cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2014)" : 149 Documents clear
Pengembangan Daya Saing Daerah Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Timur berdasarkan Potensi Daerahnya Miftakhul Huda; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.006 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7207

Abstract

Daya saing wilayah menunjukkan kemampuan suatu wilayah menciptakan nilai tambah untuk mencapai kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan domestik dan internasional. Perkembangan antar wilayah yang tidak merata, menyebabkan pertumbuhan di Propinsi Jawa Timur terjadi ketimpangan antara wilayah metropolitan dengan kabupaten. Dalam merumuskan pengembangan daya saing kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur, penelitian ini menggunakan konsep segitiga daya saing. Penelitian ini, melihat seberapa jauh kemampuan daya saing kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur yang bisa dilihat dari skor yang muncul dari hasil bobot Analytical Hierarchy Process (AHP) dan nilai variabel. Data yang digunakan adalah data sekunder tahun 2012. Kemudian dipetakan antara kabupaten/kota yang memiliki daya saing tinggi maupun rendah. Dari situ, bisa ditarik rumusan upaya pengembangan daya saing di tiap kabupaten/kota berdasarkan potensi yang diperoleh dari neraca daya saing. Hasil dari penelitian ini, terdapat perbedaan kemampuan daya saing antara wilayah perkotaan dan kabupaten. Terdapat 17 kabupaten yang masuk dalam kategori kemampuan daya saing rendah. Dari hasil pemetaan, menunjukkan bahwa daerah yang memiliki daya saing tinggi secara umum didominasi oleh daerah yang unggul di indikator Perekonomian dan Keuangan Daerah serta Lingkungan Usaha Produktif.
Optimalisasi Penggunaan Lahan Untuk Memaksimalkan Pendapatan Pemerintah Daerah Kabupaten Sidoarjo (Studi Kasus : Kecamatan Waru) Mohammad Muhaimin; Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.719 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7213

Abstract

Nilai pajak bumi dan bangunan di Kecamatan Waru merupakan yang terbesar dibandingkan dengan seluruh kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Namun, persentase kenaikan pajak bumi dan bangunan di Kecamatan Waru dari tahun 2009 sampai tahun 2012 sebesar 7%, jauh lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan luasan lahan industri sebesar 27%, luasan lahan permukiman sebesar 23%, dan luasan lahan perdagangan dan jasa sebesar 27,8%. Selain itu, pembangunan yang ada belum memperhatikan aspek keseimbangan lingkungan yang diindikasikan oleh luasan ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 3,3%. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk memaksimalkan pendapatan melalui pengaturan penggunaan lahan dengan tetap mengalokasikan RTH minimal 20%. Untuk optimalisasi penggunaan lahan tersebut, 2 tahapan penelitian dilakukan sebagai berikut; pertama menentukan faktor pengaruh perubahan penggunaan lahan industri, permukiman, dan perdagangan dan jasa dengan analisis Guttman; kedua merumuskan model optimalisasi penggunaan lahan dengan menggunakan Linear Programming dengan batasan utama luasan RTH minimal 20% dari luas wilayah. Berdasarkan hasil analisa, diperoleh lima alternatif pengaturan penggunaan lahan dengan alternatif pertama adalah alternatif terbaik sesuai dengan tujuan penelitian. Alternatif ini mengalokasikan luasan lahan industri sebesar 954,83 Ha, permukiman sebesar 1145,92 Ha, perdagangan jasa sebesar 69,66 Ha, dan RTH sebesar 606,4 Ha.
Pelestarian Kawasan Pecinan Kembang Jepun Melalui Pendekatan Pola Public Private Partnership (PPP) Diana Gracea; Rima Dewi Suprihardjo
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.322 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7214

