cover
Contact Name
Andi Musthafa Husain
Contact Email
andimusthafa@gmail.com
Phone
+6281328760156
Journal Mail Official
siradpelitawawasan@gmail.com
Editorial Address
Ngelosari, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
SiRad: Pelita Wawasan
Published by Yayasan Nurul Musthafa
ISSN : -     EISSN : 30905591     DOI : https://doi.org/10.64728/sirad.v1i1.art1
The name "SiRad" is an abbreviation of Pelita Wawasan, which translates as "The Light of Insight" a symbol of enlightenment in the world of knowledge. The term also draws inspiration from the Arabic word siraj (siraj), meaning lamp or light, as mentioned in the Quran as a symbol of illumination. In the context of this journal, SiRad represents an intellectual beacon that sheds light on academic discourse and social transformation. Jurnal SiRad: Pelita Wawasan is an open-access scholarly journal published by Yayasan Nurul Musthafa. This journal focuses on the publication of research articles, literature reviews, case studies, and conceptual papers that critically address contemporary issues in the fields of education, humanities, and social sciences. This journal serves as a platform for advancing transformative thinking, interdisciplinary approaches, and critical reflection on the dynamics of education, culture, society, and public policy. Topics covered by this journal include but are not limited to Education - learning technologies, religious moderation, curriculum innovation; Humanities - cultural studies, communication, history, and Islamic civilization; Social Sciences - public policy, political dynamics, behavioral economics, and the intersection of religion and society. Jurnal SiRad: Pelita Wawasan is published three times a year in February, June, and October, and is freely accessible to support inclusive and impactful knowledge dissemination.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 14 Documents
Search results for , issue "june (vol. 2 no. 2, 2026)" : 14 Documents clear
Intersecting Margins: Representations of Black Disability and Economic Precarity in Contemporary American Literature: Persinggungan Marginalisasi: Representasi Disabilitas Kulit Hitam dan Kerentanan Ekonomi dalam Sastra Amerika Kontemporer Asadul Al Galif; Tamanna Ferdous Ferdous; Wahid Kaiser; Md. Ziaul Haque
SiRad: Pelita Wawasan June (Vol. 2 No. 2, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i2.art1

Abstract

This research explores the intersection of race, class, and disability in current American literature through a scrutiny of The Salt Eaters by Toni Cade Bambara and Salvage the Bones by Jesmyn Ward. It delves into the way sidelined identities, especially Black, disabled, and poor people, are depicted and the way these representations challenge prevailing narratives of the status quo and value as far as the U.S. society is concerned. The research utilizes a qualitative methodology embedded in intersectional feminist literary criticism and critical disability studies and concentrates on thematic construction, character improvement, and narrative voice. The results exhibit that both writers demonstrate disability as societally and politically structured instead of medicalized, and they challenge its conventional descriptions. The lived realism of racial segregation and poverty is focused on by the novels, emphasizing the way struggle and continued existence are negotiated through non-normative quintessence, ethnic memory, and community. The research adds to an increasing body of scholarship that insists on the requirement of intersectionality in literary exploration, accentuating the role of literature as a space for political involvement and struggle amongst communities that face numerous forms of marginalization [Penelitian ini mengeksplorasi persinggungan antara ras, kelas sosial, dan disabilitas dalam sastra Amerika kontemporer melalui kajian terhadap The Salt Eaters karya Toni Cade Bambara dan Salvage the Bones karya Jesmyn Ward. Penelitian ini mengkaji bagaimana identitas-identitas yang termarginalkan, khususnya kelompok kulit hitam, penyandang disabilitas, dan masyarakat miskin, direpresentasikan serta bagaimana representasi tersebut menantang narasi dominan mengenai status sosial dan nilai kemanusiaan dalam masyarakat Amerika Serikat. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang berlandaskan kritik sastra feminis interseksional dan studi disabilitas kritis, dengan fokus pada konstruksi tema, pengembangan karakter, dan suara naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua penulis merepresentasikan disabilitas sebagai sesuatu yang dibentuk oleh struktur sosial dan politik, bukan semata-mata sebagai kondisi medis, sekaligus menantang penggambaran konvensional mengenai disabilitas. Kedua novel tersebut juga menyoroti realitas kehidupan yang dipengaruhi oleh segregasi rasial dan kemiskinan, dengan menekankan bagaimana perjuangan dan keberlangsungan hidup dinegosiasikan melalui identitas yang nonnormatif, memori budaya, dan solidaritas komunitas. Penelitian ini berkontribusi pada perkembangan kajian yang menegaskan pentingnya pendekatan interseksionalitas dalam analisis sastra, serta menyoroti peran sastra sebagai ruang keterlibatan politik dan perlawanan bagi komunitas yang menghadapi berbagai bentuk marginalisasi.]
Economic and Socio‑Ecological Mechanisms Behind Renewable Energy Deployment: A Global Panel Study of Energy Justice Outcomes: Mekanisme Ekonomi dan Sosio-Ekologis di Balik Implementasi Energi Terbarukan: Studi Panel Global tentang Hasil Keadilan Energi Indra Lukmana Putra; Mochammad Junus; Ascosenda Ika Rizqi
SiRad: Pelita Wawasan June (Vol. 2 No. 2, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i2.art8

