cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Faktor Prioritas Penyebab Kumuh Kawasan Permukiman Kumuh Di Kelurahan Belitung Selatan Kota Banjarmasin Abi Syarwan Wimardana
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.766 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18386

Abstract

Kenaikan laju pertumbuhan pendudukmemiliki dampak pada tingginya akses terhadap kebutuhankebutuhanprimer salah satunya adalah kebutuhan akan rumahtinggal. Hal tersebut merupakan salah satu pemicu munculnyapermukiman kumuh. Keberadaan permukiman kumuh di KotaBanjarmasin mengindikasikan munculnya permasalahan sosialdan lingkungan yang besar, salah satunya terjadi di wilayahKelurahan Belitung Selatan. Permukiman kumuh tersebar di 10RT Kelurahan Belitung Selatan. Yang termasuk dalam kategorikumuh ringan terdapat 9 Rukun Tangga (RT4,8,9,10,11,12,13,14,15) dan Kumuh Ringan 1 Rukun Tangga (RT6). Karakteristik permukiman kumuh di Kelurahan BelitungSelatan memiliki tingkat kepadatan bangunan yang cukup tinggidan rata-rata luas persil kecil, serta kondisi bangunan yangcukup tua. Luas permukiman kumuh pada 10 RT sebesar 6,04Ha. Kawasan kumuh terdiri dari rumah 480 Unit denganpersebaran jumlah penduduk 1.920 jiwa pada kawasanpermukiman kumuh Kelurahan Belitung Selatan. Penelitian inibertujuan menentukan faktor prioritas penyebab kumuh, denganmelakukan pencapaian tahapan sasaran yaitu mengidentifikasikarakteristik kawasan permukiman kumuh, serta menganalisisdalam menentukan faktor prioritas penyebab kumuhpermukiman kumuh di Kelurahan Belitung Selatan. Dalammencapai tujuan tersebut maka dilakukan beberapa tahapananalisis. Pertama, mengidentifikasi karakteristik permukimankumuh di Kelurahan Belitung Selatan melalui analisis statistikdeskriptif. Tahap selanjutnya yaitu menganalisis faktor prioritasyang mempengaruhi permukiman kumuh melalui analisastakeholder dan menggunakan teknik analisis AHP (AnalythicalHierarchy Process) dalam penentuan faktor prioritas penyebabkumuh serta turunan faktor berupa variabel penyebab kumuh.
Arahan Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Pidakan di Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan Berbasis Partisipasi Masyarakat Lina Rizqi Nafisah
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.536 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18482

Abstract

Pantai Pidakan adalah salah satu wisata pantai di Dusun Godeg Kulon, Desa Jetak, Kabupaten Pacitan. Pantai ini merupakan pantai yang memiliki keindahan alam yang dikelola oleh masyarakat lokal. namun, masih terdapat permasalahan diantaranya adalah kurangnya atraksi wisata, kurangnya fasilitas, dan peran pemerintah yang kurang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan pengembangan wisata berbasis Partisipasi Masyarakat di Pantai Pidakan. Terdapat 3 sasaran studi dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi bentuk partisipasi masyarakat dalam pengembangan wisata pantai Pidakan,  mengetahui faktor pengembangan wisaya dan merumuskan arahan pengembangan wisata pantai Pidakan berbasis partisipasi masyarakat. Adapun teknik analisisnya adalah analisis deskriptif menggunakan tabulasi silang untuk sasaran pertama, Content Analysis untuk sasaran kedua dan analisis deskriptif untuk sasaran ketiga. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa, pertama, bentuk partisipasi yang tertinggi adalah partisipasi buah pikiran dan partisipasi terendah adalah bentuk partisipasi keterampilan sehingga perlunya peningkatan keterampilan dalam pengembangan wisata. Kedua, ditemukan 17 faktor pengembangan yang berpengaruh dalam pengembangan kawasan wisata Pantai Pidakan. Ketiga, terumuskannya arahan pengembangan kawasan wisata Pantai, yaitu menyusun konsep dan membentuk DTW baru,  pengembangan sarana dan prasarana wisata, aksesibilitas, peningkatan keterampilan dalam mengelola hasil laut, peningkatan modal usaha wisata melalui dukungan eksternal pemerintah dan swasta. Kata Kunci: Pengembangan Wisata, Wisata Pantai, Partisipasi Masyarakat
Faktor yang Mempengaruhi Kriteria Lokasi Berdagang Pedagang Kaki Lima Berdasarkan Preferensi Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasar Baru Gresik Fitri Dwi Agus Maulidiyah; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.765 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18564