Abstract

Kawasan Pecinan Kembang Jepun merupakan salah satu kawasan kota lama Surabaya yang mengalami penurunan kualitas disebabkan oleh kurangnya perhatian dari berbagai pihak. Pihak Pemerintah belum dapat menghidupkan Kawasan Pecinan Kembang Jepun disebabkan oleh kurangnya sumber daya, seperti pendanaan dan sumber daya manusia. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk merumuskan kerjasama dengan pendekatan pola PPP yang relevan untuk diterapkan dalam pelestarian cagar budaya pada Kawasan Pecinan Kembang Jepun. Tahapan penelitian ini meliputi pengidentifikasian karakteristik kawasan Pecinan Kembang Jepun menggunakan analisis teoritical deskriptif dan skoring, menganalisa bentuk kerjasama yang dapat dilakukan oleh Pemerintah, Swasta dan Masyarakat dalam pelestarian pada kawasan menggunakan content analysis. Selanjutnya merumuskan pelestarian cagar budaya Kawasan Pecinan Kembang Jepun melalui pendekatan pola PPP dengan menggunakan analisis triangulasi. Pola BOT dan pola BOO merupakan hasil pola yang paling relevan untuk diterapkan, dimana investasi yang dilakukan pihak Swasta dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan kebudayaan yang dapat memberikan profit. Pada pola BOT, pelestarian kawasan Pecinan lebih banyak dilakukan pada pengelolaan fisik yang memberikan ciri khas budaya Pecinan. Sedangkan pada pola BOO, kegiatan pelestarian lebih banyak dilakukan secara non fisik, meliputi kegiatan wisata kuliner, kefiatan akulturasi budaya dan pemanfaatan kegiatan pada ruang public pada waktu-waktu tertentu.
Penentuan Variabel Berpengaruh Dalam Penilaian Keberlanjutan Kawasan Minapolitan di Pesisir Kabupaten Lamongan Devina Rahma Raisa; Rulli Pratiwi Setiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.174 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7218

Abstract

Sebagai kawasan minapolitan berbasis perikanan tangkap, maka wilayah pesisir Kabupaten Lamongan harus mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakatnya melalui peningkatan produksi perikanan tangkap yang pengembangannya harus berlandaskan pada asas pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang pengembangannya menitikberatkan pada tiga pilar dasar pembangunan, yaitu sosial, ekonomi dan lingkungan yang saling terkait dan seimbang. Akan tetapi, program minapolitan yang tengah berjalan di pesisir Kabupaten Lamongan belum menampakkan adanya keseimbangan antara kegiatan ekonomi, sosial dan lingkungan sebagai wujud dari pengembangan kawasan pesisir yang berkelanjutan. Artikel ini adalah bagian dari penelitian terkait penilaian keberlanjutan kawasan minapolitan di pesisir Kabupaten Lamongan, dimana artikel ini memuat proses awal dalam penilaian keberlanjutan kawasan minapolitan tersebut. Pada artikel ini akan dibahas dan didapatkan variabel yang berpengaruh dalam keberlanjutan kawasan minapolitan yang selanjutnya akan menjadi input dalam penilaian keberlanjutan kawasan minapolitan di pesisir Kabupaten Lamongan.
Penentuan Zona Kerentanan Bencana Gempa Bumi Tektonik di Kabupaten Malang Wilayah Selatan Niko Irjaya Desmonda; Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.287 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7232

Abstract

Kabupaten Malang, khususnya Kecamatan Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Dampit, Tirtoyudo, dan Ampelgading ditetapkan sebagai wilayah rawan terhadap bencana gempa bumi tektonik. Kejadian gempa bumi tektonik yang pernah terjadi di wilayah penelitian banyak menimbulkan kerusakan fisik dan timbulnya korban jiwa. Oleh karenanya, penentuan zona kerentanan bencana gempa bumi tektonik di wilayah penelitian perlu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak bencana tersebut. Dalam menentukan zona risiko bencana tersebut di wilayah penelitian, dilakukan dua tahapan, yaitu menentukan bobot prioritas variabel-variabel yang berpengaruh terhadap kerentananya menggunakan alat analisa deskriptif dan analisa AHP. Selanjutnya, menentukan zona kerentananya menggunakan analisa overlay, menggunakan metode Overlay Weighted Sum pada aplikasi GIS. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa wilayah seluas 1236.8 Ha (1.3%) diklasifikasikan sebagai zona Sangat Berisiko, meliputi Desa/Kelurahan Argotirto, Druju, Kedungbanteng, Klepu, Ringinkembar, Ringisari, Sekarbanyu, Sukodono, Sumberagung, Sumbermanjing, Tambaksari, Sumbersuko, dan Srimulyo. Adapun variabel-variabel yang sangat berpengaruh terhadap penentuan zona kerentanan bencana gempa bumi tektonik di wilayah penelitian, yaitu variabel jenis konstruksi bangunan permanen, jumlah penduduk cacat, jumlah penduduk tua, jumlah penduduk balita, dan panjang jaringan jalan.
Tipologi Permukiman Kumuh di Pinggiran Selatan Kota Surabaya Leny Agustin Maharani; Ema Umilia
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.017 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7231

