cover
Contact Name
Andi Musthafa Husain
Contact Email
andimusthafa@gmail.com
Phone
+6281328760156
Journal Mail Official
siradpelitawawasan@gmail.com
Editorial Address
Ngelosari, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
SiRad: Pelita Wawasan
Published by Yayasan Nurul Musthafa
ISSN : -     EISSN : 30905591     DOI : https://doi.org/10.64728/sirad.v1i1.art1
The name "SiRad" is an abbreviation of Pelita Wawasan, which translates as "The Light of Insight" a symbol of enlightenment in the world of knowledge. The term also draws inspiration from the Arabic word siraj (siraj), meaning lamp or light, as mentioned in the Quran as a symbol of illumination. In the context of this journal, SiRad represents an intellectual beacon that sheds light on academic discourse and social transformation. Jurnal SiRad: Pelita Wawasan is an open-access scholarly journal published by Yayasan Nurul Musthafa. This journal focuses on the publication of research articles, literature reviews, case studies, and conceptual papers that critically address contemporary issues in the fields of education, humanities, and social sciences. This journal serves as a platform for advancing transformative thinking, interdisciplinary approaches, and critical reflection on the dynamics of education, culture, society, and public policy. Topics covered by this journal include but are not limited to Education - learning technologies, religious moderation, curriculum innovation; Humanities - cultural studies, communication, history, and Islamic civilization; Social Sciences - public policy, political dynamics, behavioral economics, and the intersection of religion and society. Jurnal SiRad: Pelita Wawasan is published three times a year in February, June, and October, and is freely accessible to support inclusive and impactful knowledge dissemination.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 12 Documents
Search results for , issue "February (Vol. 2 No. 1, 2026)" : 12 Documents clear
The Ethical Framework of Islamic Religious Education Learning Algorithms in Addressing Educational Technology Bias for Strengthening Islamic Character in the Digital Era: Etika Algoritma Pembelajaran PAI dalam Mengatasi Bias Teknologi Pendidikan untuk Penguatan Karakter Islam di Era Digital Muzakky, Faiz; Sholihah, Failasufa
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 2 No. 1, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i1.art7

Abstract

The development of algorithm driven educational technologies has transformed the ways in which learners comprehend instructional content and engage with religious values within digital spaces. The integration of algorithms into Islamic Religious Education (IRE) introduces latent issues of bias that often remain unrecognized and may impede the internalization of moral character. This study aims to examine the ethical principles of algorithmic systems and to formulate bias mitigation approaches that are aligned with the normative foundations of Islamic education. Employing a qualitative library-based research design, this study synthesizes recent scholarly literature, policy reports, and relevant empirical studies addressing educational technologies in the digital era. The analysis focuses on identifying sources of algorithmic bias and assessing their implications for value-based learning and character formation. The findings indicate that algorithmic bias extends beyond technical dimensions to encompass cultural and pedagogical factors, such as when content recommendation systems overlook learners spiritual contexts or generate unequal access to meaningful learning experiences. By integrating algorithmic ethics with an Islamic moral education framework, this study proposes a bias mitigation model that positions teachers as custodians of values, prioritizes transparency in algorithmic processes, and harmonizes technological use with principles of justice, responsibility, and moral awareness. Technology does not inherently strengthen character; rather, it must be deliberately guided through ethical and value-oriented design to ensure that Islamic Religious Education remains a vital space for the cultivation of spiritual integrity in the digital age. [Perkembangan teknologi pendidikan berbasis algoritma mengubah cara peserta didik memahami materi dan berinteraksi dengan nilai-nilai agama di ruang digital. Integrasi algoritma dalam pembelajaran PAI menyisakan persoalan bias yang kerap tidak disadari dan berpotensi menghambat proses internalisasi akhlak. Penelitian ini bertujuan menelaah prinsip etika algoritma dan merumuskan pendekatan mitigasi bias, selaras dengan karakter pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka yang menghimpun literatur mutakhir, laporan kebijakan, serta penelitian relevan terkait teknologi di era digital dalam pendidikan, penelitian ini menganalisis sumber-sumber bias serta implikasinya terhadap pembelajaran nilai dan pembentukan karakter. Temuan menunjukkan bahwa bias algoritmik tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga kultural dan pedagogis, misalnya ketika sistem rekomendasi materi mengabaikan konteks spiritualitas peserta didik atau menghasilkan ketimpangan akses terhadap pengalaman belajar bermakna. Penelitian mengintegrasikan etika algoritma dengan kerangka pembentukan akhlak Islami, menghasilkan model mitigasi bias yang menempatkan guru sebagai pengendali nilai, mengutamakan transparansi proses algoritmik, serta menyerasikan teknologi dengan prinsip keadilan, tanggung jawab, dan kesadaran moral. Teknologi tidak otomatis memperkuat karakter, tetapi harus diarahkan melalui desain yang etis dan bernilai, sehingga pembelajaran PAI tetap berfungsi sebagai ruang pengembangan integritas spiritual di era digital.]
The Impact of Digital Tools on Student Engagement in Secondary Schools of Sri Lanka: Dampak Alat Digital terhadap Keterlibatan Siswa di Sekolah Menengah di Sri Lanka Olokku Patabendige, Dileepa Thathsara
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 2 No. 1, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i1.art4

