cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
FIKkeS
ISSN : 19786735     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 102 Documents
KEPERCAYAAN (TRUST) PASIEN KEPADA PERAWAT DALAM MENJALANKAN PERAWATAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN DI BANGSAL KELAS 3 RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG Arnoldus Mean Saho; Madya Sulisna; Edy Wuryanto
FIKkeS Vol 4, No 1 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.051 KB)

Abstract

Terbinanya hubungan percaya merupakan media dalam mengembangkan hubungan antara perawat dan klien maupun keluarga untuk melakukan suatu tindakan penolongan yang nyaman bagi klien. Hubungan saling percaya ini merupakan proses interaksi antara perawat dan klien untuk mengekspresikan kebutuhan, memecahkan masalah dan meningkatkan kemampuan koping, salah satunya dengan mengatasi masalah kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepercayaan pasien kepada perawat dalam menjalankan perawatan dengan tingkat kecemasan pasien di bangsal kelas 3 Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien bangsal kelas 3 Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling dengan jumlah 221 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kepercayaan responden adalah tinggi yaitu 87,3%, dan sebagian besar kecemasan responden adalah ringan yaitu 48,0%. Hasil uji korelasi spearmans rho didapatkan nilai r sebesar -0,406 dengan nilai p sebesar 0,000. Artiya adanya hubungan negatif antara kepercayaan dengan tingkat kecemasan. Berdasarkan hasil tersebut maka rumah sakit diharapkan dapat melakukan pembinaan kepada para perawatnya untuk membangun hubungan interpersonal antara perawat-klien terutama membangun kepercayaan pasien terhadap perawatKata Kunci : Kepercayaan, Tingkat kecemasan
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN MASA KERJA PERAWAT DENGAN TINDAKAN PEMASANGAN INFUS SESUAI STANDART OPERATING PROCEDURE DI RS ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG Anggraeni Purnama S; Edy Wuryanto; Suyono -
FIKkeS Vol 6, No 1 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.364 KB)

Abstract

Pemberian terapi intravena saat ini merupakan yang paling banyak digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi pasien. Tindakan pemasangan infus, akan berkualitas apabila dalam pelaksanaannya selalu mengacu pada standar yang telah ditetapkan, sehingga kejadian infeksi atau berbagai permasalahan akibat pemasangan infus dapat dikurangi bahkan tidak terjadi. Namun hingga saat ini angka kejadian infeksi cukup banyak atau masih ada di berbagai pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan masa kerja perawat dengan tindakan pemasangan infus sesuai standart operating procedure, jenis penelitian analitis korelasi, dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang, pada 64 orang perawat dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling accidental. Metode analisa data dengan uji statistik chie-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar tidak betul dalam pelaksanaan tindakan pemasangan infus sesuai standart operating procedure sebanyak 57 orang perawat (89,1%). Dari hasil analisa menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dan masa kerja perawat dengan tindakan pemasangan infus sesuai standart operating procedure (p > 0,05). Berdasarkan hasil tersebut pihak perlu adanya memperbaharui secara berkala standart operating procedure sesuai dengan penelitian-penelitian terbaru untuk keselamatan dan kenyamanan pasien.Kata kunci : tingkat pendidikan, masa kerja perawat, tindakan pemasangan infus sesuai standart operating procedure
PENGARUH BERMAIN ORIGAMI TERHADAP KECEMASAN ANAK USIA PRA SEKOLAH YANG MENGALAMI HOSPITALISASI DI RUANG MAWAR RSUD KRATON PEKALONGAN Wiji Lestari
FIKkeS Vol 8, No 1 (2015): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.471 KB)

