cover
Contact Name
Vincentius Widya Iswara
Contact Email
vincentius@ukwms.ac.id
Phone
+6281331379070
Journal Mail Official
widyamedika@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl Raya Kalisari Selatan 1, Tower A Lt. 6, Pakuwon City Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Widya Medika
ISSN : 23380373     EISSN : 26232723     DOI : https://doi.org/10.33508/jwm
Core Subject : Health,
Jurnal Widya Medika is the official publication media of Widya Mandala Surabaya Catholic University, Faculty of Medicine. Jurnal Widya Medika publishes original research articles, case reports, and literature reviews from scientists of various medical education and research institutions, including select scientific works from medical students. All articles published had undergone plagiarism checks, editorial review by the editorial board, and peer review by experts from their respective fields in order to maintain the high standard of articles published in Jurnal Widya Medika.
Articles 184 Documents
Asupan Protein, Lemak, Karbohidrat dan Lama Hari Rawat Pasien Demam Tifoid di RSUD Dr. Moh. Soewandhie Surabaya Anisah Khoirul Umah; R. Bambang Wirjatmadi
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 2 No. 2 (2014)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v2i2.850

Abstract

Diet menjadi hal yang penting dalam proses penyembuhan penyakit demam tifoid karena bila asupan makanan kurang akan menurunkan keadaan umum dan gizi penderita sehingga proses penyembuhan akan semakin lama. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan asupan nutrisi berupa asupan protein, lemak dan karbohidrat selama perawatan dengan lama hari rawat pasien demam tifoid Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain kohort prospektif. Variabel bebas dalam penelitian adalah asupan protein, lemak dan karbohidrat, sementara variabel terikat adalah lama hari rawat pasien. Sampel penelitian sebagian pasien rawat inap demam tifoid di RSUD Dr. Moh. Soewandhie Surabaya yang telah memenuhi kriteria inklusi sebanyak 26 pasien, dengan rincian 13 pasien dengan lama hari rawat ideal (4 hari). Analisis data menggunakan uji Chi Square untuk uji hubungan antar variabel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien demam tifoid berusia 5-12 tahun, berjenis kelamin perempuan dan berstatus gizi normal. Rerata asupan nutrisi adalah energi 825,9 kkal, protein 35,3 gram, lemak 23,38 gram dan karbohidrat 103,27 gram. Uji hubungan menunjukkan bahwa asupan energi (p=0,007), protein (p=0,00) dan karbohidrat (0,03) berhubungan dengan lama hari rawat, sementara asupan lemak (p=0,3) tidak terdapat hubungan. Perlu adanya peningkatan asupan nutrisi berupa energi, protein dan karbohidrat pada pasien dengan demam tifoid untuk mempercepat proses penyembuhan sehingga mempersingkat lama hari rawat.
Hubungan Ketepatan Diet dan Kejadian Obesitas dengan Kadar Gula Darah Puasa Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Komplikasi Vidya Noermalawati; R. Bambang Wirjatmadi
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 2 No. 2 (2014)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v2i2.851

Abstract

Diabetes Melitus merupakan penyakit gangguan metabolisme akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, dan/atau kombinasi keduanya, dengan ciri khas kadar gula yang berlebih dalam darah. Tujuan umum penelitian adalah mempelajari hubungan ketepatan diet dan kejadian obesitas dengan kadar gula darah puasa pasien Diabetes Melitus tipe 2 dengan komplikasi di Poli Penyakit Dalam Instalasi Rawat Jalan RSUD dr. Moh. Soewandhie Surabaya. Penelitian dilakukan secara survei analitik dalam studi korelasi dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien dengan komplikasi makrovaskuler yang dibedakan menurut kadar gula darah puasa terkontrol dan tidak terkontrol, yakni masing-masing sebanyak 25 orang secara simple random sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan α = 0,05. Hasil penelitian dan analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan ketepatan jadwal diet (p=0,44) dengan kadar gula darah puasa, namun terdapat hubungan antara ketepatan diet jumlah (p=0,00) dan jenis (p=0,00), serta kejadian obesitas (p=0,00) dengan kadar gula darah puasa. Perlu adanya peningkatan kualitas pola diet jumlah, jadwal, dan, jenis untuk memperoleh ketepatan diet dalam upaya kontrol kadar gula darah. Selain itu, diperlukan adanya perbaikan dan pemeliharaan berat badan diabetisi menuju berat badan ideal melalui pemantauan kegiatan olahraga dan aktivitas fisik.
Luka Bakar Sudut Pandang Dermatologi Jose L. Anggowarsito
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 2 No. 2 (2014)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v2i2.852