Abstract

Complex relationship between renewable energy deployment, governance quality, and energy justice outcomes across different countries. Given the global transition towards renewable energy (RE) as a means to mitigate climate change, the research examines how varying political and economic structures, along with socio-ecological trade-offs, affect the equitable distribution of the benefits and burdens of energy transitions. Using a panel dataset of global countries from 2000 to 2025, the study employs fixed-effects regression models and structural equation modeling (SEM) to test the effects of renewable energy expansion on energy justice, with particular attention to the mediating role of socio-ecological impacts such as land-use changes and local conflicts. Findings reveal that while RE deployment is positively associated with environmental sustainability, it does not always lead to improvements in energy justice. In some cases, it exacerbates inequalities in energy access and affordability, particularly in countries with weak governance and highly concentrated energy markets. Structural equation modeling reveals that while economic mechanisms function as significant mediators, the indirect pathway through socio-ecological trade-offs is statistically non-significant, indicating a decoupling between localized ecological impacts and macro-level energy justice outcomes. Research underscores importance of integrating political economy and governance considerations into renewable energy policy to achieve fair and just energy outcomes globally. [Penelitian ini mengkaji hubungan yang kompleks antara implementasi energi terbarukan, kualitas tata kelola, dan hasil keadilan energi di berbagai negara. Seiring dengan transisi global menuju energi terbarukan (renewable energy/RE) sebagai upaya mitigasi perubahan iklim, penelitian ini menganalisis bagaimana perbedaan struktur politik dan ekonomi, serta berbagai kompromi sosio-ekologis, memengaruhi distribusi yang adil atas manfaat dan beban dari transisi energi. Dengan menggunakan data panel berbagai negara di dunia selama periode 2000–2025, penelitian ini menerapkan model regresi efek tetap (fixed-effects regression models) dan structural equation modeling (SEM) untuk menguji pengaruh perluasan energi terbarukan terhadap keadilan energi, dengan perhatian khusus pada peran mediasi dampak sosio-ekologis seperti perubahan penggunaan lahan dan konflik lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun implementasi energi terbarukan berhubungan positif dengan keberlanjutan lingkungan, hal tersebut tidak selalu menghasilkan peningkatan keadilan energi. Dalam beberapa kasus, implementasi energi terbarukan justru memperburuk ketimpangan dalam akses dan keterjangkauan energi, terutama di negara-negara dengan tata kelola yang lemah dan pasar energi yang sangat terkonsentrasi. Hasil structural equation modeling mengungkapkan bahwa mekanisme ekonomi berfungsi sebagai mediator yang signifikan, sedangkan jalur tidak langsung melalui kompromi sosio-ekologis tidak signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan adanya keterputusan antara dampak ekologis yang bersifat lokal dengan hasil keadilan energi pada tingkat makro. Penelitian ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan pertimbangan ekonomi politik dan tata kelola ke dalam kebijakan energi terbarukan guna mewujudkan hasil transisi energi yang adil dan merata secara global.]
ChatGPT as a Pedagogical Mediator in Foreign Language Learning: A Vygotskian and Interactionist Perspective from Nangarhar University: ChatGPT sebagai Mediator Pedagogis dalam Pembelajaran Bahasa Asing: Perspektif Vygotsky dan Interaksionis dari Universitas Nangarhar Said Ikram Nael; Irfan Akhtar
SiRad: Pelita Wawasan June (Vol. 2 No. 2, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i2.art7

