cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA ELKOMIKA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 96 Documents
Pengendalian Suhu Berbasis Mikrokontroler Pada Ruang Penetas Telur FADHILA, ERWIN; RACHMAT, HENDI
REKA ELKOMIKA Vol 2, No 4 (2014)
Publisher : REKA ELKOMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1313.233 KB)

Abstract

Abstrak Sistem pengendalian suhu dirancang untuk dapat mengatur dan menjaga suhu pada ruang penetas telur. Sistem ini digunakan untuk meningkatkan produktifitas penetasan telur di peternakan unggas. Pengendali suhu berbasis mikrokontroler ATMega16 berfungsi untuk mengukur nilai suhu di dalam ruangan, mengaktifkan dan mematikan elemen pemanas melalui rangkaian relay serta memproses input suhu dari push button agar sesuai dengan yang diharapkan oleh pengguna. Pada sistem ini digunakan sensor suhu LM35 dan elemen pemanas berupa lampu bohlam 5Watt/220Vac. Suhu yang diukur sensor dan suhu yang diinputkan melalui push button ditampilkan pada layar LCD. Hasil pengujian menunjukkan bahwa suhu yang ditimbulkan oleh elemen pemanas dalam ruang penetas telur dapat terukur dan terkontrol oleh sensor suhu dan sistem mikrokontroler dengan rentang suhu dari 29,50C hingga 470C dan rata-rata faktor skala 10,05 mV/0C.  Suhu dalam ruangan dan tegangan yang terukur memiliki hubungan yang relatif linier yaitu R2=0,93. Kata kunci: ruang penetas telur, mikrokontroler, sensor LM35, kendali suhu.     Abstract A temperature control system was designed to regulate and to maintain the temperature in an egg incubator. This system was aimed to improve a hatching eggs productivity in a poultry farm. The ATMega microcontroller based temperature controller was used to measure the incubator temperature, to turn on and turn off a heater element via the relay circuit as well as to execute the temperature setting which was entered by user through an input button. The temperature sensor of LM 35 and the heater element of light bulb (5W/220Vac) were used in this system. The measured temperature and the setting temperature were displayed on a LCD screen. The results showed that the temperature which was generated by the heater element in the incubator could be measured and controlled by the system with temperature range from 29.50C to  470C and scale factor of 10.05 mV/0C. The temperature in the incubator and the measured temperature had a good correlation of R2=0.93. Keywords: egg incubator , microcontroller , sensors LM35, temperature control
Studi Gangguan Hubung Tanah Stator Generator Menggunakan Metoda Harmonik Ketiga di PT. Indonesia Power UP. Saguling WALUYO, WALUYO; SEPGIANTO, GARY ANDRI; SAODAH, SITI
REKA ELKOMIKA Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : REKA ELKOMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1458.013 KB)

Abstract

ABSTRAK Generator sinkron merupakan peralatan yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Keandalan fungsi generator sangat penting, sehingga  perlu diproteksi untuk mencegah terjadinya kerusakan dari gangguan yang tidak diinginkan yaitu hubung singkat satu fasa ke tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh besar perubahan tegangan harmonik ketiga saat terjadi gangguan hubung tanah stator. Untuk menentukan karakteristik harmonik ketiga, maka perhitungan dilakukan pada dua kondisi yaitu kondisi normal dan gangguan. Metode harmonik ketiga pada kondisi gangguan menggunakan tiga skema. Saat skema tegangan kurang besaran tegangan harmonik ketiga adalah sebesar 35-40 Volt. Saat skema tegangan lebih maka besaran tegangan harmonik ketiga adalah sebesar 130-135 Volt. Saat skema rasio tegangan, rasio V3t terhadap V3n, maka saat kondisi normal adalah 0,81, dimana daerah yang terlindungi pada skema ini sebesar 60% dari netral generator. Kata kunci : generator, gangguan hubung tanah stator, harmonik ketiga, skema harmonik ketiga ABSTRACT Synchronous generator is a device that converts mechanical energy into electrical energy. Reliability function generator is very important, so that a protection to prevent damage from unwanted interference, ie one phase short circuit to ground, is necessary. The purpose of study was to obtain third harmonic voltage magnitude changes during disturbances of stator ground fault. To determine third harmonic characteristic, a computation was performed on two conditions, namely normal and fault conditions. The third harmonic method, under fault conditions, used three schemes. When it was under voltage scheme, the third harmonic voltages were 35-40 Volts. When it was the third harmonic over voltage scheme, the magnitudes were 130-135 Volts. When the voltage ratio scheme, the ratio of the current V3t to V3n, so that the normal condition was 0.81, where the protected area in this scheme was 60% of the generator neutral. Keywords: generator, stator ground fault, the third harmonik, the third harmonik scheme
Perancangan, Realisasi, dan Pengujian Antena Helik Mode Axial pada Access Point Wireless-G 2,4 GHz Broadband Linksys ARSYAD, AHMAD; ARYANTA, DWI; DARLIS, ARSYAD RAMADHAN
REKA ELKOMIKA Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : REKA ELKOMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.377 KB)

