cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil USU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 574 Documents
ANALISA NERACA AIR DAERAH IRIGASI PANCA ARGA DI KABUPATEN ASAHAN Yenni Syahreni Siagian
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 3, No 1 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 3 NO.1 2014
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Optimasi penggunaan air lebih dapat digunakan secara efektif dan efisien, ini menunjukkan atas meningkatnya penggunaan air untuk kebutuhan tanaman dan kebutuhan lainya. Daerah Irigasi Panca Arga yang terletak di Kabupaten Asahan mempunyai luas lahan 1670 ha yang berpotensi meningkatkan produksi pertanian di kota Asahan. Untuk mendapatkan gambaran keseimbangan air di daerah irigasi terhadap optimasi irigasi, diperlukan beberapa data sekunder dari instansi terkait, seperti data curah hujan, data iklim, dan gambar-gambar teknik yang menunjang dalam penulisan. Melakukan studi pustaka yang berhubungan dengan hidrologi dan efisiensi irigasi. Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan 24 alternatif pola tanam didapat nilai NFR yang terkecil yaitu sebesar 5,18 mm/hari, dimana alternatif yang digunakan adalah alternatif ke-14. Dengan awal penyiapan lahan pada periode Juli II. Nilai debit andalan maksimum didapat pada bulan Agustus I 13,10 m3/det dan minimumnya 4,83 m3/det pada bulan Maret I. Dari hasil perhitungan neraca air maka debit inflow masih sangat mencukupi untuk kebutuhan air Daerah Irigasi Panca Arga. Key Word: Produksi Pertanian, Optimasi Irigasi, Keseimbangan Air
INDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN KERJA PADA PROYEK KONSTRUKSI DENGAN METODE ANALISIS ROOT CAUSE TRACING MODEL (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Gedung Hotel Santika Medan) Kelis Ardi Putra
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 3, No 1 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 3 NO.1 2014
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dalam dunia konstruksi, mengendalikan biaya, waktu dan mutu sangat penting artinya untuk pencapaian tujuan akhir proyek. Masalah terhadap batasan tersebut bisa menimbulkan tuntutan. Tuntutan tersebut bisa mengakibatkan tidak tercapainya tujuan akhir suatu proyek yang telah direncanakan sebelumnya. Selain itu kerugian-kerugian yang ditimbulkan dapat mempengaruhi hasil pekerjaan ataupun produk yang dihasilkan. Pihak yang merasa dirugikan dapat mengajukan tuntutan dengan menyertakan kerugian apa saja yang dialami dan penjelasan mengenai hak-hak yang dilanggar. Oleh karena itu diperlukan tindakan-tindakan pendukung dengan mempersiapakan dokumentasi, pengetahuan tentang dokumen kontrak, penjadwalan dalam pelaksanaan proyek, gambaran yang jelas tentang perubahan order dan komunikasi kerja yang baik. Tujuan pelaksanaan tugas akhir ini adalah untuk mengindentifikasi hal-hal yang berpotensi menimbulkan tuntutan dari penyedia jasa dan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap terjadinya tuntutan pada proyek pembangunan Gedung Hotel Santika. Selanjutnya penulis melakukan kajian dengan membandingkan penelitian yang dilakukan dengan studi pustaka sehingga menghasilkan karya tulis yang bermanfaat. Hasil dari pelaksanaan tugas akhir ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tuntutan pada pelaksanaan proyek konstruksi. Oleh karena itu informasi ini dapat membantu penyedia jasa meningkatkan kemampuan teknis dan manajemen untuk menemukan solusi terhadap masalah tuntutan pada proyek konstruksi. Kata Kunci : Proyek konstruksi, tuntutan, penyedia jasa.
PERENCANAAN LANTAI FLAT SLAB BERDASARKAN TATA CARA SNI 03-2847-2002 Dicky Zulkarnain
