cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ITENAS REKARUPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2011)" : 16 Documents clear
Furniture Bergaya Tradisional Indonesia pada Restoran Kampung Daun Taufik Firdaus, Boyke Arief; ., Sakinat
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Use of furniture not just seen from side of function requirement or just its usefulness, but rather from that its also attend as one of space component which can become the atmosphere creation expected at the space. Furniture as one of space component, along with other space component designed become one union in the space utilize to reach the space atmosphere expected. Style represent one of determinant appliance in instructing every space component visually in reaching the space atmosphere, so that style union between space and furniture become one of measuring rod in determining according to form, colour, material and construction of every space component. That way the things of furniture design used at restaurant of Kampung Daun of Culture Gallery & Café. The atmosphere expected by attend at this restaurant is Indonesian traditionaly countrified atmosphere, what at one blow become the theme and style which have been determined by since the early concept its development. Hence furniture design which the using of even also shall owning same style, is so that expected can be created that atmosphere. The style of furniture which designed ought to the style of Indonesian traditionaly furniture where used in Indonesian countrified. Keyword: Indonesian Traditional Furniture style, Restaurant of Kampung Daun. Abstrak Penggunaan furnitur tidak hanya sekedar dilihat dari sisi kebutuhan akan fungsi atau kegunaannya saja, tetapi lebih dari itu ia juga hadir sebagai salah satu komponen ruang yang dapat menjadi bagian dalam terciptanya suasana yang diharapkan pada ruang tersebut. Furnitur sebagai salah satu komponen ruang, bersama dengan komponen ruang lainnya didesain menjadi satu kesatuan pada ruang tersebut guna mencapai suasana ruang yang diharapkannya. Gaya atau style merupakan salah satu alat penentu dalam mengarahkan setiap komponen ruang secara visual dalam mencapai suasana tersebut, sehingga kesatuan gaya antara ruang dan furniturnya menjadi salah satu tolok ukur dalam menentukan kesesuaian bentuk, warna, material dan konstruksi pada masing masing komponen ruangnya. Demikian halnya pada desain furnitur yang digunakan pada restoran Kampung Daun Culture Gallery & Café. Suasana yang diharapkan hadir pada restoran ini adalah suasana perkampungan tradisional Indonesia, yang sekaligus menjadi tema dan gaya yang telah ditentukan sejak konsep awal pembangunannya. Maka desain furnitur yang digunakanyapun haruslah yang memiliki gaya yang sama, sehingga diharapkan dapat tercipta suasana tersebut. Gaya furnitur yang didesainnya harusnya gaya furnitur tradisional Indonesia yang digunakan di perkampungan Indonesia. Kata kunci: Furniture Gaya Tradisional Indonesia, Restoran Kampung Daun.
Studi Rancangan Konsep Produk Brassiere Melalui Pendekatan Nilai Emosi Dan Perasaan Menggunakan Kansei Engineering Method Wahyuning, Caecilia Sri; Desrianty, Arie; Rahmawati, Rika
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Complexities of customer needs for buying or using new products ensue the need of customer oriented product designs. Customer’s emotions and feelings give influences in choosing and deciding new products, therefore these should be considered in product design processes. A brassiere is an article of clothing that covers, supports, and elevates breasts. To design the brassiere, a company needs to develop the brassiere concepts that could satisfy the women’s feelings and emotions in deciding to buy or use brassiere. Kansei Engineering is a method for translating feelings and impressions into product parameters that can "measure" feelings and show relationships to certain product properties. As consequences, products might be designed to bring in the intended feelings. The experiments show that six brasseries concepts developments could be implemented in accommodating the market conditions and company capabilities in brassiere