cover
Contact Name
Ilmi Fadhilah Rizki
Contact Email
ilmifadhilahrizki@gmail.com
Phone
+6282273404301
Journal Mail Official
warta@iopri.org
Editorial Address
Jl. Brigjend Katamso No. 51, Kampung Baru, Medan, Provinsi Sumatera Utara, 20158
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
ISSN : 08532141     EISSN : 28297849     DOI : https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta
Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit menerima artikel penelitian dan makalah ilmiah dari peneliti, akademisi, praktisi yang terkait dengan komoditas kelapa sawit. Tujuan Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit ini adalah untuk mempublikasikan dan menyebarluaskan makalah ilmiah dan ulasan artikel dalam fokus ilmu tanaman yaitu: Pemuliaan Tanaman Agronomi Ilmi Tanah Hama dan Penyakit Tanaman Pasca Panen Sosial Ekonomi
Articles 18 Documents
TRANSFORMASI PEMULIAAN TANAMAN KELAPA SAWIT MELALUI SELEKSI GENOMIK DAN KECERDASAN BUATAN MENUJU DATA-DRIVEN SMART BREEDING Fauziatul Fitriyah; Heri Adriwan Siregar
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 3 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i3.242

Abstract

Penggunaan genomic selection (GS), machine learning (ML), dan artificial intelligence (AI) semakin mendorong pergeseran paradigma dari pemuliaan fenotipik tradisional menuju predictive breeding. Pendekatan ini memanfaatkan data genetik untuk memprediksi potensi suatu individu pada tahap perkembangan awal, sehingga secara drastis dapat mempercepat genetic gain. Tinjauan ini mengkaji transformasi menuju pemuliaan prediktif yang memanfaatkan GS dan AI untuk mempercepat target kemajuan genetik. GS memungkinkan prediksi pemuliaan individu menggunakan penanda genomik, mengatasi keterbatasan marker-assisted selection (MAS). Integrasi dengan algoritma AI seperti artificial neural networks (ANN) meningkatkan akurasi prediksi hingga 32.8% dengan memperhitungkan interaksi non-linear dan epistasis. Implementasi komersial oleh Sime Darby Plantation (GenomeSelect™) membuktikan viabilitas ekonomi GS melalui strategi seleksi induk dan reduksi marker. Roadmap ke depan memerlukan pendekatan hibrid (GBLUP, model multi-trait, AI), investasi dalam high-throughput phenotyping dan enviromics, serta kolaborasi global untuk menciptakan ekosistem pemuliaan berbasis data (data-driven smart breeding) yang powerful.
STRATEGI PRAKTIS PENGELOLAAN LINGKUNGAN ABIOTIK UNTUK MENGURANGI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT: Konservasi Air dan Tanah melalui Rorak, Guludan Organik, dan Pemanfaatan Gulma Yenni Asbur; Mira Ariyanti; Sudirman Yahya
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 3 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i3.269

Abstract

Perubahan iklim berdampak nyata terhadap keberlanjutan perkebunan kelapa sawit, terutama melalui perubahan pola curah hujan, meningkatnya kejadian hujan ekstrem, serta periode kering yang lebih panjang. Kondisi ini memicu masalah ketersediaan air tanah, meningkatnya limpasan dan erosi, serta menurunnya efisiensi pemanfaatan air oleh tanaman. Artikel ini mengulas strategi praktis pengelolaan lingkungan abiotik sebagai Upaya adaptasi perubahan iklim di perkebunan kelapa sawit, dengan fokus pada konservasi tanah dan air. Pembahasan difokuskan pada penerapan rorak organik, guludan organik, serta pemanfaatan tumbuhan sebagai tanaman penutup tanah di gawangan dan sebagai mulsa di piringan. Ketiga pendekatan tersebut berperan dalam menahan dan mendistribusikan air hujan, menjaga kelembapan tanah, mengurangi erosi, serta meningkatkan kandungan bahan organik dan hara tanah. Integrasi teknik konservasi ini memperkuat fungsi tanah sebagai pengatur ketersediaan air dan penyangga terhadap fluktuasi iklim ekstrem. Artikel ini diharapkan dapat menjadi rujukan praktis bagi pengelola kebun dan pemangku kepentingan dalam merancang strategi pengelolaan Perkebunan kelapa sawit yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.
PENGARUH APLIKASI MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA KONSENTRASI HARA MAKRO DAN MIKRO PADA BIBIT KELAPA SAWIT Fatimah Nur Istiqomah; Praditya Rizqi Novanto; Sahru Ananda Ramadhan; Marlon Sitanggang; Rafiko Ferilino; Siswanto Siswanto; Fahrizal Hazra
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 31 No. 1 (2026): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v31i1.218

