cover
Contact Name
Alfons Tampenawas
Contact Email
alfonsreenz@gmail.com
Phone
+6285256475233
Journal Mail Official
oudysepang@stt-indonesia.ac.id
Editorial Address
Jalan Tololiu Supit no. 54, Manado - 95119
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AMBASSADORS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 27234290     DOI : https://doi.org/10.54369/ajtpk
Core Subject : Religion,
AMBASSADORS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani adalah forum publikasi ilmiah yang memuat hasil penelitian dalam bidang Teologi dan Pendidikan Kristiani. Jurnal ini diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Manado dan ditujukan bagi para dosen, peneliti, serta akademisi dari berbagai institusi yang memiliki minat dalam pengembangan kajian teologi dan pendidikan Kristiani. Jurnal AMBASSADORS terbit dua kali dalam setahun, pada bulan Juni dan Desember, serta menerapkan sistem double-blind peer review untuk menjamin kualitas publikasi. Jurnal AMBASSADORS berfokus pada kajian teologi yang mengintegrasikan berbagai perspektif kontemporer dan interdisipliner guna mengupas makna serta relevansi teologi dalam konteks modern. Selain itu, jurnal ini juga mengeksplorasi dinamika dan tantangan dalam Pendidikan Kristiani, termasuk isu-isu yang muncul dalam era digital serta dalam masyarakat yang semakin multikultural. Melalui pendekatan yang berbasis penelitian ilmiah, Jurnal AMBASSADORS bertujuan untuk menjadi wadah refleksi teologis yang dapat memperkaya wawasan akademik dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia teologi dan pendidikan Kristiani.
Articles 44 Documents
a Rekonstruksi Etika Seksualitas Kristen: Kajian Teologis-Etis terhadap Fenomena Hidup Bersama Tanpa Pernikahan di Kalangan Jemaat Tyson Supit
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v5i1.97

Abstract

Abstract: Sexuality is a gift from God that must be realised within the bond of marriage as a sacred covenant reflecting love and moral responsibility. Shifts in values brought about by culture and globalisation, as well as popular culture, present new challenges for the church in upholding the integrity of Christian sexual ethics whilst providing a contextual response to the realities of congregational life. The phenomenon of cohabitation without marriage (kumpul kebo), which is beginning to be observed amongst Christian congregations, indicates a tension between theological teachings on the sanctity of marriage and increasingly permissive social practices. This study aims to analyse and reconstruct Christian sexual ethics through a theological-ethical approach as a response to the phenomenon of cohabitation without marriage amongst Christian congregations. Using a qualitative method with a library research approach, it can be concluded that Christian sexual ethics are grounded in the theology of creation, the concept of the imago Dei, and marriage as a sacred covenant that forms the basis for the expression of human sexuality. The theological-ethical analysis reveals that the phenomenon of cohabitation without marriage amongst Christian congregations is influenced by social and cultural changes, as well as a weakening of faith formation. This study reconstructs Christian sexual ethics through a paradigm that integrates truth and pastoral care as an ethical model that remains grounded in biblical authority.  Abstrak: Seksualitas merupakan anugerah Allah yang harus diwujudkan dalam ikatan pernikahan sebagai perjanjian kudus yang mencerminkan kasih dan tanggung jawab moral. Pergeseran nilai akibat budaya dan globalisasi, serta budaya populer menimbulkan tantangan baru bagi gereja dalam mempertahankan integritas etika seksualitas Kristen sekaligus memberikan respons yang kontekstual terhadap realitas kehidupan jemaat. Fenomena hidup bersama tanpa pernikahan (kumpul kebo) yang mulai dijumpai di kalangan jemaat Kristen menunjukkan adanya ketegangan antara ajaran teologis mengenai kekudusan pernikahan dengan praktik sosial yang semakin permisif. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan merekonstruksi etika seksualitas Kristen melalui pendekatan teologis-etis sebagai respons terhadap fenomena hidup bersama tanpa pernikahan di kalangan jemaat Kristen. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), maka dapat disimpulkan bahwa etika seksualitas Kristen berlandaskan pada teologi penciptaan, konsep imago Dei, dan pernikahan sebagai perjanjian kudus yang menjadi dasar ekspresi seksualitas manusia. Analisis teologis-etis mengungkapkan bahwa fenomena hidup bersama tanpa pernikahan di kalangan jemaat Kristen dipengaruhi oleh perubahan sosial, budaya, dan melemahnya pembinaan iman. Penelitian ini merekonstruksi etika seksualitas Kristen melalui paradigma yang mengintegrasikan kebenaran,  dan pendampingan pastoral sebagai model etika yang tetap berlandaskan otoritas alkitabiah.
Tantangan Dalam Penerapan Manajemen PAK Terhadap Peserta Didik Generasi Alpha Jinta Fitri Lestari
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v5i1.105