Abstract

In Sri Lanka, the use of digital learning tools in secondary schools has been increasing, but their impact on student engagement is not fully understood. This study aimed to examine how digital learning tools affect cognitive, emotional, and behavioural engagement of students. A mixed-methods design was used, combining quantitative and qualitative data. A total of 120 students from Grades 9 to 11 were selected using simple random sampling, and 10 teachers were selected purposively for interviews. Quantitative data were collected through a structured student engagement questionnaire and analysed using SPSS. Descriptive statistics and paired sample t-tests were applied to compare engagement levels before and after using digital tools. The results showed a significant increase in overall student engagement (p < 0.05), with improvements in attention, interest, participation, and motivation during digitally supported lessons. Qualitative data from teacher interviews and classroom observations supported these findings, highlighting that digital tools made lessons more interactive and engaging. Challenges such as limited access to devices and lack of teacher training were also reported. The study concludes that digital learning tools can positively enhance student engagement in Sri Lankan secondary schools if teachers are trained and schools provide proper infrastructure. The findings suggest the need for policies and support systems to make digital learning effective and inclusive. [Di Sri Lanka, penggunaan alat pembelajaran digital di sekolah menengah terus meningkat, namun dampaknya terhadap keterlibatan siswa belum sepenuhnya dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk menguji bagaimana alat pembelajaran digital memengaruhi keterlibatan kognitif, emosional, dan perilaku siswa. Desain metode campuran (mixed-methods) digunakan dengan menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif. Sebanyak 120 siswa dari Kelas 9 hingga 11 dipilih menggunakan pengambilan sampel acak sederhana, dan 10 guru dipilih secara purposif untuk diwawancarai. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner keterlibatan siswa yang terstruktur dan dianalisis menggunakan SPSS. Statistik deskriptif dan uji-t sampel berpasangan diterapkan untuk membandingkan tingkat keterlibatan sebelum dan sesudah menggunakan alat digital. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa secara keseluruhan ($p < 0,05$), dengan peningkatan pada aspek perhatian, minat, partisipasi, dan motivasi selama pelajaran yang didukung secara digital. Data kualitatif dari wawancara guru dan observasi kelas mendukung temuan ini, menyoroti bahwa alat digital membuat pelajaran menjadi lebih interaktif dan menarik. Tantangan seperti akses terbatas ke perangkat dan kurangnya pelatihan guru juga dilaporkan. Studi ini menyimpulkan bahwa alat pembelajaran digital dapat meningkatkan keterlibatan siswa secara positif di sekolah menengah Sri Lanka jika guru dilatih dan sekolah menyediakan infrastruktur yang memadai. Temuan ini menyarankan perlunya kebijakan dan sistem pendukung untuk membuat pembelajaran digital menjadi efektif dan inklusif.]
Household Vulnerability and Migration Decisions under Food Insecurity in Nangarhar, Afghanistan: Kerentanan Rumah Tangga dan Keputusan Migrasi di Bawah Kondisi Ketahanan Pangan yang Buruk di Nangarhar, Afghanistan Akhtar, Imranullah; Qaderi, Ahmad Shah; Sekandary, Muhammad Ibrahim
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 2 No. 1, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i1.art5

