cover
Contact Name
Sayono
Contact Email
say.epid@gmail.com
Phone
+628122545186
Journal Mail Official
say.epid@gmail.com
Editorial Address
Ruang 408 Lantai 4 Gedung Laboratorium Kesehatan Terpadu Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang Jl. Kedungmudu Raya No.18 Semarang, 50273
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia
ISSN : 16933443     EISSN : 26139219     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia publishes scientific articles of research results in the field of public health in scope: Health policy and administration Public health nutrition Environmental health Occupational health and safety Health promotion Reproductive health Maternal and child health Other related articles in public health
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Volume 2. No. 2. Tahun 2005" : 7 Documents clear
KONTAMINASI Staphylococcus aureus PADA IKAN ASAP DI TINGKAT PRODUSEN DAN PENJUAL DI SEMARANG Puspaningdyah Ekawati; Martini -; Sri Yuliawati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 2. No. 2. Tahun 2005
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7995.737 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.2.2.2005.%p

Abstract

Latar belakang : Kehadiran bakteri patogen di dalam ikan asap dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Salah satu bakteri yang dicurigai terdapat di dalam ikan asap adalah Staphylococcus aureus. Tujuan : menggambarkan kualitas bakteriologis ikan asap di Semarang dan praktik higiene pada produsen don penjual. Metode : Metode yangdigunakan adalah survei cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah ikan asap yang didapat dari produsen ikan serta penjual ikan masing-masing sebanyak 10 dan 22 ikan asap. Responden penelitian sebanyak 69 orang yang ditentukan berdasarkan total produsen dan penjual. Data dikumpulkan dengan wawancara dan pemeriksaanlaboratorium, kemuclian dianalisis secara deskriptif. Hasil : Kualitas bakteriologi ditingkat produsen masih dalam kondisi aman karena adanya proses pengasapan. Di tingkat pedagang kontaminasi Staphylococcus aureus 14,4% di atas batas maksimum, Sedangkan di tingkat penjual terdapat 40% sampel yang mengandung total bakteri di atas batas maksimum. Praktik higiene produsen dan penjual lebih dari 50% termasuk dalam kriteria kurang. Namun secara deskriptif tidak terlihat jelas keterkaitan antara praktik dan kandungan mikrobiologinya. Simpulan : ikan laut merupakan bahan pangan yang potensial menimbulkan permasalahan keracunan makanan meskipun setelah melalui proses pengasapan. Perlu penerapan praktik-praktik higiene dalam proses pembuatannnya hingga pemasarannyo.Kata kunci : ikan asap, Staphylococcus aureus
IDENTIFIKASI DAN HITUNG JUMLAH BAKTERI KONTAMINAN PADA LALAT Masca domestica BERDASARKAN LOKASI PENANGKAPAN DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SEMARANG Sri Darmawati; Sayono -; Misno Sudarmadi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 2. No. 2. Tahun 2005
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8753.423 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.2.2.2005.%p