Abstract

Artificial Intelligence (AI) has changed from a simple subordinate device to a pedagogical mediator in the language learning process. In resource-poor environments such as Afghanistan, higher education institutions face the challenges of instructor shortages, limited language practice, and a lack of educational resources. This study evaluated the role of ChatGPT as a pedagogical mediator for German language students at Nangarhar University. Data were collected from 90 students through a questionnaire, which involved usage patterns, adaptive feedback, reduced learning concern, and learner autonomy. The results presented that ChatGPT supports language practice, instant and adaptive feedback, a low-anxiety situation, and learner autonomy. These findings are consistent with Vygotsky’s Zone of Proximal Development (ZPD), Communicative Language Teaching (CLT), and the Input–Interaction–Output model, and support the role of ChatGPT as a helper, not a substitute for the instructor. The study recommends that integrating ChatGPT into the language curriculum can develop learning consequences, and instructors properly integrate AI tools into the curriculum, certifying that they are consistent with instructor guidelines, ethics, and curriculum. [Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) telah berkembang dari sekadar perangkat pendukung sederhana menjadi mediator pedagogis dalam proses pembelajaran bahasa. Di lingkungan dengan sumber daya terbatas seperti Afghanistan, institusi pendidikan tinggi menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan jumlah pengajar, minimnya kesempatan praktik berbahasa, dan kurangnya sumber daya pendidikan. Penelitian ini mengevaluasi peran ChatGPT sebagai mediator pedagogis bagi mahasiswa bahasa Jerman di Universitas Nangarhar. Data dikumpulkan dari 90 mahasiswa melalui kuesioner yang mencakup pola penggunaan, umpan balik adaptif, pengurangan kecemasan belajar, dan kemandirian belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ChatGPT mendukung praktik berbahasa, memberikan umpan balik yang cepat dan adaptif, menciptakan situasi belajar dengan tingkat kecemasan yang lebih rendah, serta meningkatkan kemandirian peserta didik. Temuan ini sejalan dengan konsep Zone of Proximal Development (ZPD) dari Vygotsky, Communicative Language Teaching (CLT), serta model Input–Interaction–Output, dan mendukung peran ChatGPT sebagai pendamping pembelajaran, bukan sebagai pengganti pengajar. Penelitian ini merekomendasikan integrasi ChatGPT ke dalam kurikulum pembelajaran bahasa untuk meningkatkan hasil belajar. Selain itu, para pengajar perlu mengintegrasikan perangkat AI secara tepat ke dalam kurikulum dengan memastikan kesesuaiannya terhadap pedoman pengajaran, etika, dan tujuan kurikulum.]
Who Owns Financial Data? Legal Gaps and Consumer Vulnerability in Digital Credit Scoring: Siapa Pemilik Data Keuangan? Kesenjangan Hukum dan Kerentanan Konsumen dalam Sistem Penilaian Kredit Digital Thao Thi Le
SiRad: Pelita Wawasan June (Vol. 2 No. 2, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i2.art4

