cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ITENAS REKARUPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2018)" : 12 Documents clear
Perspektif Semiotik dan Budaya Populer di Parodi Film Kolosal Iklan Indoeskrim: Kisah Legenda Nusantara Everlin, Shierly
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1360.272 KB)

Abstract

Iklan Indoeskrim berjudul Kisah Legenda Nusantara sebagai objek penelitian dikarenakan mampu menjadi viral dalam berbagai media sosial dan meningkatkan omset penjualan 600% di bulan pertama penjualannya. Iklan ini mengangkat film kolosal Indonesia dengan pelakon utama Brama Kumbara di tahun ’90-an sebagai tema parodinya. Selain itu, iklan ini juga mengilustrasikan penggunaan berbagai perangkat modern di masa lampau. Peneletian ini menggunakan metode paradigma konstruktivisme, teori semiotika Roland Barthes, budaya populer Danesi, dan komunikasi pemasaran Rangkuti untuk menelusuri identitas produk Indoeskrim. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa iklan ini memiliki makna denotasi suasana keluarga kerajaan lengkap dengan kostum kerajaan yang mewah namun sehari-harinya ternyata sering diwarnai dengan pertengkaran antar saudara. Sedangkan makna konotatif yang tercermin dari iklan ini adalah keluarga millenial masa kini di Indonesia namun masih dominan menganut budaya patriarki dan memiliki semangat nasionalisme dengan cara menikmati produk Indoeskrim yang memiliki berbagai varian khas rasa nusantara yang disajikan dengan teknologi yang mutakhir. Sedangkan mitos yang terbentuk dari iklan ini adalah kebanggaan akan budaya Nusantara yang ditunjukkan dengan kebanggaan dalam mengonsumsi produk-produk lokal Indonesia. Penelitian ini juga mengungkapkan bagaimana iklan Indoeskrim merupakan produk budaya populer, menjadi penghibur dengan humor yang segar. Kata kunci: semiotika, parodi, film kolosal, budaya populer, iklan Indoeskrim  ABSTRACTThe Indoeskrim advertisement titled Kisah Legenda Nusantara as an object of research due to being able to become viral in various social media and increasing sales turnover of 600% in the first month of sales. This advertisement raised the Indonesian colossal film with the main actor Brama Kumbara in the '90s as the theme of his parody. In addition, this ad also illustrates the use of various modern devices in the past. This study uses the method of constructivism paradigm, Roland Barthes' semiotics theory, Danesi's popular culture, and Rangkuti marketing communication to trace Indoeskrim's product identity. The results of this study reveal that this advertisement has the meaning of denoting the royal family atmosphere complete with luxurious royal costumes but it turns out that everyday is often colored by fights between siblings. Whereas the connotative meaning reflected in this advertisement is the millennial family of today in Indonesia but still dominantly adhering to patriarchal culture and having a spirit of nationalism by enjoying Indoeskrim products that have a variety of typical variants of the Indonesian flavor presented with cutting-edge technology. Whereas the myth that is formed from this advertisement is pride in the Nusantara culture which is shown by pride in consuming Indonesian local products. This research also reveals how Indoeskrim's advertising is a product of popular culture, being an entertainer with fresh humor.Keywords: semiotics, parodiy, colossal films, popular culture, Indoeskrim ads
Kajian Faktor-faktor Pembentuk Lingkungan Kerja pada Desain Interior Coworking Space di Kota Bandung Maemanah, Shafira; Larasati, Dwinita; Adhitama, G. Prasetyo
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.866 KB)

