cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 177 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2017)" : 177 Documents clear
Pemanfaatan Ruang pada Lahan Terbatas untuk Pembangunan Rumah Susun Aldino Fajri; Vincentius Totok Noerwasito
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.697 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25695

Abstract

Tingginya angka selisih hunian yang dibutuhkan dengan hunian yang tersedia atau yang biasa disebut ‘backlog’ merupakan suatu masalah yang sudah tidak asing di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan lain-lain. Salah satu penyebabnya yaitu minimnya ketersediaan lahan di kota-kota besar tersebut. Masalah inipun juga disebabkan oleh banyaknya masyarakat yang melakukan urbanisasi ke kota-kota besar yang tergolong sebagai Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) namun, mereka tidak memiliki finansial yang cukup untuk membeli atau menyewa rumah sehingga seringkali membuat permukiman-permukiman kumuh seperti di bantaran sungai dan kolong jembatan yang menyebabkan masalah baru di kota. Dengan menggunakan metode datascape tentang penyusunan rumah susun yang sudah ada saat ini dapat ditarik kesimpulan jika penyusunan rumah susun yang sudah ada kurang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Oleh karena itu, dibuat sebuah susunan baru dengan menyilang diagonal untuk lebih memanfaatkan lahan yang tersedia. Namun,di lahanpun juga seringkali terdapat masalah, salah satunya adalah banjir. Sehingga konsep rancangan rumah susun yang ada nantinya juga harus tanggap akan permasalahan tersebut. Diantaranya, dengan menaikkan lahan rancang, membuat sebuah danau resapan untuk menampung air hujan dan membuat sungai disekeliling bangunan untuk memperluas wadah penampungan saluran pematusan kota yang sudah ada.
Perancangan Kampung Vertikal Ngagel Baru: Reinterpretasi Pola Sirkulasi pada Kampung Ahmad Rizal Sholikhuddin; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.821 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25731

Abstract

Kesenjangan sosial adalah sebuah realita yang sering kita jumpai pada masyarakat di kota-kota besar yang disebabkan oleh perbedaan dalam kualitas hidup yang sangat kontras dan tidak jarang membuat masyarakat enggan berinteraksi. Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dengan indeks nilai gini rasio sebesar 0,42. Sehingga tergolong dengan tingkat ketimpangan yang harus dikendalikan. Menggunakan pendekatan vernakular kontemporer, perancangan kampung vertikal bertujuan untuk menciptakan wujud tampang yang dapat menjadi ruang transisi di antara bangunan high-rise dan perkampungan sekitar. Hasil rancangan merupakan konsep redevelopment perumahan yang mengacu kepada hunian vernakular khas Indonesia yaitu hunian di lingkungan kampung agar penghuni permukiman tidak harus berpindah dari tempat mereka berasal
Pendekatan Ekologi pada Rancangan Rumah Susun Sewa Adaptable bagi Pekerja Pabrik di Kawasan Sub-Urban Kabupaten Sidoarjo Maulysa Prahastuti; Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.47 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25738

Abstract

Fenomena urban sprawl di Surabaya hadir akibat urbanisasi yang terus-menerus. Urbanisasi menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan ketersediaan dan kebutuhan hunian. Hal tersebut menyebabkan harga hunian menjadi tinggi. Harga hunian yang tinggi tidak sesuai dengan pendapatan pekerja pabrik. Tekanan ekonomi pada pekerja pabrik menyebabkan mereka membuat lingkungan baru di pinggiran kota. Pinggiran kota identik dengan lingkungan yang kumuh dan akses yang sulit untuk menjangkaunya. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa akses pekerja pabrik untuk mendapatkan hunian yang layak sangatlah minim. Oleh karena itu, diperlukan penyediaan hunian bagi pekerja pabrik berupa rumah susun. Banyaknya rumah susun yang tidak dapat menyesuaikan adanya perubahan kebutuhan ruang akan menyebabkan kekumuhan pada rumah susun. Salah satu cara menyelesaikan kekumuhan pada hunian pekerja pabrik adalah perancangan rumah susun yang adaptable (dapat menyesuaikan terhadap penghuni, lingkungan, dan objek). Perancangan adaptable dicapai dengan metode desain Adaptive Architecture. Selain itu, perancangan rumah susun juga menggunakan pendekatan ekologi.
Desain Hunian Terapung di Jakarta Utara Adelia Hanindya Nastiti; Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.688 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25740

