Jurnal Teknik ITS
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Articles
472 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 2 (2016)"
:
472 Documents
clear
Arahan Pengembangan Kawasan Prigi Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek Melalui Konsep Minapolitan
Hesty Ristiani Putri;
Sardjito Sardjito
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (370.733 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18418
Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu kabupaten yang memiliki Sektor Unggulan berupa Pertanian dengan menyumbang sekitar 37,82% dari sektor lainnya. Salah satu subsektor unggulan yang ada adalah Perikanan Tangkap yang berada di Kawasan Prigi yang berada di .Kawasan pesisir prigi berpotensi untuk pengembangan perikanan tangkapnya dan dikembangkan melalui konsep Minapolitan agar kawasan tersebut mampu berkembang secara maksimal sebagai poros perekonomian di Kabupaten Trenggalek dengan memaksimalkan potensi perikanan tangkap yang melimpah. Penelitian ini dilakukan melalui empat (4) tahapan analisis. Pertama, Identifikasi faktor pembentuk Minapolitan Kawasan Prigi,Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek dengan teknik analisis Kepustakaan dan Analisis Delphi. Kedua, Menentukan Prioritas Variabel Yang Berpengaruh Dalam Pengembangan Kawasan Prigi Melalui Konsep Minapolitan, Kabupaten Trenggalek dengan (AHP). Ketiga,Menentukan Zona Kawasan Minapolitan di Kawasan Prigi Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek dengan menggunakan Analisis Skalogram, Keempat, menggunakan alat analisis deskriptif, yaitu berupa elemen-elemen pembentuk Kawasan minapolitan Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek dengan mempertimbangkan potensi kawasan, masalah yang ada di Kawasan dan Arahan pengembangan yang sesuai. Hasil dari penelitian ini adalah berupa jenis arahan berupa peningkatan kegiatan maupun penambahan sarana prasarana pendukung kegiatan minapolitan. Pada Zona Inti, Zona Pengolahan dan Zona Penunjang dimana setiap zona tersebut memiliki arahan program maupun arahan penambahan sarana prasarana dalam mendukungpembentukan Kawasan minapolitan Prigi,Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
Penilaian Risiko Kuantitatif Tubrukan Kapal dengan Platform: Studi Kasus Tubrukan Kapal dengan Wellhead Platform PHE-12
Faiz Farhansyah Arsyad;
Yeyes Mulyadi;
AA.Bgs. Dinariyana
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (294.587 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18526
Pada tugas akhir ini dilakukan penilaian risiko tubrukan kapal pada platform, dengan mengambil studi kasus terhadap Platform PHE-12 milik PT. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) yang akan segera diinstalasi di blok Madura Barat , dan hanya berjarak 2,91 km dari arus pelayaran bebas. Penilaian risiko dilakukan dengan menghitung frekuensi kejadian dan konsekuensi kerusakan akibat tubrukan. Perhitungan frekuensi kejadian dilakukan dengan metode kuantitatif Computerized Risk Assessment of Shipping Hazard (CRASH) dengan memproyeksikan tubrukan passing vessel dengan platform PHE-12 melalui skenario head-on dan drifting. Sementara perhitungan konsekuensi dilakukan dengan mencari peluang kegagalan struktur (collapse) dari kekuatan ultimate struktur dan nilai plastisitas yang kemudian diranking pada ketentuan konsekuensi yang ditetapkan pada tabel konsekuensi IPC. Dari kedua perhitungan tersebut, didapat hasil tingkat frekuensi kejadian tubrukan dengan skenario head-on adalah 0,021392 , sementara tubrukan dengan skenario drifting adalah 0,02999. Sementara hasil pemetaan risiko dengan menilik nilai konsekuensi pada matriks menyatakan tubrukan kapal mendapat risiko tinggi. Didapatkan kesimpulan akhir bahwa penilaian risiko tubrukan kapal terhadap platform berada pada risiko tinggi. Langkah preventif yang diberikan adalah penambahan kekuatan struktur dengan fender, dan instalasi Automatic Radar Ploting Aid(ARPA) , Radar Beacon (Racon), Vessel Traffic System (VTS) dan rekomendasi mitigasi grouting pada pile.
