cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Analisa Deformasi Di Wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan Menggunakan GPS-CORS Tahun 2013-2015 Avrilina Luthfil Hadi
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.075 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17209

Abstract

Indonesia merupakan negara yang berada pada wilayah pertemuan empat lempeng yang bergerak aktif. Lempeng Eurasia bertumbukan dengan lempeng Indo-Australia dan membentuk zona subduksi di daerah selatan pulau Jawa sehingga tektonik pulau Jawa terbentuk. Lempeng tektonik Indo-Australia bergerak ke arah utara dengan kecepatan 7 cm/tahun menunjam ke bawah lempeng tektonik Eurasia yang relatif diam. Akibatnya gempa bumi dan gunung api sering terjadi pada batas lempeng tersebut. Pada tahun 2006 terjadi gempa dengan kekuatan 5.9 skala Richter di Daerah Istimewa Jogjakarta dan sekitarnya yang mengakibatkan banyaknya infrastruktur yang rusak dan terjadinya deformasi permukaan di area terdampak. Oleh karena itu, Jawa Tengah telah ditetapkan sebagai daerah rawan gempa bumi nomer VII di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung besarnya deformasi yang terjadi di wilayah Jawa Tengah bagian selatan menggunakan data stasiun Ina-CORS. Hasil yang didapatkan berupa vektor dan kecepatan pergeseran yang tejadi dalam tiga tahun (2013-2015). Dari hasil analisa didapatkan bahwa ke-enam stasiun yang diamati memiliki kesamaan arah gerak yaitu bergerak ke arah tenggara dengan rentang kecepatan horisontal untuk tahun 2013 hingga 2015 adalah 0.00910 – 0.01203 m/yr. Sedangkan kecepatan vertikal memiliki rentang nilai kecepatan -0.01147 m/yr hingga 0.04354 m/yr. Perhitungan regangan menggunakan segmen segitiga menghasilkan nilai kompresi yang lebih besar ketimbang nilai ekstensinya. Nilai ekstensi paling dominan terdapat pada segmen segitiga CSLO-CMGL-CBTL dan CBTL-CMGL-CKBM yang didapatkan dengan satuan μstrain.
Estimasi Nilai Pergeseran Gempa Bumi Padang Tahun 2009 Menggunakan Data SuGAr I Dewa Made Amertha Sanjiwani
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.334 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17218

Abstract

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo – Australia dan Lempeng Pasifik. Akibatnya gempa bumi dan letusan gunung api sering terjadi pada batas-batas lempeng tersebut. Pada 30 September 2009, di sekitar wilayah Padang, Pariaman terjadi gempa berkekuatan 7.6 Mw dengan lokasi epicenter 99˚52’1.2” BT; 0˚43’12” LS. Melalui pemantauan GPS dapat diketahui pergerakan deformasi yang terjadi sebelum (interseismic) dan setelah (postseismic) akibat gempa (coseismic). Untuk itu dalam penelitian ini dilakukan estimasi nilai pergeseran akibat Gempa Bumi Padang tahun 2009 menggunakan data GPS SuGAr. Hasil analisa didapatkan nilai pergeseran terbesar terjadi pada stasiun pengamatan GPS PPNJ dengan nilai pergeseran sebesar 0.01222 m pada sumbu horizontal (easting,northing) dan 0.001 m pada sumbu vertikal (up). Nilai pergeseran terkecil dimiliki oleh stasiun pengamatan KTET dengan nilai pergeseran sebesar 0.00185 m pada sumbu horizontal (easting,northing) dan 0.01114 m pada sumbu vertikal (up).
ANALISA PERUBAHAN IONOSFER AKIBAT GEMPA MENTAWAI TAHUN 2010 (Studi Kasus : Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat) Leni Septiningrum
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.82 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17236