Abstract

Coworking space pada dasarnya merupakan tempat kerja bersama bagi para profesional yang bekerja mandiri namun membutuhkan interaksi sosial. Tempat ini berkembang luas secara global, termasuk di Indonesia. Di Kota Bandung jumlah coworking space terus bertambah, namun setelah ditinjau ulang, beberapa tempat tutup atau sepi pengunjung. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya pengembangan coworking space dari segi kenyamanan pengguna saat bekerja di dalamnya. Faktor-faktor yang diteliti adalah pengaturan spasial, jenis furnitur, kebisingan, penghawaan yang mempengaruhi temperatur, pencahayaan, dan suasana yang dihadirkan dari tampilan visualnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan memberikan saran pengembangan desain interior yang dapat diterapkan di Kota Bandung. Sampel yang diambil adalah 3 tempat dengan pemilihan nonprobabilitas. Metode penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan melakukan observasi di masing-masing tempat dan wawancara pengguna untuk mengetahui persepsinya sebagai data pendukung. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa faktor pembentuk lingkungan kerja belum diterapkan secara optimal untuk kenyaman penggunanya.Kata kunci: desain interior, lingkungan kerja, coworking space, bandungAbstractCoworking space is basically a shared workplace for professionals who work independently but require social interaction. This place is growing globally, including in Indonesia. In the city of Bandung,the number of coworking space continues to grow, but after pre-field research, some places closed or have quiet visitors. This research is conducted as an effort to develop coworking space in terms of user's comfort while working in it. Factors studied are spatial arrangement, type of furniture, noise, air circulation that affect temperature, lighting, and atmosphere presented from visual appearance. The purpose of this research is to review and provide suggestions for interior design development that can be applied in Bandung. Three places were taken as samples with non-probability selection. This research method is done qualitatively by doing observation in each place and user interview to know perception as supporting data. The results show that some of the factors that form the working environment have not been optimally applied for user’s convenience.Keywords: interior design, working environment, coworking space, bandung
Hasil Uji Beda Warna Bahan Alami Sebagai Salah Satu Alternatif Pewarnaan pada Bahan Kain Batik ., Purwanto
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.553 KB)

Abstract

Pemanfaatan bahan pewarna sintetis pada kain pembuatan batik saat ini memang sudah banyak digunakan karena proses pengerjaan lebih mudah dan tidak memakan waktu serta warna yang dihasilkan lebih cerah dan bervariasi, namun dengan pemakaian bahan pewarna sintetis ini juga menimbulkan efek samping yang bisa mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan. Untuk itu saat ini sudah banyak yang memulai menggunakan pewarna alami dalam pembuatan batik. Salah satu hal penting adalah “masalah lingkungan” sehingga pewarna alami dalam pembuatan batik mulai banyak dilakukan, ada lebih dari 150 jenis tanaman yang bisa menghasilkan warna alami diantaranya daun tom/indigofera (Indigoferaferafera Sp.), kulit buah jalawe (Terminaliabellirica) dan kulit kayu tingi (Ceriops tagal). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui beda warna hasil pewarna alami dari fermentasi daun indigofera, ekstraksi dari kulit buah jalawe dan kulit kayu tingi untuk bahan pewarnaan pada kain batik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan proses fermentasi dan ekstraksi bahan alami tersebut, kemudian dilakukan proses  fiksasi (penguncian warna). Hasil penelitian menunjukan bahwa bahan alami indigofera, jalawe dan tingi apabila difiksasi menggunakan tawas akan menghasilkan warna ke arah cerah atau warna muda, sedangkan fiksasi dengan kapur warna akan berubah agak tua dari warna asalnya.  Kata kunci :  batik, fiksasi, pewarnaan alami ABSTRACTThe use of synthetic coloring materials on batik making cloth is now widely used because the process of processing is easier and does not take time and the resulting color is brighter and varied, but with the use of synthetic coloring materials also cause side effects that can pollute the environment and interfere with health . One of the important things is "environmental problems" so that many natural dyes in batik making are starting to be done, there are more than 150 types of plants that can produce natural colors including tom / indigofera leaves (Indigoferaferafera Sp.), Jalawe fruit skin (Terminaliabellirica) and bark high (Ceriops tagal). The purpose of the study was to determine the color differences of natural coloring results from indigofera leaf fermentation, extraction from jalawe fruit peel and high bark for coloring material on batik cloth. The method used in this study is the fermentation and extraction process of natural materials, then the fixation process. The results showed that the natural ingredients of indigofera, jalawe and high when fixed using alum will produce a bright or light color, while fixation with lime color will change a little older than the original color. Then fixation with chalk will lead to older or darker colors.  Keywords : batik, fixation, natural coloring
Pemanfaatan Kantong Semen dan Kayu Laser Sebagai Produk Tas untuk Meningkatkan Kreatifitas dan Nilai Jual di UKM Viora Tanggulangin, Sidoarjo Anam, Choirul; Nugraha, Larasadi Harya; Rochman, Alfan Nur
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.887 KB)