Abstract

Latar belakang: Lalat, khususnya lalat rumah (Musca domestica) merupakan salah satu vektor mekanis beberapa jenis penyakit. Aktivitas berkembang biak pada sampah dan mencari makan pada makanan manusia berpotensi menimbulkan kontaminasi bakteri pada makanan dan minuman. Di lingkungan rumah sakit, hal ini sangatpenting untuk diperhatikan. Tujuan: mengidentifikasi bakteri dan menghitung jumlah bakteri kontaminan yang terdapat pada tubuh lalat.Musca domesetica. Metode: Jenis penelitian ekplanatori, dengan rancangan cross sectional dan pendekatan observasional. Populasi penelitian adalah lalat Musca domestica yang berada di lingkungan rumah sakit Bhayangkara Semarang. Sampel diambil secara accidental (kebetulan). Lalat ditangkap dengan jaring penangkap lalat. Variabel bebas, yaitu tempat (terdiri dari 3 lokasi), dan variabel terikat adalahjumlah bakteri kontaminan pada tubuh. Jumlah bakteri dihitung dengan metod Standart Plate Count (SPC). Data diolah dengan program komputer dan dianalisis secara diskriptif dan analitik. Analisis analitik menggunakan uji Analisa Varians Satu Jalan (One Way Anova). Hasil; Hasil identifikasi ditemukan, lima jenis bakteri kontaminan adalah Providencia rettgeri, Providencia stuartii, Enterobacter aerogenes, Citrobacter freundii, dan Bacillus sp., rerata jumlah bakteri pada lalat yang ditangkap di dapur adalah 1,85 x 104 sel batkteri/ekor, di TPS 7,4 x  103sel bakteri/ekor dan di bangzaal perqwatan 1,93 x 103 sel bakteri/ekor, hasil uji Anova menunjukkun nilai F = 1,142 dan p : 0,336. Simpulan: Ada lima jenis bakteri kontaminan yang ditemukan pada tubuh lalat di lingkungan rumah sakit Bhayangkara Semarang, tidak ditemukan bakteri Salmonella sp, dan tidak ada perbedaan jumlah bakteri secara signifikan menurut tempat penangkapan lalat.Kata kunci: Musca domestica, bakteri kontaminan, rumah sakit
PERBEDAAN BATUK EFEKTIF METODE PURSED LIP BREATHING TERHADAP KUALITAS SPUTUM Haryanto -; Praba Ginanjar; M. Arie Wuryanto
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 2. No. 2. Tahun 2005
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6955.649 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.2.2.2005.%p

Abstract

Latarbelakang: Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis atau disebut basil tahan asam (BTA). Diagnosis TB paru ditegakkan dengan menemukan BTA dalam pemeriksaan sputum. Husil pemeriksaan sputum sangat ditentukan oleh kualitas sputum. Sputum yang dihasilkan dapat berkualitas baik jika penderita melakukan batuk yang efektif, antara lain dengan metode pursed lip breathing.Tajuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan cara batuk efektif menggunakan metode pursed lip breathing dengan kualitas sputum. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuasi dengan post test only with control group design. Subyek penelitian adalah suspek TB paru yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Suspek TB paru dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan yang diberi perlakuan cara batuk efektif menggunakan metode pursed lip breathing dan kelompok kontrol. Jumlah suspek TB paru seluruhnya 120 orang, dibagi 60 orang pada masing-masing kelompok. Hasil penelitian menunjuklcan terdapat 11,7% kasus BTA positif dari 120 suspek yang diperiksa. Proporsi sputum berkualitas baik pada kelompok kontrol (41,7%) jauh lebih rendah dari kelompok perlakuan (83,3%). Analisis dengan chi-square membuktikan ada perbedaan antara carabatuk efekttf metode pursed lip breathing terhadap kualitas sputum yang dihasilkan (p<0,0001). Pada kelompok kontrol tidak ada kasus BTA positif yang berhasil ditemukan pada pemeriksaan sputum pertama (0,00'%,).Sebaliknya, seluruh kasus dengan BTA positif pada kelompok perlakuan (100,0%) dapat ditemukan pada pemeriksaan sputum pertama. Simpulan: cara batuk efektif menggunakan metode pursed lip breathittg berhubungan erat dengan kualitas sputum yang dihasilkan pada pemeriksaan sputum sewaktu I. Disarankan agur metode tersebutdigunakan untuk meningkatkan efektivitas pemeriksaan sputum suspek TB paru.Kata kunci: tuberkulosis, batuk, sputunt
HUBUNGAN KEPADATAN HUNIAN KAMAR DAN LUAS VENTILASI DENGAN KEJADIAN ISPA DI PONDOK PESANTREN SABILAL MUHTADIN KECAMATAN MENTAYA HILIR SELATAN KALIMANTAN TENGAH Sulistiyani -; Ahmad Lamsidi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 2. No. 2. Tahun 2005
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5969.053 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.2.2.2005.%p