Abstract

Permasalahan utama PKL di Kawasan Pasar Baru Gresik adalah banyaknya kegagalan relokasi yang disebabkan kurangnya keterlibatan PKL dalam  menentukan lokasi berdagang PKL. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor yang mempengaruhi kriteria lokasi pedagang kaki lima berdasarkan preferensi pedagang kaki lima itu sendiri di Kawasan Pasar Baru Gresik. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik pedagang kaki lima dengan menggunakan teknik analisa statistik desktiptif. Kemudian menentukan faktor yang mempengaruhi kriteria lokasi berdagang berdasarkan preferensi pedagang kaki lima dengan menggunakan content analysis. Maka dari itu hasil dari penelitian adalah faktor yang mempengaruhi kriteria lokasi berdagang pedagang kaki lima di Kawasan Pasar Baru Gresik yaitu sebagai berikut: (1) Lokasi berdagang yang strategis; (2) Harga sewa lahan/kios; (3) Dekat dengan kegiatan masyarakat; (4) Visibilitas; (5) Retribusi; (6) Dekat dengan permukiman penduduk; (7) Ketersediaan lahan parkir; (8) Dekat dengan terminal/stasiun; (9) Ketersediaan tempat pembuangan sampah; (10) Dekat dengan tempat tinggal; (11) Ketersediaan transportasi umum (12) Ketersdiaan jaringan air bersih; (13) Memiliki akses keluar dan masuk; (14) Penerimaan produk yang ditawarkan; (15) Ketersediaan drainase; (16) Ketersediaan pelayanan listrik; (17) Pengelompokkan jenis barang dagangan; (18) Luas tempat berdagang.
Arahan Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Kecamatan Kenjeran dengan Pendekatan Eco-Settlements Bayu Arifianto Muhammad; Haryo Sulistyarso
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.863 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18570

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk dari periode ke periode diikuti juga padatnya permukiman penduduk. Hal ini berpotensi memunculkan permukiman kumuh yang berpengaruh negatif terhadap kualitas lingkungan.Dalam perencanaannya, Kota Surabaya mennggiatkan pekembangan dengan konsep berkelanjutan. Penelitian ini betujuan untuk menentukan arahan yang tepat dalam penataan lingkungan permukiman kumuh dengan pendekatan Eco-Settlements yang berkembang dari konsep pembangunan berkelanjutan. Sasaran yang disusun adalah mengidentifikasi karakteristik permukiman kumuh di Kecamatan Kenjeran dengan deskriptif kualitatif, Analisa faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan permukiman kumuh menggunakan Delphi. Dan sasaran terakhir sekaligus output penelitian yang dihasilkan dari penelitian ini berupa arahan deskripitf dari setiap faktor-faktor yang mempengaruhi permukiman kumuh yang didasarkan pada kebijakan, base theory, dan penelitian yang telah dilakukan. Dari analisa tersebut didapat arahan secara garis besar berdasarkan faktor berpengaruh berupa penambahan dan peningkatan kualitas prasarana sanitasi, air bersih, drainase, dan rumah sehat, peningkatan daya dukung lingkungan dan sumber daya masyarakat, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta peningkatan kualitas institusi dan kesadaran akan kebijakan yang ada terkait pengelolaan permukiman kumuh.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Pola Perumahan Leapfrog di Kawasan Peri Urban Kota Malang VIDYA TRISANDINI AZZIZI; PUTU GDE ARIASTITA
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.011 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18611

