cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Singuda ENSIKOM
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 310 Documents
PERBANDINGAN KINERJA JARINGAN VERY SMALL APERTURE TERMINAL BERDASARKAN DIAMETER ANTENA PELANGGAN DI PASIFIK SATELIT NUSANTARA MEDAN Akbar Parlin; Ali Hanafiah Rambe
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.847 KB)

Abstract

Abstrak Jaringan kabel kurang sesuai untuk menghubungkan sistem komunikasi yang terpisah jauh secara geografis disebabkan proses instalasi yang tidak efesien dan membutuhkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi alternatif seperti Very Small Aperture Terminal (VSAT). Namun demikian, VSAT rentan terhadap interferensi, redaman maupun kelemahan perangkat yang dapat menurunkan kinerja jaringan VSAT. Tulisan ini menganalisis perbandingan kinerja jaringan VSAT berdasarkan diameter antena pelanggan di Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Medan. Dari analisis matematis dan data lapangan, disimpulkan kinerja jaringan VSAT untuk diameter antena 1,8 meter lebih baik jika dibandingkan dengan diameter antena VSAT 1,2 meter.   Kata kunci : Very Small Aperture Terminal (VSAT), Kinerja Jaringan
ANALISIS KUALITAS PANGGILAN MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN VISUAL BASIC PADA JARINGAN GSM Daniel Chandra Simatupang; Naemah Mubarakah
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.502 KB)

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi komunikasi seluler saat ini berkembang  pesat sehingga menjadikan GSM sebagai standar teknologi komunikasi seluler yang paling banyak digunakan orang di seluruh dunia. Kualitas jaringan merupakan hal utama yang perlu diperhatikan dalam melihat baik buruknya kualitas panggilan pada setiap provider penyedia layanan GSM agar tidak merugikan pengguna maupun penyedia layanan GSM. Jurnal ini membahas kualitas panggilan jaringan GSM dengan parameter-parameter yang membandingkan metode pengukuran dengan G-Net Track dan hasil riset beserta perhitungannya. G-Net Track yang menggunakan GPS (Global Position  System) sebagai penentu arah dan menghasilkan data dalam bentuk text dan logfile yang kemudian didapatkan rata-rata tiap parameter lalu dibandingkan dengan data parameter yang diambil dari hasil riset. Analisa yang diperoleh dari hasil drive test menunjukan bahwa kualitas panggilan GSM sudah pada standar yang ditetapkan, yang ditunjukan oleh rata-rata parameter pada G-Net Track yaitu RxLevel (-60 dBm s/d -90 dBm), dan RxQual (-0.96). Kualitas panggilan yang bagus juga ditunjukkan oleh data hasil riset yang diolah ke dalam visual basic dengan prosentase Success Call Ratio (SCR) 96,50%, Call Setup Success Ratio (CSSR) 98,1%, Drop Call Rate (1,51%), Block Call Rate (1,91%).   Kata kunci: Drive Test, RxLevel, RxQual, SCR, DCR, CSSR, Blocked Call Rate, Visual Basic dan G-Net Track
ANALISIS KINERJA SISTEM ANTRIAN M/M/1/N Florensa Ginting; M Zulfin
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.441 KB)

