cover
Contact Name
Ilmi Fadhilah Rizki
Contact Email
ilmifadhilahrizki@gmail.com
Phone
+6282273404301
Journal Mail Official
warta@iopri.org
Editorial Address
Jl. Brigjend Katamso No. 51, Kampung Baru, Medan, Provinsi Sumatera Utara, 20158
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
ISSN : 08532141     EISSN : 28297849     DOI : https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta
Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit menerima artikel penelitian dan makalah ilmiah dari peneliti, akademisi, praktisi yang terkait dengan komoditas kelapa sawit. Tujuan Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit ini adalah untuk mempublikasikan dan menyebarluaskan makalah ilmiah dan ulasan artikel dalam fokus ilmu tanaman yaitu: Pemuliaan Tanaman Agronomi Ilmi Tanah Hama dan Penyakit Tanaman Pasca Panen Sosial Ekonomi
Articles 12 Documents
DAPATKAH POHON KELAPA SAWIT PULIH PASCA PENGAMBILAN SUMBER EKSPLAN? Rahma Pratiwi, Dian; Wening, Sri; Ernayunita, Ernayunita; Nazri`, Erwin
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 2 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i2.189

Abstract

Perbanyakan kelapa sawit melalui kultur jaringan memerlukan pohon ortet unggul sebagai sumber eksplannya. Penggunaan sumber eksplan berupa daun muda lebih diminati karena jumlahnya melimpah, tersusun atas jaringan yang meristematik, serta kondisinya lebih steril. Namun pemotongan sumber eksplan di dekat daerah meristem juga memiliki risiko seperti serangan hama dan penyakit akibat luka terbuka hingga potensi kematian tanaman. Pohon ortet yang dijadikan sampel terdiri dari tiga kategori umur yakni 5, 10, dan 18 tahun. Pengamatan pohon ortet pasca pengambilan sumber eksplan bertujuan untuk mengetahui proses pemulihan sejak adanya pelukaan hingga tumbuh menjadi tanaman yang normal kembali serta berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses pemulihan tersebut. Proses pemulihan tajuk diawali dengan pembentukan pelepah-pelepah abnormal terlebih dahulu yang berjumlah 9-11 pelepah, kemudian berangsur pulih seiring waktu untuk membentuk pelepah normal. Proses pemulihan pada tanaman muda relatif lebih cepat dibandingkan dengan tanaman tua. Pada tanaman berusia 5 tahun tanaman sudah terlihat normal setelah 9 bulan, sedangkan pada tanaman berusia 10 tahun proses pemulihan memerlukan waktu 14 bulan. Proses pemulihan umumnya memerlukan waktu setidaknya dua tahun, sehingga resampling dari pohon ortet yang sama sebaiknya dilakukan di tahun ketiga setelah pengambilan sebelumnya. Proses pemulihan tajuk memerlukan waktu yang relatif lama karena dipengaruhi beberapa faktor seperti aktivitas single shoot apical meristem (SAM) untuk produksi primordia daun, serta ketersediaan karbon yang meliputi penyerapan dan translokasi untuk pertumbuhan tanaman.
MONITORING INFEKSI AKAR DAN JUMLAH SPORA MIKORIZA PADA BIBIT DAN TANAMAN KELAPA SAWIT MENGHASILKAN (TM) DI SUMATERA UTARA Istiqomah, Fatimah Nur; Novanto, Praditya Rizqi; Ramadhan, Sahru Ananda
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 2 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i2.193

Abstract

Mikoriza merupakan pupuk hayati yang bermanfaat bagi tanaman kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui infeksi akar dan jumlah spora mikoriza sebelum dan setelah aplikasi mikoriza pada bibit dan tanaman kelapa sawit menghasilkan. Terdapat 2 perlakuan di pembibitan yaitu; kontrol tanpa mikoriza dan mikoriza dosis 20 g/polybag di pre nusery + 30 g/polybag di main nursery dan di tanaman menghasilkan (TM 1) yaitu; kontrol tanpa mikoriza dan mikoriza dosis 200 g/pokok. Monitoring infeksi akar dan jumlah spora mikoriza dilakukan sebelum aplikasi dan 12 bulan setelah aplikasi mikoriza. Infeksi akar pada bibit kelapa sawit pada perlakuan mikoriza adalah 100% dan pada perlakuan tanpa mikoriza adalah 6,66%. Infeksi akar pada tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM 1) sebelum aplikasi mikoriza adalah 6,66%, kemudian 12 bulan setelah aplikasi mikoriza menjadi 63% dan pada perlakuan tanpa mikoriza 2%. Jumlah spora pada tanah di pembibitan sebelum aplikasi mikoriza adalah 25 spora/10 g, jumlah spora tersebut meningkat setelah 12 bulan aplikasi mikoriza yaitu menjadi 436 spora/10 g pada perlakuan mikoriza dan 53 spora/10 g pada perlakuan tanpa mikoriza. Jumlah spora pada (TM 1) sebelum aplikasi mikoriza adalah 52 spora/10 g, jumlah spora tersebut juga meningkat setelah 12 bulan aplikasi mikoriza menjadi 364 spora/10 g pada perlakuan mikoriza dan 129 spora/10 g pada perlakuan tanpa mikoriza
KUMBANG MONCONG PENGGEREK TANDAN BUAH KELAPA SAWIT: IDENTIFIKASI, GEJALA SERANGAN DAN FAKTOR PREDISPOSISI Prasetyo, Agus Eko; Pradana, Mahardika Gama
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 2 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i2.207

