cover
Contact Name
Irwan Setyawan
Contact Email
jkd@tau.ac.id
Phone
+628158991010
Journal Mail Official
jkd@tau.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Manajemen dan Kepemimpinan - Universitas Tanri Abeng Jl. Swadarma Raya No. 58, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, 12250
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Komunikasi Dialogis
ISSN : -     EISSN : 31232604     DOI : https://doi.org/10.47970/jkd
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Komunikasi Dialogis merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Tanri Abeng. Jurnal ini menjadi sarana bagi akademisi, peneliti, praktisi, serta mahasiswa untuk mempublikasikan hasil penelitian, kajian ilmiah, dan pemikiran kritis dalam bidang ilmu komunikasi. Jurnal Komunikasi Dialogis memuat berbagai topik yang relevan dengan perkembangan komunikasi di era digital, antara lain: Komunikasi massa dan media baru Komunikasi organisasi dan korporasi Komunikasi politik dan komunikasi publik Komunikasi antarbudaya dan sosial Humas (Public Relations), periklanan, dan pemasaran Komunikasi digital, media sosial, dan teknologi informasi
Articles 15 Documents
Praktik Translingual dalam Komunikasi Politik Prabowo: Identitas dan Ideologi dalam Diskursus Pemerintahan Akhmad Hairul Umam; Kartika Aryani Harijono
Jurnal Komunikasi Dialogis Vol. 1 No. 2 (2025): Jurnal Komunikasi Dialogis
Publisher : Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/jkd.v1i1.954

Abstract

Fenomena translingual dalam komunikasi politik Indonesia semakin menonjol, terutama sejak terpilihnya Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 2024. Penelitian ini menjadi penting karena memotret bagaimana praktik pencampuran bahasa—Indonesia, Inggris, Arab, dan bahasa lokal—digunakan sebagai strategi komunikasi yang tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga merepresentasikan identitas politik dan ideologi pemerintahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan dari pidato resmi, unggahan media sosial, dan kutipan berita daring dari Desember 2024 hingga Agustus 2025. Analisis dilakukan melalui kerangka Critical Discourse Analysis (CDA) dan teori translanguaging. Hasil menunjukkan bahwa translingual practices dalam pidato Prabowo secara strategis membentuk identitas politik yang multivokal—nasionalis, religius, dan global.
Fluent Branding di Era Media Sosial: Studi Strategi Merek Start-Up Digital dan Kepercayaan Publik di Asia Tenggara Masayu FA Indriaty; Sendang Ayu; Hayu Lusianawati
Jurnal Komunikasi Dialogis Vol. 1 No. 2 (2025): Jurnal Komunikasi Dialogis
Publisher : Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/jkd.v1i1.955

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana strategi penamaan merek yang fluent—yaitu pendek, mudah diucapkan, dan familiar—berperan dalam membentuk persepsi dan kepercayaan publik terhadap brand start-up digital di Asia Tenggara. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis isi digital dan wacana media sosial, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana nama-nama seperti Gojek, Grab, dan Shopee dikonstruksi dan disebarkan dalam budaya platform sepertiTikTok, Instagram, dan Twitter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluency heuristics berinteraksi dengan konstruksi sosial media dalam memperkuat daya tarik dan kredibilitas brand. Nama-nama fluent tidak hanya lebih mudah dikenali, tetapi juga menjadi bagian dari ekspresi budaya digital yang membentuk kepercayaan konsumen. Penelitian ini merekomendasikan agar strategi penamaan brand memperhitungkan tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga dinamika sosial media dan budaya digital di kawasan.
Komunikasi Politik Populis dalam Kontestasi Elektoral: Studi Kasus Kampanye Pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Hermawan pada Pilgub Jawa Barat Kiki Esa Perdana
Jurnal Komunikasi Dialogis Vol. 1 No. 2 (2025): Jurnal Komunikasi Dialogis
Publisher : Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/jkd.v1i1.956

