cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA KARSA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 4" : 5 Documents clear
KORELASI BENTUK DAN FASADE TERHADAP FUNGSI BANGUNAN BANDUNG CREATIVE HUB Chendra Eka; Asti Mulyani; Sandi Rusdiansyah
REKA KARSA Vol 6, No 4
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v6i4.3675

Abstract

ABSTRAK Bentuk dan fungsi tidak dapat dihilangkan dari suatu produk arsitektur dan merupakan bagian terpenting dari suatu karya arsitektur, penambahan fasade sebagai elemen penghidup pada suatu karya arsitektur. Korelasi antara bentuk dan fasade dapat mencerminkan fungsi sebuah bangunan dan dapat mempengaruhi aktifitas pengguna didalam bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganaliasa kembali apakah bentuk dan fasade memiliki korelasi terhadap fungsi bangunan dengan baik. Penelitian ini mengambil kasus bangunan bandung Creative Hub yang bentuknya tidak beraturan dengan fungsi sebagai wadah para pegiaat kreatif untuk kawasan kota bandung dan sekitarnya. Metode yang digunakan adalah menggunakan metode deskriptif korelasional yaitu dengan membuat deskriptif secara sistematis, faktual dan akurat dengan untuk mengkaji tingkat keterkaitan antara bentuk dan fasade terhadap fungsi bangunan. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk dan fasade berpengaruh terhadap fungsi bangunan dan aktivitas didalamnya. Kata kunci: Korelasi, Fasade,Bentuk,Fungsi ABSTRACT The form and function can not be removed from an architectural product and is the most important part of an architectural work, the addition of the facade as a living element to an architectural work. The correlation between shape and facade may reflect the function of a building and may affect user activity within the building. This study aims to re-examine whether the shape and fasade has a correlation to the function of the building well. This study took the case of building Creative Hub bandung which irregular shape with function as a container for the creative pegiaat for the city of Bandung and surrounding areas. The method used is using descriptive correlational method that is by making descriptive in systematic, factual and accurate with to study the level of linkage between form and fasade to building function. The results showed that the shape and fasade affect the function of buildings and activities therein. Keywords: Correlation, Facade, Shape, Function.
Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya: Kontekstualisme Arsitektur Cina pada Kompleks Gedung Permaba, Bandung Fajar Arief Syahputra; Nadia Khairunnisa; Hanani Asma Aulia; Nikho Asruri; Nurtati Soewarno
REKA KARSA Vol 6, No 4
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v6i4.3676