Abstract

Abstract: Generation Alpha is a group of learners born since 2010 and growing up in a digital environment that influences their learning methods, thinking patterns, and the formation of values and character. These conditions present new challenges in the implementation of Christian Religious Education (CRE) management, especially when conventional learning approaches can no longer accommodate the characteristics of the digital generation. This research aims to analyze various challenges in the implementation of Christian Religious Education (CRE) management for Generation Alpha students. The study employs a qualitative approach with a literature review method thru critical analysis of theological literature, Christian education, educational management, and studies on Generation Alpha. The research findings indicate that the main challenges include the low internalization of spiritual values due to the dominance of digital media, the digital competency gap among educators, and the suboptimal management of learning that is adaptive to the characteristics of the students. This research concludes that the implementation of PAK management needs to be directed toward the development of contextual, integrative, and technology-based learning strategies, without neglecting the formation of faith, Christian character, and spiritual maturity of Alpha generation students. Abstrak: Generasi Alpha merupakan kelompok peserta didik yang lahir sejak tahun 2010 dan bertumbuh dalam lingkungan digital yang memengaruhi cara belajar, pola berpikir, serta pembentukan nilai dan karakter. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan baru dalam penerapan manajemen Pendidikan Agama Kristen (PAK), terutama ketika pendekatan pembelajaran konvensional tidak lagi mampu mengakomodasi karakteristik generasi digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis berbagai tantangan dalam penerapan manajemen PAK terhadap peserta didik generasi Alpha. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui analisis kritis terhadap literatur teologi, pendidikan Kristen, manajemen pendidikan, dan kajian tentang generasi Alpha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama meliputi rendahnya internalisasi nilai spiritual akibat dominasi media digital, kesenjangan kompetensi digital pendidik, serta belum optimalnya pengelolaan pembelajaran yang adaptif terhadap karakteristik peserta didik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan manajemen PAK perlu diarahkan pada pengembangan strategi pembelajaran yang kontekstual, integratif, dan berbasis teknologi, tanpa mengabaikan pembentukan iman, karakter Kristiani, serta kedewasaan spiritual peserta didik generasi Alpha.
Analisis Teologis Fintech terhadap Etika Keuangan Keluarga Sederhana Berbasis Gereja Kontemporer Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v5i1.107

