTERISTIK ETNOEKONOMI DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA HUTAN Falah, Darul; Dorohungi, Sepritudey
Jurnal Wana Tropika Vol 6 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat desa hutan dalam kehidupan sehari-harinya berinteraksi dengan hutan dalam upaya memenuhi kebutuhannya. Interaksi tersebut tercermin dari kegiatan-kegiatan masyarakat seperti mengumpulkan hasil hutan berupa bahan pangan, kayu bakar, pakan ternak, umbi-umbian serta hasil dari jenis jasa hutan lainnya. Etnobotani merujuk pada kajian interaksi antara manusia dengan tumbuhan yang merupakan bentuk deskriptif dari pendokumentasian pengetahuan botani tradisional yang dimiliki masyarakat setempat, yang salah satu di antaranya adalah kajian etnoekonomi yang mengkaji segi nilai manfaat tanaman bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik etnoekonomi dalam pemanfaatan sumber daya hutan rakyat yang meliputi aplikasi botani ekonomi dan skala komersial, pengetahuan masyarakat tentang nilai manfaat tumbuhan, dan hubungan antara pengetahuan masyarakat tentang nilai manfaat tumbuhan dengan karakteristik etnoekonomi nilai manfaat tumbuhan di hutan rakyat Desa Kedungkeris. Penelitian dilakukan pada 72 kepala keluarga (KK) pemilik lahan di hutan rakyat Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Kedungkeris memanfaatkan tumbuhan yang berada di hutan rakyat pada kategori sedang. Lebih dari sebagian masyarakat Desa Kedungkeris memiliki pengetahuan yang cukup tentang nilai manfaat tumbuhan yang terdapat di hutan rakyat. Terdapat hubungan yang sedang (sig.=0,000, CC=0,585) antara pengetahuan masyarakat tentang nilai manfaat tumbuhan dengan pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta. Kata Kunci : Etnoekonomi, Pemanfaatan, Sumber Daya Hutan
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN TANAMAN GAHARU (Aquilaria malaccensis)) DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI Wahyudiono, Sugeng; Kurniawan, Yonas Ade
Jurnal Wana Tropika Vol 6 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah eksportir utama produk gaharu di dunia. Dengan permintaan pasar yang tinggi, banyak kolektor tidak terampil tertarik untuk mengeksploitasi gaharu. Akibatnya sebagian besar populasi gaharu rusak sehingga kayu ini tercantum dalam CITES Appendix II. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian lahan tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis) dengan mengetahui kelas kesesuaian lahan yang sesuai, kurang sesuai, dan tidak sesuai pada wilayah yang ada di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Kesesuaian lahan tanaman gaharu mengacu pada data biofisik berupa kelerengan, tinggi tempat, curah hujan, jenis tanah, dan penggunaan lahan. Pada data tersebut perlu dilakukan kajian mengenai syarat tumbuh gaharu agar dapat mengklasifikasi lahan yang sesuai dari tempat tumbuh dengan syarat tumbuh gaharu. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan mengklasifikasi syarat tumbuh gaharu menggunakan teknik skoring dan overlay atribut data spasial pada aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG). Teknik skoring dilakukan dengan 3 penilaian yaitu skor 2 untuk kelas sesuai, skor 1 untuk kelas kurang sesuai, skor 0 untuk kelas tidak sesuai. Atribut data spasial tersebut kemudian dilakukan skoring dan overlay sehingga didapat satu peta yang menunjukan kelas kesesuaian lahan tanaman gaharu yang ada di Kabupaten Bengkayang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total luas wilayah Kabupaten Bengkayang sebesar 556.965 Ha, terdapat luas wilayah yang sesuai untuk budidaya tanaman gaharu yaitu 349.295 Ha , luas kurang sesuai 189.699,26 Ha, dan luas tidak sesuai 17.690,29 Ha. Kata kunci : Kesesuaian Lahan, Gaharu, Sistem Informasi Geografi
PERTUMBUHAN SEMAI CENDANA (Santalum album Linn.) PADA BEBERAPA JENIS INANG Andayani, Surodjo Taat; Ama, Wilton Paskalis Dominggus
