cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2: Juni 2016" : 22 Documents clear
Kajian Tingkat Kepuasan Pengguna Trans Metro Bandung Koridor 2 Menggunakan Pendekatan Importance-Performance Analysis (Hal. 59-70) Suhendra, Ardi; Prasetyanto, Dwi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.853 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.59

Abstract

ABSTRAKSeiring dengan kemajuan dan meningkatnya jumlah pengguna jasa transportasi, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi dituntut untuk meningkatkan kualitas pelayanannya, salah satunya adalah perusahaan Trans Metro Bandung (TMB). Penentuan tingkat kepuasan pengguna TMB koridor 2 dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada pengguna TMB koridor 2. Hasil dari kuesioner tersebut kemudian digambarkan dalam diagram kartesius Importance-Performance Analysis (IPA) serta nilai Customer Satisfaction Index (CSI) yang menunjukkan kepuasan pengguna secara keseluruhan. Diagram kartesius IPA menunjukkan bahwa atribut keamanan dan kenyamanan penumpang, kepedulian petugas terhadap penumpang, serta kebersihan di dalam bus adalah hal yang harus ditingkatkan oleh TMB koridor 2. Tingkat kepuasan pengguna secara keseluruhan ditunjukkan dengan nilai CSI sebesar 71,74% yang berarti pengguna masih belum puas dengan pelayanan TMB koridor 2.Kata kunci: Transportasi, kualitas pelayanan, kepuasan pelanggan, jasa transportasi massal. ABSTRACTAlong with the progress and the increasing number of transport services user, companies engaged in the transportation services required to improve the quality of its services, one of which is the Trans Metro Bandung (TMB) company. Determining the level of user satisfaction TMB corridor 2 is done by distributing questionnaires to TMB corridor 2 user. The results of the questionnaire are then illustrated in the Cartesian diagram Importance-Performance Analysis (IPA) and the value of Customer Satisfaction Index (CSI), which shows the overall user satisfaction. IPA Cartesian diagram shows that the attributes of safety and passenger comfort, care workers to passengers, as well as the cleanliness in the bus are things that should be improved by TMB corridor 2. The level of overall user satisfaction is shown with a CSI score of 71.74%, which means that users of TMB still has not been satisfied with the service corridor 2.Keywords: Transport, service quality, customer satisfaction, mass transportation services.
Kinerja Persimpangan Jl. Ibrahim Adjie – Jl. Jakarta Dengan Beroperasinya Flyover Jl. Jakarta, Kota Bandung (Hal. 117-126) Wijaya, Aan; Triana, Sofyan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.804 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.117

Abstract

ABSTRAKPermasalahan transportasi di daerah persimpangan banyak terjadi di berbagai kota. Pergerakan transportasi memerlukan sarana dan prasarana yang memadai. Tujuan penelitian adalah menganalisa kinerja simpang APILL persimpangan Jl Jakarta - Jl Ibrahim Adjie Bandung sebelum dan setelah Flyover beroperasi. Digunakan PKJI 2014 sebagai pedoman analisa. Analisa dilakukan pada 7 kondisi yaitu Kondisi 1: Dj antara 0,762-1,357, tundaan rerata 249 det/smp. Kondisi 2: Dj antara 0,772-1,422, tundaan rerata 343,96 det/smp. Kondisi 3: Dj 0,666, tundaan rerata 50,99 det/smp.  Kondisi 4: Dj = 0,88, tundaan rerata 117,12 det/smp. Kondisi 5: Dj 0,564, tundaan rerata 28,46 det/smp. Kondisi 6: Dj 0,829, tundaan rerata 95,23 det/smp. Kondisi 7: Dj 0,745, tundaan rerata 69,79 det/smp. Kondisi 5 yaitu Simpang APILL Setelah Beroperasinya Flyover (2 Fase Pagi) menghasilkan kinerja lebih baik untuk pagi hari. Kondisi 7 yaitu Simpang APILL Setelah Beroperasinya Flyover (2 Fase Sore) menghasilkan kinerja lebih baik untuk sore hari.Kata kunci: waktu siklus, derajat kejenuhan, kinerja persimpangan, PKJI 2014. ABSTRACTThe problems in the transportation sector is a problem in many cities. This transportation movement requires the adequated facilities and transportation infrastructures. The purpose of this study was to analyze the performance of signaled intersection at the junction of the Jakarta Rd – Ibrahim Adjie Rd, Bandung at condition before and after Flyover operates. The guidelines used is PKJI 2014. The performance calculation based on 7 conditions. The 1st condition: DS varied 0.762 to 1.357, the average delay is 249 sec/pcu. The 2nd condition: DS varied between 0.772 to 1.422, the average delay 343.96 sec/pcu. The 3rd condition: DS 0.666, the average delay is the intersection of 50.99 sec/pcu. The 4th condition: DS = 0.88, the average delay 117.12 sec/pcu. The 5th condition: DS 0.564, the average delay of 28.46 sec/pcu. The 6th condition: DS 0,829, an average delay of 95.23 sec/pcu. The 7th condition: DS 0.745, the average delay of 69.79 sec/pcu. The 5th condition is APILL intersection (2 phase in morning) produce better performance for the morning. The 7th condition is APILL intersection (2 phase in afternoon) produce better performance for the afternoon.Keywords: cycle time, the degree of saturation, the performance of intersection, PKJI 2014.
Analisis Stabilitas Lereng Menggunakan Perkuatan Tanaman Switchgrass (Hal. 71-82) Nugraha, Fikri Yudhistira; Hamdhan, Indra Noer
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.891 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.71