productions. Keywords: brassiere, Kansei Engineering, emotional design   Abstrak Dalam pemilihan suatu produk sampai keputusan pembelian, konsumen sesungguhnya dipengaruhi oleh emosi dan perasaan. Ekspresi dari emosi dan perasaan ini akan menimbulkan suatu nuansa, kesan, rasa suka, nyaman ketika konsumen memilih suatu produk (Norman, 2004). Dengan kondisi tersebut mereka akan membeli produk jika merasa senang, nyaman, dan sesuai dengan selera yang diinginkan. Menurut Damasio (1995), aspek emosi dipandang menjadi fokus perhatian yang cukup penting mengingat segala tindakan dan pengambilan keputusan manusia tidak bisa dilepaskan dari aspek emosi. Adanya keterlibatan emosi dan perasaan konsumen dalam pemilihan suatu produk sebaiknya menjadi bahan pertimbangan bagi para perancang ketika akan merancang suatu produk. Konsumen akan memilih suatu produk jika kesan yang ingin dirasakan oleh konsumen ada pada produk tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelusuran terhadap emosi dan perasaan yang ingin dirasakan oleh pengguna terhadap suatu produk, yang pada akhirnya akan diimpelentasikan ke dalam suatu rancangan konsep produk. Breast Holder (Brassiere/ Bra) merupakan salah satu produk yang digunakan oleh seluruh wanita di dunia. Para pengguna produk ini dapat berasal dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari remaja putri sampai dengan wanita lanjut usia. Fungsi utama dari bra adalah sebagai penyangga payudara. Berdasarkan fungsinya yang melindungi bagian sensitif dari wanita, maka kesesuaian emosi dan perasaan yang dirasakan ketika menggunakan produk bra akan sangat mempengaruhi kesan terhadap produk tersebut. Oleh karena itu, dalam perancangan produk bra perlu melibatkan aspek emosi dan perasaan yang ingin dirasakan pengguna, sehingga akan memberikan kepuasan kepada pengguna. Emosi menurut Damasio (1999) adalah antitesis/ kebalikan dari logika. Unsur emosi dalam diri manusia berbeda dengan perasaan. Perasaan menghubungkan aspek-aspek fisik dan berada dalam tataran tingkat kesadaran yang lebih rendah. Terdapat dua macam perasaan/ feeling, yaitu internal feeling dan external feeling. Internal feeling adalah perasaan yang berkaitan dengan masalah fisik, sedangkan external feeling adalah perasaan yang berhubungan dengan aspek sosial. Emosi dipandang jauh lebih subjektif dan lebih kompleks dari pada perasaan. Aspek emosi dipandang menjadi fokus perhatian yang cukup penting mengingat segala tindakan dan pengambilan keputusan manusia tidak bisa dilepaskan dari aspek emosi. Orang-orang sering kali tidak mampu memilih alternatif-alternatif, khususnya pilihan-pilihan yang satu sama lain hampir serupa. Kondisi ini berbeda dengan orang-orang yang memiliki kondisi emosi yang baik. Aspek rasa suka, senang, sering menjadi faktor penentu akhir pengambilan keputusan. Kansei Engineering atau disebut juga Kansei Ergonomics merupakan sebuah metode dari Jepang yang ditemukan lebih dari 30 tahun yang lalu, yaitu sebuah metode yang mempelajari cara/ pola pikir konsumen untuk diterapkan dalam pembuatan suatu produk baru. Kansei Engineering pertama kali diperkenalkan oleh Nagamachi pada tahun 1970-an. Nagamachi sendiri tidak secara spesifik menyebutnya sebagai Kansei Engineering pada saat memperkenalkan konsepnya, tetapi menyebutnya dengan Emotional Engineering. Tumbuhnya konsep Kansei Engineering sendiri tidak terlepas dari konsep perancangan produk yang memperhatikan aspek emosi konsumen. Tidak mengherankan istilah Kansei sebagaimana saat ini banyak didengar orang, pada mulanya dikembangkan berdasarkan konsep emotional design. Emotional design adalah konsep dalam desain yang mempertimbangkan unsur emosi konsumen sebagai pengguna produk. Dalam konsep emotional design, unsur komersialitas bukan hanya menjadi fokus perhatian utama (Norman, 2004). Istilah Kansei berasal dari bahasa Jepang, yang secara umum berarti Psychological feeling or image of product atau gambaran perasaan psikologis terhadap suatu produk. Tujuan dari kajian studi Kansei adalah untuk mengetahui struktur emosi yang hadir dalam perilaku manusia. Struktur ini dikenal dengan Kansei seseorang. Sementara itu, dalam kajian studi desain, Tuntutan konsumen terhadap suatu produk yang semakin kompleks menyebabkan perlunya dilakukan perancangan produk yang berorientasi pada konsumen/ pengguna.  