cover
Contact Name
I Kadek Merta Wijaya
Contact Email
amritavijaya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalundagi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa
Published by Universitas Warmadewa
ISSN : 23380454     EISSN : 25812211     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Undagi: Jurnal Ilmiah Arsitektur Universitas Warmadewa. Undagi: Jurnal Ilmiah Arsitektur Universitas Warmadewa, received the manuscript with a focus on research results and literature reviews in the field of architecture with the scope of the study, namely: (1) Architectural Conservation: building conservation and cultural landscape; (2) Anthropology Architecture: vernacular architecture, dwelling architecture, traditional architecture; (3) Building Science: tectonic in traditional architecture and the system of a building; (4) Urban Planning: space and place in architecture.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2018): Juni, 2018" : 6 Documents clear
EKSISTENSI TELAJAKAN DI KORIDOR PERMUKIMAN DESA WISATA PINGE, KABUPATEN TABANAN Ni Putu Atik Pradnya Dewi
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 6 No. 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.1.771.13-22

Abstract

ABSTRAK Telajakan merupakan salah satu elemen penting dalam mempertahankan keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam suatu unit hunian dan dapat mendukung kualitas lingkungan sekitarnya. Namun keberadaan telajakan sebagai RTH di kawasan yang menjadi pusat kegiatan wisata mulai beralih fungsi menjadi prasarana penunjang ekonomi. Masyarakat Desa Wisata Pinge sadar bahwa telajakan sepanjang koridor permukiman mereka yang berupa RTH merupakan salah satu potensi desa yang dapt menarik minat wisatawan untuk datang berwisata. Kondisi telajakan di Desa Wisata Pinge yang mencerminkan konsep hijau dan asrinya desa merupakan hasil penataan yang telah dilaksanakan dari kesadaran dan peran aktif dari warga desa sendiri secara swadaya dan swakelola. Metode yang dipergunakan yang adalah metode deskriftif kualitatif untuk menjawab rumusan masalah mengenai telajakan sebagai salah satu potensi Desa Wisata Pinge antara lain: 1) Apa keunikan dan fungsi dari telajakan Desa Wisata Pinge?; 2) Bagaimana konsep penataan dan upaya menjaga eksistensi telajakan sebagai RTH di desa wisata pinge?; 3)Adakah regulasi desa dan sistem pengelolaan yang dilakukan dalam melestarikan telajakan sebagai RTH?. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Ruang Terbuka Hijau, Community Based Tourism Development dan konsepsi Tri Hita Karana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keunikan telajakan Desa Wisata Pinge dapat dipertahankan (eksis) sebagai ruang terbuka hijau, merupakan hasil dari partisipasi murni masyarakat setempat dalam menerapkan konsep Tri Hita Karana dan regulasi yang ditetapkan berdasarkan awig-awig yang berlaku di Desa Pinge ini sendiri. Kata kunci: Desa Wisata Pinge, ruang terbuka hijau, telajakan ABSTRACT Telajakan is one important element in maintaining the existence of green open space in a residential unit and can support the quality of the surrounding environment. But the presence of teletakan as green open space in the area that became the center of tourism activities began to switch functions into infrastructure supporting the economy. Pinge Tourism Village people are aware that telajakan along the corridor of their settlement in the form of green space is one of the potential village that dapt attract tourists to come on tour.The condition of teletation in Pinge Tourism Village which reflects the green concept and the village is the result of the arrangement that has been implemented from the awareness and active role of the villagers themselves independently and self-managed. The method used which is descriptive qualitative method to answer the problem formulation of telajakan as one of potency of Tourism Village of Pinge, among others: 1) What is the uniqueness and function of Pinge Tourism Village? 2) What is the concept of structuring and maintaining the existence of teletakan as green open space in pinge tourism village?; 3) Is there a village regulation and management system undertaken in preserving the telecast as green open space ?. The theory used in this research is the theory of Green Open Space, Community Based Tourism Development and Tri Hita Karana conception. The results show that the uniqueness of the Pinge Tourism Village can be maintained as a green open space, a collaboration of the pure participation of local people in applying the concept of Tri Hita Karana and the regulation set based on the brilliant awig-awig in Pinge Village itself. Keywords: Pinge Tourism Village, green open spaces, telajakan
PERSEPSI TINGKAT KENYAMANAN TERMAL RUANG LUAR PADA RUANG PUBLIK PERKOTAAN (STUDI KASUS: TAMAN KOTA DENPASAR DI LUMINTANG, DENPASAR) I Wayan Wirya Sastrawan; Ni Wayan Meidayanti Mustika
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 6 No. 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.1.772.23-31