Abstract

In the context of the rapid digital transformation of the financial sector, credit scoring systems are increasingly relying on big data and algorithmic techniques to assess individuals’ creditworthiness. This study aims to analyse legal gaps concerning rights over financial data in digital credit scoring practices, while also clarifying the level of consumer vulnerability within algorithm-driven decision-making environments. The paper employs a doctrinal legal analysis combined with comparative legal methods and an interdisciplinary approach, particularly integrating insights from behavioural economics to explain the impact of information asymmetry and bounded rationality on consumers within the digital financial ecosystem. The findings indicate that the current legal framework has not clearly established financial data control rights, and there remain significant deficiencies in transparency mechanisms and accountability structures governing automated credit scoring systems. On this basis, the study proposes several policy directions to strengthen consumers’ control over their data, enhance algorithmic transparency, and improve supervisory mechanisms in the digital financial sector. [Dalam konteks transformasi digital yang berkembang pesat di sektor keuangan, sistem penilaian kredit (credit scoring) semakin bergantung pada big data dan teknik algoritmik untuk menilai kelayakan kredit individu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan hukum yang berkaitan dengan hak atas data keuangan dalam praktik penilaian kredit digital, sekaligus menjelaskan tingkat kerentanan konsumen dalam lingkungan pengambilan keputusan yang didorong oleh algoritma. Artikel ini menggunakan metode analisis hukum doktrinal yang dipadukan dengan metode hukum komparatif dan pendekatan interdisipliner, khususnya dengan mengintegrasikan perspektif ekonomi perilaku (behavioural economics) untuk menjelaskan dampak asimetri informasi dan rasionalitas terbatas (bounded rationality) terhadap konsumen dalam ekosistem keuangan digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerangka hukum yang berlaku saat ini belum secara jelas menetapkan hak pengendalian atas data keuangan. Selain itu, masih terdapat kekurangan yang signifikan dalam mekanisme transparansi dan struktur akuntabilitas yang mengatur sistem penilaian kredit otomatis. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan beberapa arah kebijakan untuk memperkuat kendali konsumen atas data mereka, meningkatkan transparansi algoritma, serta memperbaiki mekanisme pengawasan di sektor keuangan digital.]
Islamic Educational Psychology from Zakiah Daradjat’s Perspective in Addressing Students’ Moral Decline: Psikologi Pendidikan Islam Perspektif Zakiah Daradjat dalam Menghadapi Dekadensi Moral Peserta Didik Rizky Firnanda; M. Hajar Dewantoro; Fathya Shafa Diani
SiRad: Pelita Wawasan June (Vol. 2 No. 2, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i2.art6

Abstract

The moral decline of students has become one of the serious challenges in the field of education, characterized by the deterioration of moral values, discipline, responsibility, and social awareness. This phenomenon is influenced by various factors, including technological advancement, social environment, weak character education, and the decreasing internalization of spiritual values within the educational process. In this context, Zakiah Daradjat’s concept of Islamic educational psychology is highly relevant, as it offers an approach that integrates psychological aspects with Islamic values in shaping students’ personalities. This study aims to analyze the concept of Islamic educational psychology according to Zakiah Daradjat and its relevance in addressing students’ moral decline. The research employed a Systematic Literature Review (SLR) method based on the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) framework. The research process involved the identification, screening, quality assessment, and synthesis of literature obtained from various relevant academic databases. Literature meeting the inclusion criteria was then qualitatively analyzed to gain a comprehensive understanding of Zakiah Daradjat’s concepts and their implementation in Islamic education. The findings reveal that Zakiah Daradjat emphasizes the importance of balancing physical and spiritual aspects in education, strengthening religious education, fostering mental health, promoting educators’ role modeling, and enhancing the roles of family and environment in students’ character development. The study also demonstrates that the Islamic educational psychology approach developed by Zakiah Daradjat has strong relevance in addressing the challenges of moral decline in the modern era, as it integrates intellectual, emotional, and spiritual dimensions holistically. Therefore, Zakiah Daradjat’s ideas can serve as a conceptual foundation for the development of Islamic education oriented toward character building and the cultivation of noble moral values among students. [Dekadensi moral peserta didik menjadi salah satu permasalahan serius dalam dunia pendidikan yang ditandai dengan menurunnya nilai-nilai akhlak, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perkembangan teknologi, lingkungan sosial, lemahnya pendidikan karakter, serta berkurangnya internalisasi nilai-nilai spiritual dalam proses pendidikan. Dalam konteks tersebut, pemikiran Zakiah Daradjat mengenai psikologi pendidikan Islam menjadi relevan karena menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan aspek psikologis dan nilai-nilai keislaman dalam pembentukan kepribadian peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep psikologi pendidikan Islam menurut Zakiah Daradjat serta relevansinya dalam menghadapi dekadensi moral peserta didik. Metode penelitian yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada tahapan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Proses penelitian dilakukan melalui identifikasi, penyaringan, evaluasi kualitas, dan sintesis terhadap literatur yang diperoleh dari berbagai basis data akademik yang relevan. Literatur yang memenuhi kriteria inklusi kemudian dianalisis secara kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai konsep dan implementasi pemikiran Zakiah Daradjat dalam pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zakiah Daradjat menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek jasmani dan rohani dalam pendidikan, penguatan pendidikan agama, pembentukan kesehatan mental, keteladanan pendidik, serta peran keluarga dan lingkungan dalam pembinaan karakter peserta didik. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pendekatan psikologi pendidikan Islam yang dikembangkan Zakiah Daradjat memiliki relevansi yang kuat dalam menghadapi tantangan dekadensi moral di era modern karena mampu mengintegrasikan dimensi intelektual, emosional, dan spiritual secara holistik. Dengan demikian, pemikiran Zakiah Daradjat dapat menjadi landasan konseptual dalam pengembangan pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik]
Influence of African Traditional Beliefs and Practices on Healthcare Utilisation in Anambra State, Nigeria: Pengaruh Kepercayaan dan Praktik Tradisional Afrika terhadap Pemanfaatan Layanan Kesehatan di Negara Bagian Anambra, Nigeria Mohamed Alusine Mansaray; Gilbert Madubuike
SiRad: Pelita Wawasan June (Vol. 2 No. 2, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i2.art2