Abstract

ABSTRAKFaktor cuaca merupakan salah satu faktor yang menyebabkan longsor, upaya penanganan longsor pada lereng melalui rekayasa geoteknik dengan menggunakan teknik-teknik perkuatan tanah membutuhkan penyelesaian dengan biaya yang sangat mahal. Adapun cara alternatif, yaitu dengan sistem soil bioengineering berupa pemanfaatan tanaman, akar merupakan bagian terpenting karena keberadaan akar pada tanah berpengaruh terhadap meningkatnya nilai kohesi tanah. Tanaman yang dapat digunakan yaitu tanaman Switchgrass, yang memiliki panjang akar mencapai kedalaman maksimal 3-4 m. Pemodelan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, kedalaman akar, dan diameter akar. Hasil analisis menggunakan Program PLAXIS 2D AE yang berbasis Elemen Hingga menunjukkan kenaikan nilai faktor keamanan akibat perkuatan tanaman Switchgrass. Persentase kenaikan terbesar kondisi tanpa hujan dan kondisi dengan hujan terjadi pada tanah pasir dengan kemiringan lereng 1 : 1,5 terhadap diameter akar 0,75 mm dengan kedalaman akar 1,5 m, yaitu sebesar 13,79% untuk kondisi tanpa hujan dan 16,24% untuk kondisi dengan hujan.KataKunci: soil bioengineering, tanaman Switchgrass, nilai faktor keamanan, stabilitas lereng. ABSTRACTWeather factor is one of many factors that causes landslides, efforts to handling the landslide on slope through geotechnical engineering with soil reinforcement technique require completion at a cost that’s very expensive. As an alternative way, soil bioengineering system in the form of utilization of plants can be chosen and the root is the most important part because the existence of the root on the ground affects on increasing the value of soil cohesion. The plants that can be used namely Switchgrass, which has long roots reaching a maximum depth of 3-4 m. The modeling have been done by considering the rain factor, inclination of slope, soil type, root depth and root diameter. The result of analysis with Program PLAXIS 2D AE indicate the value of the safety factor are increased due to plant Switchgrass. The largest increase in the percentage of the condition without rainfall and conditions with rainfall are sand, with a slope 1:1.5 root diameter 0.75 mm, depth of root 1.5 m, that is 13.79% for the condition without rainfall and 16.24% for the condition with rainfall.Keywords: soil bioengineering, Switchgrass, safety factor, slope stability.
Perbandingan Peramalan Gelombang dengan Metode Groen Dorrestein dan Shore Protection Manual di Merak-Banten yang di Validasi dengan Data Altimetri (Hal. 1-11) Sofwatillah, Sofwatillah; Muliati, Yati
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.05 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.1