Abstract

ABSTRAK Demi kebutuhannya, manusia berusaha mengkondisikan lingkungan agar memberikan kenyamanan termal bagi tubuhnya. Ruang luar merupakan salah satu lingkungan tempat manusia beraktivitas selalu dipengaruhi kondisi iklim, sehingga kenyamanan yang dirasakan manusia sangat tergantung kondisi termal lingkungan tersebut. Kenyamanan termal yang dibutuhkan setip personal manusia selain dipengaruhi oleh factor termal juga dipengaruhi oleh jenis kegiatan dan pakaian dari personal manusia. Obyek ruang luar dalam penelitian ini merupakan lingkungan binaan dengan wujud sebuah taman kota sebagai sarana rekreasi yang nyaman bagi masyarakat kota, baik dari kenyamana visual maupun dari kenyamana termal. Sehinga penting dilakukan penelitian mengenai tingkat kenyamanan termal dan sensasi yang dirasakan pengunjung taman kota untuk kemudian menjadi bahan pertimbangan bagi arsitek untuk mengembangkan desain taman kota yang optimal. Fokus penelitian ini adalah kondisi tingkat kenyamanan termal di Taman Kota Denpasar di Lumintang dan elemen ruang luar Taman Kota. Pada Tahun 2016 sudah dilaksanakan penelitian serupa di Lapangan I Gusti Made Agung (Lapangan Puputan) dan tahun ini dilanjutkan dengan Taman Kota Lumintang yang juga salah satu taman kota di Denpasar. Tujuan dari penelitian ini adalah dengan mengetahui kondisi termal eksisting yang memberikan kenyamanan termal dan sensasi yang dirasakan pengunjung, maka hal tersebut dapat digunakan untuk mencari elemen ruang luar apa yang mempengaruhi tingkat kenyamanan termal di taman kota tersebut. Sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan landasan bagi arsitek dalam mengembangkan dan merancang taman kota yang dapat berfungsi secara optimal. Maka untuk mencapai tujuan tersebut dalam penelitian ini menggunakan metode komparasi dan simulasi, dengan mengkombinasikan hasil simulasi Comfort Calculator dan sensasi kenyamana termal yang dirasakan pengunjung di masing-masing titik zoning fungsi di taman kota. Hasil tersebut akan menunjukan pemetaan sebaran tingkat kenyamanan termal di masing-masing zoning. Sehingga dengan pemetaan sebaran tingkat kenyamanan termal tersebut dapat dilihat elemen Hard Scape dan Soft Scape yang mempengaruhi di setiap zoning fungsi taman kota. Kata Kunci : Kenyamanan Termal, Taman Kota, Ruang luar ABSTRACT For their life, humans try to condition the environment to provide thermal comfort for the body. Landscape is one of the environments where human activity is always influenced by climatic conditions, so that human comfort is highly dependent on the thermal conditions of the environment. The thermal comfort required by human personal not only influenced by thermal factors but also influenced by the type of activity and clothing of the human person. The object of landscape in this research is a built environment with the form of a city park as a convenient recreation for the city, both from the visual comfort and the thermal comfort. So, it is important to do research on the thermal comfort level and the people felt by the city park to then be considered for the architect to develop an optimal city park design. The focus of this research is the condition of thermal comfort level at Taman Kota Denpasar in Lumintang and element of landscape of City Park. In 2016, similar research was conducted at the Lapangan I Gusti Made Agung (Lapangan Puputan) and this year continued with the Lumintang City Park which is also one of the city parks in Denpasar. The purpose of this study is to find out the existing thermal conditions that provide thermal comfort and the visitors felt, so it can be used to find out what elements of space affect the level of thermal comfort in the city park. So the results of this study can be used as a foundation for architects in developing and designing a city park that can function optimally. So, to achieve this goal in this research using comparative and simulation methods, by combining the Comfort Calculator simulation results and the visitors felt of thermal comfort felt at each zoning point function in the city park. These results will show a mapping of the distribution of thermal comfort levels in each zoning. So, with mapping the spread of thermal comfort level can be seen elements of Hard Scape and Soft Scape that affect in every zoning function of city park Keyword : Thermal Comfort, City Park, Landscape
PERKEMBANGAN PEMANFAATAN AREA KARANG BENGANG DI ANTARA DESA PAKRAMAN TEGALLALANG DAN SAPAT Made Prarabda Karma
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 6 No. 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.1.773.1-12

