cover
Contact Name
Meri Septiani
Contact Email
meryseptia99@gmail.com
Phone
+6281818895790
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Dokter Soejono, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Mabasan
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : https://doi.org/10.62107/mab.v19i2.1177
Core Subject : Education, Art,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. The scope of MABASAN includes linguistics, applied linguistics, interdisciplinary linguistics studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. MABASAN is published by Balai Bahasa NTB, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. MABASAN accepts articles from authors of national or international institutions.
Articles 277 Documents
Sastra Suluk Jawa Pesisiran: Membaca Lokalitas dalam Keindonesiaan Toha Machsum
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v3i2.118

Abstract

Sastra Suluk sebagai salah satu jenis karya sastra Jawa pesisiran mengandung ajaran kerohanian tasawuf atau bernuansa tasawuf yang berupa petunjuk tentang keyakinan, sikap, tata cara yang dilakukan seseorang untuk mengenal hidup kesejatian di hadapan Sang Maha Pencipta atau untuk mencapai posisi sedekat-dekatnya dengan Tuhan. Secara umum studi sastra suluk diarahkan untuk mengangkat salah satu warna kebudayaan kerohanian bangsa. Pengangkatan nilai-nilai budaya lama lewat studi karya sastra suluk akan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam rangka memepertahankan jati diri ketimuran. Dikatakan demikian, karena pada saat ini peradaban global yang sudah tidak lagi kenal batas-batas ruang waktu, tidak hanya menyajikan unsur-unsur positif bagi pemikiran dan kemajuan umat, tetapi juga menawarkan filsafat materialisme dan skularisme yang sangat membahayakan bagi kehidupan ketimuran yang menjunjung nilai-nilai agama dan filsafat ketuhanan. Globalisasi dalam hal ini tidak menawarkan kebudayaan, tetapi menawarkan sebuah peradaban. Lebih lanjut, pemahaman dan pengenalan terhadap nilai-nilai budaya masa lampau yang terdapat dalam naskah suluk bukan saja merupakan modal utama bagi pembangunan nasional yang diamanatkan oleh GBHN, melainkan juga memberikan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan masyarakat masa lampau, seperti sosial, politik, ekonomi, dan budaya.Corak keberagaman Islam tersebut lebih jauh akan memberikan inspirasi dan sekaligus menggerakkan kehidupan kebangsaan Indonesia. Dengan kata lain corak keberagamaan Islam tersebut mewarnai konsep berpikir masyarakat Indonesia.
Kesepadanan antara Penggunaan Bahasa Sasak Halus dan Perilaku Sosial Masyarakat Penuturnya Toni Samsul Hidayat
MABASAN Vol. 3 No. 2 (2009): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v3i2.119

Abstract

Pulau Lombok sebagai lumbungnya orang Sasak terkenal sebagai salah satu wilayah yang rawan konflik horizontal. Tingkat dan kualitas konflik yang terjadi pada masyarakat Sasak, khususnya pada tiga daerah pengamatan dalam penelitian ini ditentukan oleh tingkat pemasyarakatan bahasa Sasak Halus. Lingkungan Kr. Genteng dan Dusun Tanak Song sebagai dua daerah yang sering berkonflik dan tiap konflik melibatkan banyak orang serta mengatasnamakan dusun terbukti tidak banyak mengenal, bahkan tidak memasyarakat bahasa Sasak Halus. Adapun Kediri sebagai sampel daerah yang tidak pernah berkonflik membuktikan bahwa pada daerah ini penggunaan dan pemasyarakatan bahasa Sasak halus masih tinggi.
Filsafat Nggusu Waru dalam Tradisi Lisan Bima dan Relevansinya dengan Ciri Kepemimpinan Modern Ahmad Badrun
MABASAN Vol. 2 No. 1 (2008): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v2i1.120

Abstract

Dalam tulisan ini dibahas relevansi isi filsafat Nggusu Waru dengan ciri kepemimpinan modern dan penyebab masyarakat Bima melupakan filsafat itu. Pembahasan ini dilakukan dengan metode semiotik. Hasil kajian menunjukkan bahwa 8 butir filsafat Nggusu Waru mempunyai nilai yang sama dengan ciri kepemimpinan modern, yaitu (1) matoqa đi Ruma labo Rasu (yang taat kepada`Allah dan Rasul) adalah sama dengan percaya kepada Tuhan yang Mahaesa, (2) maloa ro þade ‘yang pandai dan cerdas’ adalah sama dengan berwawasan luas, (3) mantiri nggahi kalampa ‘yang jujur dalam melaksanakan tugas’ adalah sama dengan kejujuran, (4) mapoda nggahi paresa ‘yang mampu menegakkan kebenaran’ adalah sama dengan adil, (5) mambani ro disa ‘yang bertanggung jawab dan berani’ adalah sama dengan berani menanggung risiko, (6) matenggo ro wale ‘sehat jasmani dan rohani serta kuat’ adalah sama dengan sehat jasmani dan rohani, (7) maþisa ro guna ’berwibawa dan sakti’ adalah sama dengan berwibawa atau berpengaruh, dan (8) londo dou taho ‘keturunan orang baik-baik’ adalah sama dengan bermoral baik. Filsafat itu tidak lagi populer karena masyarakat Bima kurang apresiatif terhadap tradisi lisannya.
Distribusi dan Pemetaan Varian-varian Bahasa Bugis di Kabupaten Bima dan Dompu NFN Damhujin
MABASAN Vol. 2 No. 1 (2008): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v2i1.121

