cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 362 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2017)" : 362 Documents clear
Arahan Penyediaan RTH Publik untuk Menyerap Emisi Gas CO2 Kendaraan Bermotor di Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Studi Kasus: Kawasan Perdagangan dan Jasa Mayestik – Barito) Nadira Dwiputri Lase; Haryo Sulistyarso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.336 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24008

Abstract

Kawasan perdagangan dan jasa Mayestik – Barito di Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan merupakan kawasan yang ramai akan pengunjung. Belum terintegrasinya transportasi umum di Jakarta memicu penggunaan kendaraan motor pribadi yang tinggi sehingga emisi gas, salah satunya gas CO2, yang dikeluarkan juga tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan arahan RTH publik lahan horizontal untuk mereduksi gas CO2 kendaraan bermotor di kawasan perdagangan dan jasa Mayestik – Barito. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat beberapa proses, yaitu perhitungan kendaraan bermotor, perhitungan emisi gas CO2 menggunakan software Mobilev 3.0, melakukan perhitungan matematis kebutuhan RTH tambahan untuk menyerap emisi, dan menyediakan arahan. Teknink analisis untuk menentukan arahannya secara deskriptif dengan menambahkan dan mengoptimalkan lahan potensial dan mempertahankan RTH eksisting. Hasil yang diperoleh adalah emisi yang dikeluarkan di kawasan studi sebesar 4,729 ton/tahun, dimana untuk menyerap keseluruhan emisi membutuhkan 2.8 Ha. Akan tetapi, untuk mendekati angka 2.8 Ha dapat menambahkan lahan potensial RTH di Jl. Barito seluas 1 Ha dan jalur hijau di Jl. Kyai Maja seluas 1.6 Ha, sehingga emisi yang belum tereduksi sangat minim. Sedangkan pengoptimalan lahan RTH dapat dilakukan dengan cara pemilihan vegetasi pereduksi gas CO2.
Evaluasi Penurunan Tanah Wilayah Kota Surabaya berdasarkan Data Pengamatan GPS Juli 2011, Oktober 2016, Desember 2016, dan Februari 2017 Rega Hangasta Gienputra; Akbar Kurniawan
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.609 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24014

Abstract

Sebagai kota Metropolitan ke dua terbesar Indonesia, Surabaya mengalami perkembangan yang pesat di banyak sektor. Hal ini yang membuat semakin bertambahnya jumlah penduduk Surabaya di setiap tahunnya.Karena letaknya yang terdapat dikawasan padat penduduk salah satu faktor yang harus diawasi adalah penurunan tanah /land subsidence. Penurunan tanah terjadi secara perlahan sehingga analisa perlu dilakukan secara berkala (fungsi waktu). Pemantauan land subsidence dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS) khususnya Global Positioning System (GPS, satelit milik Amerika Serikat). Selain penggunaan GPS Geodetik dan Stasiun International GNSS Service (IGS) sebagai titik ikat, penelitian ini digunakan perangkat lunak GAMIT/GLOBK.Berdasarkan Analisa dari hasil pengolahan data GPS yang diamati dari Juli 2011, Oktober 2016, Desember 2016, dan Februari 2017, didapatkan nilai penurunan terendah adalah -0,001 m pada titik Sbrt dan penaikan tertinggi adalah 0,074 m pada titik Pusat. Namun, apabila dilihat secara keseluruhan, titik pada penelitian 2017 ini cenderung untuk mengalami penurunan tanah. Hasil uji t-test menunjukkan bahwa terdapat empat titik yang mengalami penurunan tanah secara signifikan dan terdapat tiga titik yang mengalami penurunan tanah bersifat tidak signifikan.
Estimasi Kecepatan Gelombang Geser (Vs) Berdasarkan Inversi Mikrotremor Spectrum Horizontal to Vertikal Spectral Ratio (HVSR) Studi Kasus : Tanah Longsor Desa Olak-Alen, Blitar Imam Gazali; M. Singgih Purwanto; Dwa Desa Warnana
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.958 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24065