Abstract

In a country like Afghanistan, whose economy is largely based on agriculture, food security and migration are deeply intertwined, especially in Nangarhar province. This study assesses the relationship between household food security, economic status, and migration and attempts to clarify the role of food insecurity in shaping migration decisions. The study was conducted based on a cross-sectional survey, in which data were collected from 520 farmers from 9 districts of Nangarhar province. A structured questionnaire was used to collect data, and purposive sampling was used. Household food consumption was assessed based on the previous seven days, as well as children’s school attendance and household economic status. Descriptive statistics and Pearson Correlation were used to analyse the data to obtain accurate and reliable results. The results of the study show that although most households have access to basic foods such as bread and rice every day, they consume very little of nutritious foods such as meat, dairy products, and vegetables. In addition, children’s school dropout is closely linked to the poor economic status of households. The findings indicate that malnutrition and economic problems are important drivers of migration. The study concludes that strengthening targeted programs for household economic empowerment, agricultural development, and food security can reduce malnutrition and mitigate the negative impacts of livelihood-based migration. This study provides important scientific and practical insights for development policy and migration management in Afghanistan. [Di negara seperti Afghanistan, yang ekonominya sebagian besar berbasis pada pertanian, ketahanan pangan dan migrasi saling terkait erat, khususnya di provinsi Nangarhar. Studi ini menilai hubungan antara ketahanan pangan rumah tangga, status ekonomi, dan migrasi, serta berupaya mengklarifikasi peran ketidaktahanan pangan dalam membentuk keputusan migrasi. Penelitian ini dilakukan berdasarkan survei potong-lintang (cross-sectional), di mana data dikumpulkan dari 520 petani dari 9 distrik di provinsi Nangarhar. Kuesioner terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data, dan teknik pengambilan sampel bertujuan (purposive sampling) diterapkan. Konsumsi pangan rumah tangga dinilai berdasarkan tujuh hari sebelumnya, serta kehadiran anak-anak di sekolah dan status ekonomi rumah tangga. Statistik deskriptif dan Korelasi Pearson digunakan untuk menganalisis data guna mendapatkan hasil yang akurat dan andal. Hasil studi menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar rumah tangga memiliki akses ke makanan pokok seperti roti dan nasi setiap hari, mereka mengonsumsi sangat sedikit makanan bergizi seperti daging, produk susu, dan sayuran. Selain itu, angka putus sekolah anak-anak berkaitan erat dengan status ekonomi rumah tangga yang buruk. Temuan ini menunjukkan bahwa malnutrisi dan masalah ekonomi merupakan pendorong utama migrasi. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan program-program yang ditargetkan untuk pemberdayaan ekonomi rumah tangga, pengembangan pertanian, dan ketahanan pangan dapat mengurangi malnutrisi serta memitigasi dampak negatif dari migrasi berbasis penghidupan. Studi ini memberikan wawasan ilmiah dan praktis yang penting bagi kebijakan pembangunan dan pengelolaan migrasi di Afghanistan.]
Empirical Analysis of PowerPoint Projector Use on Secondary School Performance in Physics and Chemistry in Malawi: Analisis Empiris Penggunaan Proyektor PowerPoint terhadap Performa Siswa Sekolah Menengah pada Mata Pelajaran Fisika dan Kimia di Malawi Valaro, Arnold; Kamtukule, Sydney; Nyasulu, Moses
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 2 No. 1, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i1.art6