Abstract

Ledakan hama penggerek tandan buah kelapa sawit seluas lebih dari 6.000 ha telah terjadi pada tanaman awal menghasilkan di Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat pada pertengahan tahun 2024. Hama penggerek tandan buah tersebut terindentifikasi sebagai Rhabdocelus obscurus. Gejala serangan R. obscurus ditandai dengan adanya kerusakan yang disebabkan oleh gerekan larva pada buah, spikelet dan tangkai tandan. Ini berbeda dengan gejala kerusakan akibat hama Tirathaba mundella yang hanya berupa kerusakan pada buah saja. Gerekan larva mengakibatkan kerusakan jaringan lebih parah jika disertai dengan infeksi sekunder oleh jamur Marasmius palmivorus. Tingkat serangan hama menjadi lebih besar pada daerah dengan ketinggian tempat > 400 mdpl, curah hujan dan kelembapan lebih tinggi, serta kultur teknis terutama kastrasi, pengendalian gulma, dan sanitasi buah busuk tidak berjalan dengan baik. Tindakan pengendalian dapat dilakukan secara reaktif dengan melakukan sanitasi buah terserang berat diikuti dengan aplikasi insektisida. Tindakan pengendalian secara proaktif untuk mencegah ledakan hama dapat dilakukan dengan penerapan kultur teknis yang baik terutama pengendalian gulma, penunasan sesuai standar, dan implementasi kastrasi secara rutin setiap bulan guna mengurangi kelembapan yang menjadi faktor predisposisi utama hama.
BIODELIGNIFIKASI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DAN APLIKASINYA SEBAGAI PUPUK ORGANIK Dimawarnita, Firda; Latisya, Silva; Perwitasari, Urip; Faramitha, Yora
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 2 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i2.214

Abstract

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah biomassa yang jumlahnya melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal. TKKS berpotensi dimanfaatkan kembali melalui proses pengomposan menjadi pupuk organik. Akan tetapi, kandungan lignin yang tinggi dalam TKKS menyebabkan proses pengomposan berlangsung lama, sehingga diperlukan upaya untuk menurunkan kadar lignin melalui proses biodelignifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses biodelignifikasi TKKS melalui pemanfaatannya sebagai media pertumbuhan jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) dan mengevaluasi efektivitas sisa baglog hasil budidaya tersebut sebagai pupuk organik. TKKS diformulasikan dalam berbagai komposisi dan digunakan sebagai bahan baglog jamur. Sisa baglog yang telah terdekomposisi selanjutnya diuji kandungan lignin, selulosa, hemiselulosa, dan rasio C/N, kemudian diaplikasikan ke tanaman cabai dan terong. Hasil menunjukkan adanya penurunan kadar lignin dan C/N rasio yang mengindikasikan terjadinya proses biodelignifikasi dan pengomposan. Aplikasi pupuk organik dari sisa baglog pada tanaman cabai dan terong menunjukkan pertumbuhan yang baik, terutama pada perlakuan dengan kandungan TKKS 75–100%. Hasil ini menunjukkan bahwa sisa baglog TKKS berpotensi besar sebagai pupuk organik yang efektif dan ramah lingkungan.
IMPLEMENTASI APLIKASI QR-CODE SCANNER BERBASIS WEB UNTUK PENELUSURAN RIWAYAT PRODUKSI BENIH PADA POHON INDUK KELAPA SAWIT Supena, Nanang; Azzahra S, Indah; Kusuma Prasetyo, Kayla; Kiasaty, Khara; Salsabila Batubara, Sarah; Anggara, Julyant
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 3 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i3.221