Abstract

Luka bakar memberikan pengaruh hebat pada manusia, terutama dalam hal kehidupan manusia, penderitaan, cacat, dan kerugian finansial. Luka bakar dapat disebabkan oleh panas (api, cairan/lemak panas, dan uap panas), radiasi, listrik, kimia. Kerusakan dan perubahan berbagai sistem tubuh berkaitan dengan trauma luka bakar yang kadang sulit dipantau, sehingga permasalahannya sangat kompleks. Pengertian terhadap fase luka bakar, derajat kedalaman, luas dan derajat keparahan luka bakar akan membantu dalam penanganannya. Penanganan luka bakar sebaiknya dikelola oleh tim trauma yang terdiri dari multi disiplin ilmu. Sudut pandang dermatologi mengacu pada dermatoterapi, manajemen nyeri, dan dispigmentasi.
Perlunya Lex Spesialis bagi Pidana Kedokteran (Meninggalkan KUHP) Djuharto S. Sutanto
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 2 No. 2 (2014)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v2i2.853

Abstract

Saat ini perubahan status dunia medik dan kemajuan teknologi di Indonesia telah menjadikan masyarakat pengguna jasa medis menjadi “masyarakat yang mudah menuntut (litigious society)” sehingga dunia medis di Indonesia alami “krisis malpraktik”. Permasalahan ini perlu dicermati dan segera dicarikan jalan keluar. Salah satu solusi mengatasinya adalah dengan diterbitkannya suatu “lex spesialis” bagi sesuatu yang dianggap “pidana dokter”.
The Spirituality Augmented Cognitive Behavioural Therapy- evidence based meaning therapy for depression and demoralisation Russell F. D’Souza; Mary Mathew
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v1i2.855

Abstract

Objective: To explore and describe the Spiritually Augmented Cognitive Behaviour Therapy and its applications Method: The background on the need for incorporating spirituality in to therapy is considered. The SACBT, A meaning therapy for sustaining mental health and functional recovery is described with the cognitive components and behavioural components including the use of existential techniques in discovering meaning. The use of meditation, together with the validation and incorporation of the appropriate belief system of patients into their treatment is described. The use of rituals that are practised are incorporated in to the treatment in the form of a ritual monitoring sheet Result: Open randomised controlled studies have demonstrated the 16 session SACBT to be significantly beneficial in not only extinguishing hopelessness and despair, but are also found to improve treatment collaboration and reduce relapse thus increasing time to next relapse and improving functional recovery Conclusion: This meaning based therapy that incorporates appropriately a person belief system, which often might be the core that helps the patient and family cope, is an adjunct therapy that has been shown to improve function outcomes. Thus this evidence based adjunct therapy has an important and useful role in enhancing functional recovery and whole person care – an area that has had less attention given to in conventional psychiatric treatment.
Obesity An overview of the complex biological effects of expanding adipose tissue T.W. van Haeften
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v1i2.856

Abstract

Obesity has a more complex biology than previously thought. Feeding behaviour is regulated via a integrative circuit of afferent input from the stomach, the pancreas and the intestines via hormonal influences and the vagal nerve, which affect hypothalamic nuclei. This will lead to satiety and inhibition of hunger combined with other effects such as energy expenditure and growth promoting effects. Moreover, upon sufficient caloric intake, triglycerides are taken up in adipocytes, which in their turn will produce more leptin which inhibits hypothalamic nuclei and which will add to these hypothalamic effects. It has been suggested that more macrophages enter the adipose tissue which would alter adipocyte secretion. Adipocytes are now known to produce an array of proteins with hormonal effects calledadipo(cyto)kines. In obesity, many of these adipokines are produced in substantially higher amounts with potentially deleterious effcets notably on the risk of atherosclerosis, type 2 diabetes and cancer.
Optimizing the dosage of antibiotic for hospitalized pneumonia patients Benjamin Margono
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v1i2.857

Abstract

Untuk mengupayakan optimalisasi terapi antibiotik diperlukan pencapaian serta dipertahankannya konsentrasi antibiotik yang optimal ditempat infeksi pada waktu yang tepat. Kriteria dasar yang harus dipenuhi adalah 1) Apakah penderita benar benar menderita penyakit infeksi yang bisa ditanggulangi dengan antibiotika. 2) Apakah memerlukan identifikasi spesimen mikrobial untuk pemilihan antibiotika, karena infeksi saluran nafas memerlukan assesmen kwantitatif. 3) Apakan memerlukan MONO atau terapi KOMBINASI. 4) Rute administrasi lewat jalan apa ? 5) Patogen, kepekaan serta patofisioli. 6) Mencegah timbulnya resistensi. Interaksi antibiotika – situs infeksi – farmakokinetik – serta farmakodinamik amat penting dan merupakan bagian dari TEKA TEKI terapi antibiotik ( antibiotic puzzle)
Bioetika dan Bioteknologi dalam Dunia Modern Willy F. Maramis
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v1i2.858