Abstract

This comprehensive empirical study investigates the impact of PowerPoint projector technology on academic performance in Physics and Chemistry across diverse secondary school settings in Malawi. Utilizing a quasi-experimental design with paired observations, the research analyses examination scores from 247 students across Forms 1–4 in five educational institutions. The findings reveal a statistically significant improvement in Chemistry performance with projector use (mean increase of 2.6 points, p=0.03, Cohen's d=0.22), while Physics shows minimal overall gains (mean increase of 1.6 points, p=0.12). Crucially, the study identifies a systematic pattern of teacher qualification mismatch, where Physics classes using projectors were predominantly taught by teachers with Chemistry qualifications. This misalignment potentially undermines technological benefits. The research demonstrates that lower-performing students benefit disproportionately from projector instruction, suggesting equity-enhancing potential. The study concludes that Power Point projector effectiveness is mediated by pedagogical alignment, teacher expertise, and subject-specific requirements rather than being an inherent property of the technology. Recommendations include integrated teacher training programs, strategic resource allocation aligned with teacher specialization, and development of context-appropriate digital content. [Studi empiris komprehensif ini menyelidiki dampak teknologi proyektor PowerPoint terhadap performa akademik dalam mata pelajaran Fisika dan Kimia di berbagai setting sekolah menengah di Malawi. Menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan observasi berpasangan, penelitian ini menganalisis skor ujian dari 247 siswa di Kelas 1–4 (Form 1–4) di lima institusi pendidikan. Temuan menunjukkan peningkatan yang signifikan secara statistik pada performa Kimia dengan penggunaan proyektor (peningkatan rata-rata 2,6 poin, $p=0,03$, Cohen's $d=0,22$), sementara Fisika menunjukkan keuntungan keseluruhan yang minimal (peningkatan rata-rata 1,6 poin, $p=0,12$). Hal yang krusial, studi ini mengidentifikasi pola sistematis ketidaksesuaian kualifikasi guru, di mana kelas Fisika yang menggunakan proyektor didominasi oleh guru dengan kualifikasi Kimia. Ketidaksesuaian ini berpotensi merusak manfaat teknologi. Penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan performa rendah mendapat manfaat yang jauh lebih besar dari pengajaran menggunakan proyektor, yang menunjukkan potensi peningkatan ekuitas. Studi ini menyimpulkan bahwa efektivitas proyektor PowerPoint dimediasi oleh keselarasan pedagogis, keahlian guru, dan persyaratan khusus mata pelajaran, alih-alih menjadi sifat bawaan dari teknologi tersebut. Rekomendasi mencakup program pelatihan guru yang terintegrasi, alokasi sumber daya strategis yang diselaraskan dengan spesialisasi guru, dan pengembangan konten digital yang sesuai dengan konteks.]
Towards Ensuring Credible Electoral Process in Nigeria’s Fourth Republic: Issues and Challenges: Menuju Penjaminan Proses Pemilu yang Kredibel di Republik Keempat Nigeria: Isu dan Tantangan Omotoso, Femi; Nwaguru, John
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 2 No. 1, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i1.art2

Abstract

All over the world, elections are the defining feature of democracy. Hence, a key component of democratic consolidation is electoral credibility, which guarantees legitimacy and reflection of the people's will in the outcomes of election results. Nigeria’s Fourth Republic has been faced with various attempts toward electoral reforms to ensure the credibility of elections since 1999. Nonetheless, persistent issues still threaten the integrity, and credibility of electoral procedures and outcomes. However, irrespective of the various electoral reform attempts/efforts, such as the Electoral Act 2022 and the introduction of technological tools like card readers, BVAS, and IReV, the electoral system’s credibility is still questionable. This paper critically examines the issues and challenges affecting electoral credibility in Nigeria such as electoral violence, vote commodification, weak electoral institution, judicial inconsistencies, voters’ apathy, political interference, technological limitations, among others. Theoretically, the democratic and institutional theories served as the theoretical foundations for this work. Methodologically, the study adopted survey research design as it utilised both primary and secondary sources of data. The primary source of data was derived through the use of questionnaire instrument, while the secondary source was derived from scholarly works in books, journals, magazines, INEC reports, electoral NGOs reports, among others. Data presentation and analysis was done both quantitatively and qualitatively. The results and findings proves that strengthening political institutions, improving election adjudication mechanisms, and enhancing INEC’s operational capacity are critical steps toward achieving free, fair, transparent elections and active citizen participation in Nigeria. Conclusively, this study submits that trust deficit in INEC, the judiciary, and security agencies must be tackled with decisive reforms, including technological upgrades, independent oversight, and civic education. [Di seluruh dunia, pemilihan umum merupakan ciri utama demokrasi. Oleh karena itu, salah satu komponen kunci dalam konsolidasi demokrasi adalah kredibilitas pemilu, yang menjamin legitimasi serta pencerminan kehendak rakyat dalam hasil pemilihan. Republik Keempat Nigeria telah menghadapi berbagai upaya reformasi pemilu sejak 1999 untuk menjamin kredibilitas pemilu. Namun demikian, berbagai persoalan yang terus berulang masih mengancam integritas dan kredibilitas prosedur serta hasil pemilu. Terlepas dari berbagai upaya reformasi pemilu seperti Undang-Undang Pemilu 2022 dan pengenalan perangkat teknologi seperti card reader, BVAS, dan IReV kredibilitas sistem pemilu masih dipertanyakan. Artikel ini mengkaji secara kritis isu dan tantangan yang memengaruhi kredibilitas pemilu di Nigeria, antara lain kekerasan pemilu, komodifikasi suara, lemahnya lembaga penyelenggara pemilu, inkonsistensi peradilan, apatisme pemilih, intervensi politik, keterbatasan teknologi, dan faktor lainnya. Secara teoretis, teori demokrasi dan teori institusional digunakan sebagai landasan analisis. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan desain penelitian survei dengan memanfaatkan sumber data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui instrumen kuesioner, sedangkan data sekunder berasal dari karya ilmiah berupa buku, jurnal, majalah, laporan INEC, laporan LSM pemantau pemilu, dan sumber lainnya. Penyajian dan analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan lembaga politik, perbaikan mekanisme penyelesaian sengketa pemilu, serta peningkatan kapasitas operasional INEC merupakan langkah krusial untuk mewujudkan pemilu yang bebas, adil, dan transparan serta mendorong partisipasi aktif warga negara di Nigeria. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa defisit kepercayaan terhadap INEC, lembaga peradilan, dan aparat keamanan harus diatasi melalui reformasi yang tegas, termasuk peningkatan teknologi, pengawasan independen, dan pendidikan kewargaan.]
Schematic Structure of Kandatu Speeches: A Genre-Based Analysis: Struktur Skematis Pidato Kandatu: Analisis Berbasis Genre Pandapatan, Sittie Aina T.; Hussain, Basmah S.; Pandapatan, Alican
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 2 No. 1, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i1.art11