Abstract

Abstrak Sistem antrian sangat banyak terdapat dalam dunia nyata, diantaranya pada loket penjualan karcis, transaksi di bank, aliran paket pada jaringan data dan yang lainnya. Sistem antrian M/M/1/N adalah sistem antrian dengan satu pelayan (server) dengan tempat tunggu yang terbatas. Sistem antrian seperti ini banyak sekali penerapannya. Salah satu permasalahan pada sistem antrian adalah apabila laju kedatangan melebihi laju pelayanan yang menyebabkan sebagian paket akan diblok apabila tempat antri sudah penuh. Kondisi seperti ini apabila berlanjut dapat menyebabkan keluhan pelanggan terhadap kinerja sistem tersebut yang pada akhirnya pelanggan akan mencari sistem yang lebih baik. Tulisan ini mengenai analisis kinerja sistem antrian M/M/1/N yang terdapat pada sebuah jaringan paket data. Perolehan kinerja dilakukan secara simulasi dan secara teoritis. Selanjutnya kedua hasil analisis tersebut dibandingkan.Dari analisis yang dilakukan diperoleh bahwa untuk utilisasi sistem (ρ) = 5 diperoleh bahwa hasil simulasi hampir mendekati hasil teori. Pada pelanggan yang dibatasi (N) = 10 diperoleh rata-rata waktu antri yaitu 0,0177 dengan 0,0175. Untuk rata-rata waktu transaksi diperoleh yaitu 0,007 dengan 0,01. Untuk rata-rata waktu dalam sistem yaitu 0,0248 dengan 0,0195. Untuk rata-rata jumlah paket dalam antri yaitu 9 dengan 8,75, rata-rata jumlah paket dalam fasilitas pelayanan yaitu 0,9833 dengan 1. Untuk rata-rata jumlah paket dalam sistem yaitu 10 dengan 9,75. Kata kunci: Sistem Antrian M/M/1/N, Kinerja Antrian M/M/1/N
ANALISIS ALGORITMA LOCALLY OPTIMAL HARD HANDOFF TERHADAP KECEPATAN DAN KORELASI JARAK Lucky Simanjuntak; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.487 KB)

Abstract

ABSTRAK   Sebuah sistem komunikasi seluler memberikan kemudahan terhadap pengguna untuk dapat melakukan komunikasi meskipun dalam keadaan bergerak, salah satunya memungkinkan mobile station untuk berpindah dari satu base station ke base station yang lain selama komunikasi berlangsung, mekanisme perpindahan ini dinamakan handoff. Adapun parameter yang mempengaruhi handoff adalah kecepatan pergerakan mobile station dan korelasi jarak pada lingkungan sekitar base station atau disebut sebagai parameter kontrol. Algoritma locally optimal handoff adalah algoritma yang diadaptasikan dengan kecepatan dan korelasi jarak. Paper ini menganalisis perbandingan algoritma locally optimal handoff dengan metode threshold dengan histeresis adaptif. Nilai korelasi jarak adalah 10 m, 20 m, dan 30 m dan titik operasi kecepatan adalah 2 m/s sampai 50 m/s. Jumlah handoff dan sinyal degradasi bernilai rendah ketika nilai korelasi jarak 30 m pada kecepatan 0 m/s sampai 5 m/s. Untuk perbandingan algoritma locally optimal handoff dengan metode threshold dengan histeresis adaptif (do = 10 m) , jumlah handoff berbanding terbalik untuk kedua metode, sedangkan nilai sinyal degradasi sama. Kata kunci: Algoritma locally optimal handoff, metode threshold dengan histeresis adaptif,  kecepatan, korelasi jarak.
ANALISIS EKSPONEN PATH LOSS DENGAN MEMBANDINGKAN METODE HISTERESIS ADAPTIF DAN METODE HISTERESIS TETAP Mutiara Widasari Sitopu; Maksum Pinem
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.11 KB)

Abstract

Abstrak Sebuah sistem komunikasi bergerak memberikan kemudahan terhadap pengguna untuk dapat melakukan proses komunikasi meskipun dalam keadaan bergerak, salah satunya memungkinkan pengguna untuk berpindah dari suatu cakupan area sel menuju cakupan area sel yang lain, fenomena perpindahan ini dinamakan handoff. Paper ini menganalisis variansi eksponen path loss dengan membandingkan algoritma histeresis adaptif dan histeresis tetap  untuk mengetahui bagaimana pengaruh parameter kinerja yaitu jumlah handoff, delay handoff dan sinyal degradasi. Dengan menggunakan metode histeresis adaptif, jumlah handoff rata-rata pada eksponen path loss = 2dB adalah 2,27 dan pada metode histeresis tetap adalah 5,40. Jumlah delay yang dihasilkan pada saat eksponen path loss = 2dB, dengan menggunakan metode histeresis adaptif adalah 335,53 m/s pada metode histeresis tetap adalah    366,03m/s. Nilai sinyal degradasi pada eksponen path loss = 6,5dB dengan menggunakan metode histeresis adapftif adalah 0,5dB dan pada metode histeresis tetap adalah 0,696dB. Dari hasil yang didapat maka metode yang paling baik digunakan adalah metode histeresis adaptif karena jumlah handoff yang minimal dan tundaan atau delay handoff yang terjadi lebih sedikit serta sinyal degradasi atau sinyal yang berada dibawah sinyal link drop lebih sedikit. Kata kunci : algoritma histeresis adaptif, algoritma histeresis tetap, variansi eksponen path loss
Analisis Pengaruh Ukuran Ground Plane Terhadap Kinerja Antena Mikrostrip Patch Segiempat Pada Frekuensi 2.45 GHz Haditia Pramuda Harahap; Ali Hanafiah Rambe
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.169 KB)