Abstract

Permukiman kumuh di Pinggiran Selatan Kota Surabaya merupakan salah satu permasalahan kota. Permukiman di daerah ini menjadi rentan karena banyak masuknya penduduk desa ke kota dan memilih bertempat tinggal. Perkembangan kota Surabaya yang begitu pesat tidak diimbangi dengan pemeliharaan dan peningkatan prasarana, sehingga menjadi padat dan kumuh. Maka perlunya suatu tipologi permukiman kumuh di Pinggiran Selatan Kota Surabaya. Untuk mencapai tujuan penelitian yaitu merumuskan tipologi permukiman kumuh di Pinggiran Selatan Kota Surabaya, dilakukan tiga tahapan analisis yaitu pertama mengidentifikasi kondisi eksisting permukiman kumuh menggunakan metode statistik deskripsi, kedua untuk menentukan kriteria tipologi permukiman kumuh menggunakan analisa triangulasi dan delphi serta terakhir merumuskan tipologi permukiman kumuh dengan skoring, analisis cluster dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian terbentuk 4 tipologi, yaitu tipologi 1 terdiri dari area Karangpilang dan Waru Gunung dengan kategori di semua aspek buruk. Tipologi 2 terdiri dari area Kebraon, Gayungan, Rungkut Menaggal dan Gunung Anyar dengan ciri yaitu aspek fisik kategori sedang, aspek sosial dan hukum kategori baik, serta aspek ekonomi kategori buruk. Tipologi 3 terdiri dari area Pagesangan, Kebonsari, Dukuh Menanggal, Panjang Jiwo dan Gunung Anyar Tambak dengan ciri semua aspek baik, kecuali aspek ekonomi kategori buruk. Sedangkan tipologi 4 terdiri dari area Kutisari dan Kendangsari, yang memiliki ciri yaitu aspek fisik kategori sedang, aspek sosial dan aspek ekonomi kategori buruk dan aspek hukum kategori baik.
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian Sebagai Upaya Prediksi Perkembangan Lahan Pertanian di Kabupaten Lamongan Merisa Kurniasari; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.9 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7237

Abstract

Kabupaten Lamongan sebagai Lumbung Pangan Jawa Timur mengalami penurunan luas lahan pertanian akibat alih fungsi lahan pada periode 2009-2012. Disisi lain sebagai kawasan yang termasuk dalam Gerbangkertasusila Plus, Kabupaten Lamongan dituntut untuk terus membenahi pertumbuhan ekonomi melalui sektor non pertanian. Sehingga penelitian ini membahas mengenai prediksi perkembangan lahan pertanian sebagai upaya mempertahankan lahan pertanian di Kabupaten Lamongan seiring dengan perkembangan wilayah. Artikel ini merupakan bagian dari penelitian mengenai prediksi perkembangan lahan pertanian berdasarkan kecenderungan alih fungsi lahan pertanian (sawah) di Kabupaten Lamongan. Melalui teknik analisis GWR (Geographically Weighted Regression), dapat diketahui faktor yang berpengaruh terhadap alih fungsi lahan pertanian, kemudian ditransformasi kedalam analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap alih fungsi lahan pertanian adalah rasio harga lahan dan rasio aksesibilitas wilayah. Dimana dihasilkan kelompok-kelompok kecamatan sesuai dengan faktor alih fungsi yang mempengaruhinya.
Keterkaitan Sektor Ekonomi di Provinsi Jawa Timur Okto Dasa Matra Suharjo; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.435 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7233

Abstract

Keterkaitan antar sektor adalah salah satu faktor penting dalam pengembangan wilayah maupun dalam teori ekonomi regional. Dengan adanya keterkaitan antar sektor ini maka diharapkan mampu meningkatkan perekonomian suatu wilayah. Provinsi Jawa Timur memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasioal. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut dapat tumbuh lebih besar lagi jika ditopang dengan keterkaitan antar sektor ekonomi. Dari hasil perhitungan analisis Input-Output menunjukkan bahwa seluruh sektor memiliki keterkaitan, baik keterkaitan ke depan maupun keterkaitan ke belakang, namun keterkaitan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yang memiliki keterkaitan relatif kuat (FL>1 atau BL>1). Dari kesembilan sektor, hasil perhitungan keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang menunjukkan bahwa sektor yang paling banyak memiliki keterkaitan ke depan relaif kuat dengan sektor lain adalah sektor industri pengolahan yang memiliki keterkaitan relatif kuat dengan seluruh sektor. Sedangkan untuk keterkaitan ke belakang, sektor industri pengolahan memiliki keterkaitan ke belakang relatif kuat hampir dengan seluruh sektor, namun hanya sektor konstruksi yang tidak memiliki keterkaitan ke belakang relatif kuat dengan sektor industri pengolahan.
Penentuan Tipologi Kesenjangan Wilayah Di Kabupaten Lamongan Berdasarkan Aspek Ekonomi dan Sosial Yeni Ratnasari; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.315 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7238