Abstract

Mikoriza merupakan pupuk hayati berbasis fungi yang mampu meningkatkan pertumbuhan serta penyerapan unsur hara. Studi ini bertujuan untuk membandingkan keefektifan dua jenis inokulum mikoriza yang berperan dalam memperbaiki pertumbuhan tanaman dan penyerapan nutrisi, serta mengukur jumlah spora dan kolonisasi akar di pembibitan kelapa sawit dengan skala besar. Penelitian ini menerapkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terbagi ke dalam 3 perlakuan, yaitu: kontrol, mikoriza A dosis 50 g, dan mikoriza B dosis 50 g. Setiap perlakuan diulang dan diacak dalam 3 plot yang terdiri dari 180 bibit, sehingga total terdapat 1.620 bibit. Aplikasi mikoriza dilaksanakan pada saat bibit dipindahkan dari fase pre nursery ke fase main nursery, kemudian bibit dipelihara hingga umur 12 BST. Tinggi bibit, diameter bonggol, dan jumlah pelepah hijau diukur setiap 3 BST, sedangkan jumlah spora, kolonisasi akar mikoriza, dan konsentrasi hara diamati pada saat bibit umur 12 BST. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mikoriza A dosis 50 g adalah perlakuan paling baik dalam meningkatkan tinggi bibit, diameter bonggol, jumlah spora, dan kolonisasi mikoriza pada bibit kelapa sawit yang berumur 12 BST. Perlakuan mikoriza A dan B dengan dosis 50 g menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan kandungan unsur P pada bibit kelapa sawit berusia 12 BST. Namun, kandungan unsur N, K, Ca, Cu, Mg, dan B tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada seluruh perlakuan.
EVALUASI RENDEMEN CPO DAN KERNEL TANDAN BUAH SEGAR PETANI DI PROPINSI BANTEN Hasrul Abdi Hasibuan; Alhamdi Ghofur Nasution; T. Irfa Yunita; Ari Zafran Pangaribuan
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 31 No. 1 (2026): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v31i1.251

Abstract

Perkebunan kelapa sawit rakyat di Banten berkembang dan memberikan kontribusi dalam perekonomian petani. Namun, kendala petani sawit di Propinsi Banten adalah kepastian dalam tata niaga jual beli tandan buah segar (TBS) yang masih sangat tergantung pada perusahaan perkebunan besar, dimana petani menjual TBS hanya ke 2 pabrik kelapa sawit (PKS) yang terdapat di wilayah tersebut. Jika pengolahan di PKS terkendala maka tata niaga TBS petani terhambat sehingga petani menjual TBS kepada agen, yang kemudian dijual ke daerah lain di wilayah Lampung. Tidak hanya kepastian pengolahan di PKS, harga TBS juga menjadi masalah utama yang memberikan ketidakpastian dalam tata niaga TBS. Terlebih lagi di wilayah ini, belum diterapkannya penetapan harga TBS tingkat propinsi bagi petani yang bermitra dengan perusahaan. Untuk itu, dalam penerapan tata niaga TBS petani di Banten, perlu dievaluasi rendemen CPO dan kernel TBS petani, baik pada jenis buah Tenera dan Dura serta tingkat kematangan buah yaitu mentah dan matang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata rendemen CPO dan kernel pada TBS jenis Tenera matang yang diambil dari kebun petani pada umur tanaman 3 – 30 tahun sebesar 18,88% dan 5,11%. Sementara itu, rendemen CPO dan kernel pada TBS petani di PKS jenis Tenera matang sebesar 18,86%; 5,43%, Tenera mentah 12,22%; 5,71%, Dura matang 14,31%; 5,96%, dan Dura mentah 8,46%; 5,46%. TBS yang diterima PKS dari petani masih ditemukan dalam kategori sangat mentah, yang mengandung rendemen CPO < 1%. Penelitian ini menunjukkan bahwa pentingnya sosialisasi kepada para petani kelapa sawit, baik mitra maupun swadaya, mengenai perbaikan bahan tanaman dengan penggunaan bahan tanaman unggul dan pemanenan TBS yang matang dalam upaya peningkatan harga jual beli TBS.
PALM OIL MILL EFFLUENT (POME), PALM OIL MILL EFFLUENT OIL (POME OIL), DAN HIGH ACID PALM OIL RESIDUE (HAPOR) Mhd Erlangga Habibi Nasution; Hasrul Abdi Hasibuan; M. Anshari
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 31 No. 1 (2026): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v31i1.252