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 3, No 1 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 3 NO.1 2014
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A B S T R A K Saat ini bangunan tinggi sangat dibutuhkan di berbagai kota-kota besar sebagai ruang untuk tempat tinggal, perkantoran ,tempat usaha dan lain sebagainya. Dengan berkembangnya teknologi pula bermunculan berbagai inovasi dalam pembangunan gedung tinggi terutama dalam hal sistem pelat lantai. Flat slab merupakan struktur pelat beton bertulang yang tidak menggunakan balok dan langsung menggunakan drop panel di sekitar kepala kolom yang berfungsi sebagai penyangga tambahan pada pelat dalam memikul gaya-gaya terutama pada gaya geser pelat di sekitar kepala kolom. Pada tugas akhir ini sistem pelat lantai yang akan dibahas adalah sistem pelat lantai dengan menggunakan flat slab. Perencanaan awal dengan menggunakan metode perencanaan langsung, selain itu juga akan menghitung lendutan dan momenlentur yang akan diselesaikan secara analitis dan program komputer. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari tugas akhir ini adalah nilai lendutan yang diperoleh dar cara analitis, perbandingan antara nilai momen lentur yang diperoleh dari cara analitis dengan program komputer, nilai gaya geser rencana, serta perencanaan tulangan pada pelat lantai. Kata kunci : pelat lantai, flat slab, metode perencanaan langsung ,analitis, program komputer
EVALUASI KEHILANGAN AIR (WATER LOSSES) PDAM TIRTANADI PADANGSIDIMPUAN DI KECAMATAN PADANGSIDIMPUAN SELATAN Nikmad Arsad Siregar
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 3, No 1 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 3 NO.1 2014
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kebutuhan air bersih masyarakat semakin hari semakin meningkat sedangkan kapasitas produksi sumber air bersih cenderung relatif menurun maka hal yang relevan untuk dilakukan adalah meminimalkan tingkat kehilangan air dengan program pengendalian non revenued water (NRW). NRW dapat didefinisikan sebagai air yang dapat diukur dan diketahui besarnya namun tidak dapat direkeningkan atau tidak dapat menjadi penghasilan, tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu metodologi yang dapat digunakan untuk mengetahui besarnya NRW adalah metode infrastructure leakage index (ILI). Tingkat kehilangan air dihitung persentasenya berdasarkan selisih antara jumlah air yang didistribusikan (m3) dengan jumlah air yang tercatat dalam rekening, sedangkan neraca air dihitung berdasarkan jumlah debit air yang masuk, konsumsi bermeter berekening, ketidakakuratan meter pelanggan, kehilangan air dan kehilangan fisik. Dari dua besaran di atas nilai ILI dihitung dengan menggunakan Tabel Matriks Target yang disusun oleh badan regulator pelayanan air minum DKI Jakarta. Hasil analisa menunjukkan bahwa tingkat kehilangan air di PDAM Tirtanadi Padangsidimpuan sebesar 27.516 m3/tahun atau sebesar 12%,- /tahun dengan kerugian dalam rupiah sebesar Rp 26.494.704,- /tahun. Nilai ILI 11,2 dengan tekanan rata-rata 1,97 atm termasuk dalam golongan B. Nilai tersebut berdasarkan Tabel Matriks Target berada pada range 4-8 yang berarti terjadi nilai kebocoran 100-200 l/sambungan/hari. Kata kunci : kehilangan, air, Non Revenued Water.
PENGARUH PERAWATAN (CURING) PADA BETON DENGAN LIMBAH ABU BOILER PABRIK KELAPA SAWIT (PKS) SEBAGAI SUBSTITUSI SEMEN TERHADAP KUAT TEKAN BETON FD Pardi Habeahan
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 3, No 1 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 3 NO.1 2014
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.561 KB)