Abstract

Salah satu jenis urban sprawl adalah leapfrog. Perambatan leapfrog merupakan jenis pengembangan yang melompat-lompat, tidak berpola dan tidak memiliki keterkaitan dengan lahan yang sudah terbangun sebelumnya, dan apabila dibiarkan, akan muncul konsekuensi-konsekuensi seperti menambahnya waktu perjalanan dan pencemaran lingkungan. Di Kota Malang, terdapat wilayah-wilayah dengan arahan kawasan pertanian yang memiliki indikasi terjadinya perkembangan leapfrog. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kawasan-kawasan yang mengalami pola perkembangan leapfrog di kawasan peri urban Kota Malang. Analisis yang digunakan dalam menentukan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembentukan pola perumahan leapfrog adalah confirmatory factor analysis, analytical hierarchy process, weighted overlay, dan buffer analysis. Diketahui bahwa terdapat tiga kriteria yang dapat digunakan untuk menjadi indikator terjadinya leapfrog yakni aksesibilitas, kepadatan penduduk, dan campuran penggunaan lahan (mix-used land) dan perumahan leapfrog di lokasi studi dibagi menjadi perumahan swadaya, yakni perumahan di Jalan Atletik, Jalan Bulu Tangkis, dan Jalan Ikan Tombro Barat, serta perumahan komersial yakni Green View Regency. Diketahui bahwa ada empat indikator yang berpengaruh, yakni ketersediaan infrastruktur pendukung, aksesibilitas, fasilitas umum, serta daya beli masyarakat. Terdapat perbedaan antara jenis rumah swadaya dan jenis rumah komersial, yakni tidak dipertimbangkannya ketersediaan kendaraan umum, biaya transportasi sehari-hari, serta kedekatan dengan fasilitas sekolah dasar bagi masyarakat yang tinggal di tipologi swadaya. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan dalam pembuatan peraturan pengendalian perkembangan leapfrog menurut faktor-faktor yang berpengaruh.
Aplikasi Filter Multivariate Empirical Mode Decomposition (MEMD) Untuk Mereduksi Noise Pada Data VLF-EM Muhammad Shafran Shofyan
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.184 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18618

Abstract

Alat VLF-EM menangkap gelombang elektromagnetik dari medium-medium disekitarnya. Sehingga, alat VLF-EM ini sangat sensitif terhadap benda-benda yang memiliki komponen listrik dan magnet yang besar. Benda-benda tersebut dapat dikatakan sebagai sumber noise. Selain itu, radiasi medan elektromagnetik akibat kilat dan petir juga merupakan sumber noise pada pengukuran VLF-EM. Noise-noise tersebut akan memengaruhi data dan mengakibatkan kesalahan interpretasi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian yang berjudul “Aplikasi Filter Multivariate Empirical Mode Decomposition (MEMD) Untuk Mereduksi Noise Pada Data VLF-EM” untuk menghilangkan noise-noise yang ada sehingga hasil akan lebih mudah untuk diinterpretasi. Penggunaan filter MEMD ini dikarenakan filter ini baik digunakan untuk mengolah sinyal secara multivariate. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan antara data yang di­-filter dengan filter moving average dengan data yang di-filter dengan filter MEMD. Dari hasil penelitian ini, diketahui bahwa filter MEMD dapat mereduksi noise-noise yang memiliki frekuensi yang tinggi, terlihat dari hasil penampang resistivitas yang dihasilkan dari proses inversi.
Pengaruh Penataan Bangunan dan Lingkungan Terhadap Resiko Bencana Kebakaran Di Kelurahan Nyamplungan Kota Surabay Arimudin Nurtata
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.58 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18876