Abstract

Pemanasan Global yang terjadi belakangan ini telah mengakibatkan bongkahan es yang ada di Antartika dan Greenland tersebut mulai mencair secara perlahan, dan hal ini berakibat adanya kenaikan muka air laut secara global. Jakarta Utara menjadi salah satu area di Indonesia yang mengalami dampak yang cukup signifikan akibat kenaikan muka air laut dan sebagian besar lahan yang tergenang adalah lahan yang diperuntukkan sebagai permukiman. Dalam rangka mengantisipasi permasalahan tersebut, upaya yang dapat dilakukan adalah perancangan kompleks hunian dengan menggunakan struktur terapung. Hunian terapung ini bertujuan untuk meminimalisir resiko kerusakan dari bidang properti secara signifikan saat sebagian daratan tenggelam akibat isu tersebut. Hunian dirancang dengan menggunakan prinsip-prinsip dari Arsitektur Organik. Desain dari hunian ini dibuat dengan material konstruksi yang ringan, dan struktur stabil yang bisa menyesuaikan dengan permukaan air laut dan juga modifikasi model bangunan agar aman dari genangan air laut, terutama pada saat kondisi air pasang.
Communal Space dengan Konsep Layer Building untuk Rancang Ulang Pasar Darmo Permai Valentinus Yulindra Ganis; Wahyu Setyawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.736 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25753

Abstract

Ruang publik adalah salah satu elemen pendukung sebuah kawasan perkotaan yang dapat menawarkan sarana hiburan bagi masyarakat yang ada di dalamnya. Di kota Surabaya, kawasan Darmo Permai Timur yang merupakan kawasan perumahan terdapat pasar yang sudah berdiri sangat lama yaitu Pasar Tradisional Darmo Permai. Pasar ini muncul dengan tujuan menarik orang/ pembeli untuk membeli rumah dikawasan Darmo Permai pada tahun 1980an. Seiring berjalannya waktu, pasar ini mulai tidak relevan dan berubah menjadi pasar tumpah. Aktivitas tidak terkontrol, perubahan aktivitas pada pagi hari yaitu pasar dan malam hari menjadi warung makan, zoning pasar tidak teratur, sirkulasi menjadi tidak jelas, stan illegal dan lain – lain, di tambah dengan kurangnya ruang untuk aktivitas warga sekitar sehingga terjadinya minim interaksi sosial. Dengan pendekatan Community Based Development, mengajak warga sekitar sehingga menjadi ruang publik yang baru yang sesuai dengan kebutuhan mereka untuk memperbaiki lingkungan perumahan Darmo Permai
New Development Hunian Nelayan Kenjeran sebagai Kampung Wisata Nelayan Rela Habibah; Wahyu Setyawan, ST., MT.
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.894 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25770

Abstract

Permukiman pesisir terbentuk karena adanya aktivitas nelayan dalam memenuhi kebutuhan bertempat tinggal dan bermata pencaharian. Pemkot Surabaya kini menetapkan kawasan Kenjeran menjadi Kampung Wisata Bahari. Namun masih ada permasalahan pada kondisi fisik eksisting yang timbul seperti kualitas lingkungan dan kondisi hunian yang kurang ideal. Oleh karena itu, dibutuhkan pengembangan baru pemukiman dengan penataan yang dapat menunjang kualitas permukiman. Hal ini mengacu pada pengembangan pemukiman khas Indonesia yang disebut kampung tanpa memindahkan penghuni ke tempat yang baru. Kemudian menempatkan kembali penghuni asal tanpa merubah gaya hidup mereka yang lama dan kondisi fisik yang lebih baik dari yang lama. Konsep tersebut diwujudkan dalam obyek rancang berupa Kampung Wisata Nelayan, yaitu inovasi baru penataan landed housing yang mengaplikasikan kegiatan wisata kampung bahari dan memlibatkan penghuni dalam mengembangkan huniannya. Konsep hunian ini disebut pula dengan Elemental Housing.
Urban Farming dalam Kampung Vertikal sebagai Upaya Efisiensi Keterbatasan Lahan Atik Dwi Nur'aini; Johanes Krisdianto
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.05 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25786