Abstract

The study aimed to analyze the schematic structure of Kandatu speech of Meranaw and to develop a model genre structure. The study employed a qualitative research design specifically descriptive. The data were collected from the three kandatu speeches. The study identified the obligatory moves in the public speeches. Without these obligatory moves, the speech will not be complete as a specific genre. Using the genre-based analysis of Swales (1990), the researcher identified the schematic structure of Kandatu speech. With the Huttner’s (2010) framework of classifying moves and steps, the study identified 10 obligatory steps for the three obligatory moves. For the Move 1 (Introduction), the obligatory steps were Basmalah, Greeting, Praising Allah, and Praising Muhammad. For the Move 2 (Body), the identified obligatory steps were Describing the ceremony, Stating the purpose of the ceremony, Narrating historical/religious accounts, and Discussing the importance of insana (trust). For the Move 3 (Conclusion), the obligatory steps were seeking consensus from the respected datus and greeting. Future researchers may focus also on the other Meranaw speeches to test genre relative to the Kandatu speeches. This would support strongly the genre being established and analyzed. [Penelitian ini bertujuan untuk analisis struktur skematis pidato Kandatu masyarakat Meranaw serta mengembangkan suatu model struktur genre. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif, khususnya bersifat deskriptif. Data dikumpulkan dari tiga pidato Kandatu. Penelitian ini mengidentifikasi langkah-langkah (moves) wajib dalam pidato publik tersebut. Tanpa adanya langkah-langkah wajib ini, pidato tidak dapat dianggap lengkap sebagai suatu genre tertentu. Dengan menggunakan analisis berbasis genre dari Swales (1990), peneliti mengidentifikasi struktur skematis pidato Kandatu. Selanjutnya, dengan menggunakan kerangka klasifikasi langkah dan tahapan dari Huttner (2010), penelitian ini mengidentifikasi sepuluh tahapan wajib yang termasuk dalam tiga langkah wajib. Pada Langkah 1 (Pendahuluan), tahapan wajib yang ditemukan meliputi pembacaan Basmalah, salam pembuka, pujian kepada Allah, dan pujian kepada Nabi Muhammad. Pada Langkah 2 (Isi), tahapan wajib yang diidentifikasi meliputi deskripsi upacara, penyampaian tujuan upacara, penceritaan kisah-kisah historis atau keagamaan, serta pembahasan mengenai pentingnya insana (kepercayaan). Pada Langkah 3 (Penutup), tahapan wajib meliputi permohonan kesepakatan dari para datu yang dihormati dan penyampaian salam penutup. Para peneliti di masa mendatang, mari memfokuskan perhatian pada pidato Meranaw lainnya untuk menguji genre relatif terhadap dialek Kandatu. Hal ini akan sangat mendukung genre yang sedang ditetapkan dan dianalisis.]
Integrating Perceptions of Intercultural Aspects of ELT into Nepali Classrooms: Mengintegrasikan Persepsi Aspek Interkultural dalam Pengajaran Bahasa Inggris (ELT) ke dalam Kelas di Nepal Khanal, Kamal
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 2 No. 1, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i1.art3