Dalam pemilihan suatu produk sampai keputusan pembelian, konsumen dipengaruhi oleh emosi dan perasaan, sehingga hal ini sebaiknya menjadi bahan pertimbangan bagi para perancang ketika akan merancang suatu produk.  Brassiere, sebagai produk yang digunakan oleh para wanita, memerlukan  rancangan konsep produk bra yang disesuaikan dengan aspek-aspek emosional yang dirasakan penting sehingga dihasilkan suatu rancangan produk brassiere yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kansei Engineering Method merupakan suatu metode yang menggunakan image atau feeling secara psikologis dari pengguna terhadap suatu produk untuk digunakan dalam merancang suatu produk, sehingga dengan menggunakan metoda ini produk brassiere yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan emosional para wanita. Berdasarkan penelitian diperoleh 6 konsep produk brassiere, sehingga dapat digunakan dan diimplementasikan, dengan tetap menyesuaikan terhadap kondisi pasar (trend) yang ada dan keterbatasan yang dimiliki oleh perusahaan dalam proses manufaktur produk brassiere. Kata kunci: brassiere, Kansei Engineering, emotional design
Interaksi Perilaku dan Suasana Ruang di Perkantoran Kasus di 2 lokasi Kantor Pusat PT.Telkom, Bandung Hidjaz, Taufan
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The interaction between atmosphere and behavior is highly influenced by interior design factors as well as the dominant characters of the people interacting in it. As the quality of an environment, the atmosphere of is an input for people, which is then converted by the people into a perception and an output in their behaviors. The atmosphere of an office space is the resultant of the interior physical components, the activities of visitors and staff in it as well as the social interactions coming up with it which will be the stimulants for the behavior as the part of the space atmosphere itself. As the stimulants, the space atmosphere created will influence the perception, cognition and motivational processes in individual personality system, which then create responds towards the space atmosphere actualized in their behaviors and activities. The difference of the space atmosphere which is as the result of the system used in an office interior design will be influencing the behaviors of its staff. Keywords: Interior design, atmosphere, behaviors.   ABSTRAK Hubungan timbal balik antara suasana ruang (atmosphere) dengan perilaku sangat dipengaruhi oleh faktor desain interior ruang dan karakteristik dominan dari manusia yang berinteraksi di dalamnya. Sebagai kualitas lingkungan, suasana ruang merupakan masukan pada manusia yang kemudian dikonversikan oleh manusia menjadi persepsi dan keluaran pada perilaku, sebaliknya kegiatan atau perilaku manusia itu sendiri dapat mempengaruhi suasana ruang. Suasana ruang di perkantoran merupakan resultante dari komponen-komponen fisik interior, kegiatan pengunjung dan karyawan di dalamnya serta interaksi sosial yang menyertainya. Ia akan menjadi stimulan bagi perilaku, yang menjadi bagian dari suasana ruang itu sendiri. Sebagai rangsang atau stimulan, suasana ruang yang terbentuk akan mempengaruhi persepsi, kognisi dan proses motivasi dalam sistem kepribadian individu, kemudian membentuk respons-respons yang diwujudkan oleh perilaku atau kegiatan. Perbedaan suasana ruang akibat penggunaan sistem yang berbeda dalam desain interior perkantoran berpengaruh pada beberapa perilaku karyawannya. Kata Kunci: Desain interior, suasana, perilaku
Dari Ritual ke Realitas Virtual (Tinjauan Video Komersial Seni Pertunjukan Tradisi Yang Beredar di Bandung) Djatnika, Agus