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi politik populis yang digunakan oleh pasangan calon Dedi Mulyadi dan Erwan Hermawan dalam kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Sebagai provinsi dengan jumlah pemilih terbanyak di Indonesia, Jawa Barat menjadi arena politik yang strategis, terutama dengan dominasi pemilih muda yang mencapai lebih dari 30% dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT). Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini menelaah bagaimana pasangan calon membangun citra populis melalui retorika pro-rakyat, penggunaan bahasa sederhana, serta pemanfaatan media sosial sebagai kanal utama komunikasi politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi populis yang diterapkan tidak hanya berfungsi sebagai alat persuasi, tetapi juga sebagai mekanisme untuk membentuk kedekatan emosional dengan pemilih muda. Kampanye digital yang interaktif, visual yang estetik, serta isu-isu yang relevan dengan identitas dan aspirasi generasi muda menjadi elemen penting dalam membangun resonansi politik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan metode pengumpulan dengan wawancara, observasi, studi literatur, dan dokumentasi. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa komunikasi politik populis merupakan strategi efektif dalam kontestasi elektoral di era digital, khususnya dalam menjangkau segmen pemilih muda yang semakin menentukan arah politik lokal dan nasional.
Konstruksi Sosial Emosi dalam Perkembangan Identitas Remaja di Media Sosial Nadya Paramitha; Woro Harkandi Kencana
Jurnal Komunikasi Dialogis Vol. 1 No. 2 (2025): Jurnal Komunikasi Dialogis
Publisher : Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/jkd.v1i1.957

Abstract

Remaja putri yang menjadikan fenomena memiliki dua akun berbeda menjadi sebuah budaya pada remaja dalam mengkonstruksi emosi dalam dirinya. Para remaja ini mengkonstruksi segala emosinya pada kedua akun tersebut. Mereka menyebutnya dengan akun pertama dan akun kedua serta memiliki beragam hasil unggahan yang berisibagaimana mereka mengelola dan mengekspresikan berbagai bentuk emosi pada kedua akun Instagram mereka. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mengacu pada teori konstruksi sosial emosional yang mana teori tersebut dapat membantu para informan untuk mengatur atau mengekspresikan segala emosi pada kedua akun tersebut. Para remaja juga memiliki aturan-aturan mengenai berbagai bentuk emosi yang mereka salurkan pada kedua akun mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan sifat penelitiannya adalah deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan utama mereka membuat dua akun yang berbeda adalah karena para remaja membutuhkan sebuah media untuk menyalurkan berbagai bentuk emosi dan juga memasang citra terbaik pada akun pertama mereka, sedangkan mereka tampil apa adanya ketika mereka menggunakan akun kedua mereka. Hal ini dibuktikan dengan hasil unggahan mereka yang berbeda pada kedua akun tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dalam perkembangan identitas para remaja masih mengeksplorasi berbagai hasil konstruksi emosinya pada kedua akunnya sehingga dalam perkembangan identitas yang dijalani para remaja ini masuk ke dalam 4 (empat) status identitas yaitu identity diffusion, identity foreclosure, identity moratorium & identity achievement.
Kredibilitas Dosen dan Motivasi Belajar Mahasiswa: Analisis Korelasional pada Program Studi Komunikasi Universitas Halim Sanusi Robby Rachman Nurdiantara; Asmarandani Heryadi Putri
Jurnal Komunikasi Dialogis Vol. 1 No. 2 (2025): Jurnal Komunikasi Dialogis
Publisher : Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/jkd.v1i1.958

Abstract

Pendidikan tinggi berperan penting dalam membentuk generasi profesional yang kompeten. Salah satu indikator keberhasilannya adalah motivasi belajar mahasiswa, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kredibilitas dosen. Kredibilitas dosen mencerminkan persepsi mahasiswa terhadap keahlian, integritas, dan kemampuan komunikasi dosen dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dan pengaruh antara kredibilitas dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa Program Studi Komunikasi Universitas Halim Sanusi. Penelitian ini menggunakanpendekatan kuantitatif dengan metode survei dan analisis regresi linear sederhana. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif angkatan 2022 yang berjumlah 34 orang, teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh. Instrumen penelitian berupa kuesioner disebarkan kepada seluruh anggota populasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kredibilitas dosen berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar mahasiswa, dengan nilai signifikansi 0.000 (< 0.05), nilai koefisien regresi sebesar 0.301, dan nilai R sebesar 0.612. Sementara itu, nilai R² sebesar 0.375 mengindikasikan bahwa 37,5% variasi motivasi belajar mahasiswa dapat dijelaskan oleh kredibilitas dosen. Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi kredibilitas dosen, yang mencakup aspek kompetensi, kepercayaan, dan daya tarik, maka semakin tinggi pula motivasi belajar mahasiswa.
ANALISIS KOMUNIKASI DIGITAL LEWAT INSTAGRAM UNTUK PRODUCT BRANDING BRAND ERIGO Satrio Putra Hartanto
Jurnal Komunikasi Dialogis Vol. 2 No. 1 (2026): Jurnal Komunikasi Dialogis
Publisher : Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/jkd.v2i1.960