Abstract

Penelitian ini mengidentifikasi pemanfatan kantong semen dalam proses pembuatan produk tas oleh UKM Viora Tanggulangin Sidoarjo dalam meningkatkan nilai jual melalui inovasi desain dan konsep yang kreatif. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen desain dengan mengidentifikasi karakteristik kantong semen serta mengkombinasikan dengan material lainnya yaitu kayu yang dibentuk dan dipola dengan teknik laser potong dan grafir. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kantong semen dan kayu dapat dimanfaatkan sebagai produk tas yang kreatif dan inovatif sehingga menjadi produk tas unik yang ramah lingkungan melalui teknik lapisan. Hasil lebih lanjut menunjukkan bahwa kayu dapat ditekuk dengan teknik tertentu dan menjadi kombinasi yang cocok dengan kantong semen. Eksperimen lanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana dan seperti apa perlakuan terhadap kantong semen agar menjadi material yang berpotensi tidak hanya menjadi produk tas akan tetapi menjadi produk fashion lainnya yang memiliki nilai jual yang tinggi  Kata Kunci : Pemanfaatan, Kantong Semen, Produk Tas  ABSTRACTThis research is held to identify usability value of cement sack in process to produce bags and to identify problems that UKM Viora Tanggulangin , Sidoarjo has to face in order to increase selling value through design innovation and creative concept. This research used experiment design method which is identifying character of cement sack and combine it with wood that formed and pattern made with laser cutting and engraving technique. The results from this research shows that cement sack and wood can be used into bag products so it can become environmentally friendly unique bags through finishing coating. Further research shows that wood which usually has hard characteristic could be bend with certain technique and become suitable material that can be combined with cement sack. Further experiment needs to be done in order to finds out how and what treatments toward cement sack to be stronger material that have potential not only to become bag but also another high valued fashion products. Keywords: Utilization, Cement sack, Bag Product
Konfluen Budaya pada Gaya Visual Ilustrasi Naskah Sajarah Banten Ramadina, Savitri Putri; Piliang, Yasraf Amir; Damayanti, Nuning Yanti
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.218 KB)

Abstract

Masa Revolusi Industri pada abad ke-18 menyebabkan tumbuhnya lingkungan urban yang terdiri dari berbagai tipe kelompok masyarakat yang saling berinteraksi menjadi kelas-kelas dan kelompok sosial baru. Budaya kelompok baru tersebut selanjutnya membentuk ikatan yang pelik antar berbagai pola pemikiran yang tidak lagi dapat dikatakan ‘turun-temurun’, yang diistilahkan Ulf Hannerz sebagai cultural confluences atau “pertemuan/konfluen budaya”. Pemilihan kata ‘confluence’ merujuk pada sesuatu yang bersifat cair, mengalir dan bercampur, mengisyaratkan bahwa budaya bukan lagi merupakan tradisi yang kaku. Penelitian ini untuk menelaah sejarah fenomena konfluen budaya dalam perkembangan budaya visual Indonesia melalui sampel ilustrasi naskah Sajarah Banten yang dibuat pada abad ke-18 dengan menerapkan metode analisis wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya estetik yang diterapkan pada ilustrasi tersebut menunjukkan bentuk adaptasi dari gaya tradisional Indonesia dengan gaya luar seperti Barat dan Timur Tengah. Kata kunci:  gaya visual, ilustrasi, konfluen budaya.ABSTRACTThe Industrial Revolution during the 18th century caused the emergence of urban environment consisted of various community types which interacted and turned into new social classes and groups. The culture of those new communities thus shaped some complex bonds of thought patterns which cannot be called ‘hereditary’ anymore, termed by Ulf Hannerz as cultural confluences. The usage of term ‘confluence’ refers to something fluid, flowing, and mixing, as a hint that culture is not a rigid tradition anymore. This research aims to analyse the history of cultural confluences in the development of Indonesia’s visual culture through sampling of Sajarah Banten manuscript’s illustrations made in 18th by using discourse analysis method. The result shows that the aesthetic style used in the illustrations shows adaptations from Indonesia’s traditional style with external influences like from the West or Middle East. In other words, cultural confluences had existed even before the Digital Revolution 4.0 in Indonesia and it is not a threat, instead it can expands the visual vocabularies of Indonesia.Keywords: cultural confluences, illustration, visual style.
Pemodelan Estetika Motif Ulos Ragi Hotang Batak Toba Sebagai Aplikasi Media Dekoratif Marpaung, Jhon Viter; Nur, Syurya Muhammad
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.797 KB)