Abstract

Hospitalisasi yang dialami anak anak menyebabkan kecemasan , salah satu nya adalah karena prosedur tindakan yang menyakitkan. Untuk mengurangi kecemasan diperlukan media yang efektif yang mengekspresikan perasaan mereka melalui permainan. Origami merupakan permainan yang diterapkan pada anak usia prasekolah karena merupakan permainan yang kreatif, imajinatif dan dapat digunakan untuk mengekspresikan perasaan sehingga dapat mengurangi kecemasan . Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh bermain origami terhadap kecemasan anak usia pra sekolah yang mengalami hospitalisas, jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan menggunakan design non-equivalentpre test-post test. Proses penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Juli - 10 Agustus 2013 di ruang mawar RSUD Kraton Pekalongan dengan menggunakan metode sampling jenuh. Jumlah sampel 30. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh bermain origami terhadap kecemasan anak usia prasekolah yang mengalami hospitalisasi (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian tersebut perlu penerapan teori bermain origami sebagai salah satu intervensi untuk mengurangikecemasan anak yang mengalami hospitalisasi.Kata kunci: bermain origami, kecemasan
ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK LANSIA HIPERTENSI DALAM MENGENDALlKAN KESEHATANNYA DI PUSKESMAS MRANGGEN DEMAK Edy Soesanto
FIKkeS Vol 3, No 2 (2010): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6789.13 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit-penyakit kardiovaskular yang merupakan penyebab kematian tertinggi di lndonesia. Data penelitian Departemen Kesehatan Rl tahun 2005, menunjukkan hipertensi dan penyakit kardiovaskular masih cukup tinggi dan bahkan cenderung meningkat seiring dengan gaya hidup yang jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat, mahalnya biaya pengobatan hipertensi, persepsi yang keliru dari masyarakat disertai kurangnya sarana dan prasarana penanggulangan hipertensi. Hipertensi sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah bila faktor resiko dapat dikendalikan dan berperilaku sehat (healthy behavior) yaitu praktik atau kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan, mengendalikan dan meningkatkan kesehatan. Data dari dinas kesehatan Kabupaten Demak, angka kejadian hipertensi mengalami kenaikan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan praktik lanjut usia Hipertensi dalam mengendalikan kesehatannya di wilayah kerja Puskesmas Mranggen, Kabupaten Demak dengan menggunakan pendekatan study Cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Besar sampel untuk pendekatan kuantitatif adalah 285 responden (total sampling). Analisa data dilakukan secara univariat, bivariat dengan chi square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara dukungan keluarga terhadap lanjut usia yang menderita penyakit hipertensi dengan praktik lanjut usia hipertensi dalam mengendalikan kesehatannya ( p = O,O48), ada hubungan antara dukungan kader kesehatan terhadap lanjut usia yang menderita penyakit hipertensi dengan Praktik lanjut usia hipertensi dalam mengendalikan kesehatannya (p = 0,049), dan ada hubungan antara akses pelayanan kesehatan dengan Praktik lanjut usia hipertensi dalam mengendalikan kesehatannya (p = 0,026). Saran kepada petugas puskesmas agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, melakukan kunjungan rumah, memberikan pendidikan kesehatan khususnya tentang manfaat pengendalian kesehatan bagi lanjut usia hipertensi dan melakukan kerjasama lintas sektoral dalam pelaksanaan program pos pembinaan terpadu (posbindu) lanjut usia. Kata kunci : Praktik, Lanjut usia, Pengendalian kesehatan, Hipertensi
FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DIARE PADA BAYI DI DESA JERUK SARI KECAMATAN TIRTO KABUPATEN PEKALONGAN Eni Wiharti; Sri Rejeki; Edy Wuryanto
FIKkeS Vol 5, No 2 (2012): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.564 KB)