Abstract

ABSTRAK Saat ini kebutuhan komunikasi data terus meningkat, dimana mereka kebanyakan menggunakan perangkat access point yang memiliki jangkauan pancaran terbatas karena pola radiasi omnidirectional, sehingga diperlukan antena yang mempunyai pola radiasi directional untuk jangkauan pancaran user yang diam, dimana gain lebih besar dan jangkauan pancaran lebih jauh. Antena helik merupakan salah satu yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah ini. Dengan merancang dimensi antena helik seperti perhitungan panjang gelombang (λo), diameter (D), keliling (C), jarak antar putaran (Sλ), panjang kawat tembaga (Ltotal), panjang antena (A), pentanahan (a), dan impedansi (Zo), maka dapat direalisasikan dan dilakukan pengujian antena helik yang diaplikasikan terhadap antena access point yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz. Dengan demikian, berdasarkan hasil rancangan diperoleh level kuat medan dengan rata-rata peningkatan penguatan antena helik terhadap antena access point sebesar 14,2 dB. Selain itu juga diperoleh gain antena helik 16,7 dBi, beamwidth vertikal 570 dan horizontal 620, dan bandwidth antena 360 MHz, berdasarkan hasil pengukuran menggunakan spectrum analyzer dan pengujian menggunakan suatu software. Kata kunci : Access point, antena helik, omnidirectional, directional. ABSTRACT Data communication development, currently, mostly use the access point device that has a limited transmit range, because it has omnidirectional radiation pattern. Thus, it requires an antenna that has a directional radiation pattern for reach silent users (office area), which has large gain and reaches a far distance. Helik antenna is one of antennas that can be used to overcome this problem. By design of helik antenna dimension, such as wavelength calculations (λo), diameter (D), roving (C), distance between rounds (Sλ), length of copper wire (Ltotal), antenna length (A), ground (a), and impedance (Zo), it could be implemented as well as helik antenna tests those applied to access point antenna which worked at 2.4 GHz frequency. Based on the design of the field strength level, it was obtained an average increasing gain to the access point helik antenna as big as 14.2 dB. It also acquired the helik antenna gain as 16.7 dBi, 570 vertical beamwidth, 620 horizontal beamwidth, and 360 MHz antenna bandwidth, based on the result of measurement using a spectrum analyzer and testing using a software. Kata kunci : Access point, antenna helik, omnidirectional, directional.
Implementasi Sistem Komunikasi Video menggunakan Visible Light Communication (VLC) DARLIS, ARSYAD RAMADHAN; LIDYAWATI, LITA; JAMBOLA, LUCIA; WULANDARI, NURUL
REKA ELKOMIKA Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : REKA ELKOMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.09 KB)

