cover
Contact Name
Meri Septiani
Contact Email
meryseptia99@gmail.com
Phone
+6281818895790
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Dokter Soejono, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Mabasan
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : https://doi.org/10.62107/mab.v19i2.1177
Core Subject : Education, Art,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. The scope of MABASAN includes linguistics, applied linguistics, interdisciplinary linguistics studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. MABASAN is published by Balai Bahasa NTB, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. MABASAN accepts articles from authors of national or international institutions.
Articles 277 Documents
Analisis Masalah Sosial dalam Sastra Bali Gaguritan Ki Patih Ganjira I Kadek Agus Sujiwo I Kadek Agus Sujiwo; I Wayan Rasna; I Ketut Paramarta
MABASAN Vol. 19 No. 1 (2025): Mabasan 19 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i1.1041

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis masalah sosial yang terdapat dalam karya sastra Bali Gaguritan Ki Patih Ganjira. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menganalisis masalah sosial yang ada dalam Gaguritan Ki Patih Ganjira. Subjek dalam penelitian ini berupa karya sastra Bali tradisional yang berjudul Gaguritan Ki Patih Ganjira. Objek penelitian ini masalah sosial yang terkandung pada Gaguritan Ki Patih Ganjira. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui kajian pustaka dan analisis teks. Data dikumpulkan dari Gaguritan Ki Patih Ganjira kemudian diklasifikasikan ke dalam kategori masalah sosial dan diberi kode yang akan digunakan dalam tahap reduksi dan analisis. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis data yang disusun secara digital menggunakan tabel Microsoft Word. Setiap data yang dimasukkan memuat nomor, kategori masalah sosial, kode pupuh, serta kutipan dari teks sastra yang merepresentasikan masalah sosial. Pemberian kode pupuh dilakukan untuk mempermudah proses reduksi dan penyajian data pada tahap analisis. Analisis data dilakukan dengan meliputi tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa Gaguritan Ki Patih Ganjira memuat berbagai bentuk masalah sosial, seperti kemiskinan, disorganisasi keluarga, tantangan generasi muda, kejahatan, dan pelanggaran norma.
PENGUASAAN KAIDAH BAHASA INDONESIA: KAJIAN PADA MAHASISWA JURUSAN TARI INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA Nurul Hidayah Fitriyani; Ifa Hanifa Rahman
MABASAN Vol. 19 No. 2 (2025): Mabasan 19 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i2.1048

Abstract

Penguasaan kaidah kebahasaan merupakan salah satu fondasi penting dalam menghasilkan karya tulis yang informatif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengukur tingkat penguasaan kaidah kebahasaan mahasiswa Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Surakarta, (2) mengidentifikasi aspek kebahasaan yang paling dikuasi dan paling kurang dikuasai, serta (3) menentukan kebutuhan pembelajaran untuk peningkatan kompetensi berbahasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan data diperoleh melalui tes objektif sebanyak 25 soal berbasis Google Form. Aspek kebahasaan yang diuji meliputi penggunaan huruf kapital, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca. Adapun sampel penelitian berjumlah 100 orang mahasiswa jurusan tari tahun ajaran 2024/2025. Analisis data dilakukan dengan memberi skor 4 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah, lalu mengonversinya menjadi persentase penguasaan. Persentase tersebut diklasifikasikan berdasarkan kategori Nurgiyantoro (2010). Rata-rata per aspek kebahasaan juga dihitung untuk melihat aspek yang paling kuat dan lemah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata tertinggi terdapat pada aspek pemakaian tanda baca (76), diikuti penggunaan huruf kapital (72), dan penulisan kata (64). Mahasiswa masih mengalami kesulitan pada penggunaan tanda titik dua dan apostrof (aspek tanda baca), penulisan nama geografis (penulisan huruf kapital), dan penulisan bentuk terikat, gabungan kata, partikel, singkatan, akronim, dan bilangan (penulisan kata). Distribusi nilai menunjukkan bahwa 48% mahasiswa memiliki kemampuan kebahasaan pada kategori “baik” hingga “sangat baik”. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan materi teknis kebahasaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Mabasan 19 (1) Jurnal Mabasan
MABASAN Vol. 19 No. 1 (2025): Mabasan 19 (1)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i1.1073

Abstract

HETEROGLOSSIC ENGAGEMENT PATTERNS IN THE TIKTOK, INC. VERSUS GARLAND ORAL ARGUMENT TRANSCRIPT Rio Nur Rachmad; Ni Gusti Ayu Roselani
MABASAN Vol. 19 No. 2 (2025): Mabasan 19 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i2.1108