Abstract

Indonesia memiliki bahasa daerah dan dialek yang berbeda-beda. Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu wilayah yang  memiliki bahasa daerah yang aneka ragam dan masing-masing memiliki aturan-aturan atau kaidah-kaidah yang berbeda-beda dan tidak menutup mungkin pula adanya persamaan-persamaan yang terdapat di dalamnya. Di wilayah  Nusa Tenggara Barat, bahasa yang digunakan secara garis besar ada empat, yaitu bahasa Sasak, dan bahasa Bali, dominan terdapat di Pulau Lombok, sedangkan  bahasa Sumbawa digunakan di Pulau Sumbawa bagian Barat serta bahasa Bima digunakan oleh masyarakat Bima dan Dompu di Pulau Sumbawa bagian Timur.  Di samping itu, ada bahasa lain seperti bahasa Jawa, bahasa Bugis, bahasa Selayar, dan bahasa Sunda dan lain-lain yang jumlah pemakainya tidak sebesar empat bahasa tersebut.Karena adanya bahasa yang aneka ragam ini, penulis mencoba mengkaji salah satu bahasa, yaitu bahasa Bugis yang bukan daerah asal (bahasa Bugis yang berada di Kabupaten Bima dan  Dompu). Dalam hal ini, penulis ingin mencoba memberikan informasi tentang  bahasa  tersebut yang berkaitan dengan lokasi, jumlah penuturnya, dan varian-variannya.Bahasa Bugis di Provinsi Nusa Tenggara Barat hampir terdapat pada semua  daerah pesisir pantai. Namun, dalam penelitian ini membatasi diri pada bahasa Bugis yang ada pada  Pulau Sumbawa Bagian Timur yaitu di Kabupaten Bima dan Dompu.
Kontak Bahasa antara Komunitas Tutur Bahasa Bugis dengan Komunitas Tutur Bahasa Sasak di Pulau Lombok Desi Rachmawati
MABASAN Vol. 2 No. 1 (2008): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v2i1.122

Abstract

Penelitian ini merupakan salah satu kajian sosiolinguistik, yang melibatkan unsur sosial dan unsur kebahasaan yang terjadi pada masyarakat bilingual dan multilingual dengan cara melakukan adaptasi sosial dan adaptasi linguistik. Adaptasi linguistik yang dilakukan oleh komunitas tutur bahasa Bugis terhadap bahasa Sasak hanya ditemukan dalam bentuk serapan fonologi, dan serapan leksikon. Kecenderungan dari adaptasi linguistik yang  terkait dengan kuat-kurangnya pengaruh bahasa Sasak terhadap bahasa Bugis pada enklave Haji dan enklave Pelangan berkategori dominan. Sedangkan pengaruh bahasa Bugis terhadap bahasa Sasak pada enklave Haji dan enklave Pelangan  termasuk dalam kreteria kurang. Penggunaan bahasa Indonesia dalam masyarakat tutur bahasa Bugis pada enklave Haji dan enklave Pelangan terjadi akibat adanya alih kode dan campur kode. Terjadinya pengaruh bahasa yang dominan dan bervariasi pada kedua enklave di atas disebabkan oleh beberapa faktor antara lain geografi, sosial (ekonomi, pendidikan, kebutuhan, usia) dan budaya
KONTAK BAHASA ANTARA MASYARAKAT TUTUR BAHASA BAJO DAN MBOJO DI KABUPATEN BIMA DAN DOMPU Lalu Erwan Husnan
MABASAN Vol. 2 No. 1 (2008): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v2i1.123

Abstract

Kontak bahasa antara masyarakat tutur bahasa Bajo dan masyarakat tutur bahasa Mbojo di Kabupaten Bima dan Dompu dilakukan karena alasan yang berbeda-beda. Kontak bahasa mengakibatkan terjadinya adopsi ciri-ciri kebahasaan, adaptasi linguistik, mitra kontak dalam bentuk serapan bahasa. Serapan bahasa terjadi pada tataran fonologi, leksikon, dan morfologi. Wujud adaptasi dalam bentuk serapan dilakukan dengan cara mengikuti sistem bahasa mitra kontak. Penutur bahasa Bajo melakukan serapan sebagai wujud adaptasi sosial mereka, berbeda dengan penutur bahasa Mbojo yang melakukan serapan sebagai wujud solidaritas mereka.
DISTRIBUSI DAN PEMETAAN JENIS-JENIS KARYA SASTRA YANG TUMBUH DAN BERKEMBANG PADA MASYARAKAT TUTUR BAHASA JAWA DI PULAU LOMBOK NFN Nuryati
MABASAN Vol. 2 No. 1 (2008): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v2i1.124