Abstract

Bencana gerakan tanah merupakan bencana yang sering terjadi di kabupaten Blitar. Salah satu daerah yang sering terkena dampak peristiwa tersebut adalah desa Olak-Alen, yang ditandai dengan adanya longsor. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut terletak pada kondisi geologi yang tersusun tuff dan pasiran yang mempunyai potensi lebih besar terhadap efek intensitas gerakan tanah. Pada penelitian ini parameter fisis yang digunakan untuk mikrozonasi yaitu kurva HVSR dan sebaran Vs hasil inversi kurva HVSR. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai frekuensi natural antara 1.7-3.7 Hz, Puncak HVSR antara 2-9 dan Indeks Kerentanan antara 1.5-44.7. daerah yang diduga sebagai bidang gelincir memiliki nilai kecepatan geser 200-300 m/s yang diklasifikasikan sebagai tanah tipe D berdasarkan SNI 1726-2012 dan tipe C menurut Eurocode 8. Sedangkan bedrock pada penelitian ini memiliki nilai kecepatan geser 750-1200 m/s yang tersebar pada kedalaman 50-60 meter.
Identifikasi Permukiman Kumuh Berdasarkan Tingkat RT di Kelurahan Keputih, Kota Surabaya Elpidia Agatha Crysta; Yanto Budisusanto
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.18 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24173

Abstract

Kota Surabaya sebagai pusat seluruh kegiatan Provinsi Jawa Timur merupakan kota metropolitan terbaik dan terbesar kedua di Indonesia. Namun, pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan tingginya arus urbanisasi yang menjadi salah satu faktor utama penyebab kepadatan penduduk yang tinggi di Surabaya.  Akan tetapi, karena tekanan ekonomi dan kepadatan tempat tinggal memaksa kaum urban untuk menempati daerah-daerah pinggiran hingga membentuk lingkungan permukiman kumuh. Kelurahan Keputih sebagai studi wilayah tentunya juga tidak lepas dari permasalahan ini. Oleh karena itu, dilakukan identifikasi permukiman kumuh yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan empat tingkat kekumuhan yakni, bukan permukiman kumuh, permukiman kumuh ringan, permukiman kumuh sedang dan permukiman kumuh berat. Dari hasil penentuan  lokasi permukiman kumuh, kemudian dilakukan analisis terhadap setiap kualitas permukiman penyebab kekumuhan dengan menggunakan adanya parameter. Metode skoring digunakan penelitian ini dalam melakukan identifikasi permukiman permukiman kumuh dengan menggunakan tujuh parameter kekumuhan. Hasil penelitian menunjukkan di Kelurahan Keputih hanya menghasilkan dua klasifikasi tingkat kekumuhan, 14 RT dengan luas total permukiman 39,839 Ha termasuk dalam bukan permukiman kumuh dan 10 RT dengan luas total wilayah permukiman 21,137 Ha diklasifikasikan sebagai permukiman kumuh ringan. Sedangkan, dari hasil analisis parameter, terdapat dua parameter memiliki lokasi penyebab kekumuhan terbanyak yaitu: Kondisi Proteksi Kebakaran dan Kondisi Penyediaan Air Minum, hal ini disebabkan masih belum tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang parameter tersebut. Hasil akhir dari penelitian ini adalah peta klasifikasi permukiman kumuh di Kelurahan Keputih.
Analisis Pengaruh Faktor Meteorologi dan Unsur Ruang terhadap Nilai Reduksi Sulfur Dioksida Udara Ambien di Kota Surabaya Mohammad Ma'ruf Al Anshari; Irwan Bagyo Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.58 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24231

Abstract

Polusi udara merupakan dampak nyata atas perkembangan yang terjadi pada sektor transportasi dan industri utamanya di perkotaan. Salah satu parameter pencemaran udara yaitu gas sulfur dioksida, dimana gas ini berbahaya bagi manusia dan lingkungan karena dapat menyebabkan penyakit pernafasan juga merusak struktur daun dan dapat memicu terjadinya hujan asam. Salah satu upaya untuk mengurangi nilai konsentrasi sulfur dioksida di perkotaan, yaitu dengan menggunakan tanaman perkotaan atau Ruang Terbuka Hijau (RTH). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh dari faktor meteorologi serta faktor unsur ruang, utamanya faktor RTH terhadap nilai reduksi SO2 yang terjadi selama 24 jam. Penelitian ini dilakukan di daerah sekitar SPKU Wonorejo, Surabaya, dimana lokasi tersebut dapat mewakili wilayah permukiman dan ruang terbuka hijau menurut peta kotamadya Kota Surabaya. Analisis data membutuhkan data spasial berupa citra satelit dari wilayah penelitian yang akan digunakan untuk membangun model box, serta data non spasial berupa data meteorologi selama waktu tertentu yang tercatat di SPKU Wonorejo. Hasil penelitian terlihat bahwa (1) ada pengaruh negatif antara faktor meteorologi dengan nilai konsentrasi SO2, dan (2) faktor yang paling berpengaruh signifikan terhadap nilai reduksi SO2 adalah kelembaban udara dengan taraf nyata atau P-value dibawah 0,05. Selain itu, (3) hasil korelasi juga menghasilkan persamaan berupa Y = 3,12v + 3,82T + 0,17H + 1737,38r + 1758,77j + 1731,64b + 1783,48r – 1628,53, dimana persamaan tersebut dapat digunakan untuk menurunkan nilai KSO2 serta memberikan hasil akurat (R2>0,6) dengan syarat diimplikasikan pada faktor-faktor meteorologi dan unsur ruang yang berada pada range tertentu.
Analisis Besaran Emisi Gas CO2 Kendaraan Bermotor Pada Kawasan Industri SIER Surabaya Diaz Kusumawardani; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.769 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24392