Abstract

ABSTRAK Salah satu faktor yang mempengaruhi kekuatan beton adalah perawatan (curing). Perawatan (curing) adalah suatu langkah/tindakan untuk memberikan kesempatan pada semen/beton mengembangkan kekuatannya secara wajar dan sesempurna mungkin. Perawatan (curing) beton dilakukan setelah beton mencapai final setting, artinya beton telah mengeras, sampai dengan minimal 7 hari (initial curing). Beton merupakan gabungan material yang terutama terdiri dari tiga bahan campuran yaitu: semen, air, dan agregat yang memiliki perbandingan tertentu. Namun bahan baku pembentuk beton yang selama ini diperoleh dari alam cenderung menurun mendorong peneliti menambahkan bahan-bahan lain yang mempunyai sifat yang sama dengan pembentuk beton dalam campuran beton. Salah satunya adalah abu boiler PKS. Limbah abu boiler PKS merupakan salah satu limbah yang menjadi masalah utama bagi perusahaan industri. Untuk itu, peneliti berusaha memanfaatkan abu boiler PKS ini agar pemanfaatannya dapat dioptimalkan. Dari hasil pengujian diperoleh kenaikan nilai pada slump, dan penurunan kuat tekan untuk semua variasi menjadi 84.22%, 71,43% dan 56,30% dari beton normal untuk curing rendam. Untuk curing plastik 90.47%, 69.81%, dan 54.25% dari beton normal. Untuk curing kering 74.15%, 63,75%, dan 52,03% dari beton normal. Beton dengan curing plastik dan curing kering akan mengalami penurunan kuat tekan dari curing rendam. Penurunan kuat tekan pada beton normal menjadi 89.29%, 76.01% dari curing rendam. Untuk substitusi 7,5% yaitu 95.92%, 62.30% dari curing rendam. Untuk substitusi 12,5% yaitu 87.26%, 69.41% dari curing rendam. Untuk substitusi 17,5% yaitu 86.04%, 72.91% dari curing rendam. Kata kunci : beton normal, abu boiler PKS, kuat tekan, curing.
KAJIAN KEHILANGAN AIR PADA WILAYAH PELAYANAN PDAM ( TIRTA NAULI ) SIBOLGA Zuhendri Tanjung
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 3, No 1 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 3 NO.1 2014
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.499 KB)

Abstract

ABSTRAK Kehilangan air dapat didefinisikan sebagai selisih antara jumlah air yang tercatat masuk ke sistem dan jumlah air yang tercatat keluar dari sistem. Dalam suatu sistem penyediaan air minum tidak seluruhnya air yang diproduksi instalasi sampai ke konsumen. Biasanya terdapat kebocoran di sana sini yang disebut dengan kehilangan air. Maka untuk mengurangi atau meminimalkan tingkat kehilangan air dibutuhkan solusi yang tepat. Salah satu solusi yang dapat digunakan adalah dengan metode pengendalian non revenued water (NRW). NRW dapat didefinisikan sebagai air yang dapat diukur dan diketahui besarnya namun tidak dapat diuangkan atau tidak dapat menjadi penghasilan, tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu metodologi yang dapat digunakan untuk mengetahui besarnya NRW adalah metode infrastructure leakage index (ILI). Tingkat kehilangan air dapat dinyatakan sebagai perbandingan antara kehilangan air dan jumlah air yang didistribusi ke dalam jaringan perpipaan air. Kehilangan air dapat dihitung berdasarkan kehilangan fisik dikurang kehilangan non teknis. Dari dua besaran di atas nilai ILI dihitung dengan menggunakan Tabel Matriks Target yang disusun oleh badan regulator pelayanan air minum DKI Jakarta. Hasil analisa menunjukkan bahwa tingkat kehilangan air di PDAM Tirta Nauli Sibolga sebesar 4.419.744,24 m3/tahun atau sebesar 44,52 % per tahun dengan kerugian dalam rupiah sebesar Rp 7.350.469.662,- /tahun. Nilai ILI 43,8 dengan tekanan rata-rata 2,107 atm termasuk dalam golongan D. Nilai tersebut berdasarkan Tabel Matriks Target berada pada range > 16 yang berarti terjadi nilai kebocoran > 600 l/sambungan/hari. Kata kunci : kehilangan, air, Non Revenued Water.
EFEKTIVITAS SAMBUNGAN KAYU PADA MOMEN MAKSIMUM DENGAN BAUT BERVARIASI PADA BALOK SENDI ROL Muhammad Sadikin
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 3, No 1 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 3 NO.1 2014
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.992 KB)

