cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 549 Documents
Analisis Kinerja Persimpangan Jalan Laswi dengan Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung Menggunakan PTV VISSIM 9.0 Fadila Dwithami Ulfah; Oka Purwanti
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.74

Abstract

ABSTRAKPersimpangan Jalan Laswi – Jalan Gatot Subroto merupakan salah satu persimpangan di Kota Bandung yang menghubungkan daerah perkantoran, pendidikan, dan pusat perbelanjaan dengan daerah permukiman. Permasalahan yang terjadi yaitu, besarnya volume arus lalu lintas sehingga menyebabkan panjangnya antrian, dan lamanya tundaan. Tujuan peneletian ini adalah menganalisis kinerja persimpangan eksisting, dan menganalisis pengaruh optimalisasi waktu siklus terhadap kinerja persimpangan tersebut. Berdasarkan kondisi eksisting persimpangan, kinerja persimpangan sudah tidak bisa dianalisis menggunakan MKJI 1997 karena diperoleh  adalah 1,2036 atau simpang sudah lewat jenuh, sehingga analisis dilanjutkan menggunakan PTV VISSIM 9.0. Hasil analisis kinerja persimpangan kondisi eksisting, dan optimalisasi waktu siklus (skenario pangaturan fase sinyal B3) yaitu, penurunan panjang antrian dan tundaan rata-rata simpang sebesar 9,70%, dan penurunan tundaan rata-rata simpang sebesar 19,57%.Kata kunci: persimpangan, panjang antrian, tundaan, lewat jenuh, optimalisasi waktu siklus ABSTRACTIntersection of Laswi road with Gatot Subroto road is one of the intersections in Bandung City that connects offices areas, education areas, and shopping centers areas with residential areas. Problems that occur is the amount of traffic flow that causes the length of the queue, and the length of delay. The purpose of this research was to analyze the performance of the existing intersection, and analyze the optimization of cycle times against the performance of these intersections. Based on existing intersection conditions, intersection performance cannot be analyzed using MKJI 1997 because   adalah 1.2036 or the intersection is over saturated, so the analysis continued using PTV VISSIM 9.0. The results of the intersection performance analysis of existing conditions, and optimization of cycle time (B3 signal phase settings scenario) that is, a decrease in the queue length of the average intersection by 9.70%, and a delay decrease of the intersection average by 19.57%.Keywords: intersection, queue length, delay, over saturated, optimization of cycle time
Kajian Ekonomis Perancangan Sistem Sambungan Struktur Baja pada Rangka Atap dengan Variasi Ukuran Baut, Konfigurasi Baut, dan Mutu Baut Andre Pranata Setialaksana; Bernardinus Herbudiman
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 4: Desember 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i4.1

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya kebutuhan manusia terhadap penggunaan material baja yang berdampak pada meningkatnya harga material baja. Hal ini mendorong para teknisi untuk berusaha menghemat biaya struktur bangunan. Oleh karena itu setiap elemen pembentuk struktur harus didesain ekonomis, efesien, dan memenuhi persyaratan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kombinasi sambungan yang paling ekonomis berdasarkan harga material pelat baja dan baut. Hasil dari kajian ekonomis perancangan sistem sambungan baja dengan studi kasus rangka atap Pasar Sae Sarijadi yang menggunakan metode variasi ukuran baut, konfigurasi baut, dan mutu baut, kombinasi yang dapat menghemat biaya struktur adalah kombinasi A4 (27D, 6 baut, 2 baris), kombinasi B2 (27D, 8 baut, 2 baris), kombinasi C3 (27D, 8 baut, 2 baris), kombinasi D4 (24D, 6 baut, 2 baris), dan kombinasi E2 (16D, 6 baut, 3 baris).Kata kunci:  struktur baja, ekonomis, kombinasi sambunganABSTRACTThe increasing needs for the use of steel material that impacts the rising prices of steel materials, encourages technicians to spare the cost of building structures, therefore every element of the structure must be designed to be economical, efficient, and meet the requirements. This research is intended to find the most economical combination based on the price of steel plate and bolt. The results of the economical study of the design of steel connection systems with the case studies of the roof truss of Pasar Sae Sarijadi using method of bolt size variation, bolt configuration, and bolt quality, the combination that can save the structure cost is combination A4 (27D, 6 bolt, 2 line), combination B2 (27D, 8 bolt, 2 line), combination C3 (27D, 8 bolt, 2 line), combination D4 (24D, 6 bolt, 2 line), and combination E2 (16D, 6 bolt, 3 line).Keywords: steel structure, economical, combination of connections
Analisis Stabilitas Timbunan pada Tanah Dasar Berbentuk Lereng dengan Metode Elemen Hingga Mufidhiansyah Fahmi; Ikhya Ikhya
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 6, No 3: November 2020
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v6i3.179