Abstract

Seiring dengan semakin majunya teknologi semikonduktor, menyebabkan ukuran dari perangkat komunikasi yang digunakan semakin mengecil.Oleh karena itu dibutuhkan suatu antena dengan bentuk fisik yang mudah difabrikasi serta memiliki performa tinggi untuk diaplikasikan pada perangkat telekomunikasi nirkabel yang ada. Antena mikrostrip adalah jawaban dari permasalahan diatas.Dalam penelitian ini, dirancang sebuah antena mikrostrip patch segiempat yang mampu bekerja pada frekuensi 2.45 GHz untuk selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui pengaruh ukuran ground plane yang bervariasi terhadap kinerja antena mikrostrip patch segiempat. Variasi ukuran yang digunakan adalah dari 0 mm sampai 20 mm. Dari hasil analisis, diperoleh antena dengan ukuran ground plane yang memenuhi standar untuk digunakan adalah antena mikrostrip dengan nilai x dari  8 mm (1/14
SIMULASI DISTRIBUSI TEGANGAN PADA ISOLATOR Kentrick Pranoto; Syahrawardi Syahrawardi
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.346 KB)

Abstract

Isolator rantai digunakan sebagai isolasi yang memisahkan antara kawat fasa yang bertegangan dengan menara. Karena adanya pengaruh kapasitansi maka distribusi tegangan pada setiap rantai/piring isolator rantai menjadi tidak merata.  Hal ini memungkinkan adanya satu atau lebih piring isolator yang akan memikul tegangan melebihi kemampuannya.Tulisan ini menampilkan simulasi perhitungan distribusi tegangan dari setiap rantai isolator yang ada dengan menggunakan metode hukum Kirchoff untuk beberapa skenario: keadaaan normal, flashover, dan terputusnya kawat pembumian. Dari simulasi, diperoleh bahwa distribusi tegangan pada isolator rantai semakin baik jika kapasitansi sendiri (C1) semakin besar, kapasitansi antara elektroda penghubung dengan menara/tanah (C2) semakin kecil atau kapasitansi antara elektroda penghubung dengan kawat fasa (C3) semakin besar. Flashover pada salah satu piring isolator rantai menyebabkan tegangan pada setiap piring isolator lain naik dan menyebabkan efisiensi menurun dengan variasi 0,25% - 15%, sementara putusnya kawat pembumian menyebabkan isolator yang terdekat ke kawat fasa memikul tegangan terendah dan piring isolator yang terdekat ke menara memikul tegangan tertinggi.Kata Kunci : isolator rantai, kapasitansi, distribusi tegangan
ANALISIS RANGKAIAN GENERATOR IMPULS UNTUK MEMBANGKITKAN TEGANGAN IMPULS PETIR MENURUT BERBAGAI STANDAR Wangto Ratta Halim; Syahrawardi Syahrawardi
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.657 KB)