Abstract

ABSTRAK Kayu merupakan bahan konstruksi yang mudah didapat di alam serta memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda dari bahan konstruksi yang lain dari segi sifat fisis dan mekanis. Kelebihan kayu adalah lebih murah, mudah didapat dan mudah pengerjaannya serta ringan. Kayu juga memiliki kekurangan antara lain serangan serangga dan mudah terbakar. Pada penelitian yang dilakukan ini, bahan sambungan yang akan digunakan adalah kayu dengan alat penyambung baut dengan diameter yang bervariasi yaitu Ø10 mm, Ø12 mm, dan Ø16 mm. Ketiganya akan dibandingkan dengan menggunakan Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI NI-5 2002). Sehingga nantinya akan didapat hubungan antar beban (P) dan penurunan (deformasi) sampai pada beban ultimit pada tiap-tiap variasi diameter baut serta mendapatkan faktor keamanan sambungan. Penelitian menggunakan metode ekperimen di laboratorium dan membandingkannya dengan analisa teori. Dari hasil penelitian didapat bahwa kayu kelapa terletak pada kode mutu E10 dengan Elastisitas Lentur 11000 Mpa, kuat tekan sejajar serat 668,601 kg/cm2, berat jenis 0,987 gr/cm3 dan kadar air 21,138%. Serta diperoleh efektivitas sebesar 64,45% pada sambungan kayu dengan alat sambung baut berdiameter 10 mm dan 12 mm, sedangkan pada sambungan kayu dengan alat sambung baut berdiameter 16 mm diperoleh efektivitas sebesar 63,64%. Kata kunci : kayu, sambungan, kuat lentur, PKKI-NI-5 2002.
DESAIN PONDASI TELAPAK DAN EVALUASI PENURUNAN PONDASI Endra Ade Gunawan Sitohang1, Roesyanto2 Endra Ade Gunawan Sitohang
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 3, No 1 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 3 NO.1 2014
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.207 KB)

Abstract

ABSTRAK Secara garis besar, struktur bangunan dibagi menjadi 2 bagian utama, yaitu struktur bangunan di dalam tanah dan struktur bangunan di atas tanah. Struktur bangunan di dalam tanah sering disebut struktur bawah, sedangkan struktur bangunan di atas tanah sering disebut struktur atas. Struktur bawah dari suatu bangunan lazim disebut pondasi, yang bertugas memikul bangunan di atasnya. Seluruh muatan (beban) dari bangunan, termasuk beban-beban yang bekerja pada bangunan dan berat pondasi sendiri, harus dipindahkan atau diteruskan oleh pondasi ke tanah dasar dengan sebaik-baiknya. Tugas akhir ini bertujuan untuk mendesain pondasi telapak pada tanah lempung mulai dari menghitung daya dukung tanah, dimensi pondasi, penulangan, kontrol kuat geser 1 arah dan 2 arah, sampai pada evaluasi penurunan pondasi. Perhitungan daya dukung tanah adalah menggunakan rumus Terzaghi; untuk perhitungan penulangan pondasi tunggal dan kombinasi menggunakan acuan SNI 03 -2847-2002 dan ACI ; serta untuk perhitungan penurunan digunakan dua metode yaitu metode one point dan metode sub-layer. Pada perhitungan desain pondasi telapak, situasi letak sumbu kolom akan sangat berpengaruh dan pada perhitungan evaluasi penurunan, metode sub layer akan lebih memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan dengan metode one-point. Kata kunci: desain pondasi dangkal, muka air tanah, penurunan, sub-layer.
EVALUASI KINERJA JARINGAN IRIGASI UJUNG GURAP UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI PENGOLAHAN AIR IRIGASI Mustapa Alihasmi Siregar
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 3, No 1 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 3 NO.1 2014
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.033 KB)