Abstract

Kegiatan pada kawasan industri SIER menimbulkan bangkitan kendaraan yang tinggi sehingga menyebabkan padatnya kendaraan bermotor. Rendahnya tingkat pelayanan jalan turut memicu kemacetan di koridor SIER yang kemudian turut menyumbang tingginya emisi gas CO2. Kondisi ini menyebabkan peningkatan suhu dan penurunan kualitas udara di kota Surabaya. Dari data diatas diperlukan untuk mengidentifikasi tingkat emisi gas CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor pada kawasan industri SIER. Sasaran meliputi: mengidentifikasi karakteristik lalu lintas kendaraan di kawasan industri SIER dan mengindentifikasi nilai emisi gas CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan-kendaraan yang melewati kawasan industri SIER. Pengumpulan data menggunakan data primer dan sekunder. Data primer berupa data jumlah kendaraan yang didapatkan melalui survey traffic counting dan data sekunder berupa data klasifikasi dan fungsi jaringan jalan yang akan digunakan sebagai input software Mobilev; Road Traffic Exhaust Emission Calculation Model). Analisis data terdiri dari dua tahap yaitu pertama perhitungan kendaraan menggunakan survey traffic counting dan kedua menghitung emisi dengan menggunakan software Mobilev; Road Traffic Exhaust Emission Calculation Model) sehingga dapat diketahui besaran jumlah emisi gas CO2 yang dikeluarkan. Berdasarkan hasil perhitungan emisi gas CO2 menggunakan software Mobilev menghasilkan jumlah emisi total dari seluruh jalan pada kawasan industri SIER adalah sebesar 3.996,92 ton/tahun. Kemampuan daya serap vegetasi terhadap emisi gas CO2 sebesar 1657,14 ton/tahun sehingga sisa emisi yang masih belum terserap adalah sebesar 2.299,78 ton/tahun.
Analisis Daerah Risiko Bencana Kebakaran di Kota Surabaya dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis Dinimiar Fitrah Saraswati; Agung Budi Cahyono
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.619 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24410

Abstract

Keterbatasan sumberdaya pemadaman menjadi salah satu kendala yang paling sering dihadapi di lapangan, sehingga kegiatan pengendalian perlu difokuskan ke wilayah-wilayah dengan risiko kebakaran yang lebih besar.Analisa dilakukan menggunakan metode skoring. Analisis spasial berupa jangkauan dan overlay pada 7 parameter yang digunakan, kemudian dilakukan skoring dan pembobotan untuk menentukan wilayah yang memiliki tingkat risiko kebakaran berskala rendah, sedang, dan tinggi. Analisis daerah risiko bencana kebakaran dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20/PRT/M/2009.Dari hasil penelitian diketahui bahwa daerah dengan risiko tinggi terjadinya bencana kebakaran terdapat di 11 kecamatan pada tahun 2014, 2 kecamatan di tahun 2015, dan 5 kecamatan di tahun 2016. Lebih dari 83% kejadian kebakaran terjadi di kawasan lahan terbangun yang termasuk dalam tingkat risiko tinggi bencana kebakaran.
Analisis Potensi Perubahan Pemanfaatan Lahan Berdasarkan Model Spasial Harga Lahan di Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang Muhammad Ermando; Nurman Sasono; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.7 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24413