Abstract

Abstract - The rapid evolution of digital technology has profoundly reshaped how companies build product branding and engage with consumers. In Indonesia, Instagram has become a key strategic platform for local brands to carry out marketing and branding communication. This study aims to analyze the digital communication strategies employed by the local brand Erigo on Instagram to develop product branding targeted at younger audiences. Using a descriptive qualitative approach, the research collects data through content observation of Erigo’s Instagram account, documentation, and a review of relevant literature. The findings indicate that Erigo strategically utilizes Instagram features—including feeds, stories, reels, and influencer collaborations—to strengthen its brand and drive audience engagement. Moreover, the consistent use of visual and narrative strategies plays a crucial role in shaping a strong, relevant brand image that resonates with its target market. The study concludes that the strategic use of Instagram serves as an effective digital communication tool for strengthening product branding, particularly for local brands operating in today’s digital era.
Komunikasi Dialogis Sebagai Upaya Penyadaran Kritis Dalam Rangka Transformasi Pendidikan Modern Fariz Luthfi Priyono
Jurnal Komunikasi Dialogis Vol. 2 No. 1 (2026): Jurnal Komunikasi Dialogis
Publisher : Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/jkd.v2i1.1043

Abstract

Abstract - This article critically examines dialogic communication as a fundamental mechanism for fostering critical consciousness in the transformation of modern education. Contemporary education systems are increasingly dominated by instrumental rationality, standardization, and outcome-oriented learning, which often marginalize reflective dialogue and critical engagement of learners. This study aims to conceptualize dialogic communication as a transformative communication practice that enables learners to become reflective, critical, and socially conscious subjects. Using a conceptual qualitative approach supported by an extensive literature review of contemporary critical communication theory and pedagogy, this study analyzes dialogic communication through the perspectives of Paulo Freire, Jürgen Habermas, Henry Giroux, and bell hooks. The findings indicate that dialogic communication functions not only as a pedagogical technique but also as an epistemological and ethical foundation for emancipatory education. Dialogic practices encourage reciprocal shared meaning-making, critical reflection on social reality, and democratic participation in the learning process. This article argues that dialogic communication is crucial for transforming modern education into a humanistic and emancipatory system capable of producing critically conscious citizens. This research makes theoretical contributions to the discourse on communication and education, and offers practical implications for educators and policymakers who are working towards sustainable educational transformation.
GAYA KOMUNIKASI RELATIONSHIP GEN Z : PESAN, PESAN SUARA, DAN TELEPON Nina Yuliana
Jurnal Komunikasi Dialogis Vol. 2 No. 1 (2026): Jurnal Komunikasi Dialogis
Publisher : Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/jkd.v2i1.1048