Abstract

Ulos merupakan ciri khas hasil kebudayaan dari Sumatra utara. Salah satunya ulos Ragi Hotang yang dipakai pada saat pernikahan adat Batak Toba, perkembangan penerapan motif pun kian berkembang terhadap berbagai elemen media produk seperti pada aplikasi interior bahkan berkembang juga pada media fashion. Tujuan penelitian ini adalah penerapan motif ulos Ragi Hotang Batak Toba pada dekorasi panel dan juga sebagai sarana pelestarian kebudayaan Ulos Batak Toba yang menampilkan kesan etnik citra budaya sebagai kekuatan simbolik dan makna yang terkandung dari Ulos tersebut. Metode kualitatif yang digunakan dalam instrument penelitian ini dengan pendekatan secara fenomelogis dan ilmu  perancangan produk, dengan  teknik stilasi transformasi penyederhanaan bentuk, yang diawali proses brainstorming ideas, Developing, sampai proses mockup sample model sebagi realisasi produk yang dihasilkan dalan penerapan motif Ulos Ragi Hotang Batak Toba kedalam media dekoratif. Kata kunci: Penerapan motif, Motif ulos Ragi Hotang, Batak Toba, Dekoratif. ABSTRACTUlos is a hallmark of cultural results from northern Sumatra. One of them is the Ragi Hotang ulos that was used during the Batak Toba traditional wedding, the development of the application of motives is increasingly developing towards various media elements of products such as in interior applications and even developing in fashion media. The purpose of this study is the application of ulang Ragi Hotang Batak Toba motif on panel decoration and also as a means of preserving the Toba Batak Ulos culture that displays the ethnic impression of cultural image as the symbolic power and meaning contained in Ulos. The qualitative method used in this research instrument is a phenomelogical approach and product design science, with the stylization of simplification form transformation technique, which begins with the brainstorming ideas, developing, until the sample model mockup process is the realization of products produced in the application of Ulos Ragi Hotang Batak Toba motif into decorative media. Keywords: Application of Motif,  Ulos Ragi Hotang , Batak Toba, Decorative Media.
Pemodelan Estetika Motif Ulos Ragi Hotang Batak Toba Sebagai Aplikasi Media Dekoratif Jhon Viter Marpaung; Syurya Muhammad Nur
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulos merupakan ciri khas hasil kebudayaan dari Sumatra utara. Salah satunya ulos Ragi Hotang yang dipakai pada saat pernikahan adat Batak Toba, perkembangan penerapan motif pun kian berkembang terhadap berbagai elemen media produk seperti pada aplikasi interior bahkan berkembang juga pada media fashion. Tujuan penelitian ini adalah penerapan motif ulos Ragi Hotang Batak Toba pada dekorasi panel dan juga sebagai sarana pelestarian kebudayaan Ulos Batak Toba yang menampilkan kesan etnik citra budaya sebagai kekuatan simbolik dan makna yang terkandung dari Ulos tersebut. Metode kualitatif yang digunakan dalam instrument penelitian ini dengan pendekatan secara fenomelogis dan ilmu  perancangan produk, dengan  teknik stilasi transformasi penyederhanaan bentuk, yang diawali proses brainstorming ideas, Developing, sampai proses mockup sample model sebagi realisasi produk yang dihasilkan dalan penerapan motif Ulos Ragi Hotang Batak Toba kedalam media dekoratif. Kata kunci: Penerapan motif, Motif ulos Ragi Hotang, Batak Toba, Dekoratif. ABSTRACTUlos is a hallmark of cultural results from northern Sumatra. One of them is the Ragi Hotang ulos that was used during the Batak Toba traditional wedding, the development of the application of motives is increasingly developing towards various media elements of products such as in interior applications and even developing in fashion media. The purpose of this study is the application of ulang Ragi Hotang Batak Toba motif on panel decoration and also as a means of preserving the Toba Batak Ulos culture that displays the ethnic impression of cultural image as the symbolic power and meaning contained in Ulos. The qualitative method used in this research instrument is a phenomelogical approach and product design science, with the stylization of simplification form transformation technique, which begins with the brainstorming ideas, developing, until the sample model mockup process is the realization of products produced in the application of Ulos Ragi Hotang Batak Toba motif into decorative media. Keywords: Application of Motif,  Ulos Ragi Hotang , Batak Toba, Decorative Media.
