Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PEMETAAN BUDAYA: ARSITEKTUR CINA DI DESA BABAGAN-LASEM JAWA TENGAH Mutiawati Mandaka; Ni Wayan Meidayanti Mustika
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 1 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.77 KB) | DOI: 10.54325/kolaborasi.v1i2.9

Abstract

Dari sekian banyak negara di dunia yang memiliki tingkat kebudayaan yang tinggi, Indonesia termasuk salah satu dari negara-negara tersebut. Banyak peninggalan bersejarah yang terdapat di wilayah Indonesia, salah satunya kebudayaan Cina. Cultural mapping merupakan sebuah pendekatan berbasis masyarakat yang bertujuan untuk mewujudkan pelestarian kawasan. Studi kasus yang diangkat pada cultural mapping kali ini adalah arsitektur Tionghoa di Desa Babagan Lasem. Lasem diangkat karena memiliki sejarah perkembangan salah satu permukiman Cina tertua di Indonesia. Tujuan paper ini adalah untuk mengetahuisejarah perkembangan kawasan Babagan, melakukan pemetaan arsitektur-arsitektur Tionghoa dan memberikan rekomendasi. Dengan pendekatan survey lapangan untuk pengambilan foto dan plot koordinat objek di lapangan dan didukung oleh data sekunder berupa penelusuran referensi-referensi terkait dengan desa Babagan Lasem. Hasil penelitian merekomendasikan ada delapan bangunan yang dapat dimasukkan kedalam pemetaan arsitektur Tionghoa yang ada di Desa Babagan yaitu klenteng Gie Yong Bio, rumah Om King Liang, omah Kim Jong, gedung Hoo Hap, omah Batik Dinar, omah om Jun, omah kerabat Djarum, omah Batik Sekar Kentjana. Dengan mengetahui signifikansi sejarah pembentukan Desa Babagan melalui arsitektur dan tata ruangnya, diharapkan hasilnya dapat digunakan untuk pemetaan yang bermanfaat untuk pemerintah desa, Pokdarwis dan akademisi (mengembangkan ilmu pengetahuan).
Preliminary Study of Green Material for Green Building in Bali Ni Wayan Meidayanti Mustika; Acwin Ngakan Ketut Dwijendra
International Journal of Engineering and Emerging Technology Vol 6 No 1 (2021): January - June
Publisher : Doctorate Program of Engineering Science, Faculty of Engineering, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/IJEET.2021.v06.i01.p03

Abstract

The definition of green materials is building materials that are environmentally friendly, do not have a negative impact on building users, and are sustainable. Green Material is one of the criteria in the green building assessment parameters that will support energy efficiency goals. Understanding green materials and their availability for their demands in Bali is important to align the growth of green buildings in Bali with the potential and problems of material supply. This paper aimed at conducting an initial preliminary study of the limitation and opportunities for the use of sustainable building materials according to the green building principle approach in Bali. The method used is descriptive method that is reinforced by literature review techniques related to the context of the discussion . Buildings in Bali, when viewed from the use of building materials, carry very distinctive design and appearance characteristics. The selection of green materials in Bali will be influenced by the demands of the requirements for implementing Balinese architecture in buildings, restrictions on material procurement due to location, material legality references and ecolabel certification documents and opportunities for using smart and advanced materials without losing the character of Balinese building architecture.
Implementation of User Anthropometry Bale “Sakenem” Buildings based on Height Bataran and Height Bale-bale in Singapadu Tengah Village, Gianyar I Wayan Parwata; Anak Agung Gede Oka Wisnumurti; Ni Wayan Meidayanti Mustika
INSIST Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.585 KB) | DOI: 10.23960/ins.v1i1.8

Abstract

Abstract—Bale Sakenem Building is one of the buildings that were in the order of Traditional Bali House. This study identified Bale Sakenem building located in the Central Singapadu Village and that is observational research by using cross sectional design. This research was done by means of retrospective observational that is considered the factor that can affect Bale Sakenem Building Anthropometry. From the data analyze of research identification, 30% height bataran not in accordance with the average size of an ideal height bataran and 20% height bale-bale also not in accordance with the average of the ideal height bale-bale in Bale Sakenem building in the Central Singapadu Gianyar have not yet undertaken anthropometry users and more dominant to follow measurements that based on the size of Undagi, as a consequence there was uncomfortableness. Height bataran and height bale-bale is based on the tolerance of anthropometry using the 95 percentile and 5 percentile for tolerance limitKeywords—Anthropometry, Balinese Architecture, Culture, Percentile, User Comfort.
PENGABDIAN MASYARAKAT DESAIN PENATAAN PURA DADIA PASEK GEL GEL PEKANDELAN DI DESA SIBETAN KARANGASEM Ni Wayan Meidayanti Mustika; Gde Bagus Andhika Wicaksana S.T.,M.T.; I Ketut Yasa Bagiarta
Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Abdi Masyarakat November 2024
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jaim.v8i1.6078

