cover
Contact Name
MOH. LU'AY KHOIRONI
Contact Email
jurnal.adhaper@gmail.com
Phone
+6281252568899
Journal Mail Official
jurnal.adhaper@gmail.com
Editorial Address
Jl. Progo No. 17 Bandung (Biro Bantuan Hukum Universitas Padjadjaran)
Location
,
INDONESIA
ADHAPER
ISSN : 24429090     EISSN : 25799509     DOI : https://doi.org/10.36913/adhaper
Core Subject : Social,
ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata focuses on publishing scientific articles based on research, conceptual studies, and critical analyses in the field of law, particularly Civil Procedure Law and Dispute Resolution. This journal aims to support the development of legal science and contribute to solving current legal issues in society, both in local, national, and international contexts, including: 1. Civil Procedure Law 2. Civil Procedure Law Development 3. Normative and Empirical Studies of Civil Procedure Law 4. Principles of Civil Procedure Law 5. Alternative Dispute Resolution 6. Court Decision (Civil Disputes) 7. Comparative Civil Procedure Law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 02 (2023): Desember" : 5 Documents clear
IMPLEMENTASI DAN EFEKTIVITAS MEDIASI NON-LITIGASI DALAM PENYELESAIAN SENGKETA Margaretha Novalinda, Divanya Elizabeth
ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata Vol. 9 No. 02 (2023): Desember
Publisher : Asosiasi Dosen Hukum Acara Perdata (ADHAPER)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36913/adhaper.v9i02.44

Abstract

Abstract Non-litigation mediation is a dispute resolution mechanism to reduce the burden on the courts and provide sustainable dispute resolution. Its effectiveness depends on regulations, institutions, and the level of professionalization of mediators. This study analyzes and compares the role of non-litigation mediators in the Indonesian and German legal systems in terms of the effectiveness of their implementation. This study uses a normative legal method with a comparative law approach, analyzed qualitatively and descriptively-analytically through primary, secondary, and tertiary legal materials. In Indonesia, non-litigation mediation has not been used optimally because it is not supported by specific laws, resulting in low professionalization of mediators. In contrast, Germany has comprehensively regulated mediation through the Mediationsgesetz, which recognizes mediators as an independent profession and positions mediation as the primary alternative to litigation with a relatively high success rate. This study concludes that strengthening non-litigation mediation in Indonesia requires regulatory consolidation, increased mediator professionalism, and institutional strengthening so that mediation functions effectively in the dispute resolution system. Keywords: non-litigation mediation; mediator; comparative law   Abstrak Mediasi non-litigasi merupakan mekanisme penyelesaian sengketa untuk mengurangi beban perkara pengadilan serta penyelesaian sengketa yang berkelanjutan. Efektivitasnya bergantung pada regulasi, institusional, dan tingkat profesionalisasi mediator. menganalisis dan membandingkan peran mediator non-litigasi dalam sistem hukum Indonesia dan Jerman yaitu pada efektivitas implementasinya. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perbandingan hukum, dianalisis secara kualitatif dan deskriptif-analitis melalui bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Di Indonesia, mediasi non-litigasi belum digunakan secara optimal karena belum didukung undang-undang khusus, sehingga berdampak rendahnya profesionalisasi mediator. Sebaliknya, Jerman telah mengatur mediasi secara komprehensif melalui Mediationsgesetz, yang mengakui mediator sebagai profesi independen dan menempatkan mediasi sebagai alternatif utama litigasi dengan tingkat keberhasilan relatif tinggi. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan mediasi non-litigasi di Indonesia memerlukan konsolidasi regulasi, peningkatan profesionalisme mediator, dan penguatan kelembagaan agar mediasi berfungsi efektif dalam sistem penyelesaian sengketa. Kata Kunci: mediasi non litigasi; ediator; perbandingan;
PENYELESAIAN SENGKETA ATAS PEMBERIAN KETERANGAN TIDAK BENAR DEBITOR DALAM PROSES KEPAILITAN Hlaaillah Diah Permada Margadineta, Qifatah; Nugroho, Lucky Dafira
ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata Vol. 9 No. 02 (2023): Desember
Publisher : Asosiasi Dosen Hukum Acara Perdata (ADHAPER)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36913/adhaper.v9i02.46