Perspektif Semiotik dan Budaya Populer di Parodi Film Kolosal Iklan Indoeskrim: Kisah Legenda Nusantara Shierly Everlin
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iklan Indoeskrim berjudul Kisah Legenda Nusantara sebagai objek penelitian dikarenakan mampu menjadi viral dalam berbagai media sosial dan meningkatkan omset penjualan 600% di bulan pertama penjualannya. Iklan ini mengangkat film kolosal Indonesia dengan pelakon utama Brama Kumbara di tahun ’90-an sebagai tema parodinya. Selain itu, iklan ini juga mengilustrasikan penggunaan berbagai perangkat modern di masa lampau. Peneletian ini menggunakan metode paradigma konstruktivisme, teori semiotika Roland Barthes, budaya populer Danesi, dan komunikasi pemasaran Rangkuti untuk menelusuri identitas produk Indoeskrim. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa iklan ini memiliki makna denotasi suasana keluarga kerajaan lengkap dengan kostum kerajaan yang mewah namun sehari-harinya ternyata sering diwarnai dengan pertengkaran antar saudara. Sedangkan makna konotatif yang tercermin dari iklan ini adalah keluarga millenial masa kini di Indonesia namun masih dominan menganut budaya patriarki dan memiliki semangat nasionalisme dengan cara menikmati produk Indoeskrim yang memiliki berbagai varian khas rasa nusantara yang disajikan dengan teknologi yang mutakhir. Sedangkan mitos yang terbentuk dari iklan ini adalah kebanggaan akan budaya Nusantara yang ditunjukkan dengan kebanggaan dalam mengonsumsi produk-produk lokal Indonesia. Penelitian ini juga mengungkapkan bagaimana iklan Indoeskrim merupakan produk budaya populer, menjadi penghibur dengan humor yang segar. Kata kunci: semiotika, parodi, film kolosal, budaya populer, iklan Indoeskrim  ABSTRACTThe Indoeskrim advertisement titled Kisah Legenda Nusantara as an object of research due to being able to become viral in various social media and increasing sales turnover of 600% in the first month of sales. This advertisement raised the Indonesian colossal film with the main actor Brama Kumbara in the '90s as the theme of his parody. In addition, this ad also illustrates the use of various modern devices in the past. This study uses the method of constructivism paradigm, Roland Barthes' semiotics theory, Danesi's popular culture, and Rangkuti marketing communication to trace Indoeskrim's product identity. The results of this study reveal that this advertisement has the meaning of denoting the royal family atmosphere complete with luxurious royal costumes but it turns out that everyday is often colored by fights between siblings. Whereas the connotative meaning reflected in this advertisement is the millennial family of today in Indonesia but still dominantly adhering to patriarchal culture and having a spirit of nationalism by enjoying Indoeskrim products that have a variety of typical variants of the Indonesian flavor presented with cutting-edge technology. Whereas the myth that is formed from this advertisement is pride in the Nusantara culture which is shown by pride in consuming Indonesian local products. This research also reveals how Indoeskrim's advertising is a product of popular culture, being an entertainer with fresh humor.Keywords: semiotics, parodiy, colossal films, popular culture, Indoeskrim ads
Kajian Faktor-faktor Pembentuk Lingkungan Kerja pada Desain Interior Coworking Space di Kota Bandung Shafira Maemanah; Dwinita Larasati; G. Prasetyo Adhitama
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coworking space pada dasarnya merupakan tempat kerja bersama bagi para profesional yang bekerja mandiri namun membutuhkan interaksi sosial. Tempat ini berkembang luas secara global, termasuk di Indonesia. Di Kota Bandung jumlah coworking space terus bertambah, namun setelah ditinjau ulang, beberapa tempat tutup atau sepi pengunjung. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya pengembangan coworking space dari segi kenyamanan pengguna saat bekerja di dalamnya. Faktor-faktor yang diteliti adalah pengaturan spasial, jenis furnitur, kebisingan, penghawaan yang mempengaruhi temperatur, pencahayaan, dan suasana yang dihadirkan dari tampilan visualnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan memberikan saran pengembangan desain interior yang dapat diterapkan di Kota Bandung. Sampel yang diambil adalah 3 tempat dengan pemilihan nonprobabilitas. Metode penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan melakukan observasi di masing-masing tempat dan wawancara pengguna untuk mengetahui persepsinya sebagai data pendukung. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa faktor pembentuk lingkungan kerja belum diterapkan secara optimal untuk kenyaman penggunanya.Kata kunci: desain interior, lingkungan kerja, coworking space, bandungAbstractCoworking space is basically a shared workplace for professionals who work independently but require social interaction. This place is growing globally, including in Indonesia. In the city of Bandung,the number of coworking space continues to grow, but after pre-field research, some places closed or have quiet visitors. This research is conducted as an effort to develop coworking space in terms of user's comfort while working in it. Factors studied are spatial arrangement, type of furniture, noise, air circulation that affect temperature, lighting, and atmosphere presented from visual appearance. The purpose of this research is to review and provide suggestions for interior design development that can be applied in Bandung. Three places were taken as samples with non-probability selection. This research method is done qualitatively by doing observation in each place and user interview to know perception as supporting data. The results show that some of the factors that form the working environment have not been optimally applied for user’s convenience.Keywords: interior design, working environment, coworking space, bandung
Hasil Uji Beda Warna Bahan Alami Sebagai Salah Satu Alternatif Pewarnaan pada Bahan Kain Batik Purwanto .
Jurnal Rekarupa Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : FSRD ITENAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan bahan pewarna sintetis pada kain pembuatan batik saat ini memang sudah banyak digunakan karena proses pengerjaan lebih mudah dan tidak memakan waktu serta warna yang dihasilkan lebih cerah dan bervariasi, namun dengan pemakaian bahan pewarna sintetis ini juga menimbulkan efek samping yang bisa mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan. Untuk itu saat ini sudah banyak yang memulai menggunakan pewarna alami dalam pembuatan batik. Salah satu hal penting adalah “masalah lingkungan” sehingga pewarna alami dalam pembuatan batik mulai banyak dilakukan, ada lebih dari 150 jenis tanaman yang bisa menghasilkan warna alami diantaranya daun tom/indigofera (Indigoferaferafera Sp.), kulit buah jalawe (Terminaliabellirica) dan kulit kayu tingi (Ceriops tagal). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui beda warna hasil pewarna alami dari fermentasi daun indigofera, ekstraksi dari kulit buah jalawe dan kulit kayu tingi untuk bahan pewarnaan pada kain batik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan proses fermentasi dan ekstraksi bahan alami tersebut, kemudian dilakukan proses  fiksasi (penguncian warna). Hasil penelitian menunjukan bahwa bahan alami indigofera, jalawe dan tingi apabila difiksasi menggunakan tawas akan menghasilkan warna ke arah cerah atau warna muda, sedangkan fiksasi dengan kapur warna akan berubah agak tua dari warna asalnya.  Kata kunci :  batik, fiksasi, pewarnaan alami ABSTRACTThe use of synthetic coloring materials on batik making cloth is now widely used because the process of processing is easier and does not take time and the resulting color is brighter and varied, but with the use of synthetic coloring materials also cause side effects that can pollute the environment and interfere with health . One of the important things is "environmental problems" so that many natural dyes in batik making are starting to be done, there are more than 150 types of plants that can produce natural colors including tom / indigofera leaves (Indigoferaferafera Sp.), Jalawe fruit skin (Terminaliabellirica) and bark high (Ceriops tagal). The purpose of the study was to determine the color differences of natural coloring results from indigofera leaf fermentation, extraction from jalawe fruit peel and high bark for coloring material on batik cloth. The method used in this study is the fermentation and extraction process of natural materials, then the fixation process. The results showed that the natural ingredients of indigofera, jalawe and high when fixed using alum will produce a bright or light color, while fixation with lime color will change a little older than the original color. Then fixation with chalk will lead to older or darker colors.  Keywords : batik, fixation, natural coloring

Page 1 of 2 | Total Record : 12