cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2: Juni 2019" : 24 Documents clear
Analisis Stabilitas Lereng Dengan Perkuatan Geotekstil Woven Akibat Pengaruh Termal Menggunakan Metode Elemen Hingga. (Hal. 61-72) Fauzi, Imron Maulana; Hamdhan, Indra Noer
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.006 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.61

Abstract

ABSTRAKAda beberapa jenis perkuatan tanah untuk mengantisipasi longsoran yang sering digunakan di Indonesia seperti halnya geotekstil. Analisis stabilitas dilakukan pada lereng timbunan dengan kemiringan 1V:1H, 1V:1,5H dan 1V:2H dengan membandingkan kondisi lereng timbunan tanpa perkuatan geotekstil, lereng timbunan dengan perkuatan geotekstil serta lereng timbunan dengan perkuatan geotekstil yang dipengaruhi oleh termal menggunakan software PLAXIS 2D 2017. Analisis pengaruh termal dilakukan dengan memvariasikan besaran nilai suhu dan parameter termal tanah (kapasitas, konduktivitas dan ekspansi). Terjadi penurunan stabilitas lereng timbunan dengan perkuatan geotekstil yang diakibatkan oleh semakin besarnya nilai suhu termal dan terjadi peningkatan stabilitas lereng dengan perkuatan geotekstil akibat meningkatnya nilai ekspansi termal, sedangkan nilai konduktivitas dan kapasitas termal tidak berpengaruh.   Kata kunci: lereng timbunan, geotekstil, stabilitas, suhu, parameter termal tanah. ABSTRACTThere are several types of soil reinforcement to anticipate landslide that are often used in Indonesia as well as geotextile. The stability analysis is carried out on the slope of the embankment with a slope of 1V:1H, 1V:1,5H and 1V:2H by comparing the slope conditions of the embankment without geotextile reinforcement, slope of embankment with geotextile reinforcement and slope of embankment with geotextile reinforcement that influenced by thermal using PLAXIS 2D 2017. The thermal effect analysis is carried out by varying the value of temperature and soil thermal parameters (capacity, conductivity and expansion). There is a decrease in the stability of the embankment slopes with geotextile reinforcement caused by the increasing thermal temperature value and an increase in slope stability with geotextile reinforcement due to the increase of thermal expansion value, while the conductivity and thermal capacity have no effect.Keywords:  embankment slope, geotextile, stability, temperature, thermal soil parameter.
Analisis Kinerja Simpang Tak Bersinyal Jalan A.H. Nasution dan Jalan Cikadut, Kota Bandung. (Hal. 116-123) Pratama, Muhammad Daryl Marta; Elkhasnet, Elkhasnet
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.545 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.115

Abstract

ABSTRAKPersimpangan merupakan suatu bagian jalan yang menjadi pusat pertemuan dari berbagai pergerakan arus lalu lintas. Pada tipe simpang tak bersinyal, sering dijumpai titik-titik konflik arus lalu lintas yang mengakibatkan kemacetan arus lalu lintas terutama pada saat jam-jam sibuk. Contoh kasus terdapat di Kota Bandung, terjadi pada persimpangan Jalan A.H. Nasution dan Jalan Cikadut. Lokasi ini dipilih karena selain kemacetan yang disebabkan oleh titik-titik konflik arus lalu lintas yang tidak teratur pada saat jam sibuk, di sekitar jalan pada simpang ini juga merupakan kawasan pertokoan, pemukiman, sekolah dan juga terdapat pom bensin. Berdasarkan permasalahan tersebut, dilakukan perhitungan dan analisis data pada kondisi awal simpang, didapat nilai derajat jenuh (DS) sebesar 0,983 untuk pagi hari dan 0,937 untuk sore hari. Karena hasil perhitungan simpang pada kondisi awal tidak memenuhi syarat MKJI 1997, yaitu DS < 0,85, maka perlu dilakukan perhitungan ulang dengan beberapa alternatif agar nilai DS bisa memenuhi.Kata kunci: persimpangan, kemacetan, derajat jenuh, MKJI 1997. ABSTRACTIntersection is a part of the road that becomes the center concourse of various traffic flow movements. In the type of unsignalized intersection, there are often traffic flow conflict points which cause traffic jams, especially during rush hour. Examples of cases are in the City of Bandung, occurred at the intersection of A.H. Nasution Street and Cikadut Street. This location was chosen because in addition to congestion caused by irregular traffic flow conflict points during rush hour, around the road at the intersection this is also a shopping area, residential, school and gas station. Based on these problems, data calculations and analysis are carried out in the initial intersection condition, obtained saturated degree (DS) values of 0,983 in the morning and 0,937 in the afternoon. Because the results of the intersection calculation in the initial conditions did not comply the requirements of the Indonesian Highway Capacity Manual of 1997 (IHCM 1997), that’s DS < 0,85, it is necessary to recalculate with some alternative that value of DS can comply.Keywords: intersection, congestion, degree of saturation, IHCM 1997.
Kajian Analisis Respon Struktur Bangunan Baja di Bawah Pengaruh Kombinasi Beban Termal (Kebakaran) dan Beban Angin. (Hal. 13-25) Pribadi, Amatulhay
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.611 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.13