Analisa Pengaruh Variasi Sudut Bevel Akibat Kombinasi Pengelasan Fcaw dan SMAW terhadap Kekuatan Impact Butt Joint pada Spesimen Pipa Api 5l Grade X42
Rizkiyah Ramadani;
Herman Pratikno;
Moch. Zaed Yuliadi
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (325.568 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18650
Kekuatan sambungan las pada suatu konstruksi perlu diperhatikan dengan baik dan pengujian pun perlu dilakukan untuk mengetahui ketahanan bahan terhadap suatu beban. Dalam penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sudut bevel dan kondisi optimal akibat kombinasi pengelasan FCAW dan SMAW terhadap kekuatan impact butt joint pada material pipa API 5L grade X42. Variasi sudut bevel yang digunakan adalah 60o, 40o, dan 0o. Pengujian impact merupakan suatu upaya untuk mensimulasikan kondisi operasi material yang sering ditemui dalam perlengkapan transportasi atau konstruksi dimana beban tidak selamanya terjadi secara perlahan-lahan melainkan datang secara tiba-tiba, khususnya dalam konstruksi bangunan lepas pantai dimana beban secara tiba – tiba sangat memungkinkan untuk terjadi. Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa nilai kekuatan impact pada sudut bevel 60o di bagian weld adalah sebesar 2.01 J/mm2 dan bagian HAZ sebesar 2.08 J/mm2. Sudut bevel 40o memiliki nilai pada bagian weld sebesar 2.10 J/mm2 dan bagian HAZ sebesar 2.13 J/mm2. Namun memiliki pengaruh yang jauh berbeda dengan sudut bevel 0o yaitu memiliki nilai impact sebesar 1.72 J/mm2 untuk bagian weld dan 1.13 J/mm2 untuk bagian HAZ . Kondisi optimal pengaruh sudut bevel terhadap kekutan impact adalah sudut 40o . Hal ini dikarenakan persentase ferrite metalografi struktur mikronya lebih banyak dibandingkan dengan sudut bevel 60o dan 0o dan juga memiliki nilai kekerasan yang rendah sehingga bersifat ulet menyebabkan nilai impact-nya lebih unggul. Selain itu efisensi dalam segi penghematan waktu kerja, perkerja maupun biaya produksi lebih baik.
Analisa Perbandingan Laju Korosi di Lingkungan Laut dari Hasil Pengelasan GMAW pada Sambungan Aluminium Seri 5050 karena Pengaruh Variasi Kecepatan Aliran Gas Pelindung
Pandu Damay Putra;
Herman Pratikno;
Yoyok Setyo H
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (767.347 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18652
Penggunaan aluminium saat ini di dunia industri perkapalan sedang berkembang pesat untuk kapal-kapal cepat karena material ini ringan dan memiliki resistensi terhaap korosi yang baik. Aluminium seri 5050 merupakan jenis material yang banyak digunakan dalam konstruksi kapal. Namun pengerjaan panas seperti pengelasan akan mempengaruhi struktur mikro material dan berpengaruh terhadap ketahanan korosi. Pengelasan GMAW (Gas Metal Arc Welding) merupakan pengelasan yang umum digunakan pada material aluminium karena meberikan perlindungan dari oksidasi dengan pencairan gas terhadap material lasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari variasi kecepatan aliran gas pelindung terhadap laju korosi aluminium seri 5050. Variasi kecepatan aliran gas pelindung yang digunakan adalah 15, 20, dan 25 liter/menit. Metode pengujian korosi ini menggunakan bantuan sel tiga elektroda dengan media korosi larutan pengganti air laut dengan salinitas 3,5% yang mengacu pada ASTM G102. Dari pengujian ini didapatkan hasil laju korosi pada pengelasan aluminium dengan kecpatan aliran gas pelindung 15 liter/menit adalah 0,16 mmpy, untuk 20 liter/menit adalah 0,12 mmpy, dan untuk 25 liter/menit adalah 0,08 mmpy. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa semakin besar aliran gas pelindung maka ketahanan material terhadap korosi semakin baik.
Desain Kapal Penumpang Katamaran untuk Rute Dermaga Boom Marina, Banyuwangi – Pelabuhan Benoa
Mohammad Hamzah Satriawansyah;
Djauhar Manfaat
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (300.743 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18801
Akhir tahun 2015, PT. Pelindo III (Persero) membangun Dermaga Boom Marina di Banyuwangi dan membuka rute pelayaran kapal Boom Marina Banyuwangi – Pelabuhan Benoa Bali. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mendesain sebuah kapal katamaran yang digunakan sebagai sarana penyeberangan dari Dermaga Boom Marina, Banyuwangi menuju Pelabuhan Benoa, Bali. Katamaran memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan kapal monohull. Luas geladak dari katamaran lebih luas dibandingkan kapal monohull. Stabilitas kapal katamaran lebih baik dibandingkan kapal monohull. Sudut oleng pada kapal katamaran relative rendah sehingga meningkatkan rasa nyaman dan tidak mudah terkena mabuk laut. Dalam prosesnya desain kapal ini menggunakan parent design approach dengan mengacu pada suatu desain kapal pembanding yang sudah berlayar dengan baik. Proses desain ini mengacu pada kapal “Austal 48” sebagai kapal pembanding. Desain kapal ini juga turut diperhitungkan secara teknis maupun ekonomis. Ukuran utama kapal yang didapat adalah Lwl = 44 m, B = 11.8 m, T = 1.4 m, H = 3.8 m, B1 = 3 m, CB = 0.491, dan Vs = 28 knots. Dari ukuran utama tersebut kemudian dibuat gambar rencana garis dan gambar rencana umum dan safety plan. Biaya pembangunan kapal sebesar Rp 24.422.508.434,58.