Abstract

This study examines the enduring influence of African traditional beliefs and practices on healthcare utilisation in Anambra State, Nigeria. Despite the availability of modern health facilities, many people in the region still interpret illness through spiritual and cultural lenses, including ancestral displeasure, witchcraft, and supernatural forces. The research investigated how these beliefs affect decisions about when, where, and from whom to seek medical help. A multistage cross-sectional research design was adopted, utilizing quantitative and qualitative approaches. Data were collected through semi-structured questionnaires administered to healthcare professionals and members of the public, as well as in-depth interviews with traditional healers, medical practitioners, and patients. Secondary sources, including journal articles, government documents, health reports, and other relevant literature, were also consulted to provide theoretical and empirical support for the study. The study shows that traditional explanations of illness often guide initial treatment choices, leading many to consult traditional healers, herbalists, or spiritualists before or alongside orthodox medical services. Factors such as the perceived nature of the illness, age, and level of education appear to affect these choices. The findings highlight that while traditional practices offer emotional and cultural comfort, they sometimes cause delays in seeking timely biomedical care. The study concludes that any meaningful improvement in healthcare utilisation in Anambra State must involve culturally sensitive integration of both traditional and modern systems rather than outright replacement of one with the other. [Penelitian ini mengkaji pengaruh yang terus bertahan dari kepercayaan dan praktik tradisional Afrika terhadap pemanfaatan layanan kesehatan di Negara Bagian Anambra, Nigeria. Meskipun fasilitas kesehatan modern tersedia, banyak masyarakat di wilayah tersebut masih menafsirkan penyakit melalui perspektif spiritual dan budaya, termasuk ketidaksenangan leluhur, sihir, dan kekuatan supranatural. Penelitian ini menyelidiki bagaimana kepercayaan tersebut memengaruhi keputusan mengenai kapan, di mana, dan kepada siapa seseorang mencari bantuan medis. Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang (cross-sectional) bertahap (multistage) dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner semi-terstruktur yang diberikan kepada tenaga kesehatan dan anggota masyarakat, serta wawancara mendalam dengan tabib tradisional, praktisi medis, dan pasien. Sumber data sekunder, termasuk artikel jurnal, dokumen pemerintah, laporan kesehatan, dan literatur relevan lainnya, juga digunakan untuk memberikan dukungan teoretis dan empiris bagi penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjelasan tradisional mengenai penyakit sering kali menjadi dasar pilihan pengobatan awal, sehingga banyak orang lebih memilih berkonsultasi dengan tabib tradisional, herbalis, atau pemuka spiritual sebelum atau bersamaan dengan memanfaatkan layanan medis modern. Faktor-faktor seperti persepsi terhadap jenis penyakit, usia, dan tingkat pendidikan tampaknya memengaruhi pilihan tersebut. Temuan penelitian menegaskan bahwa meskipun praktik tradisional memberikan kenyamanan emosional dan budaya, praktik tersebut terkadang menyebabkan keterlambatan dalam memperoleh layanan kesehatan biomedis yang tepat waktu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa setiap upaya yang bermakna untuk meningkatkan pemanfaatan layanan kesehatan di Negara Bagian Anambra harus melibatkan integrasi yang sensitif terhadap budaya antara sistem kesehatan tradisional dan modern, bukan menggantikan salah satunya secara sepihak.]
The Role of Legal Schools in the Development of the Romano-Germanic Legal System: Peran Aliran-Aliran Hukum dalam Perkembangan Sistem Hukum Romano-Germanik Muhammad Ibrahim Sekandary; Badam Gul Rahimi
SiRad: Pelita Wawasan June (Vol. 2 No. 2, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i2.art3