Abstract

Abstract: Abstract: This study aims to analyse, from a theological perspective, the impact of developments in financial technology on the financial ethics of ordinary families within the context of the contemporary church, with an emphasis on the integration of faith and economic practice. The methodology employed is descriptive qualitative, utilising a contextual theological approach and Christian ethical analysis based on a review of the literature. The research findings indicate that fintech offers ease of access and financial efficiency, yet it also fuels consumerist behaviour, digital debt dependency, and a weakening of family financial discipline. On the other hand, the church has not yet responded optimally to these changes through systematic and contextual financial ethics education. The integration of Christian economic theology, family ethics and fintech literacy is crucial in fostering critical awareness amongst the congregation. The study’s conclusion emphasises that the church needs to develop a faith-based financial education model that is adaptive, reflective and transformative to strengthen stewardship and the economic stability of families in the digital age.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis secara teologis dampak perkembangan teknologi finansial terhadap etika keuangan keluarga sederhana dalam konteks gereja kontemporer, dengan menekankan integrasi antara iman, praktik ekonomi. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui pendekatan teologi kontekstual dan analisis etika Kristen berbasis studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fintech menghadirkan kemudahan akses dan efisiensi keuangan, namun juga memicu perilaku konsumtif,  dan ketergantungan utang digital, serta melemahnya disiplin finansial keluarga. Di sisi lain, gereja belum optimal merespons perubahan ini melalui pendidikan etika keuangan yang sistematis dan kontekstual. Integrasi antara teologi ekonomi Kristen, etika keluarga, dan literasi fintech menjadi penting dalam membentuk kesadaran kritis jemaat. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa gereja perlu mengembangkan model edukasi keuangan berbasis iman yang adaptif, reflektif, dan transformatif untuk memperkuat penatalayanan serta stabilitas ekonomi keluarga di era digital.
Penguatan Integritas Dan Moralitas Remaja Melalui Pendidikan Agama Kristen Di Tengah Disrupsi Budaya Digital Ruhut Parningotan Tambunan; Theresa Dian Christi; Yonatan Alex Arifianto
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v5i1.109

Abstract

Abstract: The disruption caused by digital culture has transformed the patterns of interaction, character development, and spiritual life of Christian adolescents, thereby presenting new challenges to their integrity and morality. The rapid flow of information, a culture of instant gratification, and a lack of ethical oversight are driving the degradation of values and the weakening of character grounded in biblical teachings. These conditions underscore the importance of Christian Religious Education as a means of character formation capable of instilling faith-based values in a contextually relevant manner in the digital age. This study aims to analyze the role of Christian Religious Education in strengthening the integrity and morality of adolescents amid digital cultural disruption. The research employs a descriptive qualitative approach based on a literature review, utilizing content analysis techniques to examine various works in theology and Christian education. The results indicate that Christian Religious Education plays a strategic role in building adolescents’ integrity, morality, and spirituality through the internalization of biblical values. Faith-based digital literacy, transformative learning, and the strengthening of faith communities are effective strategies for addressing the challenges of digital culture. It is concluded that Christian Religious Education must holistically integrate character development, spiritual growth, and digital ethics. This approach can enhance adolescents’ moral resilience against the negative influences of technology. Synergy among families, churches, and educational institutions is a crucial factor in shaping a generation that is principled, moral, and Christ-centered.   Abstrak: Disrupsi budaya digital telah mengubah pola interaksi, pembentukan karakter, dan kehidupan spiritual remaja Kristen sehingga memunculkan tantangan baru terhadap integritas dan moralitas. Arus informasi yang cepat, budaya instan, serta minimnya kontrol etis mendorong terjadinya degradasi nilai dan melemahnya karakter yang berlandaskan ajaran Alkitab. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya Pendidikan Agama Kristen sebagai sarana pembentukan karakter yang mampu menanamkan nilai iman secara kontekstual di era digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Pendidikan Agama Kristen dalam memperkuat integritas dan moralitas remaja di tengah disrupsi budaya digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka dengan teknik analisis isi terhadap berbagai literatur teologi dan pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen berperan strategis dalam membangun integritas, moralitas, dan spiritualitas remaja melalui internalisasi nilai-nilai Alkitabiah. Literasi digital berbasis iman, pembelajaran transformatif, dan penguatan komunitas iman menjadi strategi efektif dalam menghadapi tantangan budaya digital. Disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Kristen harus mengintegrasikan pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, dan etika digital secara holistik. Pendekatan tersebut mampu meningkatkan ketahanan moral remaja terhadap pengaruh negatif teknologi. Sinergi antara keluarga, gereja, dan lembaga pendidikan menjadi faktor penting dalam membentuk generasi yang berintegritas, bermoral, dan berpusat pada Kristus.