Abstract

Aplikasi IOPRI Palm Scanner berbasis web dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi penelusuran riwayat produksi benih kelapa sawit melalui pemindaian QR-Code yang terpasang pada pohon induk. Aplikasi ini dirancang untuk memudahkan akses data pohon induk, monitoring proses persilangan, dan pelacakan produksi benih di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Dengan memanfaatkan teknologi frontend (HTML, CSS, JavaScript) dan backend (Laravel, PHP), sistem terintegrasi dengan database SIMSUS yang telah ada. Hasil pengujian menunjukkan aplikasi mampu mempercepat identifikasi pohon, mengurangi kesalahan input manual, dan menyajikan data secara akurat. Kendala seperti ketergantungan pada koneksi internet dan kerusakan label QR-Code menjadi tantangan yang perlu diatasi. Untuk pengembangan selanjutnya, disarankan penambahan fitur offline mode guna meningkatkan fleksibilitas penggunaan di lapangan.
OTOMATISASI PEMBUATAN ALBUM PETA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT SKALA LUAS: PENERAPAN DATA DRIVEN PAGE DAN PYTHON DI ARCMAP Helmy Daulay, Muhammad Malik; Sahputra, Desra; Nugraha, Muslim; Pradiko, Iput
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 2 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i2.222

Abstract

Proses layouting blok perkebunan kelapa sawit yang berjumlah puluhan hingga ratusan blok akan membutuhkan waktu yang lama jika dilakukan secara manual. Sistem blok kebun merupakan satuan terkecil dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit, sehingga skala spasial yang luas dan resolusi yang tinggi sangat penting dalam memberikan informasi kondisi blok untuk mendukung pemanfaatan lahan secara optimal. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan otomasi pembuatan layout peta blok perkebunan kelapa sawit menggunakan Data Driven Pages (DDP) dan Python (ArcPy) di perangkat GIS Arcmap. Hasil pembuatan layout peta blok dengan metode manual membutuhkan total waktu 9 jam 29 menit, sedangkan metode otomatis hanya memerlukan 32 menit 28 detik. Pendekatan otomatisasi dapat meminimalkan potensi kesalahan manusia dan sangat mendukung kebutuhan pemetaan skala besar.
BLACK SOLDIER FLY (Hermetia illucens L.): SIKLUS HIDUP DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEBERHASILAN BUDIDAYA DI SETIAP TAHAPANNYA Kusumah, Mulki Salendra; Yudanto, Bagus Giri; Panjaitan, Frisda Rimbun; Lubis, Muhammad Edwin Syahputra; Bajra, Brahmani Dewa; Rizki, Ilmi Fadhilah; Mulyono, Manda Edy
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 3 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i3.224

Abstract

Black soldier fly (BSF) adalah salah satu serangga polifagus yang tersebar luas di perkebunan kelapa sawit khususnya pada tandan kosong kelapa sawit yang dibiarkan melapuk. Larva BSF menunjukkan kapabilitas biokonversi yang tinggi terhadap limbah dan produk samping dari industri kelapa sawit. Selain itu, larva BSF menghasilkan berbagai produk turunan bernilai ekonomi, seperti bahan baku pakan ternak serta sumber nutrisi penting yang mendukung pertumbuhan tanaman. Artikel ini menyajikan kompilasi hasil-hasil penelitian terkait teknik budidaya BSF, khususnya terkait karakteristik siklus hidup dan variabel utama yang menentukan keberhasilan pada setiap tahapan perkembangan. Siklus hidup BSF terdiri atas lima fase utama, yaitu telur, larva, prepupa, pupa, dan imago (lalat dewasa), di mana setiap tahap menunjukkan karakteristik biologis dan ekologis khas yang berperan penting dalam keseluruhan dinamika perkembangan spesies ini. Efektivitas pada setiap tahap perkembangan dalam siklus hidup BSF dipengaruhi secara signifikan oleh sejumlah variabel lingkungan, termasuk suhu, kelembapan relatif, intensitas cahaya, ketersediaan sumber pakan, serta karakteristik fisik dan kimiawi substrat yang digunakan. Pemahaman mendalam mengenai interaksi antara siklus hidup dan faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan budidaya BSF ini sangat penting untuk diperhatikan, guna mengoptimalkan budidaya BSF dalam pengaplikasiannya sebagai upaya berkelanjutan dalam melakukan pengolahan limbah ataupun pemanfaatan produk samping industri kelapa sawit.
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MEDIUM-CHAIN TRIGLYCERIDE DAN PELUANGNYA UNTUK MENINGKATKAN NILAI EKONOMI KELAPA SAWIT INDONESIA Putra, Ludwinardo; Kresnawaty, Irma; Fitriyah, Fauziatul
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 2 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i2.234