Abstract

ABSTRAKBeban termal yang terjadi pada bangunan dapat mengakibatkan degradasi pada struktur baja dan menyebabkan keruntuhan. Penelitian ini menganalisis pengaruh beban termal disertai beban angin terhadap respon dari struktur bangunan baja lima belas lantai yang berfungsi sebagai perkantoran dengan mempertimbangkan degradasi propertis baja, reduksi beban hidup dan beban mati tambahan, serta kecepatan penanganan pemadaman. Simulasi terbagi menjadi tiga kasus yaitu penanganan pemadaman kebakaran cepat, penanganan pemadaman kebakaran lambat, dan penentuan beban termal kritis. Analisis struktur dilakukan dengan bantuan software ETABS. Hasil simulasi kebakaran menunjukkan semakin tinggi temperatur maka stress ratio dari elemen struktur makin membesar. Pada penentuan beban termal kritis diperoleh bahwa besar beban termal yang dapat menyebabkan minimal satu elemen struktur utama mengalami kegagalan pada umumnya berbeda pada lantai level bawah, tengah, dan atas. Pada studi kasus ini diperoleh beban temperatur kritis paling besar yaitu pada lantai level atas.Kata kunci: beban termal, degradasi propertis baja, kegagalan struktur ABSTRACTThermal load on the building can lead into the degradation of steel structure and cause collapse. This study analyze the effect of thermal along with wind loads on the response of fifteen stories steel structure building which serves as an office by considering the degradation of steel properties, the reduction of live load and super imposed dead load, and the speed of handling the extinguishing. This simulation is divided into three cases which are fast handling of extinguishing, slow handling of extinguishing, and the determination of the critical thermal load. Structural analysis will be done using the ETABS software. The result of fire simulation showed that when the temperature is higher, the stress ratio of structural elements will also expand. In the determination of the critical thermal load, it is obtained that the thermal loads which can cause failure in minimum one major structural element are generally different at the bottom, middle, and top level of stories. In this case study, the highest critical temperature load is on the top level.Keywords: thermal load, steel properties degradation, structure failure
Studi Mengenai Pengaruh Gradasi Agregat Kasar terhadap Kebutuhan Air untuk Mencapai Suatu Kelecakan Campuran Beton pada Cara SNI. (Hal. 73-82) Nugraha, Bayu; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.014 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.73

