cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3: September 2019" : 24 Documents clear
Analisis Kinerja Persimpangan Jalan Laswi dengan Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung Menggunakan PTV VISSIM 9.0. (Hal. 74-85) Ulfah, Fadila Dwithami; Purwanti, Oka
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.52 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.74

Abstract

ABSTRAKPersimpangan Jalan Laswi – Jalan Gatot Subroto merupakan salah satu persimpangan di Kota Bandung yang menghubungkan daerah perkantoran, pendidikan, dan pusat perbelanjaan dengan daerah permukiman. Permasalahan yang terjadi yaitu, besarnya volume arus lalu lintas sehingga menyebabkan panjangnya antrian, dan lamanya tundaan. Tujuan peneletian ini adalah menganalisis kinerja persimpangan eksisting, dan menganalisis pengaruh optimalisasi waktu siklus terhadap kinerja persimpangan tersebut. Berdasarkan kondisi eksisting persimpangan, kinerja persimpangan sudah tidak bisa dianalisis menggunakan MKJI 1997 karena diperoleh  adalah 1,2036 atau simpang sudah lewat jenuh, sehingga analisis dilanjutkan menggunakan PTV VISSIM 9.0. Hasil analisis kinerja persimpangan kondisi eksisting, dan optimalisasi waktu siklus (skenario pangaturan fase sinyal B3) yaitu, penurunan panjang antrian dan tundaan rata-rata simpang sebesar 9,70%, dan penurunan tundaan rata-rata simpang sebesar 19,57%.Kata kunci: persimpangan, panjang antrian, tundaan, lewat jenuh, optimalisasi waktu siklus ABSTRACTIntersection of Laswi road with Gatot Subroto road is one of the intersections in Bandung City that connects offices areas, education areas, and shopping centers areas with residential areas. Problems that occur is the amount of traffic flow that causes the length of the queue, and the length of delay. The purpose of this research was to analyze the performance of the existing intersection, and analyze the optimization of cycle times against the performance of these intersections. Based on existing intersection conditions, intersection performance cannot be analyzed using MKJI 1997 because   adalah 1.2036 or the intersection is over saturated, so the analysis continued using PTV VISSIM 9.0. The results of the intersection performance analysis of existing conditions, and optimization of cycle time (B3 signal phase settings scenario) that is, a decrease in the queue length of the average intersection by 9.70%, and a delay decrease of the intersection average by 19.57%.Keywords: intersection, queue length, delay, over saturated, optimization of cycle time
Re-design Breakwater di PPI Tulandale Berdasarkan Analisis Hidrodinamika dan Sedimentasi. (Hal. 30-41) Wirawan, Regina Eugeny Destin; Kurniadi, Yessi Nirwana; Suciaty, Fitri
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.575 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.30

Abstract

ABSTRAKPangkalan Pendaratan Ikan Tulandale berada di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Breakwater di PPI Tulandale tidak dapat melindungi kolam pelabuhan dari gelombang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah re-design breakwater pada PPI Tulandale agar dapat melindungi kolam pelabuhan. Simulasi hidrodinamika, transpor sedimen dan transformasi gelombang dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Mike 21 untuk 2 buah skenario. Pada skenario alternatif 1, mulut pelabuhan di perkecil menjadi 50 m dan skenario alternatif 2 pada kondisi breakwater eksisting ditambah bangunan breakwater tegak lurus garis pantai sepanjang 200 m. Simulasi dilakukan selama 15 hari. Hasil analisis pada pemodelan, kondisi arus saat pasang purnama dan perbani bergerak dari arah barat daya kearah timur laut dengan kecepatan 0,00–0,08 m/s untuk alternatif 1, sedangkan kecepatan arus alternatif 2 arus sebesar 0,08–0,16 m/s. Hasil pemodelan hidrodinamika, transpor sedimen dan transformasi gelombang menunjukan bahwa bentuk re-design breakwater pada alternatif 2 efektif untuk melindungi kolam pelabuhan di PPI Tulandale karena dapat mereduksi gelombang sebesar 46,7% dari gelombang diluar kolam pelabuhanKata kunci: re-design breakwater, hidrodinamika, sedimentasi ABSTRACTTulandale Fishing Port Tulandale is located in Rote Ndao district, The province of Nusa Tenggara Timur. The Breakwater in Tulandale Fishing Port could not protect the port basin from the height of waves. The aimed of this study is to re-design breakwater in Tulandale Fishing Port in order to protect the port basin. The Hydrodynamic, sediment transport and waves transformation simulation are applied in this study by using mike 21 software for 2 scenarios. In the first scenario, the port basin width is reduced to 50 m and the second scenario is using the existing breakwater condition with the added breakwater building Perpendicular along the coast line for 200m. The simulation run of 15 days. The result show that the condition during the spring tide and neap tide move from south west to north east with 0.00-0.08 m/s for first scenario, while the current speed for the second scenario is is 0.08-0.16 m/s. Hydrodynamic result, sediment transport and wave transformation model that the shape of re-design breakwater on the second scenario more effective to protect the port basin at The Tuandale Fishing Port because the wave decrease at 46.7% from outside the port basin.Keywords: re-design breakwater, hydrodynamics, sedimentation
Pembesaran Gaya Dalam dan Rasio Kekuatan Elemen Struktur Baja untuk Berbagai Koefisien Modifikasi Respon (R). (Hal. 86-96) Komara, Wahyu Satria; Kamaludin, Kamaludin
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.144 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.86