Abstract

Gempa merupakan fenomena alam akibat aktifitas tektonik yang sering terjadi di Indonesia. Sepanjang pulau Sumatra merupakan pertumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia menjadikan Sumatra sebagai daerah paling aktif dengan aktifitas tektoniknya. Pada tahun 2010 tercatat tiga gempa besar yang terjadi, yaitu gempa berkekuatan 6,8 SR pada 5 Maret, disusul 6,5 SR pada 5 Mei dan terakhir 7,8 SR pada 25 Oktober 2010. Post-earthquake anomali merupakan fluktuasi TEC yang terjadi sesaat setelah terjadinya gempa, fenomena ini terjadi 3 menit hingga 1 jam setelah gempa terjadi. Post-earthquake anomali dapat digunakan sebagai early warning sebelum tsunami datang. Pengamatan TEC (Total Electron Content) dilakukan dengan menggunakan GPS. Satelit GPS akan secara kontinyu memancarkan sinyal gelombang double frequency pada L band. Pada saat terjadi gempa, sinyal yang dipancarkan oleh satelit GPS akan mengalami delay ketika melewati lapisan ionosfer kira-kira 300 km dari permukaan bumi. Variasi ionosfer diamati pada saat terjadi time-delay ini, sehingga didapat nilai TEC dimana I TECU sama dengan 1016 elektron/m2. Nilai tersebut yang akan menggambarkan besaran gangguan akibat adanya gempa. Pada gempa Mentawai 2010 dengan menggunakan stasiun pengamat GPS pada ketiga kejadian gempa tidak menunjukkan adanya gangguan pada ionosfer, hanya terjadi fluktuasi pada beberapa stasiun pengamat.
Identifikasi Daerah Rawan Tanah Longsor Menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis) (Studi Kasus : Kabupaten Kediri) Alfi Rohmah Putri
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.857 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17237

Abstract

Indonesia adalah negara yang rawan bencana dilihat dari aspek geografis, klimatologis dan demografis. Letak geografis Indonesia di antara dua benua dan dua samudera menyebabkan Indonesia mempunyai potensi yang bagus dalam perekonomian sekaligus juga rawan dengan bencana [1]. Berdasarkan IRB (Indeks Resiko Bencana) yang dikeluarkan BNPB (Badan Nasional  Penanggulangan Bencana) pada tahun 2013, Kabupaten Kediri menempati urutan ke-65 dari 497 kabupaten/kota di Indonesia. Untuk menghindari kerugian akibat bencana tersebut dilakukan tindakan pengelolaan resiko bencana. Dengan memanfaatkan TanDEM-X dapat dihasilkan peta kemiringan lereng berdasarkan kontur dari TanDEM-X. Kemudian peta kemiringan lereng dikelaskan sesuai dengan parameter penyebab longsor. Citra Landsat kemudian dilakukan klasifikasi terbimbing (supervised) untuk mendapatkan peta tutupan lahan. Peta kemiringan lereng dan tutupan lahan kemudian dioverlaykan dengan peta geologi, peta curah hujan dan peta jenis tanah dan dilakukan skoring dan pembobotan untuk mendapatkan daerah rawan tanah longsor. Hasil penelitian menunjukkan 12 desa di Kecamatan Mojo, Semen dan Banyakan memiliki tingkat rawan tanah longsor tinggi sebesar 8,26%.. Daerah tersebut terletak pada dataran tinggi dengan kelerengan berkisar antara 25-40% dan lebih dari 40% dengan  jenis tanah litosol.
Analisa Penguasaan Hak Atas Tanah Tahun 2014 – 2015 (Studi Kasus : Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang) Muhammad Irsyadi Firdaus; Yanto Budisusanto
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.533 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17316

Abstract

Pembangunan daerah saat ini sangat pesat dan jumlah penduduk setiap tahun terus bertambah. Hal ini menjadi faktor utama meningkatnya kebutuhan manusia seperti kebutuhan pemukiman, industri, pelabuhan, pertanian/perikanan, pariwisata, kawasan pusat pemerintahan dan sebagainya [1]. Masalah tersebut menyebabkan tingkat permintaan lahan semakin tinggi sehingga berpengaruh terhadap perubahan penguasaan hak atas tanah. Oleh karena itu diperlukan analisa penguasaan hak atas tanah terhadap penggunaan lahan di kecamatan lumajang untuk mengetahui perubahan penguasaan hak atas tanah yang terjadi agar sesuai dengan perencanaan pembangunan kecamatan Lumajang. Penelitian ini menggunakan data spasial dan non spasial. Data spasial berupa peta persil tahun 2014 dan tahun 2015 sedangkan data non spasial berupa data penguasaan hak atas tanah. Peta diolah dengan menggunakan software ArcMap yang kemudian dilakukan pengolahan dengan analysis tools yaitu overlay sehingga didapatkan peta perubahan penguasaan hak ata tanah yang memiliki tiga hak yaitu hak milik, hak guna bangunan, hak pakai. Setelah itu dilakukan perhitungan luas dengan menggunakan Calculate Geometry yang ada di atribute. Hasil dari penelitian ini didapatkan perubahan paling banyak terjadi pada hak milik.
Analisa Data Foto Udara untuk DEM dengan Metode TIN, IDW, dan Kriging Juwita - Arfaini; Hepi Hapsari Handayani
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.676 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17382