Jurnal Wana Tropika Vol 6 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cendana (Santalum album Linn.) merupakan salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang bernilai ekonomi tinggi karena kandungan volume kayu teras dan kadar minyak cendana yang tinggi. Cendana adalah jenis tanaman yang bersifat hemiparasit. Dalam pertumbuhannya cendana memerlukan tumbuhan lain sebagai inang. Sejak dari persemaian sampai dengan tanaman dewasa cendana memerlukan inang untuk membantu menyerap sebagian unsur hara dari dalam tanah melalui haustoria yang terhubung antara akar cendana dengan akar tanaman inang. penelitian ini betujuan untuk mengetahui jenis tanaman inang primer yang paling baik dengan perlakuan pangkasan terhadap pertumbuhan semai cendana. Jenis inang primer yang digunakan dalama penelitian ini adalah tanaman krokot, nila, lamtoro dan turi serta kontrol sebagai pembanding. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) untuk mengetahui pengaruh faktor jenis inang dan pangkasan tanaman inang terhadap pertumbuhan semai cendana. Data dianalisis dengan Analisis Varians. Rerata dianalisis dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis inang primer dan pangkasan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan semai cendana. Perlakuan jenis inang primer krokot yang dipangkas berpengaruh paling baik terhadap pertumbuhan semai tanaman cendana. Kata kunci : Cendana, Inang Primer, Pangkasan
DAMPAK INDUSTRI HASIL HUTAN TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT: Impact of Forest Product Industry to Public Welfare Sushardi
Jurnal Wana Tropika Vol 6 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan digolongkan dalam hutan produksi. Hutan tanaman industri merupakan hutan tanaman yang dibangun dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur intensif untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan. Dengan adanya pembangunan HTI maka diharapkan dapat menyelamatkan hutan alam dari kerusakan karena HTI merupakan potensi kekayaan alam yang dapat diperbaharui, dimanfaatkan secara maksimal dan lestari bagi pembangunan nasional secara berkelanjutan untuk kesejahteraan penduduk. Pembangunan dan pengelolaan HTI termasuk di dalamnya industri hasil hutan dalam skala luas dan jangka panjang adalah salah satu mekanisme untuk meningkatkan kesejahteran masyarakat, salah satunya yaitu dengan menyediakan lapangan kerja. Pengelolaan masyarakat dipusatkan pada kemampuan badan usaha untuk menyediakan kesempatan kerja dan kesempatan usaha bagi masyarakat. Kata kunci : Hutan Tanaman Industri, Dampak Industri, Kesejahteraan Masyarakat
EFEKTIVITAS BEBERAPA JENIS ISOLAT SEBAGAI INOKULAN PEMBENTUK GAHARU Kusumaningsih, Karti Rahayu; Isnaeni, Rosiana
Jurnal Wana Tropika Vol 8 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman gaharu dari genus Aquilaria memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat menghasilkan resin beraroma harum yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari obat-obatan, pengharum ruaangan, minyak wangi, kosmetik, dan sebagainya. Untuk dapat menghasilkan resin gaharu maka tanaman harus terserang penyakit terlebih dahulu. Untuk memproduksi gaharu secara buatan maka perlu dilakukan penelitian tentang berbagai macam jenis isolat yang mampu menginfeksi tanaman gaharu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas beberapa jenis isolat sebagai inokulan pembentuk gaharu yang diukur berdasarkan kepadatan spora jamur yang dihasilkan pada masing-masing jenis isolat. Isolat yang digunakan berasal dari batang pisang, kayu sengon, kayu pinus, dan kayu gaharu yang terserang jamur. Parameter yang diamati adalah identifikasi jenis jamur dan kepadatan spora jamur (spora/ml) pada masing-masing jenis isolat. Hasil penelitian menujukkan bahwa jenis jamur yang terdapat pada isolat batang pisang adalah jamur Fusarium oxysporum, pada isolat kayu sengon adalah jamur Graphium sp., pada kayu pinus adalah jamur Curvularia sp., sedangkan pada isolat kayu gaharu adalah jamur Rhizopus oryzae. Jenis isolat tidak berpengaruh nyata terhadap kepadatan spora jamur, sehingga semua jenis isolat memungkinkan untuk digunakan sebagai inokulan pembentuk gaharu. Kata Kunci : Isolat, Inokulan, Kepadatan Spora Jamur
MODEL AGROFORESTRI UNTUK PENYANGGA EKOSISTEM DI LERENG SELATAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI Suryanto, Priyono; Soemardi; Yuslinawari