Abstract

ABSTRAKKebutuhan air untuk mencapai suatu rentang kelecakan campuran beton yang direncanakan pada cara SNI hanya bergantung pada ukuran maksimun agregat kasar dan jenis agregat yang digunakan. Pada cara SNI ini banyaknya ragam gradasi agregat kasar yang digunakan selama ukuran maksimumnya tidak berubah, maka jumlah air yang dibutuhkan tetap sama. Kejelasan tentang jenis gradasi agregat kasar yang terdapat pada perkiraan jumlah air dalam campuran beton sangat perlu untuk memperhitungkan kebutuhan air campuran beton menjadi lebih tepat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh gradasi agregat kasar terhadap kebutuhan air campuran beton pada cara SNI. Kebutuhan air campuran beton berbanding lurus dengan persentase jumlah air tiap ukuran agregat kasar yang digunakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah air yang dibutuhkan sesuai dengan perhitungan jumlah air yang dihitung. Jumlah air yang dibutuhkan dapat dirumuskan sebagai jumlah dari persen ukuran agregat kasar dikali jumlah air dari tiap ukuran agregat kasar tersebut.Kata kunci: cara SNI, gradasi agregat kasar, kebutuhan air. ABSTRACTAmount of waters that need to reach a slump range of mix concrete that planned on SNI only depending on maximum amount of coarse aggregate and the kind of aggregate. Depending of SNI, variety of graded coarse aggregate as long as the maximum amount does not change or stable does not change the amount of water needed. Clarity of  the kind of coarse aggregate graded on water amount estimate to calculate a water on mix concrete to be accurate. The study was done to overcome the effect coarse aggregate graded to amount of water needed on SNI. The water needed mix concrete directly proportional with percentage of water every size of coarse aggregate used. The result shown that amount of water needed equivalent with calculation of water that calculated. Amount of water needed can be formulated as a total of percentage size of coarse aggregate multiplied by amount of water of every size of coarse aggregate.Keywords: SNI method, coarse aggregate graded, water needed.
Model Hubungan antara Angka Korban Kecelakaan Lalu Lintas dan Faktor Penyebab Kecelakaan pada Jalan Tol Purbaleunyi. (Hal. 124-132) Fridayanti, Virlia Dian; Prasetyanto, Dwi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.177 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.123

Abstract

ABSTRAKKecelakaan lalu lintas merupakan hasil dari kombinasi faktor-faktor penyebab  yang yang terdiri dari faktor manusia, kendaraan, jalan, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabel dominan dari beberapa faktor penyebab kecelakaan dengan memodelkan hubungan antara angka korban kecelakaan lalu lintas dengan variabel faktor penyebab kecelakaan di Jalan Tol Purbaleunyi pada tahun 2015–2017. Data yang digunakan pada penelitian ini berupa data sekunder yang terdiri dari data jumlah korban dan jumlah kecelakaan yang diakibatkan oleh faktor-faktor penyebab kecelakaan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis regresi linear berganda dengan melakukan uji linearitas dan uji korelasi terlebih dahulu. Uji linearitas digunakan untuk memastikan apakah data yang akan dianalisis dapat menggunakan analisis regresi linear atau tidak, sedangkan uji korelasi digunakan untuk menentukan hubungan antara variabel baik antara sesama variabel bebas maupun antara variabel peubah bebas dengan variabel peubah tidak bebas. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2015–2017, variabel utama faktor kecelakaan diakibatkan oleh faktor manusia dan faktor kendaraan yaitu variabel mengantuk ( ) dan rem blong ( ).Kata kunci: Kecelakaan lalu lintas, faktor penyebab kecelakaan lalu lintas, regresi linear berganda. ABSTRACTTraffic accidents are the result of a combination of factors causes which consists of the human factor, vehicle, road, and environment. This study aims to determine the majority of the accidents variable of several factors that cause accidents by modeling the relationship between the numbers of traffic accident victims with variable factors causing the accident on Highway Purbaleunyi in 2015–2017. The data used in this study of secondary data consists of data on the number of victims and the number of accidents caused by factors that cause accidents. The method used in this research is multiple linear regression analysis to test the linearity and correlation test beforehand. Linearity test used to determine whether the data will be analyzed using linear regression analysis or not, whereas the correlation test was used to determine the relationship between both variables among the independent variables and the independent variables with the variable variable variable is not free. Based on the results of research conducted in 2015–2017, the main variable of the accident factor is caused by human factors and vehicle factors, which are variable drowsiness ( ) and brake failure ( ).Keywords: Traffic accidents, the causes of traffic accidents, multiple linear regression.
Pembesaran Gaya Dalam pada Elemen Struktur untuk Berbagai Zona Gempa di Indonesia. (Hal. 26-38) Kamaludin, Kamaludin
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1930.014 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.26