Abstract

ABSTRAKAnalisis menggunakan program PLAXIS 2D dengan tinggi timbunan dan kemiringan tanah dasar bervariasi tanpa dan dengan perkuatan rock fill sehingga diperoleh kebutuhan rock fill agar faktor keamanan memenuhi syarat. Hasil analisis dengan kemiringan tanah dasar 1V:8H diperoleh kebutuhan rock fill timbunan lempung dengan tinggi 5m, 10m, 15m dan 20m sebesar 0%; 24,7%; 45,5% dan 59,1% sedangkan timbunan pasir sebesar 14,5%; 43,2%; 62,4% dan 71,4%. Pada kemiringan tanah dasar 1V:6H diperoleh kebutuhan rock fill masing-masing ketinggian timbunan lempung sebesar 5%; 45,8%; 59,3% dan 66.6%, sedangkan timbunan pasir sebesar 33,1%; 62,3%; 71,9% dan 73,2%. Pada kemiringan tanah dasar 1V:4H diperoleh kebutuhan rock fill masing-masing ketinggian timbunan lempung sebesar 48,9%; 66,7%; 75,6% dan 81,3%; sedangkan timbunan pasir sebesar 60,1%; 72,6%; 80,5% dan 84%. Variasi jenis mesh menghasilkan faktor keamanan yang tidak signifikan antar jenis mesh dikarenakan lapisan timbunan yang dimodelkan relatif rapat. Analisis geometri tanah dasar bertangga dengan lurus tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap faktor keamanan.Kata kunci: stabilitas lereng, timbunan, tanah dasar, rock fill, metode elemen hingga, PLAXIS 2D ABSTRACTAnalysis using PLAXIS 2D program with varying heights and slopes of subgrade without and with rock fill reinforcement in order to obtain the need for rock fill so that the safety factor meets the requirements. The results of the analysis with a subgrade slope of 1V: 8H obtained the need for rock fill clay pile with a height of 5m, 10m, 15m and 20m of 0%; 24.7%; 45.5% and 59.1% while the sand pile was 14.5%; 43.2%; 62.4% and 71.4%. At a subgrade slope of 1V: 6H, the required rock fill height for each clay pile is 5%; 45.8%; 59.3% and 66.6%, while the sand pile was 33.1%; 62.3%; 71.9% and 73.2%. At 1V: 4H subgrade slope, the required rock fill height for each clay pile height is 48.9%; 66.7%; 75.6% and 81.3%; while the sand pile was 60.1%; 72.6%; 80.5% and 84%. Variation of mesh types resulted in insignificant safety factor between mesh types because the modeled embankment layer was relatively tight. The geometry analysis of the straight stepped subgrade did not show a significant effect on the safety factor.Keywords: slope stability, embankment, subgrade, rock fill, Finite Element method, PLAXIS 2D
Pengembangan Indikator untuk Penilaian Kategori Edukasi Green Campus Rininta Rolia Sita; Emma Akmalah; Siti Ainun
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.70

