cover
Contact Name
Alfons Tampenawas
Contact Email
alfonsreenz@gmail.com
Phone
+6285256475233
Journal Mail Official
oudysepang@stt-indonesia.ac.id
Editorial Address
Jalan Tololiu Supit no. 54, Manado - 95119
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AMBASSADORS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 27234290     DOI : https://doi.org/10.54369/ajtpk
Core Subject : Religion,
AMBASSADORS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani adalah forum publikasi ilmiah yang memuat hasil penelitian dalam bidang Teologi dan Pendidikan Kristiani. Jurnal ini diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Manado dan ditujukan bagi para dosen, peneliti, serta akademisi dari berbagai institusi yang memiliki minat dalam pengembangan kajian teologi dan pendidikan Kristiani. Jurnal AMBASSADORS terbit dua kali dalam setahun, pada bulan Juni dan Desember, serta menerapkan sistem double-blind peer review untuk menjamin kualitas publikasi. Jurnal AMBASSADORS berfokus pada kajian teologi yang mengintegrasikan berbagai perspektif kontemporer dan interdisipliner guna mengupas makna serta relevansi teologi dalam konteks modern. Selain itu, jurnal ini juga mengeksplorasi dinamika dan tantangan dalam Pendidikan Kristiani, termasuk isu-isu yang muncul dalam era digital serta dalam masyarakat yang semakin multikultural. Melalui pendekatan yang berbasis penelitian ilmiah, Jurnal AMBASSADORS bertujuan untuk menjadi wadah refleksi teologis yang dapat memperkaya wawasan akademik dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia teologi dan pendidikan Kristiani.
Articles 39 Documents
Eksplorasi Efesus 1:3-14 melalui Redemptive historical Approach : Sebuah Refleksi Teologis Karya Penebusan Kristus: Sebuah Refleksi Teologis Karya Penebusan Kristus Purwonugroho, Daniel Pesah
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4 No 1 (2025): Juni
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v4i1.62

Abstract

Abstract: This paper aims to explore Ephesians 1:3-14 through the lens of redemptive historical approach and reflect theologically on the redemptive work of Christ. Ephesians 1:3-14 is a soteriological elaboration by Paul. Ephesians 1:3-14 affirms the spiritual blessings, election, redemption and sealing that believers receive. On the one hand, the redemptive historical approach is a hermeneutical lens to view the Bible from the history of redemption. This redemptive history in the Bible culminates in the work of Christ on the cross. The hermeneutical approach integrates three important things: textual, epochal and canonical. Through a descriptive qualitative approach, the author will explore Ephesians 1:3-14 through a redemptive historical approach and then reflect theologically on the redemptive work of Christ. The author states that the exploration of Ephesians 1:3-14 through a redemptive historical approach provides a significant reflection on the redemptive work of Christ. This paper contributes a new reading of Ephesians 1:3-14 through a redemptive historical perspective and provides a more integrative and historical theological framework in understanding the redemption of Christ.   Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi Efesus 1:3-14 melalui lensa redemptive historical approach dan merefleksikannya secara teologis pada karya penebusan Kristus. Efesus 1:3-14 merupakan elaborasi soteriologis yang diulas oleh Paulus. Efesus 1:3-14 menegaskan tentang berkat rohani, pemilihan, penebusan dan pemeteraian yang didapatkan oleh orang percaya. Di satu sisi, redemptive historical approach merupakan lensa hermeneutis untuk melihat Alkitab dari sejarah penebusan. Sejarah penebusan di dalam Alkitab ini berpuncak kepada karya Kristus di atas kayu salib. Pendekatan hermeneutis tersebut mengintegrasikan tiga hal penting yaitu tekstual, epokal dan kanonikal. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, Peneliti akan melakukan eksplorasi Efesus 1:3-14 melalui redemptive historical approach kemudian merefleksikannya secara teologis pada karya penebusan Kristus. Peneliti menyatakan bahwa eksplorasi Efesus 1:3-14 melalui redemptive historical approach memberikan refleksi teologis yang signifikan bagi karya penebusan Kristus. Artikel ini memberikan kontribusi pembacaan baru atas Efesus 1:3-14 melalui perspektif redemptive historical dan memberikan kerangka teologis yang lebih integratif dan historis dalam memahami penebusan Kristus
Kode Etik Guru: Landasan Etis dalam Meningkatkan Profesionalitas Guru Pendidikan Agama Kristen: Landasan Etis dalam Meningkatkan Profesionalitas Guru Pendidikan Agama Kristen Wicaksono, Aditya Putra Pangestu; Arifianto, Yonatan Alex
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4 No 1 (2025): Juni
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v4i1.63

