cover
Contact Name
Yudha Adi Pradana
Contact Email
moj@ub.ac.id
Phone
+6281285130860
Journal Mail Official
moj@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. JA Suprapto No. 2 Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 31094147     EISSN : 31094139     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
MOJ (Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal) is a peer-reviewed and open access journal that provides timely information for physicians and scientists concerned with diseases of the head and neck. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. We place a high priority on strong study designs that accurately identify etiologies, evaluate diagnostic strategies, and distinguish among treatment options and outcomes. Letters and commentaries of our published articles are welcome. Subjects suitable for publication include: Otology Rhinology Allergy and immunology Laryngology Bronchoesophagology Speech science Swallowing disorder Facial plastic surgery Head and neck surgery Sleep medicine Pediatric otolaryngology Geriatric otolaryngology Oncology Neurotology Audiology Auditory and vestibular neuroscience Salivary Gland Skull base surgery Community Ear, Nose and Throat Craniofacial pathology
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022" : 5 Documents clear
Gambaran Pasien Abses Leher Dalam dengan Diabetes Melitus dan Tanpa Diabetes Melitus di Bagian IK THT-KL di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2018 – 31 Desember 2019 Intan, Monica
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Infeksi abses leher merupakan sebuah penyakit serius yang berada pada ruang potensial dan fasia pada bagian leher. Infeksi ini bisa berkembang menjadi abses atau selulitis. Diabetes melitus merupakan salah satu permasalahan kesehatan mayor di dunia. Diabetes mellitus merupakan faktor resiko yang signifikan yang berhubungan erat terjadinya infeksi yang dapat menyebabkan kematian dan komplikasi. Tujuan: Mengetahui gambaran pasien abses leher dalam dengan diabetes melitus dan tanpa diabetes melitus 1 Januari 2018 – 31 Desember 2019. Metode: penelitian deskriptif cross sectional untuk melihat gambaran pasien abses leher dalam dengan diabetes melitus dan tanpa diabetes melitus di bagian IK THT-KL di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2018 – 31 Desember 2019. Hasil: pasien abses leher dalam dengan diabetes melitus lebih banyak pria dengan jumlah 11 orang (61,1%) sedangkan wanita sebanyak 7 orang (25%). Lokasi tersering abses pada pasien diabeters didapatkan pada ruang submandibular (60%) dan ruang submental (28%). Abses melibatkan lebih dari satu ruang leher dalam ditemukan pada pasien DM dan non-DM dengan kuman terbanyak berupa Klebsiella Pneumoniae.   
Benda Asing Kait Gorden di Esofagus pada Anak Usia 8 Bulan dengan COVID-19 Sujana, Widia Isa Aprillia
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Kasus tertelan benda asing masih merupakan  masalah yang sering terjadi pada anak. Benda asing tajam di esofagus memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi sehingga memerlukan diagnosis yang tepat dan tatalaksana yang segera. Infeksi COVID-19 pada anak seringkali asimptomatik, pada kasus anak dengan pemeriksaan serologi ECLIA positif, prosedur esofagoskopi segera perlu dilakukan dengan protokol COVID-19. Tujuan: Memahami lebih mendalam penegakan diagnosis dan penatalaksanaan ekstraksi benda asing tajam (kait gorden) di esofagus pada anak dengan protokol COVID-19. Laporan kasus: Anak laki-laki usia 8 bulan menelan 1 buah kait gorden. Presentasi klinis dan hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya benda asing berdensitas logam di esofagus dan hasil pemeriksaan ECLIA positif. Pasien direncanakan esofagoskopi ekstraksi dan eksplorasi dengan pembiusan umum dan protokol COVID-19. Metode: Telaah literatur berbasis bukti melalui pencarian PubMed dan Google Scholar serta buku ajar yang yang memiliki relevansi dengan topik serta naskah lengkap tersedia. Hasil: Pengambilan benda asing tajam esofagus pada anak direkomendasikan dengan menggunakan endoskopi kaku dengan pembiusan umum dan dikerjakan dalam waktu <24 jam. Teknik yang digunakan berhubungan dengan arah ujung tajam dari benda asing. Skrining preoperasi, penggunaan APD, dan ruangan operasi bertekanan negatif serta pembuatan surgical tent mengurangi resiko transmisi. Kesimpulan: Penegakan diagnosis yang tepat, intervensi endoskopi segera dengan teknik dan pemilihan alat ekstraksi yang tepat, dan dengan pembiusan umum direkomendasikan pada penanganan kasus tertelan benda asing tajam pada anak. Skrining preoperasi dan penerapan protokol COVID-19 wajib dilakukan pada pasien anak dengan kecurigaan COVID-19.Kata Kunci: tertelan benda asing, benda asing tajam esofagus, anak, esofagoskopi, COVID-19 AbstractBackground: Foreign body ingestion case still a common problem among children. Sharp foreign body have high morbidity and mortality rate that need correct diagnosis and management. COVID-19 infection in children usually asymptomatic, in the case of children with ECLIA positive, esophagoscopy procedure need to be done with COVID-19 protocol. Purpose: To understand diagnosis and management of sharp foreign body (curtain hook) extraction in children with COVID-19 protocol. Case report: A boy 8 month old have been reported ingested a curtain hook. Clinical presentation and radiography examination showing foreign body in esophagus and ECLIA positive. The patient planned to undergoing esophagoscopy extraction and exploration with general anesthesia and COVID-19 protocol. Methods: Evidence-based literature review via PubMed, Google Scholar and also textbook that relevant with topic and script available. Result: Rigid endoscope extraction with general anesthesia within 24 hours is recommended for esophagus foreign body in children. The sharp egde of the foreign body determine the technique being used. Preoperative screening, PPE use, and negative pressure operating room also creation of surgical tent reduce the risk of transmission. Conclusion: Right diagnosis, immediate endoscopic intervension with right technique and extraction tool under general anesthesia are recommended for sharp foreign body ingestion in children. COVID-19 protocol is a must to child patient with sucspicion of COVID-19.Keywords: foreign body ingestion, sharp foreign body in esophagus, children, esophagoscopy, COVID-19