Abstract

ABSTRAKGreen campus  merupakan suatu konsep yang mengutamakan praktik dari upaya perlindungan, pengelolaan, dan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan pada institusi-institusi pendidikan. Salah satu penilaian green campus adalah penilaian kategori edukasi berbasis sustainable development yang dapat mengarahkan civitas akademica dalam mendukung pembangunan ekonomi yang seimbang dengan faktor lingkungan dan sosial. Penilaian edukasi perlu dilakukan untuk menilai sejauh mana pengetahuan dan penerapan konsep sustainable development dilakukan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengintegrasikan indikator-indikator penilaian kategori edukasi UI GreenMetric dan STARS, yang didukung dengan hasil observasi lapangan seluruh aspek edukasi di Itenas. Hasil pengembangan kategori edukasi ini adalah penentuan indikator, penentuan sub-indikator, dan bobot penilaian dari setiap indikator dan sub-indikator. Bobot tertinggi dari seluruh indikator edukasi adalah indikator academic courses dengan nilai bobot 25%.Kata kunci: green campus, edukasi, sustainable development ABSTRACTGreen campus is a concept that prioritizes the practice of sustainable environmental protection, management and preservation of educational institutions. One aspect of green campus is the assessment of education-based sustainable development category that can direct the academic community in supporting economic development that is balanced with the environment and social factors. Educational assessments should be conducted to assess the extent to which knowledge and application of sustainable development concepts are carried out. The methodology used in this research is integrations the assessment indicators of education category from UI GreenMetric and STARS, supported by field observation of all aspects of education in Itenas. The results of this education category development are the determination of indicators, the determination of the sub-indicators, and the weight of the assessment of each indicator and sub-indicators. The highest weight of all educational indicators is the indicator of academic courses with a weighted value of 25%.Keywords: green campus, education, sustainable development
Analisis Stabilitas Lereng Menggunakan Perkuatan Tanaman Switchgrass Fikri Yudhistira Nugraha; Indra Noer Hamdhan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.71

Abstract

ABSTRAKFaktor cuaca merupakan salah satu faktor yang menyebabkan longsor, upaya penanganan longsor pada lereng melalui rekayasa geoteknik dengan menggunakan teknik-teknik perkuatan tanah membutuhkan penyelesaian dengan biaya yang sangat mahal. Adapun cara alternatif, yaitu dengan sistem soil bioengineering berupa pemanfaatan tanaman, akar merupakan bagian terpenting karena keberadaan akar pada tanah berpengaruh terhadap meningkatnya nilai kohesi tanah. Tanaman yang dapat digunakan yaitu tanaman Switchgrass, yang memiliki panjang akar mencapai kedalaman maksimal 3-4 m. Pemodelan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, kedalaman akar, dan diameter akar. Hasil analisis menggunakan Program PLAXIS 2D AE yang berbasis Elemen Hingga menunjukkan kenaikan nilai faktor keamanan akibat perkuatan tanaman Switchgrass. Persentase kenaikan terbesar kondisi tanpa hujan dan kondisi dengan hujan terjadi pada tanah pasir dengan kemiringan lereng 1 : 1,5 terhadap diameter akar 0,75 mm dengan kedalaman akar 1,5 m, yaitu sebesar 13,79% untuk kondisi tanpa hujan dan 16,24% untuk kondisi dengan hujan.KataKunci: soil bioengineering, tanaman Switchgrass, nilai faktor keamanan, stabilitas lereng. ABSTRACTWeather factor is one of many factors that causes landslides, efforts to handling the landslide on slope through geotechnical engineering with soil reinforcement technique require completion at a cost that’s very expensive. As an alternative way, soil bioengineering system in the form of utilization of plants can be chosen and the root is the most important part because the existence of the root on the ground affects on increasing the value of soil cohesion. The plants that can be used namely Switchgrass, which has long roots reaching a maximum depth of 3-4 m. The modeling have been done by considering the rain factor, inclination of slope, soil type, root depth and root diameter. The result of analysis with Program PLAXIS 2D AE indicate the value of the safety factor are increased due to plant Switchgrass. The largest increase in the percentage of the condition without rainfall and conditions with rainfall are sand, with a slope 1:1.5 root diameter 0.75 mm, depth of root 1.5 m, that is 13.79% for the condition without rainfall and 16.24% for the condition with rainfall.Keywords: soil bioengineering, Switchgrass, safety factor, slope stability.
Kajian Perancangan Komposisi Beton Memadat Mandiri dengan Menggunakan Batu Apung Mohamad Mugni Taufik; Bernardinus Herbudiman
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.1