Abstract

Abstract: Teachers' code of ethics has a central role in shaping the professionalism of Christian Religious Education teachers. This study aims to analyse how the teacher code of ethics serves as an ethical foundation in raising standards of professionalism, integrity and moral responsibility in teaching practice. Using a qualitative approach based on literature review, this study examines the relevance of the PAK teachers' code of ethics in the context of modern education as well as the challenges faced in its implementation. The results show that the teacher code of ethics functions not only as a moral guide but also as an instrument that strengthens commitment to the development of learners' character in accordance with Christian values. Educational policies that emphasise teachers' codes of conduct contribute to improving the quality of learning that is more ethical and oriented towards spiritual values. Thus, consistent implementation of the code of conduct can improve the quality of teaching and shape a more inclusive and value-based educational environment. The novelty of this research lies in the approach that highlights the relationship between teachers' codes of conduct and professionalism in Christian religious education, which has rarely been discussed in depth. The findings provide new insights into how a code of ethics can be used as an instrument of character strengthening and moral transformation in education, especially in a religious contex.   Abstrak: Kode etik guru memiliki peran sentral dalam membentuk profesionalitas guru Pendidikan Agama Kristen (PAK). Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kode etik guru menjadi landasan etis dalam meningkatkan standar profesionalisme, integritas, dan tanggung jawab moral dalam praktik pengajaran. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur, penelitian ini mengkaji relevansi kode etik guru PAK dalam konteks pendidikan modern serta tantangan yang dihadapi dalam implementasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kode etik guru berfungsi tidak hanya sebagai panduan moral tetapi juga sebagai instrumen yang memperkuat komitmen terhadap pengembangan karakter peserta didik sesuai dengan nilai-nilai Kristen. Kebijakan pendidikan yang menekankan kode etik guru berkontribusi pada peningkatan mutu pembelajaran yang lebih beretika dan berorientasi pada nilai-nilai spiritual. Dengan demikian, penerapan kode etik yang konsisten dapat meningkatkan kualitas pengajaran serta membentuk lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan berbasis nilai. Kebaharuan penelitian ini terletak pada pendekatan yang menyoroti hubungan antara kode etik guru dan profesionalitas dalam pendidikan agama Kristen, yang masih jarang dibahas secara mendalam. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana kode etik dapat dijadikan sebagai instrumen penguatan karakter dan transformasi moral dalam dunia pendidikan, khususnya dalam konteks keagamaan.
Microloan sebagai Pelayanan Holistik Gereja: Implementasi Etika Kristen dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Marginal: Implementasi Etika Kristen dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Marginal Telaumbanua, Agus Arda Setiawan; Ruata, Jayson Lodewyk
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4 No 1 (2025): Juni
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v4i1.64

Abstract

Poverty continues to be a significant challenge in Indonesia, especially for communities that are marginalized and struggle to gain access to business capital. Microloans are a strategic approach that can meet financial needs while having the capacity to evolve into a comprehensive form of church ministry based on Christian principles. This research aims to analyze and explain the function of microloans as an access ministry in the context of Christian ethics, which addresses the economic needs of the underprivileged while fulfilling the church's mandate to provide holistic ministry. Then, to show that microloans can be a strategic instrument to achieve social transformation through Biblical values, as well as a tangible manifestation of love and justice in contemporary society. This article uses a qualitative approach through a literature review to look at the function of microloans as a ministry of the church within the framework of economic empowerment and social justice. Grounded in the principle of love (Matthew 22:37-40) and the cultural mandate (Genesis 1:28), microloans become an alternative expression of the church's mission to restore dignity and improve the welfare of the poor, opening opportunities for evangelism and expanding the impact of holistic ministry amid contemporary socio-economic challenges.   Abstrak: Kemiskinan terus menjadi tantangan yang signifikan di Indonesia, terutama bagi masyarakat yang terpinggirkan dan kesulitan untuk mendapatkan akses modal usaha. Pinjaman mikro merupakan pendekatan strategis yang dapat memenuhi kebutuhan finansial sekaligus memiliki kapasitas untuk berkembang menjadi bentuk pelayanan gereja yang komprehensif berdasarkan prinsip-prinsip Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan fungsi pinjaman mikro sebagai pelayanan akses dalam konteks etika Kristen, yang menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat yang kurang mampu sekaligus memenuhi mandat gereja untuk memberikan pelayanan yang holistik. Kemudian untuk menunjukkan bahwa pinjaman mikro dapat menjadi instrumen strategis untuk mencapai transformasi sosial melalui nilai-nilai Alkitabiah, sekaligus menjadi wujud nyata dari kasih dan keadilan di tengah masyarakat kontemporer. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui tinjauan literatur untuk melihat fungsi pinjaman mikro sebagai pelayanan gereja dalam kerangka pemberdayaan ekonomi dan keadilan sosial. Berlandaskan pada prinsip kasih (Matius 22:37-40) dan mandat budaya (Kejadian 1:28), mikroloan menjadi alternatif ekspresi nyata dari misi gereja untuk memulihkan martabat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, membuka peluang untuk melakukan penginjilan dan memperluas dampak pelayanan yang holistik di tengah tantangan sosial-ekonomi kontemporer.
Dimuridkan oleh Algoritma, Digembalakan oleh Media Sosial: (Sebuah Refleksi Kritis Peran Pendidikan Agama Kristen Dalam Keluarga) Legi, Hendrik; Giban, Yoel; Kainara, Semi
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4 No 1 (2025): Juni
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v4i1.65