Abstract

ABSTRAKPerencanaan struktur bangunan yang elastis membuat dimensi struktur yang di desain menjadi lebih besar sehingga biaya pembangunan struktur menjadi meningkat. Struktur bangunan harus di desain dengan suatu konsep tertentu sehingga bangunan tersebut dapat menahan beban yang terjadi secara efisien. Perencanaan struktur bangunan gedung dengan menggunakan koefisien modifikasi respon () ialah merencanakan bangunan untuk mengalami proses plastifikasi pada elemen struktur ketika terjadi gempa. Penelitian ini membandingkan model struktur bangunan dari rangka baja yang terdiri dari 10 lantai, dengan variasi koefisien modifikasi respon () yaitu, =3; 3,5; 4,5; 5; 6; 7; dan 8. Ketujuh model ini juga di dianalisis sesuai dengan sistem penahan gaya seismiknya. Analisis pada penelitian ini menggunakan program ETABS2015. Dari hasil analisis, diperoleh bahwa Semakin kecil nilai koefisien modifikasi respon () yang digunakan mempengaruhi rasio lentur yang terjadi. Perbesaran lentur pada kolom 18 (C18) ketika nilai =3 sebesar 52,47%.Kata kunci: koefisien modifikasi respon (), daktilitas, pembesaran gaya dalam ABSTRACTPlanning an elastic building structure makes the dimensions and designed structures larger and it can increases the cost of the construction itself. The building structures must be designed with a certain concept so, that the building can withstand the loads efficiently. A structure planning using the response modification coefficient () is to plan the building to experience a process of plasticization of the structural elements during an earthquake. This study compares the building structure model of a steel frame consisting of 10 floors, with variation in the modification coefficient of response () from =3; 3,5; 4,5; 5; 6; 7; until 8. The seven models are also analysed according to the seismic force retaining system.  The analysis in this study using the ETABS2015 program. From the results of the analysis, it was found that the smaller the value of the  response modification coefficient used will affects the bending ratio that occurs. The flexural force when the value of =3 in column 18 (C18) is 52.47%.Keywords: response modification coeffient, ductility, inner force enlargement
Studi Mengenai Kadar Maksimum Abu Terbang Sebagai Subtitusi Semen pada Campuran Beton dengan Kuat Tekan Tetap. (Hal. 42-51) Dewanti, Dewindha Putri; Sihotang, Abinhot
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.509 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.42