Abstract

The present study examines how U.S. Supreme Court participants, including judges and lawyers, manage these viewpoints in the TikTok, Inc. versus Garland oral argument transcript by using an engagement system that focuses on the heteroglossic subtype, where speakers acknowledge other perspectives to support or challenge them. The study employs a discourse analysis approach. The data were sourced from the oral argument transcript on the U.S Supreme Court official website. The study applies the The UAM Corpus Tool, a software developed at the Universidad Autónoma de Madrid, was used to manually annotate engagement markers in the dataset and categorise words, phrases, clauses, and sentences, examining heteroglossic engagement by analysing how speakers opened up space for other views or closed it down in arguments. The study found that both judges and lawyers frequently used strategies to limit opposing views. Judges often denied claims directly and weighed opposing arguments to demonstrate that they were unreasonable. While lawyers conceded minor points only to return to their main arguments, the expansions were also identified, which allowed the judges to entertain possibilities by using specific phrases to discuss ideas openly. Conversely, lawyers acknowledged the other side’s points before arguing against them.
KONSEPTUALISASI METAFORA EMOSI DAN SIFAT: ANALISIS LINGUISTIK KOGNITIF TERHADAP IDIOM BAHASA SASAK Lukmanul Hakim
MABASAN Vol. 19 No. 2 (2025): Mabasan 19 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i2.1110

Abstract

Penelitian ini menganalisis idiom-idiom dalam bahasa Sasak yang merefleksikan emosi dan sifat manusia melalui kerangka Teori Metafora Konseptual (CMT). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk kamus standar, korpus daring, dan konfirmasi dari penutur asli. Metode ini memungkinkan identifikasi dan klasifikasi metafora yang digunakan untuk mengonseptualisasikan pengalaman batin. Hasil analisis menunjukkan bahwa metafora emosi dan sifat dalam bahasa Sasak tidak hanya berfungsi sebagai ornamen linguistik, melainkan juga sebagai mekanisme kognitif fundamental. Teridentifikasi beberapa domain sumber yang sangat produktif, seperti hewan, benda padat, dimensi/ukuran, dan tindakan fisik. Masing-masing domain ini dipetakan secara sistematis ke domain target yang abstrak, yaitu emosi dan sifat/karakteristik manusia. Lebih lanjut, temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa pemilihan domain sumber mencerminkan pandangan dunia dan sistem nilai moral masyarakat Sasak. Sebagai contoh, idiom seperti ate basong ‘hati anjing’ dan otak udang ‘kepala udang’ secara konsisten menggunakan domain hewan untuk merepresentasikan sifat-sifat negatif seperti kejahatan dan kebodohan. Sebaliknya, domain benda padat seperti ate waje ‘hati baja’ digunakan untuk mengonseptualisasikan sifat positif seperti ketangguhan. Sementara itu, panas ate ‘panas hati’ memetakan sensasi fisik panas ke emosi amarah, yang merupakan pola universal dalam banyak bahasa. Dengan demikian, studi ini menegaskan peran krusial metafora sebagai alat kognitif dan budaya bagi penutur bahasa Sasak untuk memahami dan mengartikulasikan pengalaman batin yang kompleks. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kajian linguistik kognitif, khususnya dalam konteks bahasa daerah di Indonesia, serta menekankan pentingnya pelestarian bahasa lokal sebagai cerminan kearifan budaya yang unik dan kaya.
EKSOTOPI TUMBUH-TUMBUHAN DALAM DONGENG NUSANTARA BERTUTUR HARIAN KOMPAS: PERSPEKTIF BOTANI SASTRA Saharul Hariyono; Aan Octoviar
MABASAN Vol. 19 No. 2 (2025): Mabasan 19 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i2.1162

Abstract

Tulisan ini membahas pertemuan ilmu humaniora dan eksakta yang melahirkan konsep botani sastra. Botani sastra selanjutnya digunakan untuk menganalisis penggambaran eksotopi vegetasi yang terlingkup pada unsur-unsur tumbuhan dalam dongeng-dongeng Nusantara Bertutur Harian Kompas. Teknik pengumpulan data menggunakan cara hermeneutik yakni teks ditafsirkan secara terbuka, lentur, dan bebas menurut konteks tumbuhan. Temuan pada penelitian ini menunjukkan adanya ragam vegetasi dalam dongeng-dongeng Nusantara Bertutur berupa unsur-unsur tumbuhan seperti daun, pohon, dan bunga yang dinarasikan sebagai sarana kontemplasi. Temuan selanjutnya menandaskan eksotopi tentang tumbuh-tumbuhan itu penting, tetapi sering tidak tampak ke permukaan. Mulai dari unsur-unsur tumbuhan dedaunan yang bertransformasi sebagai vegetasi herba, hasil industri kreatif, dan bahan pembuatan permainan tradisional yang dirasa mulai tergerus zaman. Ada unsur pepohonan berperan sebagai alat konservasi lingkungan hidup, resistansi, dan pelindung vegetasi lain di sekitarnya. Terakhir, ada bunga-bunga difungsikan sebagai pembuatan mahkota, pembawa pluralitas pesan, dan dijadikan gaya melankolis dalam narasi dongeng.
Sampul Depan Mabasan 19 (2) Jurnal Mabasan
MABASAN Vol. 19 No. 2 (2025): Mabasan 19 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i2.1177

Abstract