Abstract

ABSTRAKKombinasi beban pada struktur bangunan harus diperhitungkan dalam mendesain penampang elemen struktur. Hasil kombinasi beban gempa mempengaruhi peningkatan pembesaran gaya-dalamnya terhadap hasil kombinasi beban tanpa gempa. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi pembesaran gaya-dalam akibat beban gempapada menara pandang 6 lantai bermaterial beton dengan 8 model variasi beban, yaitu: beban tanpa gempa, dan beban dengan percepatan 0,2g; 0,4g; 0,6g; 1,0g; 1,2g; 1,5g dan 2g. Analisis struktur dengan software ETABS v.9.7.2 menghasilkan pembesaran lentur sebesar 11,4 untuk tumpuan dan 2,49 kali untuk lapangan; geser sebesar 3,99 kali pada tumpuan dan 40,72 kali pada lapangan; dan normal tidak signifikan perubahannya pada balok. pembesaran gaya-dalam pada kolom tumpuan yaitu sebesar 1,27 kali normal, 663,2 kali geser; 55,84 kali lentur M2 dan 487,2 kali lentur M3. Hasil nilai pembesaran ini dapat digunakan sebagai referensi nilai pembesaran momen maksimum terhadap kombinasi beban tanpa gempa dalam desain awal.Kata Kunci: struktur gedung, beban gempa, pembesaran, momen, geser, normal. ABSTRACTThe combination of loads on building structures must be calculated in designing the cross-section of structural elements. The results of combination of earthquake loads influenced an increasing magnitude of the force againts the results of a combination of without earthquake loads. This study intends to predict the magnification of the internal force due to the without earthquake loads on a 6-story tower with concrete material, with 8 variation models of load such as: load without earthquake, and load with acceleration of 0,2g; 0,4g; 0,6g; 1,0g;, 1,2g; 1,5g; and 2g. Structural analysis using ETABS v9.7.2 software results that the magnification of the flexural is 11,4 and 2,49 times for the center of the beam, and insgnificant changes for normal in the beam. The magnification of internal force in the pedestal column is 1,27 time for normal, 663.2 time for shear, 55.84 times for M2 and 497.2 times for M3. The results of this magnification value can be used as a reference to the value of the maximum moment magnification of a combination without earthquake in the initial design.Keywords: building structure, earthquake load, magnication, moment, shear, norma.
Studi Mengenai Analisis Penampang Balok Prategang Parsial pada Beban Kerja. (Hal. 83-95) Margan, Dally; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.232 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.83

Abstract

ABSTRAKPenampang balok prategang parsial dapat dirancang dengan dua metode analisis yaitu metode analisis terhadap beban runtuh dan metode analisis terhadap beban kerja. Perancangan penampang balok prategang parsial pada umumnya dilakukan dengan menggunakan metode analisis terhadap beban runtuh yang telah ditetapkan dalam SNI 03-2847-2002, namun perancangan menggunakan pendekatan beban kerja tidak dicantumkan. Oleh karena itu dilakukan studi analisis untuk mengetahui sejauh mana metode analisis terhadap beban kerja dapat diaplikasikan dalam perancangan penampang balok prategang parsial. Studi kasus ini dilakukan dengan persentase 60, 70, 80, dan 90. Dari hasil studi kasus didapatkan bahwa dengan menggunakan metode analisis terhadap beban kerja dapat dilakukan namun dengan batasan persentase prategang yang beragam yaitu 90, 95, dan 99. Metode analisis terhadap beban kerja dapat dilakukan pada kasus-kasus tertentu dan menggunakan beton dan tendon dengan mutu tinggi untuk faktor keamanan bangunan.Kata kunci: beton prategang parsial, pendekatan beban kerja, persentase prategang, lebar retak ABSTRACTPartial prestressed beam section can be designed with two analysis methods are failure load analysis method and service load analysis method. The design of the partial prestressed beam section generally is using the failure load analysis method which has been specified in SNI 03-2847-2002, but the design with the analytical method of service load is not included. Therefore an analytical study was conducted to determine the extent to which the service load analysis method can be applied for the design of a partial prestressed beam section. This case study was carried out at 60, 70, 80, and 90 prestressed percentages. From the case study results it was found that using the analysis method of service load can be done but with variations of a limited percentage are 90, 95, and 99. The method of analysis of workload can be done in certain cases and using high-quality concrete and tendons for building safety factor.Keywords: partial prestressed concrete, service load analysis method, prestressed percentage, crack width
Perhitungan Evapotranspirasi Acuan untuk Irigasi di Indonesia. (Hal. 39-49) Yustiana, Fransiska; Sitohang, Gabriel Antonio
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.196 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.39