Abstract

ABSTRAK Perhitungan besaran peramalan gelombang dapat dilakukan dengan berbagai macam metode. Namun, semua metode peramalan gelombang menggunakan parameter yang sama, yakni kecepatan (W), durasi (t) dan jarak seret (fetch). Hasil perhitungan peramalan gelombang divalidasi dengan data hasil pengukuran atau data hasil satelit altrimetri. Metode Shore Protectfon Manual (SPM) berlaku untuk mengolah data yang fetch terbatas maupun data dengan durasi yang terbatas Metode Groen Derrestein (GD) meru,aakan perhitungan peramalan gelombang dengan menggunakan graft. Kedua metode tersebut menghasilkan data tinggi gelombang dan periode gelombang di perairan dalam. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode SPM dan GD dl Merak (Banten), tinggi gelombang dominan adalah 0,0 - 0,6m, sedangkan berdasarkan hasil data satelit, tinggi gelombang dominan adalah 0,9 - 1,2m , Faktor koreksi dengan metode SPM adalah 4,37 dan Faktor koreksi dengan metode GD adalah 4, 00. Berdasarkan dari faktor koreksi, maka metode GD lebih sesuai untuk digunakan pada lokasi studi. Kata kunci: peramalan, gelombang, SPM, Groen-Dorrestein, altimetri ABSTRACT Forecasting waves can be done by various methods However, all the methods of forecasting using the same parameters, which is speed (W), duration (t) and fetch. The wave forecasting calculation results are validated with measurement data or satellite altimetry data. Shore Protection Manual (SPM) method applies to situations where the data limited fetch or limited duration. Groen Dorrestein (GD) method is a wave forecasting calculations by using charts Both methods produce the wave height and wave period in the deep waters: Based on the results of analysis by using SPM and GD in Merak (Banten), the dominant wave height is 0, 0 - 0, 6m. While biased on satellite data, the dominant wave height is 0.9 - 1.2m. The correction factor is 4.37 SPM method and correction factor by Me method of GD is 4.00. Based on correction factor, the GD method is more suitable for use in the study area.Keywords:  forecasting, waves, SPM, Groen-Dorrestein, altimetry
Pengaruh Floating Stone Column Dalam Perbaikan Tanah Pada Tanah Lempung Lunak Menggunakan Metode Elemen Hingga (Hal. 83-93) Anhar, Rangga; Hamdhan, Indra Noer
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.024 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.83

Abstract

ABSTRAK Tanah lunak umumnya memiliki daya dukung yang rendah. Apabila ada pembebanan konstruksi melampaui daya dukung kritisnya, akan terjadi penurunan yang drastis. Maka perlu dilakukan perbaikan tanah untuk meningkatkan daya dukung tanah tersebut. Pada analisis ini pemodelan dengan Stone Column dipilih sebagai metode perbaikan tanah. Pemodelan Stone Column yang dilakukan adalah mengambang (floating) di lapisan tanah lunak. Dalam analisis ini menggunakan perhitungan numerik pada program PLAXIS 2D AE yang berbasis metode elemen hingga. Analisis dengan Floating Stone Column dilakukan dengan variasi pemodelan dan variasi kedalaman. Variasi konfigurasi yang dilakukan dengan berbagai tipe yaitu tipe sejajar, tipe tangga dan tipe piramida. Variasi kedalaman yang dilakukan yaitu 90%, 80%, 70%, 60%, dan 50% dari kedalaman tanah lunak. Model floating stone column dipilih mana yang paling effiesien baik dari segi hasil maupun segi ekonomis. Kondisi S2 dipilih dengan nilai penurunan 0,158 m dengan dan waktu konsolidasi 62 hari.Kata Kunci: Floating Stone Column, Perbaikan Tanah, Tanah Lempung Lunak, Metode Elemen Hingga. ABSTRACT Soft soil generally has low bearing capacity. Therefore the soft soil is need to improve for increase the bearing capacity of soft soil. The method of soil improvement that chosen in this analysis is stone column method. The model of Stone Column is floating in soft soil layer. PLAXIS 2D AE with finite element method are used in the numerical analysis. Analysis with Floating Stone Column were done by variation of configuration and depths. The configurations of floating stone column model are parallell type, stairs type and pyramid type. The depths variation of floating stone column are  90%, 80%, 70%, 60%, and 50% in soft soil layer. The model of stone column was selected which most efficient model in term both of result and ecomically. S2 Condition is selected that the settlement is 0,158 m and the time of consolidation is 62 days.Key Words: Floating Stone Column, Soil Improvement, Soft Soil, Finite Element Method.
Perbandingan Kendala dan Tantangan Penerapan Konsep Green Campus di Itenas dan Unpar (Hal. 23-35) Puspadi, Nenes Anggi; Wimala, Mia; Sururi, Rangga
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.563 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.23