Abstract

Latar Belakang : Pemondokan (asrama) pondok pesantren yang sehat harus memenuhi beberapa variabel kondisi kesehatan lingkungan sesuai Surat Keputusan Menkes RI Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan antara lain adalah : kepadatan penghuni dan luas ventilasi. Variabel tersebut erat kaitannya dengan penularan penyakit menular terutama penyakit ISPA sebab dari data Puskesmas Mentaya Hilir tahun 2001 terdapat 232 kunjungan yang berasal dari santri Pondok Pesantren dan 34%nya ISPA. Tujuan : untuk mengetahui hubungan kepadatan hunian dan luas ventilasi kamar dengan kejadian ISPA di pondok pesantren Sabilal Muhtadin. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory research dengan metode survey dan pendekatan cross sectional. Besar sampel penelitian seluruhnya berjumlah 176 orang santri yang  menempati 30 kamar. Pengolahan data menggunakan uji statistik Chi Square dengan @=0,05 dan df=1. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian ISPA pada santri sebesar 68,8 %, tingkat kepadatan hunian 66,7% tergolong padat (tidak memenuhi syarat) dan 33,3% tergolong memenuhi syarat, luas ventilasi sebagian besar (86,7%) tidak memenuhi syarat. Setelah dilakukan uji statistik dengan Chi Square antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA p value= 0,0001 dan antara luas ventilasi dengan kejadian ISPA mendapatkan nilai p=0,0001. Simpulan : Ada hubungan antara variabel kepadatan hunian dengan kejadian ISPA, ada hubungan antara luas ventilasi dengan kejadian ISPA.Kata Kunci: Kepadatan hunian kamar, Ventilasi, Pondok Pesantren, ISPA
HUBUNGAN FAKTOR PEMAPARAN PESTISIDA DENGAN KERACUNAN PESTISIDA PADA PETANI PENYEMPROT MELON DI NGAWI Budiyono -; Nurjazuli -; Heru Prastowo
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 2. No. 2. Tahun 2005
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7959.886 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.2.2.2005.%p

Abstract

Latar belakang: Tanaman melon merupakan tanaman yang rentan terhadap hama penyakit, dan tanaman melon selama hidupnya tidak bisa lepas dengan pestisida. Pada tahun 2001 angka keracunan pestisida pada 320 petani penyemprot melon mencapai 40% keracunan berat, 52% keracunan sedang, 7% keracunan ringan. Tuiuan:untuk mengetahui faktor pemaparan pestisida dengan tingkat keracunan pestisida petani penyemprot melon.Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebesar 44 petani penyemprot melon.Wawancara dilakukan untuk mengetahui faktor pemaparan pestisida yang meliputi pemakaian alat pelindung diri, dosis yang digunakan, merokok saat menyemprot, makan minum waktu istirahat menyemprot, lama menjadi petani penyemprot melon, arah menyemprot, pemakaian obat nyamuk semprot di rumah pada malam hari.Tingkat keracunun diukur dengan memeriksa kadar enzim cholinesterase darah petani penyemprot melon. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tingkat keracunan sebesar 35 orang (79,55%), sedangkan yang tidak keracunan atau normal sebanyak 9 orang (20,45%). Simpulan: terdapat hubungan antara pemakaian alat pelindung diri,makan minum waktu istirahat menyemprot dan arah menyemprot terhadap keracunan pestisida. Tidak terdapat hubungan antara lama dan frekuensi menyemprot per minggu, dosis semprot, merokok saat menyemprot, lama menjadi penyemprot terhadapt keracunan pestisida pada petani penyemprot melon.Kata kunci : pemaparan pestisitla, keracunan, penyemprot melon.
SISTEM INFORMASI SURVEILANS INFEKSI LUKA OPERASI UNTUK MEMBANTU PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIS DAN ADMINISTRASI DI KAMAR OPERASI BADAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. H. SOEWONDO KENDAL (MANFAAT UNTUK PERBAIKAN MUTU PELAYANAN TINDAKAN BEDAH) Ratih Sari Wardani; Bambang Shofari
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 2. No. 2. Tahun 2005
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12757.036 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.2.2.2005.%p