Abstract

Around the world, intercultural competency is becoming more widely acknowledged as a crucial element of English language teaching (ELT). Language proficiency is frequently prioritized over the rich cultural aspects of English-speaking communities in Nepal, where classrooms are multilingual and culturally diverse. This study investigates how Nepalese educators and learners view the incorporation of the target culture into EFL lessons. Data were gathered from ten EFL teachers and 20 high school students in Kathmandu, using a mixed-methods approach. The results show that although both teachers and students appreciate the inclusion of the target culture, effective cultural instruction is hampered by real-world issues like out-of-date textbooks, inadequate training, and little exposure in the classroom. It is suggested that in order to improve intercultural communicative competence, teachers be trained in cultural pedagogy, intercultural materials be incorporated into textbooks and experiential learning be encouraged. [Di seluruh dunia, kompetensi interkultural semakin diakui sebagai unsur penting dalam pengajaran bahasa Inggris (English Language Teaching/ELT). Di Nepal, di mana ruang kelas bersifat multibahasa dan beragam secara kultural, kemahiran berbahasa sering kali lebih diprioritaskan dibandingkan kekayaan aspek budaya dari komunitas penutur bahasa Inggris. Penelitian ini mengkaji bagaimana pendidik dan peserta didik di Nepal memandang pengintegrasian budaya sasaran ke dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Data dikumpulkan dari sepuluh guru EFL dan 20 siswa sekolah menengah atas di Kathmandu dengan menggunakan pendekatan metode campuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun guru dan siswa sama-sama menghargai pentingnya memasukkan budaya sasaran, pembelajaran budaya yang efektif masih terhambat oleh berbagai persoalan praktis, seperti buku ajar yang sudah usang, pelatihan yang tidak memadai, serta minimnya paparan budaya di dalam kelas. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan agar guru dibekali pelatihan pedagogi budaya, materi interkultural diintegrasikan ke dalam buku teks, serta pembelajaran berbasis pengalaman didorong guna meningkatkan kompetensi komunikatif interkultural.]
Islamic Feminism and State Feminism: Competing Gender Discourses in Pakistan's Legal Reforms (2006–2023): Feminisme Islam dan Feminisme Negara: Diskursus Gender yang Bersaing dalam Reformasi Hukum di Pakistan (2006–2023) Sabir, Muhammad Rehan; Dewi Candraningrum; Alwy Ahmed Mohamed
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 2 No. 1, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i1.art1

