cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 30, No 2 (2018)" : 16 Documents clear
Korelasi antara kadar Osteocalcin, HbA1C dan 25(OH)D3 pada Anak dengan Diabetes Melitus Tipe 1 wulandari, hajeng
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.09 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.5

Abstract

Masalah yang terjadi di banyak negara salah satunya adalah Diabetes Melitus tipe 1. Prevalensi DM tipe 1 di Indonesia masih belum jelas. DM tipe 1 disebabkan berkurangnya sekresi insulin akibat kerusakan fungsi sel β pankreas oleh karena respon autoimun. Diabetik osteopati merupakan salah satu komplikasi DM, yaitu peningkatan terjadinya osteoporosis. Penelitian ini bertujuan mencari korelasi antara kadar 25(OH)D3, kontrol glikemik dengan mengukur kadar HbA1c dan osteocalcin , sebagai penanda biokimia struktur tulang. Dua puluh enam anak dengan DM tipe 1 adalah sebagai subjek penelitian. Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan Shapiro Wilk, korelasi Pearson dan Spearman. Karakteristik sampel menunjukkan jenis kelamin didominasi perempuan 58%  dan didominasi dengan gizi baik (73%). Status vitamin D didominasi defisiensi (61,5%). Kadar HbA1C <7,5 % sebanyak 27%. Rerata usia pasien adalah 12,31 ± 3,069 tahun, dosis insulin 1,17±0,233 IU, kadar GDP 115,08±46,742 mg/dL, dan kadar GDS 144,65±76,365 mg/dL. Tidak didapatkan korelasi yang signifikan antara kadar HbA1c (p=0,472, r=-0,148) dan osteocalcin (p=0,407, r=0,17) dengan kadar 25(OH)D3. Demikian juga antara osteocalcin dan kadar HbA1c. Kesimpulan tidak diapatkan korelasi antara kadar osteocalcin , kadar HbA1c,  dan kadar 25(OH)D3.
Kombinasi Diskusi Kelompok Kecil dan Pemodelan sebagai Metode Alternatif untuk Menurunkan Kecemasan Primigravida Menghadapi Persalinan Lestaluhu, Viqy; Indrawan, I Wayan Agung; Andarini, Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.622 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.13

Abstract

Kehamilan pertama bagi seorang ibu merupakan periode krisis dalam kehidupannya. Kecemasan dapat muncul karena masa panjang menanti kelahiran dan ketidakpercayaan diri Ibu merawat bayinya. Oleh karena itu, primigravida membutuhkan informasi yang memadai tentang persiapan persalinan. Kombinasi diskusi kelompok kecil dan pemodelan merupakan metode pembelajaran yang bermanfaat dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu, salah satunya dengan menurunkan kecemasan dalam menghadapi persalinan. Penelitian ini bertujuan membuktikan pengaruh penerapan kombinasi metode diskusi kelompok kecil dan pemodelan terhadap kecemasan primigravida dalam menghadapi persalinan. Desain penelitian adalah true eksperimen dengan rancangan randomized subject, pretest-posttest control group design. Penelitian dilakukan di Puskesmas Poka Rumah Tiga Kota Ambon. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 24 responden yang dibagi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kontrol. Pengukuran kecemasan primigravida menghadapi persalinan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Data dianalisis dengan uji paired t-test dan independent t-test dengan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan kecemasan primigravida menghadapi persalinan sebelum dan setelah penerapan kombinasi metode diskusi kelompok kecil dan pemodelan serta antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p=0,000). Dapat disimpulkan bahwa penerapan kombinasi metode diskusi kelompok kecil dan pemodelan dapat menurunkan kecemasan primigravida dalam menghadapi persalinan.
Efektifitas Aktivitas Peer Group terhadap Penurunan Berat Badan dan Persen Lemak Tubuh pada Remaja Overweight Jaelani, Mohammad; Larasati, Meirina Dwi; Rahmawati, Ana Yuliah; Ambarwati, Ria
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.721 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.9