Abstract

ABSTRAK Kota selalu mengalami perubahan dari masa ke masa yang dapat dikenal dari berbagai peninggalan yang tersisa, baik situs, bangunan, maupun kawasan. Kawasan peninggalan dapat dikenali dari bentuk dan gaya bangunannya yang mencerminkan masyarakatnya, salah satunya adalah Pecinan. Kawasan ini identik dengan kawasan perdagangan yang mudah dikenali dari tipologi bangunan rumah-toko bergaya arsitektur Cina dan Kelenteng. Pesatnya perkembangan perekonomian kota mendorong terjadinya berbagai perubahan, baik ekonomi, sosial, maupun budaya. Saat ini rumah-toko bergaya arsitektur Cina sudah langka ditemukan berganti dengan rumah-toko dan bangunan komersil lain berlantai banyak bergaya modern. Apakah kawasan ini masih dapat disebut Pecinan? Bagaimana mengembalikan kawasan Pecinan sebagai bagian dari sejarah pembentukan kota Bandung? Makalah ini akan membahas upaya revitalisasi pada bangunan cagar budaya eks-bioskop milik Permaba (Persatuan Masyarakat Bandung) di kawasan Pecinan. Kontekstual terhadap bangunan cagar budaya Kelenteng diterapkan pada kompleks perbelanjaan dan kuliner yang dibangun baru berlokasi dibelakang gedung Permaba. Metoda observasi dan wawancara digunakan untuk mengidentifikasi kandungan terapan gaya arsitektur Cina pada kompleks ini sehingga terlihat konteks dengan bangunan Kelenteng. Dapatkah kawasan ini menjadi ciri kawasan Pecinan yang sudah hampir tidak dapat dikenali lagi? Diharapkan upaya revitalisasi bangunan Permaba dapat sejalan dengan tujuan Pemerintah Kota menghidupkan kembali kawasan Pecinan di kota Bandung. Kata kunci: Kontekstual, Arsitektur Cina, Revitalisasi Bangunan Permaba. ABSTRACT City always changes through time, it can be known from various remaining heritage, site, building, and area. Heritage area can be known from it shape and builduing site that reflected its society, Pecinan for example. This areas are identical with tradement area that are easy to identify from Chinese style shophouse building tipology and temple. High city development inisiate various changes, its economic, sosial, and culture. Nowadays, Chinese style shophouses are rarely seen, it changes to modern style shophouses and middle rise bulidng. Are these area still can be called Pecinan? How to restore Pecinan area as part of Bandung city formation. This research encompass revitalization efforts on cultural conserved ex-cinema building owned by Permaba (Persatuan Masyarakat Bandung) in Pecinan. Contextualism towards cultural conserved temple were implied in new shopping and food complex building located at the back of the Permaba building. Observation and interview methods were used to identify Chinese architecture impliment in the complex on suiting temple contextual. Could this area become the Pecinan characterisitc area that can’t be identified no longer? Hope that Permaba builidng revitalization efforts can parallel with City Council goals to restore Pecinan area in Bandung city. Keywords: Contextual, Chinese Architecture, Permaba Building Revitalization
IDENTIFIKASI LANGGAM DAN TIPOLOGI PADA BANGUNAN DI KAWASAN BRAGA BANDUNG Eka Virdianti; Sri Utami Andini; Ratu Sonya Mentari Haerdy; Rizki Rivaldho Putra
REKA KARSA Vol 6, No 4
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v6i4.3679

Abstract

ABSTRAK Era kolonialisme meninggalkan sejumlah sejarah, seni budaya, dan arsitektur di Indonesia yang hingga kini dikenal dengan gaya Art Deco. Namun selain kebudayaan yang berasal dari Belanda tersebut, pada era kolonialisme telah terdapat berbagai kebudayaan di Indonesia, yaitu budaya Tiongkok dan budaya lokal. Berbagai kebudayaan tersebut tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi bentuk arsitektur khususnya pada kawasan Jalan Braga Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi langgam dan tipologi bangunan pada kawasan Jalan Braga. Metodologi penelitian yang dipakai adalah pendekatan kualitatif dengan dasar deskriptif. Kriteria pemilihan sampel berdasarkan aspek keaslian fasad bangunan dan tatanan ruang dalam bangunan yang tidak mengalami perubahan. Maka bangunan yang dijadikan objek studi adalah bangunan Toko 1 lantai. Melalui analisis hasil observasi objek studi dan dikomparasikan dengan sejumlah teori mengenai langgam dan tipologi bangunan Belanda, Tiongkok, dan lokal, maka dapat diketahui fitur dominan yang terdapat pada bangunan tersebut yaitu Art Deco. Kata Kunci: Langgam dan Tipologi, Art Deco, Belanda, Tiongkok, Lokal ABSTRACT The era of colonialism in Indonesia had abandoned some histories, culture, and architecture style which it’s known as Art Deco. On that era, Indonesia had various cultures, which are Chinese and local culture beside Dutch’s. Those various cultures certainly will affect to architectural form especially many buildings in Jalan Braga. This study aims to identify style and typologies of buildings in Jalan Braga. The research methodology used is qualitative approach with descriptive methods. Building’s sample choosen by some criteria which based on authenticity aspect of facades and interior. Sample objects that are choosen is a one floor shop. Through an analysis of the sample object and compared with some theories about styles and typologies of Chinese, Dutch, and Local buildings, in conclusion dominant feature on those samples is Art Deco. Key Words: Style and Typologies, Art Deco, Dutch, Chinese, Local
TRANSFORMASI BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI SEPANJANG JALAN BRAGA SEGMEN PERSIMPANGAN JALAN NARIPAN-PERSIMPANGAN JALAN ASIA AFRIKA Zaky Irfan Iskandar; Sony Pebrianto; Feri Rizki Setiawan; Roy Indrajati
REKA KARSA Vol 6, No 4
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v6i4.3674