Abstract

ABSTRAKKonsep green campus merupakan suatu upaya pengelolahan lingkungan yang melibatkan civitas kampus dalam mewujudkan lingkungan kampus berwawasan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kendala dan tantangan penerapan konsep green campus di Itenas dan Unpar. Kuesioner, wawancara dan observasi langsung dilakukan untuk memperoleh data yang diinginkan. Analisis varians (Anova) untuk mengetahui perbedaan pemahaman dan perenapan konsep green campus diantara kedua PTS tersebut.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan mengenai pemahaman dan penerapan konsep green campus. Secara umum, kendala terbesar yang dihadapi adalah tingkat pemahaman pengguna kampus yang masih rendah dan masih lemahnya kebijakan pimpinan kampus terkait konsep ini. Solusi yang dapat direkomendasikan adalah dengan memperbanyak sosialisasi kepada pengguna kampus baik secara kurikulum, penelitian dan organisasi kemahasiswaan peduli lingkungan serta memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam melaksanakan konsep ini.Kata kunci: green campus, kendala dan tantangan, analisis varians ABSTRACTGreen campus concept is an environmental management efforts involving the campus community in creating environmentally friendly campus. This study aimed to compare the obstacles and challenges in the application of green campus at Itenas and Unpar. Survey through questionnaire, interview and site observation were conducted to obtain the desired data. Analysis of variance (ANOVA) was used to determine differences of understanding and implementation of the concept between both campuses. The result showed that there were no significant differences regarding the understanding and implementation of green campus at itenas and unpar. In general, the biggest obstacle was the poor understanding of green campus concept and lack of policies related to the concept issued by each campus. The recommended solutions to these problems were to socialize the green campus concept either through curriculum, research and student organizations concerning the environmental issues, and enhace the campus commitment to implement the green campus concept.Keyword: green campus, obstacle and challenge, analysis of variance
Analisis Kapasitas Daya Dukung Pondasi Dangkal Tipe Menerus Pengaruh Kedalaman Tanah Keras (Hal. 36-46) Fauzi, Lutfy Ahmad; Ikhya, Ikhya
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.449 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.36