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The ease and convenience offered by technology, especially for the audio-video recording has penetrated the tradition performance art and has become an offer that enriches the treasury of the cultural tradition itself. The trend appears in the tradition  performance art in different regions in Indonesia especially in Java, although the aspects of the production process seems to be amateurish as it is still limited to only a recording of an art performance event during the show. In addition, it is not specifically prepared for a production. The distribution of the tradition art performance video is accepted by the community with a tendency to be getting more and more in types as well as the choices of the tradition performance art among the commercial video markets. The goal diversity of the tradition performance art video launches in the markets ranging from the goal of a conventional business opportunity, a tradition art promotion, to a video recording studio promotion has become the parts of the diversity itself. Documenting the tradition performance art has become one of the cultural advantages which is very invaluable and has emerged from the community itself. These symptoms will be more culturally valuable if coupled with the seriousness of the video makers professionally completed with a narrative that contains all information about the distributed tradition performance arts and finally the society can be invited to be more intelligent appreciators. Keywords: technology, performance art, tradition Abstrak Kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan teknologi, khususnya perekaman  dalam bentuk audio-video merambah pada seni pertunjukan tradisi, dan  menjadi  sebuah tawaran yang memperkaya  perbendaharaan budaya tradisi itu sendiri. Kecenderungan ini muncul pada seni pertunjukan tradisi di berbagai daerah di Indonesia khususnya di Jawa, meskipun dari aspek  proses produksi terkesan amatiran karena hanya sebatas  perekaman suatu peristiwa. saat seni pertunjukan itu berlangsung,  dan tidak secara  khusus dipersiapkan untuk  diproduksi. Peredaran video seni pertunjukan tradisi disambut baik oleh masyarakat dengan kecenderungan makin marak jenis maupun pilihan seni pertunjukan tradisidi tengah pasar video komersial. Keragaman tujuan peluncuran video seni pertunjukan  tradisi di pasaran mulai dari tujuan kesempatan bisnis  konvensiona, promosi kelompok seni tradisi hingga promosi studio rekaman video menjadi bagian dati keragaman tersebut. Pendokumentasian seni pertunjukan tradisi jadi salah satu manfaat budaya yang tidak ternilai dan muncul dari masyarakat itu sendiri. Gejala ini bisa lebih bernilai budaya bila dibarengi dengan kesungguhan para pembuat video secara professional dibarengi dengan narasi yang berisi informas tentang seni pertunjukan tradisi yang diedarkan tersebut yang pada akhirnya masyarakat sebagai aprisiator diajak lebih cerdas. Kata Kunci: teknologi, seni pertunjukan, tradisi
Interpretasi Visual terhadap Bentuk dan Fungsi Kujang Huma Pamangkas dengan Uji ANOVA (Analysis Of Variance) dan VAS (Visual Analog Scale) Putra, Edi Setiadi
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract   The kujang recognizable as a typical cultural artifact Sunda. Classification of Kujang is determined by functions, namely as weapons, agricultural tools and ceremonial tool. The functions of kujangs are determined based on user behavior that characterize a particular form, this phenomenon is interesting to traced, to determine the elements in form of Kujang huma pamangkas as agricultural tools who showing variability of functions, the study sought to explore the visual perception of some observers, through VAS approach (visual analog scale) and the ANOVA test (analysis of variance), towards some form of kujang pamangkas from several museums, This study concluded the fact the relationship between form with function (form follows function), which was preserved until the present into the design characteristics of traditional farming tools in west Java. Keyword: Kujang, huma, Sunda ABSTRAK   Kujang dikenali sebagai artefak khas budaya Sunda. Klasifikasi kujang ditentukan berdasarkan fungsinya, yaitu sebagai senjata, perkakas pertanian serta alat upacara. Fungsi-fungsi kujang ditentukan berdasarkan perilaku pengguna yang membentuk karakter bentuk tertentu. Fenomena ini menarik untuk ditelusuri, guna mengetahui unsur pada karakter bentuk kujang perkakas pertanian yaitu kujang huma pamangkas yang menunjukkan variabilitas fungsi. Penelitian ini mencoba menggali persepsi visual dari beberapa pemerhati, melalui pendekatan VAS (Visual Analog Scale) dan uji ANOVA (Analysis Of Variance), terhadap beberapa bentuk artefak kujang pamangkas dari beberapa museum. Penelitian ini menyimpulkan adanya fakta keterkaitan antara bentuk dengan fungsinya (form follows function), yang dilestarikan hingga masa kini kedalam karakter desain perkakas pertanian tradisional di Jawa Barat.   Kata kunci: Kujang, huma, Sunda  