Abstract

Abstract: The rapid development of digital technology has brought significant changes in the lifestyle of Christian families, especially in the process of child discipleship. Social media algorithms now play a dominant role in shaping children's behaviors, thoughts, and moral values, replacing the traditional role of the family as the center of faith education. This situation raises important questions. What is the role of Christian Religious Education (PAK) in the family in facing the challenges of algorithms and the dominance of social media in the process of forming children's faith? This research aims to critically reflect on the role of PAK in the Christian family in the context of an increasingly complex digital age. The research method used is a reflective qualitative approach with literature study and content analysis. The study found that many Christian families tend to let algorithms be the primary "disciples" of children, while parental spiritual involvement is diminishing. The novelty lies in an integrative perspective that links discipleship, digital algorithms, and the role of parents as spiritual shepherds of children in the contemporary context. This reflection emphasizes the importance of the family as the main space for faith education that must be active and conscious in shaping children's character through example, teaching the word, and managing digital media wisely. In conclusion, if the Christian family does not take back the mandate of discipleship from the hands of algorithms, then the world will continue to shepherd the younger generation with values that are contrary to the Gospel. Therefore, PAK in the family must be restored as the main strategy to form a resilient generation of disciples of Christ in the digital age.   Abstrak: Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam pola hidup keluarga Kristen, khususnya dalam proses pemuridan anak. Algoritma media sosial kini memainkan peran dominan dalam membentuk perilaku, pemikiran, dan nilai-nilai moral anak-anak, menggantikan peran tradisional keluarga sebagai pusat pendidikan iman. Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting. Bagaimana peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam keluarga dalam menghadapi tantangan algoritma dan dominasi media sosial dalam proses pembentukan iman anak? Penelitian ini bertujuan untuk merefleksikan secara kritis peran PAK dalam keluarga Kristen dalam konteks era digital yang semakin kompleks. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif reflektif dengan studi literatur dan analisis isi. Penelitian ini menemukan bahwa banyak keluarga Kristen cenderung membiarkan algoritma menjadi “pemurid” utama anak, sementara keterlibatan spiritual orang tua semakin berkurang. Noveltinya terletak pada perspektif integratif yang mengaitkan pemuridan, algoritma digital, dan peran orang tua sebagai gembala rohani anak dalam konteks kekinian. Refleksi ini menekankan pentingnya keluarga sebagai ruang utama pendidikan iman yang harus aktif dan sadar membentuk karakter anak melalui keteladanan, pengajaran firman, dan pengelolaan media digital secara bijak. Kesimpulannya, jika keluarga Kristen tidak mengambil kembali mandat pemuridan dari tangan algoritma, maka dunia akan terus menggembalakan generasi muda dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan Injil. Oleh sebab itu, PAK dalam keluarga harus dipulihkan sebagai strategi utama membentuk generasi murid Kristus yang tangguh di era digital
Refleksi Iman Dalam Pembelajaran Pak Untuk Generasi Z: Pendekatan Adaptif Di Era Vuca: Pendekatan Adaptif di Era VUCA Alli, Domi; Fiktor Lase; Josua Lehwurlawal
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v4i2.70