Abstract

ABSTRAKPenggunaan beton dalam proyek konstruksi yang semakin besar, menuntut penggunaan semen yang semakin tinggi. Upaya yang banyak dilakukan adalah melakukan substitusi semen dengan suatu bahan yang sifatnya sama dengan semen. Abu terbang (fly ash) menjadi salah satu alternatif dalam pengurangan penggunaan semen. Pembuatan campuran beton normal digunakan cara SNI, dan untuk campuran beton abu terbang digunakan perancangan campuran beton metode Dreux dengan permodelan blended cement. Kuat tekan rencana yang dirancang sebesar 40 MPa dengan substitusi semen oleh abu terbang sebesar 0% sampai dengan 50%, dengan nilai pertambahan 5%. Ukuran maksimum agregat kasar yang digunakan adalah 20 mm, dan pengujian berupa kuat tekan beton dilakukakan saat umur beton mencapai 7 hari, 14 hari, dan 28 hari. Hasil kuat tekan beton umur 28 hari menunjukkan kadar maksimum substitusi semen oleh abu terbang menggunakan cara Dreux Gorrise dengan permodelan blended cement hanya mencampai kadar 20% abu terbang.Kata kunci: beton abu terbang, Dreux Gorrise, kuat tekan, semen blended ABSTRACTThe use of concrete in construction projects is getting bigger, demanding the use of cement which is increasingly high. The current effort is to do cement substitution with a material that has the same properties of cement. Fly ash is an alternative in reducing the use of cement. The preparation of normal concrete mixtures is used by SNI method, and for fly ash concrete mixtures, the Dreux method as a blended cement modeling concrete mixture design is used. The planned compressive strength of 40 MPa with cement substitution by fly ash is 0% to 50%, with a 5% increase. The maximum size of coarse aggregate used is 20 mm, and testing in the form of concrete compressive strength is done when the concrete reaches 7 days, 14 days, and 28 days. The results of 28 days old concrete compressive strength showed the maximum cement substitution level by fly ash using the Dreux Gorrise method with blended cement modeling only reaching 20% fly ash content.Keywords: fly ash concrete, Dreux Gorrise, compressive strength, blended cement
Analisis Tebal Lapis Perkerasan Jalan dengan Meninjau Sifat Fisik Agregat Lapis Fondasi Bawah pada Ruas Jalan Sofi-Wayabula Pulau Morotai. (Hal. 97-107) Ningtyas, Nurul Fauziah Endah; Haris, Samun
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.573 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.97

Abstract

ABSTRAKJalan sebagai sarana penunjang transportasi darat memiliki peran penting untuk memenuhi kebutuhan manusia. Salah satu material penting dalam pembuatan jalan adalah agregat. Sifat fisik agregat menjadi salah satu faktor penentu tebal lapisan struktur perkerasan. Ruas jalan Sofi–Wayabula adalah ruas jalan nasional strategis di Pulau Morotai dengan menggunakan perkerasan lentur. Agregat yang digunakan untuk lapis fondasi bawah pada ruas jalan ini adalah kombinasi agregat Eks. Palu dengan agregat Eks. Morotai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tebal lapis fondasi bawah berdasarkan koefisien kekuatan relatif ( ) yang didapat dari nilai CBR kombinasi agregat Eks. Palu dengan agregat Eks. Morotai dan agregat Eks. Palu pada struktur perkerasan lentur. Dari hasil perhitungan metode Manual Perkerasan Jalan 2017 didapatkan tebal lapis fondasi bawah sebesar 15 cm, bernilai sama, baik menggunakan kombinasi agregat Eks. Palu dengan agregat Eks. Morotai, maupun agregat Eks. Palu. Sedangkan, dengan menggunakan Pedoman Perkerasan Jalan Lentur 2011 didapat tebal lapis fondasi bawah sebesar 15,054 cm untuk kombinasi agregat Eks. Palu dengan agregat Eks. Morotai dan 14,608 cm untuk agregat Eks. Palu.Kata Kunci: perkerasan lentur, koefisien kekuatan relatif, lapis fondasi bawah. ABSTRACTRoads as a means of supporting land transportation have an important role to meet human needs. One of important material in road construction is aggregate. The aggregate physical properties become one of the determinants of the pavement thickness structure layer. The road segment of Sofi-Wayabula is a strategic national road in Morotai Island by using flexible pavement. The aggregate used for the sub-base course of the road is combination of aggregate Ex. Palu with Ex. Morotai aggregate. The purpose of this research is to analyze the thickness of the sub-base course based on relative strength coefficient  (a3) obtained from the value of CBR combination of aggregate Ex. Palu with Ex. Morotai aggregate and aggregate Ex. Palu on flexible pavement structures. From the calculation results of the Pavement Road Manual method 2017, the thick of sub-base course is 15 cm, have equal value using the combination of Ex. Palu aggregate with Ex. Morotai aggregate or the Ex.Palu aggregate. Meanwhile, by using Flexible Road Pavement Guideline 2011 the thickness of the sub-base course is 15,054 cm for combination of Ex.Palu aggregate with Ex. Morotai aggregate and 14,608 cm for Ex.Palu.Keywords: flexible pavement, relative strength coefficient, sub-base course.
Analisis Stabilitas pada Perbaikan Tanah Lunak Metode Preloading dengan Menggunakan Metode Elemen Hingga. (Hal. 1-9) Utami, Erdina Tyagita; Hamdhan, Indra Noer; Suwitaatmadja, Kabul
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.643 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.1