Abstract

Pentingnya dukungan teknis dari pihak luar, termasuk akademisi, ditekankan untuk memfasilitasi akses ke dana hibah yang diperlukan untuk renovasi. Ini bukan hanya tentang pemulihan fisik pura tetapi juga pelestarian warisan budaya dan spiritual yang penting bagi komunitas Desa Sibetan. Proses renovasi pura menunjukkan kolaborasi antara tradisi dan kebutuhan modern, mencerminkan usaha bersama antara masyarakat lokal, pemerintah, dan institusi pendidikan dalam memastikan bahwa warisan budaya dan spiritual desa dipertahankan dan diperkuat. Renovasi Pura Pasek Pajenengan Dadia Gel Gel Pekandelan menjadi prioritas, mengingat signifikansinya dalam kehidupan masyarakat Desa Sibetan. Dengan kerusakan yang terjadi, terutama setelah erupsi Gunung Agung dan selama pandemi, kebutuhan akan pemugaran menjadi mendesak. Fasilitas pura yang rusak tidak hanya mempengaruhi praktik keagamaan tetapi juga integritas sosial dan budaya masyarakat. Kondisi ini membutuhkan respons yang cepat dan efektif, dengan pendekatan yang mempertimbangkan aspek spiritual, sosial, dan budaya dalam proses desain dan renovasi. Diharapkan, dengan bantuan teknis dan keilmuan dari akademisi, Desa Sibetan dapat mengatasi kendala dalam membuat desain dan pengajuan anggaran yang efektif. Kolaborasi ini juga bertujuan untuk memperkuat hubungan antara komunitas desa dengan sumber daya eksternal, memastikan bahwa Pura Pasek Pajenengan Dadia Gel Gel Pekandelan dan pura-pura lain di Karangasem dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Melalui proses ini, desa tidak hanya memperbaiki infrastruktur fisiknya tetapi juga memperkuat fondasi spiritual dan sosial yang menjadi inti dari kehidupan komunitas Desa Sibetan.
PENGABDIAN MASYARAKAT PERANCANGAN FASILITAS SENI DAN BUDAYA PADA DAYA TARIK WISATA GAMAT BAY Ni Wayan Meidayanti Mustika; Gde Bagus Andhika Wicaksana; I Ketut Yasa Bagiarta
Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2024): Jurnal Abdi Masyarakat Mei 2024
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jaim.v7i2.5201

Abstract

Desa Sakti merupakan salah satu dari 16 desa yang ada di Kecamatan Nusa Penida Kabupaten Klungkung. Mata pencaharian utama penduduk adalah bertani dan beternak. Pertanian dengan tanaman pangan sekunder seperti jagung, ketela pohon dan kacang-kacangan. Sedangkan tanaman perkebunan terdiri dari kelapa, jambu mete, nangka, mangga dll. Ternak terdiri dari sapi, babi dan ayam lokal. Sektor pertanian pangan dan palawija yang selama ini dimanfaatkan oleh penduduk. Kegiatan wisata sudah mulai tampak di Pulau Nusa Penida, hal ini dapat dilihat semakin berkembangnya fasilitas pendukung pariwisata seperti pembangungan vila, hotel, restoran dan fasilitas lainnya. Kegiatan wisata sudah mulai tampak di Pulau Nusa Penida, hal ini dapat dilihat semakin berkembangnya fasilitas pendukung pariwisata seperti pembangungan vila, hotel, restoran dan fasilitas lainnya. Melirik mengenai adanya kesinambungan pengembangan DTW Gamat Bay yang merupakan lokasi hutan lindung seluas 30 hektar. Pengembangan fasilitas seni dan budaya akan sejalan dan selaras dalam menjaga kelestarian alam dan nilai budayanya. Dalam pengembangan fasilitas yang memasukkan aspek alam dalam keselarasannya, dalam ilmu arsitektur prinsip ekologis menjadi kunci untuk mencapai jenis perancangan ini. Ekologis meliputi keseluruhan ekosistem baik nilai sosial, budaya dan historis yang terjadi sehingga perancangan Fasilitas Seni dan Budaya pada DTW Gamat Bay memiliki kedekatan kontekstual baik bagi alam serta mampu mencerminkan dan mendekatkan sosial masyarakat didalamnya. potensi karakteristik dan potensi Desa Sakti dalam pengembangan DTW Gamat Bay, perancangan fasilias seni dan budaya memiliki posisi spesial dalam menambah ragam fasilitas sekaligus mewakili nilai local genius yang ada.
PERSEPSI TINGKAT KENYAMANAN TERMAL RUANG LUAR PADA RUANG PUBLIK PERKOTAAN (STUDI KASUS: TAMAN KOTA DENPASAR DI LUMINTANG, DENPASAR) I Wayan Wirya Sastrawan; Ni Wayan Meidayanti Mustika
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 6 No. 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.1.772.23-31