Abstract

Industri kelapa sawit menghasilkan Crude Palm Oil dan kernel sebagai produk utama, serta berbagai produk samping. Salah satu limbah cair yang dihasilkan pabrik kelapa sawit (PKS) adalah Palm Oil Mill Effluent (POME), yaitu limbah cair kental berwarna kecokelatan dengan kandungan bahan organik, minyak, dan padatan tersuspensi yang tinggi. Jika dibuang tanpa pengolahan, POME dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, sehingga perlu diolah agar aman dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber minyak. Dari POME dapat diperoleh minyak residu yang dikenal sebagai Palm Oil Mill Effluent Oil (POME Oil) dan High Acid Palm Oil Residue (HAPOR). Perdagangan POME Oil dan HAPOR mengalami kendala dalam pengklasifikasian produknya terkait dengan pajak ekspor dan tarif Lefy dari kedua jenis produk tersebut. Dalam beberapa kasus, keduanya dikategorikan sebagai produk bungkil inti sawit dan residu padat lainnya dari buah dan kernel sawit. Berdasarkan Permenperin No.32 Tahun 2024, POME Oil merupakan minyak residu tahap pertama hasil dekantasi dari POME dengan kadar asam lemak bebas (ALB) 10–20%, berbentuk semi padat hingga padat, berwarna kuning pekat hingga jingga. Sedangkan, HAPOR adalah minyak residu tahap lanjut dengan kadar ALB lebih tinggi (20–70%), berwarna cokelat hingga hitam, dan berbentuk padat pada suhu ruang. Regulasi terbaru melalui Permenperin No. 32 Tahun 2024 dan Permenkeu No. 62 Tahun 2024 telah menegaskan perbedaan klasifikasi antara POME, POME Oil, dan HAPOR sebagai tiga kategori produk yang berbeda. Pemanfaatannya dapat digunakan sebagai bahan baku biofuel dan industri oleokimia sehingga berpotensi meningkatkan nilai tambah industri sawit melalui diversifikasi produk non-pangan dan bahan bakar nabati, serta mendukung pengurangan limbah cair dan emisi karbon di sektor perkebunan kelapa sawit.
KALIBRASI DAN VALIDASI DATA CUACA NASA POWER MENGGUNAKAN DATA PENGAMATAN STASIUN METEOROLOGI PERTANIAN KHUSUS (SMPK) DAN AUTOMATIC WEATHER STATION (AWS) DI KEBUN MARIHAT DAN ADOLINA Iput Pradiko; Sapriyadi Rasyid; Nuzul Hijri Darlan; Dicky Arbianto; Sujadi Sujadi
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 31 No. 1 (2026): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v31i1.274

Abstract

Ketersediaan data cuaca dan iklim yang kontinu dan akurat merupakan prasyarat penting dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit berbasis presisi. Namun demikian, seringkali data iklim tidak tersedia akibat keterbatasan cakupan maupun gangguan operasional pada alat pengukur di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi data iklim berbasis satelit NASA POWER melalui proses kalibrasi dan validasi terhadap pengukuran lapangan dengan Automatic Weather Station (AWS) di Kebun Benih Adolina dan Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus (SMPK) Marihat. Variabel atau unsur iklim yang dianalisis meliputi suhu udara maksimum, minimum, dan rata-rata, kelembapan udara relatif, radiasi matahari, serta curah hujan. Hasil analisis menunjukkan adanya bias pada data NASA POWER, dengan kecenderungan underestimate pada suhu maksimum dan curah hujan, serta overestimate pada suhu minimum, kelembapan udara relatif, dan radiasi matahari. Kalibrasi menggunakan regresi linier sederhana menghasilkan korelasi rendah hingga sedang pada parameter suhu dan kelembapan, namun dengan nilai Mean Absolute Error (MAE) dan Root Mean Square Error (RMSE) yang masih berada dalam kisaran yang dapat diterima untuk wilayah tropis, yaitu <3,80oC dan <6,10%. Estimasi data radiasi matahari menunjukkan performa terbaik dengan korelasi tinggi dan nilai kesalahan relatif kecil yaitu <3,00 MJ/m2/hari. Sementara itu, curah hujan memperlihatkan hubungan linier yang lemah akibat sifatnya yang diskret dan sporadis, namun penerapan Metode Local Intensity (LOCI) terbukti efektif dalam menurunkan nilai RMSE menjadi <16,00 mm/hari hujan. Secara keseluruhan, kombinasi regresi linier untuk variabel iklim kontinu dan koreksi bias statistik berbasis LOCI untuk curah hujan dinilai layak digunakan untuk estimasi data cuaca dan iklim guna kepentingan-kepentingan aplikatif.
PERBANDINGAN JUMLAH SAMPEL BERONDOLAN DARI METODE SUB-SAMPLING SPIKELET DALAM PENENTUAN RENDEMEN CPO DAN KERNEL Ilmi Fadhilah Rizki; Donald Siahaan; Heri Adriwan Siregar; Rhozi Akbar Siregar
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 31 No. 1 (2026): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v31i1.289