Perbaikan Tuli Konduksi Pasca Pemberian Terapi LPR Erlangga, Eggi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Refluks ekstraesofageal (EER) berhubungan dalam proses inflamasi pada seluruh mukosa kepala dan leher, sinus paranasal, tuba Eustachius dan telinga tengah, nasofaring, hingga ke saluran napas bagian bawah. Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh LPR, sejauh ini diketahui berhubungan dengan disfungsi pada tuba Eustachius dan otitis media.Tujuan : Melaporkan dan menganalisis 1 kasus gangguan pendengaran dan LPR. Kasus: Laki-laki 74 tahun datang dengan keluhan penurunan pendengaran disertai dengan suara parau dan rasa berlendir di tenggorok. Pasien didapatkan tuli campur sedang dekstra dan tuli sensorineural sedang berat sinistra dan suspek LPR. Paska terapi didapatkan perbaikan ambang dengar dan gejala LPR.  Diskusi: Setelah pemberian terapi, terjadi perbaikan tuli konduksi pada kedua telinga. Tuli sensorineural yang masih didapatkan pada pasien dapat disebabkan dari proses degeneratif. Pada pasien disarankan untuk menggunakan alat bantu mendengar agar pendengaran pasien menjadi lebih baik.. Kesimpulan : Penyakit refluks laringofaring berhubungan dengan gangguan pendengaran dan ketulian. Kata kunci: Tuli campur, tuli sensorineural, refluks laringofaringeal  
Profil Pasien Sudden Sensorineural Hearing Loss di Klinik Neurotologi RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2019 Sudarmanto, Yohanes; Indrasworo, Dyah
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Sudden sensorineural hearing loss (SSNHL) adalah keadaan darurat medis saat penurunan pendengaran terjadi tiba-tiba dan bukan akibat penyumbatan mekanis. Diagnosis cepat sangat penting akibat adanya jendela waktu intervensi medis dalam pemulihan pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik klinis pasien dengan SSNHL yang berguna sebagai data dasar atau landasan dalam penelitian lanjutan kasus SSNHL. Metode: Penelitian deskriptif potong lintang dilakukan pada pasien terdiagnosis SSNHL dengan pendekatan retrospektif rekam medik periode 1 Januari 2015 -30 Desember 2019. Karakteristik klinis pasien SSNHL ditampilkan dalam bentuk proporsi relatif maupun pengukuran tendensi sentral. Hasil: Terdapat total 27 kasus SSNHL yang diikutsertakan dalam penelitian ini. SSNHL lebih sering terjadi pada perempuan (59,3%), usia rata-rata 45 tahun, unilateral (81,4%), dengan telinga kanan merupakan sisi yang lebih sering mengalami keluhan. Rerata waktu kedatangan adalah hari ke-9. Keluhan yang paling sering menyertai SSNHL adalah vertigo dan tinnitus. Derajat gangguan sangat berat identik dengan pola audiogram total loss. Tipe timpanogram sebagian besar adalah tipe A (81,8%) dengan sebagian besar skor SDS dan SRT tidak mencapai 100% atau threshold. Pada kasus unilateral pola audiogram yang jelek cenderung memberikan hasil negatif pada tes refleks stapedius ipsilateral namun tidak terjadi pada sisi telinga kiri pada kasus bilateral SSNHL. Kesimpulan: Perhatian khusus akan kewaspadaan SSNHL pada populasi perempuan di usia pertengahan perlu ditekankan, penelitian lanjutan terkait faktor risiko perlu dipertimbangkan. Secara umum, peningkatan kewaspadaan dan pengetahuan akan tanda kehilangan pendengaran mendadak perlu ditingkatkan untuk mempersingkat awitan gejala dengan waktu kedatangan ke fasilitas kesehatan. Kata Kunci: Gangguan Pendengaran, Tuli Saraf Mendadak, Karakteristik Klinis, Kegawatadaruratan Medis
Profil Faktor Risiko Penderita Stridor Paska Intubasi Pada Anak dengan Kecurigaan Stenosis Subglotis di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Periode 1 Januari – 31 Desember 2017 Sitompul, Bobby Pardomuan; Murdiyo, Mohammad Dwijo
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Subglottic stenosis (SGS) is a decrease in the width of the subglottic. Although it can be congenital, 90% of the SGS are acquired with intubation and mechanical respiratory assistance being the main cause. The risk factors that cause SGS are poorly understood. Purpose: To identify risk factors on post-intubation stridor patient with suspicion of subglottic stenosis to assist prevention and optimal management strategies. Methods: Retrospective descriptive study with subject of the study are medical records of post-intubation stridor patient in children that have been suspected subglottic stenosis at otorhinolaryngology head and neck surgery departement of Saiful Anwar General Hospital Malang from January 1st until December 31st 2017 Result: The study included 12 subjects. Male to female ratio 3:1, highest distribution 0-1 years old group 50%, aterm pregnancy age 83.3%, normal birth weight 75%, intubation frequency > 1 times 58,3%, duration of intubation > 7 days 66,7%, central nervous system as main disease 41,7%, underwent tracheostomy 33,3%, underwent endoscopic diagnosis 41,7% with 100% suffer subglottic stenosis with various severity. Conclusion: Incidence of post-intubation subglottic stenosis in children is quite high and needs further investigation to identify risk factors.Keyword: Stenosis subglottic in children, risk factors post-intubation

Page 1 of 1 | Total Record : 5