Abstract

ABSTRAK Demi kebutuhannya, manusia berusaha mengkondisikan lingkungan agar memberikan kenyamanan termal bagi tubuhnya. Ruang luar merupakan salah satu lingkungan tempat manusia beraktivitas selalu dipengaruhi kondisi iklim, sehingga kenyamanan yang dirasakan manusia sangat tergantung kondisi termal lingkungan tersebut. Kenyamanan termal yang dibutuhkan setip personal manusia selain dipengaruhi oleh factor termal juga dipengaruhi oleh jenis kegiatan dan pakaian dari personal manusia. Obyek ruang luar dalam penelitian ini merupakan lingkungan binaan dengan wujud sebuah taman kota sebagai sarana rekreasi yang nyaman bagi masyarakat kota, baik dari kenyamana visual maupun dari kenyamana termal. Sehinga penting dilakukan penelitian mengenai tingkat kenyamanan termal dan sensasi yang dirasakan pengunjung taman kota untuk kemudian menjadi bahan pertimbangan bagi arsitek untuk mengembangkan desain taman kota yang optimal. Fokus penelitian ini adalah kondisi tingkat kenyamanan termal di Taman Kota Denpasar di Lumintang dan elemen ruang luar Taman Kota. Pada Tahun 2016 sudah dilaksanakan penelitian serupa di Lapangan I Gusti Made Agung (Lapangan Puputan) dan tahun ini dilanjutkan dengan Taman Kota Lumintang yang juga salah satu taman kota di Denpasar. Tujuan dari penelitian ini adalah dengan mengetahui kondisi termal eksisting yang memberikan kenyamanan termal dan sensasi yang dirasakan pengunjung, maka hal tersebut dapat digunakan untuk mencari elemen ruang luar apa yang mempengaruhi tingkat kenyamanan termal di taman kota tersebut. Sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan landasan bagi arsitek dalam mengembangkan dan merancang taman kota yang dapat berfungsi secara optimal. Maka untuk mencapai tujuan tersebut dalam penelitian ini menggunakan metode komparasi dan simulasi, dengan mengkombinasikan hasil simulasi Comfort Calculator dan sensasi kenyamana termal yang dirasakan pengunjung di masing-masing titik zoning fungsi di taman kota. Hasil tersebut akan menunjukan pemetaan sebaran tingkat kenyamanan termal di masing-masing zoning. Sehingga dengan pemetaan sebaran tingkat kenyamanan termal tersebut dapat dilihat elemen Hard Scape dan Soft Scape yang mempengaruhi di setiap zoning fungsi taman kota. Kata Kunci : Kenyamanan Termal, Taman Kota, Ruang luar ABSTRACT For their life, humans try to condition the environment to provide thermal comfort for the body. Landscape is one of the environments where human activity is always influenced by climatic conditions, so that human comfort is highly dependent on the thermal conditions of the environment. The thermal comfort required by human personal not only influenced by thermal factors but also influenced by the type of activity and clothing of the human person. The object of landscape in this research is a built environment with the form of a city park as a convenient recreation for the city, both from the visual comfort and the thermal comfort. So, it is important to do research on the thermal comfort level and the people felt by the city park to then be considered for the architect to develop an optimal city park design. The focus of this research is the condition of thermal comfort level at Taman Kota Denpasar in Lumintang and element of landscape of City Park. In 2016, similar research was conducted at the Lapangan I Gusti Made Agung (Lapangan Puputan) and this year continued with the Lumintang City Park which is also one of the city parks in Denpasar. The purpose of this study is to find out the existing thermal conditions that provide thermal comfort and the visitors felt, so it can be used to find out what elements of space affect the level of thermal comfort in the city park. So the results of this study can be used as a foundation for architects in developing and designing a city park that can function optimally. So, to achieve this goal in this research using comparative and simulation methods, by combining the Comfort Calculator simulation results and the visitors felt of thermal comfort felt at each zoning point function in the city park. These results will show a mapping of the distribution of thermal comfort levels in each zoning. So, with mapping the spread of thermal comfort level can be seen elements of Hard Scape and Soft Scape that affect in every zoning function of city park Keyword : Thermal Comfort, City Park, Landscape
Kenyamanan Termal pada Taman Air Berarsitektur Tradisional Bali (Studi Kasus: Tirta Gangga) I Wayan Wirya Sastrawan; I Gede Surya Darmawan; Ni Wayan Meidayanti Mustika
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 6 No. 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.2.1018.51-59