Abstract

ABSTRAKSistem irigasi merupakan suatu cara mengalirkan air ke suatu lahan dimana air dialirkan sesuai kebutuhan. Debit yang dihasilkan dari sistem irigasi ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah evapotranspirasi. Nilai evapotranspirasi di Indonesia dihitung menurut Standar Perencanaan Irigasi KP-01 dengan menggunakan rumus Penman FAO Corrected sedangkan menurut SNI 7745:2012 menggunakan rumus Penman-Monteith. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode penghitungan evapotranspirasi acuan yang tepat dengan membandingkan metode KP-01 dan SNI dengan tanaman hidroponik berupa selada air dan seledri dengan menggunakan data klimatologi periode Januari-Agustus tahun 2018. Penelitian ini menunjukkan nilai sebesar 5,60 mm/hari memiliki nilai yang lebih besar dari pada nilai sebesar 4,60 mm/hari dan nilai sebesar 4,94 mm/hari, maka dalam penelitian ini metode SNI 7745:2012 lebih disarankan untuk digunakan dalam menghitung nilai evapotranspirasi acuan karena memiliki nilai yang lebih besar dan membutuhkan data yang lebih sedikit dari metode yang lain.Kata Kunci: Sistem irigasi, Penman FAO Corrected, Penman-Monteith ABSTRACTThe irrigation system is a distribution of water into a crop yield. Irrigation discharge is determined by several factors, either is reference evapotranspiration. The value of reference evapotranspiration in Indonesia is calculated according to Standar Perencanaan Irigasi KP-01 using the FAO Penman Corrected formula either according to SNI 7745:2012 using the Penman-Monteith formula. This research aims to know acurate methode that calculating the acurate reference of evapotranspiration by comparing the methods of KP-01 and SNI with observed reference evaporation on hydroponic plants. Climatology data period are between the January-August 2018. This research demonstrates the value of is 5.60 mm/day greater than the value of which is 4.60 mm/day and value is 4.94 mm/day. This research recommended that SNI 7745:2012 more acurate in calculating the value of reference evapotranspiration because it has a greater value and require less data than other methods.Keywords: Irrigation systems, Penman FAO Corrected, Penman-Monteith
Analisis Daya Dukung Lateral pada Suction Pile dengan Menggunakan Metode Numerik. (Hal. 96-106) Dearini J, R. Thasyia Puteri; Hamdhan, Indra Noer
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.932 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.95