Abstract

ABSTRAKBeton ringan memadat mandiri atau Lightweight Self-Compacting Concrete (LWSCC) merupakan suatu inovasi teknologi beton. Memiliki kelecakan tinggi, bobot ringan dan kuat tekan struktural, penggunaan LWSCC diharapkan dapat memangkas biaya konstruksi secara signifikan. Bahan yang digunakan antara lain batu apung, RCC-15 serta superplasticizer. Komposisi yang digunakan adalah volume agregat kasar dari volume agregat total ( ) sebesar 40 %; kadar RCC-15 17,5 %,  20 % dan 22,5 % dari powder; dosis superplasticizer 0,9 %, 0,95 %, 1,0 %, 1,05 % dan 1,1 % dari powder. Terdapat 15 mix design dengan 3 benda uji untuk setiap mix design. Pengujian yang dilakukan adalah uji slump flow, uji kuat tekan, dan penimbangan benda uji untuk mengetahui berat isi. Semua benda uji memenuhi syarat karakteristik SCC, dengan slump flow antara 53,5 cm hingga 74,5 cm, dan diketahui bahwa slump flow membesar apabila dosis superplasticizer ditambah. Semua mix design menghasilkan beton ringan, dengan berat isi maksimum 1.592 kg/m3. Namun kuat tekan seluruh benda uji tidak mencapai kuat tekan struktural, dengan kuat tekan yang dihasilkan maksimum sebesar 14,21 MPa.Kata kunci: beton memadat mandiri, perancangan komposisi, batu apung ABSTRACTLightweight concrete that compact independently or Lightweight Self-Compacting Concrete (LWSCC) is an innovation in concrete technology. Having a high workability, light in weight, and structural compression strength, LWSCC expected to cut construction costs significantly. The materials used include pumice, RCC-15 and superplasticizer. Composition used is coarse agregat volume of total aggregate ( ) is 40 %; RCC-15 level is 17.5 %, 20 % and 22.5 % of powder; superplasticizer dosage 0.9 %, 0.95 %, 1.0%, 1.05 % and 1.1 % of powder. There are 15 mix designs and 3 specimens for each mix design. Tests run are slump flow test, compression strength test, and weighing to determine bulk density of concrete. All specimens eligible the SCC characteristics, with slump flow of 53.5 cm to 74.5 cm, and it is known that the slump flow enlarged if the superplasticizer dose added. All mix designs produce lightweight concrete, with maximum bulk density 1,592.19 kg/m3. Nevertheless, no specimens reach structural compression strength, with maximum compression strength gained of 14.21 MPa.Keywords: self compacting concrete, mix design, lightweight aggregate
Kajian Batasan Nilai Faktor Air Semen pada Campuran Beton di Lingkungan Korosif Nizar Farhan Rulian; Priyanto Saelan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 6, No 2: Juli 2020
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v6i2.123