Abstract

Penyakit diare merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya angka kesakitan diare dari tahun ke tahun. Berdasarkan umur, prevalensi tertinggi kejadian diare terjadi pada usia 6 11 bulan sebanyak 19,45% dari seluruh kejadian diare. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan diare pada bayi di desa Jeruk Sari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan.Jenis penelitian adalah penelitian penjelasan, dengan menggunakan metode survey melalui pendekatan cross sectional . Teknik pengumpulan data dengan kuesioner dan observasi pada kelompok ibu dan bayi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2011 di desa Jeruk Sari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, populasinya adalah seluruh ibu yang memiliki anak bayi, teknik pengambilan sampel dengan metode Proportional Random Sampling, dengan jumlah sampel 81 orang. Data primer diambil dengan metode wawancara dan observasi sedangkat data sekunder diperoleh dari profil Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan 2010. Data yang diperoleh dalam penelitian diolah dengan menggunakan statistik uji chi square dengan derajat kemaknaan (?) <0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar faktor lingkungan responden kurang baik dengan nilai r-value< 0,05 yang berarti ada hubungan antara faktor lingkungan dengan kejadian diare pada bayi di Desa Jeruk Sari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Sebagian besar perilaku responden cukup dengan nilai r-value< 0,05 yang berarti ada hubungan antara faktor perilaku dengan kejadian diare pada bayi di Desa Jeruk Sari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan.Berdasarkan hasil tersebut diperlukan upaya penyuluhan kesehatan terutama terhadap faktor lingkungan dan perilaku yang dapat mencegah penyakit diare agar dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan karena diare.Kata kunci : lingkungan, perilaku dan diare.
HUBUNGAN ANTARA DIMENSI KONSEP DIRI DENGAN INTERAKSI SOSIAL PADA PENDERITA KUSTA DI RSUD KUSTA DONOROJO JEPARA Findi Isak Sutrisno
FIKkeS Vol 7, No 1 (2014): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.578 KB)

Abstract

Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular, yang dapat menimbulkan masalah sangat komplek. Menurut World Health Organization (WHO, 2009) dalam Weekly Epidemiological Record bahwa di Indonesia ditemukan 21.538 kasus kusta. Azizah (2008) mengemukakan bahwa keberadaan penderita kusta pada umumnya masih dikucilkan masyarakat sekitar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dimensi konsep diri, interaksi sosial, dan hubungan dimensi konsep diri dengan interaksi sosial pada penderita kusta. Sampel berjumlah 33 responden menggunakan total sampling. analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi atau dengan tabel distribusi, analisis bivariat menggunakan product moment person dan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan responden yang memiliki citra tubuh, ideal diri, harga diri, peran diri identitas diri dan interaksi sosial cukup sebanyak (60,6%; 78,8%; 60,6%; 63,6%; 72,7%; 63,6%), dan citra tubuh, ideal diri, harga diri, peran diri, identitas diri dan interaksi sosial baik sebanyak (39,4%; 21,2%; 39,4%; 36,4%; 27,3%; 36,4%). Hasil analisa data citra tubuh, ideal diri, harga diri, peran diri, identitas diri dengan interaksi sosial adalah (r = 0,757 p= 0,000, 95%), (r = 0,575 p= 0,000, 95%), (r= 0,738 p= 0,000, 95%), (r= 0,675 p= 0,000, 95%), (r = 0,885 p= 0,000, 95%). Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar penderita kusta di RSUD Kusta Donorojo Jepara memiliki citra tubuh, ideal diri, harga diri, peran diri, identitas diri interaksi social yang cukup. Terdapat hubungan yang signifikan antara citra tubuh, ideal diri, harga diri, peran diri, dan identitas diri dengan interaksi sosial pada penderita kusta.Kata kunci: Pasien Kusta, Dimensi Konsep Diri, Interaksi Sosial.
Hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien di Rumah Sakit lslam Kendal Haryanto Adi Nugroho; Septyani Aryati
FIKkeS Vol 2, No 2 (2009): Keperawatan, Kesehatan, dan Kebidanan
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.743 KB)