Abstract

Dalam diskusi-diskusi tentang moral dan etika, kita harus membedakan sesuatu hal yang didiskusikan itu termasuk dalam bidang etika, sopan-santun atau disiplin. Moral (filsafat moral) atau etika adalah ilmu (bukan agama), dan dengan demikian menggunakan penalaran ilmiah, untuk menetukan apakah suatu perilaku individu atau kelompok individu baik atau jahat (right or wrong). Biarpun tidak ada batas yang jelas, ada baiknya bila dibedakan antara etika (ethics), etika kedokteran (medical ethics), bioetika (bioethics) dan etika biomedik (biomedical ethics). Bioteknologi (Biotechnology) adalah teknologi yang melakukan intervensi dalam proses kehidupan. Cakrawala teknologi adalah kemungkinan-kemungkinan, sedangkan cakrawala etika adalah tujuan. Suatu alat hasil teknologi dapat dipakai untuk membangun atau pun menghancurkan manusia. Tidak ada teknologi yang netral. Karena itu ada kebutuhan akan pengarahan dan penilaian dalam teknologi, khususnya bioteknologi. Banyak sekali usaha telah dan sedang dilakukan dalam bioteknologi dan telah banyak sekali penemuan telah muncul. Hanya beberapa yang dibicarakan disini dan sekaligus disinggung secara singkat aspek etikanya. Tidak mungkin dibicarakan disini penyelesaiannya secara terperinci. Silakan pembaca yang budiman memikirkan atau mendiskusikan tentang itu dengan teman sejawat atau orang lain
The Need for Geriatric Palliative Care in Indonesia R. Sunaryadi Tejawinata
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v1i2.859

Abstract

Sebagai hasil kemajuan dari berbagai aspek pengetahuan medis dan pelayanan medis di Indonesia, usia harapan hidup penduduk Indonesia menjadi lebih panjang. Jumlah lansia di Indonesia bertambah secara dramatis. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada lansia akan terjadi perubahan-perubahan bio-molekuler yang menyebabkan terjadinya perubahan fisiologi yang diikuti oleh degenerasi dari organ-organ dan sistem pada lansia. Semua ini akan membawa lansia kepada suatu keadaan “frailty”, yang jelas menyebabkan lansia itu membutuhkan berbagai dukungan. Perawatan Paliatif, selain dapat diberikan kepada semua umur, dan menjadi lebih penting bagi lansia. Di dalam Surat Keputusan Menteri Keehatan Republik Indonesia, jelas dikatakan bahwa perawatan paliatif tidak hanya untuk penderita-penderita penyakit kanker, tetapi juga bagi mereka yang menderita karena penyakit non-kanker seperti penyakit-penyakit degeneratif. Sedangkan Paus Benedictus XVI mengatakan: “dewasa ini masyarakat yang didominasi oleh logika efisiensi dan keuntungan, sering tidak menerima apa adanya lansia. Kualitas masyarakat atau peradaban dapat dinilai dari bagaimana masyarakat itu memperlakukan lansia”
Perbedaan Fungsi Air Mata Antara Mata dengan Pterygium dan Mata Normal pada Pasien di Puskesmas Belang Kabupaten Minahasa Tenggara Propinsi Sulawesi Utara Metaputra T.F.; Siegers D.J.; Saerang J.S.M.
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 1 No. 2 (2013)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v1i2.860

Abstract

L atar Belakang: Abnormalitas fungsi air mata telah dinyatakan memiliki hubungan dengan pterygium. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perbedaan fungsi air mata antara mata normal dan mata dengan pterygium pada pasien mata di Puskesmas Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara, Propinsi Sulawesi Utara. Metode: Dua uji fungsi air mata, uji Schirmer 1 dan tear film break-up time, digunakan pada penelitian ini untuk menilai fungsi air mata pada 70 mata yang terdiri dari 45 mata dengan pterygium (grup pterygium) dan 25 mata normal (grup normal). Pengujian dilakukan dengan Student’s t-test untuk sampel individu untuk mengamati perbedaan fungsi air mata pada kedua grup, dengan menggunakan nilai signifikansi 0,05. Hasil: Penelitian kami menunjukkan bahwa tear film break-up time secara signifikan lebih rendah pada grup pterygium dibandingkan dengan grup normal (p=0,02). Namun, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan dengan menggunakan uji Schirmer 1. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya disfungsi komponen lipid pada lapisan air mata. Namun, tidak ada perubahan yang ditemukan pada komponen air.

Page 3 of 19 | Total Record : 184