Abstract

Digital Elevation Model (DEM) atau Model Ketinggian Dijital merupakan suatu model yang merepresentasikan topografi suatu permukaan. Salah satu sumber data yang digunakan untuk membuat model ketinggian dijital ini adalah menggunakan sebaran titik-titik yang memuat informasi koordinat tiga dimensi yaitu x, y, dan z di permukaan bumi. Pengambilan data sebaran titik ini dapat dilakukan melalui foto udara stereo yaitu foto udara yang saling bertampalan sehingga memberikan efek tiga dimensi yang kemudian dapat diambil informasinya. Proses yang dilakukan untuk membuat sebaran titik ini kemudian disebut stereoplotting yaitu ekstraksi data secara stereoskopis. Sebaran titik-titik yang kemudian disebut dengan mass point ini kemudian diinterpolasi menggunakan metode TIN, IDW, dan Kriging sehingga dapat diketahui perbedaan model DEM dari masing-masing metode yang diproses menggunakan sumber data yang sama. Dari hasil interpolasi tersebut selanjutnya dilakukan analisa hasil dari elevasi setelah dilakukan interpolasi sehingga diketahui presentasenya. Metode TIN dan IDW memiliki kemiripan dengan memberikan presentasi yang hampir sama pada tiap-tiap kelas ketinggian, sedangkan metode Kriging lebih menampilkan hasil korelasi dari titik-titik dengan radius tertentu sehingga permukaannya tidak ada yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah. Elevasi terkecil dan terbesar terdapat pada metode TIN yaitu sebesar 58,674 meter dan 107, 638 meter. Sementara itu, presentase persebaran ketinggian diklasifikasikan dalam 11 kelas dengan masing-masing intervalnya 5 meter. Persebaran terbesar terdapat pada range 72 – 77 meter. Dari hasil pembuatan DEM kemudian dibuat RMSE nya dengan membandingkan antara elevasi pada metode TIN, IDW, dan Kriging dengan DEM dari TerraSAR-X. Nilai yang memenuhi standar perhitungan RMSE adalah TIN dan IDW karena kurang dari sama dengan 1 meter sesuai standar RMSE dari ASPRS. Pembuatan DEM paling baik adalah menggunakan metode TIN karena memiliki RMSE terkecil yaitu 0,477 meter.
Analisa Perubahan Kecepatan Pergeseran Titik Akibat Gempa Menggunakan Data SuGar (Sumatran GPS Array) Bima Pramudya Khawiendratama
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.706 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17595

Abstract

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Indonesia merupakan Negara dengan aktivitas tektonik terbesar karena Indonesia merupakan pertemuan 3 lempeng besar yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Hingga saat ini, lempeng Indo-Australia masih terus bergerak di bawah lempeng Eurasia yang mengakibatkan Pulau Sumatera menjadi salah satu pulau di Indonesia dengan aktivitas tektonik yang cukup tinggi dan rawan bencana. Gempa yang terjadi akan menyebabkan deformasi maupun perubahan kecepatan. Gempa yang akan digunakan sebagai penelitian adalah gempa Kepulauan Batu, 14 Februari 2005 dan gempa Sumatra Selatan 29 September 2009. Perhitungan perubahan kecepatan ini dengan menggunakan data dari jaring GPS SuGar (Sumatran GPS Array) pada stasiun pengamatan ABGS, MSAI, NGNG, PTLO, PSMK, PSKI, TIKU dengan pengolahan data menggunakan software GAMIT. Perubahan kecepatan paling besar ada pada stasiun NGNG sebesar 1.02794 m/yr pada gempa Sumatra Selatan 29 September 2009.
Tingkat Manajemen Risiko Bencana Tsunami Berbasis Masyarakat di RW. 08 Kelurahan Ploso Kabupaten Pacitan Rachman Adhi Nugroho; Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.473 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17783