Abstract

Abstract The bankruptcy process and the cooperative attitude of the bankrupt debtor are important factors for the successful resolution of cases. Law Number 37 of 2004 concerning Bankruptcy and PKPU (UUK-PKPU) is based on the principles of balance and fairness, one of which is to minimize debtor fraud. However, in practice, there are still cases of fraud that are not explicitly regulated, such as the provision of false statements regarding the debtor's assets. This study examines two issues, namely the impact of false statements by debtors on bankruptcy assets and the legal liability of debtors who cause harm to third parties. The research method used is normative with a legislative approach, conceptual approach, and comparative approach, referring to the Malaysian Insolvency Act 1967. The issues are analyzed through Decision Number 06/Pdt.Sus-Plw. Pailit/2018/PN Niaga Surabaya, which shows a legal vacuum in the UUK-PKPU because it does not require the accuracy of debtor information. As a result, false statements do not affect bankruptcy assets according to Article 26 paragraph (2), so that the debtor's liability can be settled through the UUK-PKPU or Article 1365 of the Civil Code. Keywords: Liability; Debtor; Bankruptcy; Third Party; Loss   Abstrak Proses kepailitan, sikap kooperatif debitor pailit merupakan faktor penting bagi keberhasilan penyelesaian perkara. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU (UUK-PKPU) berlandaskan prinsip keseimbangan dan keadilan, salah satunya untuk meminimalkan kecurangan debitor. Namun, dalam praktik masih ditemukan tindakan penipuan yang belum diatur secara tegas, seperti pemberian pernyataan palsu mengenai harta debitor. Penelitian ini mengkaji dua permasalahan, yaitu dampak pernyataan palsu debitor terhadap harta pailit serta tanggung jawab hukum debitor yang merugikan pihak ketiga. Metode penelitian Normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual dan pendekatan komparatif. merujuk Malaysia Insolvency Act 1967 Permasalahan dianalisis melalui Putusan Nomor 06/Pdt.Sus-Plw.Pailit/2018/PN Niaga Surabaya yang menunjukkan adanya kekosongan hukum dalam UUK-PKPU karena tidak mewajibkan kebenaran informasi debitor. Akibatnya, pernyataan palsu tidak berdampak pada harta pailit menurut Pasal 26 ayat (2) sehingga Tanggung jawab debitor dapat diselesaikan melalui UUK-PKPU atau Pasal 1365 BW. Kata Kunci: Tanggung Gugat; Debitor; Pailit; Pihak Ketiga; Kerugian
PENYELESAIAN SENGKETA TANAH GRONDKAART MELALUI KONVERSI DEMI KEPASTIAN HUKUM DI INDONESIA Putra Zein, Achmad Raditya; Ghibran Alhamda, Ismetullah Maulana
ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata Vol. 9 No. 02 (2023): Desember
Publisher : Asosiasi Dosen Hukum Acara Perdata (ADHAPER)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36913/adhaper.v9i02.53

Abstract

Abstract The Grondkaart originated from the Dutch colonial era as proof of ownership, which is questionable because the revocation of the domein verklaring concept and its replacement with the concept of State Control automatically obscured the status of the Grondkaart land itself, resulting in differences of opinion between the community, judges, the government, and PT KAI. The research method used in this study is normative juridical through a legislative approach to identify legal gaps in the regulation of Grondkaart. Regulated in Government Regulation No. 8 of 1953 concerning State Land Control, Grondkaart is omitted from the provisions of the conversion of the Basic Agrarian Law (UUPA). Therefore, an application for land certification into Right of Use and/or Right of Management must be made as mandated by Article 49 (1) of Law No. 1 of 2004 concerning State Treasury in conjunction with Article 46 of Law No. 23 of 2007 concerning Railways. Keywords: Grondkaart, Disputes, Special Use Rights   Abstrak Grondkaart berasal dari konsepsi jaman Belanda sebagai bukti kepemilikan menjadi patut dipertanyakan karena dari dicabutnya konsep domein verklaring menjadi konsep Hak Menguasai Negara secara otomatis mengaburkan kedudukan tanah Grondkaart itu sendiri, sehingga terdapat perbedaan pandangan antara masyarakat, Hakim, Pemerintah dan PT KAI. Metode Penelitian yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah yuridis normatif melalui Pendekatan Perundang-Undangan untuk mengidentifikasi kekosongan hukum pengaturan Grondkaart. Diatur dalam PP No. 8 Tahun 1953 Tentang Penguasaan Tanah-Tanah Negara, Grondkaart luput dari ketentuan konversi UUPA. Sehingga harus dilakukan permohonan sertifikasi tanah menjadi Hak Pakai dan atau Hak Pengelolaan sebagaimana amanah Pasal 49 (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara jo. Pasal 46 Undang-Undang No. 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian. Kata Kunci: Grondkaart, Sengketa, Hak Pakai
PENYELESAIAN SENGKETA PERTANAHAN DENGAN FASILITASI PEMBANGUNAN PERKEBUNAN MASYARAKAT Oktaviani, Firda Pradita
ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata Vol. 9 No. 02 (2023): Desember
Publisher : Asosiasi Dosen Hukum Acara Perdata (ADHAPER)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36913/adhaper.v9i02.54