Abstract

ABSTRAK Ruang terbuka sebagai bagian dari sebuah kawasan memiliki ciri khas sesuai dengan kearifan lokal yang berkembang di daerah tersebut. Karang bengang sebagai salah satu konsep ruang terbuka yang ada di Bali, keberadaannya sangatlah penting mengingat fungsinya sebagai penyangga sebuah kawasan. Akan tetapi, pemahaman terhadap konsep karang bengang ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum sehingga menimbulkan berbagai permasalahan, seperti bibit konflik horizontal antar desa pakraman dan lain-lain. Selain dari pada itu, ditingkat peneliti juga memiliki perbedaan pendapat terkait pemahaman konsep karang bengang. Apakah dapat dimanfaatkan atau tidak dapat dimanfaatkan? Hasil tulisan yaitu secara spasial karang bengang terletak di luar permukiman tradisional, dapat dimanfaatkan ketika fungsinya bukan sebagai hutan. Perkembangan pemanfaatan karang bengang dari sebelum dimanfaatkan hingga saat ini menghasilkan suatu pola kawasan yaitu pola linier, “bentuk massa bangunan mengikuti jaringan jalan”. Peran desa pakraman dalam pemanfaatan karang bengang terbatas pada aspek kependudukan, sedangkan peran secara spasial belum dilakukan. Metode penelitian yang digunakan tergolong metode kualitatif yang dianalisis secara induktif. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi literatur dan studi instansional. Lokasi penelitian terletak di Desa Tegallalang Gianyar. Manfaat tulisan ini yaitu memperkaya konsep dan teori perencanaan kawasan serta dapat menjadi pertimbangan terhadap permasalahan keruangan antar desa pakraman di Bali. Kata kunci: Perkembangan, pemanfaatan, karang bengang, desa pakraman, Tegallalang ABSTRACT Open spaces as part of a typical fit with local wisdom that grew in the area. Karang bengang as one of the open space concept in Bali, its existence is important given its function as a buffer. However, the understanding of this concept is not much known by the general public so as to give rise to various problems, such as a horizontal conflict between seedling desa pakraman and others. Apart from that, the present researchers also have differing opinions related understanding of karang bengang. Whether or not can be utilized? The results of the writing that is in spatial karang bengang located outside the traditional settlement, can be utilized when it functions not as a forest. Development of utilization of karang bengang before utilized up to now produce a pattern region i.e. a linear pattern, "the form of the mass of the building follows the road network". Role of desa pakraman utilization in karang bengang limited aspects of population, while the role of spatial basis has not been made. The method of research used the qualitative methods that belong to be analyzed are inductively. Method of collecting data through observation, interviews, literature studies and study instansional. Research location is located in Tegallalang Village in Gianyar. The benefits of this writing that is enriching the concept and theory of planning regions and can be a consideration against the problems of spatial between the desa pakraman in Bali. Keywords: development, utilazition, karang bengang, desa pakraman, Tegallalang
KAJIAN ELEMEN PEMBENTUK PROPORSI PADA CANDI TEBING TEGALLINGGAH DI DESA BEDULU, BLAHBATUH - GIANYAR Anak Agung Gede Raka Gunawarman
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 6 No. 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.1.774.32-36