Abstract

Abstract: The twenty-first century is characterized by rapid changes and uncertainty that significantly influence the mindset and lifestyle of younger generations. Generation Z, in particular, faces anxiety, social-digital pressures, and identity confusion amid an overwhelming flow of information. Traditional models of Christian Religious Education (CRE), which tend to be dogmatic and less interactive, often fail to respond effectively to these challenges. This article aims to formulate an adaptive CRE learning model through the structured practice of faith reflection as a contextual pedagogical approach for Generation Z. Using a literature-based method, faith reflection is understood as a process of comprehending, contemplating, and embodying Christian teachings in a critical and personal manner. The findings show that this approach strengthens spirituality, reflective thinking skills, and the development of an authentic Christian identity among learners. Therefore, faith reflection has the potential to make Christian Religious Education more relevant, participatory, and transformative for today’s young generation. Abstrak: Abad ke-21 ditandai oleh perubahan cepat dan ketidakpastian yang memengaruhi cara berpikir dan hidup generasi muda. Kelompok yang paling terdampak adalah Generasi Z, yang menghadapi kecemasan, tekanan sosial digital, serta kebingungan identitas di tengah arus informasi yang tidak terbatas. Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang masih bersifat dogmatis dan kurang interaktif sering kali tidak mampu menjawab kebutuhan tersebut. Artikel ini bertujuan untuk merumuskan model pembelajaran PAK yang adaptif melalui penerapan refleksi iman teratur sebagai pendekatan yang kontekstual bagi peserta didik. Melalui studi pustaka, refleksi iman dipahami sebagai proses memahami, merenungkan, dan menghidupi ajaran Kristiani secara kritis dan personal. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan ini memperkuat spiritualitas, kemampuan berpikir reflektif, serta pembentukan identitas Kristen yang autentik di kalangan peserta didik. Dengan demikian, refleksi iman berpotensi menjadikan pembelajaran PAK lebih relevan, partisipatif, dan transformatif bagi generasi muda masa kini.
TINJAUAN ETIKA KRISTEN TERHADAP KOHABITASI DALAM PERSPEKTIF STANLEY HAUERWAS BAGI JEMAAT: Tinjauan Etika Kristen Stanley Hauerwas dalam Konteks Jemaat GMIM Maleke, Geral; Hendry C. M. Runtuwene
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v4i2.71

Abstract

Abstract: This study aims to examine the phenomenon of cohabitation in the GMIM Talitakum Kum Pondang congregation and formulate an ethical-theological response from the church based on Stanley Hauerwas’ Christian ethical thinking. Using a qualitative method with a phenomenological approach, data was obtained through observation and interviews with pastors, special servants, and congregations. The results of the study show that the practice of cohabitation arises due to economic factors, the search for compatibility, and changes in the moral values of the younger generation. Church ministers acknowledge cohabitation as an act that contradicts the sanctity of marriage, but respond to it through a pastoral approach full of love, dialogue, and spiritual guidance. From Hauerwas’ perspective, cohabitation reflects the weakness of character formation and the church community as a moral habitat. Implicitly, the church needs to strengthen discipleship through liturgy, premarital counseling, and communities that support the growth of faithfulness. The novelty of this research lies in the use of Hauerwas’ character ethics to interpret the phenomenon of cohabitation contextually within local congregations.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan menelaah fenomena kohabitasi di Jemaat GMIM Talitakum Kum Pondang serta merumuskan respons etis-teologis gereja berdasarkan pemikiran etika Kristen Stanley Hauerwas. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, data diperoleh melalui observasi dan wawancara terhadap pendeta, pelayan khusus, serta jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik kohabitasi muncul karena faktor ekonomi, pencarian kecocokan, dan perubahan nilai moral generasi muda. Para pelayan gereja mengakui kohabitasi sebagai tindakan yang bertentangan dengan kekudusan pernikahan, namun meresponsnya melalui pendekatan pastoral yang penuh kasih, dialog, dan pendampingan rohani. Dalam perspektif Hauerwas, kohabitasi mencerminkan lemahnya formasi karakter dan komunitas gereja sebagai habitat moral. Implikasinya, gereja perlu memperkuat pembentukan murid melalui liturgi, pembinaan pranikah, dan komunitas yang mendukung pertumbuhan kesetiaan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan etika karakter Hauerwas untuk membaca fenomena kohabitasi secara kontekstual dalam jemaat lokal
Disiplin Rohani sebagai Faktor Penentu Pertumbuhan Iman dan Keterlibatan Pelayanan Jemaat di GPdI Rhema Tarakan Mangetek, Adriano; Arifianto, Yonatan Alex; Triposa, Reni
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v4i2.72