Abstract

This study examines the role of Islamic feminist and state feminist discourses in Pakistan’s gender law reforms between 2006 and 2023. It is based on close reading of statutory texts and critical engagement with secondary scholarship on legislative processes. The analysis identifies distinct ways in which reform was justified in legal and policy debates. Islamic feminist discourse relied on Quranic reinterpretation to legitimate women’s rights within religious frameworks. State feminist discourse emphasized state protection, governance responsibilities, and international norms. Across cases, the two frameworks converged around shared policy objectives but diverged in their epistemological foundations. Debates over the Protection of Women (Criminal Law Amendment) Act 2006 reflected both religious and institutional rationales. Domestic violence legislation exposed tensions between family preservation and individual rights. The findings suggest that legal change in Pakistan requires navigating multiple sources of authority. Neither discourse alone was sufficient to secure reform. The study contributes to the scholarship on gender law reform in Muslim-majority contexts by showing how competing discourses both enable and limit legislative outcomes. [Penelitian ini mengkaji peran diskursus feminisme Islam dan feminisme negara dalam reformasi hukum gender di Pakistan antara tahun 2006 hingga 2023. Studi ini didasarkan pada pembacaan mendalam terhadap teks-teks peraturan perundang-undangan serta keterlibatan kritis dengan kajian sekunder mengenai proses legislasi. Analisis mengidentifikasi berbagai cara berbeda dalam pembenaran reformasi yang muncul dalam perdebatan hukum dan kebijakan. Diskursus feminisme Islam bertumpu pada penafsiran ulang Al-Qur’an untuk melegitimasi hak-hak perempuan dalam kerangka keagamaan. Sementara itu, diskursus feminisme negara menekankan perlindungan oleh negara, tanggung jawab tata kelola pemerintahan, serta norma-norma internasional. Dalam berbagai kasus, kedua kerangka tersebut bertemu pada tujuan kebijakan yang sama, namun berbeda dalam landasan epistemologisnya. Perdebatan mengenai Protection of Women (Criminal Law Amendment) Act tahun 2006 mencerminkan baik rasionalitas keagamaan maupun institusional. Legislasi tentang kekerasan dalam rumah tangga menyingkap ketegangan antara upaya pelestarian keluarga dan perlindungan hak individu. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan hukum di Pakistan menuntut kemampuan menavigasi berbagai sumber otoritas. Tidak satu pun dari kedua diskursus tersebut, secara berdiri sendiri, cukup untuk menjamin terwujudnya reformasi. Studi ini berkontribusi pada kajian reformasi hukum gender di konteks negara mayoritas Muslim dengan menunjukkan bagaimana diskursus yang saling bersaing sekaligus dapat memungkinkan dan membatasi hasil legislasi.]
Evaluating the Role of Social Audits in Strengthening Inclusive Civic Participation and Accountability in Bangladesh’s Public Health Sector: Mengevaluasi Peran Audit Sosial dalam Memperkuat Partisipasi Sipil Inklusif dan Akuntabilitas di Sektor Kesehatan Publik Bangladesh Sheikh, Rashidul Islam; Amin, Ruhul
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 2 No. 1, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i1.art8

Abstract

Community and civic participation are widely viewed as critical to strengthening accountability in public service delivery, yet empirical evidence from low- and middle-income countries remains limited. This paper examines the role of inclusive community-based participation in promoting accountability in public health project implementation in Bangladesh. Drawing on secondary sources—including government reports, NGO and donor evaluations, and published studies on social audits conducted between 2015 and 2023—the study applies qualitative content analysis to assess participation patterns, inclusion of marginalized groups, and the effects of social audits on transparency, provider responsiveness, and citizen trust. The findings show that social audits enhanced information disclosure, reduced minor service irregularities, and improved dialogue between communities and frontline health workers. Inclusive participation, particularly involving women, the poor, ethnic minorities, and community-based organizations, was associated with stronger follow-up actions and more sustainable accountability outcomes. However, the effectiveness of participation was often constrained by power asymmetries, limited awareness, and unequal facilitation, which restricted the meaningful engagement of marginalized groups. Overall, the study argues that accountability cannot be achieved through technical tools alone but depends on the depth and quality of community and civic engagement. Strengthening facilitation, ensuring safe and inclusive participatory spaces, and linking social audit findings to formal response mechanisms are essential for improved outcomes. This synthesis contributes to debates on participatory governance and offers practical insights for policymakers, development practitioners, and civil society actors seeking to enhance accountability and inclusiveness in Bangladesh’s public health system. [Partisipasi masyarakat dan sipil secara luas dipandang sangat penting untuk memperkuat akuntabilitas dalam pemberian layanan publik, namun bukti empiris dari negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah masih terbatas. Makalah ini mengkaji peran partisipasi berbasis masyarakat yang inklusif dalam mempromosikan akuntabilitas pada implementasi proyek kesehatan publik di Bangladesh. Dengan menggunakan sumber sekunder—termasuk laporan pemerintah, evaluasi LSM dan donor, serta studi yang dipublikasikan mengenai audit sosial yang dilakukan antara tahun 2015 dan 2023—penelitian ini menerapkan analisis isi kualitatif untuk menilai pola partisipasi, inklusi kelompok marginal, serta dampak audit sosial terhadap transparansi, responsivitas penyedia layanan, dan kepercayaan warga. Temuan menunjukkan bahwa audit sosial meningkatkan keterbukaan informasi, mengurangi penyimpangan layanan skala kecil, dan meningkatkan dialog antara masyarakat dengan petugas kesehatan garda depan. Partisipasi inklusif, terutama yang melibatkan perempuan, masyarakat miskin, etnis minoritas, dan organisasi berbasis masyarakat, dikaitkan dengan tindakan tindak lanjut yang lebih kuat dan hasil akuntabilitas yang lebih berkelanjutan. Namun, efektivitas partisipasi sering kali dibatasi oleh asimetri kekuasaan, terbatasnya kesadaran, dan fasilitasi yang tidak setara, yang membatasi keterlibatan bermakna dari kelompok marginal. Secara keseluruhan, studi ini berargumen bahwa akuntabilitas tidak dapat dicapai melalui alat teknis semata, melainkan bergantung pada kedalaman dan kualitas keterlibatan masyarakat dan sipil. Memperkuat fasilitasi, memastikan ruang partisipasi yang aman dan inklusif, serta menghubungkan temuan audit sosial ke mekanisme respons formal sangat penting untuk mencapai hasil yang lebih baik. Sintesis ini berkontribusi pada debat mengenai tata kelola partisipatif dan menawarkan wawasan praktis bagi pembuat kebijakan, praktisi pembangunan, dan aktor masyarakat sipil yang berupaya meningkatkan akuntabilitas dan inklusivitas dalam sistem kesehatan publik Bangladesh.]
Adoption and Impact of SWAYAM Courses Among NCR College Students: Adopsi dan Dampak Kursus SWAYAM di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi NCR Bala, Rajni
SiRad: Pelita Wawasan February (Vol. 2 No. 1, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i1.art9