Abstract

Abstract - This qualitative study examines the communication styles adopted by Generation Z (Gen Z) in social and interpersonal interactions, focusing on the three most commonly used digital communication modes: text messaging, voice messaging, and phone calls (Siagian & Yuliana, 2024). As a generation growing up alongside continuous technological advancements, Gen Z exhibits communication behaviors shaped by digital convenience, efficiency, and adaptability (Prensky, 2001). Using a netnographic approach (Kozinets, 2015), this study analyzed 450 digital artifacts—including user comments, video transcripts, public text messages, and voice message content—from TikTok, Instagram, and X (formerly Twitter). Thematic analysis (Braun & Clarke, 2006) revealed four main themes: (1) text as the default mode for low-pressure asynchronous communication; (2) voice messaging as a hybrid medium for conveying emotional nuances; (3) phone calls as a last resort for urgent or formal situations; and (4) the emergence of a new digital etiquette, specifically the “text-before-call” norm (Christin, 2024). Findings indicate that Gen Z prioritizes flexibility, personal time control, and emotional comfort over the richness of synchronous communication. Text messaging dominates daily interactions due to its efficiency and unobtrusive nature, while voicemail serves as a middle ground when tone and emotion are important. Phone calls are increasingly avoided unless absolutely necessary, often causing anxiety when unexpected. This study concludes that Gen Z's communication style is characterized by pragmatism, contextual awareness, and a strong preference for boundary maintenance. These findings contribute to interpersonal communication theory by extending the Uses and Gratifications Theory (Katz, Blumler, & Gurevitch, 1973) to encompass affective needs and digital ethical norms. Practical implications for educators, employers, and digital platform designers are discussed.
PEMBINGKAIAN PEMBERITAAN RESPON PUAN MAHARANI TERHADAP DEMONSTRASI PADA MEDIA KOMPAS.COM DAN TEMPO.CO PERIODE SEPTEMBER-OKTOBER: PEMBINGKAIAN PEMBERITAAN RESPON PUAN MAHARANI TERHADAP DEMONSTRASI PADA MEDIA KOMPAS.COM DAN TEMPO.CO PERIODE SEPTEMBER-OKTOBER Gabriel Laurence Risakotta; Bryna Trinita Kumala; Milkyway Cookies
Jurnal Komunikasi Dialogis Vol. 2 No. 1 (2026): Jurnal Komunikasi Dialogis
Publisher : Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/jkd.v2i1.1059

Abstract

Abstract - The mass media plays a strategic role in shaping public perceptions of political elites' responses to demonstrations, but representations of female figures like Puan Maharani still face the challenge of gender bias. This study examines the framing of news coverage of Puan Maharani's response to the demonstrations by Kompas.com and Tempo.co during the September–October 2025 period. Using a qualitative descriptive approach and Pan & Kosicki's (1993) framing model, this study analyzed 20 online news articles (10 from each media outlet) collected through documentation, based on syntactic, script, thematic, and rhetorical structures. The results show that Kompas.com framed Puan Maharani as an institutional leader who prioritizes stability and dialogue, while Tempo.co presented her as a critical figure who emphasized empathy for the people's aspirations and democratic accountability. These differences in framing reflect the editorial orientations of each media outlet. This research contributes to the study of political communication by explaining the role of framing in shaping public perceptions of the responses of female political elites in the context of social conflict.
DEMOKRASI KEBEBASAN BERPENDAPAT: DEMOKRASI KEBEBASAN BERPENDAPAT Natasya Putri Wiguna; Vitria Vitria Anggraini; Khairunnisa Dwi Rachmasari
Jurnal Komunikasi Dialogis Vol. 2 No. 1 (2026): Jurnal Komunikasi Dialogis
Publisher : Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/jkd.v2i1.1060

Abstract

Abstract - Freedom of expression is a fundamental human right and a pillar of democracy, but the rapid expansion of social media in Indonesia has created tensions between digital participation and regulatory control. The Electronic Information and Transactions Law (UU ITE) has been criticized for its open-ended provisions that potentially limit critical political speech. This study examines the representation of political opinion and freedom of expression on Indonesian social media, focusing on the impact of the ITE Law on digital democracy. Using quantitative content analysis, the study analyzed 15 posts from three influential accounts—@kemkomdigi (government), @andovidalopez (political influencer), and @kumparan (news media)—on platforms X and Instagram during September–October 2024, coinciding with student demonstrations against the revision of the TNI Law, the increase in VAT, and the enforcement of the ITE Law. The findings indicate that criticism of government policies dominated (40%), followed by political support (27%), discussions of freedom of expression (20%), and sarcasm (13%). Instagram featured more visual, support-oriented content, while X was dominated by critical text-based posts. Critical and sarcastic content received approximately twice as much engagement (likes and retweets) as other themes. The ITE Law contributed to a chilling effect, reducing oppositional expression after the demonstrations. Influencer accounts reinforced polarization through high engagement with critical content. This study recommends revising the ITE Law to reduce ambiguity, improve digital literacy, and monitor influential accounts to promote inclusive democratic discourse.

Page 1 of 2 | Total Record : 15