Abstract

ABSTRAKSuction Pile merupakan fondasi berbentuk silinder baja berdiameter besar yang tertutup pada bagian atas dan terbuka pada bagian bawah. Fondasi ini sering digunakan untuk menyokong bangunan offshore dan platforms. Beban yang diterima oleh suction pile merupakan beban aksial yang berasal dari beban strukturnya dan juga beban lateral dari tekanan tanah dan air laut di sekelilingnya. Analisis daya dukung lateral pada suction pile dilakukan dengan menggunakan metode numerik, yaitu menggunakan software PLAXIS 3D dengan soil model Mohr-Coulomb dan Hardening Soil, serta menggunakan metode analisis, yaitu metode COM624 dari Federal Highway Administrasion (FHWA). Pemodelan suction pile dilakukan dengan cara memvariasikan panjang dari suction pile dengan mutu baja, diameter suction pile, dan parameter tanah yang sama. Berdasarkan hasil dari penelitian bahwa semakin panjang penampang dari suction pile yang digunakan, maka daya dukung lateral yang diperoleh semakin meningkat dikarenakan letak titik jepit yang masih berubah.Kata Kunci: suction pile, daya dukung lateral, titik jepit, Mohr-Coulomb, Hardening Soil ABSTRACTSuction pile is a large cylinder-shaped steel foundation which has a closed top and an open bottom. This foundation is often used to support offshore buildings and platforms. The loads resisted by the suction pile are the axial load from its own structure weight and the lateral load caused by soil and deep-sea pressure around it. Analysis of lateral bearing capacity of suction pile is done by using numerical method is conducted using commercial software PLAXIS 3D, with Mohr-Coulomb and Hardening Soil as the soil model and analysis method is conducted using COM624 method from Federal Highway Administrasion (FHWA). Suction pile model is designed by varying the suction pile lengths of equal steel quality, suction pile diameter, and soil parameter. The result of the research showed that the longer the cross section of the suction pile used, the higher its lateral bearing capacity, due to the location of the fixity point is still changed.Keywords: suction pile, lateral bearing capacity, fixity point, Mohr-Coulomb, Hardening Soil.
Analisis Kinerja Bundaran Leuwigajah Kota Cimahi. (Hal. 50-60) Putra, Andika Diarsa; Purwanti, Oka
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.435 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.50

Abstract

ABSTRAKBundaran Leuwigajah merupakan salah satu bundaran penting di Kota Cimahi yang tepatnya terletak di Cimahi Selatan. Bundaran Leuwigajah melayani arus lalu lintas dari berbagai arah, yaitu arus lalu lintas yang berasal dari Jl. Leuwigajah, Jl. Baros dan Jl. Kerkof. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kinerja persimpangan dengan pengendalian bundaran yaitu kapasitas, derajat kejenuhan, tundaan dan peluang antrian. Selain itu, penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh arus lalu lintas terhadap kinerja bundaran. Hasil penelitian pada pagi pukul 08:30 – 09:30 menghasilkan kapasitas ( ) terbesar pada Jl. Leuwigajah – Jl. Kerkof dengan nilai 3715 smp/jam, Derajat kejenuhan ( ) bundaran adalah 0,54 dan tundaan bundaran (DR) adalah 6,7 det/smp. Peluang antrian bundaran mempunyai batas bawah 6,8% dan batas atas 15,8%. Berdasarkan hasil perhitungan, kinerja Bundaran Leuwigajah masih memenuhi persyaratan MKJI 1997 dengan catatan hanya pada jam 08:30 – 09:30. Setelah dilakukan skenario peningkatan arus lalu lintas, bundaran masih memenuhi persyaratan dengan kondisi peningkatan arus maksimum 40% dari kondisi eksisting karena menghasilkan nilai DS 0,75.Kata Kunci: Bundaran, Jalinan, MKJI 1997, Leuwigajah ABSTRACTLeuwigajah Roundabout is one of the most important roundabouts in the city of Cimahi precisely located in South Cimahi. Leuwigajah Roundabout serves traffic flows from various directions, namely the flow of traffic coming from Leuwigajah St., Baros St., and Kerkof St. The purpose of this research is to analyze the performance of intersections with roundabout control, namely capacity, degree of saturation, delay and the queue opportunities. The results of the research at 8:30 - 9:30 a.m. produced the largest capacity on Jl. Leuwigajah - Jl. Kerkof C = 3715 pcu/hour, roundabout degree of saturation DS = 0.54 ; and roundabout delay DR = 6.7 sec/pcu. Opportunities for roundabout queues have a lower limit of 6,8% and an upper limit of 15.8%. Based on the results of calculations, the performance of the Leuwigajah Roundabout still meets the requirements of IHCM 1997 with a note only at 08:30 - 09:30. After increasing traffic flow scenario, roundabout still meets the requirements with a maximum current increase of 40% from the existing condition because it produces DS value 0.75.Keywords: Roundabout, Weaving, IHCM 1997, Leuwigajah

Page 1 of 3 | Total Record : 24