Abstract

The Roman-Germanic legal system (Civil Law) is considered one of the most important legal systems in the world, which has had a profound impact on the development of law, the organization of civil laws, and the development of legal principles. This legal system, which has historical roots in ancient Roman law, developed as a result of legal, philosophical, and scientific developments in Europe and was later transferred to many countries around the world. The study aims to evaluate and analyze the role of legal schools in the development of the Roman-Germanic legal system. The study was conducted based on the legal analysis method and used primary and secondary sources to collect data. Secondary data, scientific works, and legal theories related to the Roman-Germanic legal system, legal schools, natural law, lawmaking, and comparative law were studied. In addition, semi-structured interviews were conducted with 15 university lecturers of law faculties of private universities in Nangarhar province to analyze the practical and scientific aspects of the subject. The findings of the study indicated that the Schools of Glossators, the School of Post-Glossators, the Humanist School, the School of Natural Law, and the Enlightenment School played an important role in the intellectual, legislative, and judicial structure of the Romano-Germanic legal system. These schools played a fundamental role in the formulation of law, the organization of legal principles, the development of judicial interpretation, and the strengthening of the concepts of justice and human rights. The study also shows that the Romano-Germanic legal system still has a profound influence on contemporary civil legal systems around the world. [Sistem hukum Romano-Germanik (Civil Law) dianggap sebagai salah satu sistem hukum terpenting di dunia yang telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan hukum, penyusunan hukum perdata, serta pengembangan prinsip-prinsip hukum. Sistem hukum ini memiliki akar historis dalam hukum Romawi kuno dan berkembang sebagai hasil dari perkembangan hukum, filsafat, dan ilmu pengetahuan di Eropa, yang kemudian diadopsi oleh banyak negara di berbagai belahan dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menganalisis peran berbagai aliran hukum dalam perkembangan sistem hukum Romano-Germanik. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode analisis hukum serta memanfaatkan sumber data primer dan sekunder. Data sekunder, karya-karya ilmiah, dan teori-teori hukum yang berkaitan dengan sistem hukum Romano-Germanik, aliran hukum, hukum alam, pembentukan hukum, dan hukum perbandingan dikaji secara mendalam. Selain itu, wawancara semi-terstruktur dilakukan terhadap 15 dosen fakultas hukum dari beberapa universitas swasta di Provinsi Nangarhar untuk menganalisis aspek praktis dan akademik dari topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mazhab Glossator (School of Glossators), Mazhab Pasca-Glossator (School of Post-Glossators), Mazhab Humanis (Humanist School), Mazhab Hukum Alam (School of Natural Law), dan Mazhab Pencerahan (Enlightenment School) memainkan peran penting dalam struktur intelektual, legislatif, dan yudisial sistem hukum Romano-Germanik. Aliran-aliran tersebut berperan mendasar dalam pembentukan hukum, penataan prinsip-prinsip hukum, pengembangan interpretasi yudisial, serta penguatan konsep keadilan dan hak asasi manusia. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sistem hukum Romano-Germanik masih memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap sistem hukum perdata kontemporer di berbagai negara di dunia.]
Generative AI for Young Children: New Pathways in Rehabilitation and Development: Kecerdasan Buatan Generatif untuk Anak Usia Dini: Jalur Baru dalam Rehabilitasi dan Perkembangan Rati Sharma
SiRad: Pelita Wawasan June (Vol. 2 No. 2, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i2.art5