Abstract

Diet rendah energi dan peningkatan aktivitas secara individual belum efektif dalam penurunan berat badan. Oleh karena itu, perlu dicari metode lain atau memodifikasi metode dengan membentuk kelompok peer group aktivitas. Tujuan penelitian ini menganalisis efektifitas aktivitas peer group terhadap kepatuhan aktivitas fisik, kepatuhan diet, penurunan berat badan dan persen lemak tubuh pada remaja overweight. Desain penelitian menggunakan Randomized Controlled Trial dengan rancangan eksperimental ulang pre-posttest control group design. Subjek penelitian adalah remaja putri overweight sebanyak 13 orang kelompok kontrol dan 13 orang kelompok perlakuan. Subjek dilakukan intervensi berupa jogging minimal 30 menit dan naik turun tangga sebanyak 10 kali per hari selama empat minggu. Ukuran kepatuhan diet diambil setiap minggu berdasarkan hasil recall 2x24 jam selama 4 minggu. Perbedaan kepatuhan aktivitas fisik dan kepatuhan diet diuji menggunakan Chi Square Test sedangkan perubahan berat badan dan persen lemak tubuh menggunakan ANOVA Repeated Measure Test. Ada perbedaan yang signifikan antara kepatuhan aktivitas fisik (p=0,000) dan penurunan berat badan (p=0,004) antara kelompok perlakuan dan kontrol namun tidak ada perbedaan yang signifikan antara kepatuhan diet (p>0,05) dan penurunan persen lemak tubuh (p=0,382) antara kelompok perlakuan dan kontrol. Peer group efektif dalam meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan berat badan pada remaja overweight.
Hubungan Tingkat Risiko Obstructive Sleep Apnea dan Sindroma Metabolik dengan Fungsi Kognitif Global Harahap, Herpan Syafii; Indrayana, Yanna; Lestari, Rina
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.293 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.10

Abstract

Obstructive sleep apnea (OSA) berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan fungsi kognitif, dan gangguan fungsi kognitif tersebut juga terkait dengan komponen sindrom metabolik (hipertensi, diabetes melitus, obesitas sentral, dan dislipidemia). Penegakan diagnosis penyakit tersebut membutuhkan keahlian khusus, waktu pemeriksaan yang lama, dan mahal, oleh karena itu penapisan tingkat risiko OSA dengan instrumen sederhana sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi tingkat risiko OSA dan sindroma metabolik dengan fungsi kognitif global. Desain potong lintang dilakukan dengan melibatkan 89 subjek yang datang dalam acara Car Free Day dan memenuhi kriteria inklusi. Data yang dikumpulkan meliputi usia, jenis kelamin, riwayat hipertensi, dislipidemia, diabetes melitus, indeks massa tubuh (IMT), obesitas sentral, tingkat risiko OSA, dan fungsi kognitif global. Tingkat risiko OSA dinilai dengan menggunakan instrumen STOP-BANG Questionnaire dan fungsi kognitif global menggunakan instrumen Clock Drawing Test (CDT). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna dalam hal frekuensi subjek dengan tingkat risiko tinggi OSA (p=0,042) dan subjek dengan diabetes melitus (p=0,04) antara kelompok subjek dengan status fungsi kognitif global normal dan menurun. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hanya satu komponen sindroma metabolik, yaitu hipertensi yang berhubungan dengan tingkat risiko OSA (p<0,001), sedangkan diabetes melitus, obesitas sentral dan dislipidemia tidak. Dapat disimpulkan bahwa tingkat risiko OSA berhubungan dengan status fungsi kognitif global dan komponen sindroma metabolik yang berperan adalah diabetes melitus dan hipertensi.
FAKTOR DOMINAN DALAM MEMPREDIKSI MORTALITAS PASIEN DENGAN SEPSIS DI UNIT GAWAT DARURAT Akbar, Ilham; Widjajanto, Edi; Fathoni, Mukhamad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.14