Abstract

Karya sastra suatu tutur bahasa tertentu akan berkembang seiring dengan perkembangan bahasa itu, sebab bahasa merupakan medium realisasi karya sastra. Perkembangan suatu karya sastra dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah migrasi atau perpindahan masyarakat tutur suatu bahasa ke suatu daerah yang  jauh dari daerah asalnya. Selain itu, kontak dengan masyarakat tutur bahasa lain di tempat yang baru akan berpengaruh pada keberadaan dan corak dari sastra yang berkembang di tempat yang baru. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan jenis-jenis karya sastra yang hidup pada masyarakat tutur bahasa Jawa di Pulau Lombok.
KONTAK BAHASA ANTARA KOMUNITAS TUTUR BAHASA BALI DAN KOMUNITAS TUTUR BAHASA SAMAWA DI KABUPATEN SUMBAWA DAN KABUPATEN SUMBAWA BARAT Siti Raudloh
MABASAN Vol. 2 No. 1 (2008): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v2i1.125

Abstract

Kontak bahasa antara komunitas tutur bahasaBalidan komunitas tutur bahasa Samawa di lokasi-lokasi yang dijadikan sampel berakibat pada terjadinya adaptasi linguistik yang bersifat dua arah. Artinya adaptasi itu terjadi pada kedua komunitas yang berkontak. Adaptasi linguistik tersebut  tampak pada system fonologi dan leksikon.Kategori adaptasi linguistik oleh bahasa Samawa terhadap bahasa Bali pada enklave Uma Sima dan enklave Rhee masih sedang. sedangkan di enklave Kokarlian berkategori kurang. Adapaun, adaptasi linguistik oleh bahasa Bali terhadap bahasa Sumbawa pada enklave Uma Sima dan enklave Kokarlian masuk dalam kategori sedang dan kategori kurang pada enklave Rhee.Sementara itu, kecendrungan adapatsi linguistik yang dipengaruhi oleh segmentasi social tua dan muda menunjukkan segmen mayarakat muda lebih dominan melakukan adaptasi.Tingkat dominasi suatu enklave dalam melakukan adaptasi linguistik ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya faktor geografis, sosial ekonomi, sikap bahasa, usia, dan faktor lamanya waktu tinggal.  
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia di Guangzhou Xiao Lixian
MABASAN Vol. 2 No. 1 (2008): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v2i1.126

Abstract

Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional sekaligus bahasa negara bagi seluruh penduduk  Indonesia. Oleh karena itu, setiap warga negara Indonesia wajib mempelajari bahasa Indonesia baik secara formal ataupun nonformal. Pentingnya peranan bahasa Indonesia dalam hal ini bukan hanya dirasakan oleh setiap penutur bahasa Indonesia (warga negara), tetapi dirasakan pula oleh warga negara lain khusunya warga negara China. Betapa tidak, jurusan bahasa dan sastra Indonesia telah didirikan sekitar  tahun 1949 lalu di Universitas Peking. Selain di Univesitas Paking, jurusan bahasa dan sastra Indonesia didirikan pula di dua universitas lainnya, yakni universitas Guangdong dan Universitas Beijing. Setelah tahun 2006, empat universitas lain, yakni Universitas International Shanghai, Universitas Guangxi, Universita komunikasi China , dan universitas Yunnan mendirikan jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Gambaran tentang keberadaan jurusan bahasa dan sastra Indonesia di China akan dipaparkan di dalam makalah ini. Gambaran yang dimaksud antara lain tentang berdirinya jurusan bahasa dan sastra Indonesia, tanaga dosen, mahasiswa, kurikulum, praktik magang, pertukaran pelajar, dan problem yang dihadapi.
Kontak Bahasa antara Komunitas Tutur Bahasa Bajo dengan Komunitas Tutur Bahasa Sasak di Pulau Lombok Ni Made Yudiastini
MABASAN Vol. 2 No. 1 (2008): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v2i1.127

Abstract

Kecenderungan dari adaptasi linguistik yang  terkait dengan kuat-kurangnya pengaruh bahasa Sasak terhadap bahasa Bajo pada enklave Tanjung Luar berkategori sedang dan enklave Medana Jambi Anom berkategori kurang. Sedangkan pengaruh bahasa Bajo terhadap bahasa Sasak pada enklave Tanjung Luar berkategori sedang dan enklave Medana Jambi Anom  termasuk  dalam kategori kurang.Selanjutnya adaptasi dalam wujud alih kode dan campur kode juga terjadi pada komunitas tutur bahasa Bajo dengan pola satu arah, yaitu hanya masyarakat Bajo saja yang sering melakukan alih kode dan campur kode ke bahasa Sasak dan bahasa Indonesia. Munculnya pengaruh memengaruhi antara dua bahasa yang berkontak di atas disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain faktor geografi, sosial budaya yang mencakup beberapa aspek, yaitu aspek sosial ekonomi, aspek pendidikan, aspek kemasyarakatan, aspek kebutuhan, aspek usia, dan aspek harga diri.          

Page 6 of 28 | Total Record : 277