Abstract

Abstract: The background of this study stems from the phenomenon of declining spiritual discipline among congregations, where many Christians are active in ministry but lack diligence in prayer, Bible reading, and fellowship, resulting in suboptimal growth in faith. This condition is also evident in GPdI Rhema Tarakan, where some congregants are not consistent in practising spiritual discipline, which is the main foundation for maturity in faith and Christ-like character. This study aims to analyse the influence of spiritual discipline on the growth of faith among the congregation of GPdI Rhema Tarakan and to identify the most dominant aspects of spiritual discipline in supporting their growth in faith. The research method used is descriptive qualitative, with a field study approach through interviews, observation, and documentation, as well as reinforcement from relevant literature reviews to obtain a deep and contextual understanding of the relationship between spiritual discipline and the growth of the congregation's faith. The results of the study show that spiritual discipline has a strong theological foundation and is the main means for the formation of mature faith in the life of the congregation. Consistent practices of spiritual discipline, such as prayer, reading the Word, and fellowship, have been proven to have a direct influence on the congregation's involvement in ministry and to foster the character of Christ in their daily lives. Thus, spiritual discipline not only strengthens individual faith growth, but also has significant implications for the holistic progress and growth of the local church. Abstrak: Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena menurunnya disiplin rohani di kalangan jemaat, di mana banyak orang Kristen aktif dalam pelayanan namun kurang tekun dalam doa, pembacaan Alkitab, dan persekutuan, sehingga pertumbuhan iman tidak berkembang secara optimal. Kondisi ini juga terlihat di GPdI Rhema Tarakan, di mana sebagian jemaat belum konsisten menjalankan disiplin rohani yang menjadi fondasi utama bagi kedewasaan iman dan karakter Kristus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis  disiplin rohani terhadap pertumbuhan iman jemaat GPdI Rhema Tarakan serta mengidentifikasi aspek disiplin rohani yang paling dominan dalam mendukung pertumbuhan iman mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pendekatan studi lapangan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta penguatan dari kajian pustaka yang relevan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam dan kontekstual mengenai hubungan antara disiplin rohani dan pertumbuhan iman jemaat.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa disiplin rohani memiliki landasan teologis yang kuat dan menjadi sarana utama bagi pembentukan iman yang dewasa dalam kehidupan jemaat. Praktik disiplin rohani yang konsisten, seperti doa, pembacaan Firman, dan persekutuan terbukti  memiliki keterlibatan jemaat dalam pelayanan serta menumbuhkan karakter Kristus yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, disiplin rohani tidak hanya memperkuat pertumbuhan iman individu, tetapi juga memberikan implikasi signifikan terhadap kemajuan dan pertumbuhan gereja lokal secara holistik
Etika Kristen dalam Era AI: Pergulatan Moral Gereja di Tengah Transformasi Digital: Pergulatan Moral Gereja di Tengah Transformasi Digital Kurniawan, Andreas; Kusuma, Fandy Prasetya; Setiawan, Tjutjun
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v4i2.74