MELIHAT DAN MERASAKAN TAMPILAN GRAFIS LAYAR TELEPON SELULAR Karnita, Rosa
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Nowadays the mobile-phone  is an indispensable tool in daily activities. Mobile-phone screen as one of many factors of discussion in a level user interface, the main focus in this study given the display screen as the spearhead of communication between the phone and its users. When a display screen is not able to achieve satisfactory results for its users, it needs to be revisited how to design a graphical display on the screen. The problem is formulated surrounds how much the display phone can influence the user's convenience. How does the concept in order to function and function aesthetics applied to display the phone screen? What is the role of visual communication in designing the layout and communication for the phone user? In addition, the development of Creative Industries in Indonesia are increasing rapidly today should be followed by the ability of creative human resources, so can produce competitive products that can captivate even the national market can penetrate the international market. This topic was raised with the aim of generating concept in order to well-designed as an aesthetic function to a better cell phone screen interface design, through a variety of disciplines related cooperation so as to applied by the local manufacturing industry to compete in their own country. Research methods used include questionnaires and analysis of several case studies phones using visual communications design standpoint. By pulling common thread between the theoretical review and case study, it found that the display mobile-phone screen as a whole (integration between letters, colors, icons, layout, proportion and composition) has been influencing the user's convenience, both directly and indirectly. Aesthetics function and uses function are related  with one of the user interface principles which is consistent with the principles of visual communication design. Keywords: mobile-phone screen, creative industries, aesthetics, Visual Communication Design   Abstrak Dewasa ini telepon selular (ponsel) merupakan alat yang mutlak diperlukan dalam kegiatan sehari-hari. Layar ponsel sebagai salah satu faktor dari sekian bahasan dalam tataran user interface, menjadi sorotan utama dalam kajian ini mengingat tampilan layar sebagai ujung tombak komunikasi antara ponsel dengan penggunanya. Ketika suatu tampilan layar tidak mampu mewujudkan hasil yang memuaskan bagi penggunanya, perlu ditinjau kembali bagaimana merancang suatu tampilan grafis pada layar ponsel. Permasalahan yang dirumuskan melingkupi seberapa besar pengaruh tampilan layar ponsel terhadap kenyamanan pengguna? Bagaimana konsep fungsi guna dan fungsi estetika diaplikasikan untuk tampilan layar ponsel?Bagaimana peran Desain Komunikasi Visual (DKV) dalam perancangan tata letak dan komunikasi antara ponsel dengan pengguna? Selain itu, perkembangan Industri Kreatif di Indonesia yang meningkat pesat saat ini seyogyanya diikuti oleh kemampuan sumber daya manusia yang kreatif, sehingga dapat menghasilkan produk kompetitif yang dapat menarik hati pasar nasional bahkan dapat menembus pasar internasional. Topik ini diangkat dengan tujuan menghasilkan konsep fungsi guna maupun fungsi estetik untuk suatu rancangan interface layar ponsel yang lebih baik, melalui kerjasama berbagai disiplin ilmu terkait sehingga dapat diaplikasikan oleh industri manufaktur lokal agar dapat bersaing di negara sendiri. Metode penelitian yang digunakan meliputi kuesioner dan analisis studi kasus beberapa ponsel menggunakan sudut pandang perancangan Komunikasi Visual. Dengan menarik benang merah antara tinjauan teoritis dan hasil studi kasus, ditemukan bahwa tampilan layar ponsel secara keseluruhan (integrasi antara huruf, warna, ikon, tata letak, proporsi dan komposisi) sangat mempengaruhi kenyamanan pengguna baik secara langsung maupun tidak langsung. Fungsi guna dan fungsi estetika terkait dengan salah satu prinsip user interface yang selaras dengan prinsip-prinsip perancangan komunikasi visual. Kata kunci: layar ponsel, industri kreatif, estetika, DKV