Abstract

ABSTRAKTanah lunak merupakan tanah dengan stabilitas rendah yang dapat mengalami penurunan yang besar saat diberi beban. Preloading adalah salah satu cara memperbaiki tanah lunak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas tanah lunak akibat perbaikan tanah menggunakan preloading. Pemodelan dilakukan dengan cara menghitung kenaikan kuat geser tanah. Untuk mencari faktor keamanan dan bidang longsor dilakukan pemodelan dengan menggunakan Metode Elemen Hingga Plaxis 2D dengan pembebanan 2 tahap. Pembebanan pertama yang dilakukan adalah setinggi 5 meter dan pembebanan ke dua yaitu setinggi 1-2 meter. Jarak perbaikan tanah juga dimodelkan dalam penelitian ini sejauh 5 meter, 10 meter, dan 15 meter dari sisi lokasi  timbunan batu bara. Batasan faktor keamanan (SF) minimum terhadap keruntuhan adalah 1,5. Perbaikan tanah dengan metode preloading menyebabkan tanah akan memampat dan dapat stabil dalam menerima beban.Kata kunci: tanah lunak, stabilitas tanah, preloading, faktor keamanan, metode elemen hingga ABSTRACTSoft soils are soils with low stability which can experience a large settlement under loading process. Preloading is one of the ways to improve the soft soil. This study aims to determine the stability of soft soils due to soil improvement using preloading. Modeling is done by calculating the increase in soil shear. To find the safety factor and the landslide field, modeling is done using Finite Element Method 2D Plaxis by two stages of loading. The first loading is 5 meters high and the second loading is 1-2 meters. Ground improvement distances are also modeled in this study as far as 5 meters, 10 meters and 15 meters from the side of the location of the coal emankment. The minimum safety factor (SF) limit to collapse is 1.5. Improvement of the soil using the preloading method causes the soil to compress and can be stable in receiving loads.Keywords: soft soil, soil stability, preloading, safety factor, finite elemen method
Desain Rangka Atap Baja Bentang Panjang dengan Memanfaatkan Konsep BIM. (Hal. 52-63) Rachmawati, Dina Sri; Kamaludin, Kamaludin
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.214 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.52

Abstract

ABSTRAKSaat ini penggunaan konsep BIM dalam prencanaan struktur bangunan sipil sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan konsep BIM adalah suatu konsep pertukaran data informasi antar software salah satu contoh software yang memanfaatkan konsep BIM adalah Tekla Structures dan SAP2000. Untuk pemodelan struktur digunakan Tekla Structures dan untuk proses analisis digunakan SAP2000. Konsep BIM dapat dimanfaatkan untuk menganalisis beban-beban yang terpasang. Penelitian ini dilakukan untuk menghitung beban SDL yang terpasang pada struktur rangka atap secara real yang telah dimodelkan lengkap pada Tekla Strctures. Dilanjutukan dengan menghitung berat SDL kemudian dimasukkan sebagai beban di SAP2000. Tahap ini dilakukan secara terus menerus hingga berat SDL yang terpasang ada Tekla Strctures sesuai dengan data yang diinput pada SAP2000. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa berat penampang yang dirancang menggunakan konsep BIM dan tanpa konsep BIM akurat. Hasil dimensi dari material yang digunakan memenuhi syarat yang telah dilakukan.Kata kunci: Tekla Strutures, BIM, SAP2000 ABSTRACTNowadays, the application of BIM concept in civil structure planning is very necessary. BIM concept allows exchange of data information between softwares. Some of the softwares that use BIM concept are Tekla Structures and SAP2000. For modeling using Tekla Structures and for analysis using SAP2000. BIM concept is applied in order to analyse installed load. This study aims to calculate the installed load by real data. First of the building model of roof truss is completely created in Tekla Structures. Then, we calculate SDL load of the building and input it to SAP2000. This stage is done repeatedly until SDL load in Tekla Structures matches the data in SAP2000. The result shows that there is accurate cross section weight designed with BIM concept or without BIM concept. The dimension of materials that used is eligible.Keywords: Tekla Strutures, BIM, SAP2000
Studi Perancangan Campuran Beton Menggunakan Abu Batu Sebagai Agregat Halus. (Hal. 108-117) Ibrahim, Muhammad Malik; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.035 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.108