Abstract

ABSTRAK Jalan Braga cukup dikenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat komplek pertokoan yang memiliki arsitektur yang tetap mempertahankan ciri arsitektur lama pada masa Hindia Belanda. Seiring dengan berjalannya waktu perubahan pada bangunan tidak dapat dihindarkan sehingga saat ini terdapat beberapa bangunan yang mengalami perubahan fungsi dan bentuk massa. Dengan adanya bangunan-bangunan baru dan perubahan bentuk massa bangunan yang terjadi di sana, Kawasan Jalan Braga masih memiliki identitasnya sebagai satu kawasan ikonik di kota Bandung meski fungsi bangunan yang telah berubah. Metode yang dilakukan dalam penyelesaian masalah adalah secara deskriptif analitis meliputi metode kualitatif dan kuantitatif serta observasi secara langsung. Kata Kunci : Transformasi, Kawasan Braga, Peralihan Fungsi, Bentuk Fisik, Bangunan Cagar Budaya ABSTRACT Braga street is well known since the reign of the Dutch East Indies. On side of Braga street there is a complex of shops that have an architecture that retains the old architectural features of the Dutch East Indies. Along with the passage of time changes in buildings can not be avoided so that now there are some buildings that have changed the function and form of mass. With the new buildings and changes in the mass of buildings that occur there, Braga Road Area still has its identity as an iconic area in the city of Bandung despite the building's function has changed. The method used in solving the problem is descriptive analytical methods include qualitative and quantitative as well as direct observation. Keywords: Transformation, Braga Area, Functional Transition, Physical Form, Heritage Building
Perubahan Pola Sirkulasi Pedestrian Terhadap Fungsi Ruang Luar Area Balai Kota Bandung Riantiza Avesta; Gilang Ramadhan Ridwan; Agung Arief
REKA KARSA Vol 6, No 4
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v6i4.3677

Abstract

ABSTRAK Balai Kota merupakan bangunan administratif utama bagi pemerintahan kota dan biasanya memuat dewan kota, departemen terkait dan para pegawainya. Balai Kota kini bukan lagi hanya sebagai kantor administrasi kota, tapi juga menjadi tempat wisata keluarga. Dengan adanya perubahan yang terjadi pada Balai Kota mengakibatkan adanya perubahan pola sirkulasi ruang luar Balai Kota. Adapun metoda yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif karena pada penelitian ini dimulai dari mencari data dan fakta di lapangan lalu menganalisis dan menafsirkan pengaruh perubahan fungsi bangunan terhadap sirkulasi pendestrian di area Balai Kota Bandung .Dan Pendekatan Induktif mendorong kami untuk melakukan pengamatan secara langsung dengan kasus yang akan dijadikan studi, dalam kasus ini pengaruh perubahan fungsi bangunan terhadap sirkulasi pendestrian di area Balai Kota Bandung , Jawa Barat. Dapat disimpulkan bahwa adanya area perubahan yang terjadi dari kawasan bangunan pemerintahan yang dominan private kini setelah dilakukan renovasi kawasan Balai Kota Bandung menjadi lebih terbuka dan sifatnya menjadi dominan area publik, namun masih terdapat batasan area yang jelas bagi area publik dan private. Kata kunci: Balai Kota, Sirkulasi, Ruang Luar, Perubahan. ABSTRACT City Hall is main of administrative buildings for city government and ordinarily accomodate City council, relevant departement and employees. Now City Hall not anymore as city administration office, but also make family attractions. As is changes that occur at City Hall rusulting in a change circulation patterns of City Hall open space. As for the method used in this research is qualitative because in this research starting from looking for data and facts in the area then analyze and interpreting of building function change effects to pedestrian circulation in Bandung City Hall area. And study, inductive approach encourage us to make directly observations with case to be made, In the case building function change effects in Bandung City Hall area, West Java. Can be said that zone arrangement as a result function changes very important in Government area because it affects flow of circulation that goes on to society as well government employees. Keywords: City Hall, Circulation, Open Space, Chamge

Page 1 of 1 | Total Record : 5