TV Commercial Ameriquest Mortgage Agusta, Aldrian
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Observing an Ameriquest ad impressions from which to build a certain perception of consumers in the United States by taking the cultural background and customs of American society in interpreting a visual impression made Ameriquest to give its ad message that states that they give loans with a positive outlook on prospective customers. Studies in this ad shows the strength of the frame that compose the story so that it can be perceived correctly by the audience who was not even from American society itself. Keywords: frame, visual perception   Abstrak Mencermati suatu tayangan iklan dari Ameriquest yang membangun persepsi tertentu pada konsumennya di Amerika dengan mengambil latar belakang budaya dan kebiasaan masyarakat Amerika dalam menginterpretasikan sebuah tayangan visual membuat Ameriquest dapat memberi pesan iklannya yang menyatakan bahwa mereka memberi pinjaman dengan pandangan positif pada calon nasabahnya. Kajian pada iklan ini memperlihatkan kekuatan dari frame yang merangkai kisah tersebut sehingga dapat dipersepsikan dengan tepat oleh penonton yang bahkan bukan dari masyarakat Amerika itu sendiri. Kata Kunci: frame, persepsi visual
Pola Asimetris pada Façade Bangunan-bangunan Baru Bertema Art Deco di Kota Bandung ., Saryanto
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Bandung is one of the city which have many historical-buildings in Indonesia. Some of them still functioned as they were built and other has changed their function and even nearly vanished. Called as “Paris Van Java” makes Bandung become interesting city to be visited every weekend..This situation which make big change and cause the past popular themes of Bandung architecture reappears in a new faces. Many of Art Deco building being renovated and new building which adopt this theme to various need; office, bank, restaurants and even house. But, unique phenomenon have happened is many of Art Deco is not built up fully adopt method of aesthetics of Art Deco itself. So that many from new building have differences form with this themes. Symmetrical Façade in the early a period of growth of Art Deco era will no longger become references of form. A complex problems of towns and also growth of minimalis design trend, causing many of a new Art Deco façade a-symmetrical appearances today Keywords: Art Deco, Bandung, a-symmetrical Abstrak Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia yang mempunyai banyak bangunan besejarah. Beberapa di antara mereka masih berfungsi seperti pertama dibangun dan lainnya telah berubah fungsi, bahkan sebagian telah mendekati punah. Dijuluki " Paris Van Java" Bandung menjadi kota besar yang menarik untuk dikunjungi tiap-tiap akhir pekan. Situasi ini yang  membuat perubahan yang besar dan menyebabkan tema-tema arsitektur yang pernah popular pada masa lalu di  Bandung  muncul  kembali dalam wajah barunya. Banyak Bangunan Art Deco direnovasi dan bermunculan bangunan baru mengadopsi tema ini untuk; kantor, bank, rumah makan dan ivent rumah. Tetapi, fenomena  unik yang terjadi adalah, banyak dari Bangunan Art Deco tidaklah dibangun secara penuh mengadopsi kaidah estetik Art Deco itu sendiri. Sehingga  banyak dari bangunan baru dengan  tema  ini  mempunyai bentuk yang tidak sama dengan Art Deco.  Façade simetris pada awal masa perkembangan Art Deco  tidak lagi menjadi acuan bentuk.  Kompleksnya  permasalahan kota serta perkembangan trend desain minimalis,  menyebabkan banyak bentuk (tampilan) façade bangunan Art Deco yang baru saat ini menjadi tidak simetris. Kata kunci: Art Deco, Bandung, asimetris
Furniture Bergaya Tradisional Indonesia pada Restoran Kampung Daun Boyke Arief Taufik Firdaus; Sakinat .