Abstract

Abstract Community plantation development is an instrument used by the government to resolve disputes in the plantation sector, particularly between communities and plantation companies. The high level of agrarian conflict is caused by unequal land ownership, weak protection of community rights, and the suboptimal implementation of companies' obligations to facilitate community plantation development. This study uses a normative juridical research method with a regulatory and conceptual approach, supported by primary and secondary data. In practice, the implementation of this policy still faces various obstacles, including weak government supervision, low corporate commitment, and limited capacity and bargaining power of the community. Strengthening regulations, improving effective supervision, and synergy between the government, companies, and the community are needed so that the facilitation of community plantation development can function optimally as an instrument for dispute resolution. Keywords: development facilitation, community plantations, dispute resolution   Abstrak Pembangunan perkebunan masyarakat merupakan instrumen yang digunakan pemerintah untuk penyelesaian sengketa di sektor perkebunan, khususnya antara masyarakat dan perusahaan perkebunan. Tingginya konflik agraria yang disebabkan oleh ketimpangan penguasaan lahan, lemahnya perlindungan hak masyarakat, serta belum optimalnya pelaksanaan kewajiban perusahaan dalam memfasilitasi pembangunan perkebunan masyarakat. menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual, didukung oleh data primer dan sekunder. Secara praktik pelaksanaan kebijakan ini masih menghadapi berbagai kendala, antara lain lemahnya pengawasan pemerintah, rendahnya komitmen perusahaan, serta keterbatasan kapasitas dan posisi tawar masyarakat. diperlukan penguatan regulasi, peningkatan pengawasan yang efektif, serta sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat agar fasilitasi pembangunan perkebunan masyarakat dapat berfungsi secara optimal sebagai instrumen penyelesaian sengketa. Kata kunci: fasilitasi pembangunan, perkebunan masyarakat, penyelesaian sengketa
LEGAL STANDING DALAM GUGATAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM TERHADAP HIBAH YANG DIALIHFUNGSIKAN Choirotunnisah, Fadilatin
ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata Vol. 9 No. 02 (2023): Desember
Publisher : Asosiasi Dosen Hukum Acara Perdata (ADHAPER)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36913/adhaper.v9i02.55

Abstract

Abstract Land is a strategic legal object in the life of society, economically, socially, and culturally. The transfer of land rights through grants often causes disputes, especially when the intended use of the land does not match the wishes of the grantor. The legal standing of heirs in lawsuits against unlawful acts regarding the conversion of land granted for family graves, with a case study of land granted by the late E in Buluh Dakiring Village, Socah District, Bangkalan Regency, which was unilaterally converted by his great-grandchild, NA, into a private residence. Using a normative legal research method with a legislative approach, a case approach, and a conceptual approach. The legal materials consist of primary and secondary legal materials, which are analyzed descriptively. It shows that the heirs of the late E have valid and strong legal standing to file a lawsuit for unlawful acts, because the elements of unlawful acts due to the conversion of the donated cemetery land have been fulfilled. Keywords: Grant; PMH; Legal standing   Abstrak Tanah merupakan objek hukum strategis dalam kehidupan masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, maupun kultural, peralihan hak atas tanah melalui hibah kerap menimbulkan sengketa, terutama apabila peruntukan tanah tidak sesuai dengan kehendak pemberi hak. legal standing ahli waris dalam gugatan perbuatan melawan hukum atas alih fungsi tanah hibah makam keluarga, dengan studi kasus tanah hibah yang dilakukan oleh Alm. E di Desa Buluh Dakiring, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, yang dialihfungsikan secara sepihak oleh cicitnya, NA, menjadi tempat tinggal pribadi. menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus dan pendekatan konseptual. Bahan hukum terdiri atas bahan hukum primer dan sekunder, yang dianalisis secara deskriptif. menunjukkan bahwa para ahli waris Alm. E memiliki legal standing yang sah dan kuat untuk mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum, karena terpenuhinya unsur-unsur perbuatan melawan hukum akibat alih fungsi tanah hibah makam. Kata Kunci: Hibah; PMH; Legal standing

Page 1 of 1 | Total Record : 5