Jurnal Wana Tropika Vol 8 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aims to determine the characteristics of the distribution pattern of vegetation, and landscape perimeter TN southern slopes of Mount Merapi.The results showed that land cover by vegetation is 59.25% of the overall patch of landscape. Model agroforestry being developed in the third patch regions of southern slopes TNGM dominated by “tegalan” and homegarden pattern. Identification of agroforestry landscape models currently on ecological density range called Ecological Density accupying to 336.38 m/Ha. SDI (Shannon Diversity Index) by spatial model is of 0.98. While the actual SDI conditions based on groundcheck has a mean value of 1.7. Scoring agroforestry model based of ecological functions and economic values obtained optimum value the model agroforestry are field and homegarden as agroforestry practices. Keywords: Agroforestry, Silviculture, and Landscape
SIFAT ANATOMI KAYU BAKAU (Rhizophora mucronata LAMK) Sushardi; Kodi, Hala
Jurnal Wana Tropika Vol 8 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mangrove is one type of mangrove forest plants that has enormous potential and benefits. Almost all parts of mangrove plants can be used; the leaves are for medicine, the skin is for producing tanners and wood for charcoal, building materials and so on. To make more optimal use of mangrove wood, a close study of the properties of the wood is needed. Therefore, knowing the dimensions and value of mangrove fiber derivatives is a very important thing to do. This study aims to determine the dimensions and values of mangrove wood derivatives and their possible uses.The study used a completely randomized factorial design with Tukey's further tests. The factors used are the location of the trunk axial direction (base, middle and tip) and radial direction (near the heart and near the skin). The parameters observed included fiber length, fiber wall thickness, lumen diameter, fiber diameter and fiber dimension derivative values.The results showed that the average value of fiber length was 0.67 mm, fiber wall thickness was 4.25 µ, lumen diameter was 6.71 µ, fiber diameter was 13.83 µ. The average value of fiber dimension derivatives is; runkel number 1.29, muhlsteph number 77.23%, weaving power 10.46, sensitivity coefficient 0.31, and flexibility value 0.48. Based on the value of fiber quality and its derivative value, in general mangrove wood includes the quality of pulp and paper class III, where wood fibers are short to medium size, cell walls and medium lumens. Keywords: Dimensions and values of fiber derivatives, mangrove wood
POTENSI BAMBU DI DESA PURWOBINANGUN, KECAMATAN PAKEM, KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA Wahyudiono, Sugeng; Yaka, Usrywanto Maha Umbu
Jurnal Wana Tropika Vol 8 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian STIPER Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Sleman, Daerah Istimewah Yogyakarta memiliki beberapa wilayah dengan potensi bambu yang baik dan cukup besar. Kecamatan Pakem merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi,bambu yang cukup baik diwilayahKabupaten Sleman.Namun kurangnya informasi mengenai kelestarian jenis bambu dan potensi bambu di Kecamatan Pakem menyebabkan terjadinya hambatan dalam proses penyediaan bahan baku bamboo.Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai potensi bambu diKecamatan Pakem, khususnya di Desa Purwobinangun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pengambilan sampel sejumlah 1.504 secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bambu yang ditemukan diwilayah penelitian adalah bamdu apus (Gigantochloa apus) dan bambu petung (Dendrocalamus asper Back). Jenis yang paling dominan adalah bambu apus, ini ditandai dengan banyaknya jumlah rumpun dan jumlah batang pada setiap rumpun yang dimiliki oleh bambu tersebut. Data yang diperoleh menunjukkan jumlah rumpun bambu di Desa Purwobinangun sebanyak 1.038 rumpun, yang terdiri dari 662 rumpun bambu apus dan 376 rumpun bambu petung, serta telah mencakup .rumpun besar, sedang, dan kecil. Jumlah batang bambu di desa Purwobinagun sebesar 34.381 batang bambu, yang terdiri dari bambu apus sebanyak 19.626 batang dan bambu petung sebanyak 14.755 batang. Dengan membandingkan antara potensi bambu yang ada dengan kebutuhan rata-rata per tahun yaitu potensi bambu sebesar 34.381 batang dan kebutuhan bambu 19.200 batang per tahun, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa bambu di Desa Purwobinangun dalam kondisi lestari dengan jenis bambu apus yang lebih mendominasi

Page 6 of 12 | Total Record : 118