Studi Eksperimen Pengaruh Variasi Inhibitor dan Konsentrasi Inhibitor terhadap Laju Korosi dan Penentuan Efisiensi Inhibisi pada Baja Tulangan Beton ST 42 di Kondisi Lingkungan Laut
Bayu Mahardika;
Herman Pratikno;
Hasan Ikhwani
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (330.383 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18851
Korosi pada logam adalah masalah yang tidak bisa dihindari, hanya bisa dihambat. Masalah ini harus diperhatikan secara khusus, karena bisa berdampak pada kerugian materi maupun kerugian teknis. Salah satu cara yang digunakan untuk menghambat korosi adalah dengan penambahan inhibitor. Seperti pada penelitian yang dilakukan pada tugas akhir ini, meneliti pengaruh variasi inhibitor dan konsentrasi inhibitor terhadap laju korosi dan penentuan efisiensi inhibisi pada baja tulangan beton ST 42 di kondisi lingkungan laut. Inhibitor yang akan digunakan adalah sodium nitrit, asam askorbat, dan asam karboksilat, dan variasi konsentrasi inhibitornya adalah 100 ppm, 200 ppm, dan 300 ppm. Larutan induk media korosif yang digunakan adalah larutan garam dengan salinitas 3,5 %. Data dari hasil eksperimen menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi inhibitornya maka semakin rendah laju korosinya, serta didapatkan kondisi optimal pengaruh variasi inhibitor dan konsentrasi inhibitor terhadap laju korosi pada baja tulangan ST 42 di kondisi lingkungan laut yang efisiensi inhibisinya tertinggi adalah baja tulangan beton ST 42 pada beton bertulang menggunakan inhibitor sodium nitirt dengan konsentrasi 300 ppm, yaitu sebesar 0,37665 %.
The Technical and Business Analysis of Using Shore Power Connection in The Port of Hamburg
Devi Hotnauli Samosir;
M Markert;
Wolfgang Busse
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (440.891 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18860
In port, when the ship is berthing the loading, unloading, and hospitality activity is using auxiliary engine. The combustion of marine fuels is a major contributor to air pollution, the air pollution is released 400 km around the port area. The impacts of the pollution are respiratory, health, and the environment around ports. Study indicates 60.000 of cardiopulmonary mortalities caused by ship air emission. Ship emission represents 3% of global CO2, 15% of global NOx, and 6% of global SOx emission. Because of that Hamburg Port is released the shore power facilities in July 2015 with idea of smart port and use the renewable energy such as wind turbine and solar panel compliance with IEC-ISO-IEEE 8005-1. In this bachelor thesis, the cost and also the condition between shore power and auxiliary engine will be analyzed and compared to find the most economical between shore power facilities and ship’s auxiliary engine. Shore power facilities in Hamburg are provided by SIEMENS with SIHARBOR and use a robot arm by Stemman Technik as the cable management system. The goal of this thesis is developed calculation tool to see the cost comparison and also the emission. And from the calculation tool the shore power is reducing the emission by 100% because of using the renewable energy and become economical than using auxiliary engine, it can save up to €1000. The other benefits are ship owner can save maintenance of their auxiliary engine and also saved the file. It shows that the shore power is a proven technology to reduce the emission and saved berth cost.
Pengaruh Penambahan Inhibitor Alami terhadap Laju Korosi pada Material Pipa dalam Larutan Air Laut Buatan
Ardi Prasetia Yanuar;
Herman Pratikno;
Harmin Sulistiyaning Titah
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (464.305 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18938
Korosi merupakan penurunan mutu logam akibat adanya reaksi elektrokimia dengan lingkungannya. Banyak faktor yang dapat menyebabkan korosi suatu material, salah satu diantaranya yakni pengaruh konsentrasi media korosi. Ada banyak metode untuk menghambat proses terjadinya korosi. Salah satu diantara banyak metode yaitu penggunaan inhibitor. Inhibitor organik salah satu jenis inhibitor yang bersifat non-toksik, murah, sudah tersedia di alam, mudah diperbaharui dan tidak merusak lingkungan. Inhibitor organik tersebut diperoleh dengan mengekstrak beberapa bahan yang ada di alam. Dalam penetilitian ini inhibitor yang digunakan antara lain daun jambu biji, daun teh, kedelai dan kopi. Inhibitor tersebut digunakan pada material pipa baja dalam media air laut buatan yang memiliki kadar salinitas 35 ‰. Metode perhitungan laju korosi baja menggunakan metode weight loss dan electroplating. Laju korosi paling kecil yakni sebesar 3.10 mpy untuk API 5L dan 1.94 mpy untuk ASTM A53 dengan inhibitor daun teh. Inhibitor yang kurang maksimal dalam menghambat laju korosi yaitu inhibitor kopi yakni 6.12 mpy untuk API 5L dan 2.66 mpy untuk ASTM A53. Nilai laju korosi spesimen API 5L dan ASTM A53 yang tidak menggunakan inhibitor masing-masing 50.26 mpy dan 3.83 mpy. Inhibitor teh memiliki nilai effisiensi mencapai 93.83%. Sedangkan daun jambu biji memiliki nilai effisiensi mencapai 93.45%. Nilai effisiensi inhibitor kedelai mencapai 91.72% dan inhibitor kopi memiliki nilai effisiensi paling rendah hanya mencapai 87.83%.