Abstract

ABSTRAK Irigasi mempunyai peranan untuk meningkatkan produksi tanaman, dengan cara mengatur dan menyediakan kebutuhan air bagi tanaman. Kebutuhan air bagi tanaman dipengaruhi oleh kehilangan air yang diakibatkan penurunan kinerja jaringan irigasi. Untuk itu diperlukan sistem irigasi yang baik agar kebutuhan air bagi tanaman dapat terpenuhi. Kebutuhan air irigasi pada penilitian ini dilakukan pengukuran dengan menggunakan metode F.J.Mock, dari analisis kebutuhan air irigasi didapat besarnya debit andalan DAS Batang Angkola sehingga diperoleh pola dan masa tanam yang baik. Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh debit andalan sebesar 19,39 m3/det dan kebutuhan air adalah sebesar 0,93 lt/dt/ha. Pola tanam yang harus digunakan adalah padi-padi-palawija dengan masa tanam awal November. Efisiensi pada jaringan sekunder sebesar 89,86 %, efisiensi ini perlu ditingkatkan agar mencapai efisiensi yang ditetapkan dalam Kriteria perencanaan efisiensi Irigasi yaitu 90 %. Dari hasil penelitian di dapat bahwa Irigasi Ujung Gurap saat ini kurang efektif. Ini terlihat dari awal rencana luas irigasi yang sebesar 1.396 ha dan yang dapat terairi hanya 890 ha, sehingga efektifitas pada irigasi Ujung Gurap hanya sebesar 63,75 %.
PENERAPAN SUMUR RESAPAN PADA PERENCANAAN DRAINASE WILAYAH DI KECAMATAN TARUTUNG (STUDI KASUS: KAWASAN PERMUKIMAN KELURAHAN HUTATORUAN VII) Nopandi Valentinus Parhusip
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 3, No 1 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 3 NO.1 2014
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.19 KB)

Abstract

ABSTRAK Isu krisis air di Indonesia khususnya di wilayah perkotaan akan menjadi kenyataan, apabila upaya pengelolaan sumberdaya air secara terprogram, terpadu dan berkelanjutan, tidak dilakukan secara serius. Maka, implementasi rancang tindak pengelolaan sumberdaya air tanah bukan saatnya lagi untuk ditelaah, akan tetapi upaya pemulihan melalui penerapan sumur resapan merupakan tindakan strategis dalam kancah revitalisasi air tanah. Studi ini bertujuan untuk mengetahui laju infiltrasi dan nilai permeabilitas tanah dalam penentuan dimensi sumur resapan dalam mereduksi debit banjir. Sebagai studi kasus, penelitian ini mengambil lokasi di kawasan permukiman Kelurahan Hutatoruan VII, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Alat yang digunakan dalam pengujian infiltrasi di lapangan adalah single ring infiltrometer. Sampel tanah di lokasi studi juga diambil untuk dilakukan uji permeabilitas yang dilaksanakan di Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Sumatera Utara. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai laju infiltrasi konstan (fc) di lokasi studi adalah 17,40 cm/jam, sedangkan nilai koefisien permeabilitas (k) sampel tanahnya adalah 9,704 x 10-4 cm/detik. Berdasarkan perhitungan, desain sumur resapan adalah berpenampang lingkaran dengan diameter 1,5 m, kedalaman 3,0 m dan debit banjir yang mampu ditampung oleh sumur resapan (Qo) = 0,00124 m3/detik. Total debit banjir kawasan permukiman seluas 800x250 m2 yang membuang aliran airnya ke sungai Aek Ristop adalah 2,082 m3/detik. Debit total yang mampu ditampung oleh sumur resapan di lokasi yang ditinjau yaitu 1,55 m3/detik, dimana direncanakan hanya 75% saja dari total rumah yang menerapkan sumur resapan. Debit banjir rencana setelah dikurangi dengan kehilangan air akibat sumur resapan yaitu 0,532 m3/detik. Persentase debit banjir yang mampu direduksi setelah penerapan sumur resapan adalah 74,48%. Kata kunci: Sumur resapan, infiltrasi, permeabilitas