Abstract

ABSTRAKSalah satu limbah yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan pembuat beton adalah abu batu. Abu batu merupakan limbah dari proses pemecahan bongkahan batu. Ditinjau dari ukuran butirannya maka abu batu merupakan agregat halus. Abu batu memiliki penyerapan air yang lebih tinggi daripada pasir alami, maka dari itu untuk mendapatkan kelecakan campuran beton yang sama dengan kelecakan campuran beton menggunakan pasir alami, penggunaan abu batu sebagai agregat halus dalam campuran beton perlu tambahan air. Namun hal ini akan menyebabkan faktor air-semen bertambah. Sehingga hasil kuat tekan akan menurun. Hal ini sesuai dengan hubungan antara kuat tekan beton dengan faktor air-semen. Perekayasaan yang dilakukan adalah dengan menaikkan faktor granular (G) dan menaikkan kuat tekan rencana berdasarlan teori Dreux. Abu batu pada penelitian ini digunakan sebagai substitusi pasir alami dengan proporsi 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Hasil penelititan ini memperlihatkan penggunaan abu batu sebagai agregat halus lebih dari 40% akan sangat drastis menurunkan kuat tekan beton.Kata kunci: perekayasaan, substitusi, campuran beton, abu batu, agregat halus ABSTRACTOne of the wastes that can be used as a substitute for concrete materials is stone ash. Stone ash is a waste from the process of stone crusher. Consider from the size of the grain, stone ash as fine aggregate. Stone ash has a higher water absorption than natural sand, therefore to get the concrete workability that is the same as the concrete workability using natural sand, the use of stone ash as fine aggregate in the concrete mixture needs additional water. But this will cause the cement-water ratio to increase. So that the compressive strength will decrease. This is following the relationship between the compressive strength of concrete and the cement-water ratio. Engineering is done by increasing the granular factor (G) and increasing the compressive strength of the plan based on Dreux theory. Stone ash in this study was used as a substitute for natural sand with a proportion of 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, and 100%. The results of this research show that the use of stone ash as fine aggregate of more than 40% will greatly reduce the compressive strength of the concrete.Keywords: engineering, substitute, concrete mixture, stone ash, fine aggregate
Kinerja Persimpangan dengan dan Tanpa Lampu Lalu Lintas pada Jalan Sangkuriang-Jalan Kolonel Masturi, Kota Cimahi. (Hal. 10-19) Elkhasnet, Elkhasnet; Gunawan, Muhamad Bagus
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.822 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.10