Abstract

Kabupaten Pacitan merupakan wilayah yang berpotensi terdampak bencana tsunami. Adanya kawasan pantai dengan karakteristik bentuk teluk menyebabkan semakin meningkatnya risiko bencana tsunami jika terjadi di lingkungan yang berbatasan langsung dengan pantai tersebut. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, tingkat ketahanan masyarakat pesisir Pacitan masih rendah. Namun, pada akhir tahun 2015 dibentuk kelompok sadar keselamatan pantai di lingkungan RW.08 Kelurahan Ploso Kabupaten Pacitan yang ditujukan agar dapat menanggulangi bencana laut dan menjaga keselamatan pengunjung. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian dalam menganalisa tingkat manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarakat di RW. 08 Kelurahan Ploso Kabupaten Pacitan, sebagai bahan dalam perumusan konsep manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarakat kedepannya. Artikel ini merupakan bagian dari penelitian mengenai konsep manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarakat (studi kasus: RW. 08 Kelurahan Ploso Kabupaten Pacitan). Melalui teknik analisis isi (content analysis) dapat diketahui tindakan-tindakan manajemen risiko bencana tsunami yang telah dilakukan oleh masyarakat di RW. 08 Kelurahan Ploso Kabupaten Pacitan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat manajemen risiko bencana tsunami berbasis masyarakat sudah sangat bagus dengan persentase rata-rata 89,34% tahapan manajemen  sudah pernah dilakukan oleh masyarakat.
Identifikasi Variabel Berpengaruh Terhadap Jalur Evakuasi Bencana Banjir di Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban Ahmad Ikhfan Efendi
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.473 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17794

Abstract

Kecamatan Widang merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Tuban yang paling rawan terhadap bencana banjir. Pada tahum 2008 dan 2009, hampir satu kecamatan Kecamatan Widang terdampak bencana banjir akibat dari luapan sungai Bengawan Solo. Namun sampai saat ini penyediaan jalur evakuasi masih belum optimal. Maka dari itu diperlukan jalur evakuasi yang memiliki waktu evakuasi paling optimal. Penelitian ini diawali dengan mengidentifikasi variabel-variabel yang berpengaruh dengan menggunakan content analysis. Selanjutnya, jalur evakuasi ditentukan berdasarkan variabel berpengaruh. 4 tahapan penentuan jalur evakuasi adalah menentukan kawasan terdampak banjir, menentukan lokasi evakuasi, menentukan rute evakuasi dengan menggunakan network analysis, dan menentukan jalur evakuasi. Kata Kunci—Bencana Banjir, Kecamatan Widang, Content Analysis, Jalur Evakuasi.
Arahan Pengembangan Desa Tertingga Kabupaten Bondowoso Berdasarkan Aspek Sosial, Ekonomi, dan Infrastruktur Amelia Puspasari; Arwi Yudhi Koswara
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17833

Abstract

Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu kabupaten tertinggal di Provinsi Jawa Timur berdasarkan RPJMN tahun 2015-2019. Selain itu, terdapat kesenjangan antara nasional dan kabupaten sehingga perlu dilakukan identifikasi dan pengembangan desa tertinggal di Kabupaten Bondowoso. Permasalahan rendahnya kualitas dari Sumber Daya Manusia (SDM), pelayanan infrastruktur dasar yang belum memadai antara desa satu dengan desa lainnya, dan permasalahan tingginya angka kemiskinan yang terjadi di Kabupaten Bondowoso sehingga untuk mengatasi hal tersebut dilakukan arahan pengembangan desa tertinggal Kabupaten Bondowoso berdasarkan aspek sosial, ekonomi, dan infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pegembangan desa tertinggal di Kabupaten Bondowoso berdasarkan aspek sosial, ekonomi, dan infrastruktur. Penelitian ini menggunakan teori pegembangan wilayah, pengembangan daerah tertinggal, dan pembangunan perdesaan dengan menggunakan Analisis Faktor Eksplanatory untuk menentukan faktor yang berpengaruh terhadap ketertinggalan desa, Analisis Biplot digunakan untuk tipologi desa tertinggal berdasarkan aspek sosial, ekonomi, serta infrastruktur, dan Analisis Deskripsi digunakan untuk merumuskan arahan pengembangan desa tertinggal berdasarkan aspek-aspek yang diprioritaskan. Dari hasil penelitian terdapat empat faktor yang berpengaruh terhadap ketertinggalan desa di Kabupaten Bondowoso yaitu faktor kualitas SDM, perekonomian masyarakat, kondisi infrastruktur sosial, kondisi infrastruktur ekonomi. Berdasarkan hasil tipologi desa terdapat 95 desa tertinggal di Kabupaten Bondowoso yang terbagi menjadi 3 tipologi. Tipologi A sebanyak 9 desa, Tipologi B sebanyak 59 desa, dan Tipologi C sebanyak 27 desa. Arahan tipologi A peningkatan salah satu aspek SDM dan infrastruktur sosial atau perekonomian dan infrastruktur ekonomi. Arahan tipologi B peningkatan salah satu aspek SDM dan infrastruktur sosial dan atau perekonomian dan infrastruktur ekonomi. Arahan tipologi C peningkatan aspek SDM dan infrastruktur sosial serta perekonomian dan infrastruktur ekonomi.