Abstract

Latar belakang: Pengendalian infeksi nosokomial merupakan salah satu upaya mengembangkan kualitas pelayanan rumah sakit. Salah satu pengendalian infeksi nosokomial adalah surveilens infeksi luka operasi.Penelitan pendahuluan menunjukan bahwa surveilen luka operasi di BRSUD Kendal belum maksimal karena keterlambatan dan ketidakakuratan pengolahan data yang berimbas pacla ketidaklengkapan dan kesulitan akses data dan informasi. Tuiuan penelitian ini adalah untuk mengetahui disain system informasi surveilens infeksi nosokomial luka operasi yang sesuai dengan kebutuhan pembuatan keputusan klinis clan administrative di ruangoperasi. Metode. Penelitian ini menggunakan disain eksperimen kuasi dengan perlakuan berulang. Analisis data dikerjakan dengan content analysis dari data hasil interview, analisis diskriptif untuk data hasil ujicoba. dan analisis kuantitatif untuk menemukan perbedaan tampilan antara system lama dan baru. Subjek penelitian adalah direktur rumah sakit, ketua komite medis, ketua komite pengendalian infeksi nosokomial, kepala instalasi operasi, dokter bedah, dan staf surveilens. Objek penelitian adalah system informasi surveilens infeksi luka operasi untuk mendukung pembuatan keputusan klinis dan administrative di ruang operasi. Hasil; penelitian ini menghasilkan sebuah disain system informasi surveilens infeksi luka operasi termasuk disain basis data masukan dan keluaran dan intedace. Penerapan system ini dirasakan dapat membuat pengelolaan system informasi lebih sederhana, mudah, lengkap, cepat, dan mendukung kebutuhan pembuatan keputusan klinis dan administratiye.Simpulan : system surveilens infeksi luka operasi yang diterapkan dapat mengatasi kelernahan system lama khususnya dalam hal kesederhanaan, kemudahan, kecepatan, dan kerepresentatifan tlata.Katakunci: system informasi. surveilens, infeksi luka operasi
HUBUNGAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN DENGAN KADAR Immunoglobulin M (IgM) anti Phenolic Glycolipid-1 (PGL-1) NARAKONTAK SERUMAH PENDERITA KUSTA DI KOTA SEMARANG M. Zen Rahfiludin; Apoina Kartini; Distrika Philani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 2. No. 2. Tahun 2005
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5684.533 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.2.2.2005.%p

Abstract

IgM anti PGL-I merupakan penanda bahwa seorang narakontak serumah terinfeksi atau tidak oleh kuman Mycobacterium leprae. konsumsi energi dan protein yang rendah secara bermakna mengganggu sistem imun tubuh sehingga dapat menimbulkan infeksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat konsumsi energi protein dengan kadar IgM anti PGL-I narakontak penderita kusta di Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan dengan metode survei melalui pendekatan cross sectional. Populasi yang diambil adalah narakontak serumah penderita kusta serumah di kota Semarang. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling diperoleh sampel sebanyak 69 narakontak serumah. Analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik Korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat konsumsi energi narakontak adalah 60,57 %, rata-rata tingkat konsumsi protein narakontak adalah 92,59 % dan rata-rata kadar IgM anti PGL-I narakontak 768,67 unit. Ada hubungan negatif bermakna antara tingkat konsumsi energi dan tingkat konsumsi protein dengan kadar IgM anti PGL-I narakontak penderita kusta di Kota Semarang (p=0,008, r= -0,317 dan p = 0,02, r= -0,27). Saran yang dapat diberikan pada narakontak kusta khususnya yang belum terinfeksi adalah meningkatkan konsumsi energi dan protein agar kekebalan tubuhnya dapat terjaga.Kata kunci: kusta, Igm anti PGL-I, konsumsi energi, konsumsi protein

Page 1 of 1 | Total Record : 7