Abstract

Kota Surabaya menjadi salah satu kawasan rawan kebakaran di Indonesia. Pada tahun 2014 kejadian kebakaran di kota Surabaya sebanyak 596 kejadian. Salah satu kawasan yang mengalami kebakaran tiap tahunnya berada di kelurahan Nyamplungan. Dalam menghadapi kebakaran dibutuhkan suatu alat yang efektif dan efisien yang sesuai dengan karakteristik bangunan dan lingkungannya. Oleh  karena  itu,  penelitian  ini  berusaha mengidentifikasi karakteristik penataan bangunan dan lingkungan di kelurahan Nyamplungan dalam mengurangi resiko kebakaran. identifikasi karakteristik penataan bangunan dan lingkungan pada kelurahan Nyamplungan menggunakan teknik Walkthrough Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik bangunan, lingkungan, dan sarana kebakaran pada kelurahan Nyamplungan meningkatkan resiko bencana kebakaran. Pada karakteristik pembentuk solid, void dan linkage pada kelurahan Nyamplungan dapat mengurangi resiko bencana kebakaran sehingga karakteristik tersebut bisa dioptimalkan dalam usaha – usaha mengurangi resiko kebakaran.
ANALISIS PERSEBARAN POLUTAN KARBON MONOKSIDA DAN PARTIKULAT DARI KEBAKARAN HUTAN DI SUMATERA SELATAN Aron Pangihutan Christian Tampubolon; Rachmat Boedisantoso
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.674 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18955

Abstract

Kebakaran hutan merupakan masalah serius yang dihadapi pada permasalahan pencemaran udara masa kini karena berperan sebagai sumber terbesar emisi CO.  Wujud polutan dari kebakaran hutan pada umumnya dalam bentuk asap yang mengandung banyak partikulat. Sumatera Selatan memiliki kawasan hutan sebesar 4.222.484,9 ha.  Besarnya luasan kawasan  hutan di Sumatera Selatan berbanding lurus dengan besarnya  potensi kebakaran hutan yang dapat terjadi. Jumlah titik api di Sumatera Selatan mengalami peningkatan sebesar 12% pada periode 2014-2015. Intesitas kebakaran  hutan di Sumatera Selatan yang cukup tinggi memberikan perkiraan bahwa banyak dampak besar yang akan ditimbulkan. Gangguan kesetimbangan ekosistem, permasalahan kesehatan, sampai lumpuhnya aktivitas masyarakat adalah dampak yang diperkirakan akan timbul akibat kebakaran hutan. Selain itu, kebakaran hutan dapat menyebabkan gangguan terhadap wilayah lain yang jauh jaraknya dari area terbakar. Besarnya  wilayah dan waktu  jangkauan dampak dari kebakaran hutan sering tidak dapat diperkirakan karena terbatasnya informasi prediksi persebaran polutan dari kebakaran hutan. Suatu analisis persebaran polutan sangat diperlukan sebagai penyedia informasi prediksi dari besaran dampak yang ditimbulkan dari suatu area kebakaran hutan. Model persebaran ini dapat dijadikan sebagai acuan peringatan dini bagi daerah sekitar yang akan terkena dampak kebakaran hutan. Digunakan 2 jenis variabel penelitian yakni kecepatan angin dan jenis hutan. Data kecepatan angin yang digunakan adalah nilai rata-rata, maksimum, minimum dan modus dari data kecepatan angin periode 21 juli 2015 – 12 november 2015. Periode ini adalah periode penurunan kualitas udara kota Palembang akibat peristiwa kebakaran hutan sampai memasuki musim hujan.  Jenis hutan yang dipakai sebagai variasi skenario, yaitu hutan alam primer dataran tinggi, hutan alam sekunder dataran rendah, hutan rakyat bambang lanang, hutan alam gambut sekunder. Pembagian jenis hutan ini berdasarkan data biomassa yang telah dihimpun sebelumnya pada tahun 2014. Jumlah total skenario yang disusun sebanyak 40 skenario sesuai variabel yang ditentukan. Analisis persebaran dan nilai konsentrasi dari polutan CO dan partikulat berdasarkan skenario yang disusun dengan menggunakan persamaan gauss plume. Validasi data menunjukkan bahwa hasil pemodelan dengan skenario kecepatan angin rata-rata yang paling mendekati nilai ISPU.  Konsentrasi polutan yang sampai ke kota palembang dari sejumlah titik api kebakaran hutan adalah  2322,21 μg/m3 CO dan 245,62 μg/m3 PM10. Konsentrasi polutan yang sampai ke kota Palembang dari  kebakaran hutan seluas 1 ha pada setiap titik api adalah 8,54 μg/m3 CO dan 0,9 μg/m3 PM10. Jarak terjaruh persebaran emisi CO dan PM10 sampai nilai ambang batas (10000  dan 150 ) telah terlewati adalah 120 km untuk emisi CO dan 200 km untuk emisi PM10.
Analisis Perubahan Konsentrasi Total Suspended Solids (TSS) Dampak Bencana Lumpur Sidoarjo Menggunakan Citra Landsat Multi Temporal (Studi Kasus: Sungai Porong, Sidoarjo) Syaiful Budianto; Teguh Hariyanto
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.999 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i1.21097