Abstract

Abstract: This article focuses on how Christian ethics serves as a guide for the morality of the congregation amidst the AI era, which can trap everyone in deviant behavior due to digital algorithms that do not distinguish between right and wrong information. Based on these fundamental principles, this topic is examined by the researcher by posing questions such as: What are the foundations of Christian ethics in dealing with technology? Through a methodological literature approach that emphasizes critical analysis of theological literature, this method was chosen because theological-ethical research does not rely solely on empirical experiments, but rather on conceptual reflection and hermeneutical analysis of biblical texts, as well as contemporary research findings on AI and ethics. The findings of this study reveal that the fundamental principle of Christian ethics is rooted in the understanding that all human actions, including the use of technology, must reflect wisdom derived from God. Therefore, the church cannot be a passive observer of technological developments but must be a critical prophetic voice against the misuse of AI that threatens human dignity. Because, in essence, the prophetic voice of the church is calling for the restoration of integrity and honesty in the digital space.   Abstrak: Artikel ini berfokus pada bagaimana etika Kristen menjadi panduan bagi moralitas jemaat ditengah era zaman AI yang dapat membuat setiap orang terjebak pada perilaku penyimpangan karena algoritma digital yang tidak memandang benar atau tidaknya sebuah informasi. Atas dasariah itulah maka topik ini dikaji oleh peneliti dengan mengajukan rumusan pertanyaan seperti apa dasar etika Kristen dalam menyikapi digital? Melalui pendekatan metodologis literatur yang menekankan pada telaah kritis terhadap literatur teologis, metode ini dipilih karena penelitian teologis-etis tidak bertumpu pada eksperimen empiris semata, melainkan pada refleksi konseptual dan analisis hermeneutis terhadap teks-teks Alkitab, serta hasil penelitian kontemporer tentang AI dan etika. Hasil temuan kajian ini mengungkapkan bahwa prinsip dasar etika Kristen berakar pada pemahaman bahwa seluruh tindakan manusia, termasuk dalam menggunakan digital, harus mencerminkan hikmat yang berasal dari Allah. Oleh sebab itu, gereja tidak boleh hanya menjadi pengamat pasif terhadap perkembangan digital, tetapi harus menjadi suara kenabian yang kritis terhadap penyalahgunaan AI yang mengancam martabat manusia. Karena sejatinya, suara profetis gereja adalah menyerukan pemulihan integritas dan kejujuran dalam ruang digital.
Dari Karitatif ke Transformatif: Digitalisasi Diakonia sebagai Perluasan Mandat Pelayanan Gereja: Digitalisasi Diakonia sebagai Perluasan Mandat Pelayanan Gereja Yesaya Bangun Ekoliesanto; Eklesia Greyta Putri Kinanti; Elfis Viviano Wios Suroso; Kevin Adi Herlambang Bureni
Ambassadors: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : STT INDONESIA MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54369/ajtpk.v4i2.75

Abstract

Abstract: Digital transformation has reshaped the paradigm of Christian diakonia by shifting its orientation from immediate charitable responses toward a more structural, participatory, and justice-oriented practice. This article examines how digitalization functions not merely as a technological tool but as a theological and practical instrument that expands the church’s diaconal mandate in contemporary society. Using a descriptive qualitative approach through library research, this study analyzes the evolution of diakonia, the transformative potential of digital media, the emerging ethical–theological challenges, and the development of an integrative model of holistic digital diakonia. The findings reveal that digitalization enables churches to broaden social engagement, strengthen distributed participation, and integrate spiritual, social, psychological, and technological dimensions into a comprehensive ministry framework. At the same time, digital diakonia raises critical concerns regarding relational authenticity, digital inequality, and the preservation of incarnational ecclesial identity. Therefore, a robust ethical–theological foundation is required to ensure that digital ministry empowers communities, promotes justice, and remains faithful to the missio Dei. This study concludes that digitalization represents a transformative theological opportunity for reimagining diakonia as an inclusive, holistic, and socially engaged expression of God’s love in both physical and digital spaces.   Abstrak: Transformasi digital telah mengubah praktik diakonia gereja dari pelayanan karitatif yang berfokus pada bantuan langsung menuju bentuk pelayanan yang lebih struktural, partisipatif, dan berorientasi keadilan. Artikel ini menganalisis bagaimana digitalisasi berfungsi tidak hanya sebagai instrumen teknologi, tetapi sebagai medium teologis-praktis yang memperluas mandat diakonia dalam masyarakat digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, kajian ini menelaah evolusi konsep diakonia, potensi transformasional media digital, tantangan etis-teologis yang muncul, serta pengembangan model integratif diakonia digital yang holistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi memungkinkan gereja memperluas keterlibatan sosial, memperkuat partisipasi jemaat yang terdistribusi, dan mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, psikologis, dan teknologi dalam kerangka pelayanan yang komprehensif. Namun, digitalisasi juga memunculkan isu penting terkait keotentikan relasi, kesenjangan akses digital, dan pemeliharaan identitas inkarnasional gereja. Karena itu, diperlukan fondasi etis-teologis yang kuat agar pelayanan digital mampu memberdayakan komunitas, memajukan keadilan, dan tetap setia pada missio Dei. Kajian ini menegaskan bahwa digitalisasi merupakan peluang teologis untuk memaknai ulang diakonia sebagai pelayanan yang inklusif, holistik, dan berdaya transformasi dalam ruang fisik maupun digital.

Page 4 of 4 | Total Record : 39