Abstract

Latar belakang. Komunikasi terapeutik yang baik terdiri dari 4 tahab yaitu prainteraksi, orientasi kerja, dan terminasi ahan beidampak terhadap Repuasan pasien, dimana kepuasan pasien merupakan satu ukuran untuk menilai kualitas pelayanan keperawatan. berdasarkan wawancara terdapat 10 pasien mengatakan puas dan 4 pasien mengatakan kurang puas, dari kritik yang masuk melalui kotak saran didapatkan 5 keluhan tentang pelayanan perawat yang tidak memuaskan, Keluhan kitik dan saran yang masuk ke dalam kotak saran tentang perawat yang kurang sabar, kurang senyum dan berbicara kasar Tujuan secara umum penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien di Rumah Sakit lslam KendaL Tujuan secara kfusus yaitu mengidentifikasi komunikasi terapeutik di RSI Kerndal, mengidentitikasi kepuasan pasien di RSI Kenda[ menganalisis hubungan antara komunikasi terapeutik dengan kepuasan pasien di RSI Kendal, Metode pengambilan data kuantitatil dilakukan dengan wawancara tersetruktur menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas, Uji hubungan menggunakan uji korelasi Rank Spearman, Penelitian ini dilahukan di Rumah Sakit lslam Kendal pada bulan Mei2008 dengan pendekatan Cros Sectional terhadap 130 responden.Berdasarkan hasil analisis didapatkan nilai rata-rata 55,80 (lima puluh lima koma delapan enam) median 58,00 (lima puluh delapan) berarti perawat sering melakukan komunikasi terapeutikterhadap pasien. Responden yang merasa puas dengan komunikasiterapeutik perawatdi dapatkan nilai rata+ata 29,523 (dua puluh sembilan koma lima dua tiga) median 3A,04 (tiga puluh). Berdasarkan uji statistik diperoleh nilai r = 0,225 (nol koma dua-dua lima) dan p = 0,010 (nol koma nol sepuluh), data ini menunjukkan bahwa hubungan tersebut signifikan pada taraf signifikasi 0,05 (ebih kecil dari 0,05). Nilai r sebesar 0,225 (nol koma dua-dua lima) berarti kekuatan hubungan tersebut lemah. Pola hubungan linier positif yang berarti semakin baik komunikasi terapeutik perawat maka pasien akan semakin puas.Kata kunci : Komunikasi terapeutik, kepuasan pasien, korelasi Rank Spearman.
HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI RSUD KRATON KABUPATEN PEKALONGAN Evi Yusnita; Siti Aisah; Ernawati -
FIKkeS Vol 5, No 1 (2012): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.855 KB)

Abstract

Komunikasi terapeutik yang baik diharapkan dapat memberikan informasi yang baik dan dapat membina hubungan saling percaya terhadap pasien sehingga pasien akan merasa puas dengan pelayanan yang diterimanya. Apabila kemampuan perawat tidak mencakup dan tidak dapat memelihara hubungan interpersonal yang baik maka pasienpun tidak akan puas dengan pelayanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan komunikasi terapeutik dengan tingkat kepuasan pasien di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan. Desain penelitian ini menggunakan korelasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan proporsional random sampling sebanyak 91 orang.Instrumen penelitian menggunakan chek list dan kuesioner.Analisa data menggunakan uji sperman rank.Hasil uji sperman rank diperoleh ? value sebesar 0,001 < 0,05 berarti ada hubungan yang signifikan antara hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kepuasan pasien di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan. Perawat sebaiknya dalam melakukan komunikasi terapeutik sesuai dengan protab yang telah ditentukan oleh pihak rumah sakit, dan melakukan komunikasi terapeutik sesuai dengan tahap-tahap yang telah ditentukan sehingga dapat memberikan komunikasi terapeutik secara optimal.Kata kunci : Komunikasi Terapeutik, Kepuasan Pasien
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MOTIVASI PERAWAT MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE JENJANG S1 KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT ROEMANI MUHAMMADIYAH SEMARANG TAHUN 2012 Arum Setyaningsih; Edy Wuryanto; Sayono -
FIKkeS Vol 6, No 2 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.387 KB)

Abstract

Jumlah perawat yang dominan di rumah sakit, menjadikan keperawatan sebagai salah satu profesi yang berperan penting dalam upaya menjaga kualitas pelayanan kesehatan rumah sakit. Salah satu langkah meningkatkan kualitas pelayanan adalah dengan peningkatan kualitas SDM perawat melalui peningkatan pendidikan formal perawat. Namun di lapangan masih banyak perawat yang bekerja di rumah sakit berpendidikan akademi atau diploma III keperawatan bahkan SPK setingkat SMA.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi perawat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 keperawatan, jenis penelitian explanatory research, dengan pendekatan cross sectional. Penelitian telah dilaksanakan di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang, pada 122 perawat dengan teknik pengambilan sampel proportional stratified simple random sampling. Metode analisa data dengan uji korelasi rank spearman rho dan chie-square.Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar perawat memiliki tingkat motivasi sedang sebanyak 70 perawat (57,4%). Dari hasil analisa menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara usia, lama kerja, status perkawinan dan pendapatan keluarga dengan motivasi perawat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 keperawatan (p > 0,05). Ada hubungan yang signifikan antara faktor penghargaan dan faktor dukungan atasan dengan motivasi perawat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 keperawatan (p < 0,05).Berdasarkan hasil tersebut pihak manajemen rumah sakit perlu untuk lebih memberikan dukungan dan keterbukaan tentang sistem penghargaan kepada perawat, sehingga lebih memotivasi perawat untuk meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan.Kata Kunci: usia, lama kerja, status perkawinan, pendapatan keluarga, penghargaan, dukungan atasan, motivasi
HUBUNGAN ANTARA STATUS PEKERJAAN IBU DAN TINGKAT KEMANDIRIAN ANAK USIA PRASEKOLAH DI DESA PRAPAG LOR KECAMATAN LOSARI KABUPATEN BREBES Mariyam -; Apisah -
FIKkeS Vol 2, No 1 (2008): Keperawatan dan Kebidanan
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.921 KB)