Abstract

Early childhood is a critical golden period for development; however, children experiencing neurodevelopmental delays often face late diagnosis and limited access to traditional face-to-face rehabilitation, particularly in low-resource settings like Nepal. This qualitative study employs a narrative interpretative approach to explore the potential of Generative Artificial Intelligence (AI) in supporting early childhood development and rehabilitation. Data were gathered through semi-structured interviews, classroom observations, and interactive workshops with a purposively sampled group of teachers, parents, and therapists. The thematic analysis reveals that Generative AI offers transformative opportunities across five core domains: acting as a patient digital conversational partner to boost speech and language skills ; transforming physical exercises into playful experiences using motion-based games and augmented reality (AR) ; facilitating adaptive cognitive growth through real-time adjusted problem-solving challenges ; coaching socio-emotional learning via safe virtual role-playing scenarios ; and breaking distance barriers through home-based tele-rehabilitation platforms. Nevertheless, stakeholders express vital ethical and practical concerns, including child data privacy risks, the dangerous impact of systemic inaccuracies, digital divides driven by limited hardware access, and the risk of reducing essential human touch. This study concludes that technology must never substitute human warmth, empathy, or love; instead, AI should complement human efforts under a "shared caregiving" model controlled by adults. The implications highlight the urgent need to equip educators with leadership skills, empower parents as co-creators of learning environments, and establish rigorous ethical and policy frameworks to ensure AI deployment remains safe, equitable, and child-centered. [Masa anak usia dini merupakan periode emas yang krusial bagi perkembangan anak , namun anak-anak dengan gangguan neuroperkembangan sering kali menghadapi keterlambatan diagnosis dan keterbatasan akses terhadap rehabilitasi konvensional berbasis tatap muka, khususnya di wilayah dengan sumber daya terbatas seperti Nepal. Penelitian kualitatif dengan pendekatan naratif interpretatif ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Generatif dalam mendukung perkembangan dan rehabilitasi anak usia dini. Data dikumpulkan melalui wawancara semistruktur, observasi kelas, dan lokakarya interaktif yang melibatkan guru, orang tua, dan terapis melalui teknik purposive sampling. Hasil analisis tematik menunjukkan bahwa AI Generatif menawarkan peluang besar pada lima domain utama: bertindak sebagai mitra bicara digital yang sabar untuk mendukung kemampuan bahasa ; mentransformasi terapi fisik menjadi permainan interaktif berbasis sensor gerak dan augmented reality (AR) ; memfasilitasi stimulasi kognitif adaptif melalui teka-teki yang menyesuaikan kemampuan anak secara real-time ; melatih aspek sosio-emosional lewat skenario bermain peran virtual yang aman ; serta memperluas jangkauan tele-rehabilitasi bagi keluarga di area terpencil. Kendati demikian, antusiasme ini dibayangi oleh tantangan etis dan praktis yang signifikan, termasuk masalah kerahasiaan data anak , risiko ketidakakuratan output sistem , kesenjangan digital akibat keterbatasan perangkat , serta kekhawatiran berkurangnya interaksi manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AI Generatif tidak boleh menggantikan hubungan emosional, melainkan harus diposisikan sebagai komplemen (shared caregiving) di bawah pengawasan orang dewasa. Implikasi penelitian menekankan urgensi pelatihan kepemimpinan bagi pendidik , pelibatan aktif orang tua sebagai mitra ko-kreator , dan perumusan kebijakan yang mendukung pemanfaatan teknologi secara inklusif, aman, dan tepat sasaran.]
An Analytical Study of Consumer Rights Based on the International and Afghan Legal Systems: Studi Analitis tentang Hak-Hak Konsumen Berdasarkan Sistem Hukum Internasional dan Afganistan Marhamat Jalal; Abdul Haq Jalal
SiRad: Pelita Wawasan June (Vol. 2 No. 2, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i2.art9