Abstract

Mortalitas pasien dengan sepsis meningkat secara drastis dengan tingkat keparahannya. Ada banyak faktor yang yang menjadi pertanda perburukan kondisi maupun kematian pasien dengan sepsis. Seorang perawat diharapkan dapat menjadi lini terdepan di unit gawat darurat untuk dapat memprediksi mortalitas pasien dengan sepsis untuk menentukan tindakan definitif dengan segera tanpa melakukan pemeriksaan laboratorium. Tujuan penelitian yaitu menganalisis faktor dominan yang berhubungan dengan mortalitas pasien dengan sepsis. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain observasi analitik dengan pendekatan retrospektif. Sampel menggunakan rekam medis pasien dengan sepsis disesuaikan dengan kriteria inklusi dan ekslusi dan ditentukan dengan teknik consecutive sampling yaitu sebanyak 75 responden. Analisis bivariat yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan kontigensi lambda dan chi square, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa usia (r=0,305, p=0,030), nilai qSOFA (r=0,678, p=0,000), dan penyakit komorbid (r=0,243, p=0,030) masing-masing memiliki arah hubungan positif dengan mortalitas pasien sepsis. Hasil regresi logistik menunjukkan penyakit komorbid meningkatkan 6,6 kali mortalitas pada pasien sepsis (OR=7,000, p=0,016). Penyakit komorbid dan nilai qSOFA adalah faktor yang dapat mempredikisi mortalitas pasien sepsis namun penyakit komorbid merupakan faktor yang paling dominan. 
Efektivitas Ekstrak Artemisia vulgaris sebagai Suplementasi terhadap Kemoterapi Adenokarsinoma Mammae dalam Meningkatkan IL-12 dan Indeks Apoptosis Sel Kanker (Studi pada Mencit C3H yang Diberi Regimen Kemoterapi Adriamycin-Cyclophosphamide) Paulus, Antonio; Budijitno, Selamat; Issakh, Benny
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.1

Abstract

Insiden kanker payudara di seluruh dunia masih tinggi. Pembedahan tetap merupakan pilihan utama dengan modalitas lain berupa kemoterapi, radiasi, dan imunoterapi antara lain Artemisia vulgaris (AV). Penelitian dilakukan untuk membuktikan efek pemberian ekstrak AV terhadap kadar IL-12 dan indeks apoptosis sel kanker pada adenokarsinoma mammae. Penelitian ini menggunakan desain post test only control group design menggunakan 24 ekor mencit C3H betina yang dibagi secara acak menjadi empat kelompok, yaitu: K (kontrol), P1 (kemoterapi), P2 (ekstrak AV), dan P3 (kombinasi kemoterapi dan ekstrak AV). Adriamycin 0,18mg dan Cyclophosphamide 1,8mg diberikan sebanyak 2 siklus. Ekstrak AV diberikan 13mg (0,2ml) perhari. Kadar IL-12 dinilai dengan pengecatan imunohistokimia sedangkan indeks apoptosis dengan hematoxilin eosin. Rerata kadar IL-12 dan indeks apoptosis didapatkan K, P1, P2, P3 berturut-turut 60,28+1,54, 50,40+1,56, 75,40+1,46, 53,48+1,35 dan 2,18+0,80, 18,00+1,58, 3,34+0,51, 20,32+1,39. Analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada kadar IL-12 antara kelompok K vs P1, P2, P3 (p=0,001), P1 vs P2 (p=0,001), P1 vs P3 (p=0,028), P2 vs P3 (p=0,001) dan indeks apoptosis antara kelompok K vs P1, P3 (p=0,001), P1 vs P2 (p=0,001), P1 vs P3 (p=0,035), P2 vs P3 (p=0,001). Terdapat hubungan positif kuat yang signifikan antara kadar IL-12 dengan indeks apoptosis (p=0,041 dan r=0,893). Pemberian ekstrak Artemisia vulgaris dapat meningkatkan kadar IL-12 dan indeks apoptosis sel kanker pada mencit C3H dengan adenokarsinoma mammae yang diberi regimen kemoterapi Adriamycin-Cyclophosphamide.

Page 2 of 2 | Total Record : 16