Abstract

Sungai Porong merupakan area pembuangan Lumpur Lapindo, tidak menutup kemungkinan bahwa dengan adanya aliran lumpur lapindo mengakibatkan material lumpur tidak banyak mengendap di sepanjang sungai, tetapi mengendap di daerah muara Sungai Porong hingga ke sepanjang pantai . Oleh karena itu metode penginderaan jauh dengan citra satelit dapat menjadi solusi untuk melakukan penelitian masalah TSS (Total Suspended Solids) yang menjadi salah satu parameter dampak sedimentasi di daerah perairan tersebut. Citra satelit yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landasat 8 L1T hasil perekemanan secara multi temporal pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 sehingga dapat diketahui nilai dan persebaran TSS (Total Sediment Solid). Penelitian ini menggunakan 3 algoritma untuk menentukan nilai TSS yaitu , algoritma Guzman dan Santaella (2009), algoritma Syarif Budiman (2004), dan algoritma Laili (2015). Waktu penelitian dilakukan pada musim penghujan yang dilakukan pada bulan april. Daerah penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Muara Sungai Porong yaitu di sepanjang pesisir pantai Surabaya – Sidoarjo. Dari hasil pengolahan data dan analisis didapatkan nilai TSS dari tahun 2014 – 2016 bervariasi antara 1.4 mg/l – 118 mg/l. Uji validasi nilai TSS yang paling baik dalam penelitian ini adalah perhitungan menggunakan algoritma Laili (2015) dengan Koefisien Determinasi (R) sebesar 73,81 % dan regresi linier (R2) sebesar 0.5449. Daerah yang mengalami dampak sebaran TSS tinggi adalah muara Sungai Porong, Pantai Pasuruan, muara Kali Alo, selatan Sungai Porong, dan daerah pantai utara Kali Alo. Nilai dan sebaran TSS dipengaruhi oleh pasang surut, arus, angin, dan gelombang. Hasil analisis dan pengolahan data ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam penelian selanjutnya.
IDENTIFIKASI SISTEM SUNGAI BAWAH TANAH DAERAH KARST MENGGUNAKAN METODE VERY LOW FREQUENCY, PACITAN Ikmal Amrin; M. Singgih Purwanto; Widya Utama; Ayi Syaeful B.
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.556 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.29952

Abstract

Daerah Pacitan merupakan wilayah perbukitan dengan topografi tinggi dan curam, hanya beberapa tempat yang berupa dataran, Pacitan didominasi oleh batuan karst, daerah karst memiliki sistem drainase yang unik dimana sistem drainase air berada dibawah permukaan, pada musim penghujan air akan masuk ke jaringan ponor-ponor dibawah permukaan menuju system sungai bawah tanah. Kompleksitas daerah karst memerlukan metode geofisika khusus untuk mengindentifikasikan kemenerusan sistem sungai bawah tanah, salah satunya metode VLF. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasikan kemenurusan sistem bawah bawah tanah daerah Karst, Pacitan. Hasil penelitian ini diperoleh nilai Rapat Arus Ekivalen, dimana nilai Rapat Arus Ekivalen sebanding dengan konduktifitas dan berbanding terbalik dengan resistifitas, nilai anomali tinggi dianggap sebagai rongga berisikan air.