Abstract

ABSTRAK Visible Light Communication (VLC) adalah sebuah sistem komunikasi yang memanfaatkan cahaya tampak sebagai media dalam komunikasi antar perangkat. Pada penelitian ini,  teknologi Visible Light Communication (VLC) dalam sistem komunikasi yang akan diimplementasikan ini informasi yang akan dikirim  berupa video. Metodologi penelitian yang digunakan dengan cara mentransformasikan Informasi digital  menjadi sinyal analog oleh modulator, kemudian diubah menjadi cahaya oleh lampu sehingga cahaya lampu mengandung informasi. Selanjutnya cahaya tersebut diterima oleh photodiode yang akan mengubah menjadi sinyal listrik. Sinyal listrik yang berupa sinyal analog tersebut diubah kembali menjadi informasi digital kembali oleh demodulator setelah sebelumnya dikuatkan terlebih dahulu. Dengan adanya penelitian ini, manusia dapat berkomunikasi atau bertukar informasi hanya dengan cahaya lampu. LED dapat mengirimkan sebuah informasi berupa video (gambar bergerak) yang akan diterjemahkan kembali oleh photodiode. Pada penelitian ini hasil gambar video yang tampak pada monitor yang dikirim melalui transmitter dengan menggunakan LED belum sempurna, hal ini disebabkan oleh faktor pemilihan LED dan photodiode yang belum sesuai untuk mengirimkan data sepenuhnya. Gain pada sistem transceiver memiliki rata-rata sebesar 7,78 dB. Dengan rata-rata faktor delay pembacaan frekuensi sebesar 17,49 µs. Kata Kunci : LED, Transceiver, Video, Cahaya Tampak ABSTRACT Visible Light Communication (VLC) is a communication system that utilizes visible light as a medium of communication between devices. In this study, technological Visible Light Communication (VLC) in a communication system that will be implemented this information to be sent in the form of video. The research methodology used to transforming the way digital information into an analog signal by the modulator, then converted into light by the light bulbs so that the information it contains. Furthermore, the light received by the photodiode which will convert it into electrical signals. Electrical signal in the form of analog signals are converted back into digital information returned by the demodulator after previously strengthened first. Given this research, humans can communicate or exchange information only with light. LEDs can transmit information in the form of a video (moving pictures) that will be translated back by a photodiode. In this study the results of video images that appear on the monitor that is sent through the transmitter by using LED is not perfect, this is caused by a factor in choosing the LED and photodiode are not suitable to transmit the data completely. Gain on transceiver system has an average of 7.78 dB. With an average delay factor frequency of 17.49 µs. Keywords: LED, Transceiver, Video, Visible Light
PERANCANGAN DAN REALISASI LISTRIK WIRELESS MENGGUNAKAN RESONANT COUPLING MAGNETIC RAMDHANI, RAMDHANI; WALUYO, WALUYO; SAODAH, SITI
REKA ELKOMIKA Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : REKA ELKOMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.014 KB)

Abstract

ABSTRAK   Transfer energi listrik dapat dilakukan dengan metoda resonansi, yaitu dengan menyamakan frekuensi pada sisi pengirim (transmitter) dengan sisi penerima (receiver). Frekuensi yang digunakan adalah 22 khz yang dihasilkan pada rangkaian inverter setengah gelombang dengan tegangan output 100 Vac, dihubungkan dengan kapasitor dan kumparan pengirim. Pada listrik wireless ini dilakukan tiga kali percobaan yaitu kumparan pada 50 lilitan, 30 lilitan dan 20 lilitan. Ini dilakukan untuk mengetahui besar impedansi yang dihasilkan, yang berpengaruh untuk transfer energi listrik. Untuk kumparan optimalnya adalah 20 lilitan, Karena pada 30 dan 50 lilitan impedansi yang dihasilkan lebih besar dari pada 20 lilitan. Jarak transfer maksimal dari kumparan pengirim (transmitter) kepada kumparan penerima (receiver) adalah 25 cm dengan tegangan 6,32 Vac dan jarak minimal adalah sebesar 10 cm dengan tegangan 15,6 Vac. Ini membutikan jika jarak semakin jauh maka tegangan semakin kecil dan daya pancarnya semakin kecil dan jika jaraknya semakin dekat  maka tegangan semakin besar. Kata kunci: induksi, wireless, jarak ABSTRACT Electricity Energy Transfer can be done with the method resonansi, that is with frequency on the sender side equalize (transmitter) with a side of receiver (receiver). The frequency used is 22 khz resulting in a series of half-wave voltage inverter with 100 Vac, output is connected to the capacitor and the coil is the sender. Wireless electricity is conducted at three times the experiment is at 50 coil, 30 coil and 20 coil. This is done to know the large impedance is produced, the influential for the transfer of electrical energy. For optimal coil is a coil 20, because at 30 and 50 coil impedance resulting is greater than 20 coils.Transfer maximum distance of the coil the sender (transmitter) to coil the recipient (receiver) is 25 cm to voltage 6,32 Vac and a minimum distance is as much as 10 cm to voltage 15,6 Vac. This proves that if the far distance then the smaller voltage and if the distance getting closer voltage so thet the emissitivity is getting better. Keywords: induction, wireless, distance
Analisis Penalaan Rele Jarak sebagai Proteksi Utama pada Saluran Udara Tegangan Tinggi 150 kV Bandung Selatan – Cigereleng SUDRAJAT, RHAMANDITA; SAODAH, SITI; WALUYO, WALUYO
REKA ELKOMIKA Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : REKA ELKOMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1332.98 KB)