Abstract

Kesenjangan wilayah yang tejadi di Kabupaten Lamongan disebabkan adanya ketidakmerataan percepatan dan pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan sosial antar kecamatan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan tipologi kesenjangan wilayah di Kabupaten Lamongan berdasarkan aspek ekonomi dan sosial. Metode analisis yang digunakan adalah analisis PLS-CFA untuk mengetahui variabel-variabel yang berpengaruh terhadap kesenjangan wilayah di Kabupaten Lamongan berdasarkan aspek ekonomi dan sosial, analisis Point by point methode dan perhitungan nilai Range untuk mengetahui tingkat kesenjangan wilayah berdasarkan aspek ekonomi dan sosial, analisis Statistik Deskriptif untuk menentukan tipologi kesenjangan wilayah berdasarkan aspek ekonomi dan sosial. Dari hasil akhir penelitian didapatkan 4 tipologi kesenjangan wilayah berdasarkan aspek ekonomi dan sosial, yaitu Tipologi A merupakan kelompok kecamatan yang mempunyai karakteristik kemajuan ekonomi dan tingkat kesejahteraan sosial tinggi; Tipologi B mempunyai karakteristik kemajuan ekonomi tinggi namun memiliki tingkat kesejahteraan rendah; Tipologi C mempunyai karakteristik kemajuan ekonomi rendah namun memiliki tingkat kesejahteraan sosia tinggi; Tipologi D mempunyai karakteristik kemajuan ekonomi dan tingkat kesejahteraan rendah.
Merumuskan Kriteria Pengendalian Lahan di Area Tambak Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik Maulana Ramadhan Herdiansa; Rimadewi Supriharjo
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.483 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7240

Abstract

Berdasarkan penghitungan survei primer, hampir 1.030 Ha tambak yang produktif di Kecamatan Manyar telah dikonversi menjadi industri dan pergudangan serta perumahan. Kemudian menurut RTRW Gresik 2010-2030, konversi lahan tambak di Kecamatan Manyar sampai tahun 2028 diperkirakan mencapai seluas 895 Ha. Konversi lahan tambak tersebut menyebabkan menurunnya produksi perikanan, pencemaran sumber air bersih setempat, serta polusi industri. Untuk mencegah dampak-dampak lain dari konversi lahan tambak tersebut diperlukan kriteria arahan dalam rangka membatasi konversi lahan di area tambak Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Tahapan analisis dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi karakteristik konversi lahan, menentukan faktor penyebab konversi lahan beserta mencari kriteria pengendalian penggunaan lahan dengan menggunakan Content Analysis. Kriteria pengendalian konversi lahan yang dapat digunakan sebagai masukan pada perumusan arahan pengendalian lahan di area tambak Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik adalah: (1) kriteria aturan zonasi yang efektif yaitu dipahami dan diterima semua kalangan, dalam hal ini harus lebih disosialisasikan dalam forum multistakeholder dan terdapat pembahasan evaluasi pelaksanaannya, (2) kriteria aturan perizinan yang efektif yaitu harus lebih ketat dalam memberi izin pendirian bangunan pabrik terutama yang dikawatirkan dapat mencemari lingkungan, (3) kriteria aturan jual beli lahan yang diterapkan yaitu harus bersih dan seefisien mungkin menimalisir celah makelar yang melanggar aturan dalam membeli dan menjual lahan tambak kepada investor asing, (4) kriteria sentralisasi penguasaan lahan yaitu harus transparan dan merakyat dalam membatasi kepentingan pribadi untuk tujuan bersama dan diharapkan tidak memunculkan penguasa yang menyalahgunakan wewenangnya, (5) kriteria pemberian subsidi yaitu seharusnya lebih dapat meningkatkan motivasi pemilik tambak atau petambak secara nyata dalam mewujudkan keproduktifitasan tambaknya dan harus berjalan terus, serta (6) kriteria pajak yang diterapkan yaitu tidak terlalu membebani masyarakat petambak dan diringankan bagi pemilik tambak yang mampu meningkatkan produktifitas tambaknya.

Page 5 of 15 | Total Record : 149