Abstract

Medium-chain Triglycerides (MCT) merupakan senyawa lemak fungsional yang semakin mendapat perhatian dalam industri pangan dan kesehatan global karena karakteristik metabolik dan fisiologisnya yang unggul. Dibandingkan trigliserida rantai panjang (LCT), MCT lebih cepat diserap dan digunakan tubuh sebagai sumber energi, sehingga diaplikasikan luas dalam diet ketogenik, nutrisi klinis, serta suplemen olahraga. Hingga saat ini, minyak kelapa menjadi sumber utama bahan baku MCT karena kandungan asam lemak rantai sedang (MCFA) yang tinggi, namun keterbatasan suplai dan harga yang tinggi membatasi skalabilitasnya secara global. Kajian ini mengulas potensi minyak inti sawit (PKO) sebagai bahan baku alternatif untuk produksi MCT berbasis kelapa sawit. Selain ketersediaannya yang tinggi di Indonesia (>5 juta ton/tahun), PKO memiliki kandungan MCFA signifikan, terutama asam laurat (C12), serta harga yang lebih kompetitif dibanding minyak kelapa. Dari sisi teknologi, berbagai pendekatan sintesis MCT telah dikembangkan, mulai dari reaksi kimiawi, enzimatik, hingga rekayasa molekuler berbasis mikroorganisme dan mikroalga. Beberapa penelitian juga menunjukkan potensi ekonomi sirkuler dengan memanfaatkan distilat PKO sebagai bahan baku bernilai tambah tinggi. Indonesia memiliki peluang strategis untuk menjadi produsen utama MCT global karena rantai pasok sawit yang terintegrasi, skala produksi besar, dan dukungan kebijakan hilirisasi nasional. Pengembangan teknologi produksi MCT berbasis PKO tidak hanya mendukung daya saing industri sawit, tetapi juga membuka peluang komersialisasi produk turunan sawit bernilai tinggi di sektor kesehatan global.
PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GLISERIN PITCH DARI INDUSTRI OLEOKIMIA BERBASIS KELAPA SAWIT Anshari, Muhammad; Abdi Hasibuan, Hasrul; Habibi Nst, M. Erlangga; Qistin Nasution, Fadlin
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 3 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i3.236

Abstract

Gliserin pitch (GP) merupakan produk sampingan dari industri turunan kelapa sawit oleokimia khususnya pengolahan fatty acid & gliserin serta biodiesel yang menghadirkan tantangan besar dalam pengelolaannya sebagai limbah, namun juga menawarkan peluang untuk pemanfaatannya yang berkelanjutan. Permintaan global terhadap gliserin yang meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan standar hidup telah meningkatkan produksi gliserin, terutama dari sektor produksi biodiesel dan oleokimia. Di Indonesia, GP dihasilkan sebagai produk residu selama proses pemurnian gliserin, yang menghasilkan gliserin berkualitas tinggi. GP mengandung gliserol dalam konsentrasi rendah dan kontaminan lainnya, yang menjadikannya sebagai limbah berbahaya. Pengelolaan GP memerlukan biaya tinggi dan menimbulkan tantangan lingkungan sehingga pembuangannya memerlukan metode khusus.Berbagai strategi telah diusulkan untuk mengonversi glycerine pitch (GP) menjadi produk bernilai tambah, mencakup pemanfaatannya sebagai bahan baku biofuel, material konstruksi, dan bioplastik, sekaligus sebagai sumber nutrien dan substrat potensial dalam produksi pupuk hayati. Meskipun terdapat hambatan ekonomi dan teknologi, seperti biaya pengolahan yang tinggi, perkembangan teknologi hijau dan ekonomi sirkular memberikan peluang untuk memanfaatkan kembali GP menjadi produk bernilai tambah.
PENGARUH PENAMBAHAN ECO-ENZYME TERHADAP LAJU DEKOMPOSISI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT Erwinsyah, Fayyadh Altamis; Dimawarnita, Firda; Faramitha, Yora; Aulia Asy'ariyandika, Fannysa
WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit Vol. 30 No. 3 (2025): Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.war.warta.v30i3.239

Abstract

Indonesia sebagai produsen utama kelapa sawit menghasilkan volume limbah padat yang besar, terutama tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Limbah ini mengandung kadar lignoselulosa yang tinggi, sehingga sulit terurai secara alami dan berpotensi menimbulkan masalah lingkungan bila tidak ditangani dengan tepat. Proses penguraian TKKS dapat dioptimalkan dengan tambahan bioaktivator, seperti eco-enzyme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi eco-enzyme sebagai bioaktivator pada proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit. Perlakuan pada penelitian ini dilakukan dengan penyemprotan eco-enzyme dan air, serta dilakukan pengamatan pada hari ke-1, ke-7, dan ke-14. Parameter yang dianalisis adalah kadar C-organik menggunakan metode spektrofotometri, kadar N-total menggunakan metode Kjeldahl, dan diperoleh perhitungan rasio C/N. Hasil penelitian menunjukkan penambahan eco-enzyme memberikan penurunan kadar C-organik yang lebih cepat (6,64%), peningkatan kadar N-total (21,99%), dan penurunan rasio C/N hingga 23% yang mencapai standar kematangan dalam 14 hari. Secara keseluruhan, eco-enzyme berpotensi menjadi bioaktivator yang mempercepat proses dekomposisi TKKS.

Page 1 of 2 | Total Record : 12