Abstract

Abstrak Transmisi daya listrik menggunakan saluran udara tegangan tinggi, Saluran tersebut sangat rentan terhadap gangguan karena jarak yang sangat jauh. Oleh karena itu, dibutuhkan kehandalan sistem proteksi yang tinggi untuk mengamankan saluran udara tersebut. Untuk memenuhi kehandalan dari sistem proteksi, maka perlu dilakukan penalaan rele jarak, Dalam kasus penelitian ini, diambil saluran transmisi yang menghubungkan gardu induk Bandung Selatan – Cigereleng. Dalam penalaan rele jarak tersebut dibagi ke dalam tiga Zona proteksi.  Dari hasil perhitungan, penalaan rele jarak untuk Zone 1 sebesar 0,205 ∠69,39o Ohm dengan waktu operasi trip 0 detik, Zone 2 sebesar  1,201 ∠70,76o Ohm dengan waktu operasi trip 0,4 detik, dan Zone 3 sebesar  2,175 ∠70,804o Ohm dengan waktu operasi trip 1,6 detik.   Kata kunci: Rele Jarak,Zona Proteksi,Saluran Transmisi,Sistem Proteksi. Abstract Electrical power transmission’s use overhead lines high voltage , The overhead lines are very vulnerable to disturbance because of long distances. It is needed realiability protection system to serves the protection of overhead high voltage. To meet the reliability of protection system, it is necessarsary it setting lines the distance relay for transmission lines. In this research sampel, it was the transmission line that  Connecting the substation Bandung selatan – Cigareleng. the setting of distance relay, it divided into three zones of protection. Wore done the result of calculation, the distance relay setting for Zone 1 was 0.205 ∠ 69.39o Ohm with the trip operating time 0 seconds, Zone 2 was 1.201 ohm ∠ 70.76o with trip operation time of o.4 seconds , and Zone 3 was 70.804 ∠ 2.175o Ohm with trip operating time of 1.6 seconds.   Keywords: Distance Relay,Zone Protection,Transmission Line,Protection System.
Studi Analisis Daya Pembangkit Listrik Biogas Dari Kotoran Sapi dan Manusia Di Pondok Pesantren Baiturrahman Jawa Barat ARNANDO, RIKI; SYAHRIAL, SYAHRIAL; WALUYO, WALUYO
REKA ELKOMIKA Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : REKA ELKOMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1128.632 KB)