Abstract

Setiap tahun terjadi peningkatan jumlah penduduk di Kota Surabaya hal ini mengakibatkan penggunaan lahan untuk bangunan terus meningkat karena terjadi peningkatan kebutuhan ruang kota. Tingginya laju pertumbuhan penduduk menimbulkan kebutuhan lahan permukiman yang sangat besar. Seliain itu, penyebab dari padatnya penduduk di Surabaya dikarenakan adanya arus urbanisasi. Masyarakat dari desa berbondong – bondong menuju Surabaya untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Sehingga penduduk di Surabaya semakin meningkat setiap harinya. Hal ini mengakibatkan terjadinya keterbatasan lahan untuk area permukiman. Merek akhirnya mendirikan rumah – rumah semi permanen di pusat kota. Aktivitas ini menyebabkan terbentuknya permukiman kumuh di beberapa tempat. Masalah keterbatasan lahan juga banyak terjadi pada sektor pertanian dengan dibukanya lahan pertanian untuk area permukiman maupun area komersil lainnya.  Penjabaran di atas melatarbelakangi diperlukannya “Urban Farming dalam Kampung Vertikal Sebagai Upaya Efisiensi Keterbatasan Lahan” yang nantinya diharapkan menjadi tempat tinggal warga kampung yang lebih baik dan meningkatkan tingkat perekonomian mereka. Pendekatan yang dignakan dalam objek rancang ini berupa pendekatan perilaku kampung. Pendekatan ini dipakai dan diterapkan untuk  merancang sebuah hunian vertikal yang sesuai dengan perilaku kampung sehingga pengaplikasian arsitektur dengan pendekatan ini akan terlihat pada gubahan massa bangunan, fasad, maupun modul pada setiap unit rumah pada kampung vertikal.
Kampung Vertikal Kawasan Central Business District di Surabaya Indah Nuer Sistyaningsih; Rika Kisnarini
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.237 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25805

Abstract

Perkembangan Central Business District di kota Surabaya diikuti dengan meningkatnya jumlah permukiman berupa kampung kota yang diisi masyarakat berpenghasilan rendah dengan kondisi fisik kurang baik, kepadatan tinggi, dan ketersediaan sarana umum yang minim. Keberadaannya dianggap memberi pengaruh negatif bagi perkembangan kawasan bisnis dan rentan terhadap isu penggusuran. Sedangkan masyarakat rata-rata tidak mau berpindah ke rumah susun karena dianggap mengaburkan sifat-sifat masyarakat kampung. Hal ini yang melatarbelakangi perlu adanya pembangunan hunian vertikal dengan pendekatan perilaku masyarakat kampung guna meningkatkan kualitas hidup dan memperbaiki wajah perkotaan dengan mengangkat potensi-potensi kampung kota yang berada dekat dengan kawasan pusat bisnis di Surabaya.
Desain Ruang Relaksasi untuk Stres di Perkotaan dengan Penerapan Biophilic Design Ikvan Romadhani; Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.692 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25952

Abstract

Stres merupakan hal yang selalu dialami oleh setiap orang apalagi di daerah perkotaan. Banyak sekali hal-hal yang dapat mempengaruhi manusia menjadi stres. Faktor-faktor yang mempengaruhi stres dapat berasal dari lingkungan maupun individu itu sendiri. Stres itu sendiri merupakan bagian dari kehidupan manusia sehingga sangat sulit untuk dihindari. Stres dapat dikurangi dengan berbagai cara. Seperti melakukan beberapa aktivitas yang dapat membantu mengurangi stres contohnya berlibur, berolahraga, bermain, melakukan relaksasi dan lainnya. Oleh karena itu objek arsitektur yang diusulkan untuk mewadahi aktivitas tersebut yang berupa sebuah healing space atau tempat relaksasi, dimana objek arsitektur yang dirancang dapat membantu mereduksi tingkat ke-stres-an dan menciptakan suasana yang tidak membuat seseorang menjadi stres di lingkungan kota itu sendiri.
Kompleks Masjid Penampung Balita Terlantar Vashti Andini; Muhammad Faqih
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.572 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25959

Abstract

Penelantaran balita memberi dampak besar pada pertumbuhan dan perkembangan saat dewasa kelak. Diantara berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur, Gresik memiliki jumlah kasus balita terlantar terbanyak. Hal ini diperburuk dengan area penyebaran balita terlantar yang tidak merata dan sulit terlacak. Oleh sebab itu, desain difokuskan pada area perkampungan di Gresik untuk mendekatkan solusi rancang terhadap subjek penelitian. Di sisi lain, terdapat dampak signifikan dari fasilitas umum sebagai arena pertumbuhan watak dan perilaku balita terlantar. Diantara fasilitas umum lingkungan, masjid memiliki potensi besar dalam menumbuhkan moral dan perilaku positif mereka. Dengan demikian, tujuan penulisan ini adalah memberdayakan masjid sebagai kompleks penampungan balita terlantar di area perkampungan Gresik. Teknik pengumpulan data berupa hasil observasi dan kajian literatur terkait balita terlantar dan potensi lingkungan. Data dianalisis melalui pendekatan arsitektur perilaku dengan konsep utama berupa “Lingkungan Terapi Terpadu”. Metode desain yang digunakan ialah teori kontekstualime milik Kari Jormakka. Kajian lokasi didasarkan pada teori Site Analysis milik Edward T. White. Adapun hasil rancangan berupa desain pemberdayaan masjid sebagai kompleks penampungan berkonsep terapi terpadu bagi balita terlantar dalam kampung di Gresik.

Page 11 of 18 | Total Record : 177