Abstract

Thermal comfort is an absolute for the human body, therefore human always attempting to customise the environment to achieve thermal convenience for the body. Water parks in this research are planned with the built environment applying the elements of the exterior space architecture supported the concept of traditional Balinese architecture. See the conditions, then there is an important opportunity and conducted research on the characteristics of the thermal comfort of the water garden. The focus of this research is the thermal comfort level and element of outdoor space in the garden Tirta Gangga, Karangasem. Taman Tirta Gangga was chosen as the locus of research because it has the characteristics of a typical application elements especially water parks that dominate and the application of the concept of traditional Balinese architecture. The purpose of this research was to identify the distribution of thermal conditions, knowing the level of influence of the outside space of the element against thermal conditions, and the extent of the impact of the pattern arrangement of water garden with traditional Balinese architecture concept against thermal comfort. So the results of this research can be used as a foundation for architects in developing and designing a water garden can function optimally. In this study using the method of comparison and simulation to see thermal comfort condition visualisation objects of research. From the results of the simulations can be used to identify the influence of the element of outdoor space and the concept of traditional Balinese architecture against the thermal comfort on the object of research. Kenyamanan termal menjadi hal yang mutlak bagi tubuh manusia, oleh karenanya manusia sesalu berusaha mengkondisikan lingkungan untuk mencapai kenyamana termal bagi tubuhnya. Salah satu tempat manusia beraktivitas adalah ruang luar. Taman air dalam penelitian ini merupakan lingkungan binaan terencana dengan mengaplikasikan elemen-elemen arsitetur ruang luar yang didukung konsep Arsitektur Tradisional Bali. Melihat kondisi tersebut, maka terdapat peluang dan penting dilakukan penelitian mengenai Karakteristik Kenyamanan Termal Taman Air. Fokus penelitian ini adalah tingkat kenyamanan termal dan elemen ruang luar di Taman Tirta Gangga, Karangasem. Taman Tirta Gangga dipilih sebagai lokus penelitian karena memiliki karakteristik yang khas terutama penerapan elemen taman air yang mendominasi serta penerapan konsep Arsitektur Tradisional Bali. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi sebaran kondisi termal, mengetahui tingkat pengaruh elemen ruang luar terhadap kondisi termal, dan sejauh mana pengaruh pola penataan taman air dengan konsep Arsitektur Tradisional Bali terhadap kenyamanan termal. Sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan landasan bagi arsitek dalam mengembangkan dan merancang Taman Air yang dapat berfungsi secara optimal. Dalam penelitian ini menggunakan metode komparasi dan simulasi untuk melihat visualisasi kondisi kenyamanan termal dalam obyek penelitian. Dari hasil simulasi tersebut dapat digunakan mengidentifikasi pengaruh elemen ruang luar dan konsep Arsitektur Tradisional Bali terhadap kenyamanan termal pada obyek penelitian.
SKEMATIK DESAIN ARSITEKTUR FASILITAS PENUNJANG AGROWISATA BUDIDAYA LEBAH MADU (STUDI KASUS: DESA MADENAN, KABUPATEN BULELENG) Made Wahyu Anggareza Sumarna; Ni Wayan Meidayanti Mustika; I Wayan Wirya Sastrawan
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 8 No. 1 (2020): Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa [June 2020]
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.8.1.1909.10-20

Abstract

Agro-tourism exists as a tourist attraction with the use of natural resources including farms and animal husbandry, empowerment of rural communities with work as farmers have a place to increase production from agricultural and livestock products that can boost their social economy. Madenan Village, Buleleng Regency is a potential area in the agropolitan sector. Of the many agro-tourism in Bali, Honey Bees Cultivation in Madenan Village is very likely, in addition to being quite unique, the impact on the socioeconomic and the environment will be felt, especially the government supports this in the form of superior Honey Bee Bees, but its management has not been precise so that it impacts to the decline in production. Efforts to facilitate farmers in the cultivation of Honey Bees, Agro Tourism is an answer to solve architectural problems regarding production and management. The concept of edu - tourism will be an attraction in this agro-tourism with the form of buildings that adapt to the climate that will be applied. Tropical Architecture with adjustment of humid climate conditions with mountain topography will be an architectural solution in the Madenan Village area. Keywords: agro-tourism, beekeeping, edu-tourism, tropical
KONSEP DESAIN HOTEL RESORT BERIDENTITAS BALI DI PANTAI BUGBUG, KARANGASEM - BALI I Gede Ramsa Wahyu Alam Sari; I Wayan Runa; Ni Wayan Meidayanti Mustika
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 8 No. 1 (2020): Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa [June 2020]
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.8.1.1910.31-36