Abstract

ABSTRAKPondasi dangkal hanya memerlukan kedalaman kurang dari lebarnya. Kapasitas daya dukung ialah kekuatan pondasi untuk melayani beban diatasnya. Analisis menggunakan program PLAXIS 2D AE menghasilkan bahwa semakin lebar pondasi maka akan menaikan kapasitas daya dukung. Kenaikan tersebut sebesar 159,4% yang terbesar pada B=2m sebesar 1074,18 kN pada tanah jenis clay. Faktor kedalaman pondasi pun demikian, naiknya kapasitas daya dukung tersebut sebesar 68,24% yang terbesar pada Df=2m sebesar 3860,29 kN pada tanah jenis clay. Kapasitas daya dukung juga dipengaruhi oleh keberadaan muka air tanah yang bedanya sebesar 39,7%. Kedalaman tanah keras pun menaikan kapasitas daya dukung, apabila kedalaman tanah kerasnya berjarak dekat dengan dasar pondasi. Naiknya kapasitas daya dukung tersebut ditinjau dari kedalaman 4B hingga 0,25B sebesar 40,77% yang terbesar pada kedalaman 0,25B pada jenis tanah silty sand 19667,59 kN dan 15641,26 kN untuk tanah jenis clay.Kata kunci: pondasi dangkal, kapasitas daya dukung, muka air tanah, kedalaman tanah keras ABSTRACTShallow foundations only requires a depth of less than the widht. Bearing capacity is the strength of foundation to serve service load. Analysis using PLAXIS 2D AE which produce that wider foundation will increase bearing capacity. The increase is 159,4% which the highest on clay with B=2m is 1074,18 kN. The depth of foundation is also increase bearing capacity. The increase is 68,24% which the highest bearing capacity on clay with Df=2m is 3860,29 kN. Bearing capacity is also affected by the ground water level. The difference is 39,7%. The depth of hard soil also increase bearing capacity, when the depth of the hard soil is closer to the base of foundation. The rise in the bearing capacity only be reviewed at depth 4B to 0,25B is 40,77% which the highest bearing capacity on 0,25B depth of hard soil for silty sand is 19667,59 kN and 15641.26 kN for clay. Keywords: shallow foundation, bearing capacity, fully saturated soil, the bearing capacity, the depth of hard soil
Studi Penggunaan Limbah Las Karbit Untuk Bahan Tambah Pada Perkerasan Laston Gradasi AC-WC (Hal. 94-103) Nurhayati, Shezy; Prasetyanto, Dwi; Zurni, Rahmi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.697 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.94

Abstract

ABSTRAKJalan merupakan prasarana transportasi yang menghubungkan satu daerah ke daerah lainnya serta meningkatkan proses perkembangan ekonomi masyarakat. Seiring berkembangnya kendaraan semakin bervariasi mulai dari jenis kendaraan dan berat kendaraan, hal tersebut mengakibatkan lapisan perkerasan sering mengalami kerusakan, oleh karena itu diperlukan adanya penelitian perkerasan yang kuat menahan deformasi pada beban lalu lintas.Penelitian ini dilakukan pada Laston AC-WC menggunakan aspal pen 60 bercampur dengan limbah las karbit 2,5 % dan 5 %. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui parameter Marshall dari karakteristik beton aspal dengan jenis aspal yang berbeda. Hasil dari parameter Marshall didapat kadar aspal optimum (KAO) untuk aspal 0 % sebesar 6,6 %, aspal karbit 2,5 % didapat 6,7 %, dan untuk aspal karbit 5 % sebesar 6,8 %.Kata kunci : Limbah Las Karbit, Laston AC-WC, Bahan Tambah. ABSTRACTThe road is the infrastructure of transportation which connects an area to the others, then able to increase economic development. By increasing the number of vehicles, the projection plan of pavement could not be the reference, where the layer of pavement having decay considerably is the surface of the layer. Therefore, it is necessary to have a study of pavement which is able to sustain deformations regarding to loads of traffic.This research was conducted for Laston AC-WC using penetration 60 of asphalt mixing waste carbide of weild 2.5% and 5%. The purpose of this study is to understand the Marshall parameter as characteristic of the asphalt concretes and samples. The results of Marshall parameter showed that  the Optimum Asphalt Content, which was obtained were 6.6%;6.7%; and 6.8% for asphalt 0%; waste of carbide of weild 2.5% and 5%.Keywords : asphalt modification, waste carbide of weild, Laston AC-WC
Perbaikan Tanah Untuk Meningkatkan CBR Dengan Bahan Aditif Serbuk Bata Merah Dan Abu Sekam Padi (Hal. 12-22) Herfiantino, Erway; Yakin, Yuki Ahmad
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.992 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.12