Abstract

ABSTRAKBeton adalah material konstruksi yang pada saat ini sudah sangat umum digunakan. Saat ini berbagai bangunan sudah menggunakan material dari beton. Pentingnya peranan konstruksi beton menuntut suatu kualitas beton yang memadai, beton tidak hanya digunakan di darat melainkan dapat digunakan juga di dalam air laut. Beton yang berada pada lingkungan korosif atau beton yang terendam air laut nilai faktor air-semennya dibatasi oleh SNI. Nilai maksimum faktor air-semen pada lingkungan air laut yaitu sebesar 0,45. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah nilai faktor air-semen masih dapat diperbesar lagi melebihi batas maksimal menurut SNI sesuai dengan kekuatan dan ketahanan yang dapat digunakan pada beton yang terendam air laut. Metodologi ini adalah dengan mengumpulkan data sekunder tentang pengaruh faktor air-semen pada beton yang dirawat menggunakan air laut. Penelitian ini memprediksikan permeabilitas yang berada pada air laut dengan variasi faktor air-semen yaitu sebesar 0,40; 0,50; dan 0,60. Kesimpulan penelitian ini adalah faktor air-semen dapat diperbesar sampai dengan 0,50 apabila umur rencana bangunan 50 tahun.Kata kunci: beton, permeabilitas, faktor air semen ABSTRACT 
Kajian Eksperimental Perilaku Lentur Balok Laminasi Lengkung dari Kayu Jabon Erma Desmaliana
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 3: September 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i3.12

Abstract

ABSTRAKKayu laminasi merupakan salah satu produk kayu rekayasa berupa kayu komposit sebagai representasi yang baik dalam efisiensi penggunaan sumber daya alam yang tersedia dari HTI dan HTR. Penggunaan kayu laminasi bertujuan untuk mengatasi keterbatasan dimensi kayu untuk aplikasi komponen struktural. Pada penelitian ini dibuat balok kayu laminasi menggunakan kayu Jabon (kayu cepat tumbuh) dengan dimensi 50 mm * 50 mm * 760 mm (dengan tebal tiap lamina 5 mm) dan tinggi pelengkung 5 cm, serta variasi bentuk yaitu horizontal dan lengkung. Perekat yang digunakan yaitu perekat sintesis tipe Poly Urethane merek Excel One. Pembebanan pada balok dilakukan di atas tumpuan sederhana dengan metode one point loading. Hasil pengujian memperlihatkan kapasitas lentur balok kayu glulam lengkung dalam memikul beban maksimum meningkat sebesar 18,67% dibandingkan dengan balok kayu glulam horizontal.Kata kunci: kayu cepat tumbuh, kayu laminasi, lengkung, Jabon, HTI, HTR ABSTRACTLaminate wood is one of wood engineering products in the form of composite wood as a good representation in the efficient use of natural resources available from HTI and HTR. The use of laminated wood aims to overcome the limitations of wood dimensions for the application of structural components. In this study, laminated wooden beams using Jabon wood (fast growing tree) with dimensions of 50 mm * 50 mm * 760 mm (with a thickness of 5 mm each lamina) and 5 cm high arch and horizontal and curved shape variations. The adhesive used is Poly Urethane type synthesized adhesive of Excel One. The loading on the beam is done on a simple pedestal with one point loading method. The test results show that the flexural capacity of the arched laminated beam in carrying peak load is increased by 18.67% compared to the horisontal laminated wooden beam.Keywords: fast growing tree, laminated wood, arch, Jabon, HTI, HTR
Perbandingan Peta Gempa pada Analisis Potensi Likuefaksi (Studi Kasus Jalan Tol Ruas Probolinggo – Banyuwangi Seksi II) Ahmad Faisal Amri; Ikhya Ikhya
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 6, No 2: Juli 2020
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v6i2.64