Abstract

This study focus to analyze the extent and patterns of SWAYAM (Study Webs of Active-learning for Young Aspiring Minds) courses among college students in the National Capital Region (NCR). A purposive sampling technique was used to collect data through a questionnaire circulated as a Google form. A total of 112 college students constituted sample for study. The findings suggest that the majority of students (83.93%) showed interest in SWAYAM courses, while 16.07% expressed no interest. Additionally, 80.36% were willing to register in SWAYAM courses. However, only 22.32% of respondents had literally registered, with 77.68% yet to participate. Regarding familiarity, 61.60% of college students were aware of MOOCs, whereas 38.39% lacked awareness, indicating a significant knowledge gap. Opinions on the effectiveness of SWAYAM courses revealed that 41.07% perceived them as less effective than traditional learning methods, while 58.93% disagreed with this view. The main challenges reported were time management, with 64.28% reported it difficult to manage SWAYAM courses with their academic schedules. Also there is need of training as 63.39% felt challenged without prior training. [Studi ini berfokus untuk menganalisis sejauh mana pola penggunaan kursus SWAYAM (Study Webs of Active-learning for Young Aspiring Minds) di kalangan mahasiswa perguruan tinggi di National Capital Region (NCR). Teknik purposive sampling digunakan untuk mengumpulkan data melalui kuesioner yang disebarkan dalam bentuk Google Form. Sebanyak 112 mahasiswa perguruan tinggi menjadi sampel dalam studi ini. Temuan menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa (83,93%) menunjukkan minat pada kursus SWAYAM, sementara 16,07% menyatakan tidak berminat. Selain itu, 80,36% bersedia mendaftar di kursus SWAYAM. Namun, hanya 22,32% responden yang benar-benar telah mendaftar, sementara 77,68% sisanya belum berpartisipasi. Terkait keakraban dengan platform, 61,60% mahasiswa mengetahui tentang MOOCs (Massive Open Online Courses), sedangkan 38,39% kurang mengetahuinya, yang mengindikasikan adanya celah pengetahuan yang signifikan. Opini mengenai efektivitas kursus SWAYAM mengungkapkan bahwa 41,07% menganggap kursus tersebut kurang efektif dibandingkan metode pembelajaran tradisional, sementara 58,93% tidak setuju dengan pandangan tersebut. Tantangan utama yang dilaporkan adalah manajemen waktu, di mana 64,28% merasa sulit untuk mengatur waktu antara kursus SWAYAM dengan jadwal akademik mereka. Selain itu, terdapat kebutuhan akan pelatihan karena 63,39% merasa kesulitan tanpa adanya pelatihan terlebih dahulu.]

Page 1 of 2 | Total Record : 12