Analisis Remaining Life dan Penjadwalan Program Inspeksi pada Pressure Vessel dengan Menggunakan Metode Risk Based Inspection (RBI)
Dyah Arina Wahyu Lillah;
Dwi Priyanta;
Dhimas Widhi H
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.19100
Seiring perkembangan eksplorasi minyak dan gas bumi di dunia, perusahaan minyak dan gas di Indonesia juga turut berlomba-lomba untuk mendapatkan ladang minyak dan gas bumi sebanyak-banyaknya. Perkembangan ini turut dipengaruhi oleh aturan-aturan pemerintah mengenai keselamatan dan pencegahan bahaya baik pada unit yang dikelola maupun tenaga kerja pengelola. Untuk itu semua perlatan-peralatan (unit kerja) harus dijamin kehandalaannya agar tidak menimbulkan bahaya baik bagi pekerja maupun lingkungan. Subjek penelitian dalam tugas akhir ini ialah pada pressure vessel yang dimiliki oleh Terminal LPG Semarang. Kemungkinan bahaya yang dapat menyebabkan kerusakan pada pressure vessel perlu dianalisis agar dapat meminimalkan resiko yang akan terjadi. Metode Risk Based Inspection (RBI) diharapkan dapat meminimalkan resiko yang ada pada pressure vessel. Penilaian resiko dalam tugas akhir ini mengacu pada standar API RP 581. Untuk mengetahui besarnya resiko yang ada pada plant, maka terlebih dahulu harus dihitung besarnya probabilitas kegagalan dan konsekuensi apabila terjadi kegagalan. Langkah selanjutnya ialah membandingkan besarnya resiko yang didapat dengan target resiko yang dimiliki oleh perusahaan. Dari hasil perbandingan ini dapat diketahui tingkat resiko pressure vessel, sehingga dapat ditentukan jadwal inspeksi dan metode inspeksi yang tepat.
Kajian Teknis dan Ekonomis Bunkering LNG untuk Pemenuhan Bahan Bakar Gas Kapal Pelni
Adi Mas Nizar;
Ketut Buda Artana
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (306.469 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.19238
Penggunaan bahan bakar gas pada bidang perkapalan merupakan suatu keuntungan karena dapat menghemat biaya operasi dan mengurangi emisi gas buang. Pemanfaatan gas juga sesuai dengan tujuan pemerintah yang terdapat pada PP No.55/2009 tentang alokasi produksi gas dalam negeri untuk penggunaan lokal sebesar 25%. Proses pengisian bahan bakar (bunkering) LNG pada umumnya dapat dilakukan dengan tiga skema yaitu ship to ship, truck to ship dan onshore to ship. Untuk itu perlu dilakukan kajian untuk menentukan lokasi dan skema bunkering LNG yang akan digunakan pada studi kasus kali ini, yaitu untuk armada kapal PT. Pelni. Penentuan lokasi bunkering dilakukan dengan memperhatikan frekuensi kedatangan dan kebutuhan bunkering LNG pada setiap pelabuhan. Konversi kebutuhan bahan bakar minyak menjadi bahan bakar gas memakai asumsi bahwa motor diesel dimodifikasi menjadi duel fuel engine menggunakan konverter yang dapat dioperasikan dengan rasio bahan bakar HSD dengan LNG sebesar 50:50. Dari hasil didapatkan pada skenario I adalah Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Makassar, Ambon dan Sorong. Skenario II dengan penambahan Bau-bau dan Skenario III dengan penambahan Jayapura. Untuk skema bunkering yang akan dipilih ditentukan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan kriteria yang dipakai diantaranya teknis, keselamatan dan biaya. Dari hasil pembobotan yang terpilih adalah skema truck to ship. Studi ditutup dengan kajian ekonomi dari sisi penyedia LNG dan dari sisi pemilik kapal. Beberapa parameter yang dipakai adalah Net Present Value, Internal Rate Return, dan Payback Period.