Abstract

Legal systems worldwide increasingly prioritize consumer rights, categorizing them as fundamental human rights within global instruments and national constitutions. This study aims to analyze the alignment of consumer rights between international legal frameworks and the Afghan national legal system. This research employs a library-based, qualitative, and analytical approach. Data were gathered by examining international human rights instruments alongside Afghanistan’s domestic regulations, notably the Consumer Rights Protection Law and the Constitution. The findings indicate that while consumer rights are firmly recognized as fundamental human rights globally, their integration into the Afghan legal framework faces practical challenges. Although Afghanistan possesses adequate statutory protections, actual enforcement remains severely limited due to weak administrative capacity, lack of independent oversight, and low public awareness. In conclusion, the Afghan legal system requires significant institutional capacity building and public education to ensure that consumer rights are protected not only in legislation but also in practice. [Sistem hukum di seluruh dunia semakin memprioritaskan hak-hak konsumen dan mengategorikannya sebagai hak asasi manusia yang fundamental dalam instrumen global dan konstitusi nasional. Studi ini bertujuan untuk menganalisis keselarasan hak-hak konsumen antara kerangka hukum internasional dan sistem hukum nasional Afganistan.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan analitis berbasis studi pustaka. Data dikumpulkan dengan mengkaji instrumen hak asasi manusia internasional serta regulasi domestik Afganistan, khususnya Undang-Undang Perlindungan Hak Konsumen dan Konstitusi. Temuan menunjukkan bahwa meskipun hak konsumen secara tegas diakui sebagai hak asasi manusia secara global, integrasinya ke dalam kerangka hukum Afganistan menghadapi tantangan praktis. Walaupun Afganistan memiliki perlindungan undang-undang yang memadai, penegakan hukum aktualnya masih sangat terbatas akibat lemahnya kapasitas administratif, kurangnya pengawasan independen, dan rendahnya kesadaran masyarakat. Sebagai kesimpulan, sistem hukum Afganistan memerlukan peningkatan kapasitas institusional dan edukasi publik yang signifikan untuk memastikan bahwa hak-hak konsumen dilindungi tidak hanya secara hukum, tetapi juga dalam praktik.]
Leadership Challenges in Nigeria, Africa, and Globally: Tantangan Kepemimpinan di Nigeria, Afrika, dan Global Nura Umar Manya Manya
SiRad: Pelita Wawasan June (Vol. 2 No. 2, 2026)
Publisher : Yayasan Nurul Musthafa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64728/sirad.v2i2.art10

Abstract

Leadership remains one of the most critical determinants of governance effectiveness, institutional performance, and sustainable development across the world. Despite numerous political and administrative reforms, many countries continue to experience persistent challenges associated with corruption, weak institutions, economic instability, technological disruption, insecurity, and declining public trust. This study examined leadership challenges in Nigeria, Africa, and the global community within the context of 2026. Adopting a comparative qualitative research design, the study relied on secondary data obtained from scholarly literature, policy documents, and reports from international organizations such as the United Nations, International Monetary Fund, World Bank, and African Union. The analysis was guided by transformational leadership theory and institutional theory. Findings revealed that global leadership is increasingly challenged by artificial intelligence, climate change, economic uncertainty, and democratic polarization. In Africa, leadership effectiveness continues to be constrained by institutional fragility, economic dependency, and governance deficits. Specifically in Nigeria, persistent issues such as corruption, prebendal politics, ethno-religious divisions, youth exclusion, and weak public institutions remain significant barriers. The study concludes that meaningful progress requires a combination of transformational leadership, institutional strengthening, merit-based political recruitment, and active citizen participation. [Kepemimpinan tetap menjadi salah satu penentu paling kritis terhadap efektivitas pemerintahan, kinerja institusional, dan pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia. Terlepas dari berbagai reformasi politik dan administratif, banyak negara terus mengalami tantangan yang berkaitan dengan korupsi, institusi yang lemah, ketidakstabilan ekonomi, disrupsi teknologi, ketidakamanan, dan menurunnya kepercayaan publik. Studi ini menelaah tantangan kepemimpinan di Nigeria, Afrika, dan komunitas global dalam konteks tahun 2026. Dengan mengadopsi desain penelitian kualitatif komparatif, studi ini mengandalkan data sekunder yang diperoleh dari literatur ilmiah, dokumen kebijakan, serta laporan dari organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Uni Afrika. Analisis ini dipandu oleh teori kepemimpinan transformasional dan teori institusional. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan global semakin ditantang oleh kecerdasan buatan, perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, dan polarisasi demokrasi. Di Afrika, efektivitas kepemimpinan terus dibatasi oleh kerapuhan institusional, ketergantungan ekonomi, dan defisit pemerintahan. Secara khusus di Nigeria, masalah persisten seperti korupsi, politik prebendal, perpecahan etno-religius, eksklusi pemuda, dan institusi publik yang lemah tetap menjadi hambatan signifikan. Studi ini menyimpulkan bahwa kemajuan yang bermakna membutuhkan kombinasi kepemimpinan transformasional, penguatan institusi, rekrutmen politik berbasis prestasi, dan partisipasi warga yang aktif. ]

Page 1 of 2 | Total Record : 14