Abstract

ABSTRAK Indonesia kaya dalam berbagai jenis energi baik berbasis fosil atau non fosil. Tentulah sangat tidak bijaksana apabilah hanya menggunakan bahan bakar fosil saja, karena bahkan cadangan energi fosil nasional terbatas dan secara bertahap akan habis. Dengan demikian studi analisis daya yang dibangkitkan dari pembangkit biogas diperlukan untuk keperluan pengembangan energi nasional. Proses studi analisis daya yang dilakukan adalah dengan memasang flow meter untuk melihat konsumsi biogas sebagai bahan bakar ketika tanpa beban dan ketika berbeban menggunakan dummy load, melihat tegangan keluaran dengan osiloskop, serta melakukan analisis perhitungan daya dari kotoran organik sebagai bahan baku pembangkit biogas dikapasitas 1 kW. Hasil studi didapatkan daya  keluaran yang dihasilkan pada beban 0,5kW adalah 399,9 watt dengan menggunakan genset biogas berkapasitas 1 kW. Banyak kotoran organik total dari manuisa dan sapi 1,3 m3/hari dengan kadar metana sebesar 52,5% dapat menghasilkan daya input 5.251,4 watt. Kata Kunci : kotoran organik, gas metana, daya, efisiensi, debit biogas ABSTRACT Indonesia is a rich country which has several kinds of fossil or non-fossil energy. This is why it will be better if Indonesia is not only depending on one kind of energy such as  fossil energy, coal, and natural gas, because energy reserve fossil was has limited amount and will be gradually depleted. Thus, a power analysis study of biogas plant was necessary for the purpose of national energy. The process of study was performed by installing flow meter to see biogas consumption as fuel energy when no load and variable of dummy load condition. The study result was obtained generated power of 0,5 kW was 399,96 watts for the highest load by using 1 kW generator capacity. The total organic waste human and cow was 1,3 m3/day with a methane content of 52,5%, that could produce 5251,4 watt of input power. Key word : Organic waste, methane, power, efficiency, biogas flow
Perancangan Prototipe Penguat dan Transduser untuk Komunikasi Bawah Air RUSTAMAJI, RUSTAMAJI; RAHMIATI, PAULINE; SAPUTRA, NOFIARDIMAN
REKA ELKOMIKA Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : REKA ELKOMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTARK Suara (gelombang akustik) dapat merambat dalam jarak yang jauh pada komunikasi di bawah air. Suara yang dihasilkan dari sebuah transduser dengan mengubah sinyal listrik menjadi suara (geombang akustik), kemudian dipancarkan oleh transmitter. Dalam penelitian ini dilakukan perancangan dan realisasi dari sebuah prototipe transmitter, yang tersusun dari penguat dan transduser. Berdasarkan perancangan yang telah dibuat, prototipe transmitter mampu membangkitkan sinyal suara (gelombang akustik) dalam range frekuensi 100 Hz - 60 kHz di dalam air dengan menggunakan transduser berupa underwater loudspeaker. Prototipe transmitter tanpa pelindung anti air, dengan pelindung anti air, dan di dalam air dapat menghasilkan sinyal suara (gelombang akustik) dengan sensitivitas 104 mVp-p dari sumber sinyal audio generator, dan 72 mVp-p dari sumber sinyal berupa rekaman suara. Kata kunci : akustik, penguat, SONAR, transmitter, transduser. ABSTRACTSound (acoustic wave) can propagate long distances in the underwater communication. The sound is produced by a transducer to convert electrical signals into sound (acoustic wave), then emitted by the transmitter. In this research, design and realization of a prototype transmitter, which was composed of the amplifier and transducer. Based on the design that has been created, a prototype transmitter signal able to generate sound (acoustic wave) in the frequency range of 100 Hz - 60 kHz in the water by using a transducer in the form of underwater loudspeaker. The prototype transmitter using without protective waterproof, with protective waterproof, and in the water could result in signal noise (acoustic wave) with the sensitivity of 104 mVp-p of the source audio signal generator, and 72 mVp-p of the signal source in the form of sound recordings. Keywords : accoustic, amplifier, SONAR, transmitter, transducer
Penerapan dan Analisis Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro dengan Turbin Propeller Open Flume TC 60 dan Generator Sinkron Satu Fasa 100 VA di UPI Bandung NUGRAHA, IHFAZH NURDIN EKA; WALUYO, WALUYO; SYAHRIAL, SYAHRIAL
REKA ELKOMIKA Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : REKA ELKOMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.118 KB)