Abstract

Latar Belakang : Semakin meningkatnya pendidikan pada perempuan menimbulkan kesadaran untuk mengembangkan diri dan mengaktualisasikannya dalam bentuk meniti karir dalam bidang pekerjaan. Fenomena tersebut dapat memberikan dampak positif maupun negatif . Dengan bekerja paling tidak dapat memperoleh masukan tambahan dan mendapat pengalaman, Namun demikian pada kenyataannya karena sibuk bekerja atau berkarir mengakibatkan perhatian terhadap keluarga termasuk anak menjadi berkurang. Salah satu fakor yang mempengaruhi tingkat kemandirian anak yang kita lihat pada era sekarang adalah banyaknya ibu- ibu yang bekerjademi memenuhi kebutuhan sosial, ekonomi keluarga atau sekedar memenuhi tuntutan karier.Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan antara status pekerjaan ibu dan kemandirian anak usia prasekolah di Desa Prapag Lor Kecamatan Losari Kabupaten Brebes.Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Desa Prapag Lor Kecamatan Losari kbupaten Brebes. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak usia prasekolah di Desa Prapag Lor Kecamatan Losari,Kabupaten Brebes dimana berdasarkan hasil survey bulan Desember 2007 berjumlah 917 orang dan sampel yang diambil adalah sebanyak 90. Variabel independen adalah status pekeriaan ibu.Variabel dependen adalah kemandirian anak usia prasekolah. Uji statistik yang digunakan Chi -Square dengan taraf signifikan 5 %Hasil Penelitian : Sebagian besar ibu memiliki anak berusia 4 tahun yaitu sebesar 45 orang (50 %) dan merupakan anak pertama (61,1 %). Umur ibu paling banyak berada pada rentang usia 20 - 25 tahun yaitu sebesar 60 orang (66,7 %) dengan tingkat pendidikan SD yaitu sebesar 41 orang (45,5%) dan sebagian besar adalah ibu bekerja seDesar 64 orang (71,1 %) sehingga menyebabkan tingkat kemandirian anak mandiri penuh sebesar 52 orang (57,8 %). Hasil analisis ada hubungan antara status pekerjaan ibu dan kemandirian anak usia prasekolah ditunjukkan dengan hasil nilai p = 0,002 < 0,05.Simpulan ; Status pekeriaan ibu berpengaruh terhadap tingkat kemandirian anak usia prasekolah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai p = 0,002 < 0,05. Saran : lbu-ibu bekerja perlu memanfaatkan waktu yang relatif terbatas dengan memperbaiki mutu interaksi yang dilakukannya,Sebaiknya ibu lebih mementingkan kualitas hubungan yang baik bersama anak daripada kuantitasnya. lbu yang bekerja harus mempunyai kiat-kiat dalam membentuk lingkungan yang kondusif misalnya memanfaatkan waktu yang dimiliki ibu untuk melatih kemandiian anak, memberiperhatian penuh kepada anak dalam berbagai masalah, mengarahkan pota pikir anak agar anak lebih memahami stuasiyang dihadapi.Kata Kunci: Status Pekerjaan ibu, Kemandirian, Anak Pra sekolah.

Page 7 of 11 | Total Record : 102