Abstract

Pembangunan interchange gerbang TOL Jombang di Kecamatan Tembelang menyebabkan harga lahan meningkat dan muncul indikasi perubahan pemanfaatan lahan. Untuk itu, pemerintah perlu mengantisipasi perubahan pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya sebagaimana yang terdapat pada rencana tata ruang. Penentuan potensi perubahan pemanfaatan lahan dilakukan berdasarkan pada model spasial harga lahan yang secara keseluruhan meliputi tiga teknik analisis.(1) Teknik analisis Delphi bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penentu harga lahan, (2) analisis regresi spasial digunakan untuk melakukan pemodelan spasial harga lahan, dan (3) analisis Query Builder menghasilkan peta potensi perubahan pemanfaatanlahan di Kecamatan Tembelang. Tiap tahapan penelitian menghasilkan luaran yang saling berkaitan. Terdapat 15 faktor penentu harga lahan yang telah konsensus dari teknik analisis Delphi dalam dua tahap iterasi. Adapun model spasial harga lahan dihasilkan dari model matematis memiliki konstanta 796.763,84565. Faktor yang berpengaruh positif dalam model tersebut yaitu jalur angkutan umum, daerah rawan banjir, fasilitas perdagangan dan jasa, jalan lingkungan, dan rencana jaringan jalan. Faktor yang berpengaruh negatif yakni fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas peribadatan, fasilitas perkantoran, jalan kolektor, kawasan permukiman, rencana kawasan industri, rencana kawasan permukiman, sungai, dan interchange gerbang TOL. Model spasial menunjukkan mayoritasharga lahan tinggi terdapat di sekitar interchange gerbang TOL dan semakin rendah di wilayah perbatasan Kecamatan Tembelang. Luas lahan di Kecamatan Tembelang menurut potensi perubahan pemanfaatannya dari lahan tidak terbangun ke lahan terbangun yang dibagi menjadi kategori tinggi, sedang, dan rendah secara berturut-turut yaitu 571,29 Ha (17%), 788,68 Ha (23%), dan 2.088,44 Ha (61%).
Strategi Penerapan Kota Kompak Berdasarkan Pola Urban Compactness di Kota Bekasi Arini Natasya Aisyah; Putu Gede Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.302 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24448

Abstract

Kota Bekasi sebagai Kota besar yang terletak di konstalasi metropolitan Jabodetabek belum diterapkan konsep pembangunan kota kompak secara komprehensif.  Penelitian ini bertujuan untuk Merumuskan Strategi Penerapan Kota Kompak Berdasarkan Pola Urban Compactness di Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dalam menentukan faktor faktor kekompakan Kota Bekasi, dari faktor faktor tersebut ditentukan tingkat kekompakannya menggunakan metode klasifikasi sturgess, kemudian tingkat kekompakan tersebut dipolakan untuk mengetahui pola spasial kekompakan sehingga dapat dirumuskan strategi penerapan kota kompak berdasarkan pola spasial dari tingkatan faktor faktor yang telah diperoleh. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat klasifikasi lima kluster kekompakan di Kota Bekasi yaitu; Kluster I merupakan kluster yang struktur kota nya telah mencerminkan kompak,  Kluster II merupakan kluster yang telah memiliki struktur kompak dengan konsep Mixed Use Zoning dikarenakan adanya jalur KKOP, Kluster III merupakan kluster yang mempunyai pondasi untuk membentuk struktur kompak namun belum ada perencanaan yang matang menuju struktur kompak, Kluster IV merupakan kluster yang mempunyai ciri kekompakan namun belum meiliki pondasi kota kompak, dan Kluster V merupakan Kluster dengan kecenderungan sprawl dimana kepadatan permukiman termasuk rendah dan penggunaan lahan yang belum terkonsentrasi secara efisien dengan konsep yang mendekati kompak.
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan di Kota Pekalongan Tahun 2003, 2009, dan 2016 Ali Wijaya; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.207 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24454

Abstract

Kota Pekalongan merupakan salah satu kota di pesisir utara Pulau Jawa yang rentan terhadap banjir rob. Banjir rob tersebut sebagai faktor pemicu perubahan penggunaan lahan dan telah berdampak besar pada penggunaan lahan yang ada terutama pada lahan produktif. Untuk itu diperlukan suatu analisis terkait penggunaan lahan sesuai dengan dinamika di wilayah tersebut. Tujuan penelitian ini dapat dicapai dengan dua tahapan penelitian. Tahap pertama yaitu mengklasifikasi penggunaan lahan dari citra Quickbird di Kota Pekalongan. Tahap kedua yaitu menganalisis perubahan penggunaan lahan di Kota Pekalongan menggunakan analisis overlay secara multi temporal periode tahun 2003, 2009, dan 2016. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan pada wilayah penelitian hingga tahun 2016 didominasi oleh lahan permukiman , rawa, dan lahan pertanian. Kenaikan muka air laut berdampak paling besar terhadap penggunaan lahan pertanian yang mengalami pengurangan luas sebesar 370.26 Ha dan penambahan luas rawa sebesar 292.68 Ha pada periode tahun 2003 hingga 2016.