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini merupakan sebuah hasil dari penelitian sebelumnya tentang kajian proporsi pada Candi Tebing Gunung Kawi di Tampaksiring - Gianyar dengan membahas elemen pembentuk proporsi (EPP) serta perhitungan proporsinya. Sedangkan pembahasan dalam hasil penelitian dalam tulisan ini hanya berfokus pada bagian elemen pembentuk proporsi (EPP) dengan objek Candi Tebing Tegallinggah, Blahbatuh, Gianyar. Penelitian ini menggunakan metode mixed method dan metode komparatif dengan analisis deskriptif. Perbedaan EPP pada Candi Tebing Gunung Kawi dan Tegallinggah terlihat jelas pada EPP kaki candi dan kepala candi. Bagian kepala Candi Tebing Tegallinggah hanya memiliki satu tingkatan saja dengan angklok/mendur yang berbeda dengan candi tebing lainnya. Kata Kunci : candi tebing, elemen pembentuk, proporsi ABSTRACT This article contains result from previous research about Candi Tebing Gunung Kawi proportion study in Tampaksiring – Gianyar discussing about it’s proportion-forming elements (EPP) and also it’s proportional calculation. Meanwhile the discussion in this article only focused on proportion-forming elements (EPP) on Candi Tebing Tegallinggah located in Blahbatuh, Gianyar as it’s object study. This research use mixed methods and comparative research method with descriptive anlysis. The results of this research was the difference between EPP on Candi Tebing Gunung Kawi and Tegallinggah that looks clear on it’s Candi’s Foot and Head EPP. On the Head part of Candi Tebing Tegallinggah has just only 1 level with angklok/mendur which is different from the other. Keyword : Candi Tebing, proportion, proportion-forming
FAKTOR-FAKTOR PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN ULAYAT AKIBAT REKLAMASI DI PULAU SERANGAN I Gede Surya Darmawan; Anak Agung Gede Raka Gunawarman
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 6 No. 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.1.775.37-44

Abstract

ABSTRAK Fenomena reklamasi di Pulau Serangan telah merubah pola penggunaan lahan termasuk lahan ulayatnya seperti Lahan Pelaba Pura dan Lahan Druwe Desa. Berbagai jenis perubahan penggunaan lahan baik dari segi bentuk, ukuran, luasan, letak, dan jenis penggunaan lahan ulayatnya, tentunya dilatarbelakangi oleh berbagai faktor seperti faktor fisik lahan, ekonomi, kelembagaan, dan faktor-faktor lainnya. Adapun metodologi yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode purposif sampling. Hasil penelitian didapatkan 6 kasus jenis perubahan penggunaan lahan ulayat yaitu kasus 1 (penyatuan Banjar Kubu dengan Banjar Dukuh), kasus 2 (perluasan areal Kuburan), kasus 3 (perubahan letak dan luasan Pasar, LPD, dan KUD), kasus 4 (lahan hasil reklamasi yang dijadikan Balai Konservasi Penyu dan Fasilitas Watersport), kasus 5 (pura-pura kepemilikan Puri Kesiman), kasus 6 (pura-pura kepemilikan Desa Pakraman Serangan). Berdasarkan keenam kasus tersebut, penyebab utama terjadinya perubahan penggunaan lahan ulayat di Pulau Serangan adalah datangnya investor PT. BTID yang melaksanakan reklamasi menjadi empat kali lipat dari luas asli Pulau Serangan serta membeli dan tukar guling lahan eksisting untuk dijadikan kepemilikan PT. BTID seperti kasus tukar guling lahan Banjar Kubu. Faktor utama inilah yang mendukung terjadinya perubahan fisik lahan ulayat dan sosial budaya masyarakat setempat serta faktor kelembagaan dari pihak PT. BTID dan lembaga adat yaitu Desa Pakraman Serangan serta pihak Puri Kesiman yang membuat suatu perjanjian dalam hal eksistensi lahan ulayat pasca reklamasi. Terdapat suatu kompensasi yang dijanjikan oleh PT. BTID yang pada dasarnya menguntungkan semua pihak namun terdapat beberapa perjanjian yang hingga sekarang masih belum direalisasikan oleh pihak PT. BTID karena proyek mega wisata ini masih belum dilanjutkan. Selain itu terdapat pula faktor di luar nalar manusia yaitu adanya pawisik dari Ida Bhatara kepada tokoh masyarakat setempat untuk mendirikan Pura Batu Api dan Pura Batu Kerep. Kata Kunci : faktor-faktor pengaruh, lahan ulayat, reklamasi ABSTRACT The phenomenon of reclamation in Serangan Island has changed the land use pattern including Ulayat Land such as Pelaba Pura Land and Druwe Desa Land. Various types of land use change in terms of shape, size, extent, location and type of Ulayat Land, of course, backed by various factors such as physical factors land, economy, institutional, and other factors. The methodology used qualitative descriptive with purposive sampling method. The result of this research are 6 cases of land use change, namely case 1 (Banjar Kubu and Banjar Dukuh), case 2 (extension of cemetery area), case 3 (location change and area of Traditional Market, LPD and KUD), case 4 (land post-reclamation that was used as Turtle Conservation Center and Watersport Facilities), case 5 (temples ownership of Puri Kesiman), case 6 (temples be ownership of Desa Pakraman Serangan). Based on the six cases, the main cause of the change of Ulayat Land on Serangan Island is the arrival of PT. BTID that carried out the reclamation to be four times the original area of Serangan Island as well as buy and exchange the existing land for the ownership of PT. BTID is like Banjar Kubu land swap. This is the main factor that supports the physical changes of ulayat land and socio-culture of local communities and institutional factors of PT. BTID and customary institutions namely Desa Pakraman Serangan and Puri Kesiman made an agreement in terms of ulayat land existence after reclamation. There is a compensation promised by PT. BTID which basically benefits all parties but there are some agreements that until now still not realized by the PT. BTID because the mega tourism project is still not resumed. In addition there are also factors outside the human reason that the pawisik from Ida Bhatara to local community leaders to establish Pura Batu Api and Pura Batu Kerep. Keywords: influence factors, lahan ulayat, reclamation
PERUBAHAN FUNGSI KAWASAN PATUNG RAMAYANA WILAYAH KERTALANGU DENPASAR TIMUR BALI I Wayan Diksa
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 6 No. 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.1.776.45-50