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Use of furniture not just seen from side of function requirement or just its usefulness, but rather from that its also attend as one of space component which can become the atmosphere creation expected at the space. Furniture as one of space component, along with other space component designed become one union in the space utilize to reach the space atmosphere expected. Style represent one of determinant appliance in instructing every space component visually in reaching the space atmosphere, so that style union between space and furniture become one of measuring rod in determining according to form, colour, material and construction of every space component. That way the things of furniture design used at restaurant of Kampung Daun of Culture Gallery & Café. The atmosphere expected by attend at this restaurant is Indonesian traditionaly countrified atmosphere, what at one blow become the theme and style which have been determined by since the early concept its development. Hence furniture design which the using of even also shall owning same style, is so that expected can be created that atmosphere. The style of furniture which designed ought to the style of Indonesian traditionaly furniture where used in Indonesian countrified. Keyword: Indonesian Traditional Furniture style, Restaurant of Kampung Daun. Abstrak Penggunaan furnitur tidak hanya sekedar dilihat dari sisi kebutuhan akan fungsi atau kegunaannya saja, tetapi lebih dari itu ia juga hadir sebagai salah satu komponen ruang yang dapat menjadi bagian dalam terciptanya suasana yang diharapkan pada ruang tersebut. Furnitur sebagai salah satu komponen ruang, bersama dengan komponen ruang lainnya didesain menjadi satu kesatuan pada ruang tersebut guna mencapai suasana ruang yang diharapkannya. Gaya atau style merupakan salah satu alat penentu dalam mengarahkan setiap komponen ruang secara visual dalam mencapai suasana tersebut, sehingga kesatuan gaya antara ruang dan furniturnya menjadi salah satu tolok ukur dalam menentukan kesesuaian bentuk, warna, material dan konstruksi pada masing masing komponen ruangnya. Demikian halnya pada desain furnitur yang digunakan pada restoran Kampung Daun Culture Gallery & Café. Suasana yang diharapkan hadir pada restoran ini adalah suasana perkampungan tradisional Indonesia, yang sekaligus menjadi tema dan gaya yang telah ditentukan sejak konsep awal pembangunannya. Maka desain furnitur yang digunakanyapun haruslah yang memiliki gaya yang sama, sehingga diharapkan dapat tercipta suasana tersebut. Gaya furnitur yang didesainnya harusnya gaya furnitur tradisional Indonesia yang digunakan di perkampungan Indonesia. Kata kunci: Furniture Gaya Tradisional Indonesia, Restoran Kampung Daun.
Studi Rancangan Konsep Produk Brassiere Melalui Pendekatan Nilai Emosi Dan Perasaan Menggunakan Kansei Engineering Method Caecilia Sri Wahyuning; Arie Desrianty; Rika Rahmawati
Jurnal Rekarupa Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Complexities of customer needs for buying or using new products ensue the need of customer oriented product designs. Customer’s emotions and feelings give influences in choosing and deciding new products, therefore these should be considered in product design processes. A brassiere is an article of clothing that covers, supports, and elevates breasts. To design the brassiere, a company needs to develop the brassiere concepts that could satisfy the women’s feelings and emotions in deciding to buy or use brassiere. Kansei Engineering is a method for translating feelings and impressions into product parameters that can "measure" feelings and show relationships to certain product properties. As consequences, products might be designed to bring in the intended feelings. The experiments show that six brasseries concepts developments could be implemented in accommodating the market conditions and company capabilities in brassiere productions. Keywords: brassiere, Kansei Engineering, emotional design   Abstrak Dalam pemilihan suatu produk sampai keputusan pembelian, konsumen sesungguhnya dipengaruhi oleh emosi dan perasaan. Ekspresi dari emosi dan perasaan ini akan menimbulkan suatu nuansa, kesan, rasa suka, nyaman ketika konsumen memilih suatu produk (Norman, 2004). Dengan kondisi tersebut mereka akan membeli produk jika merasa senang, nyaman, dan sesuai dengan selera yang diinginkan. Menurut Damasio (1995), aspek emosi dipandang menjadi fokus perhatian yang cukup penting mengingat segala tindakan dan pengambilan keputusan manusia tidak bisa dilepaskan dari aspek emosi. Adanya keterlibatan emosi dan perasaan konsumen dalam pemilihan suatu produk sebaiknya menjadi bahan pertimbangan