Abstract

Pada tegangan impuls yang disebabkan oleh sambaran petir, waktu yang diperlukan untuk mencapai puncak gelombang dan waktu penurunan tegangan sangat bervariasi sehingga perlu ditetapkan bentuk standar tegangan impuls petir untuk keperluan pengujian. Terdapat beberapa standar mengenai tegangan impuls petir diantaranya standar Jepang, Inggris, Amerika dan International Electrotechnical Commission (IEC). Masing- masing standar memiliki perbedaan dari segi waktu muka dan waktu ekor gelombang. Paper ini menganalisis bentuk tegangan impuls petir sesuai standar Jepang, Inggris, Amerika dan IEC, serta menyajikan cara menentukan nilai resistansi, induktansi dan kapasitansi generator impuls untuk menghasilkan bentuk gelombang impuls petir sesuai masing-masing standar. Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa nilai tegangan puncak, waktu muka dan waktu ekor gelombang dapat diatur dengan mengubah nilai resistansi, induktansi dan kapasitansi pada generator impuls. Pada generator impuls RLC dengan spesifikasi W = 1 kJ, Vmaks = 100 kV  dan η = 90% nilai komponen untuk membangkitkan tegangan impuls petir berdasarkan standar IEC adalah C = 162 nF, L = 88,72 µH, R0 = 396,08 Ω, Rs = 37,80 Ω Kata Kunci: gelombang impuls, generator impuls petir, standar gelombang impuls petir
SIMULASI MODEL INDOOR CEILING MOUNT ANTENNA SEBAGAI PENGUAT SINYAL WI-FI MENGGUNAKAN SIMULATOR ANSOFT HFSS V10.0 Hermanto Siambaton; Ali Hanafiah Rambe
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.726 KB)

Abstract

Abstrak Indoor Ceiling Mount Antenna merupakan salah satu antena Omni Directional yang sangat pesat perkembangannya dalam sistem telekomunikasi dan salah satu aplikasinya dipakai sebagai penguat sinyal Wi-Fi (Wireless Fidelity) di dalam ruangan (indoor). Adapun penggunaan antena ini dapat mengakses jaringan wi-fi dari ruang kelas ke seluruh ruangan kampus atau dari kantor ke kantor yang berlainan dan antar gedung. Paper ini membahas tentang cara mensimulasikan sebuah antena Ceiling Indoor dengan model no:YLXD-08/25-3M yang bekerja pada pita frekuensi 1710-2500 MHz, gain 4 dBi, VSWR  ≤ 1,5 dan impedansi masukan 50 Ω yang dimodelkan dengan menggunakan simulator Ansoft HFSS v10.0. Dari hasil simulasi diperoleh gain sebesar 5,17 dBi dan VSWR sebesar 1,37 serta hasil perhitungan secara teoritis diperoleh gain sebesar 3,62 dBi dan VSWR sebesar 1,45. Kata Kunci: Antena Ceiling Indoor, Antena Horn Konikal, Wi-Fi
ANALISA PEMILIHAN TRAFO DISTRIBUSI BERDASARKAN BIAYA RUGI-RUGI DAYA DENGAN METODE NILAI TAHUNAN Rizky Ferdinan; Eddy Warman
Singuda ENSIKOM Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Singuda ENSIKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap instalasi PLN dan industri tentunya membutuhkan trafo sebagai alat untuk mengubah tegangan tinggi menjadi tegangan rendah atau sebaliknya. Panjangnya jaringan listrik PLN tentu memerlukan banyak trafo dan peralatan lainnya dalam mendistribusikan tenaga listrik untuk melayani konsumen. Oleh karena itu kita harus mengelola dan mengetahui cara pemilihan trafo. Pada jurnal ini  dihitung biaya rugi daya pada dua trafo dengan kapasitas yang sama sebesar 400 kVA untuk memilih trafo yang memiliki biaya rugi-rugi yang lebih kecil. Walaupun dua buah trafo memiliki kapasitas daya yang sama besar, besarnya rugi tanpa beban dan rugi berbeban pada dua trafo dapat berbeda. Pada jurnal ini rugi-rugi daya yang dihitung bergantung pada rugitrafo tanpa bebantrafo dan rugi trafo berbeban. Kedua rugi-rugi ini dijumlahkan untuk mendapatkan total rugi trafo. Pada trafo 1 rugi daya total sebesar 5325 W dan trafo 2 sebesar 5440 W. Dari jumlah rugi daya total ini dihitung biaya rugi daya setiap trafo. Untuk total biaya rugi daya berbeban pada trafo I lebih kecil sebesar Rp. 15.824.186,64 dibandingkan dengan trafo II sebesar Rp. 16.067.802,24