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan, dengan melakukan pengamatan kelokasi yang mana terjadi berubahan signipikan dari penataan awal dari pada kawasan patung Ramayana menjadi alih fungsi kawasan komersial, secara legal standing adalah melanggar peruntukan fungsi tata guna lahan (pelanggaran Perda Kota Denpasan nomor 11 tahun 2011 tentang Rencana Tata Hijau Kota). Penelitian ini bertujuan, untuk mengetahui sejauh mana perubahan fungsi kawasan patung Ramayana menjadi fungsi komersial. Penelitian ini menggunakan metode komparasi deskritip, yaitu kajian obyek penelitian dikomparasi dengan teori kemudian dapat disimpulkan. Penelitian ini menghasilkan terjadinya perubahan fungsi penggunaan ruang dari kawasan Hijau Kotamenjadi fungsi-fungsi kawasan komersial, seperti kawasan industry dan penjualan kerajinan seni Bali, kawasan budi daya dan penjualan tanaman pertamanan, kawasan parkir pariwisata menjadi parkir truk, pik kup dan menurunkan alat-alat komersilnya. Kata kunci: Area Komersil, Kawasan Patung Ramayana, Perubahan Fungsi ABSTRACT This research was done by observing to the location of Ramayana Statue Region where significant changes happens from the earlier planning to Commercial area. According to legal standing that event was against the law of Land Use about City Green Planning. The aim of this research is to know how far Ramayana Statue region function have changes and becoming a commercial area. This research using descriptive comparative methods through object study research compared with theory and then getting the conclusion. This research conclusion explains that spatial functional changes have occurred in the area, it changes from green area to commercial area. Commercial area that emerges such as: Balinese art craft industry, nursery and plants selling area, tourism parking region becoming a pick up car or truck parking and unloading it commercial tools. Keywords: Ramayana Statue Region, Commercial area, Functional Changes.

Page 1 of 1 | Total Record : 6