Abstract

This tourism accommodation was built aimed at equitable development of hotels that lead to east, north and west Bali. Due to the development gap between the construction of tourism facilities which will be concentrated in South Bali, it is necessary to equalize other areas of Bali such as east, west and north Bali. It also aims to develop regional income as a domestic and foreign tourist destination. The data collection methods used are, for example, the literature study method, which is the data collection method carried out by taking the necessary data from the related literatures. Either that is done by making direct observations in the field, regarding the problem being reviewed. By jumping directly to the location and see the physical condition of the area itself. As well as documentation methods, namely taking pictures to strengthen and clarify theoretical data by taking photos directly to the object. The concept of site planning will refer to the east-west oriented spatial concept. Its implementation will form the main, intermediate and blasphemous area values. Both the concept as the rising and setting of the sun and the north south associated with mountains and the sea in zoning arrangement, the layout of the entrance or entrance, the basic form of mass, mass system, mass patterns that will produce the orientation of the mass of the building, circulation and outer space. The concept of building planning where in this concept the shape of the building of the resort hotel has almost been realized in the form of the concept of interior space or called the interior of the building that displays the dimensions of the space, material and function of the space itself, where the inner space will produce the appearance of the building or face of the facade the exterior of this resort hotel The utility system concept is not spared from buildings like humans as a container for utility buildings as a channel for the nerves of human channels or buildings so that the utility system cannot be separated from being linked to the building as for the utility system which later as a basic reference for the construction of this resort hotel or as a distribution of development tourism and increase the original income of the region especially Karangasem Regency. Keywords: Modern Tropical; Recreation; Resort Hotels
Pendekatan Healing Environment untuk Perancangan Pusat Pelayanan Terapi dan Rumah Singgah Kanker Anak di Denpasar Nilla Shanti Rimadhani Prasetyo; Ni Wayan Meidayanti Mustika; Anak Agung Gede Raka Gunawarman
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 9 No. 1 (2021): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.9.1.3465.153-162

Abstract

Kanker merupakan penyakit yang cukup serius di Indonesia, khususnya jumlah pasien kanker anak di Bali kian meningkat setiap tahunnya. Permasalahan yang ada adalah kanker berdampak buruk tidak hanya pada aspek kesehatan fisik namun juga psikologis pada pasien, Pemulihan diperburuk oleh minimnya fasilitas pengobatan kanker anak yang didukung lingkungan pemulihan yang baik. Untuk mengatasi permasalahan ini dibutuhkan fasilitas pusat pelayanan terapi dan rumah singgah kanker anak yang mampu mendukung percepatan pemulihan pasien kanker anak. Suasana dan lingkungan merupakan salah satu elemen yang dapat mempengaruhi perkembangan penyembuhan. Kajian ini bertujuan untuk mendesain pusat pelayanan terapi dan rumah singgah kanker anak yang menerapkan pendekatan healing environment dan tema arsitektur modern tropis. Metode yang digunakan dalam paper ini adalah deskriptif kualitatif dan programatik yang bertujuan menganalisis sesuai dengan fakta dan kondisi sebenarnya. Hasilnya digunakan sebagai pendekatan desain dan diperkaya dengan konsep healing environment dan tropis modern.Penerapan konsep healing environment pada bangunan pusat pelayanan terapi dan rumah singgah kanker anak tmencakup penerapan konsep unsur panca indra dan unsur hubungan lingkungan terbangun dengan alam sekitar dan unsur penyembuhan psikologis. Adapun konsep healing environment secara fisik diwujudkan dalam desain fasilitas terapi kanker dan rumah singgah dengan memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alamiah, integrasi unsur alam dalam ruang, kontrol kebisingan, aspek warna menenangkan, kenyamanan visual, aroma dan penggunaan material alamiah. Hasil penerapan pendekatan healing environment dapat menghasilkan desain fasilitas terapi kanker anak dan rumah singgah yang suportif dan membantu proses pemulihan pasien kanker anak.