bagi para perancang ketika akan merancang suatu produk. Konsumen akan memilih suatu produk jika kesan yang ingin dirasakan oleh konsumen ada pada produk tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelusuran terhadap emosi dan perasaan yang ingin dirasakan oleh pengguna terhadap suatu produk, yang pada akhirnya akan diimpelentasikan ke dalam suatu rancangan konsep produk. Breast Holder (Brassiere/ Bra) merupakan salah satu produk yang digunakan oleh seluruh wanita di dunia. Para pengguna produk ini dapat berasal dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari remaja putri sampai dengan wanita lanjut usia. Fungsi utama dari bra adalah sebagai penyangga payudara. Berdasarkan fungsinya yang melindungi bagian sensitif dari wanita, maka kesesuaian emosi dan perasaan yang dirasakan ketika menggunakan produk bra akan sangat mempengaruhi kesan terhadap produk tersebut. Oleh karena itu, dalam perancangan produk bra perlu melibatkan aspek emosi dan perasaan yang ingin dirasakan pengguna, sehingga akan memberikan kepuasan kepada pengguna. Emosi menurut Damasio (1999) adalah antitesis/ kebalikan dari logika. Unsur emosi dalam diri manusia berbeda dengan perasaan. Perasaan menghubungkan aspek-aspek fisik dan berada dalam tataran tingkat kesadaran yang lebih rendah. Terdapat dua macam perasaan/ feeling, yaitu internal feeling dan external feeling. Internal feeling adalah perasaan yang berkaitan dengan masalah fisik, sedangkan external feeling adalah perasaan yang berhubungan dengan aspek sosial. Emosi dipandang jauh lebih subjektif dan lebih kompleks dari pada perasaan. Aspek emosi dipandang menjadi fokus perhatian yang cukup penting mengingat segala tindakan dan pengambilan keputusan manusia tidak bisa dilepaskan dari aspek emosi. Orang-orang sering kali tidak mampu memilih alternatif-alternatif, khususnya pilihan-pilihan yang satu sama lain hampir serupa. Kondisi ini berbeda dengan orang-orang yang memiliki kondisi emosi yang baik. Aspek rasa suka, senang, sering menjadi faktor penentu akhir pengambilan keputusan. Kansei Engineering atau disebut juga Kansei Ergonomics merupakan sebuah metode dari Jepang yang ditemukan lebih dari 30 tahun yang lalu, yaitu sebuah metode yang mempelajari cara/ pola pikir konsumen untuk diterapkan dalam pembuatan suatu produk baru. Kansei Engineering pertama kali diperkenalkan oleh Nagamachi pada tahun 1970-an. Nagamachi sendiri tidak secara spesifik menyebutnya sebagai Kansei Engineering pada saat memperkenalkan konsepnya, tetapi menyebutnya dengan Emotional Engineering. Tumbuhnya konsep Kansei Engineering sendiri tidak terlepas dari konsep perancangan produk yang memperhatikan aspek emosi konsumen. Tidak mengherankan istilah Kansei sebagaimana saat ini banyak didengar orang, pada mulanya dikembangkan berdasarkan konsep emotional design. Emotional design adalah konsep dalam desain yang mempertimbangkan unsur emosi konsumen sebagai pengguna produk. Dalam konsep emotional design, unsur komersialitas bukan hanya menjadi fokus perhatian utama (Norman, 2004). Istilah Kansei berasal dari bahasa Jepang, yang secara umum berarti Psychological feeling or image of product atau gambaran perasaan psikologis terhadap suatu produk. Tujuan dari kajian studi Kansei adalah untuk mengetahui struktur emosi yang hadir dalam perilaku manusia. Struktur ini dikenal dengan Kansei seseorang. Sementara itu, dalam kajian studi desain, Tuntutan konsumen terhadap suatu produk yang semakin kompleks menyebabkan perlunya dilakukan perancangan produk yang berorientasi pada konsumen/ pengguna.  Dalam pemilihan suatu produk sampai keputusan pembelian, konsumen dipengaruhi oleh emosi dan perasaan, sehingga hal ini sebaiknya menjadi bahan pertimbangan bagi para perancang ketika akan merancang suatu produk.  Brassiere, sebagai produk yang digunakan oleh para wanita, memerlukan  rancangan konsep produk bra yang disesuaikan dengan aspek-aspek emosional yang dirasakan penting sehingga dihasilkan suatu rancangan produk brassiere yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kansei Engineering Method merupakan suatu metode yang menggunakan image atau feeling secara psikologis dari pengguna terhadap suatu produk untuk digunakan dalam merancang suatu produk, sehingga dengan menggunakan metoda ini produk brassiere yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan emosional para wanita. Berdasarkan penelitian diperoleh 6 konsep produk brassiere, sehingga dapat digunakan dan diimplementasikan, dengan tetap menyesuaikan terhadap kondisi pasar (trend) yang ada dan keterbatasan yang dimiliki oleh perusahaan dalam proses manufaktur produk brassiere. Kata kunci: brassiere, Kansei Engineering, emotional design

Page 1 of 2 | Total Record : 16