Abstract

ABSTRAKPersimpangan Jalan Sangkuriang–Jalan Kolonel Masturi, Kota Cimahi sering mengalami kemacetan karena tingginya volume lalu lintas. Lampu lalu lintas yang tersedia pun tidak digunakan karena dinilai kurang efektif, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk memecahkan permasalahan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei langsung di ruas jalan pada tiap lengan simpang dan juga persimpangannya pada waktu puncak yaitu pukul 06.00–08.00 WIB dan 16.00–18.00 WIB. Kinerja simpang dianalisis menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia Tahun 1997. Pada kondisi eksisting, yaitu simpang tak bersinyal, diperoleh nilai derajat kejenuhan ( ) sebesar 1,299 dan 1,323 pada periode pagi dan sore hari, dimana nilai tersebut tidak memenuhi syarat, karena memiliki nilai lebih dari 0,85. Pada kasus simpang bersinyal, harus dilakukan penyesuaian geometri, dimana pada kasus ini, dilakukan percobaan penambahan lebar efektif pada tiap lengan menjadi sebesar 4 m, dan dihasilkan rata-rata nilai derajat kejenuhan ( ) sebesar 0,76 dan memenuhi syarat, dimana nilai kurang dari 0,85. Kata kunci: simpang tak bersinyal, simpang bersinyal, derajat kejenuhan. ABSTRACTSangkuriang St.–Kolonel Masturi St. Intersection, Cimahi City often faces the traffic jam because of the high traffic volume. The existing traffic lights are not used because they are considered to be less effective, so the research needs to be done to solve these problems. This research was conducted with using a survey method directly on the road section on each approach and also its intersection at the peak times, specifically at 06.00–08.00 WIB and 16.00–18.00 WIB. The intersection performance was analyzed using the 1997 Indonesian Road Capacity Manual. In the existing conditions, unsignalised intersections obtained the value of Volume Capacity Ratio ( ) of 1.299 and 1.323 in the morning and evening periods, where the value does not meet the requirements, because the value that obtained is more than 0.85. In the signalised intersection case, geometry adjustments must be made, where in this case, we did a trial with increasing the effective width to 4 m, and we achieved the average value of Volume Capacity Ratio ( ) of 0.76 and it met the requirements where the value is less than 0.85.Keywords: unsignalised intersection, signalised intersection, volume capacity ratio.
Tinjauan Ulang Mengenai Kadar Maksimum Lumpur Pasir dalam Campuran Beton Cara SNI. (Hal. 64-73) Cozy, Zulfikar; Saelan, Priyanto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.217 KB) | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.64

Abstract

ABSTRAKLumpur pada pasir akan menghalangi lekatan antara pasta semen dengan permukaan pasir, yang berakibat kekuatan mortar berkurang, dan akhirnya kuat tekan beton juga akan ikut berkurang. Kandungan lumpur dalam pasir dibatasi yaitu tidak boleh lebih dari 5% menurut SNI. Namun demikian perlu diteliti lebih lanjut seberapa besar sebenarnya kandungan lumpur dalam pasir yang menyebabkan kuat tekan beton mengalami penurunan secara signifikan. Dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kadar lumpur dalam pasir terhadap kuat tekan beton pada umur 28 hari dengan variasi kadar lumpur yang terdapat pada pasir yaitu 0%; 5%; 7,5%; 10%; 12,5%; 15%; dan 17,5%. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan ukuran diameter 10 cm tinggi 20 cm, slump rencana yang digunakan yaitu 30 mm-60 mm dan 60 mm-180 mm dengan kuat tekan beton rencana 30 MPa. Hasil penelitian menunjukan penurunan kuat tekan beton terjadi pada kadar lumpur lebih dari 5%. Penurunan kuat tekan beton terjadi pada kadar lumpur 5% sampai dengan kadar lumpur 15%, mencapai maksimal 16%.Kata kunci: lumpur, kuat tekan beton, pasir ABSTRACTThe sludge content in the sand will block the attachment between cement paste and the surface of the sand, resulting in reduced mortar strength, and finally the compressive strength of the concrete will also decrease. The sludge content in sand is limited to not more than 5% according to SNI. However, it needs to be investigated further on how much the actual sludge content in the sand that causes concrete compressive strength has decreased significantly. In this study to determine the effect of the level of sludge in the sand on the compressive strength of concrete at 28 days with variations in the levels of sludge found in sand, namely 0%, 5%, 7.5%, 10%, 12.5%, 15% and 17.5%. The specimens used were cylindrical with a diameter of 10 cm in height 20 cm, the planned slump used was 30 mm-60 mm and 60 mm-180 mm with a concrete compressive strength of 30 MPa planned. The results showed a decrease in concrete compressive strength in sludge content of more than 5%. Decreasing concrete compressive strength occurs at 5% sludge content up to 15% sludge content, reaching a maximum of 16%.Keywords: sludge, compressive strength, sand

Page 1 of 3 | Total Record : 24