Abstract

Abstrak Pikohidro adalah pembangkit listrik tenaga air yang mempunyai daya dari ratusan Watt sampai 5 kW. Secara teknis, pikorohidro memiliki tiga komponen utama yaitu air (sumber energi), turbin dan generator. Pikohidro dapat digunakan sebagai alternatif pengganti pembangkit listrik tenaga diesel berbahan bakar minyak dengan biaya operasional lebih tinggi dan tidak ramah lingkungan. Potensi alam yang dapat dijadikan suatu pembangkit pikohidro adalah aliran air sungai yang berada di UPI Bandung. Alat yang digunakan adalah turbin reaksi propeller open flume TC 60 dan generator sinkron satu fasa kapasitas 100 Watt, 200 – 220 volt, 90 Hz. Pengukuran pembebanan generator dilakukan pada saat tanpa beban dan berbeban menggunakan beberapa lampu untuk mengukur besar daya yang terbangkitkan. Hasil dari pengukuran pembebanan generator, menghasilkan daya listrik sebesar 71 watt, dengan tegangan tertinggi 5,5% dari 220 volt dan drop tegangan – 13,3% dari 220 volt, serta drop frekuensi – 19% dari 90 Hz. Kata kunci: picohydro, turbin, generator, frekuensi, tegangan. Abstract A pcohydro is hydropower generator capasity that as hundreds of watts to 5 kW. Technically, ithas three main components: water (source of energy), turbine and generator. Picohydro can be used as an alternative to diesel power plants that using fuel oil, cost expensive and not environmentally friendly. A natural potential that can be used a picohydro generator river flow that was in UPI Bandung. The working tools a reaction turbine propeller open flume TC 60 and single phase synchronous generator capacity of 100 Watts, 200-220 volts, 90 Hz. The enerator measurements were no load and loaded by the lamps in order to measure the value of the generated power. The results were generated electric power of 71 watts, 5.5% highest voltage of 220 volts and – 13,3% voltage drop of 220 volts, and - 19% frequency drop of 90 Hz. Keywords: picohydro, turbine, generator, frecuency, voltage.
Nilai Riil dan Imajiner Impedansi Pentanahan dengan Modifikasi Batang Elektroda Diinjeksi Arus Berfrekuensi 50 Hz-2 MHz AGUSTIN, IKA MUTIARA; ANGGORO, BAMBANG; WALUYO, WALUYO
REKA ELKOMIKA Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : REKA ELKOMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1336.203 KB)

Abstract

Abstrak Nilai impedansi pentanahan tidak hanya terdiri dari resistansi atau riil saja, tetapi terdapat nilai imajiner yang perlu diperhatikan. Nilai imajiner merupakan parameter dari sifat induktansi (L) dan Kapasitansi (C). Pada penelitian ini dibuat sistem pentanahan dengan modifikasi batang elektroda pentanahan berbentuk tabung dengan isian pasir dan kondisi tanah yang berbeda-beda. Pengukuran sistem pentanahan menggunakan metoda tiga titik dengan konfigurasi vertikal dan injeksi arus AC (50 Hz sampai 2 MHz). Dari hasil diperoleh nilai riil dari impedansi pentanahan terkecil pada kondisi tanah basah dengan kedalaman 50 cm yaitu sebesar 0,001 Ω. Nilai riil dari impedansi pentanahan terkecil pada kondisi tanah setengah basah dengan kedalaman 60 cm yaitu sebesar 0,02 Ω. Nilai riil dari impedansi pentanahan terkecil pada kondisi tanah kering dengan kedalaman 100 cm yaitu sebesar 0,08 Ω. Pada frekuensi rendah nilai imajiner dari impedansi pentanahan cenderung bersifat kapasitif, tetapi pada frekuensi tinggi nilai imajiner dari impedansi pentanahan tersebut cenderung bersifat induktif. Kata kunci: frekuensi, imajiner, impedansi pentanahan, riil, pasir. Abstract Impedance grounding is not only as resistance or real value, but also imaginary value. Imaginary value is a measure of the inductance (L) and capacitance (C). In this research, it was made by using modified as tubular electrodes rods with stuffing sand and different soil conditions. The measurement of grounding system used the three-point vertical configuration with frequency AC current (50 Hz to 2 MHz). The results that the lowest real value of impedance grounding was the smallest of 0.001 Ω for the electrode rod tube with a depth of 50 cm on wet soil conditions. The lowest real value of impedance grounding with depth of 60 cm was 0.02 Ω on half wet soil conditions. The lowest real value of impedance grounding depth of 100 cm was 0.08 Ω on dry soil conditions. The imaginary value of  grounding impedance tent to be capacitive in low frequency, but at high frequency tent to be inductive. Keywords: frequency, imajinary, impedance grounding, real, sand.

Page 6 of 10 | Total Record : 96