Abstract

Penentuan rendemen minyak sawit mentah Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit (kernel) dari tandan buah segar (TBS) perlu menggunakan metode tepat dan efisien agar diperoleh hasil yang cepat dan akurat. Petunjuk teknis analisa rendemen CPO dan kernel yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan mensyaratkan pengambilan sampel sebanyak 5 spikelet pada TBS dari tanaman umur 10-30 tahun dan seluruh berondolan dari sub sampling diiris sehingga membutuhkan waktu lama. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan jumlah sampel berondolan dari metode sub-sampling terhadap rendemen CPO dan kernel, yaitu dengan menganalisa: 1) sebagian saja berondolan dari 5 spikelet (metode sebagian) dan 2) seluruh berondolan dari 5 spikelet (metode total). Sampel TBS yang digunakan berasal dari tanaman varietas Tenera umur 10–30 tahun. Analisa sebagian berondolan dibandingkan dengan analisa total berondolan menggunakan uji-t berpasangan dan koefisien korelasi Pearson. Hasil analisis keseluruhan menunjukkan adanya perbedaan signifikan secara statistik antara kedua metode (p = 0,000), namun dengan korelasi yang sangat kuat (r = 0,945 untuk CPO; r = 0,999 untuk Inti). Analisis per kelompok umur mengungkapkan bahwa pada tanaman berumur 10–13 tahun (p = 0,203) dan 21–23 tahun (p = 0,223), tidak terdapat perbedaan signifikan. Korelasi yang konsisten tinggi di semua kelompok umur (r = 0,920 hingga 0,987) menunjukkan bahwa metode analisa sebagian berondolan mampu merefleksikan tren rendemen yang sama dengan metode total berondolan. Dengan demikian, metode Sebagian berondolan dapat diadopsi sepenuhnya untuk tanaman umur 10–13 dan 21–23 tahun, serta tetap andal sebagai alat estimasi relatif yang efisien untuk pengambilan keputusan cepat di lapangan pada rentang umur lainnya.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KALOGENESIS KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) SERTA PELUANG PENGEMBANGAN DI MASA DEPAN Muhammad Fakhri; Arfan Nazhri Simamora; Yuli Setiawati
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 31 No. 1 (2026): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v31i1.293

Abstract

Kultur jaringan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) melalui embriogenesis somatik merupakan metode penting untuk perbanyakan klonal genotipe unggul, namun keberhasilannya masih dibatasi oleh rendah dan tidak konsistennya induksi kalus. Kalogenesis merupakan tahap krusial karena menentukan efisiensi pembentukan embrio somatik dan jumlah tanaman yang dihasilkan. Artikel ini meninjau faktor-faktor utama yang mempengaruhi kalogenesis kelapa sawit secara in vitro, meliputi komposisi media dasar, jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh, genotipe, sumber eksplan, nomor daun, topofisis, serta peran bahan aditif media. Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa respon kalogenesis bersifat multifaktorial dan sangat dipengaruhi oleh interaksi antar faktor serta latar belakang genetik eksplan. Optimasi media dan zat pengatur tumbuh dalam rentang efektif, penggunaan jaringan muda yang bersifat meristematik, serta penambahan bahan aditif seperti asam amino dan senyawa organik dilaporkan berpotensi meningkatkan keberhasilan induksi kalus. Pemahaman terintegrasi terhadap faktor-faktor tersebut diperlukan untuk pengembangan protokol kultur jaringan kelapa sawit yang lebih efisien dan stabil secara genetik.

Page 2 of 2 | Total Record : 18