Abstract

ABSTRAKProbolinggo Jawa timur memiliki sesar yang berpotensi akan terjadinya gempa. Sesar Probolinggo bergerak sebesar 0,2 mm per tahun. Pasir lepas yang terdapat pada jalan tol Probolinggo – Banyuwangi ini sebagai salah satu indikasi potensi likuefaksi. Analasis potensi likuefaksi menggunakan metode Seed et al (1985). Analisis potensi likuefaksi pada tanah ini menggunakan beberapa peta gempa dan variasi fines content pada tanah. Perbedaan percepatan gempa dan fines content pada beberapa peta gempa tersebut akan menunjukan pengaruh pada potensi terjadinya likuefaksi pada tanah. Hasil penelitian tanah dengan kandung fines content 35 % terjadi likuefaksi lebih sedikit dibanding tanah dengan kandungan fines content yang lebih kecil. Hal tersebut terjadi karena nilai fines content berpengaruh pada hasil CRR. Peta gempa dengan periode ulang lebih besar memiliki percepatan gempa besar sehinnga terjadi titik likuefaksi lebih banyak dibanding peta gempa dengan periode ulang lebih kecil. Hal tersebut terjadi karena percepatan gempa berpengaruh pada nilai CSR.Kata Kunci: CSR, CRR, fines content, likuefaksi, percepatan gempa ABSTRACTProbolinggo, East Java has a fault that has the potential to cause an earthquake. The Probolinggo Fault moves by 0.2 mm per year. The loose sand found on the Probolinggo – Banyuwangi toll road is an indication of the potential for liquidation. Analysis of the potential for liquefaction using the method of Seed et al (1985). Analysis of the potential for liquefaction on this land using several earthquake maps and variations in soil content. The difference in earthquake acceleration and fines content on some earthquake maps will show the effect on the potential occurrence of liquefaction on the ground. The results of soil research with 35% fines content have fewer liquefaction compared to soil with smaller fines content. This happens because the value of fines content affects the CRR results. Earthquake maps with greater return periods have large earthquake acceleration so that there are more liquefaction points than earthquake maps with smaller return periods. This happens because the earthquake acceleration affects the value of CSR.Keywords: CSR, CRR, fines content, liquefaction, earthquake acceleration
Kajian Ketersediaan Air di Sungai Cimande untuk Kebutuhan Air bagi Masyarakat di Kecamatan Cimanggung Sumedang Moch Hanhan Hanafi; Yedida Yosananto
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 1: Maret 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i1.112

Abstract

ABSTRAKSungai merupakan salah satu sumber air permukaan, sehingga banyak digunakan untuk berbagai macam keperluan. Pada tahun 2016 PDAM TIRTAMUKTI menggunakan Sungai Cimande sebagai sumber utama air. Masyarakat merasa khawatir  dengan digunakannya sungai ini sebagai sumber utamanya, karena sungai ini banyak digunakan untuk kebutuhan masyarakat lainya. Saat musim hujan pengurangan debit Sungai Cimande tidak terasa akan tetapi pada saat kemarau kemungkinan besar pengurang debit akan terasa pada penduduk, selain itu meningkatnya jumlah penduduk pada tiap tahun akan mempengaruhi kebutuhan air yang terus meningkat. Metode perhitungan yang digunakan dalam mencari ketersediaan air adalah metode debit andalan dan weibull, sedangkan perhitungan untuk proyeksi penduduk dan proyeksi jumlah pelanggan adalah metode geometrik. Berdasarkan hasil perhitungan bahwa ketersediaan air pada tahun 2036 adalah 3,3 m3/detik sedangkan untuk kebutuhan air dari irigasi, PDAM, industri dan penduduk pada tahun 2036 adalah 0,4034 m3/detik. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa ketersediaan air mampu memenuhi kebutuhan air penduduk pada tahun 2036.Kata kunci: Cimanggung, debit andalan, kebutuhan air, ketersedian air ABSTRACTRiver is one of the many source of surface water, because of that river often use for many activities. In 2016 PDAM TIRTAMUKTI use Cimande river for mainly source. People is worried about that because the river also use for many things. At rainy season decrease of discharge is not see but at summer decrease of discharge maybe will felt for a people, then incrase of the population every year  will make incrase of the water need. Calculation methods use look for water availability is depenable discharge and for projection of population and PDAM customer is  geometric metohds. Base of calculation in 2036 water availability is 3,3 m3/sec and water need for irigation, PDAM, and people  are 0,4034 m3/sec. Base of that the conclusion is water availability in 2036 can fullfilled water need in 2036.    Keywords: Cimanggung, dependable discharge, water needs, water availability