Abstract

ABSTRAKTanah berjenis lempung relatif tidak stabil untuk pembangunan struktur diatasnya, karena lempung bersifat kembang dan susut tinggi. Adiktif Abu Sekam Padi dan Serbuk Bata Merah menjadi alternatif perbaikan tanah, karena bahan mudah didapat juga ekonomis. Bahan adiktif ini mengandung unsur kimia silikat dan aluminat yang berguna sebagai bahan pengisi pori, pengikat, dan penyerapan kadar air berlebih. Dalam penelitian ini, perbaikan tanah dilakukan untuk meningkatkan nilai CBR dengan menggunakan persentase variasi campuran bahan adiktif 5%, 10%, dan 15% dalam tiga kondisi campuran. Hasil analisa pengujian CBR campuran adiktif 5% Abu Sekam Padi adanya peningkatan persentase pada nilai CBR. Hasil untuk perbandingan yang menggunakan Abu Sekam Padi 10% terjadi penurunan dan juga penggunaan Serbuk Bata Merah 5% tidak optimal dibandingkan Abu Sekam Padi 5%. Kata kunci:Lempung, Adiktif, CBR, silikat, aluminat ABSTRACTSoildiversified clay relatively unstable for on structure development, because clay has the quality swelling and high shrinkage. Addictive of ash rice husks and red brick powder become alternative for soil improvement, easliy obtainable materials also economical. This addictive materials contain chemical elements silicate and aluminate of use as pore filler, fastener, and absorption excess of water content. In this research, soil improvement is done to increase the value of CBR with as the percentage of mix variation addictive materials 5%, 10%, and 15% in three mix condition. Examination analysis value of mix addictive 5% ash rice husks existence increase in value CBR. Result for comparison shows that use ash rice husks 10% decrease and use red brick powder 5% not optimal compared to ash rice husks 5%.Keywords: Clay, addictive, CBR, silicate, aluminate
Desain Bangunan Pelindung Pantai Sebagai Penanggulangan Abrasi Di Kawasan Pantai Ujung Jabung Provinsi Jambi (Hal. 47-58) Faza, Luqman Hadiyan; Kurniadi, Yessi Nirwana
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1417.497 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.47

Abstract

ABSTRAKPantai Ujung Jabung Provinsi Jambi merupakan pantai yang akan dijadikan lokasi Pelabuhan Nasional. Untuk merealisasikan hal tersebut perlu dilakukan pengamanan garis pantai karena lokasi tersebut mengalami abrasi setiap tahunnya yang diakibatkan oleh arus sejajar pantai. Pengamanan garis pantai dilakukan dengan membangun bangunan pelindung pantai. Analisis kecepatan arus dilakukan dengan software Hidrodinamika 2 Dimensi. Hasil pemodelan software Hidrodinamika 2 Dimensi menunjukkan bahwa abrasi terjadi pada Musim Barat (Desember-Februari) dengan kecepatan 0.40 m/s dengan arah dari utara menuju Selatan. Hal ini dapat menjadi indikator terjadinya abrasi di daerah pantai tersebut. Pemodelan dilakukan dengan membandingkan adanya breakwater, groin dan revetment. Hasilnya adalah bahwa dengan dibangunnya groin dan revetment dapat menanggulangi dampak abrasi karena dapat merubah kecepatan arus dari 0.40 m/s menjadi 0.06 m/s. Groin dengan armor batu belah bulat halus berdimensi 0.5 meter dan interlocking concrete block revetment berdimensi 0.9 x 0.9 meter dipilih sebagai desain  yang paling cocok untuk melindungi abrasi yang terjadi.Kata kunci : Abrasi, Revetment, Groin, Arus Sejajar Pantai. ABSTRACTUjung Jabung coast located in Jambi Province which is designed to be a National Port. In order to realize this project, shoreline have to be protected from abrasion due to longshore currents by shore protection structure. Hydrodynamic 2D software was used for current flow analysis and simulate shore protection structure. The result show that this structure are able to decrease a risk of abrasion caused by the West Season (December-February). Flow velocity in this season is 0.40 m/s from North to South. This condition can be an indicator of the abrasion in the coastal areas. Due this condition, the analysis compare 3 structure; breakwater, groyne and revetment. The result show, groyne and revetment structure can prevent the effects of abrasion because flow velocity reduced from 0.40 m/s to 0.06 m/s. Groynes with a smooth rouded quarrystone with dimension of 0.5 meters and interlocking concrete block revetment with dimension 0.9 x 0.9 meters are chosen as the most suitable design to protect abrasion.Keywords : Abrasion, Revetment, Groyne, Longshore Current.

Page 1 of 3 | Total Record : 22